Jumat, 03 April 2026

Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

 


Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film siap hadir di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 April 2026. Menghadirkan kisah yang dekat dengan pergulatan hidup manusia tentang keyakinan, kehilangan, dan pencarian makna hidup, Yohanna menawarkan pengalaman menonton yang emosional sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. 

Dibintangi oleh Laura Basuki, Yohanna mengisahkan seorang biarawati muda yang dikirim ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, untuk menjalankan misi kemanusiaan pasca bencana Badai Tropis Seroja. Ketika truk berisi donasi yang ia bawa dicuri, misi yang tampak sederhana itu membawanya masuk ke dalam realitas Sumba yang keras: kemiskinan yang mencengkeram, aparat yang korup, dan anak-anak yang terpaksa bekerja di usia yang seharusnya mereka habiskan untuk bermain. 

Di tengah kenyataan yang berat, ia juga harus berhadapan dengan krisis keyakinan dan identitas dirinya sebagai seorang biarawati. Melalui sudut pandang karakter Yohanna, penonton diajak menyelami perjalanan batin yang dekat dan relevan dengan kehidupan banyak orang.

"Saya pastikan Yohanna bukanlah film tentang agama apalagi cerita satu agama tertentu. Saya ingin membuat film dengan pesan universal. Yohanna mengalami apa yang kita semua pernah rasakan, titik di mana kita bertanya, apakah semua yang kita yakini selama ini benar adanya. Itu bukan pertanyaan milik seorang biarawati saja. Itu pertanyaan kita semua. Jadi saya bisa pastikan Yohanna akan meninggalkan kesan menonton yang mendalam dan berbeda dari film Indonesia kebanyakan." ujar Razka Robby Ertanto, Sutradara dan Penulis Skenario Yohanna.

Hal senada juga disampaikan oleh Laura Basuki, yang berkat penampilannya di film Yohanna dinobatkan sebagai Best Actress di Asian Film Festival 2025. Laura mengungkapkan bahwa kisah dalam film ini terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup banyak orang, dan karakter Yohanna memberinya banyak pelajaran hidup.

"Yang membuat saya sangat terhubung dengan Yohanna adalah karena pergulatan yang ia alami sebenarnya sangat manusiawi. Kita semua pernah berada di titik mempertanyakan hidup, keyakinan, bahkan diri sendiri. Karena itu saya percaya film ini akan terasa dekat bagi banyak orang." ujar Laura Basuki, Pemeran Yohanna

Official Poster 

Penonton bioskop Indonesia akan menyaksikan Yohanna dalam versi yang sedikit berbeda dari yang tayang di festival internasional. Jika versi festival dibangun dengan pendekatan yang lebih eksperimental, penuh lompatan waktu dan ruang interpretasi terbuka, maka versi bioskop hadir dengan alur yang lebih kronologis dan mengalir.

Penyesuaian ini dilakukan bukan untuk menyederhanakan, melainkan untuk memastikan pesan utama film dapat menjangkau penonton seluas-luasnya dari berbagai latar belakang

"Kami ingin pesan dan emosi yang dirasakan penonton di berbagai festival internasional juga bisa sampai dengan hangat kepada penonton di Indonesia. Strukturnya kami rapikan, tetapi roh  ceritanya tidak kami sentuh. Terlebih, film ini juga telah mendapatkan klasifikasi SEMUA UMUR dari Lembaga Sensor Film (LSF)" tambah Robby.

Sebelum tiba di bioskop Indonesia, Yohanna telah membuktikan dirinya di berbagai festival film. Film ini meraih lima penghargaan dalam Indonesian Screen Awards JAFF 2024, yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Storytelling Terbaik, Akting Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.

Film ini juga dinobatkan sebagai Film Pilihan Tempo 2024, serta mengantarkan Laura Basuki meraih Best Actress di Asian Film Festival 2025 di Roma, Italia. Sebelumnya, Yohanna memulai debut dunia di Rotterdam International Film Festival ke-53, dan terpilih sebagai Official Selection Adelaide Film Festival 2025, Australia.

Selain dibintangi Laura Basuki, film Yohanna juga menghadirkan Jajang C. Noer, Kirana Grasela, dan Iqua Tahlequa, serta melibatkan anak-anak Sumba sebagai bagian penting dari cerita.  Informasi terbaru mengenai film Yohanna bisa diakses melalui kanal Instagram resmi Summerland di @summerland.films.


Kamis, 02 April 2026

Film ini mengangkat tema "fatherless" atau kehilangan figur ayah, serta perjuangan seorang anak dalam menemukan arah hidup setelah kepergian sosok panutan.

 

Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? Persembahan Rumah Produksi Five Elements Pictures dan Disutradarai Kuntz Agus, Tayang di Bioskop Nasional Mulai 9 April 2026

Jakarta, 2 April 2026 — Sutradara Kuntz Agus kembali melahirkan sebuah film drama keluarga mengharukan berjudul Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?. Film ini merupakan film layar lebar perdana produksi Five Elements Pictures bekerjasama dengan Kults Creative, diproduseri oleh Soemijato Muin dan Ody Mulya Hidayat dengan penulis skenario Oka Aurora dan Kuntz Agus. Adaptasi dari dari buku mega best-seller berjudul sama karya Khoirul Trian ini siap menyapa penonton di bioskop tanah air mulai 9 April 2026.

Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? berkisah tentang DIRA (Mawar de Jongh) dan DARIN (Rey Bong) yang seiring mereka tumbuh dewasa, menyadari bahwa peran ayah mereka, YUDI (Dwi Sasono), yang dulu selalu ada untuk mereka, kini semakin menjauh. Film ini adalah tentang mereka yang mencoba menemukan arah baru demi belajar melangkah sendiri. Melalui kisah Dira dan Darin, film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? akan membawa penonton dalam perjalanan mencari jawaban untuk setiap hati yang kehilangan kompasnya.

Buku Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? yang ditulis Khoirul Trian memberi dampak yang besar bagi pembacanya. Kesuksesannya memperlihatkan bahwa ada begitu banyak keresahan terhadap sosok Ayah yang selama ini terpendam, yang ketika dibicarakan ternyata menyentuh dan menggerakkan banyak sekali hati. "Keresahan ini yang membuat kami merasa buku ini punya potensi besar untuk divisualisasikan dalam format film layar lebar. Dan menurut kami, Kuntz Agus adalah sutradara paling tepat saat ini yang mampu menghadirkan luapan-luapan emosi hangat dan haru untuk memberi suara kepada sosok ayah yang selama ini masih kurang kita dengarkan," ujar Soemijato Muin, produser Five Elements Pictures.

Proses pengembangan naskah film ini termasuk yang cukup panjang dan hal ini harus dilalui demi mencapai hasil yang terbaik. "Investasi waktu yang kami berikan untuk proses penulisan skenarionya cukup besar dan menurut kami layak dan perlu dilakukan agar kami bisa memberikan yang terbaik. Begitu pula untuk proses costing. Dengan cermat kami pertimbangkan agar suara dan pesan dari cerita ini tersampaikan dengan baik," ujar produser Ody Mulya Hidayat. "Dan kami senang sekali dengan hasilnya, ensemble aktor yang terpilih telah memberikan kekuatan acting terbaiknya untuk menghidupkan karakter-karakter dalam film ini," lanjutnya. Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? dibintangi oleh Mawar de Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, Unique Priscilla, Baskara Mahendra, Kiara Mckenna, Dinda Kanyadewi, dan Azami Syauqi.

"Sebuah kehormatan bagi saya saat dipercaya untuk menggarap adaptasi buku Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?. Dari tahap pengembangan naskah, persiapan sampai proses produksi dan paska produksi, saya merasakan bentuk kolaborasi yang menyenangkan bersama Five Elements Pictures, di mana saya diberi ruang kreatif yang luas untuk berkarya," tutur sutradara Kuntz Agus. "Film ini adalah ungkapan hati, tidak hanya dari seorang anak kepada ayahnya, namun juga sebaliknya. la menjadi sebuah representasi pengalaman nyata bagi banyak keluarga. Semoga film ini dapat membuka ruang untuk saling mendengarkan, memahami, dan memaafkan dalam keluarga."

Diproduksi oleh Five Elements Pictures dan Kults Creative serta didukung oleh IFI Sinema, A&Z Films, dan Leo Pictures, film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? akan tayang di bioskop seluruh tanah air mulai 9 April 2026. Ikuti terus perkembangan film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? melalui akun-akun resmi media sosialnya.


SINOPSIS

Kenangan masa kecil DIRA (Mawar de Jongh) dan DARIN (Rey Bong) bersama ayah dan ibunya, YUDI (Dwi Sasono) dan LIA (Unique Priscilla), manis dan sederhana, namun di bawahnya tersimpan kekosongan yang menunggu pemicu. Seiring mereka tumbuh besar, Yudi kian menjadi sosok ayah yang hadir secara fisik, namun absen emosi. Saat sebuah kecelakaan fatal menimpa Lia yang selama ini menjadi pencari nafkah utama, kekosongan itu meledak dan membuka pintu pada kerapuhan yang selama ini disembunyikan: hutang yang menumpuk, ketidakpastian, dan kebenaran yang tidak lagi bisa ditutup dengan senyum. Kondisi ini memaksa Dira dewasa lebih cepat, namun ia tidak punya arah. Ini adalah kisah perjalanan mencari jawaban untuk setiap hati yang kehilangan kompasnya.


INFORMASI FILM

Director : Kuntz Agus

Script Writers : Oka Aurora, Kuntz Agus

Producer : Ody Mulya Hidayat

Producer Creative : Soemijato Muin

Director of Photography: Fahrul Tri Hikmawan

Art Director : JB Adhi Nugroho

Music Director : Ricky Lionardi

Editor : Gregorius Arya Dhipayana

Wardrobe & Stylist : Hagai Pakan

Make Up & Hair Do : Astrid Sambudiono


CAST

Mawar de Jongh sebagai Dira

Rey Bong sebagai Darin

Dwi Sasono sebagai Yudi

Unique Priscilla sebagai Lia

Baskara Mahendra sebagai Bumi

Kiara Mckenna sebagai Nesya

Dinda Kanyadewi sebagai Anita

Azami Syauqi sebagai Damar

Film Kupeluk Kamu Selamanya Merilis Official Trailer & Poster Kisah Hangat Cinta Tanpa Syarat yang tak Pernah Putus untuk Anak

 

#Cinta Tanpa Syarat Kupeluk Kamu Selamanya 30 April 2026 di bioskop


Jakarta, 1 April 2026 — Kuy Studios dan Aktina Film mempersembahkan film drama keluarga terbaru berjudul Kupeluk Kamu Selamanya yang dibintangi Hana Malasan, Ibnu Jamil, dan Fanny Ghassani. Dalam official trailer yang dirilis, Hana Malasan memerankan Naya, seorang Ibu tunggal yang berjuang sepenuh tenaga untuk anaknya, Aksa (Jared Ali). Di tengah itu, Bagaskara (Ibnu Jamil), Ayah Aksa, berupaya untuk memperebutkan hak asuhnya.

Di antara dinamika 'perebutan' hak asuh anak antara Naya dan Bagaskara, keduanya juga tetap berusaha selalu hadir untuk Aksa yang harus berjuang dengan kondisi penyakitnya. Bagaimana Naya dan Bagaskara menyingkirkan ego mereka dan tetap menjadi orangtua yang baik untuk Aksa, seperti sebuah cinta yang tanpa syarat?

Sementara itu, official poster Kupeluk Kamu Selamanya merefleksikan judul film ini, yang memperlihatkan sebuah pelukan hangat yang berarti. Sebuah pesan bahwa seorang Ibu juga boleh memperlihatkan kerapuhannya, dan membutuhkan dukungan sesama Ibu.

Kupeluk Kamu Selamanya menjadi film layar lebar perdana Kuy Studios, diproduseri oleh Dara Dwitanti dan aktris Dinda Hauw, sekaligus menjadi debut Dinda sebagai produser. Film ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Film ini juga menjadi kolaborasi perdana Sean Gelael dan Angga Dwimas Sasongko sebagai produser eksekutif.

Selain Hana, Ibnu Jamil, dan Jared Ali, film ini dibintangi oleh Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Iyas Lawrence, Vonny Anggraini, Mario Irwinsyah, Yurike Prastika, dan Leroy Osmani.

"Film Kupeluk Kamu Selamanya sangat relevan dengan situasi yang juga banyak dihadapi oleh para Ibu tunggal dalam mengorbankan segalanya demi anaknya. Film ini juga ingin berbicara bagaimana anak juga terkadang bisa menjadi korban dari ego orang dewasa, dan ingin menjadi refleksi bagaimana peran orangtua memberikan cinta yang besar untuk anak," ujar produser Dinda Hauw.

Bagi sutradara Pritagita Arianegara, Kupeluk Kamu Selamanya juga berbicara tentang kehilangan dan kenangan. Prita sendiri merupakan sutradara yang kerap melahirkan karya-karya dengan benang merah tema relasi ibu dan anak.

Official Poster

"Ketika menyutradarai film ini, saya sangat takjub dengan aktor cilik Jared Ali, bagaimana dia bisa membuat lawan mainnya, para aktor dewasa bisa menyampaikan situasi yang dihadapi. Bagi saya, itu berat, namun dia berhasil, dan film ini akan sangat emosional untuk penonton," kata sutradara Pritagita Arianegara.

Hana Malasan, yang untuk pertama kalinya memerankan karakter Ibu tunggal dalam sebuah genre drama, memiliki tantangan baru. Sebelumnya, Hana lebih banyak dikenal dalam film-film genre seperti aksi hingga horor.

Hana menilai, untuk pertama kalinya ia menghadapi situasi ketika tantangan mental dalam berakting, dan merasa lebih berat bila dibanding ia harus beradegan aksi pada film-filmnya yang lain.

"Aku sendiri memang belum menjadi Ibu. Tapi aku besar di lingkungan para Ibu, dan aku juga dibesarkan oleh seorang Ibu. Jadi untuk referensi peran Naya di film ini, bisa kutemui di mana-mana, salah satunya Ibuku sendiri. Sebenarnya rasanya, kuatnya perjuangan seorang Ibu, dan bagaimana terkadang Ibu itu selalu dituntut untuk sempurna, bahkan mungkin oleh diriku sendiri ketika aku kecil," ujar Hana Malasan.

"Sepertinya Ibu akan selalu mau menjadi yang sempurna di mata anak. Mau seberapa susah pun situasinya, pasti akan berusaha sebegitunya, terutama untuk anaknya. Dan itu juga memang yang aku rasakan saat memerankan Naya di film Kupeluk Kamu Selamanya," lanjut Hana.

Ibnu Jamil, yang menjadi Bagaskara di film ini, seorang Ayah yang harus berpisah dengan anaknya, menuturkan film Kupeluk Kamu Selamanya berupaya memotret realita kehidupan. Ia pun mengungkapkan, setelah menonton film ini penonton bisa semakin tumbuh empati terhadaap apa yang dilalui oleh orang lain.

"Film ini tidak berusaha untuk menghakimi siapa pun. Di sini tidak ada karakter antagonis. Ini adalah potret kehidupan di mana situasinya tidak berpihak kepada karakter tersebut, bukan orangnya yang jahat. Saya berharap setelah menonton film ini penonton bisa lebih berempati dengan orang terdekat, jangan egois namun bisa lebih berempati," tutur Ibnu Jamil.

#CintaTanpaSyarat Kupeluk Kamu Selamanya 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @kupelukkamuselamanya dan @kuy.studios.



Viu Hadirkan OTW Halal, Kisah Romansa tentang Rahasia, Iman, dan Transformasi Diri

 


JAKARTA, 2 April 2026 - Viu hari ini mengumumkan drama original terbarunya, OTW Halal, yang akan tayang perdana pada 3 April 2026. Serial yang terdiri dari 8 episode ini menghadirkan kisah romansa yang kuat, mengangkat pertemuan antara gaya hidup urban modern dan nilai-nilai spiritual, dalam perjalanan tentang identitas dan transformasi pribadi. Serial ini dibintangi oleh Fadly Faisal dan Maudy Effrosina, bersama Hannah Al Rashid, Dahlia Poland, Alif Rivelino, serta Jeremie J. Tobing.

Seiring meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu pencarian jati diri, transformasi personal, dan makna hidup, cerita tentang pergulatan antara diri saat ini dan versi sosok yang diinginkan semakin relevan. OTW Halal menangkap momentum tersebut melalui narasi yang emosional sekaligus dekat dengan realitas sosial.

OTW Halal berpusat pada Renata (Maudy Effrosina), yang sebelumnya dikenal sebagai "ratu nightlife" Jakarta. Kehidupan glamornya runtuh dalam semalam, memaksanya untuk membangun kembali hidup dengan identitas baru. Pindah ke sebuah rumah kos sederhana khusus perempuan, ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang asing mengenakan hijab dan mengikuti pengajian mingguan demi bertahan sambil menyembunyikan masa lalu yang terus menghantuinya.



Perjalanannya kemudian bersinggungan dengan Rafi (Fadly Faisal), pria muda yang tenang dan berprinsip, berasal dari latar belakang religius dan tengah meniti jalan menjadi ustaz. Pertemuan dua dunia yang kontras ini memunculkan ketegangan emosional dan kecurigaan, serta membawa keduanya dalam dinamika kompleks yang dipenuhi rahasia serta kemungkinan untuk berubah.

Dengan menempatkan dua individu dari latar belakang yang sangat berbeda sebagai pusat cerita, serial ini menghadirkan potret hubungan modern yang segar dan relevan, yang dibentuk oleh pergulatan batin dan ekspektasi sosial.

OTW Halal akan tersedia di Viu mulai 3 April 2026. Aplikasi Viu dapat diunduh secara gratis melalui App Store, Google Play, serta tersedia di berbagai smart TV, atau melalui situs www.viu.com.

Rabu, 01 April 2026

Momen Haru Reda Gaudiamo dan Ibu Farida di Surabaya, Kisah Nyata di Balik Na Willa yang Telah Dirasakan Hampir Satu Juta Penonton

 

Pertemuan dua sahabat masa kecil di Gang Krembangan hidup kembali di layar lebar, persahabatan yang tak lekang waktu.

Jakarta, 1 April 2026 — Momen haru dan hangat tercipta dalam nobar film Na Willa di Tunjungan Plaza 1 XXI, Surabaya pada Selasa, 31 Maret 2026. Untuk pertama kalinya dalam momen yang begitu istimewa, penulis sekaligus inspirasi cerita Na Willa, Reda Gaudiamo, kembali dipertemukan dengan sahabat masa kecilnya, Ibu Farida, sosok nyata yang turut hidup dalam cerita film ini.

Keduanya adalah bagian dari kisah nyata di balik Na Willa, yang diangkat dari pengalaman masa kecil Reda di Krembangan, Surabaya. Setelah lebih dari enam dekade, dua sahabat kecil ini kembali duduk berdampingan di dalam bioskop, menyaksikan potongan-potongan memori masa kecil mereka yang kini hidup di layar lebar.

Suasana menjadi begitu emosional ketika beberapa adegan di film Na Willa membuat Ibu Farida berkaca-kaca. Salah satunya adalah adegan ketika Na Willa ingin ikut mengaji bersama Farida, momen sederhana yang kini terasa begitu dalam dan penuh makna.

Di film ini, Farida diperankan oleh Freya Mikhayla, sementara Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena. Sosok Farida digambarkan sebagai anak yang ceria, tidak bisa mengucap huruf 'R', dan menjadi teman terdekat Willa, yang merupakan sosok dari Reda kecil. Keduanya menghadirkan kembali dinamika persahabatan masa kecil yang jujur, hangat, dan penuh keceriaan, sebuah refleksi dari kisah nyata yang pernah terjadi.

"Terima kasih yang sudah menonton Na Willa. Apa lagi yang sudah menonton berkali-kali. Saya sangat berharap, film ini bisa membawa teman-teman kembali bahagia, kembali ke masa kecil, bisa tetap bertemu dan menyambung hubungan dengan teman lamanya," ujar Reda Gaudiamo.

"Nontonnya ikut terharu. Pas nonton itu, kok Faridanya mirip sekali sama saya pas kecil ya. Apalagi saat adegan mengaji dan salat. Si Linda, nama kecil Reda Gaudiamo, ambil sprei, aduh, terharu sekali nontonnya, tidak bisa berkata-kata," kenang Ibu Farida usai menonton film Na Willa.

Tak hanya menghadiri nobar Film Na Willa bersama Ibu Farida, Reda juga menyempatkan ke Krembangan, tempat masa kecilnya tumbuh. Ia mengunjungi rumah Ibu Farida, dan keduanya kembali berpelukan, seperti dua sahabat lama yang tak lekang oleh waktu tengah melepas rindu.

Meski banyak hal telah berubah di Krembangan, bagi Reda tempat ini tetap menyimpan kenangan yang begitu dalam. Terlebih, masih ada sahabatnya yang menetap di sana, Farida.

"Masa kecil saya di Surabaya, dan itu menjadi setting cerita Na Willa. Tumbuh di Surabaya dengan berbagai macam teman dan tetangga dari berbagai ras, dan itu menjadi bagian penting dari cerita ini," ujar Reda Gaudiamo.

"Apakah ini cerita saya? Latar belakangnya iya, setting-nya iya, tokoh-tokohnya juga ada semua di dalam kehidupan saya. Ada Farida, ada Dul, ada Bud, mereka adalah teman-teman kecil saya," kata Reda.

"Saya dulu berjanji mau pulang cepat, segera pulang. Tapi saya ternyata tidak pernah pulang, namun janjinya sekarang sudah terpenuhi, meskipun di saat kami sudah sama-sama tua," kenang Reda tentang janjinya kepada Farida saat ia pindah dari Krembangan.

"Dulu bilangnya sebentar, eh hampir 66 tahun baru ketemu lagi. Dia bilangnya sebentar. Jangan ditinggalin lagi ya sekarang," kata Ibu Farida.

Sementara itu, film Na Willa telah meninggalkan kesan yang mendalam bagi ratusan ribu penontonnya. Termasuk salah satunya produser, sutradara dan penulis Ernest Prakasa. Menurut Ernest, film Na Willa mampu menyeimbangkan sisi edukasi dan juga hiburannya. Secara terbuka ia menyampaikan apresiasinya terhadap film ini.

"Buat gue, Na Willa adalah film yang yang luar biasa, bagus banget. Nggak bakal nyesel deh nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

Ernest memuji hampir semua aspek yang ada di film Na Willa. Mulai dari peran Luisa Adreena yang menurutnya sesuatu yang sangat luar biasa, hingga peran Mak yang dibawakan oleh Irma Rihi. Pujian Ernest juga ditujukan untuk pilihan metode pendekatan yang diambil oleh sang sutradara, Ryan Adriandhy dalam menyajikan visual dan sudut pandang di film.

"Ryan kan pernah bilang di behind the scene, bahwa dia bukan bikin Surabaya tahun '60-an, tapi bikin Surabaya tahun '60-an di mata seorang Na Willa yang usianya 6 tahun. Dan menurut gue, ini sebuah treatment yang jitu untuk film ini karena eye candy banget, production design-nya teliti banget, hal-hal kecil tuh diperhatiin banget," puji Ernest.

"Mata kita dimanjakan sama visual yang cakep banget. Udah gitu, akting. Nah, ini yang menurut gue gila banget. Akting si Na Willa dan Mak, dua-duanya tuh buat gue istimewa sekali. Gue cukup yakin, Mak akan dapat nominasi FFI sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik," ungkap Ernest.

Lebih dari sekadar film, Na Willa telah menjadi pengalaman emosional yang kini sedang dirasakan banyak orang, sebuah perjalanan pulang ke masa kecil, ke keluarga, dan ke rasa hangat yang sederhana karena Na Willa adalah kita.

Ratusan ribu orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop.

Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #Bahagia Bareng Na Willa.


Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama,Keluarga

Sutradara: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

NEONA KEMBALI DENGAN MUSIK HIP-DUT BERJUDUL LUPA!, SUARAKAN KISAH 'HAMPIR JADI' YANG RELATE DENGAN GEN Z

 

Jakarta, 1 April 2026 — Penyanyi muda berbakat, NEONA, resmi merilis single terbarunya bertajuk LUPA!. Lewat lagu ini, NEONA menghadirkan kembali musik Hip-Dut. Secara musikal, NEONA mengeksplorasi warna hip-dut yang fun dan catchy, memberikan energi yang ringan namun tetap kuat secara pesan. Eksplorasi ini juga menjadi bentuk kembalinya NEONA ke warna musik yang sudah pernah ia jajaki sebelumnya. "Aku tertarik dengan genre hip-dut di lagu ini karena sebelumnya aku juga pernah mengeksplorasi genre ini, jadi terasa seperti kembali ke warna musik yang sudah dekat dengan aku," jelasnya.

LUPA! menggambarkan fase dalam hubungan ketika kedekatan sudah terjalin, namun tanpa kepastian. Sebuah situasi yang kerap membuat seseorang bertanya-tanya akan arah hubungan tersebut. Melalui lagu ini, NEONA ingin menyuarakan perasaan tersebut sekaligus mendorong keberanian untuk meminta kejelasan. "Single aku ini menceritakan tentang minta kepastian sama seseorang sebelum orang itu LUPA!. Lagu ini juga aku dedikasikan buat cowok-cowok supaya lebih berani ngasih kepastian," ujar NEΟΝΑ.

Untuk visual dari single LUPA! ini, Neona menghadirkan arah visual yang fresh di bawah arahan kreatif dari Adi Djohan (funkyhokkaido), visualnya menangkap rasa jenuh dan kegelisahan dalam penantian. la mengambil latar ruang transit MRT Jakarta untuk merefleksikan dinamika remaja urban yang merasa "stuck" dalam situasi tanpa kepastian. Neona juga mempertegas nuansa tersebut melalui styling yang edgy, riasan eksentrik, serta elemen grafis unik seperti teks terbalik dan penggunaan warna oranye yang kontras. Pendekatan ini menandai era baru NEONA yang lebih berani, emosional, dan tampil dengan daya tarik yang kuat.

Sejalan dengan eksplorasi visual tersebut, proses kreatif LUPA! menjadi salah satu kekuatan utama dalam lagu ini. NEONA terlibat langsung dalam pengembangan ide dan penulisan lirik, bekerja sama dengan AntiNRML, yaitu Anangga Surya Dewangga dan Yosua Albert Simanjuntak (yang juga dikenal dengan nama panggung DIA). Kolaborasi ini menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara musikal, tetapi juga merepresentasikan karakter NEONA secara utuh. "NEONA ikut andil dalam pembuatan lagu ini. Banyak ide datang dari NEONA, lalu kami kembangkan bersama secara musikal dan lirik," ujar Anangga.

Sementara itu, DIA menambahkan bahwa lagu ini diharapkan dapat menjadi representasi perasaan banyak perempuan yang berada dalam situasi serupa. "Harapannya, 'LUPA!" bisa mewakili perasaan cewek-cewek yang sedang digantung dan mengharapkan kepastian dalam hubungan," ungkapnya.

Single terbaru NEONA, LUPA!, telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 1 April 2026. Lagu ini mengajak pendengar menyelami fase. hubungan yang menggantung. Ketika rasa nyaman, harapan, dan kebingungan hadir bersamaan, membuat seseorang bertanya-tanya antara bertahan atau meminta kepastian sebelum semuanya perlahan terLUPA!.

Film Warung Pocong Tayang 9 April 2026 di Bioskop, Pengen Untung Malah Buntung, Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil Terjebak Jadi Penjaga Warung!

 

Jakarta, 1 April 2026 — Rumah produksi Entelekey Media Indonesia dan Tiger Pictures menghadirkan film terbaru berjudul Warung Pocong, yang akan tayang di bioskop mulai 9 April 2026. Mengusung genre komedi horor, film ini menawarkan kisah yang dekat dengan realita masyarakat, terutama tentang pilihan-pilihan nekat yang diambil saat berada di kondisi terdesak, yang bukannya membawa jalan keluar, justru berujung pada situasi yang semakin rumit.

Warung Pocong bercerita tentang tiga pemuda, Kartono, Agus, dan Makmur, yang tengah terjebak dalam berbagai masalah keuangan. Di tengah kondisi terdesak, mereka menerima tawaran pekerjaan dari seorang pria tua untuk menjaga sebuah warung. Namun, pekerjaan tersebut justru membawa mereka pada teror mistis yang tak terduga.

Melalui premis tersebut, Warung Pocong menghadirkan cerita tentang pilihan-pilihan nekat yang sering diambil saat berada di titik terdesak. Harapan untuk mendapatkan jalan keluar dengan cepat berubah menjadi masalah yang semakin besar, ketika keputusan yang diambil tanpa pertimbangan justru jadi bumerang bagi mereka sendiri.

Dibungkus dengan pendekatan komedi dan horor, film ini menghadirkan keseimbangan antara ketegangan dan humor yang dekat dengan keseharian. Situasi-situasi yang dialami oleh para karakter terasa akrab, mulai dari tekanan hidup hingga keinginan untuk segera lepas dari masalah.

Sutradara Warung Pocong, Bendolt, mengungkapkan bahwa film ini dibuat untuk bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. "Kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menghibur. Cerita di film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah ekonomi yang sering dialami anak muda, namun dikemas dengan pendekatan yang fun," ujarnya.

Kekuatan film ini juga terletak pada dinamika tiga karakter utamanya yang terasa dekat dengan kehidupan nyata, sehingga membuat cerita semakin relatable bagi penonton.

Salah satu pemain, Fajar Nugra, yang berperan sebagai Kartono, mengungkapkan antusiasmenya terhadap film ini. "Yang menarik dari Warung Pocong adalah ceritanya yang terasa dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian yang mungkin pernah atau sedang dialami oleh masyarakat sekarang, tapi dikemas dengan cara yang ringan dan menghibur," ujarnya.

Selaras dengan itu, Sadana Agung juga menambahkan bahwa perpaduan komedi dan horor dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri. "Film ini punya keseimbangan antara seram dan lucu. Jadi penonton bisa merasakan tegang, tapi di saat yang sama tetap bisa tertawa," katanya.

Selain Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil, film Warung Pocong dibintangi oleh Shareefa Daanish, Teuku Rifnu Wikana, Arla Ailani, Kiki Narendra, dan Whani Dharmawan.

Warung Pocong akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 April 2026. Film ini siap menjadi pilihan menarik bagi penonton yang menyukai film horor sekaligus menginginkan hiburan penuh tawa.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai film Warung Pocong, ikuti perkembangan terbaru di akun media sosial resmi @filmwarungpocong dan @entelekeymediaid.


SINOPSIS

Tiga pemuda Jakarta: Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur (Randhika Djamil), terjebak dalam masalah keuangan masing-masing, mulai dari utang, penipuan, hingga investasi bodong. Ketika seorang pria tua bernama Kusno (Whani Darmawan) menawarkan mereka kerja sebagai penjaga warung dengan gaji fantastis 50 juta per bulan, mereka pun menerimanya dan langsung dibawa ke desa terpencil bernama Lali Jiwo. Namun keanehan mulai terjadi saat mereka mengalami teror gaib dari sosok pocong.

Film Yohanna Bawa Pesan Universal yang Menyentuh Hati dan Dekat dengan Kehidupan, Tayang 9 April 2026 Di Bioskop

  Jakarta, 3 April 2026 — Film Yohanna, karya sutradara Razka Robby Ertanto, produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film siap hadir...