Selasa, 07 April 2026

BASE Entertainment Rilis Trailer, Poster, dan OST Garuda Di Dadaku, Film Animasi Keluarga tentang Mengejar Mimpi Bersama

 

Film animasi keluarga untuk liburan sekolah tayang mulai 11 Juni 2026 di bioskop

Jakarta, 7 April 2026 — Tidak ada mimpi yang berdiri sendiri. Semangat inilah yang menjadi jiwa film animasi keluarga Garuda Di Dadaku saat BASE Entertainment bersama KAWI Animation resmi meluncurkan official trailer, official poster, serta soundtrack utama berjudul "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati.

Momentum ini menjadi langkah besar menuju penayangan film pada 11 Juni 2026, menghadirkan kisah tentang keberanian, kerja sama, dan mimpi anak Indonesia yang tumbuh lewat dukungan orang-orang di sekitarnya. Sebagai film keluarga untuk masa liburan sekolah, Garuda Di Dadaku membawa semangat sepak bola, persahabatan, dan keberanian bangkit untuk mengejar mimpi bersama.

Official trailer terbaru memperlihatkan lebih utuh dunia cerita yang berpusat pada Putra (Keanu Azka), seorang anak laki-laki dengan mimpi besar menjadi pesepak bola terbaik Indonesia, dan Gaga (Kristo Immanuel), sosok Garuda kecil magis yang hadir di saat Putra mulai kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.

Namun film ini tidak hanya berbicara tentang perjalanan satu anak mengejar cita-cita. Trailer memperlihatkan bahwa keberanian Putra tumbuh karena ada sosok-sosok yang percaya padanya-Gaga, Naya (Quinn Salman), teman-temannya, dan tim yang berjalan bersamanya. Kehadiran mereka menegaskan bahwa setiap mimpi membutuhkan orang-orang yang mampu melihat potensi kita, bahkan ketika kita sendiri masih ragu.

"Di film ini kami ingin menunjukkan bahwa mimpi besar selalu lahir dari keberanian untuk melangkah bersama. Putra boleh menjadi pusat cerita, tapi keberaniannya tumbuh karena ada Gaga, Naya, keluarga, dan tim yang percaya pada potensinya. Buat saya, itu juga sangat mencerminkan proses kami membuat Garuda Di Dadaku versi animasi selama lebih dari tiga tahun-sama seperti mimpi Putra, film ini tidak mungkin terwujud sendirian, melainkan lahir dari kerja kolektif para animator dan seluruh kru yang berjalan bersama sampai mimpi ini benar-benar hidup di layar," ujar Ronny Gani, sutradara film Garuda Di Dadaku.

Sebagai interpretasi baru dari IP ikonis Indonesia, Garuda Di Dadaku tetap mempertahankan identitas kuatnya sebagai film tentang sepak bola, sambil menghadirkan pendekatan yang lebih emosional melalui relasi antar karakter, nilai sportivitas, kerja sama tim, dan semangat juara yang dekat dengan keluarga Indonesia.

"Garuda Di Dadaku adalah kisah tentang bagaimana mimpi anak-anak bisa tumbuh lebih kuat ketika ada keluarga, sahabat, dan tim yang berjalan bersama mereka. Ini bukan hanya mimpi Putra, tapi mimpi banyak anak Indonesia yang ingin berani melangkah dan mengejar mimpinya," ungkap Shanty Harmayn, produser.

Keterlibatan Atta Halilintar sebagai Executive Producer turut memperkuat semangat sepak bola yang menjadi denyut utama film ini. Kedekatannya dengan dunia sepak bola dan keluarga muda Indonesia menghadirkan resonansi yang kuat, sekaligus menjadikan film ini sebagai pengalaman yang relevan untuk dinikmati bersama anak-anak dan keluarga.



Semangat tersebut juga diperkuat melalui peluncuran soundtrack utama "Garuda Di Dadaku" yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati. Lagu ini menjadi lapisan emosional yang menghidupkan energi film, sekaligus menjadi representasi harapan, keberanian, dan dorongan untuk terus melangkah meski penuh keraguan. "Yang aku suka dari film ini adalah semangat bahwa kita tidak berjalan sendirian. Lagu ini aku bayangkan seperti dorongan energi untuk anak-anak yang sedang belajar percaya pada mimpi mereka," ujar Isyana Sarasvati.

Official poster yang dirilis hari ini menangkap energi utama film melalui Putra, Gaga, Naya, dan teman-temannya dalam satu frame penuh warna yang memancarkan nuansa petualangan, kehangatan, dan semangat besar dari perjalanan kecil yang mereka mulai bersama.

Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, dengan naskah yang ditulis oleh Sofia Lo bersama Makbul Mubarak, film ini menjadi interpretasi animasi baru dari IP film legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah lama hidup di hati publik Indonesia.

Film animasi keluarga Garuda Di Dadaku mengisahkan Putra (13), anak laki-laki dengan mimpi besar menjadi pemain tim nasional Indonesia. Saat kegagalan membuatnya kehilangan keyakinan, kehadiran Gaga mengubah hidupnya dan membawanya pada perjalanan untuk menemukan kembali keberanian. Dalam proses itu, Putra belajar bahwa mimpi besar tidak pernah dicapai sendirian.

Garuda di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi bersama Robot Playground Media, serta kolaborasi dengan Springboard, BolaLob, AHHA Production, BRD Studio, Dasun Pictures, PK Films, Barunson E&A, IFI Sinema, dan Arendi. Film ini didukung oleh Singapore Film Commission. Selain itu, Garuda di Dadaku juga bekerja sama dengan brand partners Pilus Garuda, Indomilk Kids, dan Chiki.


Saksikan film animasi keluarga Garuda Di Dadaku mulai 11 Juni 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

#GarudaDiDadaku

#BeraniBermimpi

Senin, 06 April 2026

Poster The Bell Rilis, Penebok Hantu yang Bangkit dan Siap Meneror Tahun Ini


Jakarta, 7 April 2026 — Industri horor Indonesia kembali memanas dengan hadirnya The Bell: Panggilan untuk Mati, film terbaru hasil koloborasi produksi Sinemata Buana Kreasindo yang resmi merilis poster utamanya. Film ini memperkenalkan Penebok, sosok hantu tanpa kepala dari mitos Belitung yang digambarkan sebagai entitas yang bangkit dan siap menjadi teror baru tahun ini.

Di tengah tren film horor lokal yang terus mendominasi pasar, The Bell hadir dengan pendekatan berbeda: mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi ke layar lebar. Penebok bukan sekadar figur menyeramkan, tetapi representasi dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.

Official Poster 

Poster yang dirilis memperlihatkan atmosfer gelap dan mencekam, dengan visual Penebok sebagai pusat ancaman. Sosok tanpa kepala berbalut gaun merah ini menghadirkan rasa tidak utuh yang justru memperkuat elemen teror sekaligus membangun identitas horor baru yang kuat.

Sutradara The Bell, Jay Sukmo, menyampaikan bahwa film ini ingin memperluas cara pandang penonton terhadap horor Indonesia. “Horor Indonesia sedang berada di fase yang sangat menarik. Penonton tidak hanya mencari rasa takut, tetapi juga cerita yang punya akar budaya. Penebok kami hadirkan sebagai representasi dari kekayaan cerita lokal yang belum banyak diangkat.”

Sementara itu, produser Rendy Gunawan yang berkolaborasi dengan Aris Muda sebagi produser, menekankan pentingnya membangun karakter yang ikonik dalam lanskap horor saat ini.“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya menakutkan, tapi juga punya identitas kuat. Penebok adalah upaya kami menciptakan ikon horor baru yang lahir dari budaya sendiri dan bisa diingat penonton dalam waktu lama.”

Mengambil latar dengan nuansa urban dan mistis khas Belitung, The Bell: Panggilan untuk Mati  menghadirkan pengalaman horor yang baru dan segar, sekaligus memperkuat posisi cerita lokal di tengah persaingan industri film nasional

SINOPSIS

Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.

Pemain/ Casts             : 

° Ratu Sofya,

° Bhisma Mulia, 

° Shaloom Razade,

° Givina Dewi,

° Mathias Muchus,

° Septian Dwi Cahyo,

° Nabil Lunggana,

° Maulidan Zuhri

° Eksekutif Produser      : Budi Yulianto, Avesina SoebliP

° Produser                     : Aris Muda, Rendy Gunawan

° Sutradara                   : Jay Sukmo

° Penulis                        : Priesnanda

° Co-Produser               : Agus Suhardi

° Lini Produser            : Ipunk Purwono

° DoP                             : Indra Suryadi

° Produksi                    : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026


Film Semua Akan Baik-Baik Saja Karya Baim Wong Merilis Official Trailer yang Mengharukan, Saat Keluarga yang Terpisah Menanggung Beban Bersama

 

Film Semua Akan Baik-Baik Saja tayang mulai 13 Mei 2026 di bioskop Indonesia


Jakarta, 6 April 2026 — Tiger Wong Entertainment merilis official trailer film terbaru karya sutradara Baim Wong, Semua Akan Baik-Baik Saja, yang dibintangi Reza Rahadian, Christine Hakim, Raihaanun, Ari Irham, Teuku Rifnu Wikana, dan Happy Salma. Official trailer Semua Akan Baik-Baik Saja menampilkan sebuah kisah yang penuh haru dan menyentuh dari sebuah keluarga yang saling terpisah, kini harus bersatu untuk saling menanggung beban bersama.

Official trailer Semua Akan Baik-Baik Saja dibuka dengan sebuah kunjungan Happy Salma yang memerankan Tari, ke rumah susun adiknya, Langit, yang diperankan Reza Rahadian. Langit sudah lama tak pulang ke rumah Ibunya. Tari pun meminta agar Langit sesekali pulang, sekaligus menengok para keponakannya, anak Tari, yang tinggal di rumah sang Ibu.

Namun, ketika Langit akhirnya pulang ke rumah, ia justru dikejutkan dengan pemandian jenazah Tari. Tari terkena serangan jantung. Kematian mendadak Tari pun membuat syok Langit, dan seketika mengubah jalan hidupnya. Ia yang sebelumnya menjauh dari rumah, kini justru mendapat amanah untuk merawat para keponakannya, termasuk salah satunya yang mengalami down syndrome.

Kini, Langit bersama kedua adiknya, Bintang (Raihaanun) dan Banyu (Ari Irham), serta Ibu mereka (Christine Hakim), saling bahu membahu memikul beban bersama. Termasuk untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anak Tari. Di tengah ujian yang tengah menerpa mereka, keluarga tersebut masih harus menghadapi konflik dari mantan suami Tari, Ilham (Teuku Rifnu Wikana), yang meminta paksa sertifikat rumah. Apa yang akan selanjutnya terjadi, dan apa yang akan dilakukan keluarga Langit?

Menjadi film ketiga yang disutradarai Baim Wong, kini ia menggarap sebuah drama yang sangat dekat. Tentang sebuah ikatan keluarga sebagai tempat pulang, dan kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu. Baim sendiri memilih pendekatan yang realistik, termasuk dengan latar yang dibangun di sebuah perkampungan di pinggiran rel kereta.

Dengan jajaran ansambel pemeran terbaik Indonesia, Baim menunjukkan kepiawaiannya untuk menghadirkan cerita yang hangat dan menyentuh. Di film ini, ia juga menulis naskahnya bersama penulis film-film blockbuster Oka Aurora.

"Saya memilih para pemeran di film ini berdasarkan karakter yang saya bayangkan. Saya tahu kelebihan mereka semua. Ansambel yang ada di sini, tentu semuanya sangat berkualitas. Kami membuat cerita ini sangat dekat dengan masyarakat Indonesia," ujar penulis dan sutradara Baim Wong.

Sementara itu, Reza Rahadian mengatakan, Baim Wong mampu menangkap ruh dan pesan yang ingin disampaikan di film Semua Akan Baik-Baik Saja dengan sangat jelas.

"Ini adalah film keluarga, yang sejak awal saya membaca naskahnya sangat jelas. Di setiap keluarga, meski ada luka atau anggota keluarga yang melakukan hal yang berseberangan, film ini membawa spirit, bagaimanapun keluarga adalah tempat kita pulang. Menurut saya, Baim menangkap hal itu di film ini. Orang yang dinilai tidak memiliki fungsi di keluarga tapi memiliki sesuatu yang jadi bernilai," kata Reza Rahadian.

Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, film Semua Akan Baik-Baik Saja juga turut dibintangi oleh Aquene Djorghi, Malikha Shaquenna, Asri Welas, Rebecca Tamara, dan Ade Rai, Eric Estrada, Amanda Soekasah, Janna Soekasah, Aimee Saras, Ageng Carlitos, Alim, Nagra Pakusadewo, Chew Kin Wah, Kenzo Eldrago, dan Kiano Tiger Wong.

Film ini juga terasa spesial karena menjadi pertama kalinya binaragawan Ade Rai bermain film. Untuk peran Ade Rai sendiri bahkan Baim mempersiapkan treatment khusus. Ade Rai akan tampil berbeda dengan make up prostetik untuk kebutuhan karakternya.

Sebagai komitmen Baim bersama Tiger Wong Entertainment untuk selalu menghadirkan karya yang tak hanya berkualitas, namun juga memberikan kebaruan dan peluang bagi para talenta baru di perfilman Indonesia, kali ini Baim juga mengambil langkah berani. Salah satunya dengan menggandeng dua pemeran down syndrome, Alim dan Vanessa, yang untuk pertama kalinya bermain di film layar lebar.

Sebelumnya Tiger Wong Entertainment secara back to back meraih blockbuster lewat film horor Lembayung (2024) dan Sukma (2025). Film debut Tiger Wong Entertainment, Berbalas Kejam (2023), juga sukses diakui secara kritis dengan meraih berbagai nominasi dan penghargaan termasuk Pemenang Piala Citra FFI untuk Pemeran Utama Pria Terbaik 2023 yang dimenangkan Reza Rahadian. Film Semua Akan Baik-Baik Saja menjadi perjalanan kekaryaan berikutnya dari sutradara Baim Wong yang kini telah diakui secara luas craftmanship-nya.

Tonton film Semua Akan Baik-Baik Saja di bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026! Ikuti terus perkembangan informasi film Sukma melalui akun resmi Instagram @tigerwongentertainment dan @filmsemuakanbaikbaiksaja.




Jumat, 03 April 2026

Jakarta Youth Film Festival 2026 Spesial Hari Film Nasional: "Yang Muda Yang Bersuara"

 


Jakarta, 2 April 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, Jakarta Youth Film Festival 2026 (J-Youth Film Fest) menghadirkan program spesial bertajuk "Yang Muda Yang Bersuara", sebuah rangkaian pemutaran film pendek dan diskusi bersama insan perfilman Indonesia. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 2 April 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat.

J-Youth Film Fest merupakan inisiatif kolaboratif antara Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor perfilman. Mengusung tema "Jakarta Kota Kita", festival ini bertujuan mendorong kreativitas generasi muda sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai Kota Sinema.

Sebagai edisi perdana, J-Youth Film Fest diharapkan menjadi ruang kolaboratif bagi pelajar dan mahasiswa untuk berekspresi, belajar, serta membangun jejaring dengan sesama kreator dan pelaku industri film. Festival ini juga menjadi sarana edukasi publik terkait peran Bank Indonesia dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan sektor kreatif.

Melalui program Perayaan Hari Film Nasional, J-Youth Film Fest mengajak publik untuk menelusuri perkembangan perfilman Indonesia sekaligus melihat peran penting generasi muda dalam membentuk masa depan industri. Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan

Dalam sambutannya, Iwan Setiawan menyampaikan bahwa "Ekonomi kreatif merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru yang menunjukkan kinerja positif, dengan pertumbuhan mencapai 9,42% (yoy) pada Semester 1 2025. Dengan komposisi penduduk Jakarta yang didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z (50,5%), generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi. Lebih lanjut, industri film memiliki multiplier effect yang luas karena mampu menggerakkan berbagai sektor pendukung, seperti pariwisata, kuliner, fashion, dan transportasi. Selain itu, film juga berperan sebagai media efektif memperkuat citra kota di tingkat global, sejalan dengan visi Jakarta sebagai Kota Sinema."

Sementara itu, Rano Karno menyampaikan apresiasinya kepada Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta atas inisiatif penyelenggaraan Perayaan Hari Film Nasional ini. "Saya apresiasi pemilihan tempat acara hari ini yang dilaksanakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Acara hari ini dan J-Youth Film Fest diharapkan dapat menjadi salah satu program unggulan dalam penguatan industri film di Jakarta yang mampu menciptakan ruang kolaborasi, meningkatkan kualitas talenta, serta mendorong lahirnya karya-karya yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global."

Sesi diskusi "Yang Muda Yang Bersuara menghadirkan dua tokoh perfilman Indonesia, yaitu Riri Riza dan Prilly Latuconsina. Riri Riza, sutradara dan penulis yang telah berkarya sejak tahun 1990-an, berbagi pengalaman serta perspektifnya mengenai perkembangan industri film Indonesia dan pentingnya peran filmmaker muda. Sementara itu, Prilly Latuconsina, aktris sekaligus Ketua Pelaksana Festival Film Indonesia, memberikan pandangannya mengenai dinamika industri saat ini serta perjalanan karirnya sebagai inspirasi bagi generasi muda.

Selain sesi talkshow, acara ini juga menampilkan pemutaran lima film pendek Indonesia lintas generasi, yaitu Sonata Kampung Bata (1993) disutradarai oleh Riri Riza, Harap Tenang Ada Ujian (2006) disutradarai oleh Ifa Isfansyah, Dancing Colors (2022) disutradarai oleh Reza Fahriansyah, Layla Want It (2023) disutradarai oleh Mauliya Maila dan Machine Vacation (2025) disutradarai oleh Hadafi Raihan Karim. Pemilihan film ini merepresentasikan perkembangan estetika, narasi, dan semangat generasi muda dalam perfilman Indonesia dari masa ke masa.

Melalui program ini, J-Youth Film Fest menegaskan komitmennya dalam membuka ruang dialog antara generasi muda dan pelaku industri, sekaligus mendorong lahirnya talenta serta gagasan baru yang relevan dengan dinamika perkotaan Jakarta.

Dengan semangat "Yang Muda Yang Bersuara", festival ini menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk menyampaikan perspektif, emosi, dan ide melalui medium film, serta berkontribusi aktif dalam membentuk masa depan perfilman Indonesia.

Pada akhir acara ini diumumkan bahwa untuk pendaftaran program Lensa Kompetisi Pelajar dan Lensa Kompetisi Mahasiswa, serta program submisi ide cerita film pendek, Jakarta Film Fund for Student, waktu tenggat submisi diperpanjang hingga 30 April 2026.

Sebelumnya masih dalam rangkaian program pra-festival atau Roadshow, J-Youth Film Fest mengunjungi sekolah dan universitas di daerah DKI Jakarta untuk memperkenalkan kompilasi film pendek kepada para pelajar dan mempertemukan mereka bersama filmmaker Indonesia untuk langsung belajar dari para profesional.


Pertama, J-Youth Film Fest mengunjungi SMKN 51 Jakarta Timur dengan membawa Novia Puspa Sari (juri J-Youth Film Fest) serta Syifanie Alexander (perwakilan Jakarta Film Week). Kedua, kunjungan ke SMK Media Informatika Jakarta bersama Jason Iskandar (sutradara) dan Raslene (perwakilan Jakarta Film Week).

Selain itu, pada tanggal 7 dan 8 April, J-Youth Film Fest akan mengunjungi Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan dan kampus lainnya di Jakarta dan sekitarnya bersama Aco Tenriyagelli dan Aditya Ahmad, para juri kompetisi J-Youth Film Fest.

Informasi terbaru mengenai J-Youth bisa diakses di media sosial @jyouthfilmfest.



Film Na Willa Telah Menghangatkan Hati 1 Juta Penonton, Sutradara Ryan Adriandhy Jamin Ada Sekuelnya! Sukses Tembus 1 Juta Penonton, Dunia Na Willa akan berlanjut!

 


Jakarta, 3 April 2026 — Film persembahan Visinema Studios dari sutradara Ryan Adriandhy, Na Willa kini telah sukses meraih 1 juta penonton lebih di bioskop Indonesia. Membuktikan banyak hati keluarga dan anak Indonesia yang telah merasakan kehangatan cerita dari Dunia Na Willa yang membuat bahagia.

Raihan 1 juta penonton sekaligus menjadi catatan positif bagi Visinema Studios bersama trio kreator, sutradara Ryan Adriandhy dan duo produser Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai pencetak film blockbuster. Ini menjadi film kedua dimana ketiganya sukses mencetak blockbuster secara berturut setelah JUMBO.

"Bersyukur tanpa libur. Terima kasih kepada para penonton yang sudah membuka hati dan memberi ruang bagi Na Willa untuk hadir dalam perjalanan mereka. Bagi kami, Na Willa bukan hanya sebuah film, tapi sebuah ruang sederhana yang mengajak kita pulang kembali merasakan dunia dari sudut pandang seorang anak, dengan kejujuran, kehangatan, dan rasa ingin tahu yang mungkin pernah kita tinggalkan, karena Na Willa adalah kita.

Capaian 1 juta penonton ini bukan sekadar angka, tapi sinyal bahwa keluarga Indonesia merindukan cerita yang dekat, yang relevan, dan yang bisa dirasakan bersama. Ini menjadi pengingat sekaligus komitmen bagi kami di Visinema Studios untuk terus menghadirkan cerita keluarga dan anak yang bermakna untuk kita, untuk anak-anak kita, dan untuk anak-anak di dalam diri kita." ujar Chief of Content Officer Visinema Studios dan produser Na Willa Anggia Kharisma.

Raihan 1 juta penonton juga menjadi bukti bahwa kini penonton Indonesia telah mengenal Dunia Na Willa. Sutradara Ryan Adriandhy pun memastikan terkait kelanjutan sekuel Na Willa, yang akan segera hadir.

"Film Na Willa yang sekarang masih tayang di bioskop adalah awal. Dan masih akan ada kelanjutan ceritanya di film keduanya. Sekarang sudah masuk draft skenario untuk film kedua," ujar Ryan Adriandhy.

"Terima kasih kepada 1 juta penonton yang telah percaya dengan cerita Na Willa. Saya sangat senang melihat banyak orang dewasa bersukacita atas film yang dianggap 'sangat anak-anak. Terima kasih juga untuk penonton yang sudah berbahagia selama dua kali Lebaran, sejak JUMBO hingga Na Willa," ujar Ryan Adriandhy.

Beberapa penonton dewasa yang juga bersukacita menonton Na Willa adalah aktor dan komika Ardit Erwandha, yang menonton bersama istri dan anaknya. "Senyumku mengembang besar sekali melihat Na Willa sampai rumah langsung baring di lantai menikmati ademnya keramik. Terima kasih Ryan Adriandhy beserta cast dan crew yang sudah bekerja keras untuk Na Willa," kata Ardit Erwandha.

Produser, penulis, dan sutradara Ernest Prakasa juga menyampaikan kesannya setelah menonton film Na Willa. "Buat gue Na Willa ini film yang luar biasa, yang bagus banget. Nggak bakal nyesel deh lo nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

1 juta orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop. Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #BahagiaBareng Na Willa.

***

Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama,Keluarga

Sutradara: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Palari Films Rayakan 10 Tahun Perjalanan di Industri Film Indonesia, Memperkenalkan 7 Judul Film Terbaru: Monster Pabrik Rambut, Desember Jani, Menari dengan Bayangan, Baju Tebal, I Wanna Dance with Myself, Goldfish, dan Strange Root

 

Palari Films menggandeng jajaran sineas dan musisi terbaik Tanah Air: Ariani Darmawan, Baskara Putra, Khozy Rizal, dan Aditya Ahmad di proyek film terbaru

Jakarta, 2 April 2026 — Rumah produksi Palari Films merayakan 10 tahun perjalanannya di industri perfilman Indonesia, A Decade of Voyage! Dalam perjalanannya, rumah produksi yang didirikan produser Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, dan sutradara Edwin ini telah menapak jejaknya sebagai salah satu rumah produksi yang sukses di berbagai ajang penghargaan dan melahirkan karya-karya film berkualitas.

Perjalanan awal Palari Films dimulai dengan film panjang garapan sutradara Edwin, Posesif (2017), yang berhasil memenangkan 3 Piala Citra FFI 2017 untuk Sutradara Terbaik (Edwin), Pemeran Utama Perempuan Terbaik (Putri Marino), dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru). Selama 10 tahun, Palari Films telah melahirkan 10 karya baik film, series, dan antologi film pendek, yang setiap tahunnya selalu mendapat tempat di penonton Indonesia, ajang penghargaan FFI, dan di dunia.


Prestasi dan Perjalanan Sedekade Palari Films

Palari Films membuktikan sebagai rumah produksi yang melahirkan karya berkualitas ditunjukkan dengan film berikutnya, Aruna & Lidahnya (2018). Film yang disutradarai Edwin ini juga mendapat pengakuan secara kritis dengan memenangkan Piala Citra FFI 2018 untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (Titien Wattimena) dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Nicholas Saputra). Film tersebut juga tayang di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2019 dalam program Culinary Cinema.

Salah satu prestasi paling prestisius yang pernah diraih oleh Palari Films adalah melalui karya ketiga mereka yang juga disutradarai Edwin, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Film ini memenangkan penghargaan utama di festival film internasional yang juga menjadi salah satu festival film tertua di dunia, Locarno.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas berhasil membawa pulang piala utama, Golden Leopard. Ini adalah pertama kalinya film Indonesia berhasil memenangkan penghargaan utama dalam ajang festival film internasional. Film ini juga berkeliling di berbagai festival film internasional lainnya, termasuk Toronto International Film Festival (TIFF) dan Busan International Film Festival (BIFF).

Sebagai rumah produksi yang terus bertumbuh, Palari Films juga menggandeng para sineas terbaik Indonesia untuk melahirkan karya-karya yang beragam. Termasuk bersama sutradara Lucky Kuswandi untuk menggarap Ali & Ratu Ratu Queens (2021), yang juga menjadi salah satu film Indonesia paling banyak ditonton di Netflix dan Top Search Google Indonesia 2021, serial Ratu Ratu Queens: The Series (2025), dan Yosep Anggi Noen melalui horor Tebusan Dosa (2024).

"Sepuluh tahun dan setiap cerita yang menemukan jalannya. Kami menoleh ke belakang sebelum melangkah maju, menghormati semua yang membuat dekade ini berarti. Peta ini ada karena tangan-tangan yang menggambarnya bersama kami. Kini, Palari Films berlayar menuju cakrawala yang lebih luas," ujar produser dan Co-Founder Palari Films Muhammad Zaidy.


7 Judul Film Terbaru Palari Films

Tahun ini, menandai marka 1 dekade berkarya Palari Films, karya-karya baru terus dilahirkan. Menggandeng para kolaborator sineas dan talenta terbaik Tanah Air. Dalam perayaan 10 Tahun Palari Films, diumumkan tujuh judul baru yang akan dirilis mendatang.

Ketujuh judul tersebut adalah Monster Pabrik Rambut yang disutradarai Edwin dan akan tayang 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia dan telah world premiere di Berlinale 2026, Desember Jani (sutradara Ariani Darmawan), Menari dengan Bayangan (sutradara Edwin, produser eksekutif Baskara Putra), Baju Tebal, I Wanna Dance with Myself (Khozy Rizal), Goldfish (Aditya Ahmad), dan Strange Root (Lam Li Shuen dan Mark Chua).

Monster Pabrik Rambut dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan memperkenalkan Kev. Film ini sekaligus menjadi kolaborasi kedua Iqbaal bersama Palari Films setelah Ali & Ratu Ratu Queens (2021). Di film Monster Pabrik Rambut, Iqbaal juga bertindak sebagai produser eksekutif. 

"Senang rasanya menjadi bagian dari satu dekade Palari Films. Monster Pabrik Rambut adalah proyek kolaborasi kedua saya dengan Palari Films setelah Ali & Ratu Ratu Queens. Dan kali ini, keterlibatan saya bisa lebih mendalam. Bagi saya, Palari Films adalah rumah produksi yang selalu mendorong batas kreativitas dan memberikan kesempatan berkarya seluas mungkin bagi para sineas dan talenta baru di perfilman Indonesia," ujar Iqbaal Ramadhan.


Palari Films dan Para Sineas Terbaik Tanah Air dan Internasional

Sutradara dan visual artist perempuan Ariani Darmawan, pendiri Kineruku di Bandung, akan bekerja sama dengan Palari Films lewat film panjang perdananya, Desember Jani. Sebelumnya, Ariani dikenal dengan film-filmnya yang banyak berkeliling festival film internasional seperti The Anniversaries (2006) yang tayang di Busan International Film Festival 2007, serta Sugiharti Halim (2008) yang berkompetisi di Clermont Ferrand Short Film Festival 2009. Desember Jani akan menjadi film panjang pertamanya sekaligus menjadi momen comeback-nya setelah sepuluh tahun hiatus.

Film Desember Jani akan dibintangi oleh Sigi Wimala, Chempa Putri, Hyori Mika, dan aktris senior Tutie Kirana. Ini akan menjadi film yang ini dibintangi, disutradarai, ditulis, dan diproduseri, semuanya oleh perempuan (all women project).

Film ini sebelumnya telah terseleksi untuk program Work-in-Progress di Hong Kong Asia Film Financing Forum 2026 (HAF24), sebuah forum yang mempertemukan dengan para calon mitra kolaborator internasional.

Baskara Putra akan menandai debutnya di perfilman Indonesia sebagai produser eksekutif di film Menari dengan Bayangan. Menari dengan Bayangan merupakan album debut Hindia yang dirilis pada 2019, dan kini akan diadaptasi menjadi film layar lebar dengan sutradara Edwin.

"Perjalanan baru bagi karya Menari dengan Bayangan yang akan hadir dalam medium baru bersama Palari Films. Bagi saya, Palari Films adalah salah satu rumah produksi yang mampu menciptakan karya-karya yang selalu inovatif, relevan, dan membicarakan apa yang tengah terjadi di masyarakat, merasa terhormat menjadi bagian dalam perjalanan tonggak penting satu dekade Palari Films," ujar Baskara Putra atau Hindia.

Selain Ariani Darmawan yang akan mempersembahkan film panjang debutnya, Palari Films juga bekerja sama dengan dua sutradara muda asal Makassar untuk film panjang debut mereka, Khozy Rizal dan Aditya Ahmad.

Film pendek Khozy, Basri & Salma in a Never-Ending Comedy (2023) menjadi film pendek Indonesia pertama yang berkompetisi untuk Short Film Palme d'Or, Cannes. Pada tahun 2024, film pendeknya Little Rebels Cinema Club memenangkan Crystal Bear untuk Film Pendek Terbaik di Generation Kplus Berlinale 2025. Bersama Palari Films akan menggarap I Wanna Dance with Myself. Film tersebut sebelumnya terseleksi dalam program ScriptLab di Torino Film Lab tahun ini.

Aditya Ahmad, yang sebelumnya sukses dengan film-film pendeknya seperti Sepatu Baru (2014) yang memenangkan Special Mention di program Generation KPlus Berlinale 2014 hingga Kado (2018) yang memenangkan Venice Horizons Award di Venice Film Festival, kini akan bekerja sama dengan Palari Films.

Sebelumnya, Adit menggarap film pendek (S)aya yang tergabung dalam antologi Piknik Pesona (2022) bersama Palari Films. Kini, ia akan kembali bekerja sama untuk film panjang debutnya berjudul Goldfish. Film Goldfish sebelumnya telah mengikuti program residensi (the Résidence) pengembangan naskah Cinema de Demain Cannes Film Festival 2024, serta Script Lab di Torino Film Lab 2025.

Sementara itu, Palari Films juga tetap menjalin ko-produksi internasional seperti yang telah dilakukan dalam perjalanan 10 tahun pertama mereka. Kali ini, melalui proyek film Strange Root (Keinginan), Palari Films bekerja sama dengan sutradara Lam Li Shuen dan Mark Chua. Film ini merupakan ko-produksi dengan 13 Little Pictures, Singapura, dengan Indonesia, Jerman, Belanda, dan Filipina.


Merchandise dan Pameran Satu Dekade Palari Films

Dalam momen perayaan 10 Tahun Berkarya Palari Films, juga dirilis koleksi merchandise eksklusif yang bekerja sama dengan Goods Dept. Merchandise tersebut akan tersedia di seluruh gerai Goods Dept dan berbagai kanal penjualan daring Goods Dept.

Sebelumnya juga telah digelar rangkaian pemutaran film-film produksi Palari Films dan karya sutradara Edwin di Krapela, Jakarta Selatan dalam program bertajuk Eyes Wide Club. Program tersebut menjadi kerja sama Palari Films dengan Krapela dan Whiteboard Journal, berlangsung selama tiga hari pada 30 Maret-1 April 2026, yang juga menjadi bagian perayaan Hari Film Nasional.

Perjalanan 10 Tahun Berkarya Palari Films juga ditampilkan dalam sebuah pameran yang digelar di Museum MACAN, Jakarta Barat. Di pameran ini, pengunjung dapat menikmati memorabilia film-film persembahan Palari Films.

"Membuat film itu bagaikan sebuah perkawinan. Proses development-nya terasa seperti masa pacaran, lalu syuting yang terasa seperti wedding party, dan melahirkan anak saat filmnya rilis. 10 tahun 10 karya adalah masa mengumpulkan kepercayaan. Terima kasih untuk para penonton film Indonesia dan para kolaborator industri film baik dari para investor, mitra kolaborator, hingga pemeran dan kru. 10 tahun ke depan adalah harapan dan tantangan keberlanjutan lewat ko-produksi sesama rumah produksi, kerja sama talenta muda, dan mengasah kreativitas. Palari Films akan terus berlayar melahirkan karya-karya yang mampu menjadi refleksi zaman, dan kami mengundang para partner baru untuk berlayar bersama. Jangan kapok nonton film Indonesia," tutup produser dan Co-Founder Palari Films Meiske Taurisia.

EMPAT MUSIM PERTIWI MERILIS FIRST LOOK RESMI SETELAH MENYELESAIKAN COLOR GRADING DI AMSTERDAM



Jakarta / Amsterdam, 2026 - Forka Films merilis first look resmi Empat Musim Pertiwi (Four Seasons In Java), film terbaru karya sutradara Kamila Andini, menandai selesainya salah satu tahap akhir produksi: color grading di Storm Post Production Studio, Amsterdam.

Tahap color grading menjadi proses krusial dalam membentuk nuansa visual dan atmosfer emosional sebuah film. Untuk Empat Musim Pertiwi, proses ini dipercayakan kepada koloris internasional Peter Bernaers, yang dikenal melalui karya-karyanya dalam film Whot Happened to Monday, Raw, Mandy, Annette, dan Bergman Island. Bernaers juga merupakan koloris di balik Titane karya Julie Ducournau yang meraih penghargaan tertinggi Palme d'Or di Festival Film Cannes 2021, serta Annette karya Leos Carax yang membuka kompetisi festival tersebut di tahun yang sama.

Keterlibatan Bernaers menjadi bagian dari upaya Forka Films untuk menghadirkan standar sinematik kelas dunia, sekaligus memperkuat kualitas visual dan pengalaman sinematik yang menjadi ciri khas karya-karya Kamila Andini.

Empat Musim Pertiwi sendiri telah melalui perjalanan pengembangan di lebih dari enam project market internasional termasuk Berlinale Co-Production Market, CineMart Rotterdam, Venice Gap-Financing Market, dan Tokyo Gap Financing Market, dan mendapatkan dukungan dari tujuh pendanaan global diantaranya Hubert Bols Fund, CNC Cinema du Monde, Sørfond, Kementerian Kebudayaan RI, dan Vision Sud Est, mencerminkan kuatnya posisi film ini dalam ekosistem perfilman internasional.

Empat Musim Pertiwi adalah ko-produksi internasional antara Indonesia, Perancis, Belanda, Norwegia, Singapura dan Polandia. Film ini dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim, dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah dari Forka Films bersama Anthony Chen dari Giraffe Pictures (Singapura).

Empat Musim Pertiwi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2026.


Tentang FORKA FILMS

Forka Films, sebelumnya dikenal sebagai Fourcolours Films, adalah perusahaan produksi film berbasis di Indonesia yang dipimpin oleh sutradara dan produser Ifa Isfansyah. Sejak didirikan pada tahun 2001, Forka Films secara konsisten memproduksi karya-karya yang mendapatkan pengakuan di berbagai festival film internasional.

Beberapa karya terkemuka Forka Films antara lain:
• Siti (Eddie Cahyono, Telluride 2015)
• Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Film Resmi Indonesia untuk OSCARS 2018)
• The Seen and Unseen (Kamila Andini, Toronto 2017)
• Memories of My Body (Garin Nugroho, Venice Orizzonti 2018)
• Yuni (Kamila Andini, Platform Prize Toronto 2021)
• Before, Now & Then (Kamila Andini, Silver Bear Berlinale 2022)
•• Cigarettes Girl (Ifa Isfansyah & Kamila Andini, Best Mini Series Seoul International Drama Awards 2024)

Forka Films terus berkomitmen untuk mendukung keberagaman sinema Indonesia serta mengembangkan talenta baru, dengan visi menghadirkan karya-karya berkualitas yang relevan di tingkat global.


BASE Entertainment Rilis Trailer, Poster, dan OST Garuda Di Dadaku, Film Animasi Keluarga tentang Mengejar Mimpi Bersama

  Film animasi keluarga untuk liburan sekolah tayang mulai 11 Juni 2026 di bioskop Jakarta, 7 April 2026 — Tidak ada mimpi yang berdiri send...