Sabtu, 11 April 2026

Film "Dalam Sujudku" adalah drama religi Indonesia garapan sutradara Rico Michael. Film ini menjanjikan cerita yang mengaduk emosi dan refleksi tentang makna doa dalam menjaga keutuhan keluarga.

 


Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan film religi-drama yang penuh makna melalui film Dalam Sujudku. Film ini diproduksi oleh P69 (Proj3ct69) dan disutradarai Rico Michael.

Film ini mengangkat kisah nyata kehidupan dari seorang teman Rico yang sarat dengan nilai spiritual, perjuangan, serta rapuhnya komunikasi dalam pernikahan yang terpisah ruang dan waktu. Rico menegaskan, film ini tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang refleksi bagi penonton.

“Film ini kami persembahkan untuk mereka yang mungkin sedang berada di titik terendah dalam hidup,''Kami ingin mengingatkan bahwa harapan selalu ada dan Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya,” ujar Rico.

Ia menambahkan, inti dari film ini terletak pada nilai memaafkan dan ketulusan dalam berdoa. “Ketika seseorang benar-benar pasrah, di situlah ia belajar makna berserah diri,'' Jelas Rico

Marcell membagikan pandangannya tentang makna menjadi manusia baik. Ia menegaskan bahwa penilaian tersebut tidak bisa datang dari diri sendiri.

"Kalau dibilang saya orang baik, saya enggak bisa menilai. Yang bisa menilai saya baik itu orang lain. Menurut saya, laki-laki baik atau manusia baik adalah yang bisa berguna dan bermanfaat bagi banyak orang," ujar Marcell.

Vinessa Inez yang memerankan Aisyah juga merasakan kedalaman emosional dari karakternya. “Aisyah mengajarkan saya untuk tetap berpikir positif dan percaya bahwa semua akan indah pada waktunya,” tutur Vinessa Inez

“Di Film ini Dennies memerankan Tokoh Ustadz harus menyampaikan pesan sebagai ustadz dengan maksimal, bukan hanya di layar, tetapi juga agar bisa sampai ke hati penonton,” ungkap Denis.

Official Poster

Sementara itu, Naura Hakim yang berperan sebagai sumber konflik mencoba menghadirkan karakter yang lebih manusiawi. “Saya ingin karakter ini tidak sekadar dilihat sebagai antagonis, tetapi juga memiliki latar belakang dan emosi yang kuat,” ujar Naura Hakim

Ryuka Bunga yang memerankan sahabat Aisyah merasa karakternya cukup dekat dengan dirinya, meski tetap dituntut tampil lebih ekspresif. 

Sedangkan Chika Waode menghadirkan warna tersendiri lewat karakter sahabat yang ceplas-ceplos dan dekat dengan realitas sosial. Ia juga mengungkapkan suasana syuting di Garut berlangsung hangat dan penuh kebersamaan.

Tak hanya kuat dari sisi cerita, Dalam Sujudku juga diperkuat oleh original soundtrack berjudul Titipan Ilahi yang dinyanyikan Evelyn Wijaya, juara Voice Hunt 2025. 

Lagu ciptaan Yusoff Al Aswad dan Amin Majid ini mengandung pesan mendalam tentang doa, harapan, dan penerimaan takdir.

Selain itu, film ini juga menghadirkan beberapa lagu lain seperti Tanpa Arah dan Menggoda karya Mamu Blacksweet, serta Cintaku Tak Ada yang Punya ciptaan Ferdy Tahier.


Sinopsis Film Dalam Sujudku

Melansir dari YouTube PROJ3CT69 film Dalam Sujudku berkisah tentang seorang perempuan bernama Aisyah yang diperankan oleh Vinessa Inez, dengan suaminya Farid yang diperankan oleh Marcell Darwin yang merupakan pasangan muda. Namun, harus menjalani Long Distance Marriage (LDM) akibat Farid yang harus merantau ke Jakarta.

Jarak yang awalnya bukan sebuah masalah menjadi konflik dan kesalahpahaman, akibat komunikasi yang tidak baik hingga kehadiran Rina yang diperankan oleh Naura Hakim yang menambah retaknya pernikahan dan kepercayaan di antara mereka.

Melalui perjalanan hidup yang tidak mudah, tokoh utama Aisyah yang mencoba bangkit dari keterpurukan akibat mengetahui perselingkuhan suaminya, Aisyah mencoba memperbaiki diri dan memperkuat iman diantara luka, doa, dan pilihan berat. Sujud menjadi simbol kepasrahan, harapan, dan kekuatan.

Dalam Sujudku bukan sekadar film drama biasa, melainkan sebuah refleksi kehidupan yang mengajarkan tentang arti kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan doa. Dengan alur cerita yang emosional, akting yang kuat, serta pesan yang mendalam, film ini menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberi pelajaran hidup.

Film ini cocok ditonton bagi siapa saja yang sedang mencari inspirasi dan ketenangan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Film ini menonjolkan nilai kesetiaan, keikhlasan, dan pesan bahwa sujud adalah tempat berserah diri atas ujian hidup yang berat. 

Film ini diperankan oleh beberapa nama aktor seperti 

1. Vinessa Inez sebagai Aisyah

2. Marcell Darwin sebagai Farid

3. Naura Hakim sebagai Rina

4. Dominique Sanda

5. Dennis Adishwara

6. Riyuka Bunga

7. Chika Waode

8. Momo Moriska


Film drama religi 'Dalam Sujudku' yang akan mulai tayang di bioskop pada 16 April 2026.

PELUNCURAN FILM PANGGUNG TERLARANG & SLIDE FILM TERBARU BINTANG CAHAYA SINEMA

Bintang Cahaya Sinema berkolaborasi dengan Komunitas Bogor Bamora dan Pictlock Cinema

 

Jakarta, 11 April 2026 — Bintang Cahaya Sinema mempertegas langkah strategisnya dalam membangun industri film Indonesia yang berkelanjutan melalui penyelenggaraan Press Conference film “Panggung Terlarang”. Momentum ini tidak hanya menjadi peluncuran karya, tetapi juga pemaparan komprehensif atas arah kreatif, peta proyek, serta strategi ekspansi global perusahaan melalui partisipasi di Marché du Festival de Cannes. Di mana tahun ini adalah tahun ke-3 Bintang Cahaya Sinema membuka booth di Marché du Festival de Cannes.

Sebagai rumah produksi yang berorientasi pada pembangunan intellectual property (IP) jangka panjang, Bintang Cahaya Sinema mengembangkan portofolio proyek secara terstruktur mengintegrasikan kekuatan narasi, relevansi sosial, serta potensi komersial lintas platform dalam satu kerangka bisnis yang adaptif dan scalable.

Dalam tahap produksi, dua film panjang utama menjadi fondasi awal, yakni “Panggung Terlarang” yang ditulis dan disutradarai oleh Bani Marhaen, serta “Pintu Belakang” yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara. Kedua proyek ini merepresentasikan pendekatan sinematik yang kuat, reflektif, dan berakar pada realitas sosial.

Bintang Cahaya Sinema tengah menyiapkan sejumlah film panjang yang akan segera memasuki tahap produksi, di antaranya “Broken Home” dengan penulis Evelyn Afnilia yang diangkat dari kisah nyata dan banyak terjadi di sekeliling kita; “Paraji” dengan penulis BW Purba negara ; “Petarung” dengan penulis Anggoro Saronto yang diangkat dari kisah nyata dari perjalanan hidup Dr. Hj. Titik Prasetyowati Verdi, S.H, M.H, juara dunia karate, serta “DiSini Bukan Rumahku: The Story of Hanako” yang di angkat dari kisah nyata Hanako yang ditulis oleh Tisa TS. Film Aku Harap Ibu Kembali, yang ditulis dan disutradarai oleh Keny Gulardi. Rangkaian proyek ini menghadirkan spektrum narasi yang kuat mengangkat isu kemanusiaan, dekat dengan kita, tentang ketahanan individu, peran perempuan, serta nilai-nilai kultural yang memiliki resonansi universal.

Selain film panjang, perusahaan juga mengembangkan karya film pendek sebagai bagian dari strategi eksplorasi kreatif dan penguatan talenta dan siap berkompetisi di ajang festival nasional dan international, Film pendek berjudul “Boru Ni Raja” diproduksi melalui kolaborasi dengan BPODT (Badan Pelaksana Otorita Danau Toba) di bawah kepemimpinan Jimmy Panjaitan selaku dirut BPODT, sebagai upaya mengangkat potensi budaya dan pariwisata berbasis kearifan lokal dan perjuangan hidup seorang Ibu. Sementara itu, “Lost Childhood” menjadi proyek penting sebagai debut penulis sekaligus sutradara Rizka Shakira produser dari Women from Rote Island yang sekaligus menandai kemunculan talenta baru melalui penampilan Nika sebagai pemeran utama di dalam film ini dengan Analia Trisna sebagai co-producer.

Partisipasi dalam Marché du Festival de Cannes menjadi langkah strategis dalam membuka akses terhadap jejaring global mencakup peluang co-production, distribusi internasional,serta kemitraan investasi. Dengan pendekatan kuratorial yang terukur, Bintang Cahaya Sinema tidak hanya membawa karya, tetapi juga membangun positioning konten Indonesia sebagai bagian dari percakapan industri film dunia.

Melalui penguatan riset pasar, diversifikasi genre, serta kolaborasi lintas sektor, perusahaan menempatkan film sebagai aset kreatif yang memiliki nilai artistik, ekonomi, dan kultural secara simultan. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih progresif, inklusif, dan berdaya saing global.

Adapun Press Conference diselenggarakan pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Resto Gili Asian Cuisine, Bekasi, dengan registrasi media dimulai pukul 12.30 WIB dan acara utama berlangsung pukul 14.00 WIB hingga selesai.

Bintang Cahaya Sinema memandang media sebagai mitra strategis dalam membangun narasi publik, memperluas jangkauan, serta mengakselerasi apresiasi terhadap karya.

Sinergi ini menjadi elemen penting dalam memperkuat eksistensi dan relevansi sinema Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.


Sinopsis film Panggung Terlarang

Film ini berkisah tentang Gin yang diperankan oleh Andriyan Didi, seorang mahasiswa yang sedang melakukan persiapan pertunjukan untuk tugas akhirnya. Gin dibantu dua sahabatnya Via ( pimpinan produksi ) yang diperankan oleh Irma Rihi, Beni ( dokumentasi) yang diperankan oleh Hakiki Kamil, Kio ( pemeran utama pertunjukan ) yang diperankan oleh Agoye Mahendra, Dinda ( pemeran Dewi Sri Poaci ) yang diperankan oleh Salsabila Zahra dan Roni ( art departemen ) yang diperankan oleh Vanjhoov. Mereka berusaha mewujudkan pementasan sebelumnya yang sempat gagal digelar, Namun kali ini Gin hanya punya waktu satu bulan untuk merampungkan semuanya, jika pertunjukan ini gagal lagi, maka Gin terancam tidak lulus. Perjalanan mereka tidak mudah, tiba-tiba investor yang mendanai pertunjukan Gin membatalkan pendanaanya menjelang hari pertunjukan. Namun Gin dan sahabatnya tidak menyerah, apapun yang terjadi mereka harus tetap menggelar pertunjukan itu. Akhirnya mereka menggelar pertunjukan itu di Gedung Mandala Kencana,gedung tua yang terbengkalai. Dan malapetaka pun terjadi.



Catatan Produksi film Panggung Terlarang

° Judul Film : Panggung Terlarang

° Produksi : Bintang Cahaya Sinema

° Produser : Rizka Shakira

° Sutradara : Bani Marhaen

° Penulis : Bani Marhaen


Cast :

° Irma Rihi sebagai Via

° Andriyan Didi sebagai Gin

° Agoye Mahendra sebagai Kio

° Vanjhoov sebagai Roni

° Hakiki Kamil sebagai Beni

° Widya Amor sebagai Kanaya

° Salsabila Zahra sebagai Dinda

° M. Iqbal sebagai Pak Rahman

° Amanda sebagai Ibu Kantin


Tentang Bintang Cahaya Sinema

Bintang Cahaya Sinema adalah perusahaan produksi film yang berfokus pada pengembangan konten sinematik berbasis narasi kuat, dengan pendekatan strategis yang mengintegrasikan nilai kreatif, komersial, dan kultural, serta berorientasi pada pasar nasional dan internasional.

---

Jumat, 10 April 2026

Trailer Crocodile Tears Ungkap Lapisan Konflik yang Lebih Intens Jelang Tayang 7 Mei 2026

 


​Jakarta, 10 April 2026 — Film panjang debut sutradara Tumpal Tampubolon, Crocodile Tears jelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026 ini, hari ini merilis final trailer yang memperlihatkan emosi drama yang intens di antara tiga karakter utamanya. Jika melalui trailer sebelumnya dibuka dengan adegan keseharian Johan dan Mama yang mulai terusik oleh kehadiran Arumi, melalui final trailer ini, Crocodile Tears membawa penonton masuk lebih jauh ke dalam relasi yang kompleks di antara ketiganya.

​Final trailer dibuka dengan hubungan romantis Johan (Yusuf Mahardika) dan Arumi (Zulfa Maharani) diiringi suara lirih Arumi yang menyanyikan lagu Benci untuk Mencinta. Kedekatan yang memicu perubahan dalam relasi Johan dengan Mama (Marissa Anita). Ketegangan yang sebelumnya terasa samar kini berkembang menjadi konflik emosional yang lebih terbuka. Melalui potongan adegan yang semakin intens, Crocodile Tears mengangkat tema tentang dinamika antara ibu, anak, dan menantu, serta figur "mertua" yang dominan, dibingkai dalam sebuah drama keluarga yang menegangkan, dimana batas antara kasih sayang tulus menjadi semakin kabur dan terasa manipulatif.

​Sejak karya-karya pendeknya, sutradara Tumpal Tampubolon dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama dimana emosi para karakter dan relasi di antara mereka terbangun perlahan namun konsisten, sehingga penonton terbawa masuk ke dalam dinamika yang dialami karakternya. Dan dalam setiap karyanya pula, Tumpal selalu memberikan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama dihadirkan Tumpal dalam Crocodile Tears. Dan final trailer ini menjadi gambaran awal dari bagaimana film ini akan membawa penonton pada perjalanan emosional yang tidak hanya intim, tetapi juga penuh kejutan.

​Dibintangi oleh Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani, Crocodile Tears menghadirkan kisah tentang hubungan keluarga yang berubah menjadi ruang penuh tekanan, ketika cinta dan bakti tidak lagi berjalan beriringan. Dengan balutan realisme magis dan teror psikologis, film ini menawarkan pengalaman menonton yang intens sekaligus menggugah.

​Film Crocodile Tears diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment. Ikuti akun media sosial resmi Talamedia untuk informasi terbaru mengenai film Crocodile Tears.



​CROCODILE TEARS

​Production: Talamedia & E-Motion Entertainment

​Co-Production: 

Acrobates Films

​Poetik Films

​Giraffe Pictures

​2Pilots Filmproduction

​International Sales & Festivals: Cercamon

​Casts: 

Yusuf Mahardika (Johan)

​Marissa Anita (Mama)

​Zulfa Maharani (Arumi)

​Director: Tumpal Tampubolon

​Writer: Tumpal Tampubolon

​Producer: Mandy Marahimin

​Co-Producers: 

Claire Lajoumard

​Anthony Chen

​Christophe Lafont

​Harry Flöter

​Jörg Siepmann

​Teoh Yi Peng

​Executive Producers: 

Arnold J. Limasnax

​Lianto Winata Vachon

​Tjen Foeng Fa

​Kevin Danudoro

​Cinematographer: Teck Siang Lim

​Production Designer: Jafar

​Art Director: Guntur Mupak

​Costume: Hagai Pakan

​Make-up: 

Cherry Wirawan

​Agustin Puji

​Sound: 

Roman Dymny

​Bruno Ehlinger

​Romain Ozanne

​Music: Kin Leonn

​Editor: 

Jasmine Ng Kin Kia

​Kelvin Nugroho

​Poster & Logo: Evan Wijaya

​Photo Poster: Robin Budidharma

​​Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Teaser Trailer & Poster, Menampilkan Kisah Emosional Raihaanun dan Omar Daniel Sebagai Pasangan Rumah Tangga yang Dekat dengan Banyak Orang


​Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 7 April 2026 — VMS Studio dan Umbara Brothers Film, bekerja sama dengan Adsfort merilis official teaser trailer & poster film drama keluarga terbaru dari produser Tony Ramesh dan sutradara Anggy Umbara, Keluarga Suami Adalah Hama. Dibintangi oleh Raihaanun, Omar Daniel, Meriam Bellina, Jeremie Moeremans dan Sitha Marino.

​Dalam official teaser trailer yang dirilis, menampilkan sebuah dinamika seorang istri (Raihaanun), yang tinggal bersama keluarga suaminya. Ia mengurus semua urusan rumah tangga, termasuk mengasuh sang mertua. Namun, dalam cuplikan tersebut, menampilkan beban emosional yang dialami Raihaanun.

​Di sisi lain, Omar Daniel sebagai suami juga harus menanggung semua beban finansial seluruh keluarganya. Situasi-situasi tersebut membuat goyah kehidupan rumah tangga Raihaanun dan Omar Daniel. Sementara itu, official teaser posternya menampilkan jajaran ansambel pemeran yang merepresentasikan dinamika keluarga dan rumah tangga yang terjadi di film.

​“VMS Studio selalu berkomitmen untuk selalu menghadirkan cerita yang fresh sekaligus dekat dengan kisah dari banyak orang. Dalam film drama Keluarga Suami Adalah Hama, kali ini kami ingin menyoroti dinamika hubungan suami istri yang menghadapi cobaan bukan dari orang ketiga, tapi justru dari keluarga yang terlalu ikut campur. Ini adalah kisah yang bisa merefleksikan situasi banyak orang dan semoga bisa menjadi persembahan yang memberikan hiburan sekaligus pelajaran,” ujar produser dan CEO VMS Studio Tony Ramesh.

​Bagi Raihaanun, film Keluarga Suami Adalah Hama memberinya tantangan untuk menampilkan beban emosional yang dialami oleh banyak perempuan dan istri. Ia berharap film ini akan semakin membuka ruang diskusi tentang pentingnya hubungan yang sehat dalam keluarga.

​“Film ini akan membuka banyak mata masyarakat tentang betapa pentingnya memberikan ruang yang aman dan komunikasi yang sehat untuk istri. Sehingga para istri tidak merasa ditinggalkan dan seperti berjuang sendirian di dalam rumah tangga. Salah satu yang juga menjadi tantangannya di sini adalah bagaimana aku menampilkan dinamika seorang istri yang harus berinteraksi secara intens dengan keluarga dari suami,” ujar Raihaanun.

​Keluarga Suami Adalah Hama merupakan salah satu slate yang diumumkan oleh VMS Studio pada akhir tahun lalu. Film ini diadaptasi dari film pendek fenomenal berjudul sama karya Aditya Santana yang diproduksi Adsfort. Film pendeknya sendiri telah ditonton lebih dari 100 juta views di platform Noice.

“Sebuah cerita yang sangat berani, dekat dengan kehidupan nyata di sekitar kita, dan menggugat apa yang masih banyak terjadi di masyarakat. Itu pula yang menjadi titik ketertarikan saya saat akan menggarap film ini. Di film panjangnya, penonton bisa lebih lengkap melihat konflik-konflik dan dinamika yang dihadapi oleh suami istri di sini, yang diperankan Omar dan Raihaanun,” ujar sutradara Anggy Umbara.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.

'AIN – Ketika Pandangan Menjadi Ancaman yang Tak Terlihat

 


Jakarta, 08 April 2026 - Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya terbaru bertema Body Horor Film 'AIN hadir sebagai film Body Horor namun tanpa menampilkan sosok hantu secara visual. Alih-alih mengandalkan penampakan, film ini menghadirkan kengerian yang dibangun melalui suasana, emosi, dan pengalaman yang terasa nyata—cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Film ini mengangkat fenomena penyakit ain, sebuah kondisi yang diyakini muncul akibat pandangan mata seseorang yang dilandasi rasa iri, dengki, atau bahkan kekaguman berlebihan tanpa menyebut nama Allah. Tema ini terasa semakin relevan dengan kondisi saat ini, di mana budaya flexing di media sosial semakin marak dilakukan oleh banyak selebriti maupun influencer.

Sutradara Archie Hekagery mengungkapkan bahwa film ini lahir dari keresahan terhadap fenomena tersebut.

“Film ini kita buat karena relate dengan kondisi sekarang, di mana banyak orang suka flexing di media sosial dan kemudian mengalami gangguan seperti autoimun tanpa menyadari kemungkinan adanya ain. Film ini sangat nyata dan sangat real, bukan fiksi. Kalau mencari tentang penyakit ain, akan banyak pengakuan dari orang-orang yang sudah mengalaminya,” ujar Archie.

Ia juga menambahkan bahwa proses pengembangan film ini tidak membutuhkan riset panjang, karena konsep ain sudah dikenal luas dalam perspektif keagamaan.

“Saya tidak perlu riset lama. Bagi umat Islam, ain adalah hal yang sudah diketahui, sama seperti dalam kepercayaan lain yang mengenal praktik spiritual tertentu,” tambahnya.

Sementara itu, aktris Brittany Fergie yang memerankan karakter Joy, mengaku memiliki kedekatan personal dengan tema yang diangkat dalam film ini.

“Aku sangat percaya karena mendengar cerita dari teman-teman dan lingkungan sekitarku. Film ini menjadi tantangan, baik dari sisi teknis maupun cerita. Ini juga membuka wawasan bahwa masih banyak orang yang belum aware dengan penyakit ain,” ungkap Brittany.

Ia berharap kehadiran film ini bisa menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih menjaga sikap dan tetap rendah hati.

“Semoga film ini bisa jadi sarana untuk mengingatkan kita agar terus rendah hati,” tambahnya.

Dengan pendekatan yang lebih subtil dan atmosferik, “AIN” menawarkan pengalaman horor yang berbeda—tidak sekadar menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara manusia, niat, dan energi yang tak terlihat.

Film ini diperankan oleh Brittany Fergie, Putri Ayudya, Bara Valentino dan lain-lain. Tunggu kengerian AIN apa yang akan mengintai anda di Bioskop tanggal 7 Mei 2026.

Kamis, 09 April 2026

Film Ghost in the Cell: Sedih, Lucu, dan Mengerikan! Membawa Pengalaman Sinematik Baru Horor Komedi yang Sangat Politis! Menghibur Sekaligus Reflektif

 

Film Ghost in the Cell tayang mulai 16 April 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 9 April 2026 - Penulis dan sutradara Joko Anwar mempersembahkan film ke-12 nya, Ghost in the Cell, bersama rumah produksi Come and See Pictures dengan sajian pengalaman sinematik baru. Menggabungkan horor komedi yang sangat menghibur, namun juga membawa pesan yang sangat reflektif tentang situasi Indonesia yang akan tayang mulai 16 April 2026.

Film Ghost in the Cell telah mendapat sambutan positif saat tayang perdana di Berlinale 2026. Film ini juga telah mendapat respons yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan film di 86 negara di berbagai benua. Ghost in the Cell sebelumnya juga telah tayang lebih dulu di 16 kota di Indonesia dan seluruh tiketnya terjual habis (sold out)!

Joko Anwar, sang maestro horor dengan jenius menggabungkan berbagai genre. Mulai dari komedi, genre yang pertama kali ia garap di film debutnya, hingga aksi dan horor. Tema yang dibahas juga sangat beragam merefleksikan situasi Indonesia saat ini. Dari isu lingkungan, agama, dan politik.

"Karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri," kata Joko.

Melalui Ghost in the Cell, Joko juga ingin mengajukan sebuah pernyataan yang tegas tentang masih adanya harapan di tengah sistem yang kacau dan busuk di negara ini.

"Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya, sekian persen masyarakat Indonesia masih ada yang jujur, dan masih ada yang mau menyuarakan. Saya percaya semangat itu tidak akan pernah mati, karena itu yang membuat kita masih mau bernapas dan bersuara," tambah Joko Anwar.

Menurutnya, semangat harapan itu yang bisa membawa perubahan, bersama kolektivitas warga, seperti yang terjadi di filmnya saat para napi dan sipir akhirnya bekerja sama untuk melenyapkan 'hantu' yang sesungguhnya.

Salah satu isu yang dibahas di film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta bagaimana seorang koruptor menjalani 'hukuman' namun masih mendapat privilese untuk bisa berbuat semau mereka. Produser Tia Hasibuan menyebutkan, meski secara isu dan cerita Ghost in the Cell sangat Indonesia, tetapi di sisi lain juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia.

"Saat world premiere di Berlinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama yang ada di film ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi seluruh aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang ada di film," ujar produser Tia Hasibuan.

Ghost in the Cell dibintangi oleh jajaran aktor terbaik Indonesia, serta menggandeng talenta terbaik Asia Tenggara. Film ini menyajikan penampilan terbaik dari para ansambel aktor lintas generasi dan lintas negara. Dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Secara keseluruhan, Ghost in the Cell dibintangi oleh 108 pemeran. Dengan jajaran ansambel bertabur bintang, Joko juga menuntut para pemerannya untuk mengeksplorasi kemampuan akting mereka seluas mungkin.

Abimana, yang memerankan Anggoro, menyebutkan dalam salah satu adegan aksi, ada tempo yang dimainkan. Abimana menceritakan, adegan aksi di film ini yang melibatkan ratusan orang diciptakan secara long take, dan memerlukan kesiapan dan kematangan para aktor yang terlibat.

"Secara keaktoran, sudah disiapkan arc character masing-masing. Anggoro, yang saya perankan, terikat dengan ibu dan keluarga. Di dalam penjara pun dia ciptakan keluarga yang dia pilih," kata Abimana.

"Dalam akting itu bukan saja soal karakter, tetapi juga ada beat tempo. Misalnya dalam satu adegan fighting, tidak hanya satu beat tempo serius. Tapi juga jadi dance lalu ke drama, itu beat-nya berbeda. Kalau para aktornya tidak mengerti beat yang digunakan, itu akan susah dan membuat berantakan syutingnya. Dan Joko sudah mempersiapkan beat-beat itu di tiap adegan," tambah Abimana.

Tonton film Ghost in the Cell di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026, dan jadilah bagian dari 10% masyarakat Indonesia yang terus bersuara dan jujur! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

Promosi film Ghost in the Cell didukung oleh Tunaiku by Amar Bank.


SINOPSIS

Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Rabu, 08 April 2026

​Film Shaka Oh Shaka Merilis Official Trailer & Poster: Saat Rasa Kagum dengan Idola Tumbuh Menjadi Cinta di Kehidupan Nyata

 


​Jakarta, 8 April 2026 – Film terbaru dari Starvision akan tayang di Bioskop 7 Mei 2026, Shaka Oh Shaka, karya sutradara Dinna Jasanti dan penulis skenario Rino Sarjono, yang sebelumnya menghadirkan drama kehangatan keluarga melalui Film SENIN HARGA NAIK di Lebaran 2026. Kolaborasi terbaru dengan Produser Chand Parwez Servia, menghadirkan kisah cinta seorang fans dengan idolanya, yang harus menghadapi realita pasang surut popularitas dan perjuangan menggapai mimpi.

​Film Shaka Oh Shaka menceritakan tentang Ocel (Arla Ailani) mahasiswi sederhana yang mengidolakan Shaka (Kiesha Alvaro) seorang penyanyi terkenal. Pertemuan di konser Shaka mengubah semuanya. Kedekatan yang bermula dari kekaguman, berkembang jadi cinta yang saling menguatkan. Hubungan mereka diuji kenyataan hidup yang silih berganti. Akankah mereka bisa tetap bertahan?

​Melalui Official Trailer Film Shaka Oh Shaka, ditampilkan perjuangan Shaka dalam meniti karir bermusiknya, sekaligus memperlihatkan kegelisahan Ocel yang harus menerima status hubungan mereka yang disembunyikan demi membantu karir kekasihnya. Ocel mencari cara untuk menggapai mimpinya yang sudah lama tertunda, walaupun tanpa disadari skenario situasi hubungan mereka mendekati titik toxic. Tetapi kasih sayang dan dukungan satu sama lain menjadi kekuatan untuk terus menggapai mimpi melalui pembuktian keberhasilan dalam karir. ​Disampaikan penuh kehangatan, kekeluargaan, dengan balutan komedi yang menghibur, diiringi lagu "Melompat Lebih Tinggi" dari Sheila on 7 yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro, "Lihat Kebunku (Taman Bunga)" dari Aku Jeje, "Satu Tuju" dari Raissa Anggiani, "Just Like A Star" dari Michael Aldi & Cornellia Nadya yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro & Arla Ailani, juga satu lagu yang diciptakan khusus dan dinyanyikan oleh Kiesha Alvaro, berjudul "Oxtella".

​Selain Kiesha Alvaro dan Arla Ailani, Film Shaka Oh Shaka menghadirkan deretan pemain yang piawai memerankan karakter-karakter mereka di Film, di antaranya: Artika Sari Devi, Vira Yuniar, Joshua Suherman, Maisha Kanna, Dennis Adishwara, Teuku Ryzki, Amel Carla, Adzana Ashel, Mazaya Amanias, Altaaf Akavi, Sadana Agung, Arie Nugroho, Leya Princy, Nicholas Calame, Adzando Davema, Clairine Clay, Kiki Narendra, Lam Ting, Baim, Ben Kasyafani, Shakeel Fauzi, Shaqueena Medina, Alfian Phang, Desthalia Florenza, Farel Alvarez dan lain-lain.

​Chand Parwez Servia selaku produser menyampaikan, “Film Shaka Oh Shaka mengangkat tema yang sangat dekat dengan banyak penonton. Bagaimana kita pernah memiliki khayalan untuk dapat berinteraksi secara langsung dengan idola kita, dan mengetahui apa yang terjadi di belakang panggung. Karakter Shaka dan Ocel juga menjadi representasi untuk kita memperjuangkan mimpi, meskipun hambatan hadir silih berganti. ​Sutradara Dinna Jasanti membungkus permasalahan ini dengan sudut pandang apik, berangkat dari skenario Rino Sarjono yang diadaptasi dari novel best seller karya Jocelyn Suherman."

​“Shaka Oh Shaka adalah cerita tentang impian, kenyataan dan cinta. Hubungan romantis yang tumbuh dari rasa kagum dengan seorang idola menjadi rasa cinta sebagai pasangan. Seiring waktu, rasa sayang bertumbuh di antara realitas kehidupan yang semakin menantang. Padahal yang akan mempertahankan cinta adalah keyakinan dan keberanian untuk tetap berkembang dan saling mendukung.”, Dinna Jasanti selalu sutradara menambahkan. 

Jocelyn Suherman selaku penulis novel menyampaikan “Film Shaka Oh Shaka ini proses pengembangan cerita yang sangat panjang, cerita yang awalnya saya tulis sebagai ekspresi rasa cinta saya untuk idola saya, ditulis ke dalam novel, dan sekarang menjadi film. Semoga Film ini dapat mewakili penonton yang memiliki idola, dengan dinamika keseruannya.”

​“Film Shaka Oh Shaka ini sangat berarti bagi kami, karakter Shaka memberikan pelajaran untuk saya, tentang eksistensi juga pembuktian dalam berkarya dan memperjuangkan cinta. Tentang pengorbanan dan pengkhianatan, sekaligus pengingat pasang surut karir yang dipadukan sebagai rangkaian kisah tentang terus bertumbuh.” Ungkap Kiesha Alvaro.

​Arla Ailani menambahkan “Shaka dan Ocel menghadirkan pembuktian cinta dan mimpi yang seyogianya bisa berjalan beriringan, dengan menjadi yang terbaik untuk pasangan. Sebuah perjalanan berliku dalam menemukan belahan jiwa.”

​Nantikan Film Shaka Oh Shaka tayang di Bioskop mulai 7 Mei 2026.


Sinopsis

​Pertemuan di konser mengubah semuanya. OCEL (Arla Ailani), mahasiswi yang sederhana tidak menduga bisa menjadi kekasih SHAKA (Kiesha Alvaro), sang idola. Kedekatan yang bermula dari kekaguman, berkembang jadi cinta yang saling menguatkan. Namun, hubungannya diuji kenyataan hidup dan derasnya arus waktu. Hingga 15 tahun mereka tumbuh, jatuh, dan berusaha bangkit. Akankah mereka tetap bertahan, atau menemukan jalan dalam perpisahan?


Pemain dan Tim Produksi

Kiesha Alvaro - Shaka

Arla Ailani - Ocel (Oxtella)

Artika Sari Devi - Rosa

Vira Yuniar - Ibu Ocel

Joshua Suherman - Chandra

Maisha Kanna - Inez

Dennis Adishwara - Taka

Teuku Ryzki - Ican

Amel Carla - Carla

Adzana Ashel - Violetta

Mazaya Amania - Yasmin Kecil

Altaaf Akavi - Edgar Kecil

Sadana Agung - Bang Adik

Arie Nugroho - Edgar Dewasa

Leya Princy - Yasmin Dewasa

Nicholas Calame - Azka

Adzando Davema - Adzando

Clairine Clay - Istri Chandra

Kiki Narendra - Bapak Ocel

Lam Ting - Koh Steven

Baim - Gunawan

Ben Kasyafani - Host Podcast

Shakeel Fauzi - Shaka Kecil

Shaqueena Medina - Ocel Kecil

Alfian Phang - Tanoto

Desthalia Florenza - Florenza

Farel Alvarez - Pacar Inez


Produksi: Starvision

​Produser: Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar

​Sutradara: Dinna Jasanti

​Produser Eksekutif: Reza Servia, Amrit Dido Servia, Raza Servia

​Produser Lini: Sara Kessing

​Penulis Skenario: Rino Sarjono, Alim Sudio

​Adaptasi Novel Best Seller Karya: Jocelyn Suherman

​Pengarah Artistik: Okie Yoga Pratama

​Penata Kamera: Amalia TS, ICS

​Penyunting Gambar: Ahmad Yuniardi

​Penata Suara: Aditya Trisnawan

​Perekam Suara: Yusuf Patawari

​Penata Musik: Hariopati Rinanto

​Penata Warna & VFX: Super 8MM Studio

​Penata Grafis: Mataque Studio

​Penata Rias: Nathasa Agnes

​Penata Busana: Angela Suri Nasution

​Penata Peran: Arief Havidz, Erik Arfin

​Perancang Poster: Alvin Hariz

​OST:

Melompat Lebih Tinggi – Kiesha Alvaro

​Lihat Kebunku (Taman Bunga) – Aku Jeje

​Satu Tuju – Raissa Anggiani

​Just Like A Star – Kiesha Alvaro & Arla Ailani

​Oxtella — Kiesha Alvaro

Film "Dalam Sujudku" adalah drama religi Indonesia garapan sutradara Rico Michael. Film ini menjanjikan cerita yang mengaduk emosi dan refleksi tentang makna doa dalam menjaga keutuhan keluarga.

  Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan film religi-drama yang penuh makna melalui film Dalam Sujudku. Film ini diproduksi oleh ...