Senin, 13 April 2026

Dilema Genarasi Muda, Antara Ambisi dan Bakti: Rapi Films Rilis Trailer "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan"

 


Jakarta, 13 April 2026 – Menyusul kesuksesan luar biasa dari Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi Films bekerja sama dengan Screenplay Films dan Vortera Studios kini mempersembahkan sebuah mahakarya drama keluarga terbaru, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan".

Lewat acara press conference yang digelar di Plaza Senayan hari ini, Rapi Films resmi meluncurkan Official Trailer dan Poster film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan". Film yang ditulis oleh penulis skenario andal Alim Sudio dan disutradarai oleh Kuntz Agus ini dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop mulai 13 Mei 2026.

Di bawah arahan sutradara Kuntz Agus dan diproduseri oleh Sunil Samtani, film ini membawa pesan mendalam bahwa ketika memori perlahan pudar, setiap detik kebersamaan menjadi sangat tak ternilai.

Film ini membawa penonton menyelami dunia Kesha (Yasmin Napper), seorang anak sulung yang sedang berada di fase transisi menuju dewasa. Sebagai mahasiswi film, ia ingin mandiri dan lepas dari bayang-bayang rumah. Namun, realita di rumah tidaklah sederhana.

Ada Kenya (Sofia Shireen), anak tengah yang berprestasi dan selalu didukung penuh oleh Ibu, serta Karlo (Jordan Omar), si bungsu yang membutuhkan perhatian ekstra karena kondisi kesehatannya.

Di tengah dinamika sibling rivalry dan rasa ingin bebas fokus pada masa depannya, Kesha justru harus dihadapkan pada kenyataan pahit saat ibunya, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), jatuh sakit yang menyebabkan ia secara bertahap kehilangan ingatannya. Kesha harus belajar bahwa mencintai keluarga terkadang berarti mengubah seluruh cara hidupnya.

Yasmin Napper memberikan komentar penguat mengenai perspektif seorang anak dalam film ini, "Setiap orang yang mulai memiliki dunianya sendiri pasti akan mengalami titik di mana ia sadar kalau momen-momen berharga bersama keluarga tidaklah abadi. Melalui Kesha, aku belajar bahwa menjadi anak sulung bukan hanya soal mengalah, tapi soal menjadi penjaga memori di saat semua orang mulai merasa rapuh. Aku merasa film ini sangat spesial karena mengingatkanku bahwa sesibuk apa pun kita mengejar mimpi, jangan sampai kita kehilangan satu hal yang paling berarti, kehadiran seorang Ibu."


Penulis skenario Alim Sudio menekankan bahwa naskah ini dirancang untuk menyentuh sisi paling personal dari setiap anggota keluarga, "kali ini saya ingin memotret keresahan yang sangat dekat dengan anak muda Gen Z, khususnya mereka yang sedang di usia kuliah. Kita semua tahu betapa hectic-nya masa itu, saat ambisi mengejar masa depan terasa begitu mendesak, hingga seringkali dinamika di dalam rumah terasa seperti gangguan. 

Lewat karakter Kesha, kita akan melihat bagaimana hubungan yang naik-turun dengan ayah, ibu, dan adik-adiknya menjadi cermin bagi banyak penonton muda di luar sana. Hingga pada akhirnya, ia sampai pada sebuah titik balik, menyadari bahwa di tengah semua pencapaian yang ia kejar, keluarga adalah satu-satunya hal yang ia miliki dan akan abadi di ingatannya."

Sutradara Kuntz Agus menambahkan bahwa perjuangan keluarga ini dalam menjaga memori akan terasa sangat hangat sekaligus mengharukan, mengajak audiens untuk lebih menghargai setiap kenangan yang masih dimiliki. "Kami ingin mengajak penonton merenungkan kembali arti sebuah kenangan. Di saat memori terancam pudar, kita akan melihat betapa solidnya setiap anggota keluarga bersatu demi menjaga kepingan memori itu tetap hidup," jelasnya.

Film ini siap hadir dan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kenangan yang pernah kita jalin bersama orang tersayang. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, seperti yang terjadi pada Kesha.

Kesha mahasiswi tingkat akhir sekolah film punya seorang ibu. Ibunya bernama Yuke Yolanda, Guru favorit di Sekolah tempat ia mengajar dan juga Ibu yang sangat dicintai oleh Suami dan anak2nya. 

Masalah datang ketika ada sesuatu yang terjadi pada Yuke. Yuke mulai sering lupa, lupa ulang tahun pernikahan, lupa jalan ke sekolah sampai hal-hal penting tentang ketiga anaknya, Kesha, Kenya dan Karlo.

Rumah yang awalnya hangat penuh kebahagiaan, kini berubah semakin parah. Kesha yang sedang fokus dengan tugas akhir kini berada dalam pilihan paling sulit: tetap bertahan mengejar impiannya atau pulang dari kosannya sebelum ia benar-benar hilang dari ingatan Ibunya.

Karena ada hal-hal yang boleh hilang dalam hidup, kesempatan, nilai, bahkan mimpi. Tapi jangan sampai kita yang hilang dari hati dan ingatan seorang Ibu. 

Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan. Tunggu di bioskop 13 Mei 2026!


***

Minggu, 12 April 2026

Fauzan Zidni Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia

 


Fauzan Zidni (40) terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) periode 2026-2030 menggantikan Plt. Ketua Umum Celerina Judisari pada Kongres IV BPI yang diselenggarakan di Hotel Mercure Cikini, Jakarta, 10-12 April 2026.

“Saya berterimakasih kepada stakeholder BPI yang telah memberi kepercayaan besar ini untuk menjalankan agenda bersama seluruh masyarakat film Indonesia,” ujar Fauzan dalam siaran pers.

“Agenda utama yang disiapkan adalah peningkatan SDM perfilman melalui sinkronisasi kurikulum, program magang-hub, dan pengiriman talenta muda ke sekolah film terbaik di luar negeri serta berbagai film lab internasional. Selain itu, BPI akan menyusun revisi UU Perfilman bersama Kementerian Kebudayaan untuk penguatan kelembagaan BPI, penguatan

profesi perfilman, penguatan dukungan pemerintah terhadap perfilman, kepastian hukum dan kemudahan investasi, serta perlindungan kebebasan berekspresi.” Kata Fauzan.

Fauzan menambahkan BPI juga memiliki agenda lain seperti gerakan anti pembajakan film secara menyeluruh, penyelenggaraan Festival Film Indonesia dan pelaksanaan fungsi-fungsi BPI seperti tertuang di UU Perfilman.

Kongres yang dihadiri oleh 67 stakeholder anggota juga memilih Fajar Nugros, Agustina Kusuma Dewi, Nasaruddin Saridz, Danu Murti, dan Judith Dipodiputro sebagai anggota Dewan Pengawas BPI.

Kongres ini juga menjadi forum pembahasan Rencana Induk Pengembangan BPI, yang akan mendorong Rencana Induk Perfilman Nasional, amanah UU 33 Tahun 2009 tentang perfilman, serta dokumen strategis yang akan menjadi panduan ekosistem perfilman Indonesia dalam jangka panjang berdasarkan RPJPN dan Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan (RIPK). Rencana Induk ini mencakup peta jalan pengembangan SDM, infrastruktur produksi, distribusi, promosi, serta kerangka regulasi yang mendukung pertumbuhan industri film yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan hingga 2045.

Fauzan Zidni adalah seorang produser film dan eksekutif media dengan rekam jejak lebih dari 14 tahun. Fauzan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) periode 2016-2019, dan menjadi Dewan Penasihat sejak 2019.

Fauzan menyelesaikan studi sarjana Ilmu Politik di Universitas Indonesia dan magister kebijakan publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore.

Ia merupakan produser di Cinesurya bersama Rama Adi, memproduksi film, di antaranya; What They Don't Talk About When They Talk About Love, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Tukar Takdir, dan Perang Kota.

Sempat berkarier sebagai Executive Producer/Head of Original Content di The Walt Disney Company Indonesia pada tahun 2022–2024, Fauzan memimpin tim yang bertanggung jawab atas kesuksesan 10 konten original dan 10 proyek pengembangan. Fauzan aktif menulis opini kebijakan perfilman di media nasional.

*****

Sabtu, 11 April 2026

Film "Dalam Sujudku" adalah drama religi Indonesia garapan sutradara Rico Michael. Film ini menjanjikan cerita yang mengaduk emosi dan refleksi tentang makna doa dalam menjaga keutuhan keluarga.

 


Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan film religi-drama yang penuh makna melalui film Dalam Sujudku. Film ini diproduksi oleh P69 (Proj3ct69) dan disutradarai Rico Michael.

Film ini mengangkat kisah nyata kehidupan dari seorang teman Rico yang sarat dengan nilai spiritual, perjuangan, serta rapuhnya komunikasi dalam pernikahan yang terpisah ruang dan waktu. Rico menegaskan, film ini tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang refleksi bagi penonton.

“Film ini kami persembahkan untuk mereka yang mungkin sedang berada di titik terendah dalam hidup,''Kami ingin mengingatkan bahwa harapan selalu ada dan Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya,” ujar Rico.

Ia menambahkan, inti dari film ini terletak pada nilai memaafkan dan ketulusan dalam berdoa. “Ketika seseorang benar-benar pasrah, di situlah ia belajar makna berserah diri,'' Jelas Rico

Marcell membagikan pandangannya tentang makna menjadi manusia baik. Ia menegaskan bahwa penilaian tersebut tidak bisa datang dari diri sendiri.

"Kalau dibilang saya orang baik, saya enggak bisa menilai. Yang bisa menilai saya baik itu orang lain. Menurut saya, laki-laki baik atau manusia baik adalah yang bisa berguna dan bermanfaat bagi banyak orang," ujar Marcell.

Vinessa Inez yang memerankan Aisyah juga merasakan kedalaman emosional dari karakternya. “Aisyah mengajarkan saya untuk tetap berpikir positif dan percaya bahwa semua akan indah pada waktunya,” tutur Vinessa Inez

“Di Film ini Dennies memerankan Tokoh Ustadz harus menyampaikan pesan sebagai ustadz dengan maksimal, bukan hanya di layar, tetapi juga agar bisa sampai ke hati penonton,” ungkap Denis.

Official Poster

Sementara itu, Naura Hakim yang berperan sebagai sumber konflik mencoba menghadirkan karakter yang lebih manusiawi. “Saya ingin karakter ini tidak sekadar dilihat sebagai antagonis, tetapi juga memiliki latar belakang dan emosi yang kuat,” ujar Naura Hakim

Ryuka Bunga yang memerankan sahabat Aisyah merasa karakternya cukup dekat dengan dirinya, meski tetap dituntut tampil lebih ekspresif. 

Sedangkan Chika Waode menghadirkan warna tersendiri lewat karakter sahabat yang ceplas-ceplos dan dekat dengan realitas sosial. Ia juga mengungkapkan suasana syuting di Garut berlangsung hangat dan penuh kebersamaan.

Tak hanya kuat dari sisi cerita, Dalam Sujudku juga diperkuat oleh original soundtrack berjudul Titipan Ilahi yang dinyanyikan Evelyn Wijaya, juara Voice Hunt 2025. 

Lagu ciptaan Yusoff Al Aswad dan Amin Majid ini mengandung pesan mendalam tentang doa, harapan, dan penerimaan takdir.

Selain itu, film ini juga menghadirkan beberapa lagu lain seperti Tanpa Arah dan Menggoda karya Mamu Blacksweet, serta Cintaku Tak Ada yang Punya ciptaan Ferdy Tahier.


Sinopsis Film Dalam Sujudku

Melansir dari YouTube PROJ3CT69 film Dalam Sujudku berkisah tentang seorang perempuan bernama Aisyah yang diperankan oleh Vinessa Inez, dengan suaminya Farid yang diperankan oleh Marcell Darwin yang merupakan pasangan muda. Namun, harus menjalani Long Distance Marriage (LDM) akibat Farid yang harus merantau ke Jakarta.

Jarak yang awalnya bukan sebuah masalah menjadi konflik dan kesalahpahaman, akibat komunikasi yang tidak baik hingga kehadiran Rina yang diperankan oleh Naura Hakim yang menambah retaknya pernikahan dan kepercayaan di antara mereka.

Melalui perjalanan hidup yang tidak mudah, tokoh utama Aisyah yang mencoba bangkit dari keterpurukan akibat mengetahui perselingkuhan suaminya, Aisyah mencoba memperbaiki diri dan memperkuat iman diantara luka, doa, dan pilihan berat. Sujud menjadi simbol kepasrahan, harapan, dan kekuatan.

Dalam Sujudku bukan sekadar film drama biasa, melainkan sebuah refleksi kehidupan yang mengajarkan tentang arti kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan doa. Dengan alur cerita yang emosional, akting yang kuat, serta pesan yang mendalam, film ini menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberi pelajaran hidup.

Film ini cocok ditonton bagi siapa saja yang sedang mencari inspirasi dan ketenangan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Film ini menonjolkan nilai kesetiaan, keikhlasan, dan pesan bahwa sujud adalah tempat berserah diri atas ujian hidup yang berat. 

Film ini diperankan oleh beberapa nama aktor seperti 

1. Vinessa Inez sebagai Aisyah

2. Marcell Darwin sebagai Farid

3. Naura Hakim sebagai Rina

4. Dominique Sanda

5. Dennis Adishwara

6. Riyuka Bunga

7. Chika Waode

8. Momo Moriska


Film drama religi 'Dalam Sujudku' yang akan mulai tayang di bioskop pada 16 April 2026.

PELUNCURAN FILM PANGGUNG TERLARANG & SLIDE FILM TERBARU BINTANG CAHAYA SINEMA

Bintang Cahaya Sinema berkolaborasi dengan Komunitas Bogor Bamora dan Pictlock Cinema

 

Jakarta, 11 April 2026 — Bintang Cahaya Sinema mempertegas langkah strategisnya dalam membangun industri film Indonesia yang berkelanjutan melalui penyelenggaraan Press Conference film “Panggung Terlarang”. Momentum ini tidak hanya menjadi peluncuran karya, tetapi juga pemaparan komprehensif atas arah kreatif, peta proyek, serta strategi ekspansi global perusahaan melalui partisipasi di Marché du Festival de Cannes. Di mana tahun ini adalah tahun ke-3 Bintang Cahaya Sinema membuka booth di Marché du Festival de Cannes.

Sebagai rumah produksi yang berorientasi pada pembangunan intellectual property (IP) jangka panjang, Bintang Cahaya Sinema mengembangkan portofolio proyek secara terstruktur mengintegrasikan kekuatan narasi, relevansi sosial, serta potensi komersial lintas platform dalam satu kerangka bisnis yang adaptif dan scalable.

Dalam tahap produksi, dua film panjang utama menjadi fondasi awal, yakni “Panggung Terlarang” yang ditulis dan disutradarai oleh Bani Marhaen, serta “Pintu Belakang” yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara. Kedua proyek ini merepresentasikan pendekatan sinematik yang kuat, reflektif, dan berakar pada realitas sosial.

Bintang Cahaya Sinema tengah menyiapkan sejumlah film panjang yang akan segera memasuki tahap produksi, di antaranya “Broken Home” dengan penulis Evelyn Afnilia yang diangkat dari kisah nyata dan banyak terjadi di sekeliling kita; “Paraji” dengan penulis BW Purba negara ; “Petarung” dengan penulis Anggoro Saronto yang diangkat dari kisah nyata dari perjalanan hidup Dr. Hj. Titik Prasetyowati Verdi, S.H, M.H, juara dunia karate, serta “DiSini Bukan Rumahku: The Story of Hanako” yang di angkat dari kisah nyata Hanako yang ditulis oleh Tisa TS. Film Aku Harap Ibu Kembali, yang ditulis dan disutradarai oleh Keny Gulardi. Rangkaian proyek ini menghadirkan spektrum narasi yang kuat mengangkat isu kemanusiaan, dekat dengan kita, tentang ketahanan individu, peran perempuan, serta nilai-nilai kultural yang memiliki resonansi universal.

Selain film panjang, perusahaan juga mengembangkan karya film pendek sebagai bagian dari strategi eksplorasi kreatif dan penguatan talenta dan siap berkompetisi di ajang festival nasional dan international, Film pendek berjudul “Boru Ni Raja” diproduksi melalui kolaborasi dengan BPODT (Badan Pelaksana Otorita Danau Toba) di bawah kepemimpinan Jimmy Panjaitan selaku dirut BPODT, sebagai upaya mengangkat potensi budaya dan pariwisata berbasis kearifan lokal dan perjuangan hidup seorang Ibu. Sementara itu, “Lost Childhood” menjadi proyek penting sebagai debut penulis sekaligus sutradara Rizka Shakira produser dari Women from Rote Island yang sekaligus menandai kemunculan talenta baru melalui penampilan Nika sebagai pemeran utama di dalam film ini dengan Analia Trisna sebagai co-producer.

Partisipasi dalam Marché du Festival de Cannes menjadi langkah strategis dalam membuka akses terhadap jejaring global mencakup peluang co-production, distribusi internasional,serta kemitraan investasi. Dengan pendekatan kuratorial yang terukur, Bintang Cahaya Sinema tidak hanya membawa karya, tetapi juga membangun positioning konten Indonesia sebagai bagian dari percakapan industri film dunia.

Melalui penguatan riset pasar, diversifikasi genre, serta kolaborasi lintas sektor, perusahaan menempatkan film sebagai aset kreatif yang memiliki nilai artistik, ekonomi, dan kultural secara simultan. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih progresif, inklusif, dan berdaya saing global.

Adapun Press Conference diselenggarakan pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Resto Gili Asian Cuisine, Bekasi, dengan registrasi media dimulai pukul 12.30 WIB dan acara utama berlangsung pukul 14.00 WIB hingga selesai.

Bintang Cahaya Sinema memandang media sebagai mitra strategis dalam membangun narasi publik, memperluas jangkauan, serta mengakselerasi apresiasi terhadap karya.

Sinergi ini menjadi elemen penting dalam memperkuat eksistensi dan relevansi sinema Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.


Sinopsis film Panggung Terlarang

Film ini berkisah tentang Gin yang diperankan oleh Andriyan Didi, seorang mahasiswa yang sedang melakukan persiapan pertunjukan untuk tugas akhirnya. Gin dibantu dua sahabatnya Via ( pimpinan produksi ) yang diperankan oleh Irma Rihi, Beni ( dokumentasi) yang diperankan oleh Hakiki Kamil, Kio ( pemeran utama pertunjukan ) yang diperankan oleh Agoye Mahendra, Dinda ( pemeran Dewi Sri Poaci ) yang diperankan oleh Salsabila Zahra dan Roni ( art departemen ) yang diperankan oleh Vanjhoov. Mereka berusaha mewujudkan pementasan sebelumnya yang sempat gagal digelar, Namun kali ini Gin hanya punya waktu satu bulan untuk merampungkan semuanya, jika pertunjukan ini gagal lagi, maka Gin terancam tidak lulus. Perjalanan mereka tidak mudah, tiba-tiba investor yang mendanai pertunjukan Gin membatalkan pendanaanya menjelang hari pertunjukan. Namun Gin dan sahabatnya tidak menyerah, apapun yang terjadi mereka harus tetap menggelar pertunjukan itu. Akhirnya mereka menggelar pertunjukan itu di Gedung Mandala Kencana,gedung tua yang terbengkalai. Dan malapetaka pun terjadi.



Catatan Produksi film Panggung Terlarang

° Judul Film : Panggung Terlarang

° Produksi : Bintang Cahaya Sinema

° Produser : Rizka Shakira

° Sutradara : Bani Marhaen

° Penulis : Bani Marhaen


Cast :

° Irma Rihi sebagai Via

° Andriyan Didi sebagai Gin

° Agoye Mahendra sebagai Kio

° Vanjhoov sebagai Roni

° Hakiki Kamil sebagai Beni

° Widya Amor sebagai Kanaya

° Salsabila Zahra sebagai Dinda

° M. Iqbal sebagai Pak Rahman

° Amanda sebagai Ibu Kantin


Tentang Bintang Cahaya Sinema

Bintang Cahaya Sinema adalah perusahaan produksi film yang berfokus pada pengembangan konten sinematik berbasis narasi kuat, dengan pendekatan strategis yang mengintegrasikan nilai kreatif, komersial, dan kultural, serta berorientasi pada pasar nasional dan internasional.

---

Jumat, 10 April 2026

Trailer Crocodile Tears Ungkap Lapisan Konflik yang Lebih Intens Jelang Tayang 7 Mei 2026

 


​Jakarta, 10 April 2026 — Film panjang debut sutradara Tumpal Tampubolon, Crocodile Tears jelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026 ini, hari ini merilis final trailer yang memperlihatkan emosi drama yang intens di antara tiga karakter utamanya. Jika melalui trailer sebelumnya dibuka dengan adegan keseharian Johan dan Mama yang mulai terusik oleh kehadiran Arumi, melalui final trailer ini, Crocodile Tears membawa penonton masuk lebih jauh ke dalam relasi yang kompleks di antara ketiganya.

​Final trailer dibuka dengan hubungan romantis Johan (Yusuf Mahardika) dan Arumi (Zulfa Maharani) diiringi suara lirih Arumi yang menyanyikan lagu Benci untuk Mencinta. Kedekatan yang memicu perubahan dalam relasi Johan dengan Mama (Marissa Anita). Ketegangan yang sebelumnya terasa samar kini berkembang menjadi konflik emosional yang lebih terbuka. Melalui potongan adegan yang semakin intens, Crocodile Tears mengangkat tema tentang dinamika antara ibu, anak, dan menantu, serta figur "mertua" yang dominan, dibingkai dalam sebuah drama keluarga yang menegangkan, dimana batas antara kasih sayang tulus menjadi semakin kabur dan terasa manipulatif.

​Sejak karya-karya pendeknya, sutradara Tumpal Tampubolon dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama dimana emosi para karakter dan relasi di antara mereka terbangun perlahan namun konsisten, sehingga penonton terbawa masuk ke dalam dinamika yang dialami karakternya. Dan dalam setiap karyanya pula, Tumpal selalu memberikan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama dihadirkan Tumpal dalam Crocodile Tears. Dan final trailer ini menjadi gambaran awal dari bagaimana film ini akan membawa penonton pada perjalanan emosional yang tidak hanya intim, tetapi juga penuh kejutan.

​Dibintangi oleh Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani, Crocodile Tears menghadirkan kisah tentang hubungan keluarga yang berubah menjadi ruang penuh tekanan, ketika cinta dan bakti tidak lagi berjalan beriringan. Dengan balutan realisme magis dan teror psikologis, film ini menawarkan pengalaman menonton yang intens sekaligus menggugah.

​Film Crocodile Tears diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment. Ikuti akun media sosial resmi Talamedia untuk informasi terbaru mengenai film Crocodile Tears.



​CROCODILE TEARS

​Production: Talamedia & E-Motion Entertainment

​Co-Production: 

Acrobates Films

​Poetik Films

​Giraffe Pictures

​2Pilots Filmproduction

​International Sales & Festivals: Cercamon

​Casts: 

Yusuf Mahardika (Johan)

​Marissa Anita (Mama)

​Zulfa Maharani (Arumi)

​Director: Tumpal Tampubolon

​Writer: Tumpal Tampubolon

​Producer: Mandy Marahimin

​Co-Producers: 

Claire Lajoumard

​Anthony Chen

​Christophe Lafont

​Harry Flöter

​Jörg Siepmann

​Teoh Yi Peng

​Executive Producers: 

Arnold J. Limasnax

​Lianto Winata Vachon

​Tjen Foeng Fa

​Kevin Danudoro

​Cinematographer: Teck Siang Lim

​Production Designer: Jafar

​Art Director: Guntur Mupak

​Costume: Hagai Pakan

​Make-up: 

Cherry Wirawan

​Agustin Puji

​Sound: 

Roman Dymny

​Bruno Ehlinger

​Romain Ozanne

​Music: Kin Leonn

​Editor: 

Jasmine Ng Kin Kia

​Kelvin Nugroho

​Poster & Logo: Evan Wijaya

​Photo Poster: Robin Budidharma

​​Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Teaser Trailer & Poster, Menampilkan Kisah Emosional Raihaanun dan Omar Daniel Sebagai Pasangan Rumah Tangga yang Dekat dengan Banyak Orang


​Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 7 April 2026 — VMS Studio dan Umbara Brothers Film, bekerja sama dengan Adsfort merilis official teaser trailer & poster film drama keluarga terbaru dari produser Tony Ramesh dan sutradara Anggy Umbara, Keluarga Suami Adalah Hama. Dibintangi oleh Raihaanun, Omar Daniel, Meriam Bellina, Jeremie Moeremans dan Sitha Marino.

​Dalam official teaser trailer yang dirilis, menampilkan sebuah dinamika seorang istri (Raihaanun), yang tinggal bersama keluarga suaminya. Ia mengurus semua urusan rumah tangga, termasuk mengasuh sang mertua. Namun, dalam cuplikan tersebut, menampilkan beban emosional yang dialami Raihaanun.

​Di sisi lain, Omar Daniel sebagai suami juga harus menanggung semua beban finansial seluruh keluarganya. Situasi-situasi tersebut membuat goyah kehidupan rumah tangga Raihaanun dan Omar Daniel. Sementara itu, official teaser posternya menampilkan jajaran ansambel pemeran yang merepresentasikan dinamika keluarga dan rumah tangga yang terjadi di film.

​“VMS Studio selalu berkomitmen untuk selalu menghadirkan cerita yang fresh sekaligus dekat dengan kisah dari banyak orang. Dalam film drama Keluarga Suami Adalah Hama, kali ini kami ingin menyoroti dinamika hubungan suami istri yang menghadapi cobaan bukan dari orang ketiga, tapi justru dari keluarga yang terlalu ikut campur. Ini adalah kisah yang bisa merefleksikan situasi banyak orang dan semoga bisa menjadi persembahan yang memberikan hiburan sekaligus pelajaran,” ujar produser dan CEO VMS Studio Tony Ramesh.

​Bagi Raihaanun, film Keluarga Suami Adalah Hama memberinya tantangan untuk menampilkan beban emosional yang dialami oleh banyak perempuan dan istri. Ia berharap film ini akan semakin membuka ruang diskusi tentang pentingnya hubungan yang sehat dalam keluarga.

​“Film ini akan membuka banyak mata masyarakat tentang betapa pentingnya memberikan ruang yang aman dan komunikasi yang sehat untuk istri. Sehingga para istri tidak merasa ditinggalkan dan seperti berjuang sendirian di dalam rumah tangga. Salah satu yang juga menjadi tantangannya di sini adalah bagaimana aku menampilkan dinamika seorang istri yang harus berinteraksi secara intens dengan keluarga dari suami,” ujar Raihaanun.

​Keluarga Suami Adalah Hama merupakan salah satu slate yang diumumkan oleh VMS Studio pada akhir tahun lalu. Film ini diadaptasi dari film pendek fenomenal berjudul sama karya Aditya Santana yang diproduksi Adsfort. Film pendeknya sendiri telah ditonton lebih dari 100 juta views di platform Noice.

“Sebuah cerita yang sangat berani, dekat dengan kehidupan nyata di sekitar kita, dan menggugat apa yang masih banyak terjadi di masyarakat. Itu pula yang menjadi titik ketertarikan saya saat akan menggarap film ini. Di film panjangnya, penonton bisa lebih lengkap melihat konflik-konflik dan dinamika yang dihadapi oleh suami istri di sini, yang diperankan Omar dan Raihaanun,” ujar sutradara Anggy Umbara.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.

'AIN – Ketika Pandangan Menjadi Ancaman yang Tak Terlihat

 


Jakarta, 08 April 2026 - Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya terbaru bertema Body Horor Film 'AIN hadir sebagai film Body Horor namun tanpa menampilkan sosok hantu secara visual. Alih-alih mengandalkan penampakan, film ini menghadirkan kengerian yang dibangun melalui suasana, emosi, dan pengalaman yang terasa nyata—cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Film ini mengangkat fenomena penyakit ain, sebuah kondisi yang diyakini muncul akibat pandangan mata seseorang yang dilandasi rasa iri, dengki, atau bahkan kekaguman berlebihan tanpa menyebut nama Allah. Tema ini terasa semakin relevan dengan kondisi saat ini, di mana budaya flexing di media sosial semakin marak dilakukan oleh banyak selebriti maupun influencer.

Sutradara Archie Hekagery mengungkapkan bahwa film ini lahir dari keresahan terhadap fenomena tersebut.

“Film ini kita buat karena relate dengan kondisi sekarang, di mana banyak orang suka flexing di media sosial dan kemudian mengalami gangguan seperti autoimun tanpa menyadari kemungkinan adanya ain. Film ini sangat nyata dan sangat real, bukan fiksi. Kalau mencari tentang penyakit ain, akan banyak pengakuan dari orang-orang yang sudah mengalaminya,” ujar Archie.

Ia juga menambahkan bahwa proses pengembangan film ini tidak membutuhkan riset panjang, karena konsep ain sudah dikenal luas dalam perspektif keagamaan.

“Saya tidak perlu riset lama. Bagi umat Islam, ain adalah hal yang sudah diketahui, sama seperti dalam kepercayaan lain yang mengenal praktik spiritual tertentu,” tambahnya.

Sementara itu, aktris Brittany Fergie yang memerankan karakter Joy, mengaku memiliki kedekatan personal dengan tema yang diangkat dalam film ini.

“Aku sangat percaya karena mendengar cerita dari teman-teman dan lingkungan sekitarku. Film ini menjadi tantangan, baik dari sisi teknis maupun cerita. Ini juga membuka wawasan bahwa masih banyak orang yang belum aware dengan penyakit ain,” ungkap Brittany.

Ia berharap kehadiran film ini bisa menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih menjaga sikap dan tetap rendah hati.

“Semoga film ini bisa jadi sarana untuk mengingatkan kita agar terus rendah hati,” tambahnya.

Dengan pendekatan yang lebih subtil dan atmosferik, “AIN” menawarkan pengalaman horor yang berbeda—tidak sekadar menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara manusia, niat, dan energi yang tak terlihat.

Film ini diperankan oleh Brittany Fergie, Putri Ayudya, Bara Valentino dan lain-lain. Tunggu kengerian AIN apa yang akan mengintai anda di Bioskop tanggal 7 Mei 2026.

Dilema Genarasi Muda, Antara Ambisi dan Bakti: Rapi Films Rilis Trailer "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan"

  Jakarta, 13 April 2026 – Menyusul kesuksesan luar biasa dari Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi ...