Selasa, 03 Maret 2026

Film Senin Harga Naik Jadi Kado Spesial Lebaran! Mengajak Temukan Arti Keluarga yang Seutuhnya Menghangatkan Hati di Momen Bermanfaat

 


Jakarta, 3 Maret 2026 - Setelah Lebaran 2025 sukses dengan drama romansa Komang yang mencetak blockbuster dengan 3.002.303 penonton, rumah produksi Starvision yang tahun ini memasuki perjalanan 31 tahun berkarya, berkolaborasi bersama Legacy Pictures menghadirkan film drama terbaiknya untuk merayakan Lebaran yang akan menyentuh hati banyak keluarga Indonesia, Senin Harga Naik. Sebuah film tentang anak dan Ibu yang punya definisi masing-masing tentang bahagia, dalam sebuah rumah dan toko roti yang menjadi warisan keluarga. Film ini akan menghangatkan hati dan mengingatkan lagi tentang pentingnya keluarga di Lebaran kali ini.

Senin Harga Naik dibintangi Nadya Arina, Meriam Bellina, Andri Mashadi, Nayla Purnama, Givina, Adam Xavier, Brandon Salim, Nungki Kusumastuti, Hamish Daud, Aci Resti, Arif Alfiansyah, Razan Zu, Rianti Cartwright, Restu Sinaga, Annisa Hertami, Dayu Wijanto, Reynavenzka, Hifdzi Khoir, Devy Anastasia, Lolox, Inyok, Violeta Ekanjani, Chika Waode, Maryam Lin, Jordan Omar, Mikhaila Zeline, Ashraf Dirgham, dan lain-lain..

Film ini mengikuti perjalanan Mutia (Nadya Arina) yang pergi dari rumah untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, tapi justru harus kembali ke rumah, karena kariernya bergantung dari rumah dan toko roti legendaris milik sang Ibu. Mutia yang berkarier di sebuah perusahaan properti ditugaskan untuk melobi pemilik toko roti Mercusuar, Ibunya, Retno (Meriam Bellina), agar bersedia digusur/dijual. Di momen-momen itulah kelokan emosi terjadi dan menguras air mata.

Diproduseri oleh Chand Parwez Servia, dengan sutradara Dinna Jasanti dari naskah yang ditulis oleh Rino Sarjono, film Senin Harga Naik menjadi sebuah sajian film Lebaran tahun ini yang akan mengajak penonton untuk menemukan arti keluarga yang seutuhnya, dan maaf bukan hanya dari anak-anak ke orang tuanya tetapi juga sebaliknya.

"Waktu terkadang membuat momen berlebaran bersama keluarga pun menjadi sesuatu yang sangat langka dan istimewa. Di era yang semakin hari semakin sulit kita bersama dan berdekatan, sangat penting menemukan trigger untuk bisa bicara dan saling mendekatkan diri lagi dengan keluarga. Lebaran adalah momen yang sangat penting untuk hadirkan film terbaik. Momen dimana kita berkumpul kembali dengan keluarga, dan semoga film Senin Harga Naik bisa menghangatkan hati untuk mau saling memaafkan," ujar produser Chand Parwez Servia.

"Lebaran sebagai momen kebersamaan yang sakral, dan selalu dirayakan dengan berkumpul barengan sekeluarga sejak kecil hingga kuliah, akhirnya karena tanggung jawab pekerjaan membuat kesempatan bermaafan secara langsung semakin sulit dan dirindukan. Melalui film ini saya ingin mengajak Lebaran 2026 kita bisa menemukan kembali nilai-nilai yang membuat keluarga sangat penting, dan ingin kita peluk," tambah Chand Parwez Servia

Bagi sutradara Dinna Jasanti, yang sebelumnya bekerja sama dengan Starvision dan Chand Parwez Servia lewat kisah hangat Dua Hati Biru, kisah di film Senin Harga Naik memiliki kedekatan personal dengannya.

Dinna Jasanti berharap, film Senin Harga Naik bisa menjadi kado spesial saat keluarga Indonesia merayakan Lebaran. "Ini film yang sangat hangat. Semoga menjadi kado spesial dari kami semua untuk penonton merayakan Lebaran, menjadi pelukan yang sangat hangat untuk kita semua."

Film Senin Harga Naik memiliki berbagai lapisan drama dari masing-masing karakternya. Mulai dari konflik anak perempuan dan Ibu, relasi mertua dan menantu perempuan, hingga keras kepalanya orang tua dan anak terhadap apa yang diyakininya.

Film Senin Harga Naik juga akan mengajak penonton ke sebuah interior toko roti ikonik, yang menjadi latar di film ini. Dinna dengan apik menampilkan latar toko roti tersebut sebagai sebuah tempat yang memiliki nilai sentimentil dan menggerakkan emosi tiap karakternya, dan menjadi motivasi drama yang dihadirkan.

Sementara bagi Nadya Arina, memerankan Mutia, sebagai anak yang berkonflik dengan Ibunya sendiri justru memberikan refleksi tentang cara berkomunikasi dengan orang tua.

"Semakin dewasa, ada perubahan cara berkomunikasi dengan orang tua. Sering sekali ada kesalahpahaman yang mungkin dianggapnya jadi berbeda sama orang tua. Film Senin Harga Naik itu ngajarin aku juga untuk memahami dan bisa lebih menyayangi keluarga," kata Nadya Arina.

"Semua adegan yang ada di film ini rasanya bakal bikin kita tertawa, menangis haru, dan ingin meminta maaf ke orang yang mungkin sudah lama berselisih paham, dan Lebaran jadi momen yang tepat untuk mengucapkan maaf, sama seperti yang dilakukan Mutia dan Ibunya di Senin Harga Naik," tambah Nadya. 

Meriam Bellina, yang memerankan Retno, Ibu tiga anak yang berseteru dengan anaknya, Mutia, dan kerap berselisih paham dengan menantunya, menjelaskan film ini menyadarkan tentang arti pentingnya kebersamaan dan kehadiran bersama orang tersayang.

"Biasanya di saat kehilangan kita baru merasa ya, 'Oh, ternyata kemarin-kemarin aku punya ini, aku punya itu. Di film Senin Harga Naik ini saya menjadi single mother yang hanya ingin memiliki kedekatan dengan anak-anaknya. Sementara anak-anaknya ingin berkembang dan melanjutkan hidup mereka. Jadi terkadang saya cukup keras dalam mendidik dan malah membuat mereka semakin menjauh. Tapi, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki semua, dan saya rasa menonton film Senin Harga Naik bersama keluarga di momen Lebaran bisa menjadi salah satu sarana untuk menemukan kembali kehangatan keluarga," ujar Meriam Bellina.

Tonton film Senin Harga Naik bersama seluruh keluarga di bioskop untuk merayakan Lebaran. Tayang mulai 18 Maret di Bioskop kesayangan kamu. Temukan kembali kehangatan keluarga! Ikuti perkembangan terbaru film Senin Harga Naik melalui akun Instagram @filmseninharganaik, @Starvisionplus, dan Tiktok @Starvision Official.


Sinopsis

Pertengkaran Mutia dengan Ibunya, Retno, membuatnya pergi dari rumah untuk membuktikan dirinya bisa sukses secara mandiri. Tiga tahun berlalu, promosi karir Mutia di perusahaan properti tersandung proyek penggusuran Mercusuar, toko roti legendaris milik Retno. Tidak ada pilihan lain, Mutia kembali ke rumah, dan bekerja sama dengan kakak dan adiknya untuk melunakkan hati ibunya agar mau menjual Mercusuar.

Pemain & Tim Produksi

Nadya Arina : Mutia Soejono

Meriam Bellina : Retno Wulandari

Andri Mashadi : Amal Soejono

Nayla Purnama : Tasya Soejono

Givina : Taris

Adam Xavier : Alviero 6th

Brandon Salim : Nando Hidayat

Nungki Kusumastuti : Ida Ariati

Hamish Daud : Maruli Zubizarreta

Aci Resti : Rani

Arif Alfiansyah : Karmanto

Razan Zu : Patria Perkasa

Rianti Cartwright : Retno Muda

Restu Sinaga : Bimo

Annisa Hertami : Ida Muda

Dayu Wijanto : Irene Candrawati

Reynavenzka : Sabrina Hapsari

Hifdzi Khoir : Legal 1

Devy Anastasia : Vlogger

Lolox : Sales Cluster 1

Inyonk : Legal 2

Violeta Ekanjani : Legal 3

Chika Waode : Sales Cluster 2

Maryam Lin : Mutia Kecil

Jordan Omar : Amal Kecil

Mikhaila Zeline : Tasya Kecil

Ashraf Dirgham : Alviero 3th

Produksi : Starvision, Legacy Pictures

Produser : Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar

Sutradara : Dinna Jasanti

Produser Eksekutif : Reza Servia, Amrit Dido Servia , Raza Servia, Lisbeth Simarmata

Produser Lini : Sara Kessing

Penulis Skenario : Rino Sarjono

Pengarah Artistik : Okie Yoga Pratama

Penata Kamera : Amalia Ts, ICS

Penyunting Gambar : Hendra Adhi Susanto

Penata Suara : Aditya Trisnawan

Perekam Suara : Yusuf Patawari

Penata Musik : Hariopati Rinanto

Penata Warna : Chressandy Rorimpandey

Penata VFX & Grafis : In My Room

Nathasa Agnes

Penata Rias : Nathasa Agnes

Penata Busana : Angela Suri Nasution

Penata Peran : Arief Havidz, Erik Arifin

Perancang Poster : Alvin Hariz

Saat Kau Telah Mengerti - Virgoun

OST : 

Saat Kau Telah Mengerti - Virgoun

Selaras - Kunto Aji & Nadin Amizah

Jika Nanti - Raissa Anggiani

3 Komika Diteror Pocong! Trailer & Poster Warung Pocong Resmi Dirilis,



Tayang 9 April di Bioskop

Jakarta, 3 Maret 2026 – Entelekey Media Indonesia bersama Tiger Pictures resmi merilis official trailer dan poster film komedi-horor Warung Pocong, yang akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 April.

Disutradarai oleh Bendolt, Warung Pocong menawarkan cerita tentang teror pocong yang mencekam dibalut komedi segar dari tiga komika ternama.

Warung Pocong dibintangi oleh Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil sebagai tiga pemuda Jakarta yang hidupnya sedang di ujung tanduk karena masalah ekonomi. Saat kesempatan kerja bergaji besar datang dari sebuah desa terpencil,mereka menerimanya tanpa banyak pertimbangan. Namun sesampainya disana, yang mereka temukan bukan sekadar pekerjaan, melainkan teror pocong yang tak terduga.

Official trailer yang dirilis menampilkan latar belakang tiga karakter utama, bagaimana tekanan hidup dan himpitan ekonomi mendorong mereka mengambil keputusan yang nekat. Nuansa komedi terasa kuat lewat interaksi spontan dan celetukan khas para komika, namun perlahan berubah menjadi atmosfer mencekam ketika teror pocong mulai menghantui.

Fajar Nugra mengungkapkan bahwa ia merasa karakter yang diperankannya sangat dekat dengan realita msyarakat saat ini.

“Karakter saya itu orang biasa yang lagi kepepet banget secara ekonomi. Menurut saya itu relatable, karena banyak yang pernah ada di posisi bingung dan terdesak. Bedanya,kalau di film ini, salah ambil keputusan malah berujung ketemu pocong,” ujarnya.

Official Poster Film Warung Pocong


“Tapi justru dari situ serunya, karena kami menghadapi ketakutan dengan cara masing-masing. Ada panik, ada sotoy, ada yang pura-pura berani.” tambah Fajar.

Tak hanya itu, film ini juga menghadirkan sisi berbeda dari Shareefa Daanish dan Arla Ailani yang selama ini identik dengan peran serius dalam film horor. Kali ini, keduanya harus bermain dalam ritme komedi dan beradu adegan dengan para komika.

Deretan pemain lainnya seperti Teuku Rifnu Wikana, Kiki Narendra, dan Whani Darmawan turut memperkuat film ini.

Sutradara Bendolt menyebut Warung Pocong sebagai tontonan yang bisa dinikmati berbagai kalangan. "Kami ingin membuat film horor yang tetap punya rasa seram, tapi ringan dan menghibur. Jadi penonton bisa tegang, tapi juga tertawa. Ini cocok untuk yang suka horor tapi tidak ingin pulang dengan perasaan terlalu berat.” jelas Bendolt.

Sementara itu, Patricia Gunadi selaku Direktur Entelekey Media Indonesia menyampaikan bahwa film ini menjadi langkah penting bagi rumah produksi tersebut.

“Sebagai film kedua kami, Warung Pocong menjadi langkah penting dalam perjalanan Entelekey Media Indonesia membangun katalog karya yang berkelanjutan. Film in iadalah bentuk komitmen kami untuk menghadirkan cerita yang dekat dan relevan dengan penonton Indonesia. Kedepannya, Entelekey Media Indonesia akan terus membuka ruang kolaborasi dengan filmmaker dan talenta potensial, serta menghadirkan karya-karya dengan konsep segar sekaligus memperkuat ekosistem kreatif yang kami bangun.” tutur Patricia.

Dengan premis yang relatable, komedi yang organik, serta teror pocong yang mengagetkan, Warung Pocong siap menjadi pilihan tontonan seru di bioskop mulai 9 April.



***


SINOPSIS

Tiga pemuda Jakarta: Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur

(Randhika Djamil), terjebak dalam masalah keuangan masing-masing, mulai dari utang,

penipuan, hingga investasi bodong. Ketika seorang pria tua bernama Kusno (Whani

Darmawan) menawarkan mereka kerja sebagai penjaga warung dengan gaji fantastis

50 juta per bulan, mereka pun menerimanya dan langsung dibawa ke desa terpencil

bernama Lali Jiwo. Namun keanehan mulai terjadi saat mereka mengalami teror gaib

dari sosok pocong

Jumat, 27 Februari 2026

Walid Kembali! Season 2 Hadirkan Sosok Lebih Manipulatif dan Lebih Berbahaya Olla Ramlan bak-blakan soal syuting berat Walid

 



Jakarta 27 Februari 2026. Viu Original Walid: Heaven's Reign, yang merupakan kelanjutan dari serial Bidaah yang viral tahun lalu, resmi tayang perdana mulai kemarin (26/2/2026) di Viu. Episode perdana langsung dibuka dengan situasi genting, yaitu Walid berada dalam pelarian dari aparat kepolisian!

Ia tidak sendirian. Ada pihak yang membantu Walid keluar dari penangkapan sebelum akhirnya dibawa menuju wilayah pedalaman. Tempat tersebut diyakini para pengikutnya sebagai lokasi aman yang sulit dijangkau aparat dan dianggap sebagai perlindungan terakhir bagi sang pemimpin.

Ketidakhadiran Walid di tengah Jemaah Jihad Ummah segera memunculkan pertanyaan besar. Sosok yang selama ini menjadi pusat keputusan tidak lagi berada di garis depan. Siapa yang akan mengendalikan kelompok ketika pemimpinnya berada dalam pelarian?



Olla Ramlan Bangga

Dalam acara Premiere Screening di Jakarta kemarin (26/2/2026), Connie Agustin, Deputy Manager Content Acquisition, Viu, mengungkapkan, “Di season pertama, fokus cerita memang banyak berada pada Walid dan kelompoknya. Namun melihat respons luar biasa dari penonton, tim Viu Malaysia merasa ada ruang untuk memperluas perspektif dan membawa konflik ke tingkat yang lebih dalam. Di season kedua, tim menghadirkan sosok baru yang bahkan lebih manipulatif dan lebih berbahaya, sehingga dinamika kekuasaan berkembang ke arah yang tak terduga.”

Connie berharap karya fiksi ini menghibur dan menjadi refleksi tentang bagaimana kekuasaan tanpa kendali dapat membawa konsekuensi yang serius dan berbahaya. Ia menambahkan, 

“Series ini juga mengajak penonton untuk berpikir kritis dan tidak mudah terbuai oleh klaim atau figur otoritas apa pun. Kami berharap kehadirannya dapat menjadi medium diskusi yang sehat, sekaligus pengingat pentingnya melindungi masyarakat dari segala bentuk eksploitasi yang berkedok spiritualitas.”

Viu Original Walid: Heaven's Reign pun semakin spesial karena penampilan Olla Ramlan yang dipercaya memerankan karakter sangat penting. Olla mengaku sangat antusias saat menerima tawaran dari Viu. "Aku baru saja selesai dengan drama dari Viu, Secret High School, lalu aku ditawari series ini. Tapi waktu itu tidak langsung diberi tahu, apakah aku akan jadi istrinya Walid yang ke berapa atau sebagai karakter lain, aku pun masih bertanya-tanya. Tapi aku antusias karena tahu respon masyarakat yang luar biasa terhadap Bidaah," ujar Olla dalam acara yang sama.



Berperan sebagai Raras Kartika, Olla menjalani proses syuting selama 20 hari dengan perasaan campur aduk. “Ada lokasi syuting di kawasan Perak, Malaysia, yang berada di tengah hutan, dan aku harus menempuh jalan kaki sekitar 70 meter untuk ke kamar mandi yang dipakai bersama kru lain. Tidak ada VIP, jadi semua antre. Kami syuting selalu pagi hari dan di sana dingin banget. Tanpa air panas di kamar mandi. Bahkan aku ada adegan mandi di air terjun dalam waktu cukup lama dan harus tetap berdialog sekaligus memastikan kualitas audio dengan kru,” tambahnya.

Kondisi pondok tempat ia menginap pun berdinding kayu dengan sela-sela yang bisa dimasuki serangga sekitar. “Nyamuk luar biasa dan serangga di sana juga membuat aku takut dan tidak bisa tidur. Jadi aku sempat tertekan dan menangis,” pungkas Olla.

Namun ia mengakui bangga dapat terlibat dalam proyek ini. “Terima kasih untuk Viu Indonesia, Viu Malaysia untuk kesempatan yang luar biasa banget," ujarnya. 


Perebutan Kekuasaan Dimulai

Pekan pertama penayangan Walid: Heaven's Reign juga menunjukkan Walid di bawah bayang-bayang figur yang lebih besar dan lebih berpengaruh. Ketegangan pun semakin terasa ketika lingkaran terdekatnya mulai retak, sementara para pengikutnya sendiri menunjukkan tanda-tanda perpecahan. Season ini dipastikan akan membongkar sisi rapuh di balik sosok yang selama ini terlihat tak tergoyahkan.

Seperti apa nasib Walid, istri-istri dan pengikutnya? Saksikan drama Walid Heaven's Reign yang tayang setiap Kamis dan Jumat di Viu. 






Rabu, 25 Februari 2026

Marcell Siahaan Merilis “Menuju Cahaya” , Sebuah Perjalanan Batin Manusia Dan Belajar Untuk Jujur Pada Diri Sendiri

 



Menuju Cahaya, merupakan single reliji kedua dari Marcell yang dirilis pada tanggal 26 Februari 2026, setelah sebelumnya pada tahun 2024 mengeluarkan single berjudul "Tawakal", yang lagi- lagi lirik, komposisi serta aransemennya ditulis sendiri oleh Marcell. Melalui label rekaman dan penerbit musik miliknya sendiri yaitu Ruang Menyusui Records dan MKH Publishing, single "Menuju Cahaya" ini diproduksi oleh Marcell sendiri sebagai pengarah musik utama. Vokal direkam oleh Yusuf Effendi Hadiyanto di studio Ruang Menyusui, dibantu oleh musisi-musisi belakang layar legendaris seperti Gatot Alindo pada gitar akustik dan elektrik, Ivan Alidiyan pada keyboard dan synthesizer, Stefanus Adi Wibowo sebagai pengarah vokal, serta Lawrence 'Random' Widarto sebagai juru adun atau mixing and mastering engineer. Tak ketinggalan, istri tercintanya Rima Melati Adams juga turut serta membacakan penggalan lirik puitis berbahasa Inggris dalam lagu tersebut. "Jelas, cuman Rima yang paling fasih dan paling bagus pelafalan bahasa Inggris-nya di rumah ini," kata Marcell jujur.

Melalui liriknya, lagu "Menuju Cahaya" merupakan lagu tentang perjalanan batin manusia, di saat dimana ia berhenti merasa menjadi pusat, dan mulai melangkah menuju sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Lagu ini tidak berbicara tentang pencapaian, melainkan tentang pelepasan; bukan tentang menjadi benar, tetapi tentang belajar untuk tunduk dan jujur pada diri sendiri. Inspirasi utama lagu ini berangkat dari konsep Tazkiyatun Nafs, yaitu proses pemurnian jiwa. Gagasan ini selaras dengan pesan Al-Qur’an dalam Surat Asy-Syams (91) ayat 9-10 dan Surat Al- A‘la (87) ayat 14, yang sama-sama menegaskan bahwa keberuntungan sejati bukan datang dari pengakuan luar, melainkan dari keberanian membersihkan batin. Pengertian “Cahaya” dalam lagu ini tidak dimaknai sebagai simbol kesuksesan personal atau pencerahan instan. Cahaya adalah tujuan, sebagai sesuatu yang didekati, bukan dimiliki. Pemaknaan ini terinspirasi dari gambaran Cahaya Ilahi dalam Surat An-Nur ayat 35, sehingga liriknya tidak menonjolkan ego, melainkan menekankan proses melakukan suatu perjalanan: melangkah tanpa nama, tanpa beban untuk dipuja.

 


Secara musikal dan lirik, "Menuju Cahaya" disusun dengan pendekatan minimalis dan repetitif. Pengulangan lirik berfungsi seperti doa, yang diucapkan perlahan dan reflektif, menggambarkan bahwa pemurnian diri bukan peristiwa yang instan sekali selesai, melainkan proses yang harus dijalani terus-menerus. Pada akhirnya, "Menuju Cahaya" bukan lagu dakwah dan bukan pernyataan religius yang demonstratif. Lagu ini merupakan ruang perenungan: tentang manusia yang menyadari keterbatasannya, melepaskan pembenaran diri, dan tetap memilih untuk berjalan perlahan namun jujur menuju Cahaya.

Namun ada yang berbeda dari lagu reliji "Menuju Cahaya" yang ditulis oleh Marcell kali ini, yaitu balutan aransemen yang sangat kental bernuansa elektronik. "Saya sengaja melahirkan lagu ini dengan aransemen yang sedikit berbeda, tentunya tanpa kehilangan ruh-nya, harapannya agar lagu ini bisa menjaring lebih banyak pendengar dari berbagai segmen yang lebih luas dan beragam, dan siapapun mereka bisa memaknai musik dan lirik dari lagu ini tanpa harus menunggu momen- momen tertentu. Pemurnian diri adalah proses yang layak dirayakan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun." tutupnya.


Composed and arranged by : Marcell

Lyrics written by : Marcell

Executive Producer : Marcell and Ruang Menyusui Records

Published by : MKH Publishing

Vocal recorded at : Studio Ruang Menyusui, Bintaro

Vocal recorded by : Yusuf Effendi Hadiyanto

Vocal directed by : Stefanus Adi Wibowo

Accoustic, Electric Guitar : Gatot Alindo

Keyboard, Synthesizer : Ivan Alidiyan

Mixed and mastered by : Lawrence 'Random' Widarto

Female voiceover : Rima Melati Adams

Menemani Bulan Ramadan, Ungu Persembahkan Single Religi “Pulang Pada-Mu”, Kerinduan Hamba Kepada Tuhan-Nya Di Tengah Hidup Yang Semakin Sibuk

 


Jakarta, 13 Februari 2026 — Menyambut bulan suci Ramadan, Ungu kembali merilis single religi terbaru berjudul “Pulang Pada-Mu”, sebuah lagu reflektif yang merekam perjalanan batin seorang hamba dalam menemukan jalan pulang kepada Allah SWT.

Diciptakan oleh Enda Ungu, “Pulang Pada-Mu” menggambarkan sebuah titik balik spiritual saat ego dikesampingkan dan hati berbicara dengan jujur memohon ampunan dan penerimaan dari Allah SWT. Lirik “Kini ku pulang pada-Mu” merupakan simbol bahwa jalan untuk kembali kepada-Nya akan selalu terbuka. Sejalan dengan kisah yang dialami Enda, lagu ini bukan sekadar doa, melainkan kesaksian personal tentang perjalanan taubat, harapan akan rahmat, dan kerinduan untuk kembali hidup dalam bimbingan-Nya. Dalam musik videonya, Enda pun turut hadir sebagai model di bagian cerita, memperkuat sisi personal dan emosional yang ingin disampaikan melalui lagu ini.

Enda menuturkan, “Lagu ini saya tulis berdasarkan apa yang saya rasakan. Ketika keseharian saya hanya disibukkan dengan bekerja dan mengejar ambisi, saya justru merasakan kekosongan. Dari situ muncul pencarian terhadap Allah SWT, disertai rasa penyesalan dan keinginan untuk kembali kepada-Nya.”


Lebih dari sekadar karya musik, “Pulang Pada-Mu” mengangkat pesan tentang kepulangan seorang hamba kepada Allah SWT sebuah pilihan untuk kembali setelah perjalanan hidup yang penuh distraksi dan kesalahan. Kata “pulang” dihadirkan sebagai simbol kembalinya hati, bukan sekadar perjalanan fisik. Dirilis satu minggu sebelum Ramadan, lagu ini diharapkan dapat menemani pendengarnya sepanjang bulan suci sebagai pengingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali pada-Nya. Hal ini sejalan dengan nilai utama Ramadan sebagai bulan pengampunan dan perenungan diri.

Pasha, selaku vokalis Ungu mengatakan, “Kami berharap Pulang Pada-Mu bisa menjadi teman perjalanan spiritual selama bulan Ramadan. Lagu ini kami hadirkan sejalan dengan identitas Ungu yang sejak awal selalu menghadirkan karya-karya religi sebagai ruang refleksi dan pengingat bagi pendengarnya.”

Melalui lagu ini, Ungu kembali menegaskan identitas mereka sebagai band yang konsisten menghadirkan karya-karya religi yang dekat dengan kehidupan pendengarnya di lintas generasi.

Single “Pulang Pada-Mu” telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital 

streaming mulai 13 Februari 2026. Lagu yang akan menjadi pengiring spiritual di bulan Ramadan. Musik video “Pulang Pada-Mu” juga akan segera dirilis. Pantau terus media sosial Trinity Optima Production dan Ungu @ungu_band


Pulang Pada-Mu 

Executive Producer Yonathan Nugroho For Trinity Optima Production

A&R : Dwi Santoso / Simhala Avadana

Composed by Enda ‘UNGU’ 

Published by Massive Music Entertainment 

Produced by UNGU 

All instruments recorded @Musica Std, JKT 

Mixed & Mastered by Bambang Hari Permana @harper_studio, JKT 

©Trinity Optima Production 2026


Lirik

Pernah ku tenggelam 

Mengejar dunia 

Melupakan surga

Kini ku pulang kembali ya Allah

Membawa sesal untuk semuanya

Hingga lidah tak sanggup lagi mengungkapnya


Kini ku pulang pada-Mu

Inilah hamba-Mu yang lemah 

Bersihkanlah jiwa yang ternoda 

Peluklah aku


Bawa aku kembali pada-Mu

Aku datang membawa luka

Berharap bisa terobati 

Berharap Engkau mengampuni

Membuka jalanku pulang pada-Mu

Kini ku pulang pada-Mu 

Inilah hamba-Mu yang lemah

Bersihkanlah jiwa yang ternoda 

Peluklah aku


Kini ku pulang pada-Mu 

Inilah hamba-Mu yang lemah

Bersihkanlah jiwa yang ternoda 

Peluklah aku


Ya Robb 

Terimalah taubat ku

Ampuni semua dosa di hidupku 

Izinkanlah sekali lagi

Biarlah nafas ini berhembus

Untuk memuja-Mu 

Bersujud kepada-Mu 

Ya Allah

Selasa, 24 Februari 2026

RUMAH PRODUKSI PAL8 PICTURES MENGUMUMKAN PARA PEMAIN FILM “LAUT BERCERITA”

 


***

Jakarta, 24 Februari 2026 – Rumah produksi Pal8 Pictures mengumumkan pemeran Film Laut Bercerita yang lebih lengkap. Setelah mengungkap para pemeran utama, yakni

° Reza Rahadian sebagai Biru Laut, 

° Yunita Siregar sebagai Asmara Jati, 

° Christine Hakim sebagai ibu, 

° Arswendi Bening Swara sebagai ayah,

° Dian Sastrowardoyo (Kasih Kinanti) dan 

° Eva Celia sebagai Ratih Anjani 

Di ajang JAFF Market tahun lalu, Pal8 Pictures mengumumkan pemain lain diumumkan di Jakarta pada 24 Februari 2026. Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, berdasarkan novel bestseller karya Leila S.Chudori, para pemain lainnya adalah

° Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan,

° Ben Nugroho (Alex Perazon), 

° Dewa Dayana (Sunu Dyantoro), 

° Yoga Pratama (Arifin Bramantyo), 

° Nagra Kautsar (Naratama),

° Natalius Chendana (Julius), dan

° Afrian Arisandy (Gala Pranaya). 

Nama-nama ini memerankan bagian penting dari kehidupan Biru Laut, yakni kelompok diskusi mahasiswa Winatra. 

Skenario film ini ditulis oleh Leila S.Chudori dan Yosep Anggi Noen dan diproduksi oleh Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S.Chudori. Pal8 Pictures juga bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films dan Brandlink.

Di dalam film Laut Bercerita, Biru Laut tak bergerak sendiri. Pada 1991, mahasiswa jurusan sastra Inggris ini bertemu salah satu pimpinan Winatra: Kasih Kinanti. 

Sejak itulah Laut bersama Daniel, Alex dan Sunu bergabung ke dalamnya. Mereka memahami bahwa membaca dan menulis adalah bentuk perlawanan. Namun, bergerak adalah langkah selanjutnya untuk melawan kelaliman. Dan ceritapun bergulir.

Reza Rahadian yang mengaku memerankan Biru Laut di dalam film panjang ini cukup sulit secara emosional, tetapi dia mengungkapkan harapannya film ini bisa menumbuhkan kepekaan bagi penontonnya. “Semoga film ini bisa membuka ruang berefleksi terhadap permasalahan sosial saat ini.” Reza mengaku yang menyenangkan adalah Reza dan ketiga pemain lain dalam Winatra berakhir menjadi kawan dekat dalam kehidupan nyata.

Ben Nugraha menilai Alex Perazon memiliki karakter kuat dan kompleks. “Saya sangat tertantang memerankan dia.” Sedangkan Kevin Julio mengungkap bahwa bekerja sama dengan sutradara Yosep Anggi Noen adalah cita-citanya. “Ketika saya diterima untuk menjadi Daniel Tumbuan, saya terharu sampai berkaca-kaca,” kata dia. Sambil bergurau Kevin mengatakan, pengalaman paling seru ketika syuting film ini adalah adegan Blangguan, karena “kapan lagi melihat Dian Sastro dan Reza kehujanan dan penuh lumpur.”


Dian Sastrowardoyo dan Eva Celia yang membaca novel “Laut Bercerita”

beberapa tahun silam mempunyai tokoh favorit masing-masing. “Waktu pertama kali membacanya, saya membayangkan kalau ada film panjangnya, saya ingin menjadi Anjani. Impian saya menjadi kenyataan,” kata Eva.

Adapun Dian mengaku dia mengidolakan tokoh Kinan. “Saya merasa bahagia ketika ditawari peran ini,” katanya.

Yunita Siregar menyampaikan dia belajar dari tokoh Asmara Jati, adik Laut. “Bagaimana menyelami rasa kehilangan dengan lembut, tanpa pernah kehilangan kekuatannya,” katanya. 

Asmara Jati adalah tiang keluarga. Ayah dan ibunya tak kunjung percaya bahwa putra mereka, Biru Laut, hilang tanpa jejak. Tahun-tahun berlalu , mereka meyakini Biru Laut masih hidup. Sementara Asmara Jati yakin kakaknya sudah tiada.

Sutradara Yosep Anggi Noen mengarahkan para pemain selama 37 hari syuting diSemarang, Salatiga, Jakarta, dan Sukabumi. Anggi mengungkapkan proses penggarapan Laut Bercerita cukup sulit dan penuh tantangan. “Selain menyajikan cerita yang sudah dipahami oleh pembaca novelnya, di film ini saya harus menghadirkan penceritaan yang bisa diikuti oleh penonton secara umum,” kata Anggi.

“Kami bersyukur film panjang perdana kami ini didukung oleh para pemain berbakat,” ujar Direktur Pal8 Pictures, Budi Setyarso. “Kami berharap film Laut Bercerita bisa memberikan inspirasi untuk banyak orang,” Budi menambahkan. “Semangat persahabatan dan persaudaraan anggota Winatra itulah yang kami ingin tularkan kepada penonton film ini.”

Gita Fara yang juga menjadi produser film pendek dengan judul sama pada 2017 mengungkapkan, pada film panjang, penonton akan dapat menikmati cerita yang lebih utuh tentang perjalanan Biru Laut. “Kami merasa cerita ini semakin relevan untuk saat ini. Kami ingin menekankan aspek keluarga, kehilangan, dan harapan,” ujar Gita Fara.

Film ini terpilih dalam program Work-in-Progress (WIP) di Hong Kong - Asia Film Financing Forum (HAF) 2026, dan akan berjejaring dengan calon mitra kolaborator di Hong Kong Filmart pada 17–19 Maret 2026. 

Film “Laut Bercerita” akan tayang dibioskop di seluruh Indonesia tahun 2026 ini.

Senin, 23 Februari 2026

Ghost in the Cell Merilis Official Trailer! Film ke-12 Joko Anwar yang Paling Menghibur, Menyatukan Horor dan Komedi Satir Tentang Situasi Indonesia

 


Tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026


Jakarta, 23 Februari 2026 — Setelah mendapat sambutan dan antusiasme tinggi dari penonton internasional di ketika world premiere di Berlin International Film Festival 2026, film terbaru persembahan Come and See Pictures, Ghost in the Cell merilis official trailer yang menjanjikan tontonan yang sangat menghibur dan berisi!

Menampilkan kengerian yang ada di penjara, saat para napi dalam ruang terbatas dihantui oleh kekacauan yang meneror.

Menampilkan deretan aktor terbaik Indonesia, film ke-12 penulis dan sutradara JokonAnwar ini menggabungkan aspek horor supranatural, satir tentang politik dan situasi sosial yang terjadi di Indonesia, dikemas dengan cara yang memanjakan penonton secara visual dan audio.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey,Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.


Penulis dan sutradara Joko Anwar mengungkapkan cerita di film Ghost in the Cella dalah miniatur kehidupan rakyat, yang saat ini seperti sedang hidup di dalam penjara.

“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar penulis dan sutradara Joko Anwar.

“Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena ngeliat kehidupan kita sendiri,” tambah Joko.

Produser Tia Hasibuan menambahkan, desain produksi film Ghost in the Cellm enerapkan pendekatan yang efektif dan efisien. Proses produksi yang hanya membutuhkan waktu 22 hari, yang hanya menggunakan setengah hari di setiap harinya, membuat seluruh jajaran kru dan pemeran pun merasa nyaman.

“Kami mengambil gambar dari pagi dan berakhir saat jam makan siang. Jadi meskipun waktu produksi kami 22 hari, itu bisa dibilang terasa seperti 11 hari waktu produksi. Di film ini, kami juga menggunakan pendekatan yang hampir seluruhnya menggunakan one shot take. Jadi sejak pra-produksi juga sudah dipersiapkan secara matang,” ujar produser Tia Hasibuan.


Di film ini, Joko juga menggunakan pendekatan yang berbeda. Dalam pengambilan gambar, Ghost in the Cell pun didesain layaknya pertunjukan teater, dengan total hanya 43 scene (film biasanya berisi sekitar 120 scene), dengan setiap adegan bisa berdurasi panjang. Sebab itu, jajaran ansambel di film ini adalah para aktor terbaik Indonesia, untuk mewujudkan hasil yang maksimal.

Abimana, yang memerankan karakter Anggoro dan menjadi pemeran utama di film ini menuturkan, Joko memberinya kebebasan artistik dalam menerjemahkan karakternya saat berakting. Baginya, film ini akan membuka mata dan pikiran banyak orang Indonesia untuk berefleksi terhadap apa yang terjadi saat ini.

“Meski latarnya adalah penjara dan para karakternya adalah para napi, bagi saya ini seperti gambaran yang jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang. Justru, dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme untuk melakukan sebuah tindakan, saat kita tidak bisa bergantung dan mengandalkan institusi resmi,” ujar Abimana.

Film Ghost in The Cell diproduksi oleh Come and See Pictures, bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures. Barunson E&A juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.

Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026! 



Film Senin Harga Naik Jadi Kado Spesial Lebaran! Mengajak Temukan Arti Keluarga yang Seutuhnya Menghangatkan Hati di Momen Bermanfaat

  Jakarta, 3 Maret 2026 - Setelah Lebaran 2025 sukses dengan drama romansa Komang yang mencetak blockbuster dengan 3.002.303 penonton, rumah...