Kamis, 09 April 2026

Film Ghost in the Cell: Sedih, Lucu, dan Mengerikan! Membawa Pengalaman Sinematik Baru Horor Komedi yang Sangat Politis! Menghibur Sekaligus Reflektif

 

Film Ghost in the Cell tayang mulai 16 April 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 9 April 2026 - Penulis dan sutradara Joko Anwar mempersembahkan film ke-12 nya, Ghost in the Cell, bersama rumah produksi Come and See Pictures dengan sajian pengalaman sinematik baru. Menggabungkan horor komedi yang sangat menghibur, namun juga membawa pesan yang sangat reflektif tentang situasi Indonesia yang akan tayang mulai 16 April 2026.

Film Ghost in the Cell telah mendapat sambutan positif saat tayang perdana di Berlinale 2026. Film ini juga telah mendapat respons yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan film di 86 negara di berbagai benua. Ghost in the Cell sebelumnya juga telah tayang lebih dulu di 16 kota di Indonesia dan seluruh tiketnya terjual habis (sold out)!

Joko Anwar, sang maestro horor dengan jenius menggabungkan berbagai genre. Mulai dari komedi, genre yang pertama kali ia garap di film debutnya, hingga aksi dan horor. Tema yang dibahas juga sangat beragam merefleksikan situasi Indonesia saat ini. Dari isu lingkungan, agama, dan politik.

"Karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri," kata Joko.

Melalui Ghost in the Cell, Joko juga ingin mengajukan sebuah pernyataan yang tegas tentang masih adanya harapan di tengah sistem yang kacau dan busuk di negara ini.

"Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya, sekian persen masyarakat Indonesia masih ada yang jujur, dan masih ada yang mau menyuarakan. Saya percaya semangat itu tidak akan pernah mati, karena itu yang membuat kita masih mau bernapas dan bersuara," tambah Joko Anwar.

Menurutnya, semangat harapan itu yang bisa membawa perubahan, bersama kolektivitas warga, seperti yang terjadi di filmnya saat para napi dan sipir akhirnya bekerja sama untuk melenyapkan 'hantu' yang sesungguhnya.

Salah satu isu yang dibahas di film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta bagaimana seorang koruptor menjalani 'hukuman' namun masih mendapat privilese untuk bisa berbuat semau mereka. Produser Tia Hasibuan menyebutkan, meski secara isu dan cerita Ghost in the Cell sangat Indonesia, tetapi di sisi lain juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia.

"Saat world premiere di Berlinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama yang ada di film ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi seluruh aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang ada di film," ujar produser Tia Hasibuan.

Ghost in the Cell dibintangi oleh jajaran aktor terbaik Indonesia, serta menggandeng talenta terbaik Asia Tenggara. Film ini menyajikan penampilan terbaik dari para ansambel aktor lintas generasi dan lintas negara. Dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Secara keseluruhan, Ghost in the Cell dibintangi oleh 108 pemeran. Dengan jajaran ansambel bertabur bintang, Joko juga menuntut para pemerannya untuk mengeksplorasi kemampuan akting mereka seluas mungkin.

Abimana, yang memerankan Anggoro, menyebutkan dalam salah satu adegan aksi, ada tempo yang dimainkan. Abimana menceritakan, adegan aksi di film ini yang melibatkan ratusan orang diciptakan secara long take, dan memerlukan kesiapan dan kematangan para aktor yang terlibat.

"Secara keaktoran, sudah disiapkan arc character masing-masing. Anggoro, yang saya perankan, terikat dengan ibu dan keluarga. Di dalam penjara pun dia ciptakan keluarga yang dia pilih," kata Abimana.

"Dalam akting itu bukan saja soal karakter, tetapi juga ada beat tempo. Misalnya dalam satu adegan fighting, tidak hanya satu beat tempo serius. Tapi juga jadi dance lalu ke drama, itu beat-nya berbeda. Kalau para aktornya tidak mengerti beat yang digunakan, itu akan susah dan membuat berantakan syutingnya. Dan Joko sudah mempersiapkan beat-beat itu di tiap adegan," tambah Abimana.

Tonton film Ghost in the Cell di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026, dan jadilah bagian dari 10% masyarakat Indonesia yang terus bersuara dan jujur! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

Promosi film Ghost in the Cell didukung oleh Tunaiku by Amar Bank.


SINOPSIS

Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Rabu, 08 April 2026

​Film Shaka Oh Shaka Merilis Official Trailer & Poster: Saat Rasa Kagum dengan Idola Tumbuh Menjadi Cinta di Kehidupan Nyata

 


​Jakarta, 8 April 2026 – Film terbaru dari Starvision akan tayang di Bioskop 7 Mei 2026, Shaka Oh Shaka, karya sutradara Dinna Jasanti dan penulis skenario Rino Sarjono, yang sebelumnya menghadirkan drama kehangatan keluarga melalui Film SENIN HARGA NAIK di Lebaran 2026. Kolaborasi terbaru dengan Produser Chand Parwez Servia, menghadirkan kisah cinta seorang fans dengan idolanya, yang harus menghadapi realita pasang surut popularitas dan perjuangan menggapai mimpi.

​Film Shaka Oh Shaka menceritakan tentang Ocel (Arla Ailani) mahasiswi sederhana yang mengidolakan Shaka (Kiesha Alvaro) seorang penyanyi terkenal. Pertemuan di konser Shaka mengubah semuanya. Kedekatan yang bermula dari kekaguman, berkembang jadi cinta yang saling menguatkan. Hubungan mereka diuji kenyataan hidup yang silih berganti. Akankah mereka bisa tetap bertahan?

​Melalui Official Trailer Film Shaka Oh Shaka, ditampilkan perjuangan Shaka dalam meniti karir bermusiknya, sekaligus memperlihatkan kegelisahan Ocel yang harus menerima status hubungan mereka yang disembunyikan demi membantu karir kekasihnya. Ocel mencari cara untuk menggapai mimpinya yang sudah lama tertunda, walaupun tanpa disadari skenario situasi hubungan mereka mendekati titik toxic. Tetapi kasih sayang dan dukungan satu sama lain menjadi kekuatan untuk terus menggapai mimpi melalui pembuktian keberhasilan dalam karir. ​Disampaikan penuh kehangatan, kekeluargaan, dengan balutan komedi yang menghibur, diiringi lagu "Melompat Lebih Tinggi" dari Sheila on 7 yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro, "Lihat Kebunku (Taman Bunga)" dari Aku Jeje, "Satu Tuju" dari Raissa Anggiani, "Just Like A Star" dari Michael Aldi & Cornellia Nadya yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro & Arla Ailani, juga satu lagu yang diciptakan khusus dan dinyanyikan oleh Kiesha Alvaro, berjudul "Oxtella".

​Selain Kiesha Alvaro dan Arla Ailani, Film Shaka Oh Shaka menghadirkan deretan pemain yang piawai memerankan karakter-karakter mereka di Film, di antaranya: Artika Sari Devi, Vira Yuniar, Joshua Suherman, Maisha Kanna, Dennis Adishwara, Teuku Ryzki, Amel Carla, Adzana Ashel, Mazaya Amanias, Altaaf Akavi, Sadana Agung, Arie Nugroho, Leya Princy, Nicholas Calame, Adzando Davema, Clairine Clay, Kiki Narendra, Lam Ting, Baim, Ben Kasyafani, Shakeel Fauzi, Shaqueena Medina, Alfian Phang, Desthalia Florenza, Farel Alvarez dan lain-lain.

​Chand Parwez Servia selaku produser menyampaikan, “Film Shaka Oh Shaka mengangkat tema yang sangat dekat dengan banyak penonton. Bagaimana kita pernah memiliki khayalan untuk dapat berinteraksi secara langsung dengan idola kita, dan mengetahui apa yang terjadi di belakang panggung. Karakter Shaka dan Ocel juga menjadi representasi untuk kita memperjuangkan mimpi, meskipun hambatan hadir silih berganti. ​Sutradara Dinna Jasanti membungkus permasalahan ini dengan sudut pandang apik, berangkat dari skenario Rino Sarjono yang diadaptasi dari novel best seller karya Jocelyn Suherman."

​“Shaka Oh Shaka adalah cerita tentang impian, kenyataan dan cinta. Hubungan romantis yang tumbuh dari rasa kagum dengan seorang idola menjadi rasa cinta sebagai pasangan. Seiring waktu, rasa sayang bertumbuh di antara realitas kehidupan yang semakin menantang. Padahal yang akan mempertahankan cinta adalah keyakinan dan keberanian untuk tetap berkembang dan saling mendukung.”, Dinna Jasanti selalu sutradara menambahkan. 

Jocelyn Suherman selaku penulis novel menyampaikan “Film Shaka Oh Shaka ini proses pengembangan cerita yang sangat panjang, cerita yang awalnya saya tulis sebagai ekspresi rasa cinta saya untuk idola saya, ditulis ke dalam novel, dan sekarang menjadi film. Semoga Film ini dapat mewakili penonton yang memiliki idola, dengan dinamika keseruannya.”

​“Film Shaka Oh Shaka ini sangat berarti bagi kami, karakter Shaka memberikan pelajaran untuk saya, tentang eksistensi juga pembuktian dalam berkarya dan memperjuangkan cinta. Tentang pengorbanan dan pengkhianatan, sekaligus pengingat pasang surut karir yang dipadukan sebagai rangkaian kisah tentang terus bertumbuh.” Ungkap Kiesha Alvaro.

​Arla Ailani menambahkan “Shaka dan Ocel menghadirkan pembuktian cinta dan mimpi yang seyogianya bisa berjalan beriringan, dengan menjadi yang terbaik untuk pasangan. Sebuah perjalanan berliku dalam menemukan belahan jiwa.”

​Nantikan Film Shaka Oh Shaka tayang di Bioskop mulai 7 Mei 2026.


Sinopsis

​Pertemuan di konser mengubah semuanya. OCEL (Arla Ailani), mahasiswi yang sederhana tidak menduga bisa menjadi kekasih SHAKA (Kiesha Alvaro), sang idola. Kedekatan yang bermula dari kekaguman, berkembang jadi cinta yang saling menguatkan. Namun, hubungannya diuji kenyataan hidup dan derasnya arus waktu. Hingga 15 tahun mereka tumbuh, jatuh, dan berusaha bangkit. Akankah mereka tetap bertahan, atau menemukan jalan dalam perpisahan?


Pemain dan Tim Produksi

Kiesha Alvaro - Shaka

Arla Ailani - Ocel (Oxtella)

Artika Sari Devi - Rosa

Vira Yuniar - Ibu Ocel

Joshua Suherman - Chandra

Maisha Kanna - Inez

Dennis Adishwara - Taka

Teuku Ryzki - Ican

Amel Carla - Carla

Adzana Ashel - Violetta

Mazaya Amania - Yasmin Kecil

Altaaf Akavi - Edgar Kecil

Sadana Agung - Bang Adik

Arie Nugroho - Edgar Dewasa

Leya Princy - Yasmin Dewasa

Nicholas Calame - Azka

Adzando Davema - Adzando

Clairine Clay - Istri Chandra

Kiki Narendra - Bapak Ocel

Lam Ting - Koh Steven

Baim - Gunawan

Ben Kasyafani - Host Podcast

Shakeel Fauzi - Shaka Kecil

Shaqueena Medina - Ocel Kecil

Alfian Phang - Tanoto

Desthalia Florenza - Florenza

Farel Alvarez - Pacar Inez


Produksi: Starvision

​Produser: Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar

​Sutradara: Dinna Jasanti

​Produser Eksekutif: Reza Servia, Amrit Dido Servia, Raza Servia

​Produser Lini: Sara Kessing

​Penulis Skenario: Rino Sarjono, Alim Sudio

​Adaptasi Novel Best Seller Karya: Jocelyn Suherman

​Pengarah Artistik: Okie Yoga Pratama

​Penata Kamera: Amalia TS, ICS

​Penyunting Gambar: Ahmad Yuniardi

​Penata Suara: Aditya Trisnawan

​Perekam Suara: Yusuf Patawari

​Penata Musik: Hariopati Rinanto

​Penata Warna & VFX: Super 8MM Studio

​Penata Grafis: Mataque Studio

​Penata Rias: Nathasa Agnes

​Penata Busana: Angela Suri Nasution

​Penata Peran: Arief Havidz, Erik Arfin

​Perancang Poster: Alvin Hariz

​OST:

Melompat Lebih Tinggi – Kiesha Alvaro

​Lihat Kebunku (Taman Bunga) – Aku Jeje

​Satu Tuju – Raissa Anggiani

​Just Like A Star – Kiesha Alvaro & Arla Ailani

​Oxtella — Kiesha Alvaro

Selasa, 07 April 2026

BASE Entertainment Rilis Trailer, Poster, dan OST Garuda Di Dadaku, Film Animasi Keluarga tentang Mengejar Mimpi Bersama

 

Film animasi keluarga untuk liburan sekolah tayang mulai 11 Juni 2026 di bioskop

Jakarta, 7 April 2026 — Tidak ada mimpi yang berdiri sendiri. Semangat inilah yang menjadi jiwa film animasi keluarga Garuda Di Dadaku saat BASE Entertainment bersama KAWI Animation resmi meluncurkan official trailer, official poster, serta soundtrack utama berjudul "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Saraswati.

Momentum ini menjadi langkah besar menuju penayangan film pada 11 Juni 2026, menghadirkan kisah tentang keberanian, kerja sama, dan mimpi anak Indonesia yang tumbuh lewat dukungan orang-orang di sekitarnya. Sebagai film keluarga untuk masa liburan sekolah, Garuda Di Dadaku membawa semangat sepak bola, persahabatan, dan keberanian bangkit untuk mengejar mimpi bersama.

Official trailer terbaru memperlihatkan lebih utuh dunia cerita yang berpusat pada Putra (Keanu Azka), seorang anak laki-laki dengan mimpi besar menjadi pesepak bola terbaik Indonesia, dan Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis yang hadir di saat Putra mulai kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.

Namun film ini tidak hanya berbicara tentang perjalanan satu anak mengejar cita-cita. Trailer memperlihatkan bahwa keberanian Putra tumbuh karena ada sosok-sosok yang percaya padanya-Gaga, Naya (Quinn Salman), teman-temannya, dan tim yang berjalan bersamanya. Kehadiran mereka menegaskan bahwa setiap mimpi membutuhkan orang-orang yang mampu melihat potensi kita, bahkan ketika kita sendiri masih ragu.

"Di film ini kami ingin menunjukkan bahwa mimpi besar selalu lahir dari keberanian untuk melangkah bersama. Putra boleh menjadi pusat cerita, tapi keberaniannya tumbuh karena ada Gaga, Naya, keluarga, dan tim yang percaya pada potensinya. Buat saya, itu juga sangat mencerminkan proses kami membuat Garuda Di Dadaku versi animasi selama lebih dari tiga tahun-sama seperti mimpi Putra, film ini tidak mungkin terwujud sendirian, melainkan lahir dari kerja kolektif para animator dan seluruh kru yang berjalan bersama sampai mimpi ini benar-benar hidup di layar," ujar Ronny Gani, sutradara film Garuda Di Dadaku.

Sebagai interpretasi baru dari IP ikonis Indonesia, Garuda Di Dadaku tetap mempertahankan identitas kuatnya sebagai film tentang sepak bola, sambil menghadirkan pendekatan yang lebih emosional melalui relasi antar karakter, nilai sportivitas, kerja sama tim, dan semangat juara yang dekat dengan keluarga Indonesia.

"Garuda Di Dadaku adalah kisah tentang bagaimana mimpi anak-anak bisa tumbuh lebih kuat ketika ada keluarga, sahabat, dan tim yang berjalan bersama mereka. Ini bukan hanya mimpi Putra, tapi mimpi banyak anak Indonesia yang ingin berani melangkah dan mengejar mimpinya," ungkap Shanty Harmayn, produser.

Keterlibatan Atta Halilintar sebagai Executive Producer turut memperkuat semangat sepak bola yang menjadi denyut utama film ini. Kedekatannya dengan dunia sepak bola dan keluarga muda Indonesia menghadirkan resonansi yang kuat, sekaligus menjadikan film ini sebagai pengalaman yang relevan untuk dinikmati bersama anak-anak dan keluarga.

Semangat tersebut juga diperkuat melalui peluncuran soundtrack utama "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati. Lagu ini menjadi lapisan emosional yang menghidupkan energi film, sekaligus menjadi representasi harapan, keberanian, dan dorongan untuk terus melangkah meski penuh keraguan. "Yang aku suka dari film ini adalah semangat bahwa kita tidak berjalan sendirian. Lagu ini aku bayangkan seperti dorongan energi untuk anak-anak yang sedang belajar percaya pada mimpi mereka," ujar Isyana Sarasvati.

Official poster yang dirilis hari ini menangkap energi utama film melalui Putra, Gaga, Naya, dan teman-temannya dalam satu frame penuh warna yang memancarkan nuansa petualangan, kehangatan, dan semangat besar dari perjalanan kecil yang mereka mulai bersama.

Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, dengan naskah yang ditulis oleh Sofia Lo bersama Makbul Mubarak, film ini menjadi interpretasi animasi baru dari IP film legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah lama hidup di hati publik Indonesia.

Film animasi keluarga Garuda Di Dadaku mengisahkan Putra (13), anak laki-laki dengan mimpi besar menjadi pemain tim nasional Indonesia. Saat kegagalan membuatnya kehilangan keyakinan, kehadiran Gaga mengubah hidupnya dan membawanya pada perjalanan untuk menemukan kembali keberanian. Dalam proses itu, Putra belajar bahwa mimpi besar tidak pernah dicapai sendirian.

Garuda di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission. Selain itu, Garuda di Dadaku juga bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.

Saksikan film animasi keluarga Garuda Di Dadaku mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

#GarudaDiDadaku

#BeraniBermimpi

Senin, 06 April 2026

Poster The Bell Rilis, Penebok Hantu yang Bangkit dan Siap Meneror Tahun Ini


Jakarta, 7 April 2026 — Industri horor Indonesia kembali memanas dengan hadirnya The Bell: Panggilan untuk Mati, film terbaru hasil koloborasi produksi Sinemata Buana Kreasindo yang resmi merilis poster utamanya. Film ini memperkenalkan Penebok, sosok hantu tanpa kepala dari mitos Belitung yang digambarkan sebagai entitas yang bangkit dan siap menjadi teror baru tahun ini.

Di tengah tren film horor lokal yang terus mendominasi pasar, The Bell hadir dengan pendekatan berbeda: mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi ke layar lebar. Penebok bukan sekadar figur menyeramkan, tetapi representasi dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.

Official Poster 

Poster yang dirilis memperlihatkan atmosfer gelap dan mencekam, dengan visual Penebok sebagai pusat ancaman. Sosok tanpa kepala berbalut gaun merah ini menghadirkan rasa tidak utuh yang justru memperkuat elemen teror sekaligus membangun identitas horor baru yang kuat.

Sutradara The Bell, Jay Sukmo, menyampaikan bahwa film ini ingin memperluas cara pandang penonton terhadap horor Indonesia. “Horor Indonesia sedang berada di fase yang sangat menarik. Penonton tidak hanya mencari rasa takut, tetapi juga cerita yang punya akar budaya. Penebok kami hadirkan sebagai representasi dari kekayaan cerita lokal yang belum banyak diangkat.”

Sementara itu, produser Rendy Gunawan yang berkolaborasi dengan Aris Muda sebagi produser, menekankan pentingnya membangun karakter yang ikonik dalam lanskap horor saat ini.“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya menakutkan, tapi juga punya identitas kuat. Penebok adalah upaya kami menciptakan ikon horor baru yang lahir dari budaya sendiri dan bisa diingat penonton dalam waktu lama.”

Mengambil latar dengan nuansa urban dan mistis khas Belitung, The Bell: Panggilan untuk Mati  menghadirkan pengalaman horor yang baru dan segar, sekaligus memperkuat posisi cerita lokal di tengah persaingan industri film nasional

SINOPSIS

Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.

Pemain/ Casts             : 

° Ratu Sofya,

° Bhisma Mulia, 

° Shaloom Razade,

° Givina Dewi,

° Mathias Muchus,

° Septian Dwi Cahyo,

° Nabil Lunggana,

° Maulidan Zuhri

° Eksekutif Produser      : Budi Yulianto, Avesina SoebliP

° Produser                     : Aris Muda, Rendy Gunawan

° Sutradara                   : Jay Sukmo

° Penulis                        : Priesnanda

° Co-Produser               : Agus Suhardi

° Lini Produser            : Ipunk Purwono

° DoP                             : Indra Suryadi

° Produksi                    : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026



Film Semua Akan Baik-Baik Saja Karya Baim Wong Merilis Official Trailer yang Mengharukan, Saat Keluarga yang Terpisah Menanggung Beban Bersama

 

Film Semua Akan Baik-Baik Saja tayang mulai 13 Mei 2026 di bioskop Indonesia


Jakarta, 6 April 2026 — Tiger Wong Entertainment merilis official trailer film terbaru karya sutradara Baim Wong, Semua Akan Baik-Baik Saja, yang dibintangi Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, Teuku Rifnu Wikana, dan Happy Salma. Official trailer Semua Akan Baik-Baik Saja menampilkan sebuah kisah yang penuh haru dan menyentuh dari sebuah keluarga yang saling terpisah, kini harus bersatu untuk saling menanggung beban bersama.

Official trailer Semua Akan Baik-Baik Saja dibuka dengan sebuah kunjungan Happy Salma yang memerankan Tari, ke rumah susun adiknya, Langit, yang diperankan Reza Rahadian. Langit sudah lama tak pulang ke rumah Ibunya. Tari pun meminta agar Langit sesekali pulang, sekaligus menengok para keponakannya, anak Tari, yang tinggal di rumah sang Ibu.

Namun, ketika Langit akhirnya pulang ke rumah, ia justru dikejutkan dengan pemandian jenazah Tari. Tari terkena serangan jantung. Kematian mendadak Tari pun membuat syok Langit, dan seketika mengubah jalan hidupnya. Ia yang sebelumnya menjauh dari rumah, kini justru mendapat amanah untuk merawat para keponakannya, termasuk salah satunya yang mengalami down syndrome.

Kini, Langit bersama kedua adiknya, Bintang (Raihaanun) dan Banyu (Ari Irham), serta Ibu mereka (Christine Hakim), saling bahu membahu memikul beban bersama. Termasuk untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anak Tari. Di tengah ujian yang tengah menerpa mereka, keluarga tersebut masih harus menghadapi konflik dari mantan suami Tari, Ilham (Teuku Rifnu Wikana), yang meminta paksa sertifikat rumah. Apa yang akan selanjutnya terjadi, dan apa yang akan dilakukan keluarga Langit?

Menjadi film ketiga yang disutradarai Baim Wong, kini ia menggarap sebuah drama yang sangat dekat. Tentang sebuah ikatan keluarga sebagai tempat pulang, dan kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu. Baim sendiri memilih pendekatan yang realistik, termasuk dengan latar yang dibangun di sebuah perkampungan di pinggiran rel kereta.

Dengan jajaran ansambel pemeran terbaik Indonesia, Baim menunjukkan kepiawaiannya untuk menghadirkan cerita yang hangat dan menyentuh. Di film ini, ia juga menulis naskahnya bersama penulis film-film blockbuster Oka Aurora.

"Saya memilih para pemeran di film ini berdasarkan karakter yang saya bayangkan. Saya tahu kelebihan mereka semua. Ansambel yang ada di sini, tentu semuanya sangat berkualitas. Kami membuat cerita ini sangat dekat dengan masyarakat Indonesia," ujar penulis dan sutradara Baim Wong.

Sementara itu, Reza Rahadian mengatakan, Baim Wong mampu menangkap ruh dan pesan yang ingin disampaikan di film Semua Akan Baik-Baik Saja dengan sangat jelas.

"Ini adalah film keluarga, yang sejak awal saya membaca naskahnya sangat jelas. Di setiap keluarga, meski ada luka atau anggota keluarga yang melakukan hal yang berseberangan, film ini membawa spirit, bagaimanapun keluarga adalah tempat kita pulang. Menurut saya, Baim menangkap hal itu di film ini. Orang yang dinilai tidak memiliki fungsi di keluarga tapi memiliki sesuatu yang jadi bernilai," kata Reza Rahadian.

Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, film Semua Akan Baik-Baik Saja juga turut dibintangi oleh Aquene Djorghi, Malikha Shaquenna, Asri Welas, Rebecca Tamara, dan Ade Rai, Eric Estrada, Amanda Soekasah, Janna Soekasah, Aimee Saras, Ageng Carlitos, Alim, Nagra Pakusadewo, Chew Kin Wah, Kenzo Eldrago, dan Kiano Tiger Wong.

Film ini juga terasa spesial karena menjadi pertama kalinya binaragawan Ade Rai bermain film. Untuk peran Ade Rai sendiri bahkan Baim mempersiapkan treatment khusus. Ade Rai akan tampil berbeda dengan make up prostetik untuk kebutuhan karakternya.

Sebagai komitmen Baim bersama Tiger Wong Entertainment untuk selalu menghadirkan karya yang tak hanya berkualitas, namun juga memberikan kebaruan dan peluang bagi para talenta baru di perfilman Indonesia, kali ini Baim juga mengambil langkah berani. Salah satunya dengan menggandeng dua pemeran down syndrome, Alim dan Vanessa, yang untuk pertama kalinya bermain di film layar lebar.

Sebelumnya Tiger Wong Entertainment secara back to back meraih blockbuster lewat film horor Lembayung (2024) dan Sukma (2025). Film debut Tiger Wong Entertainment, Berbalas Kejam (2023), juga sukses diakui secara kritis dengan meraih berbagai nominasi dan penghargaan termasuk Pemenang Piala Citra FFI untuk Pemeran Utama Pria Terbaik 2023 yang dimenangkan Reza Rahadian. Film Semua Akan Baik-Baik Saja menjadi perjalanan kekaryaan berikutnya dari sutradara Baim Wong yang kini telah diakui secara luas craftmanship-nya.

Tonton film Semua Akan Baik-Baik Saja di bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026! Ikuti terus perkembangan informasi film Sukma melalui akun resmi Instagram @tigerwongentertainment dan @filmsemuakanbaikbaiksaja.




Jumat, 03 April 2026

Jakarta Youth Film Festival 2026 Spesial Hari Film Nasional: "Yang Muda Yang Bersuara"

 


Jakarta, 2 April 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, Jakarta Youth Film Festival 2026 (J-Youth Film Fest) menghadirkan program spesial bertajuk "Yang Muda Yang Bersuara", sebuah rangkaian pemutaran film pendek dan diskusi bersama insan perfilman Indonesia. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 2 April 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat.

J-Youth Film Fest merupakan inisiatif kolaboratif antara Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor perfilman. Mengusung tema "Jakarta Kota Kita", festival ini bertujuan mendorong kreativitas generasi muda sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai Kota Sinema.

Sebagai edisi perdana, J-Youth Film Fest diharapkan menjadi ruang kolaboratif bagi pelajar dan mahasiswa untuk berekspresi, belajar, serta membangun jejaring dengan sesama kreator dan pelaku industri film. Festival ini juga menjadi sarana edukasi publik terkait peran Bank Indonesia dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan sektor kreatif.

Melalui program Perayaan Hari Film Nasional, J-Youth Film Fest mengajak publik untuk menelusuri perkembangan perfilman Indonesia sekaligus melihat peran penting generasi muda dalam membentuk masa depan industri. Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan

Dalam sambutannya, Iwan Setiawan menyampaikan bahwa "Ekonomi kreatif merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru yang menunjukkan kinerja positif, dengan pertumbuhan mencapai 9,42% (yoy) pada Semester 1 2025. Dengan komposisi penduduk Jakarta yang didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z (50,5%), generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi. Lebih lanjut, industri film memiliki multiplier effect yang luas karena mampu menggerakkan berbagai sektor pendukung, seperti pariwisata, kuliner, fashion, dan transportasi. Selain itu, film juga berperan sebagai media efektif memperkuat citra kota di tingkat global, sejalan dengan visi Jakarta sebagai Kota Sinema."

Sementara itu, Rano Karno menyampaikan apresiasinya kepada Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta atas inisiatif penyelenggaraan Perayaan Hari Film Nasional ini. "Saya apresiasi pemilihan tempat acara hari ini yang dilaksanakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Acara hari ini dan J-Youth Film Fest diharapkan dapat menjadi salah satu program unggulan dalam penguatan industri film di Jakarta yang mampu menciptakan ruang kolaborasi, meningkatkan kualitas talenta, serta mendorong lahirnya karya-karya yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global."

Sesi diskusi "Yang Muda Yang Bersuara menghadirkan dua tokoh perfilman Indonesia, yaitu Riri Riza dan Prilly Latuconsina. Riri Riza, sutradara dan penulis yang telah berkarya sejak tahun 1990-an, berbagi pengalaman serta perspektifnya mengenai perkembangan industri film Indonesia dan pentingnya peran filmmaker muda. Sementara itu, Prilly Latuconsina, aktris sekaligus Ketua Pelaksana Festival Film Indonesia, memberikan pandangannya mengenai dinamika industri saat ini serta perjalanan karirnya sebagai inspirasi bagi generasi muda.

Selain sesi talkshow, acara ini juga menampilkan pemutaran lima film pendek Indonesia lintas generasi, yaitu Sonata Kampung Bata (1993) disutradarai oleh Riri Riza, Harap Tenang Ada Ujian (2006) disutradarai oleh Ifa Isfansyah, Dancing Colors (2022) disutradarai oleh Reza Fahriansyah, Layla Want It (2023) disutradarai oleh Mauliya Maila dan Machine Vacation (2025) disutradarai oleh Hadafi Raihan Karim. Pemilihan film ini merepresentasikan perkembangan estetika, narasi, dan semangat generasi muda dalam perfilman Indonesia dari masa ke masa.

Melalui program ini, J-Youth Film Fest menegaskan komitmennya dalam membuka ruang dialog antara generasi muda dan pelaku industri, sekaligus mendorong lahirnya talenta serta gagasan baru yang relevan dengan dinamika perkotaan Jakarta.

Dengan semangat "Yang Muda Yang Bersuara", festival ini menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk menyampaikan perspektif, emosi, dan ide melalui medium film, serta berkontribusi aktif dalam membentuk masa depan perfilman Indonesia.

Pada akhir acara ini diumumkan bahwa untuk pendaftaran program Lensa Kompetisi Pelajar dan Lensa Kompetisi Mahasiswa, serta program submisi ide cerita film pendek, Jakarta Film Fund for Student, waktu tenggat submisi diperpanjang hingga 30 April 2026.

Sebelumnya masih dalam rangkaian program pra-festival atau Roadshow, J-Youth Film Fest mengunjungi sekolah dan universitas di daerah DKI Jakarta untuk memperkenalkan kompilasi film pendek kepada para pelajar dan mempertemukan mereka bersama filmmaker Indonesia untuk langsung belajar dari para profesional.


Pertama, J-Youth Film Fest mengunjungi SMKN 51 Jakarta Timur dengan membawa Novia Puspa Sari (juri J-Youth Film Fest) serta Syifanie Alexander (perwakilan Jakarta Film Week). Kedua, kunjungan ke SMK Media Informatika Jakarta bersama Jason Iskandar (sutradara) dan Raslene (perwakilan Jakarta Film Week).

Selain itu, pada tanggal 7 dan 8 April, J-Youth Film Fest akan mengunjungi Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan dan kampus lainnya di Jakarta dan sekitarnya bersama Aco Tenriyagelli dan Aditya Ahmad, para juri kompetisi J-Youth Film Fest.

Informasi terbaru mengenai J-Youth bisa diakses di media sosial @jyouthfilmfest.



Film Na Willa Telah Menghangatkan Hati 1 Juta Penonton, Sutradara Ryan Adriandhy Jamin Ada Sekuelnya! Sukses Tembus 1 Juta Penonton, Dunia Na Willa akan berlanjut!

 


Jakarta, 3 April 2026 — Film persembahan Visinema Studios dari sutradara Ryan Adriandhy, Na Willa kini telah sukses meraih 1 juta penonton lebih di bioskop Indonesia. Membuktikan banyak hati keluarga dan anak Indonesia yang telah merasakan kehangatan cerita dari Dunia Na Willa yang membuat bahagia.

Raihan 1 juta penonton sekaligus menjadi catatan positif bagi Visinema Studios bersama trio kreator, sutradara Ryan Adriandhy dan duo produser Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai pencetak film blockbuster. Ini menjadi film kedua dimana ketiganya sukses mencetak blockbuster secara berturut setelah JUMBO.

"Bersyukur tanpa libur. Terima kasih kepada para penonton yang sudah membuka hati dan memberi ruang bagi Na Willa untuk hadir dalam perjalanan mereka. Bagi kami, Na Willa bukan hanya sebuah film, tapi sebuah ruang sederhana yang mengajak kita pulang kembali merasakan dunia dari sudut pandang seorang anak, dengan kejujuran, kehangatan, dan rasa ingin tahu yang mungkin pernah kita tinggalkan, karena Na Willa adalah kita.

Capaian 1 juta penonton ini bukan sekadar angka, tapi sinyal bahwa keluarga Indonesia merindukan cerita yang dekat, yang relevan, dan yang bisa dirasakan bersama. Ini menjadi pengingat sekaligus komitmen bagi kami di Visinema Studios untuk terus menghadirkan cerita keluarga dan anak yang bermakna untuk kita, untuk anak-anak kita, dan untuk anak-anak di dalam diri kita." ujar Chief of Content Officer Visinema Studios dan produser Na Willa Anggia Kharisma.

Raihan 1 juta penonton juga menjadi bukti bahwa kini penonton Indonesia telah mengenal Dunia Na Willa. Sutradara Ryan Adriandhy pun memastikan terkait kelanjutan sekuel Na Willa, yang akan segera hadir.

"Film Na Willa yang sekarang masih tayang di bioskop adalah awal. Dan masih akan ada kelanjutan ceritanya di film keduanya. Sekarang sudah masuk draft skenario untuk film kedua," ujar Ryan Adriandhy.

"Terima kasih kepada 1 juta penonton yang telah percaya dengan cerita Na Willa. Saya sangat senang melihat banyak orang dewasa bersukacita atas film yang dianggap 'sangat anak-anak. Terima kasih juga untuk penonton yang sudah berbahagia selama dua kali Lebaran, sejak JUMBO hingga Na Willa," ujar Ryan Adriandhy.

Beberapa penonton dewasa yang juga bersukacita menonton Na Willa adalah aktor dan komika Ardit Erwandha, yang menonton bersama istri dan anaknya. "Senyumku mengembang besar sekali melihat Na Willa sampai rumah langsung baring di lantai menikmati ademnya keramik. Terima kasih Ryan Adriandhy beserta cast dan crew yang sudah bekerja keras untuk Na Willa," kata Ardit Erwandha.

Produser, penulis, dan sutradara Ernest Prakasa juga menyampaikan kesannya setelah menonton film Na Willa. "Buat gue Na Willa ini film yang luar biasa, yang bagus banget. Nggak bakal nyesel deh lo nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

1 juta orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop. Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #BahagiaBareng Na Willa.

***

Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama,Keluarga

Sutradara: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Film Ghost in the Cell: Sedih, Lucu, dan Mengerikan! Membawa Pengalaman Sinematik Baru Horor Komedi yang Sangat Politis! Menghibur Sekaligus Reflektif

  Film Ghost in the Cell tayang mulai 16 April 2026 di bioskop Indonesia Jakarta, 9 April 2026 - Penulis dan sutradara Joko Anwar mempersemb...