Jumat, 21 Agustus 2026

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

 


"Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini" berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic reading


Jakarta, 21 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. "Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru," katanya.

Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.

Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi "Perempuan dalam Karya Asrul Sani" membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, "Asrul Sani di Mata Generasi Muda" mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui "Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario", yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi "Asrul Sani dan Inovasi Arsip" yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.

Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.

Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. "Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"

Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbunga Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonor (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.

Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.

Seluruh rangkaian "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacouncil.

Rabu, 19 Agustus 2026

Film RUMAH SINGGAH Siap Hadir di Bioskop dan Mengajak Penonton Merayakan Hidup serta Menemukan Kembali Harapan yang Hilang

 


Film RUMAH SINGGAH tayang mulai 27 Agustus 2026 di bioskop Indonesia


Jakarta, 19 Agustus 2026 Ketika masa depan yang kita impikan direnggut, terkadang kita. merasa hidup terhenti tiba-tiba dan dunia telah berakhir. Namun, jika dihadapi dan dijalani bersama sahabat, perjuangan menjadi lebih ringan dan membawa kita pada harapan dan makna baru dalam menjalani hidup. Ini adalah kisah Karla bersama sahabat-sahabat baru yang ia temui dalam film Rumah Singgah, yang tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Film Rumah Singgah adalah produksi dari SENARA, bekerjasama dengan Mandela Pictures dan Limelight Pictures, disutradarai oleh Dyan Sunu Prastowo, ide cerita oleh Celvin Jaya Hadi, dan penulisan skenario oleh Raditya.

Film Rumah Singgah mengisahkan Karla (Adhisty Zara), seorang atlet lari, yang harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap osteosarkoma, penyakit kanker tulang yang ganas. Di tengah kenyataan yang mengubah hidupnya, Karla tiba di sebuah rumah singgah. di mana ia disambut hangat oleh Bu Andin (Dewi Irawan), kepala rumah singgah, serta berkenalan dengan para penghuninya, Luki (Devano), Toni (Ciccio Manassero), dan Pika (Messi Gusti). Karla dan teman-teman barunya perlahan membangun persahabatan. Bersama Mang Didu (Aming), penjaga rumah singgah yang setia menemani, mereka mengawali perjalanan yang baru, di mana mimpi yang hampir sirna menemukan secercah harapan.

"Selama membuat Rumah Singgah, kami banyak berbicara tentang waktu. Tentang bagaimana sesuatu yang kita anggap sederhana menjadi begitu berarti ketika kita. menyadari bahwa waktu tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Sekarang, ketika film ini akhirnya siap bertemu dengan penonton, kami juga merasa waktunya tepat untuk mengajak publik datang bersama-sama ke bioskop, bukan hanya untuk menonton Rumah Singgah, tetapi juga untuk merasakan kembali betapa berharganya hadir untuk seseorang. mendengarkan mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk tetap bermimpi," ujar sutradara Dyan Sunu Prastowo.

Bukan hanya cerita yang menemukan maknanya, namun pengalaman tersebut juga tumbuh di antara para pemain selama proses produksi. Seperti Devano, yang merasakan bahwa perjalanannya mendalami karakter Luki dan lagu "Surat Hati" yang menjadi bagian dari film ini, membuat kisah Rumah Singgah semakin personal baginya.

"Menjadi Luki membuat saya belajar melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun berada di situasi yang nggak mudah, Luki tetap bisa menikmati hal-hal sederhana. dan selalu ada untuk teman-temannya. Ketika 'Surat Hati' akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Rumah Singgah, saya merasa ada banyak hal dari cerita ini yang semakin dekat dengan apa yang saya rasakan selama proses syuting. Semoga penonton bisa ikut merasakan kehangatan yang kami rasakan saat membuat film ini, dan setelah menontonnya bisa lebih menghargai waktu serta orang-orang yang selalu ada untuk kita," tutur Devano, pemeran Luki.

Semangat untuk terus menemukan makna di tengah keterbatasan itulah yang juga ingin dibawa Rumah Singgah saat akhirnya bertemu dengan penonton di bioskop mulai 27 Agustus nanti. Bagi SENARA, perjalanan film ini tidak berhenti pada selesainya proses produksi, tetapi justru dimulai ketika ceritanya menemukan penonton.

"Pada akhirnya, sebuah film tidak selesai ketika proses produksinya berakhir. la baru benar-benar menemukan maknanya ketika bertemu dengan penonton. Karena itu, kami ingin mengajak sebanyak mungkin penonton datang dan menyaksikan Rumah Singgah sejak hari pertama penayangannya karena kami percaya kisah seperti ini layak mendapatkan ruang yang luas untuk didengar dan dibicarakan. Melalui Rumah Singgah, kami ingin menghadirkan manusia-manusia dengan mimpi, tawa, ketakutan, dan keinginannya untuk menjalani hidup sepenuhnya. Semoga penonton menemukan cerita mereka sendiri di dalam film ini, dan membawa pulang sebuah percakapan yang berlanjut di luar ruangan bioskop," ujar Hans Andreas, produser SENARA.

Kini, kisah tersebut siap menemukan penontonnya di layar lebar. Rumah Singgah dibintangi oleh Adhisty Zara, Devano, Messi Gusti, Ciccio Manassero, Aming, Dewi Irawan, Marthino Lio, Agnes Naomi Shivapriya, dan Alex Abbad. Tonton film Rumah Singgah di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

Ikuti perjalanan dan informasi terbaru film Rumah Singgah di akun-akun resmi media sosialnya.


Arya Saloka Bopong Pocong! Special Poster Film Horor Munafik: Melawan Iblis Tunjukkan Kengerian yang akan Mengguncang Batin dan Bikin Nangis

 

Film Munafik Melawan Iblis tayang mulai 3 September 2026 di bioskop

Jakarta, 19 Agustus 2026 — Film horor terbaru persembahan Unlimited Production, Munafik: Melawan Iblis merilis special poster yang menampilkan adegan dramatis saat Arya Saloka membopong pocong. Di bagian latarnya, juga terlihat banyak pocong menggantung, sementara Arya tampak bangkit di antara nisan makam. Special poster tersebut digarap dari beberapa bagian adegan yang akan muncul di filmnya, yang memberikan petunjuk horor penuh ketegangan sekaligus kengerian.

Di film Munafik: Melawan Iblis, Arya memerankan Ustaz Adam, sosok ustaz yang cukup tangguh dalam melakukan rukiah. Arya akan beradu peran dengan Acha Septriasa dan Dimas Aditya. Selain ketiganya, film ini dibintangi oleh Faqih Alaydrus, Donny Damara, dan Nova Eliza.

“Untuk film Munafik: Melawan Iblis, saya secara khusus mempelajari tentang ilmu-ilmu rukiah dari ahlinya. Namun sebenarnya bukan hanya soal praktik rukiahnya saja yang kemudian saya pelajari, tetapi lebih dalam saya juga membenarkan bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur’an. Sebuah proses yang menjadi berkah sebenarnya bagi saya,” ujar Arya Saloka.

Diproduksi oleh Unlimited Production, film Munafik: Melawan Iblis disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Film ini diproduseri oleh Oswin Bonifanz dan Ayu Amirrol. Sebelumnya, Unlimited Production telah sukses dengan horor urban legend Alas Roban, yang meraih predikat blockbuster dan menjadi Top Opening Day Tertinggi 2026.

“Pada awal tahun 2026 Unlimited Production mempersembahkan horor urban legend dengan balutan drama supranatural Alas Roban, yang sangat diterimapenonton Indonesia. Pada 3 September 2026, kami mempersembahkan horor Munafik: Melawan Iblis yang kami yakin akan memberikan pengalam baru lagi untuk penonton. Horornya sangat intens, dramanya mendalam, dan dibintangi oleh para bintang yang mampu memberikan dimensi karakter secara kuat. Kami berharap film ini bisa membuat penonton terhibur sekaligus berefleksi,” ujar produser Oswin Bonifanz.

Dalam memproduksi Munafik: Melawan Iblis, Unlimited Production bekerja sama dengan Skop Productions, Legacy Pictures, AZ Films, dan Komet Productions.

Sebelumnya film Munafik: Melawan Iblis telah mendapat sambutan meriah dalam rangkaian Festival Film Munafik yang memberikan kesempatan bagi penonton di 10 kota: Purwokerto, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Gresik, dan Sidoarjo menonton terlebih dulu dan berjumpa dengan jajaran pemeran. Seluruh tiket terjual habis!

Tonton film Munafik: Melawan Iblis mulai 3 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial Instagram resmi @unlimited_production dan @film.munafik.


***


Sinopsis

Di perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Adam (Arya Saloka) seorang pengajar agama sekaligus praktisi ruqyah mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini, istrinya. Sejak saat itu ia berhenti melakukan ruqyah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) seorang perawat sekaligus putri dari Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal. Adam yang awalnya menolak menemukan alasan untuk kembali melakukan ruqyah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik terror gaib yang menimpa Fitri.

Potret Sulitnya Bertahan Hidup di Tengah Ekonomi yang Bikin Menjerit, Film Operasi Pesta Copet Mewakili Keresahan Banyak Suara Tentang Keinginan Hidup yang Lebih Layak dari Realita Anak Muda Operasi Pesta Copet tayang mulai 27 Agustus di seluruh bioskop Indonesia

 


Jakarta, 18 Agustus 2026 — Film Operasi Pesta Copet persembahan Imajinari menghadirkan kisah komedi persahabatan yang lucu sekaligus haru, dengan pendekatan produksi baru di sebuah festival musik besar Pestapora, mengikuti empat anak muda yang nekat nyopet karena terdesak keadaan. Menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod, film ini menampilkan kisah yang memiliki cerita kuat tentang orang-orang yang tak punya pilihan dalam hidup mereka.

Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, dan debut vokalis grup band Sisitipsi Fauzan Lubis, Operasi Pesta Copet tak hanya mengikuti kisah operasi pencopetan ternekat, namun juga menggugah perasaan dari cerita persahabatan di pinggiran kota Jakarta yang sama-sama terdesak oleh himpitan ekonomi.

Sebagai rumah produksi yang memiliki DNA komedi, lewat film ini Imajinari tetap menyuguhkan komedi, namun dengan skala yang berbeda. Di film ini, Awwe menjadi konsultan komedi. Melalui pendekatan baru dan genre yang eksploratif, film Operasi Pesta Copet pun menjadi wujud visi Imajinari untuk terus mencoba dan menawarkan kesegaran tema dan cerita di perfilman Indonesia.

“Tidak mudah untuk bisa mendapatkan cerita yang fresh, dan menurut Imajinari, Operasi Pesta Copet punya ide dan cerita yang sangat unik dan otentik. Sesuatu yang menggelitik dari awal adalah adanya copet di konser, apakah itu memang beneran copet yang belajar tentang skena musik, atau memang anak musik yang belajar nyopet? Dengan komedi yang sangat dekat dan membumi, drama yang relevan, kami berharap film ini bisa menghibur di tengah situasi yang serba sulit seperti sekarang, lewat komedi yang berbeda,” ujar Ernest Prakasa.

Sementara itu, sutradara Edy Khemod mengungkapkan empati menjadi hal esensial film Operasi Pesta Copet. Alih-alih mengglorifikasi aksi kriminal dan memotret kemiskinan struktural secara ekstrem, Khemod memilih menaruh hati.

“Sebagai orang yang pernah berada di posisi seperti karakter Ijal, saya merasa empati menjadi hal yang didahulukan sebagai pondasi dalam menggarap film Operasi Pesta Copet.

Sebab itu, kami juga tak ingin sekadar menghakimi apa yang dilakukan oleh Ijal dan Geng Siaran Pers Untuk Disiarkan Segera Copetnya, tetapi kami ingin mengajak penonton untuk bisa menaruh empati, merasakan apa yang mereka alami,” ungkap sutradara Edy Khemod.

Iqbaal Ramadhan, yang memerankan Ijal, mengungkapkan karakternya mencerminkan ketidakadilan yang masih terjadi di Indonesia. Di momen Kemerdekaan, Iqbaal merefleksikan bahwa Ijal juga menjadi representasi banyak kelompok anak muda yang tertekan oleh kehidupan dan tak memiliki banyak pilihan.

“Setelah aku mengenal Ijal, dia tidak jauh berbeda dengan kita. Dia juga anak muda yang punya mimpi. Yang membedakan Ijal dan kita, dia tidak dilahirkan di keluarga yang bisa menopang dia dengan segala privilesenya untuk berada di titik kayak kita sekarang,” ujar Iqbaal Ramadhan.

“Ijal sebenarnya anak yang pintar, banyak rasa penasarannya, makanya aku senang ngobrol dan "berkenalan" dengan Ijal di dalam proses film ini. Tapi Ijal termasuk orang-orang yang lahir dari kelompok marginal, yang memang terpinggirkan oleh sistem dan struktur. Menurutku, itu adalah cermin ketidakadilan yang masih terus ada di Indonesia dan Ijal adalah salah satu korbannya,” tambah Iqbaal.

Kawai Labiba, bintang muda generasi saat ini, juga membagikan pengalamannya selama menjalani proses syuting film Operasi Pesta Copet. Selama ini, Kawai lebih banyak dikenal dengan peran-peran dramanya yang mengaduk emosi. Namun, kali ini menjadi pengalaman perdananya berada dalam sebuah genre yang mengharuskannya melakukan aksi nekat.

“Sebagai Melodi yang menjadi bagian dari geng copet, ada perasaan yang janggal tapi excited, perasaan khawatir, semua bercampur ketika aku harus syuting di tengah kerumunan penonton Pestapora. Bagaimana juga tetap harus fokus mendengarkan brief tapi juga siap untuk melakukan aksi pencopetan. Tapi syukurlah semua krunya tetap solid dan seru, sehingga semuanya berjalan lancar. Terima kasih Imajinari sudah melibatkan aku di film ini. Film ini jadi pengalaman paling nekat yang tidak bisa aku lupakan selama berkarier sebagai aktor, ” kata Kawai Labiba

“Di film ini yang aku pelajari adalah bagaimana caranya menjadi seorang Adut. Sosok yang selalu go with the flow. Ijal ngajak nyopet, dia ikut. Jadi di sini aku justru menjadi orang yang tidak overthinking. Dan di setiap tongkrongan pasti ada sosok seperti Adut. Dinamika bromance-nya juga bisa diwakili dari sosok Ijal dan Adut, Ijal yang lebih berat dengan porsi dramanya sementara komedinya dari Adut,” ujar Kristo Immanuel.

Tayang serentak di seluruh bioskop mulai 27 Agustus 2026, film Operasi Pesta Copet juga akan memulai Pesta Copet lebih awal dengan roadshow bersama jajaran pemeran di 11 kota mulai 22–31 Agustus 2026. Kota-kota yang akan menjadi operasi copet adalah Malang, Surabaya, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Cirebon, Bandung, Bekasi, dan Bogor.

Mereka yang akan hadir ke kota-kota tersebut adalah Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, sutradara Edy Khemod, serta produser Ernest Prakasa dan Dipa Andika. Beli tiket special screening Operasi Pesta Copet untuk masing-masing kota dan berjumpa para geng copet!

Operasi Pesta Copet diproduksi oleh Imajinari dan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Premisnya memang tentang copet, tetapi hatinya tentang persahabatan, dan menceritakan konteks sosial dan emosi yang mendalam.


***


TENTANG IMAJINARI

Imajinari adalah studio film muda di Dipanesia yang menitikberatkan pada cerita yang segar dan berpijak pada visi kreatif

sutradara. Rekam jejak Imajinari diantaranya adalah film “AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!” yang menjadi film terlaris

sepanjang masa di Indonesia dengan perolehan lebih dari 11 juta penonton, film mega box office “AGAK LAEN” yang meraih

lebih dari 9,1 juta penonton, serta “Jatuh Cinta Seperti Di Film Film” yang memenangkan Film Terbaik, Skenario Asli Terbaik,

Aktor dan Aktris Utama Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia tahun 2024.


Didirikan oleh duo Ernest Prakasa & Dipa Andika, Imajinari memulai debutnya melalui film “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022),

sebuah film yang kemudian menjadi Official Selection Indonesia untuk Academy Awards 2023.


TENTANG ANGIN SEGAR

Angin Segar terbentuk dari kegelisahan pekerja produksi iklan di bawah naungan Cerahati yang ingin lebih fokus mengerjakan proyek inisiatif sendiri. Video musik dari Seringai dan The Panturas dengan pendekatan film cerita pendek, film dokumenter GELORA merupakan proyek awal inisiatif tersebut. Film music scoring, audio mixing & mastering juga menjadi kendaraan kami dalam berinisiatif di industri film. Operasi Pesta Copet diharapkan menjadi langkah awal baru untuk lebih aktif berinisiatif mengembangkan cerita dan memproduksinya dalam medium film.


TENTANG BOSS CREATOR

BOSS Creator adalah promotor musik dan festival terkemuka di Indonesia. Salah satu acara unggulannya adalah Pestapora, sebuah festival musik yang menghadirkan pengalaman unik dan tak terlupakan bagi para penggemar musik Indonesia.

Pestapora 2025 meraih kesuksesan dengan penjualan 100 ribu tiket untuk penyelenggaraan 3 hari festival.

Senin, 17 Agustus 2026

Film Horor-Misteri Hasut Merilis Official First Look! Menampilkan Jajaran Bintang: Rachel Amanda, Karina Salim, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova Tampil Secara Misterius

 


Film Hasut akan tayang di bioskop tahun ini


Jakarta, 17 Agustus 2026 — Film persembahan Tuta Films, Hasut merilis official first look yang menampilkan jajaran bintang pemeran film ini Rachel Amanda, Karina Salim, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Keempatnya tampil dengan berbagai ekspresi yang berbeda, namun tampak menyimpan sebuah misteri yang mengundang penasaran.

Hasut merupakan film horor misteri yang ditulis dan disutradarai oleh Ilya Sigma. Film ini mengikuti empat orang yang masuk ke hutan untuk proses pemulihan, lalu mulai saling mencurigai setelah suara-suara aneh membuat mereka tidak lagi yakin siapa yang bisa dipercaya.

"Film Hasut menghadirkan horor misteri yang bermain dengan rasa curiga. Melalui empat karakter yang diperankan oleh Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova, penonton akan diajak menebak siapa yang bisa dipercaya, siapa yang berbohong, dan siapa yang sebenarnya sedang menghasut. Di film ini, hutan menjadi ruang di mana rasa takut, luka, dan suara-suara yang mereka dengar mulai sulit dibedakan," ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.

Hasut akan menjadi debut penyutradaraan film panjang Ilya Sigma. Ia sebelumnya lebih banyak menulis skenario berbagai film dan memproduseri film-film produksi Tuta Films.

Pertama kali diperkenalkan di JAFF Market tahun lalu, film Hasut akan tayang di bioskop Indonesia tahun ini. Film ini juga menandai kembalinya Kariina Salim sebagai pemeran utama. Hasut juga menjadi pertama kalinya keempat pemeran bermain dalam judul yang sama.

"Buat aku, film Hasut punya konsep yang unik. Penonton nanti seperti diajak menebak sampai akhir tentang kebenaran cerita di filimnya, dan siapa impostor-nya," ujar Rachel Amanda.

Diproduksi oleh Tuta Films, Hasut diproduseri oleh Putrama Tuta dan Siera Tamihardja. Film Hasut akan tayang di bioskop Indonesia pada tahun ini. Ikuti informasi terbaru tentang film Hasut melalui akun Instagram resmi @filmhasut dan @tutafilms.

PAKET SANTET: Ketika Luka yang Tak Selesai Berubah Menjadi Dendam. Film horor garapan Dinna Jasanti tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026

 


Jakarta, 18 Agustus 2026 - Bagaimana jika seseorang yang pernah kamu sakiti tidak pernah benar-benar melupakanmu? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu lapisan teror dalam PAKET SANTET, film horor terbaru produksi BASE Entertainment garapan sutradara Dinna Jasanti. Memadukan santet, misteri, gore, dan teror yang dekat dengan keseharian, film ini membawa penonton menelusuri sebuah dendam dari masa lalu yang akan menghantui dan mengancam nyawa.

PAKET SANTET mengikuti kisah Deva (Fatih Unru), Bela (Yasamin Jasem), Celia (Gabriella Ekaputri), Ale (Fadly Faisal), Firza (Fiki Naki), Glen (Farandika), dan Kiki (Azela Putri), tujuh mahasiswa yang menjadi sasaran santet melalui paket yang sengaja dikirim kepada mereka. Ketika teror mulai merenggut nyawa, satu per satu dari mereka menyadari bahwa apa yang terjadi bukanlah kebetulan. Ada seseorang yang sengaja memilih mereka sebagai korban dengan alasan yang berakar pada kejadian di masa lalu.

Di balik teror tersebut, PAKET SANTET membawa tema tentang luka yang tidak pernah benar-benar selesai. Sesuatu yang bagi seseorang mungkin hanya dianggap candaan, kesalahan kecil, atau peristiwa yang sudah dilupakan, ternyata bisa meninggalkan luka panjang bagi orang lain. Ketika luka itu berubah menjadi dendam, masa lalu akhirnya kembali menuntut balasan.

Ditulis oleh Obe Karel, Titien Wattimena, dan Ambaridzki Ramadhantyo, PAKET SANTET diproduseri oleh Shanty Harmayn bersama Aoura Lovenson Chandra dan Tanya Yuson.

"PAKET SANTET berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian. Dari tindakan sederhana seperti menerima sebuah paket kemudian membawa kita ke pertanyaan yang lebih jauh, bagaimana jika orang yang pernah kita sakiti ternyata tidak pernah melupakan apa yang terjadi? Di BASE Entertainment, kami ingin membuat horor yang bukan hanya memberikan ketakutan, tetapi punya angle lain yang juga membuat penonton berpikir tentang konsekuensi dari perilaku kita terhadap orang lain," ujar Shanty Harmayn, Produser.

Fatih Unru, pemeran Deva, menilai kekuatan film ini justru terletak pada seberapa dekat konfliknya dengan kehidupan nyata.

"PAKET SANTET membuat saya berpikir ulang tentang hal-hal kecil dalam pertemanan yang sering kita anggap sudah selesai. Candaan, sikap, atau momen yang mungkin bagi kita sudah dilupakan, ternyata bisa menjadi luka bagi orang lain. Berperan sebagai Deva membuat saya sadar bahwa perundungan tidak selalu datang dalam bentuk besar dan terlihat. Kadang justru hal kecil yang kita anggap sepele bisa meninggalkan luka paling lama," ujar Fatih.

Lewat perpaduan teror santet, misteri, gore, dan konflik yang dekat dengan kehidupan anak muda, PAKET SANTET mengajak penonton melihat bahwa sesuatu yang dianggap sudah berlalu belum tentu benar-benar selesai. Karena terkadang, yang paling berbahaya bukan apa yang kita lakukan, melainkan apa yang orang lain ingat dari perbuatan kita.

PAKET SANTET tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026.



TENTANG BASE ENTERTAINMENT

BASE Entertainment adalah studio produksi terkemuka di Asia Tenggara dengan kantor di Indonesia dan Singapura, didirikan oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, dan Ben Soebiakto. Spesialis dalam produksi film dan serial berkualitas tinggi untuk penonton global, studio ini berkolaborasi dengan talenta-talenta kreatif terbaik untuk menghadirkan cerita dari Asia ke dunia, termasuk Perempuan Tanah Jahanam (Impetigore) karya Joko Anwar yang tayang perdana di 2020 Sundance Film Festival dan membawa piala terbanyak di Festival Film Indonesia di tahun yang sama, Gadis Kretek (Cigarette Girl) serial orisinal Indonesia Netflix pertama yang masuk ke daftar Top 10 Global Netflix, serial animasi orisinal Netflix Asia Tenggara pertama Trese, serta Petualangan Sherina 2 (Sherina's Adventure 2) yang memecahkan rekor box office di Indonesia. Dengan komitmen kuat pada inovasi cerita, BASE Entertainment terus mengembangkan produksi-produksi berkualitas yang menjembatani narasi regional dengan daya tarik global.

Kamis, 13 Agustus 2026

First Look Bapak Paling Jujur Ungkap Andovi Sebagai Calon Gubernur, Tayang 15 Oktober 2026

 


Film komedi arahan Fajar Nugros ini memperlihatkan Jonas Prakoso, calon gubernur yang harus menghadapi kutukan yang membuatnya tak bisa lagi berbohong.


Jakarta, 13 Agustus 2026 — Cahaya Pictures resmi merilis foto-foto first look BAPAK
PALING JUJUR, sekaligus mengumumkan tanggal tayang film komedi terbaru arahan
sutradara Fajar Nugros tersebut. Dibintangi Andovi da Lopez sebagai pemeran utama, BAPAK PALING JUJUR akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.

Diadaptasi dari film Korea Selatan Honest Candidate, BAPAK PALING JUJUR mengikuti kisah Jonas Prakoso, seorang calon gubernur yang tengah menjalani kampanye dan berusaha membangun citra sebagai sosok pemimpin yang ideal. Namun, sebuah kutukan membuat Jonas kehilangan kemampuan untuk berbohong. Apa pun yang ada di kepalanya kini bisa keluar begitu saja termasuk hal-hal yang seharusnya tidak pernah diucapkan oleh seorang calon pemimpin.



Empat foto first look yang dirilis memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Jonas selama
menjalani kampanye. Mulai dari berpidato di tengah warga, turun langsung membawa karung beras, hingga menghadapi situasi-situasi absurd bersama orang-orang di sekelilingnya. Firstlook ini sekaligus memberi gambaran tentang pendekatan komedi BAPAK PALING JUJUR yang mempertemukan dunia politik, kehidupan sehari-hari, dan berbagai karakter dengan tingkah yang tidak terduga.

Selain Andovi da Lopez, first look juga menampilkan Claresta Taufan, Soleh Solihun, dan Benidictus Siregar dalam karakter mereka masing-masing. Keempatnya menjadi bagian dari ensemble cast yang akan membawa berbagai warna kehidupan dan situasi komedi ke dalam perjalanan Jonas sebagai calon gubernur.



BAPAK PALING JUJUR persembahan dari Cahaya Pictures yang diproduksi bersama Studio Antelope dan disutradarai oleh Fajar Nugros. Film ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesiapada 15 Oktober 2026.

Informasi terbaru mengenai BAPAK PALING JUJUR dapat diikuti melalui akun Instagram
@cahayapictures_id dan TikTok @cahayapicturesid.


Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

  "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini" berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemut...