Jumat, 13 Februari 2026

Viu & MaxStream Present Tiba Tiba Brondong, A Romantic Comedy About Love Without Age Limits

 

Starring Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, and Cinta Brian, the 9-episode series premieres on 13 February and explores the chaos of an unexpected age-gap romance


PCCW (SEHK:0008) - INDONESIA, 13 February 2026. Viu Indonesia together with MaxStream officially announces their third co production original series Tiba Tiba Brondong, a romantic comedy that dares to challenge social norms and celebrates love without limits. The series will premiere exclusively on 13 February, just in time for Valentine's Day.

As discussions around age-gap relationships, women's autonomy, and societal expectations continue to gain momentum across digital platforms, audiences today are increasingly questioning long-standing norms about love and partnership. With age-gap romance content amassing over 737 million views on Tik Tok, the topic has become a prominent cultural conversation among Gen Z and millennial audiences.

Starring Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, and Cinta Brian, the nine-episode series presents a romantic story layered with humor and emotional tension.

Tiba Tiba Brondong follows Isabella "Bella" Rahardja (Tatjana Saphira), a 36-year-old smart and successful woman whose single status never escapes public scrutiny. Seeking escape from constant pressure, Bella turns to online dating until she discovers that the charming man she's been chatting with, Langit (Fady Alaydrus), is actually an 18-year-old fresh graduate.

Shocked, Bella cuts all contact, only to face an even bigger surprise when Langit turns out to be her new college student.

What begins as an awkward reunion slowly develops into undeniable chemistry, placing them in the center of scandal, judgment, and emotional conflict. Their relationship is tested by a manipulative campus dean, Langit's matchmaking mother, and the return of Bella's "perfect ex," Raka (Cinta Brian).

Blending romance, comedy, and emotional storytelling, the series delivers laughter, chaos, and heartfelt moments that reflect modern love struggles especially for women navigating expectations, judgment, and desire.

Tiba Tiba Brondong is a daring, heartwarming story that proves love doesn't follow rules - it follows the heart.

Viewers can watch Tiba Tiba Brondong on Viu and MAXStream. For the best experience, audiences can subscribe to MAXStream and Viu's bundled packages via MyTelkomsel and enjoy a seamless viewing experience across devices.

Viu and MAXStream are available for free download on the App Store, Google Play, and selected smart TVs, or by visiting www.viu.com and www.MAXStream.tv.

The official trailer and images of Tiba Tiba Brondong are now available here.



Wujudkan Mimpi Anak Indonesia, Mahakarya Pictures Rilis Trailer Resmi Film Petualangan 'Pelangi di Mars'

 


Jakarta, 13 Februari 2026 - Mahakarya Pictures merilis trailer resmi film anak bertema petualangan dan fiksi ilmiah, Pelangi di Mars, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat 13 Februari 2026. Film ini mengangkat kisah perjalanan seorang anak Indonesia di Planet Mars yang mengemban misi penting demi mengatasi krisis air di Bumi. Dikembangkan selama lima tahun, produksi ini menggunakan teknologi Extended Reality (XR) untuk mendukung kedalaman penyampaian ceritanya.


Menghadirkan Alternatif Cerita untuk Anak Indonesia

Produser Dendi Reynando mengungkapkan bahwa kehadiran Pelangi di Mars berangkat dari kepeduliannya terhadap keterbatasan pilihan tontonan bagi keluarga di tanah air. "Pelangi di Mars lahir karena menurut saya film untuk anak dan keluarga masih sangat terbatas (under supply). Saya ingin memberikan satu alternatif untuk anak Indonesia, agar anak-anak kita memiliki cerita mereka sendiri," ujar Dendi Reynando.

Baginya, film ini adalah upaya untuk memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia agar tetap memiliki keterikatan dengan identitas dan imajinasi mereka melalui media sinema.


Cerita Pelangi Sebagai Seorang Anak, Sebagai Pusat Cerita

Berbeda dengan narasi film anak pada umumnya, Pelangi di Mars menempatkan anak Indonesia sebagai penggerak utama cerita. Tokoh utama, Pelangi (diperankan oleh Messi Gusti), digambarkan sebagai sosok yang aktif, memimpin, dan mampu membawa solusi bagi persoalan besar.

Sutradara Upie Guava menyebutkan bahwa pendekatannya dalam menggarap film ini banyak dipengaruhi oleh kegemarannya pada film fiksi ilmiah sejak kecil. Melalui film ini, ia ingin mengembalikan hak anak-anak untuk memiliki imajinasi tanpa batas.

Bagi Upie Guava, Pelangi di Mars adalah jawaban atas kegelisahannya terhadap ruang imajinasi generasi muda. "Saya ingin anak-anak percaya bahwa tidak ada batas yang tidak bisa ditembus. Di sini, anak-anak adalah pahlawannya," tegas Upie.


Kisah yang Diperkuat dengan Teknologi yang Mumpuni

Meskipun diproduksi di Studio DossGuavaXR dengan melibatkan animasi 3D dan robot interaktif, seluruh kecanggihan tersebut diposisikan semata-mata sebagai alat untuk memperkuat pesan dan emosi dalam film. Narasi "Pahlawan lahir dari keberanian" menjadi napas utama dari setiap adegan yang dihasilkan melalui proses panjang selama bertahun-tahun.

Nilai kepahlawanan yang lahir dari keberanian itu sudah bisa dirasakan dari Official trailer-nya. Penonton diajak mengikuti kisah Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, karena ia terdampar bersama ibunya, Pratiwi.

Bersama teman-teman robotnya melanjutkan misi ibu Pratiwi untuk menemukan mineral bernama Zeolith Omega yang dapat menjadi solusi untuk krisis air bersih di Bumi dan bertemu dengan ayah Pelangi.

Suasana pemutaran ini semakin semarak dengan kehadiran Messi Gusti (pemeran Pelangi) dan para pengisi suara robot ikonik: Bimoky, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya. Kejutan besar terjadi ketika lima robot dari film tersebut muncul secara nyata di lokasi acara, menyapa awak media dan memberikan pengalaman yang tak biasa saat memasuki dunia Pelangi di Mars.

Kristo Immanuel menyatakan kekagumannya terhadap kualitas yang tidak main-main dari proyek ini. "Anak-anak dan orang-orang dewasa Indonesia layak mendapatkan konten berkualitas tinggi, dan Pelangi di Mars hadir untuk itu," ungkap Kristo.


Tayang Serentak di Momen Lebaran 2026

Siapkan diri untuk petualangan keluarga paling spektakuler tahun ini. Pelangi di Mars dijadwalkan akan mengguncang layar lebar di seluruh Indonesia tepat pada momen perayaan Lebaran, 18 Maret 2026.

Trailer nya 



Kamis, 12 Februari 2026

Ruang Sempit dan Kekuasaan yang Menekan: Lift Hadir sebagai Drama Psikologis yang Relevan dengan Zaman

 Film Terbaru Produksi Trois Films Gunakan Lift sebagai Metafora Kekuasaan dan Ketidakberdayaan


Jakarta, 13 Februari 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop pada 26 Februari 2026, kisah dalam film drama psikologis Lift semakin terasa relevan dengan masa kini. Film debut penyutradaraan Randy Chans yang diproduseri oleh Ario Sagantoro dan Adha Riantono ini menyampaikan kritik sosial dengan cara yang kreatif: tentang relasi kuasa, kontrol, dan posisi individu ketika berhadapan dengan sistem yang menekan.

Tanpa mengumbar pesan secara eksplisit, Lift merancang terornya sebagai pengalaman yang terasa dekat dengan keseharian. Sebuah lift, ruang transisi yang biasa kita masuki tanpa berpikir panjang, digunakan sebagai simbol situasi tanpa jalan keluar. Pintu tertutup, kendali berpindah tangan, dan suara dari interkom menjadi satu-satunya otoritas yang harus ditaati. Dalam kondisi tersebut, pilihan bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal bertahan hidup.

Randy Chans menyebut bahwa pendekatan ini diambil karena sangat mencerminkan sistem masyarakat kita.

“Lift itu ruang yang sangat demokratis sekaligus sangat hierarkis,” ujarnya. “Semua orang bisa masuk, tapi begitu pintu tertutup, ada sistem yang bekerja di luar kendali kita. Kami tertarik pada ketegangan itu; tentang bagaimana manusia bereaksi saat dihadapkan pada kekuasaan yang tak terlihat, tapi sangat menentukan nasib.”

Relevansi tersebut menjadi semakin kuat ketika sebagian besar cerita Lift berlangsung di satu lokasi. Sekitar 60 persen film terjadi di dalam lift, menjadikannya sebagai perangkat dramatik utama. Ruang yang sempit memaksa karakter untuk terus berhadapan dengan tekanan, tanpa kemungkinan untuk pergi, menghindar, atau “kabur” dari situasi yang ada.

Official Poster film Lift


“Di dunia nyata, sering kali kita merasa punya banyak pilihan, padahal sebenarnya sebaliknya,” ungkap Randy. “Lift bekerja dengan cara yang sama. Kamu bisa menekan tombol, tapi kamu tidak pernah benar-benar mengendalikan ke mana kamu dibawa.”

Kisah Lift berpusat pada Linda (Ismi Melinda), staf humas PT Jamsa Land, yang terjebak di dalam lift kantor enam tahun setelah kecelakaan tragis yang menewaskan banyak orang. Melalui suara misterius di interkom, Linda dipaksa mengikuti serangkaian permainan berbahaya demi menyelamatkan anaknya. Seiring permainan berlangsung, lapisan-lapisan kebenaran tentang tragedi masa lalu mulai terkuak, memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan di level atas berdampak langsung pada mereka yang berada di bawah.

Shareefa Daanish menyebut proses syuting Lift sebagai pengalaman yang intens tapi juga menarik. “Film ini seru karena ketegangannya pelan-pelan, bukan yang langsung meledak,” ujarnya. “Kita diajak masuk ke situasi yang kelihatannya sederhana, tapi makin lama makin terasa menekan. Buat aku, itu yang bikin Lift juga terasa relevan untuk hari ini. Karena kadang dalam hidup, kita juga ada di posisi yang kayak gitu.”

Terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025, Official Selection AME International Film Festival 2026, Official Selection The North Film Festival Barcelona 2026, dan meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasia Fest 2025, Lift menunjukkan bahwa teror yang paling efektif sering kali lahir dari kedekatannya dengan realitas. Bukan monster, bukan dunia distopia, melainkan ruang sehari-hari yang tiba-tiba berubah menjadi ruang penuh teror.

Selain Ismi Melinda dan Shareefa Daanish, Lift turut dibintangi oleh Verdi Solaiman, Alfie Alfandy, Max Metino, Tegar Satrya, Luthfi Saputra, Annete Yules, dan Berliana Lovell. Film Lift akan tayang serentak di bioskop mulai 26 Februari 2026

Ikuti perkembangan terbaru film ini melalui akun resmi @lift.movie dan @trois.films, dan bersiaplah memasuki ruang sempit yang memaksa kita bertanya: siapa sebenarnya yang memegang kendali?




FACT SHEET

Judul : LIFT

Genre : Drama Psikologis

Durasi : 107 Menit

Tanggal tayang : 26 Februari 2025 (Bioskop)

Sutradara : Randy Chans

Produser Eksekutif : Lok S. Iman

Penulis : Aria Gardhadipura

Produser : Adha Riantono

Koproduser : Ario Sagantoro

Production House : Trois Films, Maxima Pictures


Pemain

Ismi Melinda berperan sebagai Linda

Shareefa Daanish berperan sebagai Doris

Verdi Solaiman berperan sebagai Hansen

Alfie Alfandy berperan Sebagai Mr. X

Max Metino berperan Sebagai Anton

Tegar Satrya berperan sebagai Joko

Luthi Saputra berperan sebagai Jonathan (Anak Linda)

T. Rifnu Wikana berperan sebagai Deddy

Annete Yules berperan sebagai Leoni (Asisten Doris)

Berliana Lovell berperan sebagai Dita (Sekretaris Hansen)

⁠Amelia Alfiani berperan sebagai Amel (Sekretaris Deddy)


"Masih Sempatkah Mengucap Maaf?" Momen Isak Tangis Warnai Gala Premiere Titip Bunda di Surga-Mu

 


Jakarta, 12 Februari 2026 - RRK Pictures bersama Spectrum Film dan Festival Pictures telah menggelar Gala Premiere dan Press Conference film Titip Bunda di Surga-Mu pada 12 Februari 2025 di CGV Grand Indonesia. Acara ini menjadi momen perdana film drama keluarga tersebut dipertontonkan kepada publik, sekaligus menandai sambutan hangat yang penuh emosi dari para penonton.

Gala premiere ini dihadiri oleh produser Dono Indarto, sutradara Hanny R. Saputra, serta jajaran pemain film Titip Bunda di Surga-Mu, antara lain Kevin Julio, Abun Sungkar, Meriam Bellina, Ikang Fawzi, Natalie Zenn, Arfan Afif, Chiki Fawzi, Asri Welas, dan Zora Vidyanata, yang juga bertindak sebagai penulis skenario.

Seusai pemutaran film, suasana haru menyelimuti studio. Banyak penonton tampak menitikkan air mata, terlarut dalam kisah keluarga yang disajikan dengan jujur dan dekat dengan realitas kehidupan. Cerita tentang hubungan orang tua dan anak, penyesalan, serta cinta yang kerap terlambat diungkapkan, berhasil menyentuh emosi penonton. Akting Meriam Bellina sebagai Ibu Mozza pun menuai apresiasi besar karena dinilai mampu menghadirkan sosok ibu yang hangat, kuat, dan mengharukan.

Berbicara tentang perannya, Meriam Bellina mengungkapkan makna mendalam dari karakter yang ia perankan. "Peran Ibu Mozza ini sangat penting bagi saya. Dari film ini kita belajar banyak, bukan cuma bagi anak untuk lebih menghargai rasa sayang orang tua, namun juga bagi orang tua untuk semakin berusaha mengerti anak-anaknya, tak hanya mengerti juga saling memaafkan dan menerima," ujar Meriam.

Kehangatan juga terasa dari kebersamaan para pemain yang terbangun selama proses syuting. Kevin Julio membagikan pengalamannya tentang dinamika di balik layar. "Walaupun di film ini keluarga kita banyak berantem, justru itu yang bikin kita di set terasa seperti keluarga beneran. Sampai sekarang kalau ketemu masih sering bercanda, saling usil, dan rasanya sudah dekat banget," ungkap Kevin.

Antusiasme dan respons emosional penonton di gala premiere ini menegaskan Titip Bunda di Surga-Mu sebagai film keluarga yang relevan dan menyentuh, khususnya untuk ditonton bersama orang-orang terdekat menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Turut meramaikan gala premiere, pengisi OST Nabila Maharani juga membawakan lagu "Titip Bunda di Surga-Mu" untuk para penonton yang menghadiri malam penuh emosi ini. Tak hanya itu, beberapa ibu terpilih yang menghadiri gala premiere juga diberikan mawar putih sebagai bentuk apresiasi dan simbol rasa cinta kepada sosok ibu.

Titip Bunda di Surga-Mu mengisahkan tentang Ibu Mozza (Meriam Bellina), seorang ibu yang menjadi pilar kekuatan bagi anak-anaknya di tengah badai konflik yang menguji keutuhan keluarga. Di balik senyum hangat dan ketegarannya, tersimpan luka yang tak pernah ia keluhkan, sementara anak-anaknya terjebak dalam ego dan kesibukan masing-masing.

Ketika sebuah rahasia besar terungkap dan waktu perlahan mulai habis, penyesalan mulai merayap. Akankah cinta dan maaf sempat terucap sebelum jarak abadi memisahkan mereka? Ini adalah sebuah kisah tentang bagaimana kita sering kali lupa bahwa orang tua tidak selamanya ada, dan betapa berharganya setiap detik yang masih tersisa.


Membawa Kehangatan Keluarga ke Sekolah

Dalam rangkaian kegiatan promotional, film Titip Bunda di Surga-Mu juga telah mengunjungi SMA Negeri 75 Jakarta pada 11 Februari 2026 dalam program "Up Close & Personal". Acara ini membawa Natalie Zen, Chiki Fawzi, dan Abun Sungkar untuk bertemu langsung dengan para murid dalam sesi talkshow dan meet & greet.

Tak hanya itu, hadir juga games seru serta kompetisi bernyanyi lagu OST "Titip Bunda di Surga-Mu" dengan banyak hadiah menarik yang diberikan kepada siswa-siswi beruntung.


Nonton dan Saksikan "Impact"nya Duluan di Special Screening!

Bagi penonton yang penasaran, Titip Bunda di Surga-Mu akan mengadakan special screening di tujuh kota besar di Indonesia sebelum penayangan resminya di bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan aktivitas film Titip Bunda di Surga-Mu dapat diikuti melalui akun media sosial resmi @titipbundadisurgamu dan @rrk.picture.

Selamat Datang di Dunia Na Willa", Visinema Studios Luncurkan Official Trailer & Poster, Hadirkan Perayaan Terbesar untuk Keluarga di Lebaran 2026

 

Kisah ajaib terbaru dari kreator film JUMBO yang mengajak semua orang kembali melihat dunia dengan penuh keajaiban


Jakarta, 12 Februari 2026 - Menyambut Lebaran 2026, Visinema Studios resmi merilis official trailer dan poster film Na Willa, sebuah film live action keluarga yang mengajak penonton kembali melihat dunia dari sudut pandang anak-anak dengan rasa ingin tahu yang jujur, imajinasi yang hidup, dan keajaiban yang lahir dari hal-hal sederhana.

Lebaran menjadi momen pulang, berkumpul, dan merayakan keluarga. Tahun ini, Visinema Studios menghadirkan Na Willa sebagai sebuah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran. Sebuah ajakan untuk #JadiAnakAnak kembali, melepaskan sejenak peran orang dewasa, dan mengingat bagaimana dunia pernah terasa begitu besar, penuh warna, dan penuh keajaiban.

Lahir dari kreator film JUMBO yang sukses menyentuh hati jutaan penonton Indonesia, Na Willa menjadi debut film live action dari Ryan Adriandhy, sekaligus kolaborasi kreatif dengan penulis Reda Gaudiamo, yang novelnya menjadi dasar cerita film ini. Dengan pendekatan storytelling yang khas dan penuh empati, Na Willa menghadirkan perspektif anak yang jarang diangkat dalam sinema keluarga Indonesia.

Official poster Na Willa memperlihatkan dunia imajinasi yang lahir dari mata seorang anak perempuan yang hidup di Indonesia era 1960-an. Sementara itu, official trailer mengajak penonton masuk ke pengalaman menjadi anak-anak kembali, saat ketidaktahuan bukan kelemahan, melainkan pintu menuju petualangan.

Diproduseri oleh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, serta diproduseri eksekutif oleh Herry B. Salim, Na Willa menegaskan komitmen Visinema Studios dalam menghadirkan produksi film keluarga bernilai tinggi, baik dari sisi cerita, visual, maupun pengalaman menonton lintas generasi.

"Na Willa merupakan bentuk komitmen Visinema Studios yang mengajak kita mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Ajakan untuk masuk dan merasakan sebuah dunia yang dibangun dengan imajinasi, kejujuran, dan keberanian anak-anak," ujar Anggia Kharisma, Produser Na Willa sekaligus Chief Content Officer Visinema Studios.

Official Poster Film Na Willa


"Untuk penonton dewasa, film ini seperti perjalanan menelusuri memori masa kecil, tentang keluarga, tentang rumah, dan tentang hal-hal sederhana yang dulu terasa begitu berarti. Sementara untuk anak-anak, ini adalah ruang untuk bermain, berimajinasi, bernyanyi, dan merayakan rasa ingin tahu mereka."

Lebih lanjut, Anggia menegaskan bahwa Na Willa dirancang sebagai tontonan yang aman dan hangat untuk semua kalangan.

"Na Willa adalah film yang paling aman untuk semua orang, untuk anak-anak, untuk keluarga, dan juga untuk siapa pun yang ingin kembali merasakan hangatnya keluarga dan masa kanak-kanak," tambah Anggia.

Disutradarai sekaligus ditulis oleh Ryan Adriandhy, film ini menghadirkan dunia anak tanpa menggurui."Sebagai orang dewasa, kita sering lupa bagaimana dulu kita memandang dunia," ujar Ryan

"Lewat Na Willa, saya ingin mengajak penonton melihat dunia dari mata anak-anak, mata yang jujur, penuh rasa penasaran, dan selalu menemukan keajaiban dari apa pun yang dihadirkan dunia."

Kolaborasi dengan penulis Reda Gaudiamo menjadi fondasi penting dalam membangun semesta cerita Na Willa yang hangat dan reflektif.

"Sejak awal, Na Willa selalu berbicara tentang keluarga dan proses saling belajar. Bukan hanya anak yang belajar memahami dunia, tapi juga orang tua yang belajar memahami cara berpikir anak-anak. Film ini menghadirkan nilai tentang tanggung jawab, rasa hormat, dan menerima perbedaan dengan cara yang lembut dan membumi," ungkap Reda.

Official Trailer Na Willa menghadirkan potongan masa kecil yang begitu dekat dengan keseharian: memanggil teman dari balik pagar, berlari di lapangan sambil menerbangkan layangan, hingga meneguk minuman orange cruz yang "nyekrusss" di siang hari. Warna-warna yang ceria, tawa lepas, serta kebebasan berimajinasi menjadi napas utama film ini, mengingatkan bahwa kebahagiaan lahir dari hal-hal yang sederhana.

Seperti karya Visinema Studios lainnya, musik kembali menjadi bagian penting dari film. Original soundtrack berjudul "Sikilku Iso Muni" yang diciptakan Laleilmanino hadir sebagai lagu yang tidak hanya nyaman didengar, tetapi juga dinyanyikan dan dirasakan bersama.

Film ini memperkenalkan Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama jajaran pemeran anak berbakat lainnya: Freya Mikhayla (Farida), Azamy Syauqi (Dul), dan Arsenio Rafisqy (Bud). Deretan pemeran dewasa seperti Junior Liem, Irma Rihi, Melissa Karim, Ira Wibowo, Putri Ayudya, Nayla Purnama, Agla Artalidia, hingga Ratna Riantiarno turut memperkaya cerita.

Bagi Luisa Adreena, Na Willa adalah pengalaman yang penuh kehangatan. "Di film ini aku banyak bermain dan berimajinasi. Mak sama Pak selalu ngajarin dengan sabar. Rasanya kayak main, tapi juga belajar." cerita Luisa Adreena.

Dalam kesempatan yang sama, Visinema Studios juga mengumumkan bahwa film Na Willa akan menjadi pembuka dari Na Willa Universe, sebuah semesta cerita yang akan tumbuh dan menemani keluarga dan masyarakat Indonesia.

Na Willa akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada Lebaran 2026, sebagai sebuah perayaan hangat untuk semua orang, sebuah ajakan untuk pulang, berkumpul, dan kembali #JadiAnakAnak.


***

Trailer Na Willa



Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama, Keluarga

Sutradara : Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya, dan Ratna Riantiarno.

Rabu, 11 Februari 2026

SIDANG ADAT TORAYA JADI RUANG PEMULIHAN ATAS POLEMIK CANDAAN STAND-UP COMEDY PANDJI PRAGIWAKSONO

 

Berikut namanya dari kiri-ke-kanan:
Daud Pangarungan, Sekretaris Tongkonan Kada
Haris Azhar, Kuasa Hukum Pandji Pragiwaksono
Saba’ Sombolinggi, Hakim Adat
Pandji Pragiwaksono, Komika
YS Tandirerung, Ketua Masyarakat Adat Ulusalu
Romba Marannu Sombolinggi, Ketua Pengurus Harian Daerah Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) Toraya
Lewaran Rante’labi, Ketua Masyarakat Adat Sa’dan
Sam Barumbun, Ketua Tongkonan Kad

TORAJA - Komika Pandji Pragiwaksono menjalani persidangan adat di Tongkonan Layuk Kaero, Sangalla, Tana Toraja, Selasa (10/2/2026). Persidangan adat (Ma'Buak Burun Mangkali Oto') yang dihadiri oleh perwakilan 32 wilayah adat di Toraya ini difasilitasi oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai bagian dari upaya komunikasi serta penyelesaian persoalan secara adat.

Persidangan adat ini digelar sebagai respons atas candaan Pandji dalam pertunjukan Messakke Bangsaku (2013) yang menyinggung tradisi kematian (Rambu Solo di Toraya. Candaan tersebut yang beredar luas di berbagai platform media sosial- dinilai telah melukai perasaan Masyarakat Adat Toraya karena menyinggung budaya, martabat, dan keyakinan kolektif yang dijaga lintas generasi selama berabad-abad.

Dalam persidangan adat tersebut, Pandji menyampaikan pengakuan dan mendengarkan pandangan para perwakilan dari 32 wilayah adat sebagai bagian dari proses pemulihan. "Saya merasa sangat terhormat menjadi bagian dari prosesi pemulihan keharmonisan yang begitu indah dan luhur," ujar Pandji. Pendiri komunitas Stand Up Indo itu menyebut persidangan adat yang dijalaninya di Toraja sebagai sebuah "proses yang adil dan demokratis."

"Saya mendengar dan menerima pernyataan para perwakilan wilayah adat. Saya mengerti, dan semoga ini membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik," kata Pandji, seraya berharap bisa diterima untuk kembali ke Toraja.

Ketua Pengurus Harian Daerah AMAN Toraya, Romba Marannu Sombolinggi, menegaskan bahwa proses ini tidak semata ditujukan kepada Pandji sebagai individu. Menurut dia, polemik yang berkembang setelah potongan pertunjukan tersebut beredar luas juga memunculkan berbagai respons yang tidak seluruhnya proporsional.

"Dalam proses ini, bukan hanya Pandji yang menyampaikan permohonan maaf. Kami sebagai Masyarakat Adat Toraya juga turut melakukan permintaan maaf atas berbagai hal yang tidak seharusnya terjadi dalam dinamika kemarin, termasuk ucapan atau sikap yang menyinggung," katanya.

Adapun para hakim adat dalam persidangan ini-Saba' Sombolinggi, Eric Crystal Ranteallo, Yusuf Sura Tandirerung, Maksi Balalembang, Lewaran Rantela'bi, Nura Massora Salusu, dan Romba Marannu Sombolinggi- menilai bahwa persoalan ini berakar pada ketidaktahuan Pandji.

Perkara ini, dalam penilaian para hakim adat, perlu diselesaikan lewat penghakiman sepihak; melainkan melalui musyawarah terbuka yang melibatkan komunitas Masyarakat Adat di Toraya. Karena itu, kehadiran perwakilan dari 32 wilayah adat dipandang penting untuk memastikan proses pemulihan berjalan inklusif dan mencerminkan suara komunitas.



Sekretaris Tongkonan Kada, Daud Pangarungan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pandji di Torayal untuk menyelesaikan persoalan secara adat. la juga menjelaskan bahwa mekanisme penyelesaian konflik dalam hukum adat Toraya yang berorientasi pada pemulihan, bukan penghukuman. "Hukum adat Toraya. bicara tentang pemulihan. Yang diterapkan bukan denda, melainkan alat pemulihan," kata Daud.

Dalam persidangan tersebut, Pandji dikenakan tanggung jawab pemulihan, berupa satu ekor babi dan lima ekor ayam. Ketentuan itu akan dilanjutkan dengan pelaksanaan ritual adat pada Rabu (11/2/2026). Menurut Daud, tanggung jawab pemulihan tersebut dimaksudkan untuk memulihkan kembali relasi manusia dengan sesama manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta agar kehidupan kembali selaras dan membawa kebaikan bagi semua.

Kuasa hukum Pandji, Haris Azhar, menilai proses penyelesaian lewat mekanisme hukum adat yang dijalani Pandji sebagai sesuatu nan autentik dan bernilai pembelajaran. la mengaku terkesan lewat pertemuan antara seorang pelaku budaya populer (komika) dengan perwakilan 32 wilayah adat sebagai peristiwa penting.

"Ini menunjukkan kekuatan Masyarakat Adat dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, yang difasilitasi oleh AMAN. Proses seperti ini bisa menjadi rujukan di tempat lain ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan serupa," ujar Haris.

Persidangan adat ini perlu ditempatkan dalam kerangka restorative justice, yakni keadilan yang berorientasi pada pemulihan, bukan pembalasan. Melalui mekanisme adat, Masyarakat Adat Toraya menunjukkan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan secara bermartabat dan dialogis, dengan tujuan memulihkan relasi-tidak hanya antarmanusia, tetapi juga hubungan dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta sebagai fondasi kehidupan bersama.

Teaser Trailer dan Poster Warung Pocong Dirilis, Tiga Komika Siap Buka Warung di Bioskop 9 April!

 


Jakarta, 11 Februari 2026 – Rumah produksi Entelekey Media Indonesia dan Tiger

Pictures resmi merilis teaser trailer dan teaser poster untuk film komedi-horor terbaru

berjudul Warung Pocong, yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 9 April 2026.


Disutradarai oleh Bendolt, Warung Pocong mengikuti kisah tiga pemuda Jakarta,

Kartono, Agus, dan Makmur, yang tergiur lowongan kerja dengan gaji besar di sebuah

warung misterius di sebuah desa terpencil. Apa yang awalnya tampak sebagai peluang

emas, perlahan berubah menjadi mimpi buruk penuh teror.


Teaser berdurasi singkat ini memperkenalkan Warung Sari, sebuah warung sederhana

di desa terpencil, yang menjadi latar utama cerita. Tiga karakter utama terlihat

memasuki warung tersebut, disambut suasana normal penuh aktivitas jual beli. Namun

suasana segera berubah saat terdengar kalimat misterius, “Kalau kalian bekerja

dengan baik, kalian akan menerima gaji sesuai dengan yang dijanjikan.” Sekilas

terdengar wajar, tapi dalam konteks cerita, kalimat ini justru menyiratkan sesuatu yang

jauh lebih mengerikan.


Teaser juga memperlihatkan bagaimana Warung Pocong tak ragu mencampur komedi

dan horor dalam satu nafas. Di salah satu adegan, Agus panik melihat pocong, yang

ternyata cuma Kartono. Tapi sebelum bisa tertawa lega, penonton sudah dibawa ke

suasana mencekam dimana tiga karakter utama berlari di tengah hutan, seolah sedang

diburu oleh sesuatu yang tak kasat mata.


“Waktu bikin film ini, saya kepikiran soal gimana banyak orang rela ambil risiko demi

kehidupan yang lebih baik. Tapi kadang, apa yang kelihatan jadi ‘peluang emas’ justru

bisa jadi jebakan. Lewat Warung Pocong, saya pengen bercerita tentang itu,

semuanya kami kemas dengan cara yang tetap menghibur, nggak melulu serius.” tutur

Bendolt selaku sutradara.


Film Warung Pocong dibintangi oleh deretan nama besar seperti Fajar Nugra, Sadana

Agung, Randhika Djamil, Arla Ailani, Shareefa Daanish, Rifnu Wikana, Kiki Narendra,

dan Whani Dharmawan.


Pas baca naskahnya, saya langsung mikir, ‘wah, ini cerita orang-orang yang nekat

karena kepepet’, real banget. Karakter saya tuh kayak banyak orang di luar sana, asal

ada duit gede, langsung sikat gak pake mikir.” ujar Fajar Nugra.


Bersamaan dengan teaser trailer, teaser poster Warung Pocong juga dirilis. Poster ini

menampilkan perpaduan suasana misterius sekaligus sentuhan humor yang menjadi

ciri khas film sekaligus mengundang rasa penasaran.


Film Warung Pocong dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 9 April

2026. Film ini siap menjadi pilihan menarik bagi penonton yang menyukai film horor

sekaligus menginginkan hiburan penuh tawa.


Untuk informasi lebih lanjut mengenai film Warung Pocong, ikuti perkembangan

terbaru di akun media sosial resmi @filmwarungpocong dan @entelekeymediaid.

***

SINOPSIS

Tiga pemuda Jakarta: Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur

(Randhika Djamil), terjebak dalam masalah keuangan masing-masing, mulai dari utang,

penipuan, hingga investasi bodong. Ketika seorang pria tua bernama Kusno (Whani

Darmawan) menawarkan mereka kerja sebagai penjaga warung dengan gaji fantastis

50 juta per bulan, mereka pun menerimanya dan langsung dibawa ke desa terpencil

bernama Lali Jiwo. Namun keanehan mulai terjadi saat mereka mengalami teror gaib

dari sosok pocong.

Viu & MaxStream Present Tiba Tiba Brondong, A Romantic Comedy About Love Without Age Limits

  Starring Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, and Cinta Brian, the 9-episode series premieres on 13 February and explores the chaos of an unexp...