Selasa, 30 Desember 2025

KREATOR JUMBO SIAP MEMELUK KELUARGA INDONESIA LEWAT FILM LAYAR LEBAR NA WILLA DI LEBARAN 2026


Sebuah Film Live-Action yang Hangat, Magis, dan Penuh Keajaiban Kecil

Jakarta, 30 Desember 2025 Setelah mencetak sejarah dan berbagai prestasi lewat Jumbo, film Indonesia terlaris sepanjang masa, para kreatornya kembali bersatu untuk menghadirkan karya terbaru bertajuk Na Willa. Diproduksi oleh Visinema Studios, film live-action ini akan resmi tayang di bioskop Indonesia pada Lebaran 2026.

Dengan bersatunya kembali para kreator Jumbo, film No Willa sejak awal tidak dirancang sebagai film live-action keluarga pada umumnya, melainkan sebagai pengalaman sinematik keluarga Indonesia ke bentuk yang lebih intim dan personal serta mengajak penonton memandang dunia dari sudut pandang seorang anak dan merayakan keajaiban kecil dunia anak tersebut.

Diadaptasi dari buku cerita legendaris karya Reda Gaudiamo, Na Willa mengajak penonton melihat dunia dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun, menyelami keseharian seorang anak perempuan yang tumbuh di Indonesia era 1960-an, ketika rumah, gang, keluarga, dan benda-benda sederhana terasa hidup, penuh rasa ingin tahu, dan keajaiban kecil. Alih-alih mengandalkan konflik besar atau dramatika konvensional, No Willa justru merayakan emosi-emosi kecil, perubahan yang sunyi, dan keajaiban sehari-hari yang luput, namun membekas.


Chief Content Officer Visinema Studios sekaligus produser Jumbo dan Na Willa, Anggia Kharisma, menyoroti momen Lebaran sebagai ruang penting bagi film keluarga.

"Respons penonton terhadap Jumbo di Lebaran tahun lalu menunjukkan satu hal yang sangat jelas: keluarga Indonesia merindukan film yang hangat yang bisa ditonton bersama, lalu dibicarakan dan dibawa pulang setelah keluar dari bioskop," ujar Anggia. "Lewat Na Willa, Visinema Studios ingin kembali menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi semua bagi anak-anak kita, dan juga anak-anak di dalam diri kita, di momen yang begitu penting bagi keluarga Indonesia."

Sementara itu, Ryan Adriandhy, sutradara dan penulis naskah No Willa, menyampaikan, "Na Willa adalah film tentang bagaimana seorang anak memandang dunia dengan kejujuran, rasa kagum, dan kepekaan yang sering kita lupakan saat dewasa. Kami ingin menghadirkan keajaiban lewat realisme yang terasa magis ketika dilihat dari sudut pandang anak."

Dunia Anak yang Hangat dan Magis

Diadaptasi dari buku cerita legendaris tulisan Reda Gaudiamo, No Willa mengisahkan Na Willa, seorang gadis kecil berusia enam tahun yang percaya bahwa dunia kecilnya di sebuah gang di Surabaya adalah tempat paling sempurna dan magis. Sebuah dunia di mana lagu-lagu dari radio terasa hidup, kios langganan selalu penuh kejutan, dan setiap hari adalah hari untuk bertualang bersama teman-temannya.

Seiring berjalannya waktu, dunia kecil Na Willa perlahan mulai berubah. Hal-hal yang dulu terasa selalu ramai mulai beralih sehingga mendorong Na Willa untuk melangkah ke ruang-ruang baru yang belum ia kenal. Dalam perjalanannya, Na Willa mulai belajar bahwa tumbuh berarti berani menghadapi perubahan dan keajaiban tidak selalu hilang, melainkan menemukan bentuk dan tempat yang berbeda.

Gambaran dunia No Willa mulai diperlihatkan melalui teaser trailer berdurasi 1 menit 31 detik yang telah dirilis. Dalam cuplikan tersebut, penonton diajak menyusuri potret Indonesia tahun 1960-an yang dihadirkan secara realistis, dengan pendekatan visual yang sederhana, hangat, dan penuh detail. Rumah, gang, suara, dan ritme keseharian terasa hidup, bukan sebagai latar, tetapi sebagai bagian dari cara seorang anak memahami dunia.

Melalui karakter Na Willa yang diperankan oleh Luisa Adreena, teaser trailer ini mengajak penonton kembali pada kenangan masa kecil yang begitu membekas. Potongan narasi dan penggalan dialog sederhana membuka ruang nostalgia tentang bagaimana dunia pernah terasa begitu luas, dekat, dan penuh rasa ingin tahu.

Berbeda dari film keluarga pada umumnya, Na Willa tidak dibangun sebagai kisah fantasi. Keajaibannya hadir lewat realisme yang terasa magis, bagaimana hal-hal kecil dalam keseharian dapat menjadi pengalaman yang besar di mata seorang anak. Pendekatan inilah yang menjadikan Na Willa sebuah film yang lembut namun membekas, merayakan kejujuran emosi dan kehangatan keluarga.

Film ini dibintangi oleh pendatang baru Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama Irma Rihi sebagai Mak, dan Junior Liem sebagai Pak, yang menghadirkan potret keluarga Indonesia dengan dinamika yang hangat dan dekat.

Kisah yang Tumbuh Bersama Pembacanya

Na Willa dikembangkan dengan restu penuh dari penulis aslinya, Reda Gaudiamo, yang memberikan kepercayaan kepada Visinema Studios untuk menghidupkan dunia Na Willa ke layar lebar. Dukungan ini menjadi pondasi penting dalam proses kreatif film, sekaligus memastikan semangat dan kehangatan cerita tetap terjaga. Film ini dibintangi oleh pendatang baru Luisa Adreena sebagai Na Willa, Irma Rihi sebagai Mak, dan Junior Liem sebagai Pak.

Diceritakan dari sudut pandang anak kecil, Na Willa bukan hanya film yang ditonton bersama keluarga, tetapi film yang mengajak penontonnya mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak kecil, ketika dunia terasa besar, dekat, dan penuh keajaiban.

"Kami berharap Na Willa bisa menjadi teman bagi keluarga Indonesia di Lebaran 2026 yang ditonton bersama, dirasakan bersama, dan dibicarakan pelan-pelan setelah lampu bioskop menyala kembali," tutup Anggia. film yang ditonton bersama, dirasakan bersama, dan dibicarakan pelan-pelan setelah lampu bioskop menyala kembali," tutup Anggia

Kisah yang Tumbuh Bersama Pembacanya

Na Willa dikembangkan dengan restu penuh dari penulis aslinya, Reda Gaudiamo, yang memberikan kepercayaan kepada Visinema Studios untuk menghidupkan dunia Na Willa ke layar lebar. Dukungan ini menjadi pondasi penting dalam proses kreatif film, sekaligus memastikan semangat dan kehangatan cerita tetap terjaga. Film ini dibintangi oleh pendatang baru Luisa Adreena sebagai Na Willa, Irma Rihi sebagai Mak, dan Junior Liem sebagai Pak.

Diceritakan dari sudut pandang anak kecil, Na Willa bukan hanya film yang ditonton bersama keluarga, tetapi film yang mengajak penontonnya mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak kecil, ketika dunia terasa besar, dekat, dan penuh keajaiban.

"Kami berharap Na Willa bisa menjadi teman bagi keluarga Indonesia di Lebaran 2026-film yang ditonton bersama, dirasakan bersama, dan dibicarakan pelan-pelan setelah lampu bioskop menyala kembali," tutup Anggia.

CATATAN PRODUKSI

Judul : Na Willa

Produksi : Visinema Studios

Sutradara : Ryan Adriandhy

Produser Esekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Genre : Drama Keluarga

Pemain : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi,Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem

Senin, 29 Desember 2025

Film Musuh Dalam Selimut Berhasil Mengaduk-aduk Perasaan Penonton Saat Gala Premiere

 


Jakarta, 29 Desember 2025 - Awal 2026 dibuka dengan film yang bukan Cuma menguji nyali, tapi juga mengacak-acak perasaan. Musuh Dalam Selimut hadir sebagai film drama tentang kepercayaan yang retak dari dalam, dan sudah lebih dulu memantik respons emosional penonton saat gala premiere.

Dibintangi Yasmin Napper, Megan Domani, dan Arbani Yasiz, film ini digarap sutradara Hadrah Daeng Ratu. Musuh Dalam Selimut diproduksi oleh Narasi Semesta yang bekerja sama dengan Unlimited Production, Legacy Pictures, A&Z, dan Subtube.

Ceritanya mengajak penonton masuk ke kehidupan Gadis (Yasmin Napper), perempuan yang merasa semuanya baik-baik saja: rumah tangga, harapan, dan rutinitas yang berjalan normal.

Kehangatan itu makin lengkap ketika Gadis mengandung anak pertamanya. Di saat yang sama, hadir Suzy (Megan Domani), tetangga yang pelan-pelan menjelma sahabat yang sigap membantu, perhatian, dan selalu ada di momen-momen yang seharusnya menenangkan.

Namun kedekatan yang semula terasa hangat, perlahan bergeser menjadi sesuatu yang ganjil: terlalu sempurna, terlalu sering, terlalu "masuk" ke ruang pribadi. Ketika Andika (Arbani Yasiz), suami Gadis, ikut terseret dalam kedekatan yang makin sulit dijelaskan, film ini mulai memutar emosi penonton dari simpati menjadi ragu, dari ragu menjadi curiga hingga meninggalkan sesak oleh satu pertanyaan yang menggantung: ini Cuma prasangka, atau memang ada yang disembunyikan di depan mata?

Yang membuat Musuh Dalam Selimut terasa menggigit bukan sekadar konflik rumah tangga, melainkan cara ketegangan lahir dari detail-detail kecil: jeda percakapan, tatapan yang terlalu lama, gestur yang tampak manis tetapi menyisakan dingin. Hadrah Daeng Ratu menyebut, sejak awal ia sengaja menaruh pondasi karakter dan alasan tindakan mereka agar penonton ikut "terjebak" dalam bimbang yang manusiawi.

Official Poster Film Musuh Dalam Selimut

"Pegangan utama saya saat menyutradarai Musuh Dalam Selimut adalah membangun background karakter yang kuat. Storytelling setiap karakter menjadi penting, supaya penonton paham alasan di balik setiap tindakan mereka. Saya tidak ingin kisah perselingkuhan ini hanya jadi cinta segitiga biasa, tapi juga menceritakan trauma-trauma yang dihadapi karakter dalam menjalani hidupnya setelah melewati banyak luka," ujar Hadrah Daeng Ratu.

la menambahkan, tensi cerita dibangun bertahap dimulai dari rasa aman yang terlihat wajar, lalu kecurigaan yang tumbuh dari potongan-potongan informasi. "Saya mulai dari membangun hubungan pertemanan dulu, lalu perlahan sahabat itu masuk ke dalam circle kehidupan tokoh utama. Dari situ saya menanam banyak planting informasi yang memicu kecurigaan, sampai mengarah pada pencarian bukti tentang kebenaran pengkhianatan," katanya. "Tapi pada akhirnya harus jelas: siapa yang protagonis dan siapa yang antagonis."

Dari sisi pemain, Megan Domani mengungkapkan pendekatan akting yang ia pakai untuk membuat Suzy tetap terasa "manis" di permukaan, tapi pelan-pelan menghadirkan ganjalan. "Kunci akting yang aku pegang adalah membuat Suzy terlihat sangat cheerful dan bahagia saat bersama Gadis. Dia selalu memberi dan melakukan. banyak hal untuk Gadis sehingga tampak tulus," kata Megan. "Namun, justru di situlah muncul rasa tidak nyaman bagi penonton: perhatian Suzy terasa berlebihan, dia tidak tahu batas dan sering ikut campur dalam situasi yang seharusnya bukan urusannya."

Dengan pendekatan itu, Musuh Dalam Selimut hadir sebagai pengalaman menonton yang membuat penonton ikut "mengurai" puzzle perasaan: ingin percaya, tapi takut; ingin bertahan, tapi terus merasa ada yang salah. 

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Januari 2026.

Berikut Trailer Film Musuh Dalam Selimut



Rabu, 24 Desember 2025

Poster Resmi Lift Dirilis,Shareefa Daanish Kembali ke Film Berdarah Produser The Raid Hadirkan Teror Psikologis dalam Ruang Sempit

 


Jakarta, 23 Desember 2025 – Rumah produksi Trois Films resmi merilis poster resmi film terbarunya, Lift, sebuah film drama psikologis yang menghadirkan teror intens dalam ruang sempit dan memori kelam yang belum usai. Poster ini menjadi penanda awal kembalinya Shareefa Daanish ke film berdarah, setelah performa ikoniknya sebagai sosok antagonis brutal dalam Rumah Dara yang hingga kini masih membekas kuat dalam ingatan penonton film Indonesia. Lift dijadwalkan tayang di bioskop pada 26 Februari 2026.

Dalam poster resminya, Lift menghadirkan lift sebagai ruang utama teror sekaligus pusat konflik film. Visual poster memperlihatkan dua karakter utamanya yang diperankan oleh Ismi Melinda dan Shareefa Daanish masing-masing menempati lift yang berbeda. Keduanya dikelilingi aksen darah yang mencolok menghiasi ruang sempit lift, sementara ekspresi wajah mereka mengisyaratkan ketegangan psikologis dan dinamika relasi karakter. Komposisi visual ini menegaskan bahwa teror dalam Lift tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bertumpu pada tekanan mental dan permainan kuasa antarkarakter. 

Lift mengisahkan teror yang kembali menghantui PT Jamsa Land enam tahun setelah kecelakaan lift kantor yang merenggut banyak korban jiwa. Linda (Ismi Melinda), staf humas perusahaan, terjebak di dalam lift bersama sebuah suara misterius yang terus mengancamnya melalui interkom. Ketika anaknya disandera, Linda tak memiliki pilihan selain mengikuti permainan berbahaya tersebut sebuah rangkaian perintah yang perlahan memaksanya membuka kembali rahasia kelam di balik tragedi enam tahun silam.

Kehadiran Shareefa Daanish dalam Lift menjadi salah satu daya tarik utama film ini. Dikenal luas lewat karakter ikonis Dara dalam Rumah Dara, Shareefa kembali menjelajahi wilayah gelap, brutal, dan penuh teror, mempertegas posisinya sebagai salah satu figur prominen dalam lanskap film horor Indonesia. Perannya dalam film ini menawarkan lapisan psikologis yang intens, sekaligus menandai kembalinya ia ke genre yang pernah mengukuhkan namanya.

Disutradarai oleh Randy Chans, Lift diproduseri oleh Adha Riantono, beserta Ario Sagantoro dan aktor utama film ini, Ismi Melinda, berlaku sebagai co-producer. Nama Ario Sagantoro lekat dengan sejarah penting film action Indonesia sebagai produser The Raid dan The Raid 2, dua film yang kerap disebut sebagai salah satu film action paling monumental dalam dekade terakhir dan berhasil membawa sinema Indonesia ke perhatian dunia. Melalui Lift, Ario menghadirkan ketegangan dengan pendekatan berbeda, bukan melalui ledakan dan laga, melainkan tekanan psikologis yang terbangun secara perlahan namun menghimpit.

Sebelum rilis luasnya di bioskop pada 26 Februari 2026, Lift telah lebih dulu mendapatkan pengakuan internasional. Selain menjadi Official Selection Dubai City Film Festival 2025, Lift pun berhasil meraih empat nominasi dalam Los Angeles Fantasy Fest 2025 untuk kategori Best Feature Film, Best Director, Best Screenplay, dan Best Cinematography.

Selain Ismi Melinda dan Shareefa Daanish, Lift turut dibintangi oleh Verdi Solaiman, Alfie Alfandy, Max Metino, dan Luthi Sputra. Lift siap membawa penonton masuk ke dalam teror yang menghantui, di mana sebuah rahasia yang tersimpan dalam sebuah ruang sempit membuat karakter-karakternya #TerjebakHidupMati

Film Animasi 5 Centimeters Per Second Makoto Shinkai

 

Akan Tayang di Bioskop Indonesia Mulai 16 Januari 2026

Jakarta, 23 Desember 2025 — Setelah 18 tahun sejak perilisan perdananya, film animasi legendaris karya sutradara Makoto Shinkai, 5 Centimeters Per Second (2007), akhirnya akan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 16 Januari 2026!

Para penggemar Makoto Shinkai dan pencinta animasi kini bisa merasakan pengalaman menonton animasi legendaris 5 Centimeters Per Second di layar lebar.

Saatnya Menonton Anime Legendaris di Layar Lebar Film 5 Centimeters Per Second Live Actionjuga akan tayang di bioskop Indonesia

Sebelum rilis reguler, juga akan ada special screening pada 10 dan 11 Januari 2026. 5 Centimeters Per Second terdiri dari tiga bagian pendek: Cherry Blossom Story,Cosmonaut, dan 5 Centimeters per Second. Penonton kini akan diajak merasakan nostalgia yang hangat dan emosional bersama Takaki dan Akari, yang terpisahkan oleh jarak dan waktu. Film ini berhasil meraih penghargaan Best Animated Feature

Film di ajang Asia Pacific Screen Awards, yang dikenal sebagai penghargaan paling bergengsi di kawasan Asia-Pasifik.

5 Centimeters Per Second diciptakan oleh Makoto Shinkai, setelah karya-karya sebelumnya, yaitu Voices of a Distant Star (2002) dan The Place Promised in Our Early Days (2004). 5 Centimeters Per Second akan mengikuti kisah Takaki dan Akari.

Setelah pindah ke sekolah dasar yang sama, Takaki dan Akari menjadi sahabat dekat.

Namun, kehidupan mereka mulai berubah saat keluarga masing-masing harus pindah ke kota yang berbeda. Setelah satu tahun berpisah, Takaki berniat untuk menemui Akari kembali. Saat duduk di dalam kereta dari Tokyo, kenangan masa lalu membanjiri pikiran Takaki seiring waktu pertemuannya dengan Akari yang semakin dekat. Takaki dan Akari mulai mempertanyakan apakah mereka dapat bertemu kembali untuk mengungkapkan perasaan terpendam mereka satu sama lain.

Ikuti perjalanan Takaki melalui tiga kisah cinta dan masa muda yang hilang, yang melampaui menit dan bulan dalam kehidupan mereka.

Film animasi 5 Centimeters Per Second disutradarai, ditulis, dan diproduseri oleh Makoto Shinkai, diproduksi oleh CoMix Wave Inc. dengan desain karakter oleh Takayo Nishimura, tata artistik latar belakang oleh Takumi Tanji dan Akiko Majima,serta musik dari Tenmon.

Makoto Shinkai adalah sutradara animasi yang dikenal luas karena film-film animasinya yang memiliki visual memukau sekaligus menyentuh sisi emosional. 

Selain karya fenomenal 5 Centimeters Per Second (2007), ia juga telah merilis karya-karya animasi fenomenal lainnya yang juga memiliki banyak penggemar, diantaranya Suzume (2022), Weathering With You (2019), dan Your Name (2016).

Sementara itu, pada tahun ini, film animasi 5 Centimeters Per Second juga diadaptasi ke dalam format Live Action yang disutradarai Yoshiyuki Okuyama.

5 Centimeters Per Second Live Action telah lebih dulu rilis di jaringan bioskop Jepang pada Oktober tahun ini. Film ini juga dijadwalkan akan segera tayang dijaringan bioskop Indonesia.

Saksikan terlebih dahulu film anime 5 Centimeters Per Second karya Makoto Shinkai di bioskop Indonesia mulai 16 Januari 2026.

Rasakan memori kenangan bersama Takaki dan Akari yang akan memberikan perasaan yang tak pernah terlupakan melalui visual yang emosional.

Senin, 22 Desember 2025

Film KUYANK Luncurkan Trailer dan Poster Resmi: Saat Tekanan Mengubah Cinta Menjadi Kutukan

 

Trailer dan poster resmi memperkenalkan KUYANK, sebuah kutukan yang lahir dari kisah cinta yang terhimpit kepercayaan adat, tuntutan keluarga, dan norma

JAKARTA, 22 Desember 2025 - Film KUYANK resmi meluncurkan official trailer dan official poster dalam konferensi pers di Signature Park Grande, Jakarta. Peluncuran ini menjadi pintu pertama untuk memasuki dunia KUYANK, sebuah horror folklore yang berangkat dari sesuatu yang paling dekat: cinta, rumah tangga, dan pilihan yang kian mengecil ketika tekanan datang dari lingkungan terdekat.

Bertepatan dengan Hari Ibu, KUYANK menyorot perjuangan seorang perempuan mempertahankan rumah tangganya di tengah kepercayaan adat, tuntutan keluarga dan norma yang pelan-pelan mengunci pilihan. Benang merahnya jelas: CINTA YANG BERUBAH MENJADI KUTUKAN.

Tentang Trailer Resmi

Official trailer KUYANK memperlihatkan bagaimana ketegangan tumbuh pelan dari konflik yang terasa dekat: kepercayaan adat, tuntutan keluarga dan norma yang ikut menentukan arah hubungan. Saat tekanan memuncak dan jalan keluar terasa tertutup, horor hadir bukan sebagai gimmick, melainkan konsekuensi yang tak bisa dihindari.


Tentang Poster Resmi

Official poster KUYANK menegaskan identitas film sebagai horror folklore yang kelam dan penuh tekanan. Visual utama menampilkan sosok Kuyank yang muncul dari sebuah gentong, di tengah suasana rumah kayu yang dingin dan berkabut, memberi sinyal bahwa teror di KUYANK seperti "bangkit" dari sesuatu yang disimpan, ditahan, dan akhirnya meledak. Penanda "Saranjana The Prequel" turut menguatkan keterhubungan semesta ceritanya.

Pernyataan Kunci

Victor G. Pramusinto, Produser:

"Di KUYANK, teror tidak datang mendadak. la tumbuh dari cinta yang ditekan, dari keputusan yang makin sempit, sampai akhirnya berubah menjadi kutukan. Kami ingin penonton peduli dulu pada manusianya, karena dari situlah rasa takutnya terasa nyata."

Johansyah Jumberan, Sutradara:

"Yang kami angkat adalah folklore sebagai akar, tapi emosinya universal. KUYANK bicara tentang cinta dan tekanan, tentang keluarga, dan tentang batas yang kalau dilampaui bisa mengubah segalanya."

Putri Intan Kasela, Pemeran Utama Wanita:

"Yang paling menantang adalah membangun rasa 'terhimpit' itu. Karena saat tekanan memuncak, penonton akan mengerti kenapa ketakutan dan keputusasaan di film ini terasa personal."

Key Selling Points

● Horror folklore berbasis cerita: teror hadir sebagai akibat dari konflik manusia, bukan gimmick.

● Konflik utama: cinta vs tekanan keluarga, tradisi, dan norma yang mengunci pilihan.

● Tema besar: Cinta yang berubah menjadi kutukan, dekat dengan realita banyak orang secara nasional.

● Keterhubungan semesta: KUYANK adalah prequel dalam Saranjana Universe.

● Pengalaman menonton: atmosfer yang mencekam dan tensi terus berjalan

Jadwal Tayang

Film KUYANK tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Januari 2026.

Catatan Redaksional

● KUYANK sebagai horror folklore yang menempatkan emosi dan konflik keluarga sebagai pintu masuk.

● Bahasan pemantik diskusi: siapa yang salah, cinta atau tekanan di sekelilingnya?

● Alasan menonton di bioskop: atmosfer yang mencekam dan pengalaman ketegangan yang lebih utuh.


SINOPSIS PANJANG

Tujuh tahun sebelum gerbang kota gaib Saranjana terbuka, "Kuyank" mengisahkan cinta terlarang yang perlahan berubah menjadi kengerian.

Rusmiati, gadis kampung sederhana, dan Badri, lelaki terpandang, nekat menikah meski ramalan menyebut pernikahan mereka akan membawa kesialan. Rumah tangga yang awalnya bahagia mulai goyah ketika mereka tak kunjung dikaruniai anak. Tekanan semakin memuncak ketika ibu mertua yang sejak awal menolak Rusmiati mendesak Badri untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan agar dapat mematahkan ramalan buruk itu.

Terhimpit rasa takut kehilangan suami dan martabatnya, Rusmiati mengambil jalan gelap: mempelajari ajian Kuyang ilmu hitam kuno yang diyakini memberi kecantikan dan keabadian. Namun keputusan itu justru memicu rangkaian teror, bayi dan perempuan hamil menjadi korban misterius.

Saat jati diri Rusmiati terbongkar, kemarahan warga tak terbendung. Di tengah ancaman amuk massa dan lenyapnya batas antara cinta dan kutukan, Badri dihadapkan pada pilihan paling pahit: melindungi perempuan yang ia cintai, atau menyerah pada tekanan masyarakat.

Mampukah cinta mereka bertahan ketika kegelapan mulai merenggut segalanya?


SINOPSIS PENDEK

Tujuh tahun sebelum gerbang Saranjana terbuka, cinta Rusmiati dan Badri runtuh ketika tekanan adat dan ramalan buruk memaksa Rusmiati mencari jalan gelap: ajian Kuyang.

Keputusannya memicu teror yang menghantui bayi dan perempuan hamil, sementara identitasnya perlahan terkuak.

Saat amuk massa siap menelan segalanya, Badri harus memilih antara cinta yang ia pertahankan... atau masyarakat yang menuntut darah.

Berikut Trailer Film Kuyang



Judul Film : Kuyank

Durasi Film : 98 Menit

Rating Film (LSF) : 13 Tahun ke Atas

Tanggal Rilis : 29 Januari 2026

Bahasa Dialog : Indonesia, Banjar

Bahasa Tulisan : Indonesia, English

Genre : Horror

Produksi : DHF Entertainment

Produser : Johansyah Jumberan, Victor G. Pramusinto

Sutradara : Johansyah Jumberan

Penulis : Asaf Antariksa; Johansyah Jumberan

Soundtrack : Jeff Banjar

Editor : Teguh Raharjo

Visual Effect : LMN Studio

Soundpost : Alunan Audio Post

Pemain Film : 

Rio Dewanto (Badri)

Putri Intan Kasela (Rusmiati)

Ochi Rosdiana (Fauziah)

Jolene Marie (Husnah)

Barry Prima (Utuh Ampong)

Dayu Wljanto (Hj. Saidah)

Ananda George (Kakek Hendra) Betari Ayu (Fitri)

Hazman Al Idrus (Rustam)

Ellizabeth Christine (Latifah)

Film MODUAL NEKAD, Jadi Komedi Keluarga Paling Kocak Tahun Ini dan Tahun Depan! Siapkan Rahang untuk Teriak dan Tertawa

 

Film Modual Nekad tayang mulai 31 Desember 2025 di Bioskop Indonesia

Jakarta, 22 Desember 2025 - Imam Darto kembali dengan kenekadannya! Starvision dan Pabrik Cerita mempersembahkan film Modual Nekad, komedi keluarga yang paling kocak tahun ini dan tahun depan, siap tayang di bioskop mulai 31 Desember 2025.

Film Modual Nekad merupakan lanjutan dari film pertamanya, Modal Nekad, yang menjadi debut penyutradaraan Imam Darto dan sukses meraih lebih dari 865 ribu penonton di Bioskop Indonesia. Kali ini, dipercaya oleh produser Chand Parwez Servia, Imam Darto menghadirkan cerita yang dua kali lebih lucu, dan kembali penuh aksi.

Modual Nekad mengikuti kisah tiga bersaudara, Saipul (Gading Marten), Jamal (Tarra Budiman), dan Marwan (Fatih Unru). Niat Marwan menyelamatkan rumah warisan Bapak, justru menyeret Jamal dan Saipul ke dalam situasi berbahaya yang melibatkan oknum jaksa korup dan pengusaha manipulatif yang gila dan kejam!

Untuk selamat, mereka bertiga butuh modal lebih dari nekad! Tak hanya dibintangi ketiganya, Modual Nekad masih diperkuat oleh jajaran pemeran yang sudah menghibur di film pertamanya, serta membawa jajaran nama-nama besar yang akan ikut meramaikan di film keduanya.

Selain Gading, Tarra, dan Fatih, Modual Nekad masih dibintangi oleh, Gisella Anastasia, Gempita Nora Marten, Sahila Hisyam, Sadana Agung, Budi Ros, Ananda Omesh, Inyonk, Angga Nggok, Sinyorita Esperanza, Chika Waode, juga banyak nama-nama baru yang ikut bermain di film ini di antaranya adalah Ira Wibowo, Surya Saputra, Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Andre Taulany, Surya Insomnia, Roy Marten, Ferry Maryadi, Arief Didu, Ismi Melinda, Edo Borne, Josevanie Allestra, Marella, Kaneishia Yusuf, Kiki Narendra, Rizky Inggar, Ben Kasyafani, Samuel Zylgwyn, David Nurbianto, Gabriella Desta, Danang Suryonegoro, Gilang Gombloh, Farhan Frisia, Astry Ovie, Andi Sujono, dll.

"Film Modual Nekad akan menjadi perayaan pelepas penat bagi masyarakat Indonesia pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026. Komedi keluarga yang akan mengajak seluruh penonton tertawa, dan berefleksi dengan cerita yang tersaji di antara tiga bersaudara dengan keluarga baru mereka," ujar produser Chand Parwez Servia.

Imam Darto, yang kembali menyutradarai film sekuel ini mengungkapkan kebahagiaannya karena bisa bekerja sama kembali dengan Starvision, la juga senang diberikan kepercayaan oleh Chand Parwez Servia untuk kembali menyutradarai.

"Saya sebenarnya sudah kapok untuk menggarap adegan action di film pertama. Tapi ternyata seru juga, dan akhirnya justru saya tambahkan lagi untuk bisa lebih action di film Modual Nekad. Tentu selain karena lebih nekad, juga karena dukungan Pak Chand Parwez dan Starvision. Semoga Modual Nekad bisa jadi hiburan yang seru untuk keluarga Indonesia di akhir tahun ini dan awal tahun depan," kata penulis dan sutradara Imam Darto.

"Penonton bakal menyaksikan cerita yang baru, dengan penampilan yang sangat berbeda. Dengan ansambel yang dar der dor luar biasa, cerita di film Modual Nekad ini akan jadi kelanjutan dari film pertamanya. Waktu yang pertama kan Saipul, Jamal, dan Marwan dapat uang banyak, nah di film ini akan menemukan kelanjutan dari kegilaan dan kenekadan apa lagi sih yang akan dihadapi?" Ujar Gading Marten.

"Di film ini, karakter saya, Jamal kan sudah menikah juga dengan Rosma. Itu yang menarik. Ceritanya itu ke masing-masing keluarga juga. Karena Saipul juga kembali lagi dengan mantan istrinya, Gina. Nah masalah masing-masing keluarga ini yang juga akan relate ke setiap penonton," tambah Tarra Budiman.

"Pak Sutradarto (Imam Darto) di sini kasih level yang makin naik lagi untuk Modual Nekad. Cukup sedikit menantang bagiku, karena di film yang kedua ini, aku yang jadi sumber masalahnya. Kembali lagi beraksi bareng Gading dan Tarra dengan action yang lebih intens, dramanya juga lebih dalam, plus dijamin bikin rahang pegal untuk teriak tertawa," kata Fatih Unru.

Official Poster Film Modual Nekad

Jika di film pertamanya Imam Darto membuat Gading Marten, Gisella, dan Gempi berpisah, justru di film ini Darto menyatukan kembali 3G (Gading, Gisella, dan Gempi), ditambah kehadiran Roy Marten! Waduh, ada pertanda apa ya?

Tonton film Modual Nekad persembahan Starvision dan Pabrik Cerita di Bioskop mulai 31 Desember 2025. Siapkan rahang untuk teriak dan tertawa! Ikuti perkembangan terbaru film Modual Nekad melalui akun Instagram @modualnekadfilm, @Starvisionplus @Pabrikcerita, dan Tiktok @StarvisionOfficial.


Sinopsis

Saipul (Gading Marten) dan Jamal (Tarra Budiman) kaget dan marah ketika uang mereka hilang dari koper. Ternyata Marwan (Fatih Unru) nekad menggunakan uang itu untuk menebus rumah Ayah mereka yang disita bank. Dari koper kosong Marwan menemukan foto yang bertuliskan angka-angka misterius, yang membawa Marwan dan kedua kakaknya ke situasi yang melibatkan pengusaha berbahaya, oknum jaksa korup, dan masa lalu yang mencekam!

Berikut Trailer Film Modual Nekad

Pemain dan Tim Produksi

Gading Marten - Saipul

Tarra Budiman - Jamal

Fatih Unru - Marwan

Gisella Anastasia - Gina

Gempita Nora Marten - Aisyah

Ira Wibowo - Linda Salsa

Sahila Hisyam - Rosma

Surya Saputra - Omar Basri

Sadana Agung - Bakti

Rigen Rakelna - Tono

Ananta Rispo - Toni

Ismi Melinda - Shayra

Josevanie Allestra - Sri

Marella - Kandi

Ferry Maryadi - Anwar Putra

Edo Borne - Ajudan

Budi Ros - Bapak

Arief Didu - Ncang Rais

Kaneishia Yusuf - Dewi

Kiki Narendra - Pejabat Tinggi Kejaksaan

Andre Taulany - Pak Haji

Surya Insomnia - Surya Insomnia

Ananda Omesh - Ananda Omesh

Angga Nggok - Angga Nggok

Inyonk - Tukang Nasi Goreng

Rizky Inggar - Bu Sofyan

Ben Kasyafani - Ustadz

Roy Marten - Pak Menteri

Samuel Zylgwyn - Pengembang Jalan Tol

Sinyorita Esperanza - Ibu Pengajian 1

Chika Waode - Ibu Pengajian 2

David Nurbianto - Sutradara

Gabriella Desta - Ani

Danang Suryonegoro - Perampok 1

Gilang Gombloh - Perampok 2

Farhan Frisia - Perampok 3

Astry Ovie - Teller Bank

Andi Sujono - Anak Buah Omar 1

Produksi : Starvision & Pabrik Cerita

Produser : Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar

Sutradara : Imam Darto

Produser Eksekutif : Reza Servia, Amrit Dido Servia, Warman Nasution, Imam Darto, Raza Servia

Produser Lini : Ika Muliana

Penulis Skenario : Imam Darto, Sesa Nasution, Warman Nasution

Desain Produksi : Tepan Kobain

Pengarah Artistik : Angga Prasetyo, Eko Widart

Penata Kamera : Rendra Yusworo

Penyunting Gambar : Cesa David Luckmansyah

Penata Suara : Aditya Trisnawan

Perekam Suara : Adimolana Machmud

Penata Musik : Ricky Lionardi

Penata Warna : In My Room

Penata VFX & Grafis : Mataque Studio

Penata Rias : Gunawan Saragih

Penata Busana : Fadillah Putri Yunidar

Komedi Konsultan : David Nurbianto

Penata Peran : Arief Havidz, Nita Yanuarti

Perancang Poster : Alvin Hariz

Jerome Kurnia, Nadya Arina & Aghniny Haque Tampil Emosional Official Trailer Film Penerbangan Terakhir Rilis! Membawa Skandal Cinta yang Penuh Plot Twist dari Pilot dan Pramugari

 

Film Penerbangan Terakhir tayang mulai 15 Januari 2026 di bioskop

Jakarta, 22 Desember 2025 - Jerome Kurnia berada di antara dua persimpangan jalan. Memilih Nadya Arina, atau Aghniny Haque! Ketiganya akan terlibat dalam sebuah skandal terpanas tahun 2026 lewat film Penerbangan Terakhir persembahan VMS Studio.

Melalui official trailer yang dirilis, film Penerbangan Terakhir menampilkan kegilaan dan skandal panas dari dunia penerbangan yang melibatkan pilot dan pramugari.

Pada official trailer Penerbangan Terakhir, menampilkan perjalanan Jerome Kurnia sebagai Kapten Deva, yang tengah mendekati pramugarinya, Tiara (Nadya Arina). Awalnya, mulut manis dan kharisma Kapten Deva seperti sebuah kesempurnaan yang nyata. Tapi, semakin dalam Tiara dekat dengan Kapten Deva, ada banyak tipu daya dan manipulasi yang sulit dibedakan mana yang tulus dan tak sungguh-sungguh.

Belum lagi, kemunculan Nadia, pramugari senior yang ternyata memiliki hubungan yang lebih dulu dengan Kapten Deva. Kemunculannya pun membuat cerita cinta manis Kapten Deva dan Tiara buyar. Trailer juga mengungkap segila apa cerita yang sebenarnya dari kisah yang sering kita dengar dari balik dunia penerbangan.

Diproduseri oleh Tony Ramesh dan Shalu T.M., film ini disutradarai oleh Benni Setiawan. Selain Jerome, Nadya, dan Aghniny, film ini turut dibintangi oleh Nasya Marcella dan Vintha Devina Bertha.

"Penerbangan Terakhir menjadi film pertama VMS Studio yang akan tayang di bioskop pada tahun 2026. Kami selalu menghadirkan cerita-cerita yang beragam, dan yang terbaru adalah Penerbangan Terakhir. Kisah ini terinspirasi dari kejadian yang ada di sekitar masyarakat, lalu sempat jadi perbincangan yang ramai lagi belakangan ternyata. Untuk itu kami mempertimbangkan merilis film ini di awal tahun, untuk memberikan sesuatu ke penonton tentang cerita yang sering kita dengar tapi tidak pernah dilihat oleh masyarakat," kata produser Tony Ramesh.

Untuk memerankan pilot, Jerome mengungkapkan ia lebih dulu mengikuti workshop dengan pilot aktif. Selain dikenalkan dengan beberapa fitur yang ada di kokpit pesawat, Jerome juga mempelajari sikap dan cara pilot dalam berperilaku baik di dalam pesawat maupun di bandara.

Bagi Jerome, salah satu yang menarik adalah di film ini tidak ada karakter yang benar-benar antagonis. Menurutnya, setiap karakter memiliki sudut pandang masing-masing yang akan membuat penonton pun merasa lebih dekat dengan dinamika permasalahan romansanya.

"Antara Kapten Deva, Tiara, dan Nadia, itu berada dalam sebuah situasi yang rumit. Ketiganya tidak benar-benar diposisikan sebagai siapa yang paling baik atau yang paling jahat. Mereka bertiga punya sudut pandang masing-masing yang akan membuat penonton berefleksi, masing-masing punya sisi negatif dan positifnya. Sangat human dramanya," ujar Jerome Kurnia.

Bagi Jerome dan Nadya, yang juga menjadi pasangan di kehidupan nyata, dan dipasangkan di film ini, keduanya memiliki tantangannya tersendiri. Sebab, di film ini Kapten Deva dan Tiara adalah pasangan yang baru memulai perjalanan cinta mereka.

"Aku memerankan Tiara, yang sebenarnya adalah pramugari baru. Jadi dunia penerbangan itu baru baginya. Begitu pula dengan kisah percintaan, Tiara cukup baru. Ketika bertemu dengan Kapten Deva, Tiara akan menemukan masalah-masalah yang nantinya akan menjadi besar dan mengubah kehidupannya," kata Nadya Arina.

Aghniny Haque, yang belakangan dikenal dengan peran serta karakter di film-film bergenre aksi, merasa sangat senang ia bisa kembali bermain di film drama. Terlebih, menurutnya, Penerbangan Terakhir menawarkan perjalanan emosi yang sangat intens dan menuntut karakternya untuk bisa menampilkan sisi yang bisa menjadi kontroversi bagi penonton.

"Karakter Nadia itu bisa sangat membuat penonton antara membenci atau menaruh empati dengannya. Karena ada sisi obsesif dan kegilaan di dirinya. Proses pendalaman karakternya sangat intens. Nadia dan aku sangat bertolak belakang, dan aku bersyukur berada di film ini yang memberikan aku ruang untuk bereksplorasi di ruang drama dengan emosi yang sangat dalam," kata Aghniny Haque.

Tonton film Penerbangan Terakhir mulai 15 Januari 2026 di bioskop Indonesia! 

Berikut Trailer Film Penerbangan Terakhir



Minggu, 21 Desember 2025

Film Malam 3 Yasinan, Horor Misteri yang Mengungkap Rahasia Kelam Keluarga Konglomerat Pabrik Gula Saat Dosa, Obsesi, dan Keserakahan Membawa Petaka

 

Film Malam 3 Yasinan tayang mulai 8 Januari 2026 di bioskop Indonesia Dibintangi Shaloom Razade, Wulan Guritno, Baim Wong hingga Hamish Daud

Jakarta, 21 Desember 2025 - Di sebuah rumah besar yang seharusnya terasa hangat oleh keluarga, justru menjadi sebuah labirin yang menyimpan rahasia tergelap manusia. Malam 3 Yasinan, horor misteri terbaru persembahan Alkimia Production dan Helroad Films akan tayang mulai 8 Januari 2026 di bioskop.

Berlatar pada tahun 1980-an yang mengikuti sebuah keluarga konglomerat pemilik pabrik gula, keserakahan dan dosa dipertaruhkan! Sebuah horor yang akan membawa penonton pada pengalaman yang bikin merinding, takut, sekaligus tercengang dengan kejutan yang tak terduga.

Opa Hendra (Piet Pagau) adalah pemimpin keluarga Djojodiredjo. Ia mengatur segala perilaku dari anak, menantu, dan cucunya, demi menjaga nama baik keluarga dengan filosofi 'mikul dhuwur, mendhem jero. Tapi, apa yang ia percayai dan semua yang ingin ia kontrol justru berakhir tragis.

Selepas kematian salah satu cucu Opa Hendra, Sara (Shaloom Razade), wajah asli dari keluarga besar Djojodiredjo semakin terkuak. Sara memiliki saudara kembar, Samira (juga diperankan oleh Shaloom Razade). Citra yang selama ini terlihat baik dari luar, retak, dan memperlihatkan keburukan yang sebenarnya.

Film Malam 3 Yasinan menyajikan horor yang kuat dengan drama keluarganya. Tak hanya menampilkan keseraman dari sosok gaib, tetapi juga keserakahan manusia yang tak kalah horor.

Dibintangi oleh Shaloom Razade, Piet Pagau, Farhan Rasyid, Wulan Guritno, Hamish Daud, Baim Wong, Amanda Gratiana Soekasah, Janna Joesoef, Izabel Jahja, Yasmine Aqeela, dan Tien Kadaryono, film Malam 3 Yasinan disutradarai oleh Yannie Sukarya.

Di film ini, Wulan Guritno turut memproduseri bersama Amanda Gratiana Soekasah, Janna Joesoef, dan Helfi Kardit. Melalui Malam 3 Yasinan, penonton juga diajak untuk melihat lebih dekat tentang sebuah nilai penting dari keluarga.

"Di film Malam 3 Yasinan penonton akan melihat keangkuhan kerapuhan, dan ketakutan, yang ada di keluarga Opa Hendra. Selain horor yang menyeramkan dan menakutkan, juga akan ada banyak intrik-intrik dari keluarga ini yang mengerikan," kata sutradara Yannie Sukarya.

"Bukan hanya ketakutan dari kehadiran makhluk gaib, tapi ketakutan di film ini juga tercipta dari rasa bersalah saat semuanya menutupi dosa. Obsesi akan keserakahan dan pencitraan yang akhirnya menyesatkan, akan membawa penonton masuk ke dalam intrik keluarga di dalam rumah besar konglomerat pemilik pabrik gula tahun '80-an. Sebuah konflik rumah tangga yang akan lebih seram dari hantu," tambah produser dan pemeran Wulan Guritno.

Untuk memerankan karakter kembar yang memiliki sifat dan hobi berbeda, Shaloom mengungkapkan ia mengerahkan seluruh energinya. Memerankan Sara, Shaloom harus mempelajari biola, sementara memerankan Samira, Shaloom harus belajar mengendarai motor kopling.

"Di film ini menjadi kesempatan aku untuk menantang diri sampai sejauh mana batas-batas aku dalam mengeksplorasi karakter. Butuh persiapan yang panjang, dan dibantu dengan tiga acting coach juga untuk mempersiapkan peran Sara dan Samira. Ini adalah tantangan, dan Malam 3 Yasinan menjadi warna horor baru yang aku eksplorasi," kata Shaloom Razade.

Film Malam 3 Yasinan akan menyajikan chemistry yang intens dari para aktor ternama yang terlibat konflik keluarga. Film ini juga menjanjikan genre horor misteri yang segar yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi menggunakan misteri keluarga, citra dan martabat keluarga, serta kehancuran yang akan menjadi pengalaman menghibur lewat teror supranatural.

Malam 3 Yasinan menjadi hiburan yang menghadirkan tensi tinggi dengan emosi yang intens, ketika konflik antargenerasi dan aib masa lalu menjadi sebab-akibat yang mematikan.

Malam Gala Premiere Malam 3 Yasinan pun sangat meriah, dihadiri oleh para tamu undangan dan para pelaku industri perfilman Indonesia. Banyak dari penonton merasa terhibur dengan horor yang ada di film tersebut dan relate dengan cerita intrik keluarga. Gala Premiere Malam 3 Yasinan turut didukung oleh Patriosa Boga Group dengan sajian dari @kambingguling.ku, @teppanku, @bulgoku, dan @eskrimku_id untuk para tamu undangan.

Tonton film horor Malam 3 Yasinan mulai 8 Januari 2026 di bioskop Indonesia.


Sinopsis

Samira (Shaloom Razade), shock mendapat kabar kematian saudara kembarnya Sara (Shaloom Razade) yang sangat mendadak dan juga mengguncang keluarga besar Djoyodiredjo, keluarga besar kaya raya pengusaha gula tahun 1980an, pengusaha gula kaya raya ini adalah Opa Hendra Djoyodiredjo (Piet Pagau).

Samira yang tinggal jauh dari rumah keluarganya, segera menuju kediaman Djoyodiredjo. Tidak seperti Sara, yang selalu berada di tengah keluarga besar, Samira memilih menjauh karena lelah dengan tuntutan kesempurnaan yang mengikat keluarga mereka dan konflik warisan antara para istri Ari (Baim Wong) anak laki-laki satu satunya Opa Hendra.

Ari juga Papanya Sara dan Samira. Di dalam rumah besar dan megah, Opa Hendra tinggal bersama putrinya, Lily (Janna Soekasah) dan suaminya Baskara (Hamish Daud) perwira polisi. Ada juga Lana (Amanda Gratiana) dan Layla (Wulan Guritno), para istri dari Ari-anak Opa Hendra.

Di rumah itu juga ada Sena (Farhan Rasyid), Ari mempunyai 3 orang anak yaitu Sena, Sara dan Samira dari 2 istri Lana dan Layla yang berkonflik warisan. Pada hari pertama malam yasinan, terjadi sebuah teror mengerikan yang mengungkap rahasia keluarga Opa Hendra yang disembunyikan.


Berikut Trailer Film Malam 3 Yasinan



Jumat, 19 Desember 2025

Film Suka Duka Tawa Menghangatkan Bioskop di Awal Tahun 2026 Melalui Kisah Tawa yang Menyembuhkan Luka Keluarga

 

Film Suka Duka Tawa tayang mulai 8 Januari 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 19 Desember 2025 - BION Studios dan Spasi Moving Image membuka tahun baru 2026 di layar bioskop Indonesia dengan kisah drama komedi keluarga yang hangat lewat film debut sutradara Aco Tenriyagelli, Suka Duka Tawa. Saat press screening Suka Duka Tawa, para penonton pun menyambut film ini dengan respons yang begitu hangat dan antusias.

Lebih dari sekadar film pembuka tahun, Suka Duka Tawa bisa menjadi ruang refleksi yang mengajak penonton menertawakan luka-luka yang belum selesai sebelum melangkah ke tahun yang baru.

Sebagai film panjang perdananya, Aco Tenriyagelli menghadirkan pendekatan yang sangat personal lewat gagasan "menertawakan luka dengan tawa". Selain Aco, film ini juga melibatkan Tersi Eva Ranti dan Ajish Dibyo, dengan Ajeng Parameswari sebagai produser eksekutif.

"Rekam jejak Aco lewat film pendek, video musik, hingga serial menunjukkan karakter karyanya yang kuat dan berbeda. Film ini menunjukkan kepekaannya dalam bercerita memberi ruang bagi penonton untuk tertawa, terharu, dan merefleksikan luka masing-masing," ujar produser Tersi Eva Ranti.

Kedekatan Aco Tenriyagelli dengan musik kembali tercermin lewat soundtrack yang bukan hanya mengiringi, melainkan menghadirkan pengalaman emosional yang kuat. Salah satunya adalah hadirnya kembali karya The Adams di layar lebar, bersama deretan soundtrack lain yang turut membangun suasana reflektif dan nostalgia sepanjang film.

"Lewat film panjang pertama ini, saya ingin bercerita tentang bagaimana luka bisa diolah lewat komedi," ujar sutradara Aco Tenriyagelli. "Dunia stand-up comedy terasa representatif. Menurut saya, Tawa mewakili banyak anak yang tumbuh dengan kehilangan sosok ayah. Harapannya, film ini bisa menghadirkan momen yang personal dan membuat penonton tertawa dan terharu di saat yang bersamaan."

Sejak pemutaran perdananya, Suka Duka Tawa mendapat respons positif dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), termasuk antusiasme tinggi pada sesi mendadak screening di Depok, yang menunjukkan kedekatan emosional film ini dengan penontonnya.

Banyak penonton merasa dekat dengan perjalanan Tawa (Rachel Amanda), yang harus menghadapi luka masa kecilnya saat beranjak dewasa. Film ini mengajak penonton merefleksikan arti memaafkan dan bertumbuh bersama luka yang pernah dialami.

Chemistry antar pemeran terasa mengalir, terutama antara Tawa dan geng stand-up-nya, Bintang Emon (lyas), Enzy Storia (Adin), Arif Brata (Nasi), dan Gilang Bhaskara (Fachri) yang menghidupkan nuansa komedi film ini. Kehadiran Abdel Achrian, Nazira C. Noer, dan Mang Saswi turut menambah warna komedi dengan pendekatan yang berbeda.

Sementara itu, interaksi Tawa dengan Ibu Cantik (Marissa Anita) dan Keset (Teuku Rifnu Wikana) menghadirkan drama keluarga yang membumi tentang relasi orang tua dan anak yang dipenuhi kesalahpahaman, rasa bersalah, dan kasih sayang yang sulit terucap.

"Di film ini, aku bisa berempati dengan apa yang dialami Tawa, tapi juga mencoba memahami posisi ayahnya, Keset," kata Rachel Amanda. "Semua karakter membawa emosi yang sangat manusiawi; dari marah, kecewa, dendam, sampai ke titik mencoba membuka pintu maaf. Aku berharap penonton tidak hanya terhibur, tapi juga keluar bioskop dengan perasaan yang berbeda setelah menonton."

"Saya sudah lama berkolaborasi dengan Aco, dan sangat senang bisa kembali bekerja sama di film panjang pertamanya dengan dukungan BION Studios," ujar produser Ajish Dibyo. "Ini menjadi milestone penting, bukan hanya bagi Aco, tapi juga bagi saya, karena sejak awal berproses bersama kami memang memimpikan debut film panjang ini. Lewat Suka Duka Tawa, Aco menunjukkan pendewasaan yang kuat sebagai pembuat film."

Tonton film Suka Duka Tawa di bioskop mulai 8 Januari 2026 di bioskop Indonesia

Berikut Trailer FilmSuka Duka Tawa



Produksi: BION Studios & Spasi Moving Image

Sutradara: Aco Tenriyagelli

Penulis: Aco Tenriyagelli, Indriani Agustina

Produser: Tersi Eva Ranti, Ajish Dibyo

Genre: Drama, Komedi, Keluarga

Pemain:

° Rachel Amanda,

° Teuku Rifnu Wikana,

° Marissa Anita,

° Bintang Emon,

° Gilang Bhaskara,

° Arif Brata, Enzy Storia,

° Myesha Lin,

° Nazira C. Noer,

° Mang Saswi,

° Abdel Achrian.

DIKEJAR HANTU NENEKNYA, ANGGA YUNANDA JADI SAUDARA KEMBAR DODIT MULYANTO DI TRAILER SEBELUM DIJEMPUT NENEK, FILM HOROR-KOMEDI DARI RAPI FILMS YANG SIAP BIKIN NGAKAK AWAL TAHUN 2026

 


Jakarta, 19 Desember 2025 - Rapi Films resmi merilis official trailer dan official poster film horor-komedi terbarunya yang berjudul Sebelum Dijemput Nenek, yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026. Film ini disutradarai oleh Fajar Martha Santosa dan diproduseri oleh Sunil Samtani, serta dibintangi oleh Angga Yunanda, Dodit Mulyanto, Oki Rengga, Wavi Zihan, dan Nopek Novian.

Sebelum Dijemput Nenek mengisahkan Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto), saudara kembar dengan pilihan hidup yang bertolak belakang. Hestu memilih merantau ke kota dan memutus hubungan dengan keluarganya, sementara Akbar tinggal di desa merawat Nenek yang membesarkan mereka sejak kecil. Hubungan Hestu dengan keluarganya retak hingga Hestu bersumpah hanya akan pulang jika Nenek meninggal. Ucapannya menjadi kenyataan. Nenek wafat tepat pada hari keramat, Sabtu Wage bulan 6 tanggal 6, jam 6. Konon, siapa pun yang meninggal di hari itu akan gentayangan sampai ada yang menemaninya ke alam baka. Sejak saat itu, arwah Nenek memburu Hestu dan Akbar untuk ikut bersamanya. Keduanya hanya memiliki waktu 7 hari untuk mencari "pengganti" sebelum arwah Nenek menjemput mereka.

Official Poster Film Sebelum Di Jemput Nenek

Official trailer yang dirilis hari ini menampilkan potongan teror arwah Nenek yang terus menghantui, dibalut dengan kekacauan di desa saat Hestu dan Akbar berpacu dengan waktu. Ketegangan horor hadir berdampingan dengan humor yang lahir dari perbedaan karakter dua saudara kembar, kehadiran kembang desa bernama Nisa yang diperankan oleh Wavi Zihan, Preman bernama Kotrek yang diperankan oleh Oki Rengga, dan Dukun Viral bernama Ki Mangun, yang diperankan oleh Nopek Novian.

Sutradara Fajar Martha Santosa memandang para karakter dalam film ini sebagai tokoh-tokoh yang dekat dengan keseharian penonton. "Hestu, Akbar, Nisa, dan Kotrek hadir yang dekat dengan keseharian kita, sebagai pengingat bahwa seseram dan sesulit apapun hidup yang sedang kita jalani, selalu ada celah untuk tertawa dan merasa bahagia. Penonton akan diajak tertawa, lalu tegang, lalu tertawa lagi. Intinya, film ini mengajak kita bersama-sama menertawakan teror", ungkap Fajar.

Kehadiran Angga Yunanda dan Adit Mulyanto sebagai saudara kembar dalam Sebelum Dijemput Nenek menjadi salah satu daya tarik utama film ini. Untuk pertama kalinya, Angga menjajal genre horor-komedi, sekaligus dipasangkan sebagai saudara kembar dengan Dodit Mulyanto, komedian yang dikenal dengan gaya humor spontan dan karakter yang membumi. Pertemuan dua latar belakang akting yang berbeda ini melahirkan dinamika unik di layar, Hestu yang dingin, menyimpan amarah, berhadapan dengan Akbar yang lugu, polos, dan sangat dekat dengan Nenek.

Dalam press conference yang digelar hari ini, kedua pemeran utama ini saling melempar canda ketika ditanya alasan bermain dalam film ini. Alasan Angga, "waktu ditawari peran ini, aku nggak pikir panjang, langsung aku terima karena aku mau membuktikan kalau sebagai aktor aku gak cuma modal tampang tapi aku juga lucu dan humoris", ungkap Angga sambil tertawa. Sementara itu Dodit punya pendapat yang sebaliknya, "Aku mau bermain dalam film ini karena aku mau membuktikan kalau aku gak cuma lucu dan humoris, tapi ya aku juga seganteng Angga Yunanda, makanya aku mau jadi kembarannya", ungkap Dodit sambil tertawa meledek Angga.

Film ini diproduksi oleh Rapi Films yang telah lama dikenal sebagai pionir film bergenre horor-komedi di Indonesia, jauh sebelum genre ini marak di industri film Indonesia, melalui judul-judul seperti Hangout yang berhasil meraih lebih dari 2,7 juta penonton dan Reuni Z. Rapi Films konsisten mengeksplorasi horor yang berakar pada budaya dan keseharian masyarakat Indonesia, lalu. membungkusnya dengan humor yang segar dan relevan. Sebelum Dijemput Nenek melanjutkan tradisi tersebut dengan pendekatan yang lebih personal dan emosional, menggabungkan mitos kematian, konflik keluarga, serta komedi karakter dalam satu pengalaman menonton yang utuh.

Menurut Sunil Samtani selaku produser, "Rapi Films selalu berupaya menghadirkan hiburan dan pengalaman sinematik yang menyenangkan bagi penonton. Melalui Sebelum Dijemput Nenek, kami kembali mengusung genre horor-komedi bersama Fajar Martha Santosa sebagai debut penyutradaraannya. Hal ini sekaligus melanjutkan komitmen Rapi Films untuk memberi ruang bagi talenta-talenta baru, seperti yang sebelumnya kami lakukan dengan Sidharta Tata melalui film layar lebar pertamanya, Waktu Maghrib. Film Sebelum Dijemput Nenek menghadirkan kejutan khas Rapi Films dengan kemunculan berbagai karakter hantu dari semesta film-film kami. Kami berharap Sebelum Dijemput Nenek menjadi tontonan yang seru dan menghibur saat tayang di bioskop," ujar Sunil Samtani.

Jangan lewatkan Sebelum Dijemput Nenek di bioskop mulai 22 Januari 2026 

Berikutt Trailer Sebelum Dijemput Nenek



Kamis, 18 Desember 2025

Film Patah Hati yang Kupilih Kisahkan Cinta Beda Agama dan Terhalang Restu Orangtua: Prilly Latuconsina Memilih Antara Bryan Domani dan Indian Akbar Sebagai Pasangan

 

Tayang mulai 24 Desember 2025 di bioskop Indonesia

Jakarta, 18 Desember 2025 - Sinemaku Pictures menutup tahun 2025 di bioskop dengan film drama terbarunya, Patah Hati yang Kupilih yang dibintangi Prilly Latuconsina, Bryan Domani, dan Indian Akbar. Film yang disutradarai Danial Rifki ini membawa kisah cinta dewasa yang membahas berbagai perbedaan mulai dari agama hingga cinta yang terhalang restu orangtua.

Diproduseri oleh Umay Shahab, Prilly Latuconsina, dan Bryan Domani, dengan produser eksekutif Yahni Damayanti, film Patah Hati yang Kupilih membawa tema romansa yang lebih dewasa, dan menjadi karya yang berbeda dari judul-judul yang pernah dirilis.

Film Patah Hati yang Kupilih mengikuti kisah Ben (Bryan Domani) dan Alya (Prilly Latuconsina), sepasang mantan kekasih yang pernah menjalani hubungan beda agama dan melakukan kesalahan besar, hingga hadir seorang anak di hubungan mereka. Di saat mereka tak bisa melanjutkan hubungan cinta karena terhalang perbedaan agama dan restu orangtua, di sisi lain mereka tetap harus hadir sebagai orangtua dari anak mereka, dan berusaha melawan rasa cinta yang terus hadir di antara keduanya.

Danial Rifki memotret kompleksitas cinta dewasa dengan begitu lembut. Menjadikan kisah Ben dan Alya yang diperankan Bryan Domani dan Prilly Latuconsina sebagai refleksi pada kisah-kisah cinta yang menghadapi berbagai perbedaan dan tantangan.

Official Poster Film Patah Hati Yang Kupilih

Film ini juga menghadirkan lapisan-lapisan konflik yang tak hanya membahas kisah cinta beda agama, tetapi juga tentang bagaimana proses pendewasaan manusia dalam melewati berbagai fase kehidupan mulai dari patah hati hingga konflik dalam hidup.

"Saat berkolaborasi dan memilih Danial Rifki untuk menggarap film ini, kami merasa dia sebagai sutradara yang tepat untuk mengarahkan kisah cinta romansa dari sudut pandang yang lebih dewasa. Hal ini menjadikan Sinemaku Pictures memiliki warna yang berbeda dari karya kami sebelumnya dan baru. Film Patah Hati yang Kupilih ingin mengajak penonton Indonesia untuk berdiskusi tentang kisah-kisah yang kerap kita jumpai dalam keseharian, tentang perbedaan yang lebih universal," ujar produser Umay Shahab.

Sutradara Danial Rifki mengungkapkan, ketika ditawari untuk menggarap film Patah Hati yang Kupilih sempat merasa ragu apakah dirinya bisa mengarahkan dengan tepat. Sebab, menurut Danial, selama ini Sinemaku Pictures memiliki signature tentang kisah-kisah dari karakter Gen Z.

Namun, ketika dijelaskan bahwa kisah cinta yang dibawa di film ini merupakan karakter yang lebih dewasa, ia pun yakin dan tertantang untuk menggarap tema tentang perbedaan yang bukan hanya sekadar menyoroti kisah cinta beda agama.

"Tanpa disadari, ketika mengangkat isu perbedaan, itu juga berefleksi pada hal yang lebih luas. Bagi saya, topik perbedaan adalah isu yang sangat membumi untuk masyarakat Indonesia. Di film ini, bukan hanya soal cinta beda agama, tetapi juga bagaimana kita bisa melihat para karakternya dalam menyikapi perbedaan itu. Semoga bisa menjadi refleksi bagi penonton, dan bisa merasakan perasaan dari para karakternya untuk bisa didiskusikan bersama-sama," kata sutradara Danial Rifki.

Di film ini, juga menjadi peran baru bagi Prilly Latuconsina. Memerankan Alya, Prilly menjadi ibu tunggal. Selain itu, ia juga berhadapan dengan konflik romansa yang lebih dewasa dari peran-peran sebelumnya.

"Memerankan Alya sebagai Ibu tunggal adalah sesuatu yang baru bagiku. Di film ini, kehadiran anak dalam kehidupan Alya sebenarnya adalah yang tidak direncanakan. Sehingga dalam menjalankan peran sebagai Ibu, Alya banyak tidak tahunya. Ditambah lagi, tidak ada partner yang bisa diajak berdiskusi dalam membesarkan sang anak. Pada akhirnya, Alya juga berada di bawah bayang-bayang Ibunya dalam segala keputusan hidup," kata produser dan pemeran Prilly Latuconsina.

Bagi Bryan Domani, memerankan karakter Ben juga menjadi hal baru baginya. Di film ini, ia menemukan dimensi berbeda dari sebuah hubungan romansa.

"Akhirnya aku mendapatkan peran yang berada dalam sebuah hubungan cinta dewasa di film ini. Bagiku, di film ini, ini adalah cinta yang jujur dan tidak egois. Di film ini, penonton akan melihat perjalanan kedewasaan dari sebuah hubungan cinta," ujar produser dan pemeran Bryan Domani.

Sementara itu, Marissa Anita yang memerankan Ibu Rahma, Ibu dari Alya, mengungkapkan tentang karakternya sebagai Ibu tunggal yang ditinggal pergi sang suami. Menurutnya, patah hati terbesar yang dialami di film ini adalah ketika ia harus membesarkan sang anak dan cucunya sendiri tanpa kehadiran suaminya.

Hal itu pula yang membuat karakternya sangat protektif terhadap Alya dan berujung ikut campur dalam urusan cinta sang anak.

"Cinta yang tidak direstui itu tentu hal yang berat dari sudut pandang anak. Secara alamiah, anak ingin membuat bahagia orangtuanya. Pada akhirnya ia mengesampingkan kebahagiaan diri. Saya berharap orangtua bisa memiliki kebijaksanaan untuk membiarkan anaknya bahagia dalam hal apapun, menjalani hidupnya dan mencari kebahagiaannya sendiri," ujar Marissa Anita.

Tonton film Patah Hati yang Kupilih mulai 24 Desember 2025 di bioskop Indonesia.


Berikut Trailer Film Patah Hati yang Kupilih



Rabu, 17 Desember 2025

Debut Gaga di Teaser Garuda di Dadaku: Duo Baru, Misi Mustahil, dan Mimpi yang Besar

 

Dengan karakter sebagai pusat utama cerita, BASE Entertainment dan KAWI Animation hadirkan animasi dari IP ikonis yang dekat dengan penonton Indonesia

Jakarta, 17 Desember 2025 — BASE Entertainment dan KAWI Animation membuka babak baru dengan meluncurkan teaser trailer dan teaser poster film animasi Garuda di Dadaku melalui konferensi pers yang digelar hari ini. Di acara tersebut turut diperkenalkan jajaran pengisi suara yang menghidupkan karakter-karakter utama dari film animasi tersebut. Sebelumnya pada Agustus lalu first look Garuda di Dadaku diluncurkan melalui akun media sosial dan mendapat sambutan hangat dari publik. 

Teaser trailer dan teaser poster ini sekaligus memperkenalkan karakter Gaga, sosok burung Garuda penuh energi yang tampil sebagai pusat emosi dan komedi cerita. Untuk pertama kalinya, Gaga dipertemukan dengan Putra, karakter utama yang merupakan seorang anak dengan mimpi besar menjadi pesepak bola. Melalui video teaser ini, keduanya diperkenalkan bukan sebagai sosok pahlawan atau pendamping yang sempurna, melainkan sebagai dua karakter yang sama-sama belajar untuk tumbuh. Gaga hadir dengan kepribadian yang penuh energi dan jenaka, sementara Putra menjadi representasi keberanian untuk memulai dari langkah kecil. Kisah keduanya bukan hanya menjadi petualangan yang seru, namun juga menjadi jantung cerita Garuda di Dadaku.

Kristo Immanuel, pengisi suara Gaga, mengatakan, “Saya sangat senang bisa terlibat dalam proyek ini, termasuk dalam proses menemukan suara untuk karakter Gaga. Karakter Gaga yang penuh energi dan jenaka membuat proses rekaman jadi sangat menyenangkan dan menambah seru dinamika antar karakter di film.” 

Selain Kristo Immanuel, konferensi pers ini juga dihadiri oleh para pengisi suara karakter lainnya, diantaranya Keanu Azka sebagai Putra, Revalina S. Temat sebagai Dewi Garuda, serta Quinn Salman sebagai Naya. Melalui acara tersebut, para pengisi suara berbagi kisah menarik yang terjadi di balik proses produksi film animasi keluarga ini.

“Putra dan Gaga adalah duo yang menyenangkan. Memerankan Putra, lalu bisa bermain bersama Kak Kristo sebagai Gaga, jadi pengalaman yang seru dan berkesan. Prosesnya sangat menyenangkan dan penuh tawa. Kak Kristo juga banyak membantu saya dalam mendalami karakter Putra,” jelas Keanu Azka.

Film animasi Garuda di Dadaku disutradarai oleh Ronny Gani, animator dan visual effects artist dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri animasi Hollywood. Ronny telah terlibat dalam berbagai waralaba film internasional seperti Marvel Cinematic Universe, Transformers, Aquaman, Ready Player One, dan Pacific Rim. Pengalaman tersebut ia bawa ke dalam film ini melalui pendekatan visual sinematik yang berpadu dengan penceritaan berbasis karakter.

“Sejak awal, Gaga tidak kami rancang sebagai sekadar karakter pendamping. Ia adalah pemicu emosi dalam cerita ini. Kepribadiannya yang enerjik justru menjadi tantangan bagi Putra untuk tumbuh. Di teaser trailer ini, kami ingin penonton langsung merasakan bahwa hubungan Putra dan Gaga bukan sebagai pelengkap, melainkan menjadi nadi dari Garuda di Dadaku,” ujar Ronny Gani.

Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, penulis naskah, Sofia Lo bersama Makbul Mubarak, Garuda di Dadaku diposisikan sebagai animasi keluarga yang menjadikan karakter sebagai pintu masuk utama cerita. Sebagai salah satu intellectual property (IP) ikonis di Indonesia dari kreator Salman Aristo dan Shanty Harmayn, Garuda di Dadaku telah melekat kuat dengan tema sportivitas anak pra-remaja, semangat sepak bola, serta drama keluarga yang menjadi kebanggaan nasional. Animasi ini menghadirkan interpretasi baru yang lebih dekat dengan generasi masa kini. 

“Garuda di Dadaku adalah IP yang sangat dekat dengan memori banyak orang Indonesia. Lewat animasi ini, kami ingin memperkenalkannya kembali kepada generasi baru dengan pendekatan yang lebih hangat, relevan, dan berfokus pada karakter serta emosi anak,” ungkap Shanty Harmayn, Produser BASE Entertainment.

Teaser Poster Film Garuda di Dadaku

Konferensi pers hari ini menandai dimulainya rangkaian kampanye Garuda di Dadaku, dengan Putra dan Gaga sebagai karakter utama yang akan membawa penonton melalui perjalanan penuh keseruan dan mimpi yang besar.

Garuda di Dadaku mengisahkan Putra (13), seorang bocah biasa dengan mimpi luar biasa: menjadi pesepak bola tim nasional Indonesia. Namun setelah gagal dalam sebuah seleksi dan diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya, keyakinan Putra mulai runtuh.

Garuda di Dadaku berubah ketika ia bertemu Gaga, sosok Garuda kecil magis yang diutus dalam sebuah misi khusus untuk membantu Putra menemukan kembali keberanian dan mewujudkan mimpinya. Meski sering berselisih, keduanya dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu membuktikan kemampuan diri dan menaklukkan keraguan. Lebih dari sekadar kisah sepak bola, Garuda di Dadaku adalah perjalanan emosional tentang keberanian, persahabatan, dan tekad seorang anak bersama sahabat magisnya untuk meraih mimpi.

Garuda di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission. Selain itu, Garuda di Dadaku juga bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.

Nantikan film animasi Garuda di Dadaku di bioskop tanah air pada tahun 2026. Pantau informasi terbaru melalui akun resmi media sosial BASE Entertainment dan KAWI Animation.

Berikut Teaser Trailer Film Animalia Garuda Di Dadaku



Selasa, 16 Desember 2025

Film “TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO)” Merilis Poster dan Trailerserta Umumkan Tayang di Bioskop Mulai 29 Januari 2026

 

Memadukan mitos urban Indonesia dan Korea, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) tidak sekadar horor yang menegangkan namun juga menyajikan drama romantis yang intens dan emosional

Jakarta, 16 Desember 2025 - Rumah produksi Heart Pictures hari ini merilis poster dan trailer resmi untuk film layar lebar perdananya, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO), sekaligus mengumumkan tanggal tayangnya di bioskop nasional mulai 29 Januari 2026. Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik & Sjahfasyat Bianca, film yang dibintangi oleh Saskia Chadwick, Cinta Brian serta aktor Korea Selatan Kim Geba dan Kim Seoyoung ini berkisah tentang TANIA (Saskia Chadwick), seorang mahasiswa Indonesia di Korea Selatan, yang terjerat dalam dunia arwah penasaran bernama MIN YONG (Kim Seoyoung). Bersama DR. PARK MIN JAE (Kim Geba), seorang dokter yang jatuh cinta padanya, Tania berjuang mengungkap kebenaran kelam di balik tragedi hidup Min Yong. Namun, kehadiran DION (Cinta Brian), pria misterius dengan masa lalu kelam, semakin memperumit situasi, sementara Tania terus mengalami gangguan misterius yang membuatnya sering berhalusinasi dan berujung pada teror yang tak berkesudahan.

Melalui trailer-nya, rangkaian potongan adegan mencekam dan menegangkan berhasil membawa penonton masuk ke dalam teror yang dialami oleh karakter Tania, di tengah problematika cinta segitiganya dengan Dr. Park Min Jae dan Dion. Elemen mistis dari tradisi budaya Indonesia dan Korea berpadu secara dinamis, memberikan pengalaman horor yang berbeda dan penuh nuansa. Tidak hanya menampilkan ritme adegan yang menegangkan dan emosional, trailer film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) kemudian juga membawa penonton menikmati visual menawan dari lokasi-lokasi ikonik di Korea Selatan.

“Bangga dan senang sekali rasanya, setelah lebih dari setahun yang lalu kami melakukan proses produksi yang dilakukan di Korea Selatan, akhirnya hari ini kami bisa memperlihatkan trailer dan poster film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) ke penonton. Kami di Heart Pictures punya misi untuk menyentuh hati melalui film. Semoga TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) sampai ke hati banyak penontonnya dan memperkaya khasanah industri film horor Indonesia,” ujar Herty Purba, produser eksekutif Heart Pictures.

Judul film DOWAJUSEYO diambil dari bahasa Korea 도와주세요 yang berarti “TOLONG SAYA”. 

Film ini juga dibintangi oleh aktor-aktor Indonesia beragam generasi, seperti Aruma Khadijah, Dito Darmawan, William Roberts, Husein Alatas, Yati Surachman, dan Debby Sahertian. 

“Syuting yang dilakukan di Korea Selatan dan melibatkan aktor yang tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari Korea Selatan, tentu punya tantangannya sendiri. Namun, semua aktor memberikan upaya terbaiknya dan sangat profesional, membuat semua prosesnya terasa menyenangkan,” ujar sutradara Nur Muhammad Taufik.

Official Poster TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) 


“Perpaduan budaya mistis Indonesia dan Korea membuat alur cerita yang intens dan emosional.

 Visual yang memanjakan juga tentu menambah aura mistis yang baru di layar lebar. Semoga ini menjadi sebuah pengalaman sinematik yang baru dan menyegarkan bagi para penggemar horor,” ujar sutradara Sjahfasyat Bianca menambahkan.

Emosi dari alur cerita film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) semakin diperkuat dengan iringan salah satu lagi hits legendaris Indonesia, “Semua Tentang Kita”, yang dipopulerkan oleh Noah. Theme song ini dinyanyikan oleh Shakira Jasmine dengan lirik berbahasa Korea dengan judul “Urieui Iyagi”. 

“Bangga sekali menjadi bagian dari sebuah film horor dengan nuansa baru seperti TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) ini. Tidak sabar rasanya menunggu film ini berjumpa dengan penontonnya di Indonesia. Semoga tidak hanya menghibur, tapi penonton juga mendapatkan pesan yang berarti dari kisah perjuangan Tania,” ujar Saskia Chadwick, pemeran karakter utama, Tania. 

Film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) tayang mulai 29 Januari 2026 di bioskop!

Berikut Official Trailer Film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) 

• Sutradara : Nur Muhammad Taufik & Sjahfasyat Bianca

• Penulis Naskah : Nucke Rachma

• Produser Eksekutif : Herty Paulina Purba

• Associate Producer : Arnold Sihombing

• Produser : Erick Mulyono

• Saskia Chadwick sebagai Tania

• Kim Geba sebagai Dr. Park Min Jae

• Cinta Brian sebagai Dion

• Kim Seoyoung sebagai Min Yong

• Aruma Khadijah sebagai Sherly

• Dito Darmawan sebagai Farel

• Yati Surachman sebagai Paranormal

• Debby Sahertian sebagai Inang Purba

• Husein Alatas sebagai Ustad Azam

• William Roberts sebagai Aldo

Senin, 15 Desember 2025

Rajah Segera Tayang: Zaman edan Yg Menghantui, diawali dengan teror Iblis Jahat.

 

Jakarta — Eight Senses Film resmi _melaunching_ official Trailer dan Poster film layar lebar terbaru berjudul “Rajah”, sebuah film Genre Horor Thriler berdurasi 105 menit yang digarap oleh sutradara Indonesia, R Jiwo Kusumo dan diproduseri oleh Ditha Samantha yang juga merupakan Artis di Film ini. Film Rajah akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.

Film RAJAH ini memiliki konflik beberapa lapis yg akan mengikat penonton utk menonton film dari awal hingga selesai. Film Rajah penuh adegan teror yang menyimpan misteri.

Selain itu, film Rajah jg menyajikan keindahan seni budaya Jawa berupa Tari, tembang  macapat , dan bunyi2an gamelan yg memiliki nilai keindahan Luhur dgn energi positif yg akan mentransformasikan kepada penontonnya. Keindahan beberapa tembang suluk dan macapat karya dari pujangga Kraton;  R Ng Ronggawarsito akan menggema di film ini sbg karya peninggalan yg luhur dgn segala energi positifnya.

Ditha Samantha;  seni budaya Jawa dan bahkan seni budaya di Indonesia ini adalah karya seni peninggalan leluhur yg memiliki nilai luhur , ajaran, pitutur serta sarat dgn nilai2 kebaikan yang bisa menjadi kekuatan diri untuk bangkit, berjuang dan menang. Seni Budaya bukan hal yg menakutkan, menyeramkan dan merisaukan. Itulah alasan saya mengangkat budaya Leluhur kami dgn film Rajah.

Dalam film ini kami juga ingin menyuguhkan bahwa  lafadz ayat - ayat di dalam al-quran mengandung kekuatan yang Maha Dahsyat.

Film Rajah, mimpi seorang cewe GenZ bernama Nilam yg bukan sekadar teror personal, melainkan isyarat dari masa lalu yang mencari jalan untuk didengar agar kehidupan yg sepertinya baik2 saja ini tdk bnr2 menjadi Zaman Edan.

Tokoh Cakra, mahasiswa sejarah, adalah simbol Cowok GenZ yang percaya bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati. “Cakra mengantar cerita pada gagasan bahwa kejadian masa kini sering kali hanyalah pengulangan dari tragedi lama,” 

Pertemuan Nilam, Cakra dengan Tribuana, pelatih tari yang memiliki kemampuan melihat masa lalu dan masa depan, merupakan salah satu titik filosofis dalam film ini. 



Jiwo menyebut bahwa Tribuana lahir dari kekagumannya pada seni tari klasik.

“Dalam banyak budaya Nusantara, seni gerak itu doa, mantra, dan sejarah yang hidup. Saya berupaya menembus batas itu,” kata Jiwo yang juga pembuat film dokumenter Keris Pusaka Dunia dan Pujangga Agung Ronggowarsito itu. 

Ditha Samantha, Producer:, Rajah, adalah cerita yang tidak semata mengandalkan horor supranatural. Tetapi juga menyingkap sisi konspirasi dan intrik yang mendorong tensi cerita semakin meninggi. 

Rajah adalah komposisi memadukan “drama, mistik, teror kekuatan hitam, dan konspirasi” . “Bagaimana berbicara tentang kebenaran yang dicoba untuk dikubur oleh kekuatan besar, tetapi pada akhirnya takdir tak bisa dilawan, kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri,” 

Film yang dibintangi oleh Samuel Rizal, Aditya Zoni, Panji Zoni, Ditha Samantha,  Angel Lisandi Putri ini diproyeksikan menjadi salah satu film horor-Triler yang paling dinantikan di th 2026. (*)


Berikut Trailer Film Rajah



Film "Titip Bunda di Surga-Mu" Rilis Final Poster, Abadikan Pelukan Ibu sebagai Rumah Ternyaman untuk Pulang

  Official Poster Titip Bunda Di Surga-Mu  Jakarta, 2 Februari 2026 - Menghitung hari menuju penayangan perdananya, RRK Pictures, Spectrum F...