Senin, 16 Februari 2026

Film Terbaru Rachel Amanda dan Iqbaal Ramadhan dari Sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut World Premiere di Hadapan Hampir 2000 Penonton dan Mendapatkan Respons Positif di Berlinale 2026

 

Berlin, 15 Februari 2026 — Film terbaru rumah produksi Palari Films yang
disutradarai Edwin, Monster Pabrik Rambut baru saja melakukan world premiere
(penayangan perdana) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Tayang
di program Berlinale Special Midnight, world premiere Monster Pabrik Rambut
berlangsung pada Sabtu, 14 Februari 2026 di Uber Eats Music Hall, Berlin, Jerman.
World premiere juga turut dihadiri oleh sutradara Edwin, duo produser Meiske
Taurisia dan Muhammad Zaidy, serta jajaran pemeran Rachel Amanda, Iqbaal
Ramadhan, Sal Priadi, Luqman Hakim (Kak Kev) dan Aryani Willems.

Film Monster Pabrik Rambut pun mendapat sambutan yang meriah di hadapan
hampir 2000 penonton! Sekaligus menggugah dan mengguncang penonton
Berlinale, saat film ini menghadirkan visual yang menyeramkan mulai dari teror
‘hantu’ hingga matinya satu per satu para buruh di pabrik rambut.

“Di film Monster Pabrik Rambut saya mencoba mengeksplorasi berbagai gabungan
genre mulai dari horor, body-horror, dark comedy, hingga fantasi. Melalui
pendekatan film genre, saya ingin mengajak penonton untuk berefleksi terhadap
situasi yang terjadi saat ini, ketika hal seperti workaholic menjadi sebuah pujian,
alih-alih menjadi hal yang perlu kita kritisi,” ujar penulis dan sutradara Edwin.
Cineuropa dalam ulasannya menyebutkan, unsur kekerasan yang kocak sekaligus
sadis yang ada di film ini saja sudah cukup menjamin film ini mendapat tempat di
berbagai festival film genre internasional bergengsi. Namun, ada hal lain yang juga
ditawarkan film ini, selain unsur sadis dan horornya.

“Sisi yang lebih tenang dan sedih mengangkat film ini lebih dari sekadar hiburan
belaka. Ini seperti gaya Ken Loach namun dengan kesurupan iblis dan mata yang
dicungkil. Film genre terbaik selalu menyembunyikan sesuatu yang lebih dari
sekadar hantu masa lalu dan menyajikan lebih dari sekadar adegan jumpscares,”
tulis Cineuropa.


“Senang sekali Monster Pabrik Rambut mendapat respons positif dari audiens
internasional di Berlinale. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan film
ini dan mendapat respons positif juga saat tayang di Indonesia,” tambah pemeran
Iqbaal Ramadhan.

Sebelumnya, para kru dan pemeran Monster Pabrik Rambut juga menghadiri
Opening Gala Berlinale ke-76 yang berlangsung pada Kamis, 12 Februari 2026.
Sementara itu, film Monster Pabrik Rambut masih akan tayang di Berlinale
sebanyak lima kali hingga 22 Februari 2026 di berbagai lokasi berlangsungnya
festival.

Program Berlinale Special Midnight merupakan program khusus di Berlinale yang
mengkurasi karya-karya inovatif dan beragam dari berbagai dunia, termasuk
film-film genre.

Film ini ditulis Edwin bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga. Diproduseri
oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut menjadi
ko-produksi internasional antara Indonesia (Palari Films dan Beacon Film),
Singapura (Giraffe Pictures), Jepang (Hassaku Lab), Jerman (In Good Company),
dan Prancis (Apsara Films).

Sebelumnya, film panjang kedua Edwin, Kebun Binatang (Postcards from the Zoo,
2012) berkompetisi di program utama (Main Competition) Berlinale ke-62. Film
Aruna & Lidahnya (2018) juga pernah ditayangkan di Berlinale dalam program
Culinary Cinema. Film pendeknya, Trip to the Wound (2007) juga turut ditayangkan
di Berlinale 2009.

Film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) segera tayang di bioskop Indonesia
tahun 2026! 
***

Tiket World Premiere Ghost in the Cell Sold Out! Film Terbaru Joko Anwar Dapat Sambutan Meriah dari Penonton Berlinale Ghost in the Cell akan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026

 



Berlin, 14 Februari 2026 — Film horor komedi satir terbaru dari penulis dan

sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah saat

penayangan perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival

(Berlinale) 2026! Antusiasme untuk film ini sudah terasa sejak penjualan tiket untuk

seluruh pemutaran film ini terjual habis (sold out), hingga saat world premiere film

ini mendapat tepuk tangan gemuruh dan respons positif dari para penonton.

Di Berlinale 2026, film Ghost in the Cell diputar dalam program Forum, yang dikenal

sebagai program yang menampilkan kurasi film-film dengan visi sinematik yang

kuat, berani secara bentuk, serta tajam dalam membaca realitas sosial dan politik. Di

Berlinale, Ghost in the Cell diputar selama empat kali pada 13–22 Februari 2026,

atau selama festival film tersebut berlangsung.


“Kami ingin bikin film yang benar-benar menghibur. Tapi ketika film selesai, akan

ada pemikiran yang nempel di kepala mereka tentang situasi hidup di Indonesia,”

kata penulis dan sutradara Joko Anwar. Sambutan penonton ketika film

diputar di Berlinale merefleksikan ini. Penonton tertawa lepas dan berteriak-teriak

tepuk tangan sepanjang film. Di sesi tanya jawab, penonton mengklaim Ghost in the

Cell sebagai “masterpiece”, “luar biasa lucu”, “menakutkan”, dan “sarat tonjokan

politik dan sosial”.



Di film ini, Joko mengeksplorasi elemen horor supernatural—yang dalam dekade

terakhir ia selalu memberikan penyegaran genre tersebut—terasa menjadi sesuatu

yang tak terelakkan, alih-alih sekadar sebagai tontonan yang hanya menghibur. Joko

menyebutkan, di film Ghost in the Cell ia ingin lebih berfokus pada karakter secara

mendalam, tak hanya sekadar mengandalkan bangunan set yang ada di filmnya.

“ini adalah film kami yang paling menghibur saat ini tapi juga reflektif,” tambah

Joko.


Produser Tia Hasibuan mengungkapkan perasaan leganya setelah Ghost in the

Cell mendapat sambutan yang meriah dan antusias dari audiens internasional.

“Cerita di film ini sangat merefleksikan apa yang terjadi dengan dinamika yang ada

di Indonesia. Namun, saat melihat respons penonton dari luar Indonesia di

Berlinale, ternyata horor komedi satir ini juga bisa relate dengan mereka. Semoga

sambutan positif ini berlanjut saat filmnya tayang di Indonesia pada 16 April 2026.”


Ghost in the Cell akan menjadi persembahan karya sinematik terbaru dari maestro

Joko Anwar, yang pada akhir tahun lalu ia dianugerahi gelar tanda kehormatan

sekaligus penghargaan tertinggi kebudayaan oleh Pemerintah Prancis, Chevalier de

l'Ordre des Arts et des Lettres. Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengakuan

pencapaian artistik Joko dalam dua dekade perjalanannya di perfilman Indonesia.

Karya terakhir yang disutradarainya, Pengepungan di Bukit Duri, juga

memenangkan Piala Citra FFI 2025 terbanyak, (5 Piala Citra), dan meraih 3

penghargaan di Festival Film Pilihan Tempo.


Tonton, rasakan, dan renungkan karya terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell mulai

16 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia! Ikuti terus informasi terbaru dan

perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

***

Film Antara Cinta, Mama, dan Surga: Drama Restu, Cinta, dan Pergulatan AnakOrang Tua dalam Balutan Budaya Batak

 

Film karya PIM Pictures yang bekerja sama dengan HKBP dan BPODT ini mengisahkan konflik emosional antara keluarga, cinta, dan pilihan hidup yang tidak mudah, dibalut dalam bahasa cinta Nommensen yang penuh makna.

Jakarta, 16 Februari 2026 – PIM Pictures memperkenalkan film terbaru mereka Antara Mama Cinta dan Surga kepada publik dan media dalam rangkaian Press Screening & Press Conference di Epicentrum XXI. Film ini menghadirkan drama keluarga yang mengangkat konflik klasik namun relevan lintas generasi: pilihan antara cinta, restu orang tua, dan masa depan. Film ini akan tayang di bioskop mulai 19 Februari 2026,

Disutradarai oleh Agustinus Sitorus, film ini tidak hanya menyuguhkan kisah personal seorang anak yang terhimpit ekspektasi keluarga, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang komunikasi, pengorbanan, dan makna restu dalam keluarga Batak.

Film ini bercerita tentang Bernard (Aldy Maldini), anak bungsu Batak yang diinginkan menjadi seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) sesuai tradisi keluarga. Namun, bertemu dengan Nommensen dalam beberapa mimpi spiritual membuatnya merasa terpanggil menjadi pendeta. Keputusannya memicu konflik dengan sang Mamak (Dharty Manullang) dan mengguncang hubungannya dengan Anindita (Anneth Delliecia), di tengah benturan iman, cinta, dan nilai keluarga.

Saya memilih konflik ini karena keluarga, cinta, dan keyakinan adalah tiga hal yang paling sering bertentangan dalam kehidupan nyata, namun jarang dibicarakan secara jujur. ujar Agustinus.

Konflik antara tradisi keluarga Batak, panggilan iman, dan pilihan hidup generasi muda digambarkan melalui konflik batin anak bungsu yang terhimpit antara keyakinan, cinta, dan harapan keluarga. Tekanan yang silih berganti, mulai dari dalam dirinya maupun dari lingkungan terdekat. Di tengah cinta yang tulus dan nilai-nilai keluarga yang dijunjung tinggi, perlahan menyadari bahwa setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi.

Drama Keluarga yang Relatable dan Reflektif

Dalam film ini, Bernard harus menghadapi tekanan besar dari sang ibu yang menginginkan ia menjadi Pegawai Negeri Sipil dan menikahi perempuan dengan pilihan keluarga. Di sisi lain, ia memiliki cinta dan impian yang berbeda di perantauan.

Aldy Maldini, yang memerankan Bernard, mengaku karakter ini menjadi salah satu tantangan terbesarnya sepanjang karier.

Ini pertama kali aku memerankan karakter yang benar-benar terhimpit. Biasanya karakterku dekat dengan diriku sendiri, yang seru dan suka bercanda. tapi Bernard ada di fase yang sulitdia harus memilih antara keinginannya sendiri dan harapan orang tuanya. Itu yang bikin peran ini jadi yang paling susah buat aku.

Ia juga menambahkan bahwa proses pendalaman karakter dilakukan melalui diskusi intens bersama sutradara dan lawan main Anneth Delliecia untuk memahami konflik batin Bernard yang tidak selalu meledak secara verbal, tetapi lebih banyak dipendam.

Dengan latar budaya yang kuat, film ini menyoroti tekanan sosial, makna pengorbanan orang tua, serta keberanian menentukan masa depan sendiri sebagai refleksi tentang identitas dan kehidupan.

Bagi Anneth Delliecia, film ini menjadi pengalaman layar lebar pertamanya. Ia memerankan Anindita, sosok perempuan yang berada di tengah pusaran konflik Bernard.

Anneth mengaku proses syuting menjadi pengalaman berharga, terutama karena film ini juga mengambil lokasi di Sumatera Utara.

Ini film layar lebar pertama aku, dan rasanya spesial banget. Syuting di Toba itu pengalaman yang nggak terlupakan. Selain ceritanya kuat, suasananya juga terasa sangat emosional dan dekat.

Ia juga mengungkapkan bahwa bekerja kembali bersama Agustinus Sitorus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membantunya lebih percaya diri dalam mengeksplorasi karakter.

Sosok Ibu yang Tegas, Tapi Penuh Cinta

Salah satu karakter paling kuat dalam film ini adalah sosok Mamak yang diperankan oleh Dharty Manullang. Di permukaan, karakter ini tampak dominan dan memaksakan kehendak. Namun di balik itu, tersimpan ketakutan dan kasih sayang yang besar terhadap anaknya.

Dalam sesi press conference, Dharty menyampaikan refleksi personalnya sebagai seorang ibu.

Kadang kita sebagai ibu merasa paling benar. Kita pikir pilihan kita pasti yang terbaik. Padahal anaklah yang menjalani hidupnya. Dari film ini saya belajar, jangan sampai karena kita terlalu dominan, komunikasi dengan anak justru hilang.

Ia juga menekankan bahwa karakter Mamak tidak dimaksudkan sebagai antagonis, melainkan representasi banyak orang tua yang ingin anaknya sukses dengan cara yang mereka pahami.

Salah satu kekuatan film ini adalah absennya antagonis mutlak. Setiap karakter bertindak atas dasar cinta dan keyakinan masing-masing. Konflik tidak dibangun dari kebencian, melainkan dari perbedaan cara memaknai masa depan dan kebahagiaan.

Novia Tumeang yang memerankan karakter pilihan kedua dalam hubungan cinta Bernard mengaku tertantang karena harus menghidupkan emosi yang belum pernah ia alami secara pribadi. Sementara Jenda Munthe menekankan pentingnya totalitas dalam setiap peran, besar maupun kecil.

Interaksi hangat antar pemain selama press conference juga menunjukkan kekompakan tim produksi yang solid dan suportif, mencerminkan energi positif yang turut terasa dalam filmnya.

Dibintangi juga oleh Kang Joe, Cok Simbara, Dorman Manik, Dominique Sanda, Tabitha Napitupulu, Novia Situmeang, Rany Simbolon, Fadlan Holao, Jenda Munthe, Mark Natama, dan akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 19 Februari 2026, sebagai film drama yang mengangkat realitas budaya dan konflik batin.

Minggu, 15 Februari 2026

Erma Fatima Comeback? Lukman Sardi, Bara Valentino hingga Elina Joerg Muncul di Unggahan Misterius

 

Industri hiburan kembali dibuat penasaran setelah sutradara dan produser nomor satu Malaysia, Erma Fatima, mengunggah carousel foto misterius di akun Instagram pribadinya, @ermafatima.


Tanpa keterangan detail proyek, tanpa judul resmi, dan tanpa penjelasan format, unggahan tersebut justru menampilkan momen behind the scenes yang memperlihatkan sejumlah nama besar Indonesia berada di bawah arahan Erma Fatima.



Dalam foto-foto tersebut, terlihat Lukman Sardi, Elina Joerg, Bara Valentino, serta aktris Malaysia Puteri Sarah dan Anna Jobling yang sebelumnya dikenal lewat sejumlah proyek lintas negara. Kehadiran deretan pemain ini langsung memicu spekulasi luas di kalangan media dan warganet.

Apakah ini film baru? Serial? Atau proyek kolaborasi Malaysia–Indonesia yang lebih besar dari yang dibayangkan?


Setelah hampir satu dekade tidak menyutradarai proyek besar, unggahan ini disebut-sebut sebagai sinyal kuat kembalinya Erma Fatima ke dunia penyutradaraan. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai judul, format, maupun tanggal tayang proyek tersebut.



Sikap diam Erma Fatima justru memperkuat rasa penasaran publik. Satu hal yang pasti, kombinasi nama besar seperti Lukman Sardi dan Anna Jobling di bawah arahan Erma Fatima bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan.

Publik kini hanya bisa menunggu: kejutan apa yang tengah disiapkan?

Sabtu, 14 Februari 2026

Diangkat dari Kisah Nyata Asrama Kampus, Dea Annisa Tampil Berbeda sebagai Gwen

 

Dea Annisa memerankan tokoh Gwen, seorang mahasiswi pemberani yang berusaha menguak misteri di balik kejadian aneh di asrama putri

Jakarta, 13 Februari 2026 - Industri film horor Indonesia kembali diramaikan oleh judul baru berjudul Asrama Putri, produksi Puras Production, telah menggelar Press Screening dan Press Conference film "Asrama Putri" Hari ini, di XXI Epicentrum Jakarta. Film ini digarap oleh sutradara Wishnu Kuncoro dan terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di sebuah asrama putri kampus ternama di Bogor, Jawa Barat.

Berbeda dari horor pada umumnya, Asrama Putri tidak semata mengandalkan efek kejut. Film ini lebih menonjolkan kekuatan cerita, atmosfer yang mencekam, serta konflik psikologis yang berpadu dengan isu sosial yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Diproduseri oleh Adipati Karna, Serta di Sutradarai oleh Wishnu Kuncoro film “Asrama Putri” mengangkat kisah teror hantu Sally di sebuah asrama kampus yang berkaitan dengan dendam masa lalu, bisnis prostitusi ilegal, dan kesurupan massal. Dibintangi Dea Annisa (Gwen) dan Samuel Rizal (Lazuardi), film ini mengungkap misteri buku harian kelam. 

Film “Asrama Putri” diperkuat oleh jajaran pemain Dea Annisa (sebagai Gwen), Samuel Rizal (sebagai Dosen Lazuardi), Mawar Butterfly (sebagai Mia), Monique Henry (sebagai Rektor Liza), Nasywa Auliya (sebagai hantu Sally), Nadya Ulya (sebagai Loly), Bima Prawira (sebagai Miko), Surya Rangga/Kusumah (sebagai Beny), Luz Viktoria Yamawaki, Kinara, Albrilio Imanuel, Raisya Laily, Sherly. 

Menggabungkan kisah nyata, horor psikologis, dan isu sosial, film ini berpotensi menjadi tontonan horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam.


SINOPSIS "ASRAMA PUTRI"

Kehadiran MIA sebagai Dosen baru di kampus itu secara tidak sengaja bersamaan dengan sebuah peristiwa kesurupan masal yang di alami para mahasiswa, meskipun dapat dengan mudah teratasi oleh LIZA sang Rektor, namun tidak semata menghilangkan efek pada beberapa mahasiswa, salah satunya LOLY. Mahasiswi yang tinggal sekamar dengan GWEN di ASRAMA PUTRI itu menjadi lebih sensitive dan mudah sekali kerasukan. 

Namun kerasukan bukanlah satu-satu nya masalah di kampus itu, bisnis prostitusi yang di jalankan MIKO dan BENNY juga cukup meresahkan para mahasiswa/i disitu. Semua masalah itu semakin tak terkendali Ketika hadirnya SALLY, sosok hantu Wanita berbadan sebelah manusia yang di setiap penampakannya membawa korban hingga menyebabkan kematian yang mengenaskan. 

GWEN dan MIA mencoba memecahkan semua problematika yang ada di kampus itu dan khususnya di ASRAMA PUTRI, menelusuri keterkaitan SALLY dengan semua orang yang ada di kampus tersebut. Sampai saat ditemukan nya sebuah kisah dari buku harian yang di duga milik SALLY bahwa SALLY semasa hidupnya pernah mencintai seorang Dosen Bernama Lazuardi yang pada akhirnya SALLY sangat membencinya.

Saksikan kisahnya dalam Film "Asrama Putri" yang akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 19 Februari 2026.

Jumat, 13 Februari 2026

Viu & MaxStream Mempersembahkan Tiba Tiba Brondong, Sebuah Komedi Romantis Tentang Cinta Tanpa Batas Usia

 

Dibintangi Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, dan Cinta Brian, serial 9 episode ini tayang perdana pada 13 Februari 2026 dan mengeksplorasi kekacauan romansa beda usia yang tak terduga.


PCCW (SEHK:0008) – INDONESIA, 13 Februari 2026. Viu Indonesia bersama MaxStream secara resmi mengumumkan serial original kolaborasi ketiga mereka berjudul *Tiba Tiba Brondong*, sebuah komedi romantis yang berani menantang norma sosial dan merayakan cinta tanpa batas. Serial ini akan tayang perdana secara eksklusif pada 13 Februari, tepat menjelang Hari Valentine.

Seiring meningkatnya diskusi tentang hubungan beda usia, kemandirian perempuan, dan ekspektasi sosial di berbagai platform digital, penonton kini semakin mempertanyakan norma lama tentang cinta dan pasangan hidup. Dengan konten romansa beda usia yang telah mengumpulkan lebih dari 737 juta penayangan di TikTok, topik ini menjadi perbincangan budaya yang menonjol di kalangan Gen Z dan milenial.

Dibintangi Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, dan Cinta Brian, serial sembilan episode ini menyajikan kisah romantis yang dipadukan dengan humor dan ketegangan emosional.

*Tiba Tiba Brondong* mengikuti kisah Isabella “Bella” Rahardja (Tatjana Saphira), seorang perempuan cerdas dan sukses berusia 36 tahun yang status lajangnya tak pernah luput dari sorotan. Untuk menghindari tekanan yang terus-menerus, Bella mencoba peruntungan lewat kencan online—hingga ia menyadari bahwa pria menawan yang selama ini mengobrol dengannya, Langit (Fady Alaydrus), ternyata adalah seorang fresh graduate berusia 18 tahun.

Terkejut, Bella memutus semua komunikasi. Namun, kejutan yang lebih besar menantinya ketika Langit ternyata menjadi mahasiswa barunya di kampus.

Apa yang awalnya menjadi pertemuan canggung perlahan berkembang menjadi chemistry yang tak terbantahkan, menempatkan mereka di pusat skandal, penilaian, dan konflik emosional. Hubungan mereka diuji oleh dekan kampus yang manipulatif, ibu Langit yang gemar menjodohkan, serta kembalinya mantan Bella yang “sempurna”, Raka (Cinta Brian).

Memadukan romansa, komedi, dan cerita emosional, serial ini menghadirkan tawa, kekacauan, dan momen-momen menyentuh yang mencerminkan perjuangan cinta modern—terutama bagi perempuan yang harus menghadapi ekspektasi, penilaian, dan keinginan.

*Tiba Tiba Brondong* adalah kisah hangat dan berani yang membuktikan bahwa cinta tidak mengikuti aturan—melainkan mengikuti hati.

Penonton dapat menyaksikan *Tiba Tiba Brondong* di Viu dan MAXStream. Untuk pengalaman terbaik, penonton dapat berlangganan paket bundling MAXStream dan Viu melalui MyTelkomsel dan menikmati pengalaman menonton yang mulus di berbagai perangkat.

Viu dan MAXStream tersedia untuk diunduh gratis di App Store, Google Play, serta di smart TV tertentu, atau dengan mengunjungi [www.viu.com](http://www.viu.com) dan [www.MAXStream.tv](http://www.MAXStream.tv).

Trailer resmi dan gambar *Tiba Tiba Brondong* kini sudah tersedia.



Wujudkan Mimpi Anak Indonesia, Mahakarya Pictures Rilis Trailer Resmi Film Petualangan 'Pelangi di Mars'

 


Jakarta, 13 Februari 2026 - Mahakarya Pictures merilis trailer resmi film anak bertema petualangan dan fiksi ilmiah, Pelangi di Mars, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat 13 Februari 2026. Film ini mengangkat kisah perjalanan seorang anak Indonesia di Planet Mars yang mengemban misi penting demi mengatasi krisis air di Bumi. Dikembangkan selama lima tahun, produksi ini menggunakan teknologi Extended Reality (XR) untuk mendukung kedalaman penyampaian ceritanya.


Menghadirkan Alternatif Cerita untuk Anak Indonesia

Produser Dendi Reynando mengungkapkan bahwa kehadiran Pelangi di Mars berangkat dari kepeduliannya terhadap keterbatasan pilihan tontonan bagi keluarga di tanah air. "Pelangi di Mars lahir karena menurut saya film untuk anak dan keluarga masih sangat terbatas (under supply). Saya ingin memberikan satu alternatif untuk anak Indonesia, agar anak-anak kita memiliki cerita mereka sendiri," ujar Dendi Reynando.

Baginya, film ini adalah upaya untuk memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia agar tetap memiliki keterikatan dengan identitas dan imajinasi mereka melalui media sinema.


Cerita Pelangi Sebagai Seorang Anak, Sebagai Pusat Cerita

Berbeda dengan narasi film anak pada umumnya, Pelangi di Mars menempatkan anak Indonesia sebagai penggerak utama cerita. Tokoh utama, Pelangi (diperankan oleh Messi Gusti), digambarkan sebagai sosok yang aktif, memimpin, dan mampu membawa solusi bagi persoalan besar.

Sutradara Upie Guava menyebutkan bahwa pendekatannya dalam menggarap film ini banyak dipengaruhi oleh kegemarannya pada film fiksi ilmiah sejak kecil. Melalui film ini, ia ingin mengembalikan hak anak-anak untuk memiliki imajinasi tanpa batas.

Bagi Upie Guava, Pelangi di Mars adalah jawaban atas kegelisahannya terhadap ruang imajinasi generasi muda. "Saya ingin anak-anak percaya bahwa tidak ada batas yang tidak bisa ditembus. Di sini, anak-anak adalah pahlawannya," tegas Upie.


Kisah yang Diperkuat dengan Teknologi yang Mumpuni

Meskipun diproduksi di Studio DossGuavaXR dengan melibatkan animasi 3D dan robot interaktif, seluruh kecanggihan tersebut diposisikan semata-mata sebagai alat untuk memperkuat pesan dan emosi dalam film. Narasi "Pahlawan lahir dari keberanian" menjadi napas utama dari setiap adegan yang dihasilkan melalui proses panjang selama bertahun-tahun.

Nilai kepahlawanan yang lahir dari keberanian itu sudah bisa dirasakan dari Official trailer-nya. Penonton diajak mengikuti kisah Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, karena ia terdampar bersama ibunya, Pratiwi.

Bersama teman-teman robotnya melanjutkan misi ibu Pratiwi untuk menemukan mineral bernama Zeolith Omega yang dapat menjadi solusi untuk krisis air bersih di Bumi dan bertemu dengan ayah Pelangi.

Suasana pemutaran ini semakin semarak dengan kehadiran Messi Gusti (pemeran Pelangi) dan para pengisi suara robot ikonik: Bimoky, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya. Kejutan besar terjadi ketika lima robot dari film tersebut muncul secara nyata di lokasi acara, menyapa awak media dan memberikan pengalaman yang tak biasa saat memasuki dunia Pelangi di Mars.

Kristo Immanuel menyatakan kekagumannya terhadap kualitas yang tidak main-main dari proyek ini. "Anak-anak dan orang-orang dewasa Indonesia layak mendapatkan konten berkualitas tinggi, dan Pelangi di Mars hadir untuk itu," ungkap Kristo.


Tayang Serentak di Momen Lebaran 2026

Siapkan diri untuk petualangan keluarga paling spektakuler tahun ini. Pelangi di Mars dijadwalkan akan mengguncang layar lebar di seluruh Indonesia tepat pada momen perayaan Lebaran, 18 Maret 2026.

Trailer nya 



Film Terbaru Rachel Amanda dan Iqbaal Ramadhan dari Sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut World Premiere di Hadapan Hampir 2000 Penonton dan Mendapatkan Respons Positif di Berlinale 2026

  Berlin, 15 Februari 2026 — Film terbaru rumah produksi Palari Films yang disutradarai Edwin, Monster Pabrik Rambut baru saja melakukan wor...