Rabu, 01 April 2026

Momen Haru Reda Gaudiamo dan Ibu Farida di Surabaya, Kisah Nyata di Balik Na Willa yang Telah Dirasakan Hampir Satu Juta Penonton

 

Pertemuan dua sahabat masa kecil di Gang Krembangan hidup kembali di layar lebar, persahabatan yang tak lekang waktu.

Jakarta, 1 April 2026 — Momen haru dan hangat tercipta dalam nobar film Na Willa di Tunjungan Plaza 1 XXI, Surabaya pada Selasa, 31 Maret 2026. Untuk pertama kalinya dalam momen yang begitu istimewa, penulis sekaligus inspirasi cerita Na Willa, Reda Gaudiamo, kembali dipertemukan dengan sahabat masa kecilnya, Ibu Farida, sosok nyata yang turut hidup dalam cerita film ini.

Keduanya adalah bagian dari kisah nyata di balik Na Willa, yang diangkat dari pengalaman masa kecil Reda di Krembangan, Surabaya. Setelah lebih dari enam dekade, dua sahabat kecil ini kembali duduk berdampingan di dalam bioskop, menyaksikan potongan-potongan memori masa kecil mereka yang kini hidup di layar lebar.

Suasana menjadi begitu emosional ketika beberapa adegan di film Na Willa membuat Ibu Farida berkaca-kaca. Salah satunya adalah adegan ketika Na Willa ingin ikut mengaji bersama Farida, momen sederhana yang kini terasa begitu dalam dan penuh makna.

Di film ini, Farida diperankan oleh Freya Mikhayla, sementara Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena. Sosok Farida digambarkan sebagai anak yang ceria, tidak bisa mengucap huruf 'R', dan menjadi teman terdekat Willa, yang merupakan sosok dari Reda kecil. Keduanya menghadirkan kembali dinamika persahabatan masa kecil yang jujur, hangat, dan penuh keceriaan, sebuah refleksi dari kisah nyata yang pernah terjadi.

"Terima kasih yang sudah menonton Na Willa. Apa lagi yang sudah menonton berkali-kali. Saya sangat berharap, film ini bisa membawa teman-teman kembali bahagia, kembali ke masa kecil, bisa tetap bertemu dan menyambung hubungan dengan teman lamanya," ujar Reda Gaudiamo.

"Nontonnya ikut terharu. Pas nonton itu, kok Faridanya mirip sekali sama saya pas kecil ya. Apalagi saat adegan mengaji dan salat. Si Linda, nama kecil Reda Gaudiamo, ambil sprei, aduh, terharu sekali nontonnya, tidak bisa berkata-kata," kenang Ibu Farida usai menonton film Na Willa.

Tak hanya menghadiri nobar Film Na Willa bersama Ibu Farida, Reda juga menyempatkan ke Krembangan, tempat masa kecilnya tumbuh. Ia mengunjungi rumah Ibu Farida, dan keduanya kembali berpelukan, seperti dua sahabat lama yang tak lekang oleh waktu tengah melepas rindu.

Meski banyak hal telah berubah di Krembangan, bagi Reda tempat ini tetap menyimpan kenangan yang begitu dalam. Terlebih, masih ada sahabatnya yang menetap di sana, Farida.

"Masa kecil saya di Surabaya, dan itu menjadi setting cerita Na Willa. Tumbuh di Surabaya dengan berbagai macam teman dan tetangga dari berbagai ras, dan itu menjadi bagian penting dari cerita ini," ujar Reda Gaudiamo.

"Apakah ini cerita saya? Latar belakangnya iya, setting-nya iya, tokoh-tokohnya juga ada semua di dalam kehidupan saya. Ada Farida, ada Dul, ada Bud, mereka adalah teman-teman kecil saya," kata Reda.

"Saya dulu berjanji mau pulang cepat, segera pulang. Tapi saya ternyata tidak pernah pulang, namun janjinya sekarang sudah terpenuhi, meskipun di saat kami sudah sama-sama tua," kenang Reda tentang janjinya kepada Farida saat ia pindah dari Krembangan.

"Dulu bilangnya sebentar, eh hampir 66 tahun baru ketemu lagi. Dia bilangnya sebentar. Jangan ditinggalin lagi ya sekarang," kata Ibu Farida.

Sementara itu, film Na Willa telah meninggalkan kesan yang mendalam bagi ratusan ribu penontonnya. Termasuk salah satunya produser, sutradara dan penulis Ernest Prakasa. Menurut Ernest, film Na Willa mampu menyeimbangkan sisi edukasi dan juga hiburannya. Secara terbuka ia menyampaikan apresiasinya terhadap film ini.

"Buat gue, Na Willa adalah film yang yang luar biasa, bagus banget. Nggak bakal nyesel deh nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

Ernest memuji hampir semua aspek yang ada di film Na Willa. Mulai dari peran Luisa Adreena yang menurutnya sesuatu yang sangat luar biasa, hingga peran Mak yang dibawakan oleh Irma Rihi. Pujian Ernest juga ditujukan untuk pilihan metode pendekatan yang diambil oleh sang sutradara, Ryan Adriandhy dalam menyajikan visual dan sudut pandang di film.

"Ryan kan pernah bilang di behind the scene, bahwa dia bukan bikin Surabaya tahun '60-an, tapi bikin Surabaya tahun '60-an di mata seorang Na Willa yang usianya 6 tahun. Dan menurut gue, ini sebuah treatment yang jitu untuk film ini karena eye candy banget, production design-nya teliti banget, hal-hal kecil tuh diperhatiin banget," puji Ernest.

"Mata kita dimanjakan sama visual yang cakep banget. Udah gitu, akting. Nah, ini yang menurut gue gila banget. Akting si Na Willa dan Mak, dua-duanya tuh buat gue istimewa sekali. Gue cukup yakin, Mak akan dapat nominasi FFI sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik," ungkap Ernest.

Lebih dari sekadar film, Na Willa telah menjadi pengalaman emosional yang kini sedang dirasakan banyak orang, sebuah perjalanan pulang ke masa kecil, ke keluarga, dan ke rasa hangat yang sederhana karena Na Willa adalah kita.

Ratusan ribu orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop.

Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #Bahagia Bareng Na Willa.


Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama,Keluarga

Sutradara: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

NEONA KEMBALI DENGAN MUSIK HIP-DUT BERJUDUL LUPA!, SUARAKAN KISAH 'HAMPIR JADI' YANG RELATE DENGAN GEN Z

 

Jakarta, 1 April 2026 — Penyanyi muda berbakat, NEONA, resmi merilis single terbarunya bertajuk LUPA!. Lewat lagu ini, NEONA menghadirkan kembali musik Hip-Dut. Secara musikal, NEONA mengeksplorasi warna hip-dut yang fun dan catchy, memberikan energi yang ringan namun tetap kuat secara pesan. Eksplorasi ini juga menjadi bentuk kembalinya NEONA ke warna musik yang sudah pernah ia jajaki sebelumnya. "Aku tertarik dengan genre hip-dut di lagu ini karena sebelumnya aku juga pernah mengeksplorasi genre ini, jadi terasa seperti kembali ke warna musik yang sudah dekat dengan aku," jelasnya.

LUPA! menggambarkan fase dalam hubungan ketika kedekatan sudah terjalin, namun tanpa kepastian. Sebuah situasi yang kerap membuat seseorang bertanya-tanya akan arah hubungan tersebut. Melalui lagu ini, NEONA ingin menyuarakan perasaan tersebut sekaligus mendorong keberanian untuk meminta kejelasan. "Single aku ini menceritakan tentang minta kepastian sama seseorang sebelum orang itu LUPA!. Lagu ini juga aku dedikasikan buat cowok-cowok supaya lebih berani ngasih kepastian," ujar NEΟΝΑ.

Untuk visual dari single LUPA! ini, Neona menghadirkan arah visual yang fresh di bawah arahan kreatif dari Adi Djohan (funkyhokkaido), visualnya menangkap rasa jenuh dan kegelisahan dalam penantian. la mengambil latar ruang transit MRT Jakarta untuk merefleksikan dinamika remaja urban yang merasa "stuck" dalam situasi tanpa kepastian. Neona juga mempertegas nuansa tersebut melalui styling yang edgy, riasan eksentrik, serta elemen grafis unik seperti teks terbalik dan penggunaan warna oranye yang kontras. Pendekatan ini menandai era baru NEONA yang lebih berani, emosional, dan tampil dengan daya tarik yang kuat.

Sejalan dengan eksplorasi visual tersebut, proses kreatif LUPA! menjadi salah satu kekuatan utama dalam lagu ini. NEONA terlibat langsung dalam pengembangan ide dan penulisan lirik, bekerja sama dengan AntiNRML, yaitu Anangga Surya Dewangga dan Yosua Albert Simanjuntak (yang juga dikenal dengan nama panggung DIA). Kolaborasi ini menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara musikal, tetapi juga merepresentasikan karakter NEONA secara utuh. "NEONA ikut andil dalam pembuatan lagu ini. Banyak ide datang dari NEONA, lalu kami kembangkan bersama secara musikal dan lirik," ujar Anangga.

Sementara itu, DIA menambahkan bahwa lagu ini diharapkan dapat menjadi representasi perasaan banyak perempuan yang berada dalam situasi serupa. "Harapannya, 'LUPA!" bisa mewakili perasaan cewek-cewek yang sedang digantung dan mengharapkan kepastian dalam hubungan," ungkapnya.

Single terbaru NEONA, LUPA!, telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 1 April 2026. Lagu ini mengajak pendengar menyelami fase. hubungan yang menggantung. Ketika rasa nyaman, harapan, dan kebingungan hadir bersamaan, membuat seseorang bertanya-tanya antara bertahan atau meminta kepastian sebelum semuanya perlahan terLUPA!.

Film Warung Pocong Tayang 9 April 2026 di Bioskop, Pengen Untung Malah Buntung, Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil Terjebak Jadi Penjaga Warung!

 

Jakarta, 1 April 2026 — Rumah produksi Entelekey Media Indonesia dan Tiger Pictures menghadirkan film terbaru berjudul Warung Pocong, yang akan tayang di bioskop mulai 9 April 2026. Mengusung genre komedi horor, film ini menawarkan kisah yang dekat dengan realita masyarakat, terutama tentang pilihan-pilihan nekat yang diambil saat berada di kondisi terdesak, yang bukannya membawa jalan keluar, justru berujung pada situasi yang semakin rumit.

Warung Pocong bercerita tentang tiga pemuda, Kartono, Agus, dan Makmur, yang tengah terjebak dalam berbagai masalah keuangan. Di tengah kondisi terdesak, mereka menerima tawaran pekerjaan dari seorang pria tua untuk menjaga sebuah warung. Namun, pekerjaan tersebut justru membawa mereka pada teror mistis yang tak terduga.

Melalui premis tersebut, Warung Pocong menghadirkan cerita tentang pilihan-pilihan nekat yang sering diambil saat berada di titik terdesak. Harapan untuk mendapatkan jalan keluar dengan cepat berubah menjadi masalah yang semakin besar, ketika keputusan yang diambil tanpa pertimbangan justru jadi bumerang bagi mereka sendiri.

Dibungkus dengan pendekatan komedi dan horor, film ini menghadirkan keseimbangan antara ketegangan dan humor yang dekat dengan keseharian. Situasi-situasi yang dialami oleh para karakter terasa akrab, mulai dari tekanan hidup hingga keinginan untuk segera lepas dari masalah.

Sutradara Warung Pocong, Bendolt, mengungkapkan bahwa film ini dibuat untuk bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. "Kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menghibur. Cerita di film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah ekonomi yang sering dialami anak muda, namun dikemas dengan pendekatan yang fun," ujarnya.

Kekuatan film ini juga terletak pada dinamika tiga karakter utamanya yang terasa dekat dengan kehidupan nyata, sehingga membuat cerita semakin relatable bagi penonton.

Salah satu pemain, Fajar Nugra, yang berperan sebagai Kartono, mengungkapkan antusiasmenya terhadap film ini. "Yang menarik dari Warung Pocong adalah ceritanya yang terasa dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian yang mungkin pernah atau sedang dialami oleh masyarakat sekarang, tapi dikemas dengan cara yang ringan dan menghibur," ujarnya.

Selaras dengan itu, Sadana Agung juga menambahkan bahwa perpaduan komedi dan horor dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri. "Film ini punya keseimbangan antara seram dan lucu. Jadi penonton bisa merasakan tegang, tapi di saat yang sama tetap bisa tertawa," katanya.

Selain Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil, film Warung Pocong dibintangi oleh Shareefa Daanish, Teuku Rifnu Wikana, Arla Ailani, Kiki Narendra, dan Whani Dharmawan.

Warung Pocong akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 April 2026. Film ini siap menjadi pilihan menarik bagi penonton yang menyukai film horor sekaligus menginginkan hiburan penuh tawa.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai film Warung Pocong, ikuti perkembangan terbaru di akun media sosial resmi @filmwarungpocong dan @entelekeymediaid.


SINOPSIS

Tiga pemuda Jakarta: Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur (Randhika Djamil), terjebak dalam masalah keuangan masing-masing, mulai dari utang, penipuan, hingga investasi bodong. Ketika seorang pria tua bernama Kusno (Whani Darmawan) menawarkan mereka kerja sebagai penjaga warung dengan gaji fantastis 50 juta per bulan, mereka pun menerimanya dan langsung dibawa ke desa terpencil bernama Lali Jiwo. Namun keanehan mulai terjadi saat mereka mengalami teror gaib dari sosok pocong.

ZONA MERAH NAIK LEVEL JADI FILM LAYAR LEBAR Jajaran Pemain Diumumkan, Luna Maya Jadi Eksekutif Produser

 

Jakarta, 1 April 2026 — Setelah mencuri perhatian lewat versi series, Zona Merah kini resmi melangkah ke layar lebar. Screenplay Films mengumumkan bahwa film Zona Merah akan memulai proses shooting pada April hingga Mei 2026, menghadirkan skala produksi yang lebih besar, pendekatan visual yang lebih sinematik, serta intensitas cerita yang ditingkatkan secara signifikan.

Film ini akan disutradarai oleh Sidharta Tata bersama Fajar Martha Santosa, dua nama dengan rekam jejak kuat di genre action dan horor. Sidharta Tata juga kembali terlibat sebagai penulis skenario, sementara Fajar Martha Santosa memimpin keseluruhan proses development, memastikan transisi dari series ke film berjalan dengan visi yang lebih solid dan terarah.

Dari sisi pemain, Zona Merah menghadirkan kombinasi karakter lama yang telah dikenal penonton dan wajah-wajah baru yang memperluas semesta cerita. Aghniny Haque, Andri Mashadi, Maria Theodore, Devano, dan Lukman Sardi kembali melanjutkan peran mereka. Sementara itu, Luna Maya, Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, dan Derby Romero resmi bergabung sebagai karakter baru yang akan membawa dinamika berbeda dalam cerita.

Menariknya, Luna Maya tidak hanya tampil di depan layar, tetapi juga mengambil peran strategis sebagai Eksekutif Produser, menandai keterlibatan kreatif yang lebih dalam dalam pengembangan film ini.

Versi layar lebar Zona Merah akan membawa penonton masuk ke dunia yang lebih luas, lebih gelap, dan lebih brutal. Konflik berkembang semakin kompleks, karakter digali lebih dalam, dan atmosfer chaos terasa semakin intens saat manusia harus bertahan hidup di tengah ancaman para mayat hidup. Dengan stakes yang jauh lebih tinggi, film ini menjanjikan pengalaman yang lebih imersif dibandingkan versi series.

Sidharta Tata (Sutradara) menyampaikan:

"Zona Merah memiliki fondasi dunia dan cerita yang sangat kuat sejak versi series. Di film ini, kami ingin membawa semuanya ke level berikutnya, baik dari sisi emosi, skala konflik, maupun pengalaman visual. Kami ingin membuat penonton merasa tidak aman di kursi bioskop-lebih tegang, lebih gelap, dan lebih brutal dari yang pernah kami buat sebelumnya."

Luna Maya (Eksekutif Produser) menambahkan:

"Sebagai eksekutif produser, saya melihat Zona Merah memiliki potensi besar, tidak hanya secara kreatif tetapi juga dari sisi positioning di industri. Ini adalah langkah penting untuk membawa IP lokal ke level yang lebih tinggi-baik dari skala produksi maupun jangkauan audiens."

Dengan ambisi produksi yang lebih besar dan pendekatan storytelling yang lebih berani, Zona Merah siap menjadi salah satu film genre paling dinantikan.



Selasa, 31 Maret 2026

Sebelum Rilis di Indonesia, Film Ghost In The Cell karya Joko Anwar Sudah Dibeli oleh 86 Negara!

 

Film Ghost in the Cell tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026

Jakarta, 31 Maret 2026 — Sukses di Berlinale 2026, film terbaru karya penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell kini akan tayang di 86 negara di dunia! Hak penayangan termasuk penayangan bioskop film Ghost in the Cell kini sudah dibeli oleh 86 negara, bahkan sebelum filmnya tayang di Indonesia 16 April nanti.

Film Ghost in the Cell merupakan persembahan terbaru rumah produksi Come and See Pictures, yang bekerja sama dengan RAPI Films, Legacy Pictures dan Barunson E&A yang juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.

"Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia. Walaupun ini adalah film yang gampang dinikmati karena bergenre komedi horor, ini adalah film tentang kekuasaan. Tentang sistem yang korup. Tentang orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya. Tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan apa yang terjadi ketika ia akhirnya muncul ke permukaan," kata penulis dan sutradara Joko Anwar.

"Awalnya kita tidak berpikir penonton negara lain bisa relate, ternyata ini bukan hanya cerita Indonesia. Tapi ternyata ini juga cerita Amerika. Cerita Brasil. Cerita India. Cerita Prancis. Karena korupsi itu tidak punya kewarganegaraan. Karena ketidakadilan itu bahasa universal. Karena perjuangan untuk kebenaran itu dimengerti oleh semua manusia, di mana pun mereka hidup. Itulah kenapa 86 negara mau membeli hak penayangan film ini. Bukan karena ini "film Indonesia yang bagus untuk ukuran Indonesia", tapi karena bagi mereka film ini yang memenuhi standar mereka dan juga relevan," tambah Joko Anwar.

Sebelumnya, menjelang world premiere di Berlinale 2026, Ghost in the Cell juga telah lebih dulu diakuisisi oleh distributor yang berbasis di Jerman, Plaion Pictures. Kerja sama tersebut membuat film Ghost in the Cell juga akan ditayangkan di bioskop di negara-negara berbahasa Jerman.

Plaion Pictures di antaranya telah mendistribusikan film-film pemenang penghargaan Palme d'Or Cannes seperti Anatomy of a Fall, pemenang Oscar The Whale, pemenang Palme d'Or Titane Parasite, hingga pemenang Oscar tahun ini, Sentimental Value.

"Tayangnya film Ghost in the Cell di 86 negara di dunia membuktikan secara kualitas produksinya juga terbukti diakui secara luas sehingga membuat banyak negara berminat untuk menayangkan film Ghost in the Cell di negara mereka," ujar produser Tia Hasibuan.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Berikut adalah daftar negara yang akan menayangkan film Ghost in the Cell:

Asia dan Asia Tenggara

1. Singapura

2. Malaysia

3. Thailand

4. Brunei Darussalam

5. Kamboja

6. Laos

7. Timor Leste

8. Vietnam

9. Filipina

10. Myanmar

11. Indonesia

12. Mongolia

13. Taiwan


Amerika Utara

14. Amerika Serikat

15. Kanada


Jerman, Swis, dan Negara Berbahasa Jerman

16. Jerman

17. Austria

18. Tirol Selatan (Alto Adige)

19. Liktenstin

20.Swis


Rusia (CIS)

21. Armenia

22. Abkhazia

23. Azerbaijan

24. Belarusia

25. Georgia

26. Kazakhstan

27. Kirgistan

28. Moldova

29. Rusia

30. Ossetia Selatan

31. Tajikistan

32. Turkmenistan


Benelux

33. Belgia

34. Luksemburg

35. Belanda


Spanyol dan Andorra

36. Spanyol

37. Andorra


Polandia

38. Polandia


Britania Raya, Australia

39. Britania Raya

40. Irlandia

41. Australia

42. Selandia Baru


Prancis, Portugal, dan Afrika

43. Prancis

44. Portugal

45. Angola

46. Ginea dan Bisau

47. Tanjung Verde (Cape Verde Islands)

48. Mozambik

49. Sao Tome dan Principe


Amerika Latin

50. Belize

51. Kosta Rika

52. El Salvador

53. Guatemala

54. Honduras

55. Nikaragua

56. Panama

57. Meksiko

58. Argentina

59. Bolivia

60. Brasil

61. Chili

62. Kolombia

63. Ekuador

64. Paraguai

65. Peru

66. Suriname

67. Uruguai

68. Venezuela


Hungaria, Ceko, Slowakia, dan Rumania

69. Hungaria

70. Ceko

71. Slowakia

72. Rumania


India dan Subbenua India

73. India

74. Sri Lanka

75. Pakistan

76. Banglades

77. Bhutan

78. Maladewa

79. Nepal

80.Afghanistan


Italia dan Negara Berbahasa Italia

81. Italia

82. Vatikan

83. San Marino

84. Capodistria

85. Malta

86. Monako


Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.


SINOPSIS

Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Senin, 30 Maret 2026

Film Para Perasuk Merilis OST Aku yang Engkau Cari dan Di Tepi Lamunan Itu yang Dinyanyikan Maudy Ayunda

 

Film Para Perasuk akan melanjutkan perjalanan di berbagai festival film internasional sebelum tayang di Indonesia 23 April 2026

Jakarta, 30 Maret 2026 - Setelah merilis lagu Aku yang Engkau Cari dari Maudy Ayunda pada awal tahun 2026 dan memperkenalkannya sebagai OST film Para Perasuk, kini Rekata Studio bersama Trinity Optima Production merilis lirik video-nya. Tak hanya lirik video Aku yang Engkau Cari, Rekata Studio juga memperkenalkan single terbaru Maudy Ayunda Di Tepi Lamunan Itu yang turut menjadi OST Para Perasuk.

Aku yang Engkau Cari dan Di Tepi Lamunan Itu menampilkan vokal Maudy Ayunda yang berbeda dari caranya bernyanyi dari sebelumnya. Dengan lirik yang merepresentasikan perjalanan karakter utama film Para Perasuk, Bayu, yang diperankan Angga Yunanda.

Penciptaan lagu Aku yang Engkau Cari sendiri terinspirasi saat Maudy, yang turut membintangi Para Perasuk berada di lokasi syuting. Menurut Maudy, yang menulis lagu ini bersama Lafa Pratomo, lagu yang dihadirkan memiliki lapisan emosi yang terasa seperti bisikan, tenang, menghanyutkan, namun menyimpan kegelisahan yang dalam.

Begitu pula dengan visual video musik yang dihadirkan. Video musik Di Tepi Lamunan Itu disutradarai oleh Wregas Bhanuteja.

"Prosesnya sangat intuitif. Tidak pakai logika naratif biasa, namun menggunakan rasa. Ini proyek pertama baik secara film dan penggarapan lagu yang prosesnya sangat membebaskan aku," kata Maudy Ayunda.

Sementara itu, sutradara Para Perasuk Wregas Bhanuteja mengungkapkan melalui film ini ia ingin menyampaikan sebuah pesan tentang sebuah perubahan perjalanan karakter utamanya, Bayu, yang diperankan Angga Yunanda menuju sebuah penerimaan.

"Saya merasa dunia kita saat ini sudah terlalu penuh dengan cerita balas dendam dan amarah. Saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni berdamai, saling berpelukan, menerima masa lalu, dan move on. Itulah esensi penerimaan yang ingin saya sampaikan," ujar Wregas Bhanuteja.

Bayu adalah karakter utama di Para Perasuk, yang merupakan seorang perasuk-sosok yang membantu para 'pelamun' ke dalam sebuah alam kerasukan dalam sebuah pesta sambetan. Pelamun sendiri adalah orang-orang yang ingin mencari kesenangan melalui proses kerasukan.

Bayu memiliki alat utama yang membantu menciptakan alam fantasi untuk para pelamun dengan slompret. Bayu sendiri kemudian bertemu dengan salah satu pelamun yang membantu prosesnya, Laksmi (Maudy Ayunda).

"Di film Para Perasuk, aku berusaha menghadapi tantangan baru yang cukup berat. Salah satunya adalah proses teknis bertapa dengan digantung secara terbalik, dan itu bikin kepalaku berat," ujar Angga Yunanda tentang perannya sebagai Bayu.

Sementara itu, Laksmi adalah orang yang datang dari Jakarta dan datang ke tempat tinggal Bayu di Desa Latas untuk mengikuti Pesta Sambetan. Pesta Sambetan dijadikan Laksmi sebagai cara untuk healing dan melupakan trauma masa lalunya.

"Kalau biasanya orang healing ke Bali atau Jepang, ini healing-nya ke Desa Latas untuk menghilangkan trauma dengan cara kerasukan. Laksmi dimintai tolong oleh Bayu untuk menemani latihan, supaya Bayu bisa menjadi pimpinan dari Perasuk," ungkap Maudy Ayunda.

Untuk film Para Perasuk, yang juga menandai dua dekade berkaryanya, ia harus melakukan adegan-adegan yang cukup ekstrem seperti makan daun mentah, bunga mentah, hingga rebung mentah.

"Laksmi adalah karakter yang ingin lepas dari trauma masa lalunya. Tentunya banyak dari kita yang memiliki trauma masa lalu dan berusaha untuk melepasnya agar bisa melangkah ke depan," tambah Maudy.

Film Para Perasuk juga menandai perjalanan baru bagi Anggun, yang memerankan. Guru Asri di film ini. Anggun yang telah bernyanyi sejak usia 12 tahun dan kini mengukir namanya di panggung internasional, ia memerlukan kesenangan baru dalam berkarya, termasuk salah satunya melalui medium film.

Guru Asri adalah sosok yang tegas dan berkharisma. Namun, ada salah satu scene di mana aku mewawancarai Bayu yang ingin menjadi pemimpin dari para perasuk, bikin aku nangis. Menjalani syuting di film Para Perasuk juga cukup sulit bagiku, karena prosesnya sangat berbeda dengan menyanyi di atas panggung. Di panggung, kita cukup menyanyi sekali, tapi kalau adegan untuk film, itu harus diulang berkali-kali," cerita Anggun.

Film Para Perasuk akan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Sebelumnya, film ini telah berkompetisi dan world premiere di Sundance Film Festival 2026, dan mendapat sambutan yang meriah.

Terbaru, Para Perasuk juga resmi terpilih dan akan berkompetisi di Miami Film Festival 43 pada program Marimbas Award. Ini merupakan festival film ketiga Para Perasuk, dan selanjutnya akan tayang di berbagai festival film internasional.


Tak hanya Miami, Para Perasuk juga juga resmi terpilih untuk berkompetisi di Fantaspoa Brasil, menjadi official selection di program Artful Visions & Asian Frontier di MSPIFF Amerika Serikat, dan terpilih untuk berkompetisi di MOOOV Belgia.

Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Para Perasuk melalui akun. Instagram resmi @filmparaperasuk dan @rekatastudio. Tonton film Para Perasuk di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026!


Sinopsis

Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan pesta kerasukan, sebuah tradisi turun-temurun yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan dan hiburan warganya. Ketika mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur, Bayu (20) bertekad buat jadi Perasuk utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu. Tapi di tengah perjalanannya, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.

Mengangkat Fakta dan Sejarah Perompakan Laut, The Hostage's Hero Tampil Autentik sebagai Film Drama Indonesia.

 

Film karya Iswara Films ini menghadirkan kisah nyata penyelamatan sandera kapal MT Pematang dari perompak di Selat Malaka Tahun 2004. Sebuah cerita tentang keberanian, strategi, dan pengorbanan dalam sebuah film drama.


Jakarta 30 Maret 2026 bertepatan dengan Hari Film Nasional - Menjelang penayangannya di bioskop pada 2 April 2026, film The Hostage's Hero hadir mengangkat kisah nyata yang terinspirasi dari peristiwa pembajakan kapal tanker MT Pematang di Selat Malaka pada 2004. Sebuah periode ketika jalur pelayaran selat Malaka dikenal sebagai salah satu kawasan paling rawan perompakan di dunia. Disutradarai oleh Revo S. Rurut serta diproduseri oleh Syahrial Hutasuhut dan Eksekutif Produser Irza Ifdial, film ini menghadirkan perpaduan antara ketegangan aksi dan drama emosional keluarga dalam situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian.

Bertempat di bioskop Epicentrum XXI di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, The Hostage's Hero menggelar penayangan perdana di depan para awak media dilanjutkan dengan press conference bersama para pembuat dan pemain film (30/03/26). Press Screening dan Press Conference mendapatkan cukup hangat dari banyaknya undangan media yang hadir.

Film ini bercerita tentang Taufiq (Donny Alamsyah), seorang Letkol TNI AL yang harus kembali memimpin misi berbahaya sebagai komandan KRI Suits di tengah meningkatnya aksi pembajakan di Selat Malaka, la ditugaskan untuk menjalankan operasi senyap dalam upaya membebaskan para sandera awak kapal MT Pematang milik Pertamina dari tangan perompak yang dipimpin oleh Jalaludin (Rifky Balweel). Di tengah tekanan misi dan ancaman yang semakin dekat, Taufiq juga dihadapkan pada dilema sebagai seorang ayah yang harus meninggalkan keluarganya.

Visi & Nasionalisme: Membawa Kedaulatan Maritim ke Layar Lebar

Iswara Films menandai langkah perdana mereka di industri perfilman dengan mengangkat kisah heroik yang jarang terekspos dari sudut pandang komersial. Fokus utama produksi ini adalah memberikan penghormatan bagi para prajurit TNI Angkatan Laut yang setia menjaga kedaulatan di wilayah perairan Indonesia. 

"Kami melihat perjuangan para prajurit kita di tanah air, khususnya mereka yang menjaga kedaulatan maritim, telah berjuang dengan luar biasa mengorbankan diri sendiri dan keluarga. Perlu diangkat agar diketahui masyarakat umum bahwa TNI Angkatan Laut telah banyak berjasa untuk negara kita." Irza Ifdial (Executive Produser)

Pada pengembanganya Iswara Films banyak banyak berdiskusi dengan TNI Angkatan Laut. Dan mendapat sambutan yang baik, positif dari institusi TNI Angkatan Laut. Pesan yang ingin disampaikann sejalan bahwa peristiwa-peristiwa perjuangan ini bisa kita sampaikan dalam bentuk film komersial akan tayang dalam waktu dekat.


Kesaksian Tokoh Asli: Operasi Pembebasan 22 Tahun Silam

Film ini bukan sekadar fiksi, melainkan rekonstruksi dari operasi maritim nyata tahun 2004 di Selat Malaka yang dilakukan dalam tekanan waktu yang sangat kritis. Tokoh asli di balik misi tersebut Laksamana TNI (Purn) Ahmad Taufiqurrahman Menceritakan bagaimana keputusan besar harus diambil hanya dalam hitungan jam.

"Keputusan itu hanya hitungan jam. Kalau kita tidak bertindak, maka jadi justifikasi Indonesia tidak mampu mengamankan wilayahnya. Keberhasilan ini bukan karena kita hebat, tetapi luruskan niat, InsyaAllah." - Laksamana TNI (Purn) Ahmad Taufiqurrahman

Dengan latar laut lepas yang penuh ancaman, film ini menghadirkan gambaran tentang keberanian, pengorbanan, serta konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil di tengah situasi krisis. Konflik tidak hanya terjadi di medan operasi, tetapi juga dalam dinamika personal yang ikut terpengaruh oleh tekanan peristiwa tersebut. Pasukan harus bertindak cepat dengan personil patroli yang anda tanpa harus menunggu Kopaskha yang saat itu berada dalam luar jangkauan.


Riset dan Workshop

Untuk mencapai tingkat akurasi yang tinggi, tim produksi dan para aktor menjalani proses riset panjang serta pelatihan fisik yang sangat berat di bawah bimbingan langsung pasukan khusus Kopaskha. Para aktor dituntut untuk merasakan langsung kerasnya kehidupan seorang prajurit di medan tugas.

Dalam pengembangan naskah, Tim Iswara Films mendapat supervisi langsung dari Dispenal dan juga bapak Laksamana TNI Ahmad Taufiqurrahman. "Tantangan saya adalah mempelajari pembebasan ini dari sejarah. Saya riset banyak, diskusi, bahkan menginap di tempat Bapak Taufik selama dua bulan untuk menyusun skenario yang menghibur, mendidik, tapi tidak boring." - Rivo S. Rurut (Sutradara)

Salah satu nilai yang dirasakan oleh "Kami ada workshop selama dua minggu, benar -benar dilatih seperti (prajurit) asli. Mungkin nilai keberanian itu yang saya dapat, berani melawan ketakutan dari diri sendiri." - Ghian Grimaldi

"Persiapan kami sangat proper, mulai dari reading hingga workshop fisik bersama Kopaska selama dua minggu. Mentor saya bilang Tentara itu nggak ada yang putih', jadi kami semua wajib hitam (terbakar matahari) karena setiap pagi lari 5 km bawa senjata asli seberat 4 kg di bawah panas yang luar biasa." - Robert Chaniago (Pemeran Reno)

Dibintangi juga oleh Donny Alamsyah, Rifky Balweel, Ritassya Wellgreat, Robert Chaniago, Asri Welas, Anneu Aputri, Brata Santosa, Rendy Meidiyanto, Ghian Grimaldi, Bang Tigor, Inten Navadia, Choky Sitohang dan Aditya Herpavi, film The Hostage's Hero akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 2 April 2026 sebagai film action, drama, dan patriotic yang terinspirasi dari kisah nyata, menghidupkan kembali salah satu periode paling menegangkan dalam sejarah perompakan di kawasan Asia Tenggara.

Pantau terus akun Instagram resmi film ini di @thehostageshero dan @iswarafilms untuk mengikuti perkembangan terbaru The Hostage's Hero, dan bersiaplah menyaksikan pilihan sulit yang harus dihadapi Taufiq: akankah ia kembali untuk menyelamatkan para sandera... atau justru terjebak dalam misi tanpa jalan pulang.

Momen Haru Reda Gaudiamo dan Ibu Farida di Surabaya, Kisah Nyata di Balik Na Willa yang Telah Dirasakan Hampir Satu Juta Penonton

  Pertemuan dua sahabat masa kecil di Gang Krembangan hidup kembali di layar lebar, persahabatan yang tak lekang waktu. Jakarta, 1 April 202...