Jumat, 03 April 2026

Jakarta Youth Film Festival 2026 Spesial Hari Film Nasional: "Yang Muda Yang Bersuara"

 


Jakarta, 2 April 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, Jakarta Youth Film Festival 2026 (J-Youth Film Fest) menghadirkan program spesial bertajuk "Yang Muda Yang Bersuara", sebuah rangkaian pemutaran film pendek dan diskusi bersama insan perfilman Indonesia. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 2 April 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat.

J-Youth Film Fest merupakan inisiatif kolaboratif antara Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor perfilman. Mengusung tema "Jakarta Kota Kita", festival ini bertujuan mendorong kreativitas generasi muda sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai Kota Sinema.

Sebagai edisi perdana, J-Youth Film Fest diharapkan menjadi ruang kolaboratif bagi pelajar dan mahasiswa untuk berekspresi, belajar, serta membangun jejaring dengan sesama kreator dan pelaku industri film. Festival ini juga menjadi sarana edukasi publik terkait peran Bank Indonesia dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan sektor kreatif.

Melalui program Perayaan Hari Film Nasional, J-Youth Film Fest mengajak publik untuk menelusuri perkembangan perfilman Indonesia sekaligus melihat peran penting generasi muda dalam membentuk masa depan industri. Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan

Dalam sambutannya, Iwan Setiawan menyampaikan bahwa "Ekonomi kreatif merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru yang menunjukkan kinerja positif, dengan pertumbuhan mencapai 9,42% (yoy) pada Semester 1 2025. Dengan komposisi penduduk Jakarta yang didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z (50,5%), generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi. Lebih lanjut, industri film memiliki multiplier effect yang luas karena mampu menggerakkan berbagai sektor pendukung, seperti pariwisata, kuliner, fashion, dan transportasi. Selain itu, film juga berperan sebagai media efektif memperkuat citra kota di tingkat global, sejalan dengan visi Jakarta sebagai Kota Sinema."

Sementara itu, Rano Karno menyampaikan apresiasinya kepada Bank Indonesia, khususnya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta atas inisiatif penyelenggaraan Perayaan Hari Film Nasional ini. "Saya apresiasi pemilihan tempat acara hari ini yang dilaksanakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Acara hari ini dan J-Youth Film Fest diharapkan dapat menjadi salah satu program unggulan dalam penguatan industri film di Jakarta yang mampu menciptakan ruang kolaborasi, meningkatkan kualitas talenta, serta mendorong lahirnya karya-karya yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global."

Sesi diskusi "Yang Muda Yang Bersuara menghadirkan dua tokoh perfilman Indonesia, yaitu Riri Riza dan Prilly Latuconsina. Riri Riza, sutradara dan penulis yang telah berkarya sejak tahun 1990-an, berbagi pengalaman serta perspektifnya mengenai perkembangan industri film Indonesia dan pentingnya peran filmmaker muda. Sementara itu, Prilly Latuconsina, aktris sekaligus Ketua Pelaksana Festival Film Indonesia, memberikan pandangannya mengenai dinamika industri saat ini serta perjalanan karirnya sebagai inspirasi bagi generasi muda.

Selain sesi talkshow, acara ini juga menampilkan pemutaran lima film pendek Indonesia lintas generasi, yaitu Sonata Kampung Bata (1993) disutradarai oleh Riri Riza, Harap Tenang Ada Ujian (2006) disutradarai oleh Ifa Isfansyah, Dancing Colors (2022) disutradarai oleh Reza Fahriansyah, Layla Want It (2023) disutradarai oleh Mauliya Maila dan Machine Vacation (2025) disutradarai oleh Hadafi Raihan Karim. Pemilihan film ini merepresentasikan perkembangan estetika, narasi, dan semangat generasi muda dalam perfilman Indonesia dari masa ke masa.

Melalui program ini, J-Youth Film Fest menegaskan komitmennya dalam membuka ruang dialog antara generasi muda dan pelaku industri, sekaligus mendorong lahirnya talenta serta gagasan baru yang relevan dengan dinamika perkotaan Jakarta.

Dengan semangat "Yang Muda Yang Bersuara", festival ini menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk menyampaikan perspektif, emosi, dan ide melalui medium film, serta berkontribusi aktif dalam membentuk masa depan perfilman Indonesia.

Pada akhir acara ini diumumkan bahwa untuk pendaftaran program Lensa Kompetisi Pelajar dan Lensa Kompetisi Mahasiswa, serta program submisi ide cerita film pendek, Jakarta Film Fund for Student, waktu tenggat submisi diperpanjang hingga 30 April 2026.

Sebelumnya masih dalam rangkaian program pra-festival atau Roadshow, J-Youth Film Fest mengunjungi sekolah dan universitas di daerah DKI Jakarta untuk memperkenalkan kompilasi film pendek kepada para pelajar dan mempertemukan mereka bersama filmmaker Indonesia untuk langsung belajar dari para profesional.


Pertama, J-Youth Film Fest mengunjungi SMKN 51 Jakarta Timur dengan membawa Novia Puspa Sari (juri J-Youth Film Fest) serta Syifanie Alexander (perwakilan Jakarta Film Week). Kedua, kunjungan ke SMK Media Informatika Jakarta bersama Jason Iskandar (sutradara) dan Raslene (perwakilan Jakarta Film Week).

Selain itu, pada tanggal 7 dan 8 April, J-Youth Film Fest akan mengunjungi Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan dan kampus lainnya di Jakarta dan sekitarnya bersama Aco Tenriyagelli dan Aditya Ahmad, para juri kompetisi J-Youth Film Fest.

Informasi terbaru mengenai J-Youth bisa diakses di media sosial @jyouthfilmfest.



Film Na Willa Telah Menghangatkan Hati 1 Juta Penonton, Sutradara Ryan Adriandhy Jamin Ada Sekuelnya! Sukses Tembus 1 Juta Penonton, Dunia Na Willa akan berlanjut!

 


Jakarta, 3 April 2026 — Film persembahan Visinema Studios dari sutradara Ryan Adriandhy, Na Willa kini telah sukses meraih 1 juta penonton lebih di bioskop Indonesia. Membuktikan banyak hati keluarga dan anak Indonesia yang telah merasakan kehangatan cerita dari Dunia Na Willa yang membuat bahagia.

Raihan 1 juta penonton sekaligus menjadi catatan positif bagi Visinema Studios bersama trio kreator, sutradara Ryan Adriandhy dan duo produser Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai pencetak film blockbuster. Ini menjadi film kedua dimana ketiganya sukses mencetak blockbuster secara berturut setelah JUMBO.

"Bersyukur tanpa libur. Terima kasih kepada para penonton yang sudah membuka hati dan memberi ruang bagi Na Willa untuk hadir dalam perjalanan mereka. Bagi kami, Na Willa bukan hanya sebuah film, tapi sebuah ruang sederhana yang mengajak kita pulang kembali merasakan dunia dari sudut pandang seorang anak, dengan kejujuran, kehangatan, dan rasa ingin tahu yang mungkin pernah kita tinggalkan, karena Na Willa adalah kita.

Capaian 1 juta penonton ini bukan sekadar angka, tapi sinyal bahwa keluarga Indonesia merindukan cerita yang dekat, yang relevan, dan yang bisa dirasakan bersama. Ini menjadi pengingat sekaligus komitmen bagi kami di Visinema Studios untuk terus menghadirkan cerita keluarga dan anak yang bermakna untuk kita, untuk anak-anak kita, dan untuk anak-anak di dalam diri kita." ujar Chief of Content Officer Visinema Studios dan produser Na Willa Anggia Kharisma.

Raihan 1 juta penonton juga menjadi bukti bahwa kini penonton Indonesia telah mengenal Dunia Na Willa. Sutradara Ryan Adriandhy pun memastikan terkait kelanjutan sekuel Na Willa, yang akan segera hadir.

"Film Na Willa yang sekarang masih tayang di bioskop adalah awal. Dan masih akan ada kelanjutan ceritanya di film keduanya. Sekarang sudah masuk draft skenario untuk film kedua," ujar Ryan Adriandhy.

"Terima kasih kepada 1 juta penonton yang telah percaya dengan cerita Na Willa. Saya sangat senang melihat banyak orang dewasa bersukacita atas film yang dianggap 'sangat anak-anak. Terima kasih juga untuk penonton yang sudah berbahagia selama dua kali Lebaran, sejak JUMBO hingga Na Willa," ujar Ryan Adriandhy.

Beberapa penonton dewasa yang juga bersukacita menonton Na Willa adalah aktor dan komika Ardit Erwandha, yang menonton bersama istri dan anaknya. "Senyumku mengembang besar sekali melihat Na Willa sampai rumah langsung baring di lantai menikmati ademnya keramik. Terima kasih Ryan Adriandhy beserta cast dan crew yang sudah bekerja keras untuk Na Willa," kata Ardit Erwandha.

Produser, penulis, dan sutradara Ernest Prakasa juga menyampaikan kesannya setelah menonton film Na Willa. "Buat gue Na Willa ini film yang luar biasa, yang bagus banget. Nggak bakal nyesel deh lo nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

1 juta orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop. Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #BahagiaBareng Na Willa.

***

Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama,Keluarga

Sutradara: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Palari Films Rayakan 10 Tahun Perjalanan di Industri Film Indonesia, Memperkenalkan 7 Judul Film Terbaru: Monster Pabrik Rambut, Desember Jani, Menari dengan Bayangan, Baju Tebal, I Wanna Dance with Myself, Goldfish, dan Strange Root

 

Palari Films menggandeng jajaran sineas dan musisi terbaik Tanah Air: Ariani Darmawan, Baskara Putra, Khozy Rizal, dan Aditya Ahmad di proyek film terbaru

Jakarta, 2 April 2026 — Rumah produksi Palari Films merayakan 10 tahun perjalanannya di industri perfilman Indonesia, A Decade of Voyage! Dalam perjalanannya, rumah produksi yang didirikan produser Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy, dan sutradara Edwin ini telah menapak jejaknya sebagai salah satu rumah produksi yang sukses di berbagai ajang penghargaan dan melahirkan karya-karya film berkualitas.

Perjalanan awal Palari Films dimulai dengan film panjang garapan sutradara Edwin, Posesif (2017), yang berhasil memenangkan 3 Piala Citra FFI 2017 untuk Sutradara Terbaik (Edwin), Pemeran Utama Perempuan Terbaik (Putri Marino), dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru). Selama 10 tahun, Palari Films telah melahirkan 10 karya baik film, series, dan antologi film pendek, yang setiap tahunnya selalu mendapat tempat di penonton Indonesia, ajang penghargaan FFI, dan di dunia.


Prestasi dan Perjalanan Sedekade Palari Films

Palari Films membuktikan sebagai rumah produksi yang melahirkan karya berkualitas ditunjukkan dengan film berikutnya, Aruna & Lidahnya (2018). Film yang disutradarai Edwin ini juga mendapat pengakuan secara kritis dengan memenangkan Piala Citra FFI 2018 untuk Penulis Skenario Adaptasi Terbaik (Titien Wattimena) dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Nicholas Saputra). Film tersebut juga tayang di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2019 dalam program Culinary Cinema.

Salah satu prestasi paling prestisius yang pernah diraih oleh Palari Films adalah melalui karya ketiga mereka yang juga disutradarai Edwin, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Film ini memenangkan penghargaan utama di festival film internasional yang juga menjadi salah satu festival film tertua di dunia, Locarno.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas berhasil membawa pulang piala utama, Golden Leopard. Ini adalah pertama kalinya film Indonesia berhasil memenangkan penghargaan utama dalam ajang festival film internasional. Film ini juga berkeliling di berbagai festival film internasional lainnya, termasuk Toronto International Film Festival (TIFF) dan Busan International Film Festival (BIFF).

Sebagai rumah produksi yang terus bertumbuh, Palari Films juga menggandeng para sineas terbaik Indonesia untuk melahirkan karya-karya yang beragam. Termasuk bersama sutradara Lucky Kuswandi untuk menggarap Ali & Ratu Ratu Queens (2021), yang juga menjadi salah satu film Indonesia paling banyak ditonton di Netflix dan Top Search Google Indonesia 2021, serial Ratu Ratu Queens: The Series (2025), dan Yosep Anggi Noen melalui horor Tebusan Dosa (2024).

"Sepuluh tahun dan setiap cerita yang menemukan jalannya. Kami menoleh ke belakang sebelum melangkah maju, menghormati semua yang membuat dekade ini berarti. Peta ini ada karena tangan-tangan yang menggambarnya bersama kami. Kini, Palari Films berlayar menuju cakrawala yang lebih luas," ujar produser dan Co-Founder Palari Films Muhammad Zaidy.


7 Judul Film Terbaru Palari Films

Tahun ini, menandai marka 1 dekade berkarya Palari Films, karya-karya baru terus dilahirkan. Menggandeng para kolaborator sineas dan talenta terbaik Tanah Air. Dalam perayaan 10 Tahun Palari Films, diumumkan tujuh judul baru yang akan dirilis mendatang.

Ketujuh judul tersebut adalah Monster Pabrik Rambut yang disutradarai Edwin dan akan tayang 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia dan telah world premiere di Berlinale 2026, Desember Jani (sutradara Ariani Darmawan), Menari dengan Bayangan (sutradara Edwin, produser eksekutif Baskara Putra), Baju Tebal, I Wanna Dance with Myself (Khozy Rizal), Goldfish (Aditya Ahmad), dan Strange Root (Lam Li Shuen dan Mark Chua).

Monster Pabrik Rambut dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan memperkenalkan Kev. Film ini sekaligus menjadi kolaborasi kedua Iqbaal bersama Palari Films setelah Ali & Ratu Ratu Queens (2021). Di film Monster Pabrik Rambut, Iqbaal juga bertindak sebagai produser eksekutif. 

"Senang rasanya menjadi bagian dari satu dekade Palari Films. Monster Pabrik Rambut adalah proyek kolaborasi kedua saya dengan Palari Films setelah Ali & Ratu Ratu Queens. Dan kali ini, keterlibatan saya bisa lebih mendalam. Bagi saya, Palari Films adalah rumah produksi yang selalu mendorong batas kreativitas dan memberikan kesempatan berkarya seluas mungkin bagi para sineas dan talenta baru di perfilman Indonesia," ujar Iqbaal Ramadhan.


Palari Films dan Para Sineas Terbaik Tanah Air dan Internasional

Sutradara dan visual artist perempuan Ariani Darmawan, pendiri Kineruku di Bandung, akan bekerja sama dengan Palari Films lewat film panjang perdananya, Desember Jani. Sebelumnya, Ariani dikenal dengan film-filmnya yang banyak berkeliling festival film internasional seperti The Anniversaries (2006) yang tayang di Busan International Film Festival 2007, serta Sugiharti Halim (2008) yang berkompetisi di Clermont Ferrand Short Film Festival 2009. Desember Jani akan menjadi film panjang pertamanya sekaligus menjadi momen comeback-nya setelah sepuluh tahun hiatus.

Film Desember Jani akan dibintangi oleh Sigi Wimala, Chempa Putri, Hyori Mika, dan aktris senior Tutie Kirana. Ini akan menjadi film yang ini dibintangi, disutradarai, ditulis, dan diproduseri, semuanya oleh perempuan (all women project).

Film ini sebelumnya telah terseleksi untuk program Work-in-Progress di Hong Kong Asia Film Financing Forum 2026 (HAF24), sebuah forum yang mempertemukan dengan para calon mitra kolaborator internasional.

Baskara Putra akan menandai debutnya di perfilman Indonesia sebagai produser eksekutif di film Menari dengan Bayangan. Menari dengan Bayangan merupakan album debut Hindia yang dirilis pada 2019, dan kini akan diadaptasi menjadi film layar lebar dengan sutradara Edwin.

"Perjalanan baru bagi karya Menari dengan Bayangan yang akan hadir dalam medium baru bersama Palari Films. Bagi saya, Palari Films adalah salah satu rumah produksi yang mampu menciptakan karya-karya yang selalu inovatif, relevan, dan membicarakan apa yang tengah terjadi di masyarakat, merasa terhormat menjadi bagian dalam perjalanan tonggak penting satu dekade Palari Films," ujar Baskara Putra atau Hindia.

Selain Ariani Darmawan yang akan mempersembahkan film panjang debutnya, Palari Films juga bekerja sama dengan dua sutradara muda asal Makassar untuk film panjang debut mereka, Khozy Rizal dan Aditya Ahmad.

Film pendek Khozy, Basri & Salma in a Never-Ending Comedy (2023) menjadi film pendek Indonesia pertama yang berkompetisi untuk Short Film Palme d'Or, Cannes. Pada tahun 2024, film pendeknya Little Rebels Cinema Club memenangkan Crystal Bear untuk Film Pendek Terbaik di Generation Kplus Berlinale 2025. Bersama Palari Films akan menggarap I Wanna Dance with Myself. Film tersebut sebelumnya terseleksi dalam program ScriptLab di Torino Film Lab tahun ini.

Aditya Ahmad, yang sebelumnya sukses dengan film-film pendeknya seperti Sepatu Baru (2014) yang memenangkan Special Mention di program Generation KPlus Berlinale 2014 hingga Kado (2018) yang memenangkan Venice Horizons Award di Venice Film Festival, kini akan bekerja sama dengan Palari Films.

Sebelumnya, Adit menggarap film pendek (S)aya yang tergabung dalam antologi Piknik Pesona (2022) bersama Palari Films. Kini, ia akan kembali bekerja sama untuk film panjang debutnya berjudul Goldfish. Film Goldfish sebelumnya telah mengikuti program residensi (the Résidence) pengembangan naskah Cinema de Demain Cannes Film Festival 2024, serta Script Lab di Torino Film Lab 2025.

Sementara itu, Palari Films juga tetap menjalin ko-produksi internasional seperti yang telah dilakukan dalam perjalanan 10 tahun pertama mereka. Kali ini, melalui proyek film Strange Root (Keinginan), Palari Films bekerja sama dengan sutradara Lam Li Shuen dan Mark Chua. Film ini merupakan ko-produksi dengan 13 Little Pictures, Singapura, dengan Indonesia, Jerman, Belanda, dan Filipina.


Merchandise dan Pameran Satu Dekade Palari Films

Dalam momen perayaan 10 Tahun Berkarya Palari Films, juga dirilis koleksi merchandise eksklusif yang bekerja sama dengan Goods Dept. Merchandise tersebut akan tersedia di seluruh gerai Goods Dept dan berbagai kanal penjualan daring Goods Dept.

Sebelumnya juga telah digelar rangkaian pemutaran film-film produksi Palari Films dan karya sutradara Edwin di Krapela, Jakarta Selatan dalam program bertajuk Eyes Wide Club. Program tersebut menjadi kerja sama Palari Films dengan Krapela dan Whiteboard Journal, berlangsung selama tiga hari pada 30 Maret-1 April 2026, yang juga menjadi bagian perayaan Hari Film Nasional.

Perjalanan 10 Tahun Berkarya Palari Films juga ditampilkan dalam sebuah pameran yang digelar di Museum MACAN, Jakarta Barat. Di pameran ini, pengunjung dapat menikmati memorabilia film-film persembahan Palari Films.

"Membuat film itu bagaikan sebuah perkawinan. Proses development-nya terasa seperti masa pacaran, lalu syuting yang terasa seperti wedding party, dan melahirkan anak saat filmnya rilis. 10 tahun 10 karya adalah masa mengumpulkan kepercayaan. Terima kasih untuk para penonton film Indonesia dan para kolaborator industri film baik dari para investor, mitra kolaborator, hingga pemeran dan kru. 10 tahun ke depan adalah harapan dan tantangan keberlanjutan lewat ko-produksi sesama rumah produksi, kerja sama talenta muda, dan mengasah kreativitas. Palari Films akan terus berlayar melahirkan karya-karya yang mampu menjadi refleksi zaman, dan kami mengundang para partner baru untuk berlayar bersama. Jangan kapok nonton film Indonesia," tutup produser dan Co-Founder Palari Films Meiske Taurisia.

EMPAT MUSIM PERTIWI MERILIS FIRST LOOK RESMI SETELAH MENYELESAIKAN COLOR GRADING DI AMSTERDAM



Jakarta / Amsterdam, 2026 - Forka Films merilis first look resmi Empat Musim Pertiwi (Four Seasons In Java), film terbaru karya sutradara Kamila Andini, menandai selesainya salah satu tahap akhir produksi: color grading di Storm Post Production Studio, Amsterdam.

Tahap color grading menjadi proses krusial dalam membentuk nuansa visual dan atmosfer emosional sebuah film. Untuk Empat Musim Pertiwi, proses ini dipercayakan kepada koloris internasional Peter Bernaers, yang dikenal melalui karya-karyanya dalam film Whot Happened to Monday, Raw, Mandy, Annette, dan Bergman Island. Bernaers juga merupakan koloris di balik Titane karya Julie Ducournau yang meraih penghargaan tertinggi Palme d'Or di Festival Film Cannes 2021, serta Annette karya Leos Carax yang membuka kompetisi festival tersebut di tahun yang sama.

Keterlibatan Bernaers menjadi bagian dari upaya Forka Films untuk menghadirkan standar sinematik kelas dunia, sekaligus memperkuat kualitas visual dan pengalaman sinematik yang menjadi ciri khas karya-karya Kamila Andini.

Empat Musim Pertiwi sendiri telah melalui perjalanan pengembangan di lebih dari enam project market internasional termasuk Berlinale Co-Production Market, CineMart Rotterdam, Venice Gap-Financing Market, dan Tokyo Gap Financing Market, dan mendapatkan dukungan dari tujuh pendanaan global diantaranya Hubert Bols Fund, CNC Cinema du Monde, Sørfond, Kementerian Kebudayaan RI, dan Vision Sud Est, mencerminkan kuatnya posisi film ini dalam ekosistem perfilman internasional.

Empat Musim Pertiwi adalah ko-produksi internasional antara Indonesia, Perancis, Belanda, Norwegia, Singapura dan Polandia. Film ini dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim, dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah dari Forka Films bersama Anthony Chen dari Giraffe Pictures (Singapura).

Empat Musim Pertiwi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2026.


Tentang FORKA FILMS

Forka Films, sebelumnya dikenal sebagai Fourcolours Films, adalah perusahaan produksi film berbasis di Indonesia yang dipimpin oleh sutradara dan produser Ifa Isfansyah. Sejak didirikan pada tahun 2001, Forka Films secara konsisten memproduksi karya-karya yang mendapatkan pengakuan di berbagai festival film internasional.

Beberapa karya terkemuka Forka Films antara lain:
• Siti (Eddie Cahyono, Telluride 2015)
• Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, Film Resmi Indonesia untuk OSCARS 2018)
• The Seen and Unseen (Kamila Andini, Toronto 2017)
• Memories of My Body (Garin Nugroho, Venice Orizzonti 2018)
• Yuni (Kamila Andini, Platform Prize Toronto 2021)
• Before, Now & Then (Kamila Andini, Silver Bear Berlinale 2022)
•• Cigarettes Girl (Ifa Isfansyah & Kamila Andini, Best Mini Series Seoul International Drama Awards 2024)

Forka Films terus berkomitmen untuk mendukung keberagaman sinema Indonesia serta mengembangkan talenta baru, dengan visi menghadirkan karya-karya berkualitas yang relevan di tingkat global.


Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

 


Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film siap hadir di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 April 2026. Menghadirkan kisah yang dekat dengan pergulatan hidup manusia tentang keyakinan, kehilangan, dan pencarian makna hidup, Yohanna menawarkan pengalaman menonton yang emosional sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. 

Dibintangi oleh Laura Basuki, Yohanna mengisahkan seorang biarawati muda yang dikirim ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, untuk menjalankan misi kemanusiaan pasca bencana Badai Tropis Seroja. Ketika truk berisi donasi yang ia bawa dicuri, misi yang tampak sederhana itu membawanya masuk ke dalam realitas Sumba yang keras: kemiskinan yang mencengkeram, aparat yang korup, dan anak-anak yang terpaksa bekerja di usia yang seharusnya mereka habiskan untuk bermain. 

Di tengah kenyataan yang berat, ia juga harus berhadapan dengan krisis keyakinan dan identitas dirinya sebagai seorang biarawati. Melalui sudut pandang karakter Yohanna, penonton diajak menyelami perjalanan batin yang dekat dan relevan dengan kehidupan banyak orang.

"Saya pastikan Yohanna bukanlah film tentang agama apalagi cerita satu agama tertentu. Saya ingin membuat film dengan pesan universal. Yohanna mengalami apa yang kita semua pernah rasakan, titik di mana kita bertanya, apakah semua yang kita yakini selama ini benar adanya. Itu bukan pertanyaan milik seorang biarawati saja. Itu pertanyaan kita semua. Jadi saya bisa pastikan Yohanna akan meninggalkan kesan menonton yang mendalam dan berbeda dari film Indonesia kebanyakan." ujar Razka Robby Ertanto, Sutradara dan Penulis Skenario Yohanna.

Hal senada juga disampaikan oleh Laura Basuki, yang berkat penampilannya di film Yohanna dinobatkan sebagai Best Actress di Asian Film Festival 2025. Laura mengungkapkan bahwa kisah dalam film ini terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup banyak orang, dan karakter Yohanna memberinya banyak pelajaran hidup.

"Yang membuat saya sangat terhubung dengan Yohanna adalah karena pergulatan yang ia alami sebenarnya sangat manusiawi. Kita semua pernah berada di titik mempertanyakan hidup, keyakinan, bahkan diri sendiri. Karena itu saya percaya film ini akan terasa dekat bagi banyak orang." ujar Laura Basuki, Pemeran Yohanna

Official Poster 

Penonton bioskop Indonesia akan menyaksikan Yohanna dalam versi yang sedikit berbeda dari yang tayang di festival internasional. Jika versi festival dibangun dengan pendekatan yang lebih eksperimental, penuh lompatan waktu dan ruang interpretasi terbuka, maka versi bioskop hadir dengan alur yang lebih kronologis dan mengalir.

Penyesuaian ini dilakukan bukan untuk menyederhanakan, melainkan untuk memastikan pesan utama film dapat menjangkau penonton seluas-luasnya dari berbagai latar belakang

"Kami ingin pesan dan emosi yang dirasakan penonton di berbagai festival internasional juga bisa sampai dengan hangat kepada penonton di Indonesia. Strukturnya kami rapikan, tetapi roh  ceritanya tidak kami sentuh. Terlebih, film ini juga telah mendapatkan klasifikasi SEMUA UMUR dari Lembaga Sensor Film (LSF)" tambah Robby.

Sebelum tiba di bioskop Indonesia, Yohanna telah membuktikan dirinya di berbagai festival film. Film ini meraih lima penghargaan dalam Indonesian Screen Awards JAFF 2024, yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Storytelling Terbaik, Akting Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.

Film ini juga dinobatkan sebagai Film Pilihan Tempo 2024, serta mengantarkan Laura Basuki meraih Best Actress di Asian Film Festival 2025 di Roma, Italia. Sebelumnya, Yohanna memulai debut dunia di Rotterdam International Film Festival ke-53, dan terpilih sebagai Official Selection Adelaide Film Festival 2025, Australia.

Selain dibintangi Laura Basuki, film Yohanna juga menghadirkan Jajang C. Noer, Kirana Grasela, dan Iqua Tahlequa, serta melibatkan anak-anak Sumba sebagai bagian penting dari cerita.  Informasi terbaru mengenai film Yohanna bisa diakses melalui kanal Instagram resmi Summerland di @summerland.films.


Kamis, 02 April 2026

Film ini mengangkat tema "fatherless" atau kehilangan figur ayah, serta perjuangan seorang anak dalam menemukan arah hidup setelah kepergian sosok panutan.

 

Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? Persembahan Rumah Produksi Five Elements Pictures dan Disutradarai Kuntz Agus, Tayang di Bioskop Nasional Mulai 9 April 2026

Jakarta, 2 April 2026 — Sutradara Kuntz Agus kembali melahirkan sebuah film drama keluarga mengharukan berjudul Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?. Film ini merupakan film layar lebar perdana produksi Five Elements Pictures bekerjasama dengan Kults Creative, diproduseri oleh Soemijato Muin dan Ody Mulya Hidayat dengan penulis skenario Oka Aurora dan Kuntz Agus. Adaptasi dari dari buku mega best-seller berjudul sama karya Khoirul Trian ini siap menyapa penonton di bioskop tanah air mulai 9 April 2026.

Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? berkisah tentang DIRA (Mawar de Jongh) dan DARIN (Rey Bong) yang seiring mereka tumbuh dewasa, menyadari bahwa peran ayah mereka, YUDI (Dwi Sasono), yang dulu selalu ada untuk mereka, kini semakin menjauh. Film ini adalah tentang mereka yang mencoba menemukan arah baru demi belajar melangkah sendiri. Melalui kisah Dira dan Darin, film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? akan membawa penonton dalam perjalanan mencari jawaban untuk setiap hati yang kehilangan kompasnya.

Buku Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? yang ditulis Khoirul Trian memberi dampak yang besar bagi pembacanya. Kesuksesannya memperlihatkan bahwa ada begitu banyak keresahan terhadap sosok Ayah yang selama ini terpendam, yang ketika dibicarakan ternyata menyentuh dan menggerakkan banyak sekali hati. "Keresahan ini yang membuat kami merasa buku ini punya potensi besar untuk divisualisasikan dalam format film layar lebar. Dan menurut kami, Kuntz Agus adalah sutradara paling tepat saat ini yang mampu menghadirkan luapan-luapan emosi hangat dan haru untuk memberi suara kepada sosok ayah yang selama ini masih kurang kita dengarkan," ujar Soemijato Muin, produser Five Elements Pictures.

Proses pengembangan naskah film ini termasuk yang cukup panjang dan hal ini harus dilalui demi mencapai hasil yang terbaik. "Investasi waktu yang kami berikan untuk proses penulisan skenarionya cukup besar dan menurut kami layak dan perlu dilakukan agar kami bisa memberikan yang terbaik. Begitu pula untuk proses costing. Dengan cermat kami pertimbangkan agar suara dan pesan dari cerita ini tersampaikan dengan baik," ujar produser Ody Mulya Hidayat. "Dan kami senang sekali dengan hasilnya, ensemble aktor yang terpilih telah memberikan kekuatan acting terbaiknya untuk menghidupkan karakter-karakter dalam film ini," lanjutnya. Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? dibintangi oleh Mawar de Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara Mahendra, Kiara Mckenna, Dinda Kanyadewi, dan Azami Syauqi.

"Sebuah kehormatan bagi saya saat dipercaya untuk menggarap adaptasi buku Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?. Dari tahap pengembangan naskah, persiapan sampai proses produksi dan paska produksi, saya merasakan bentuk kolaborasi yang menyenangkan bersama Five Elements Pictures, di mana saya diberi ruang kreatif yang luas untuk berkarya," tutur sutradara Kuntz Agus. "Film ini adalah ungkapan hati, tidak hanya dari seorang anak kepada ayahnya, namun juga sebaliknya. la menjadi sebuah representasi pengalaman nyata bagi banyak keluarga. Semoga film ini dapat membuka ruang untuk saling mendengarkan, memahami, dan memaafkan dalam keluarga."

Diproduksi oleh Five Elements Pictures dan Kults Creative serta didukung oleh IFI Sinema, A&Z Films, dan Leo Pictures, film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? akan tayang di bioskop seluruh tanah air mulai 9 April 2026. Ikuti terus perkembangan film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? melalui akun-akun resmi media sosialnya.


SINOPSIS

Kenangan masa kecil DIRA (Mawar de Jongh) dan DARIN (Rey Bong) bersama ayah dan ibunya, YUDI (Dwi Sasono) dan LIA (Unique Priscilla), manis dan sederhana, namun di bawahnya tersimpan kekosongan yang menunggu pemicu. Seiring mereka tumbuh besar, Yudi kian menjadi sosok ayah yang hadir secara fisik, namun absen emosi. Saat sebuah kecelakaan fatal menimpa Lia yang selama ini menjadi pencari nafkah utama, kekosongan itu meledak dan membuka pintu pada kerapuhan yang selama ini disembunyikan: hutang yang menumpuk, ketidakpastian, dan kebenaran yang tidak lagi bisa ditutup dengan senyum. Kondisi ini memaksa Dira dewasa lebih cepat, namun ia tidak punya arah. Ini adalah kisah perjalanan mencari jawaban untuk setiap hati yang kehilangan kompasnya.


INFORMASI FILM

Director : Kuntz Agus

Script Writers : Oka Aurora, Kuntz Agus

Producer : Ody Mulya Hidayat

Producer Creative : Soemijato Muin

Director of Photography: Fahrul Tri Hikmawan

Art Director : JB Adhi Nugroho

Music Director : Ricky Lionardi

Editor : Gregorius Arya Dhipayana

Wardrobe & Stylist : Hagai Pakan

Make Up & Hair Do : Astrid Sambudiono


CAST

Mawar de Jongh sebagai Dira

Rey Bong sebagai Darin

Dwi Sasono sebagai Yudi

Unique Priscilla sebagai Lia

Baskara Mahendra sebagai Bumi

Kiara Mckenna sebagai Nesya

Dinda Kanyadewi sebagai Anita

Azami Syauqi sebagai Damar

Film Kupeluk Kamu Selamanya Merilis Official Trailer & Poster Kisah Hangat Cinta Tanpa Syarat yang tak Pernah Putus untuk Anak

 

#Cinta Tanpa Syarat Kupeluk Kamu Selamanya 30 April 2026 di bioskop


Jakarta, 1 April 2026 — Kuy Studios dan Aktina Film mempersembahkan film drama keluarga terbaru berjudul Kupeluk Kamu Selamanya yang dibintangi Hana Malasan, Ibnu Jamil, dan Fanny Ghassani. Dalam official trailer yang dirilis, Hana Malasan memerankan Naya, seorang Ibu tunggal yang berjuang sepenuh tenaga untuk anaknya, Aksa (Jared Ali). Di tengah itu, Bagaskara (Ibnu Jamil), Ayah Aksa, berupaya untuk memperebutkan hak asuhnya.

Di antara dinamika 'perebutan' hak asuh anak antara Naya dan Bagaskara, keduanya juga tetap berusaha selalu hadir untuk Aksa yang harus berjuang dengan kondisi penyakitnya. Bagaimana Naya dan Bagaskara menyingkirkan ego mereka dan tetap menjadi orangtua yang baik untuk Aksa, seperti sebuah cinta yang tanpa syarat?

Sementara itu, official poster Kupeluk Kamu Selamanya merefleksikan judul film ini, yang memperlihatkan sebuah pelukan hangat yang berarti. Sebuah pesan bahwa seorang Ibu juga boleh memperlihatkan kerapuhannya, dan membutuhkan dukungan sesama Ibu.

Kupeluk Kamu Selamanya menjadi film layar lebar perdana Kuy Studios, diproduseri oleh Dara Dwitanti dan aktris Dinda Hauw, sekaligus menjadi debut Dinda sebagai produser. Film ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Film ini juga menjadi kolaborasi perdana Sean Gelael dan Angga Dwimas Sasongko sebagai produser eksekutif.

Selain Hana, Ibnu Jamil, dan Jared Ali, film ini dibintangi oleh Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Iyas Lawrence, Vonny Anggraini, Mario Irwinsyah, Yurike Prastika, dan Leroy Osmani.

"Film Kupeluk Kamu Selamanya sangat relevan dengan situasi yang juga banyak dihadapi oleh para Ibu tunggal dalam mengorbankan segalanya demi anaknya. Film ini juga ingin berbicara bagaimana anak juga terkadang bisa menjadi korban dari ego orang dewasa, dan ingin menjadi refleksi bagaimana peran orangtua memberikan cinta yang besar untuk anak," ujar produser Dinda Hauw.

Bagi sutradara Pritagita Arianegara, Kupeluk Kamu Selamanya juga berbicara tentang kehilangan dan kenangan. Prita sendiri merupakan sutradara yang kerap melahirkan karya-karya dengan benang merah tema relasi ibu dan anak.

Official Poster

"Ketika menyutradarai film ini, saya sangat takjub dengan aktor cilik Jared Ali, bagaimana dia bisa membuat lawan mainnya, para aktor dewasa bisa menyampaikan situasi yang dihadapi. Bagi saya, itu berat, namun dia berhasil, dan film ini akan sangat emosional untuk penonton," kata sutradara Pritagita Arianegara.

Hana Malasan, yang untuk pertama kalinya memerankan karakter Ibu tunggal dalam sebuah genre drama, memiliki tantangan baru. Sebelumnya, Hana lebih banyak dikenal dalam film-film genre seperti aksi hingga horor.

Hana menilai, untuk pertama kalinya ia menghadapi situasi ketika tantangan mental dalam berakting, dan merasa lebih berat bila dibanding ia harus beradegan aksi pada film-filmnya yang lain.

"Aku sendiri memang belum menjadi Ibu. Tapi aku besar di lingkungan para Ibu, dan aku juga dibesarkan oleh seorang Ibu. Jadi untuk referensi peran Naya di film ini, bisa kutemui di mana-mana, salah satunya Ibuku sendiri. Sebenarnya rasanya, kuatnya perjuangan seorang Ibu, dan bagaimana terkadang Ibu itu selalu dituntut untuk sempurna, bahkan mungkin oleh diriku sendiri ketika aku kecil," ujar Hana Malasan.

"Sepertinya Ibu akan selalu mau menjadi yang sempurna di mata anak. Mau seberapa susah pun situasinya, pasti akan berusaha sebegitunya, terutama untuk anaknya. Dan itu juga memang yang aku rasakan saat memerankan Naya di film Kupeluk Kamu Selamanya," lanjut Hana.

Ibnu Jamil, yang menjadi Bagaskara di film ini, seorang Ayah yang harus berpisah dengan anaknya, menuturkan film Kupeluk Kamu Selamanya berupaya memotret realita kehidupan. Ia pun mengungkapkan, setelah menonton film ini penonton bisa semakin tumbuh empati terhadaap apa yang dilalui oleh orang lain.

"Film ini tidak berusaha untuk menghakimi siapa pun. Di sini tidak ada karakter antagonis. Ini adalah potret kehidupan di mana situasinya tidak berpihak kepada karakter tersebut, bukan orangnya yang jahat. Saya berharap setelah menonton film ini penonton bisa lebih berempati dengan orang terdekat, jangan egois namun bisa lebih berempati," tutur Ibnu Jamil.

#CintaTanpaSyarat Kupeluk Kamu Selamanya 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @kupelukkamuselamanya dan @kuy.studios.



Jakarta Youth Film Festival 2026 Spesial Hari Film Nasional: "Yang Muda Yang Bersuara"

  Jakarta, 2 April 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret, Jakarta Youth Film Festival 2026 (J-Youth F...