Senin, 24 Agustus 2026

Babak Baru BCL! Rilis Single “Terpesona”, Berduet Manis dengan Top 5 Indonesian Idol 2026 Josh Flo dan Kembali Berkolaborasi Bersama Produser & Pencipta Lagu Laleilmanino Single Terpesona rilis pada 21 Agustus 2026 di seluruh platform streaming

 


Jakarta, 21 Agustus 2026 — Diva Indonesia Bunga Citra Lestari (BCL) kembali dengan karya terbarunya di dunia musik lewat single romansa cinta berjudul “Terpesona”. Setelah terakhir kali merilis lagu fenomenal yang juga membawa dampak kultural pendengar Indonesia, “Selalu Ada di Nadimu”, kini BCL kembali ke akar, lewat lagu cintanya.

“Terpesona” menjadi spesial karena ia mengajak Top 5 Indonesian Idol 2026, Josh Flo sebagai teman duetnya. Single ini sekaligus menjadi full circle moment bagi keduanya, sejak keduanya berjumpa di ajang kompetisi Indonesian Idol Season 14.

Sejak babak awal audisi, Josh Flo telah membuat BCL terpesona, dan kini keduanya mempersembahkan karya yang tak terduga.Ditulis dan diciptakan trio produser Laleilmanino, “Terpesona” terinspirasi dari banyak kisah orang-orang yang terpesona dengan tambatan hati mereka, namun sulit untuk diungkapkan.

“Lagu ‘Terpesona’ adalah tentang sebuah perasaan yang hadir saat kita menemukan seseorang yang somehow membuat kita merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa nyaman ketika bersamanya, rasa yang membuat kita ingin selalu dekat dan semakin mengenal orang itu. Kadang perasaan itu bahkan sulit untuk dijelaskan atau diungkapkan dengan kata-kata, tapi kita tahu ada sesuatu tentang dirinya yang membuat kita nggak bisa berpaling. Ada rasa ingin terus bersama, sampai akhirnya orang itu terasa seperti ‘home’. Buat aku, itulah rasa terpesona,” ujar Bunga Citra Lestari.

Sebagai orang yang ‘menemukan’ bakat Josh dan yakin sejak awal dengan kemampuannya, BCL menghadirkan lagu cinta dengan cerita yang baru. Karakter khas BCL yang sejak awal juga lekat dengan lagu-lagu romansa masih bisa kita temukan di single “Terpesona”, namun kini memiliki dimensi yang fresh dari aransemen yang diciptakan Laleilmanino dan suara unik Josh Flo.


Josh, yang sebelum memulai karier bernyanyi dari kompetisi pencarian bakat merupakan penjagaLembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Manokwari, Papua, kini merasa sangat bangga dengan kesempatan yang diberikan kepadanya.

“Saat aku tereliminasi dari Top 5 Indonesian Idol Season 14, Kak Unge langsung kirim pesan ke aku. Dia menawariku untuk membuat karya bersama. Rasanya sangat bangga, spesial, dan menjadi full circle moment bagiku. Sejak awal aku ikut audisi Kak Unge sudah sangat percaya dengan bakatku, dan dia pernah berjanji akan berkolaborasi, dan dia menepati janjinya, lewat lagu manis ‘Terpesona,’” kata Josh Flo. 

“Sejak awal, aku jatuh hati dengan suaranya. Itulah alasanku mengapa ingin berduet bersama Josh,” tambah BCL.

“Terpesona” juga menandai dua dekade BCL di industri musik, sejak ia merilis album debutnya, “Cinta Pertama” (2006). Berkolaborasi dengan Laleilmanino sebagai produser dan pencipta di single ini, “Terpesona” juga meneruskan kolaborasi BCL dan Laleilmanino setelah sukses besar “Selalu Ada di Nadimu” yang fenomenal.

“Senang rasanya bisa bereksplorasi lagi bersama Unge di lagu romansa terbarunya, ‘Terpesona’. Lagu ini berbicara tentang “finding the one since day one.” Sebuah nyanyian yang bisa menemani hangatnya hati saat kitamenemukan seseorang yang terasa begitu tepat.


Disampaikan ataupun tidak tak jadi soal, karena lagu ini bukan tentang menyatakan perasaan. Lagu ini adalah tentang perasaan itu sendiri,” ujar produser Nino Kayam mewakili Laleilmanino

Single “Terpesona” telah dirilis di seluruh platform streaming digital mulai 21 Agustus 2026. 

Dengarkan sebuah karya yang akan menandai babak baru perjalanan BCL lewat lagu romansa cinta yang manis dengan cerita yang berbeda.


***

MEDIA SOSIAL

Instagram : @itsmebcl

TikTok : @itsmebcl_

YouTube : @ITSMEBCL

Di Balik Teror Horornya, Film Munafik: Melawan Iblis Bicara Trauma dan Keikhlasan, saat Arya Saloka Menjadi Ustadz yang Merukiah Acha Septriasa Film Munafik: Melawan Iblis tayang mulai 3 September 2026 di bioskop

 


Jakarta, 24 Agustus 2026 — Unlimited Production bekerja sama dengan Skop Productions mempersembahkan film horor terbaru berjudul Munafik: Melawan Iblis yang akan tayang di seluruh bioskop mulai 3 September 2026. Di balik kisah seorang ustaz yang melakukan rukiah saat menolong orang yang kesurupan, film Munafik: Melawan Iblis membawa perjalanan seseorang menghadapi trauma dan kehilangan—hingga menyadari bahwa ada luka yang hanya bisa disembuhkan dengan keikhlasan, menerima, dan berserah.

Kisah bermula ketika dalam perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Ustaz Adam (Arya Saloka) mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini (Widi Dwinanda), istrinya.

Sejak saat itu Ustaz Adam berhenti melakukan rukiah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) perawat sekaligus putri Haji Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal.

Adam yang awalnya menolak, menemukan alasan untuk kembali melakukan rukiah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik teror gaib yang menimpa Fitri.

Diproduseri Oswin Bonifanz dengan sutradara Guntur Soeharjanto, Munafik: Melawan Iblis memberikan teror maksimal yang akan menyerang psikologis dan menaikkan adrenalin. Tak hanya jumpscare, tetapi film ini berhasil menghadirkan teror dari entitas Iblis yang menggoda manusia.

Film Munafik: Melawan Iblis dibintangi oleh Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Faqih Alaydrus, Donny Damara, Widi Dwinanda, Annisa Hertami, Nova Eliza, Oce Permatasari, dan Elvira Devinamira.

"Film Munafik: Melawan Iblis adalah eksplorasi terbaru dari Unlimited Production yang membawa tema cerita horor kesurupan dan rukiah, namun sebenarnya memiliki lapisan yang mendalam secara drama. Kami menggali perasaan tentang luka dan trauma, di tengah kedukaan dan proses kehilangan seseorang, yang kami rasa menjadi perasaan yang universal," ujar produser Oswin Bonifanz.

Menjelang perilisan film Munafik: Melawan Iblis secara serentak pada 3 September 2026 di bioskop, Unlimited Production juga telah menggelar roadshow ke XX kota yang seluruh tiketnya terjual habis (sold out)! Ini membuktikan antusiasme tinggi terhadap film Munafik: Melawan Iblis bahkan sebelum filmnya tayang secara reguler.

Banyak dari penonton juga kagum dengan penampilan Arya Saloka, yang dianggap mampu dengan fasih melafalkan ayat suci Al-Qur'an, saat ia memerankan Ustaz Adam. Arya sendiri mengaku lewat proyek film Munafik: Melawan Iblis juga menjadi ruang untuk dirinya berproses menjadi lebih baik sebagai manusia.

"Saya sangat bersyukur bisa memerankan Ustaz Adam dan bermain di film Munafik: Melawan Iblis. Karena dari film ini saya juga bisa belajar lebih baik lagi, termasuk membenarkan bacaan-bacaan Al-Qur'an saya. Menurut saya ini berkah, ketika ada sebuah proyek film yang juga bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik," ujar Arya Saloka.

Sementara itu, Acha Septriasa, yang memerankan Fitri dan harus mengalami banyak kesurupan di film ini, menghadapi tantangan secara fisik dan mental. Film Munafik: Melawan Iblis sekaligus menandai dua dekade perjalanan Acha di industri perfilman Indonesia.

"Senang sekali, dalam perjalanan dua dekade aku di perfilman mendapatkan karakter yang sangat menantang seperti Fitri di film Munafik: Melawan Iblis. Pada dasarnya, Fitri sedang mengalami proses kedukaan karena kehilangan dan belum ikhlas. Apa yang dialami Fitri sangatlah manusiawi, dan itu yang membuatnya dekat dengan kita. Kalau tantangan secara fisik, tentu saja saat adegan saya harus merayap di dinding, itu sangat-sangat memorable," cerita Acha Septriasa.

"Ada trauma yang tidak bisa disembuhkan dengan melawan. Kadang kita hanya perlu belajar menerima dan berserah," tambah Arya Saloka.

Film Munafik: Melawan Iblis akan membawa kita pada perjuangan batin Ustaz Adam dalam memaknai proses duka dan kehilangannya, dan sembuh dari trauma yang selama ini menerornya. Munafik: Melawan Iblis bukan hanya tentang melawan iblis. Tapi tentang melawan luka dalam diri sendiri.

Tonton film Munafik: Melawan Iblis mulai 3 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial Instagram resmi @unlimited_production dan @film.munafik.


Sinopsis

Di perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Adam (Arya Saloka) seorang pengajar agama sekaligus praktisi ruqyah mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini, istrinya. Sejak saat itu ia berhenti melakukan ruqyah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) seorang perawat sekaligus putri dari Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal. Adam yang awalnya menolak menemukan alasan untuk kembali melakukan ruqyah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik teror gaib yang menimpa Fitri.

Jumat, 21 Agustus 2026

Kolaborasi Dapur Film milik Hanung Bramantyo dan debut sutradara Dmaz Brodjonegoro, resmi rilis first-look tentang rahasia, luka, dan pengkhianatan.Debut Executive Producer Nikita Mirzani, Film Beautiful Pain akan Tayang 22 Oktober 2026

Debut Executive Producer Nikita Mirzani, Film Beautiful Pain akan Tayang 22 Oktober 2026 Kolaborasi Dapur Film milik Hanung Bramantyo dan debut sutradara Dmaz Brodjonegoro, resmi rilis first-look tentang rahasia, luka, dan pengkhianatan


Jakarta, 20 Agustus 2026 — Di balik senyum hangat sebuah keluarga dan keintiman yang tampak sempurna, selalu ada luka yang disembunyikan rapat-rapat. Rasa sakit itu kini siap disingkap ke layar lebar melalui film drama paling dinanti tahun ini, "Beautiful Pain", yang secara resmi mengumumkan tanggal penayangan serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

Bersamaan dengan pengumuman tanggal rilis tersebut, film ini meluncurkan potongan gambar dan cuplikan video perdana (first-look) yang langsung menebar atmosfer penuh tanda tanya, pekat akan ketegangan batin, dan sarat misteri tak terucap. Proyek prestisius ini sekaligus menandai babak baru dalam karier Nikita Mirzani yang mencatatkan debut perdananya sebagai Executive Producer, berdampingan dengan perannya di depan kamera.

Executive Producer sekaligus pemeran Nikita Mirzani membagikan antusiasmenya terhadap debut di belakang layarnya ini. “Melalui film Beautiful Pain, saya akhirnya mengambil langkah baru untuk mendukung sebuah cerita yang penting untuk dibicarakan. Film ini kami buat untuk kita semua yang pernah merasakan disakiti, dan saya berharap film ini dapat menciptakan diskusi yang penting nantinya.”

Dalam penggarapannya, proyek ini menggandeng rumah produksi bereputasi tinggi Dapur Film milik sutradara kawakan Hanung Bramantyo, serta menjadi ajang unjuk kebolehan bagi sutradara debutan berbakat, Dmaz Brodjonegoro, dalam meramu konflik rumah tangga dan drama psikologis yang intens.

Peluncuran materi first-look foto dan video melalui kanal media sosial resmi serta akun para pemeran utama, seperti Raihaanun, Baim Wong, dan Nikita Mirzani, langsung memantik tanda tanya besar. Pada first-look foto yang dirilis menyajikan teka-teki relasi yang kontras: sosok Raihaanun yang merengkuh kedua anaknya di pesisir pantai dengan tatapan dingin, di foto lainnya terlihat dalam momen intim antara Nikita Mirzani dan Baim Wong di ruang temaram, hingga foto yang menggambarkan kegetiran antara Niki dan Raihaanun, yang mengisyaratkan pengkhianatan besar. Sementara pada video first-look yang dirilis memperlihatkan lapisan trauma problematika rumah tangga yang mendalam, yang dialami oleh karakter Raihaanun. Di satu sisi, ia ingin bangkit meski hidup hanya bersama anak-anak, namun di sisi lain ia harus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya tentang pilihan tersebut.

Ikut serta dalam memproduseri film ini, Hanung Bramantyo angkat bicara mengenai alasan yang dimilikinya. “Saya selalu senang dengan adanya suara-suara baru dalam perfilman. Dari awal saya sudah percaya dengan konsep yang dibawa oleh film ini, bagaimana representasi perjuangan sembuh dari trauma yang banyak dari kita pernah lalui. Saya harap film ini dapat menjadi refleksi bagi kita semua.”




Apakah kepedihan dan trauma mendalam yang dipikul Raihaanun berakar dari hubungan terlarang yang terjadi antara Baim Wong dan Nikita Mirzani?

Mengusung pesan utama fight the trauma, film ini menyuguhkan sinopsis resmi yang menggetarkan. Beautiful Pain mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal yang berusaha bangkit dari jurang keterpurukan dan menemukan secercah harapan melalui karier barunya sebagai aktris. Namun, harapan itu runtuh seketika saat fitnah keji dan kasus pelecehan seksual menghancurkan nama baiknya hingga merenggut hak asuh atas buah hati tercintanya. Dikelilingi dukungan orang-orang terdekat, ia menolak untuk bungkam dan memilih berdiri teguh melawan ketidakadilan sistem yang bias demi merebut kembali kehormatan, keutuhan keluarga, serta suaranya sebagai seorang perempuan. Isu sensitif seputar KDRT, relasi kuasa, dan kekerasan seksual dibungkus dengan narasi dramatis yang berani dan menyentuh nurani.

Sutradara Dmaz Brodjonegoro memberikan pernyataan mengenai apa yang ingin dibawakannya melalui film ini. “Beautiful Pain bukan hanya tentang trauma, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan merebut kembali suara. Saya berharap film ini mengajak penonton mempertanyakan siapa yang dipercaya, siapa yang dilindungi, dan seperti apa keadilan bagi mereka yang harus memperjuangkannya sendirian.”

Kemegahan cerita Beautiful Pain dihidupkan oleh ansambel pemeran lintas generasi terbaik di industri perfilman Indonesia. Film ini mempertemukan kepiawaian akting Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Tarra Budiman, Nikita Mirzani, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Sha Ine Febriyanti, Anantya Kirana, Evano Zyan, Willem Bevers, Anastasia Herzigova, hingga Berliana Lovell. Sementara di jajaran kreatif, kursi penyutradaraan dipercayakan kepada Dmaz Brodjonegoro dengan Nikita Mirzani sebagai Executive Producer di bawah naungan bendera produksi Dapur Film.

Film Beautiful Pain siap menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam dan menggugah kesadaran masyarakat di seluruh jaringan bioskop Tanah Air mulai 22 Oktober 2026. Pantau terus kabar terbaru, potongan adegan eksklusif, dan jadwal peluncuran trailer resmi melalui akun media sosial resmi @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.

—ooo00ooo—

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

 

"Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini" berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic reading


Jakarta, 21 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. "Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru," katanya.

Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.

Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi "Perempuan dalam Karya Asrul Sani" membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, "Asrul Sani di Mata Generasi Muda" mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui "Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario", yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi "Asrul Sani dan Inovasi Arsip" yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.

Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.

Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. "Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"

Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbunga Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonor (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.

Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.

Seluruh rangkaian "Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini", terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacouncil.

Rabu, 19 Agustus 2026

Film RUMAH SINGGAH Siap Hadir di Bioskop dan Mengajak Penonton Merayakan Hidup serta Menemukan Kembali Harapan yang Hilang

 


Film RUMAH SINGGAH tayang mulai 27 Agustus 2026 di bioskop Indonesia


Jakarta, 19 Agustus 2026 Ketika masa depan yang kita impikan direnggut, terkadang kita. merasa hidup terhenti tiba-tiba dan dunia telah berakhir. Namun, jika dihadapi dan dijalani bersama sahabat, perjuangan menjadi lebih ringan dan membawa kita pada harapan dan makna baru dalam menjalani hidup. Ini adalah kisah Karla bersama sahabat-sahabat baru yang ia temui dalam film Rumah Singgah, yang tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Film Rumah Singgah adalah produksi dari SENARA, bekerjasama dengan Mandela Pictures dan Limelight Pictures, disutradarai oleh Dyan Sunu Prastowo, ide cerita oleh Celvin Jaya Hadi, dan penulisan skenario oleh Raditya.

Film Rumah Singgah mengisahkan Karla (Adhisty Zara), seorang atlet lari, yang harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap osteosarkoma, penyakit kanker tulang yang ganas. Di tengah kenyataan yang mengubah hidupnya, Karla tiba di sebuah rumah singgah. di mana ia disambut hangat oleh Bu Andin (Dewi Irawan), kepala rumah singgah, serta berkenalan dengan para penghuninya, Luki (Devano), Toni (Ciccio Manassero), dan Pika (Messi Gusti). Karla dan teman-teman barunya perlahan membangun persahabatan. Bersama Mang Didu (Aming), penjaga rumah singgah yang setia menemani, mereka mengawali perjalanan yang baru, di mana mimpi yang hampir sirna menemukan secercah harapan.

"Selama membuat Rumah Singgah, kami banyak berbicara tentang waktu. Tentang bagaimana sesuatu yang kita anggap sederhana menjadi begitu berarti ketika kita. menyadari bahwa waktu tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Sekarang, ketika film ini akhirnya siap bertemu dengan penonton, kami juga merasa waktunya tepat untuk mengajak publik datang bersama-sama ke bioskop, bukan hanya untuk menonton Rumah Singgah, tetapi juga untuk merasakan kembali betapa berharganya hadir untuk seseorang. mendengarkan mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk tetap bermimpi," ujar sutradara Dyan Sunu Prastowo.

Bukan hanya cerita yang menemukan maknanya, namun pengalaman tersebut juga tumbuh di antara para pemain selama proses produksi. Seperti Devano, yang merasakan bahwa perjalanannya mendalami karakter Luki dan lagu "Surat Hati" yang menjadi bagian dari film ini, membuat kisah Rumah Singgah semakin personal baginya.

"Menjadi Luki membuat saya belajar melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun berada di situasi yang nggak mudah, Luki tetap bisa menikmati hal-hal sederhana. dan selalu ada untuk teman-temannya. Ketika 'Surat Hati' akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Rumah Singgah, saya merasa ada banyak hal dari cerita ini yang semakin dekat dengan apa yang saya rasakan selama proses syuting. Semoga penonton bisa ikut merasakan kehangatan yang kami rasakan saat membuat film ini, dan setelah menontonnya bisa lebih menghargai waktu serta orang-orang yang selalu ada untuk kita," tutur Devano, pemeran Luki.

Semangat untuk terus menemukan makna di tengah keterbatasan itulah yang juga ingin dibawa Rumah Singgah saat akhirnya bertemu dengan penonton di bioskop mulai 27 Agustus nanti. Bagi SENARA, perjalanan film ini tidak berhenti pada selesainya proses produksi, tetapi justru dimulai ketika ceritanya menemukan penonton.

"Pada akhirnya, sebuah film tidak selesai ketika proses produksinya berakhir. la baru benar-benar menemukan maknanya ketika bertemu dengan penonton. Karena itu, kami ingin mengajak sebanyak mungkin penonton datang dan menyaksikan Rumah Singgah sejak hari pertama penayangannya karena kami percaya kisah seperti ini layak mendapatkan ruang yang luas untuk didengar dan dibicarakan. Melalui Rumah Singgah, kami ingin menghadirkan manusia-manusia dengan mimpi, tawa, ketakutan, dan keinginannya untuk menjalani hidup sepenuhnya. Semoga penonton menemukan cerita mereka sendiri di dalam film ini, dan membawa pulang sebuah percakapan yang berlanjut di luar ruangan bioskop," ujar Hans Andreas, produser SENARA.

Kini, kisah tersebut siap menemukan penontonnya di layar lebar. Rumah Singgah dibintangi oleh Adhisty Zara, Devano, Messi Gusti, Ciccio Manassero, Aming, Dewi Irawan, Marthino Lio, Agnes Naomi Shivapriya, dan Alex Abbad. Tonton film Rumah Singgah di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

Ikuti perjalanan dan informasi terbaru film Rumah Singgah di akun-akun resmi media sosialnya.


Arya Saloka Bopong Pocong! Special Poster Film Horor Munafik: Melawan Iblis Tunjukkan Kengerian yang akan Mengguncang Batin dan Bikin Nangis

 

Film Munafik Melawan Iblis tayang mulai 3 September 2026 di bioskop

Jakarta, 19 Agustus 2026 — Film horor terbaru persembahan Unlimited Production, Munafik: Melawan Iblis merilis special poster yang menampilkan adegan dramatis saat Arya Saloka membopong pocong. Di bagian latarnya, juga terlihat banyak pocong menggantung, sementara Arya tampak bangkit di antara nisan makam. Special poster tersebut digarap dari beberapa bagian adegan yang akan muncul di filmnya, yang memberikan petunjuk horor penuh ketegangan sekaligus kengerian.

Di film Munafik: Melawan Iblis, Arya memerankan Ustaz Adam, sosok ustaz yang cukup tangguh dalam melakukan rukiah. Arya akan beradu peran dengan Acha Septriasa dan Dimas Aditya. Selain ketiganya, film ini dibintangi oleh Faqih Alaydrus, Donny Damara, dan Nova Eliza.

“Untuk film Munafik: Melawan Iblis, saya secara khusus mempelajari tentang ilmu-ilmu rukiah dari ahlinya. Namun sebenarnya bukan hanya soal praktik rukiahnya saja yang kemudian saya pelajari, tetapi lebih dalam saya juga membenarkan bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur’an. Sebuah proses yang menjadi berkah sebenarnya bagi saya,” ujar Arya Saloka.

Diproduksi oleh Unlimited Production, film Munafik: Melawan Iblis disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Film ini diproduseri oleh Oswin Bonifanz dan Ayu Amirrol. Sebelumnya, Unlimited Production telah sukses dengan horor urban legend Alas Roban, yang meraih predikat blockbuster dan menjadi Top Opening Day Tertinggi 2026.

“Pada awal tahun 2026 Unlimited Production mempersembahkan horor urban legend dengan balutan drama supranatural Alas Roban, yang sangat diterimapenonton Indonesia. Pada 3 September 2026, kami mempersembahkan horor Munafik: Melawan Iblis yang kami yakin akan memberikan pengalam baru lagi untuk penonton. Horornya sangat intens, dramanya mendalam, dan dibintangi oleh para bintang yang mampu memberikan dimensi karakter secara kuat. Kami berharap film ini bisa membuat penonton terhibur sekaligus berefleksi,” ujar produser Oswin Bonifanz.

Dalam memproduksi Munafik: Melawan Iblis, Unlimited Production bekerja sama dengan Skop Productions, Legacy Pictures, AZ Films, dan Komet Productions.

Sebelumnya film Munafik: Melawan Iblis telah mendapat sambutan meriah dalam rangkaian Festival Film Munafik yang memberikan kesempatan bagi penonton di 10 kota: Purwokerto, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Gresik, dan Sidoarjo menonton terlebih dulu dan berjumpa dengan jajaran pemeran. Seluruh tiket terjual habis!

Tonton film Munafik: Melawan Iblis mulai 3 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial Instagram resmi @unlimited_production dan @film.munafik.


***


Sinopsis

Di perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir Iblis di tubuh anak mereka, Adam (Arya Saloka) seorang pengajar agama sekaligus praktisi ruqyah mengalami kecelakaan maut yang membuatnya kehilangan Aini, istrinya. Sejak saat itu ia berhenti melakukan ruqyah dan hidup dalam kesedihan berkepanjangan. Sampai suatu hari, ia diminta Anwar (Dimas Aditya) menyelamatkan Fitri (Acha Septriasa) seorang perawat sekaligus putri dari Mansur (Donny Damara), figur yang dihormati di desa tempat Adam tinggal. Adam yang awalnya menolak menemukan alasan untuk kembali melakukan ruqyah karena mengingat pesan mendiang istrinya. Namun, seiring waktu ia menemukan ada rahasia gelap di balik terror gaib yang menimpa Fitri.

Potret Sulitnya Bertahan Hidup di Tengah Ekonomi yang Bikin Menjerit, Film Operasi Pesta Copet Mewakili Keresahan Banyak Suara Tentang Keinginan Hidup yang Lebih Layak dari Realita Anak Muda Operasi Pesta Copet tayang mulai 27 Agustus di seluruh bioskop Indonesia

 


Jakarta, 18 Agustus 2026 — Film Operasi Pesta Copet persembahan Imajinari menghadirkan kisah komedi persahabatan yang lucu sekaligus haru, dengan pendekatan produksi baru di sebuah festival musik besar Pestapora, mengikuti empat anak muda yang nekat nyopet karena terdesak keadaan. Menjadi debut penyutradaraan Edy Khemod, film ini menampilkan kisah yang memiliki cerita kuat tentang orang-orang yang tak punya pilihan dalam hidup mereka.

Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, dan debut vokalis grup band Sisitipsi Fauzan Lubis, Operasi Pesta Copet tak hanya mengikuti kisah operasi pencopetan ternekat, namun juga menggugah perasaan dari cerita persahabatan di pinggiran kota Jakarta yang sama-sama terdesak oleh himpitan ekonomi.

Sebagai rumah produksi yang memiliki DNA komedi, lewat film ini Imajinari tetap menyuguhkan komedi, namun dengan skala yang berbeda. Di film ini, Awwe menjadi konsultan komedi. Melalui pendekatan baru dan genre yang eksploratif, film Operasi Pesta Copet pun menjadi wujud visi Imajinari untuk terus mencoba dan menawarkan kesegaran tema dan cerita di perfilman Indonesia.

“Tidak mudah untuk bisa mendapatkan cerita yang fresh, dan menurut Imajinari, Operasi Pesta Copet punya ide dan cerita yang sangat unik dan otentik. Sesuatu yang menggelitik dari awal adalah adanya copet di konser, apakah itu memang beneran copet yang belajar tentang skena musik, atau memang anak musik yang belajar nyopet? Dengan komedi yang sangat dekat dan membumi, drama yang relevan, kami berharap film ini bisa menghibur di tengah situasi yang serba sulit seperti sekarang, lewat komedi yang berbeda,” ujar Ernest Prakasa.

Sementara itu, sutradara Edy Khemod mengungkapkan empati menjadi hal esensial film Operasi Pesta Copet. Alih-alih mengglorifikasi aksi kriminal dan memotret kemiskinan struktural secara ekstrem, Khemod memilih menaruh hati.

“Sebagai orang yang pernah berada di posisi seperti karakter Ijal, saya merasa empati menjadi hal yang didahulukan sebagai pondasi dalam menggarap film Operasi Pesta Copet.

Sebab itu, kami juga tak ingin sekadar menghakimi apa yang dilakukan oleh Ijal dan Geng Siaran Pers Untuk Disiarkan Segera Copetnya, tetapi kami ingin mengajak penonton untuk bisa menaruh empati, merasakan apa yang mereka alami,” ungkap sutradara Edy Khemod.

Iqbaal Ramadhan, yang memerankan Ijal, mengungkapkan karakternya mencerminkan ketidakadilan yang masih terjadi di Indonesia. Di momen Kemerdekaan, Iqbaal merefleksikan bahwa Ijal juga menjadi representasi banyak kelompok anak muda yang tertekan oleh kehidupan dan tak memiliki banyak pilihan.

“Setelah aku mengenal Ijal, dia tidak jauh berbeda dengan kita. Dia juga anak muda yang punya mimpi. Yang membedakan Ijal dan kita, dia tidak dilahirkan di keluarga yang bisa menopang dia dengan segala privilesenya untuk berada di titik kayak kita sekarang,” ujar Iqbaal Ramadhan.

“Ijal sebenarnya anak yang pintar, banyak rasa penasarannya, makanya aku senang ngobrol dan "berkenalan" dengan Ijal di dalam proses film ini. Tapi Ijal termasuk orang-orang yang lahir dari kelompok marginal, yang memang terpinggirkan oleh sistem dan struktur. Menurutku, itu adalah cermin ketidakadilan yang masih terus ada di Indonesia dan Ijal adalah salah satu korbannya,” tambah Iqbaal.

Kawai Labiba, bintang muda generasi saat ini, juga membagikan pengalamannya selama menjalani proses syuting film Operasi Pesta Copet. Selama ini, Kawai lebih banyak dikenal dengan peran-peran dramanya yang mengaduk emosi. Namun, kali ini menjadi pengalaman perdananya berada dalam sebuah genre yang mengharuskannya melakukan aksi nekat.

“Sebagai Melodi yang menjadi bagian dari geng copet, ada perasaan yang janggal tapi excited, perasaan khawatir, semua bercampur ketika aku harus syuting di tengah kerumunan penonton Pestapora. Bagaimana juga tetap harus fokus mendengarkan brief tapi juga siap untuk melakukan aksi pencopetan. Tapi syukurlah semua krunya tetap solid dan seru, sehingga semuanya berjalan lancar. Terima kasih Imajinari sudah melibatkan aku di film ini. Film ini jadi pengalaman paling nekat yang tidak bisa aku lupakan selama berkarier sebagai aktor, ” kata Kawai Labiba

“Di film ini yang aku pelajari adalah bagaimana caranya menjadi seorang Adut. Sosok yang selalu go with the flow. Ijal ngajak nyopet, dia ikut. Jadi di sini aku justru menjadi orang yang tidak overthinking. Dan di setiap tongkrongan pasti ada sosok seperti Adut. Dinamika bromance-nya juga bisa diwakili dari sosok Ijal dan Adut, Ijal yang lebih berat dengan porsi dramanya sementara komedinya dari Adut,” ujar Kristo Immanuel.

Tayang serentak di seluruh bioskop mulai 27 Agustus 2026, film Operasi Pesta Copet juga akan memulai Pesta Copet lebih awal dengan roadshow bersama jajaran pemeran di 11 kota mulai 22–31 Agustus 2026. Kota-kota yang akan menjadi operasi copet adalah Malang, Surabaya, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Cirebon, Bandung, Bekasi, dan Bogor.

Mereka yang akan hadir ke kota-kota tersebut adalah Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, sutradara Edy Khemod, serta produser Ernest Prakasa dan Dipa Andika. Beli tiket special screening Operasi Pesta Copet untuk masing-masing kota dan berjumpa para geng copet!

Operasi Pesta Copet diproduksi oleh Imajinari dan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Premisnya memang tentang copet, tetapi hatinya tentang persahabatan, dan menceritakan konteks sosial dan emosi yang mendalam.


***


TENTANG IMAJINARI

Imajinari adalah studio film muda di Dipanesia yang menitikberatkan pada cerita yang segar dan berpijak pada visi kreatif

sutradara. Rekam jejak Imajinari diantaranya adalah film “AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!” yang menjadi film terlaris

sepanjang masa di Indonesia dengan perolehan lebih dari 11 juta penonton, film mega box office “AGAK LAEN” yang meraih

lebih dari 9,1 juta penonton, serta “Jatuh Cinta Seperti Di Film Film” yang memenangkan Film Terbaik, Skenario Asli Terbaik,

Aktor dan Aktris Utama Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia tahun 2024.


Didirikan oleh duo Ernest Prakasa & Dipa Andika, Imajinari memulai debutnya melalui film “Ngeri-Ngeri Sedap” (2022),

sebuah film yang kemudian menjadi Official Selection Indonesia untuk Academy Awards 2023.


TENTANG ANGIN SEGAR

Angin Segar terbentuk dari kegelisahan pekerja produksi iklan di bawah naungan Cerahati yang ingin lebih fokus mengerjakan proyek inisiatif sendiri. Video musik dari Seringai dan The Panturas dengan pendekatan film cerita pendek, film dokumenter GELORA merupakan proyek awal inisiatif tersebut. Film music scoring, audio mixing & mastering juga menjadi kendaraan kami dalam berinisiatif di industri film. Operasi Pesta Copet diharapkan menjadi langkah awal baru untuk lebih aktif berinisiatif mengembangkan cerita dan memproduksinya dalam medium film.


TENTANG BOSS CREATOR

BOSS Creator adalah promotor musik dan festival terkemuka di Indonesia. Salah satu acara unggulannya adalah Pestapora, sebuah festival musik yang menghadirkan pengalaman unik dan tak terlupakan bagi para penggemar musik Indonesia.

Pestapora 2025 meraih kesuksesan dengan penjualan 100 ribu tiket untuk penyelenggaraan 3 hari festival.

Babak Baru BCL! Rilis Single “Terpesona”, Berduet Manis dengan Top 5 Indonesian Idol 2026 Josh Flo dan Kembali Berkolaborasi Bersama Produser & Pencipta Lagu Laleilmanino Single Terpesona rilis pada 21 Agustus 2026 di seluruh platform streaming

  Jakarta, 21 Agustus 2026 — Diva Indonesia Bunga Citra Lestari (BCL) kembali dengan karya terbarunya di dunia musik lewat single romansa ci...