Selasa, 26 Mei 2026

Melisa Darusman Hidupkan Kembali Lagu “Lady Sky” , Persembahkan Untuk Sang Idola Charly Van Houten, dan Babak Baru Perjalanan Penemuan Diri

 


Penyanyi Melisa Darusman secara resmi merilis single terbarunya, “Lady Sky”, sebuah karya yang lebih dari sekadar lagu. “Lady Sky” adalah ruang Melisa untuk pulang ke masa kecilnya, percakapan personalnya dengan sang idola, sekaligus pintu pertama menuju layer-layer dirinya yang selama ini belum sempat ia perdengarkan.

Diciptakan oleh Charly van Houten, salah satu musisi yang sejak kecil menjadi idola Melisa, “Lady Sky” adalah lagu yang sudah lama menemani perjalanan Melisa sebagai pendengar, jauh sebelum ia berdiri sebagai seorang penyanyi. Membawakan kembali lagu ini menjadi cara Melisa untuk terhubung dengan versi dirinya yang lebih muda, sekaligus menyalurkan rasa hormat dan cintanya pada karya sang idola.

Untuk menghidupkan “Lady Sky” dalam warna yang baru, Melisa bekerja sama dengan produser musik Vinnie Ananta dan Kamga sebagai vocal director. Kolaborasi ini menghasilkan aransemen yang segar dan playful, memberi ruang bagi sisi centil Melisa yang selama ini hanya dikenal oleh para penonton ketika ia tampil di atas panggung. Hasilnya adalah single yang ringan, riang, dan dapat dinikmati lintas usia maupun lapisan masyarakat.

Bagi Melisa, “Lady Sky” bukan sekadar tonggak musikal, ia juga merupakan penanda fase penyembuhan. Selama bertahun-tahun, ada banyak sisi dari diri Melisa yang tidak diizinkan untuk hadir, dan sebagian dari proses menemukan dirinya ditemani oleh kritik yang keras dan menyakitkan. “Dulu, banyak sisi dari saya yang rasanya tidak boleh keluar. Sebagian dari perjalanan saya untuk menemukan diri saya sendiri diiringi cacian yang sangat menyakitkan,” ujar Melisa. “Lady Sky adalah cara saya pelan-pelan berdamai dengan masa kecil saya. Lewat lagu ini saya merasa bisa terhubung kembali dengan Charly van Houten, idola saya, dan juga dengan versi diri saya yang dulu ingin sekali jadi biduan dan sangat mencintai dangdut dan musik melayu.”

Single ini menjadi pintu pertama untuk membuka satu per satu layer dari persona Melisa. Layer-layer berikutnya akan tergambar lebih utuh di album yang sedang dipersiapkan, namun melalui “Lady Sky,” Melisa ingin memberi ruang lebih dahulu bagi sisi playful dan ringan dari dirinya untuk hadir, dinikmati, dan dirayakan.

Perjalanan ini tidak ditempuh sendirian. Sebagai Executive Producer, Anggie Setia Ariningsih mendampingi Melisa membangun ruang yang aman untuk setiap layer dari dirinya hadir tanpa ditekan oleh ekspektasi siapa pun “Peran saya adalah memastikan setiap sisi dari Melisa, baik yang sudah dikenal publik maupun yang selama ini ia rasa tidak boleh ditampilkan, punya tempat untuk muncul dengan utuh,” ungkap Anggie. “Lady Sky adalah lapisan pertama yang kami buka bersama. Akan ada lebih banyak lapisan beda yang menyusul di album mendatang.”

Salah satu mimpi masa kecil Melisa adalah menjadi biduan. Kecintaannya pada dangdut ia jadikan acuan genre untuk “Lady Sky,” semangat dangdut, keinginan untuk menghibur seluruh lapisan masyarakat dengan kegembiraan yang tulus, terasa kuat dalam DNA single ini. Sebagai bentuk undangan kepada publik untuk ikut merayakan keceriaan “Lady Sky,” peluncuran ini juga disertai dengan dance challenge yang dapat diikuti penggemar di TikTok dan Instagram. Penggemar dapat menampilkan versi mereka sendiri dari challenge ini menggunakan tagar resmi yang akan diumumkan bersamaan dengan rilis lagu “Lady Sky” kini tersedia di seluruh platform digital, termasuk Spotify, Apple Music, YouTube Music dan lainnya.



Drama Kolaborasi Asia Bertabur Bintang kiDnap GAME Siap Tayang di Viu pada Akhir 2026

 

Lee Joon Gi, Kentaro Sakaguchi, Alice Ko hingga Stanley Yau dari MIRROR bersatu dalam thriller lintas negara paling ambisius tahun ini

JAKARTA, 22 Mei 2026 – Viu siap menghadirkan salah satu drama Asia paling ambisius tahun ini lewat kiDnap GAME, serial thriller internasional hasil kolaborasi Hong Kong, Korea Selatan, dan Jepang yang dijadwalkan tayang pada kuartal keempat 2026.

Diproduksi oleh MakerVille (PCCW Media) bersama rumah produksi ternama Korea Selatan SimStory dan Fuji Television dari Jepang, kiDnap GAME menjadi proyek lintas negara berskala besar yang telah dipersiapkan selama tiga tahun.

Mengusung cerita penuh ketegangan, serial ini mengambil lokasi syuting di berbagai kota besar Asia, termasuk Hong Kong, Taipei, Seoul, Tokyo, Singapura, Bangkok, Manila, hingga Okinawa. Selain tayang di ViuTV Hong Kong, serial ini juga akan tersedia di platform Viu untuk penonton di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika Selatan.

Yang membuat kiDnap GAME semakin dinantikan adalah deretan cast lintas negara yang belum pernah disatukan sebelumnya.

Aktor Korea Selatan Lee Joon Gi, yang dikenal lewat Flower of Evil dan Again My Life, memerankan Han Ki-joo, seorang ahli bedah jenius yang terjebak dalam permainan mematikan.

Dari Jepang, Kentaro Sakaguchi aktor pemenang penghargaan yang juga dikenal lewat What Comes After Love berperan sebagai detektif elit Toshiro Niide.

Aktris Taiwan Alice Ko, dua kali peraih Golden Bell Awards, memerankan Christina, seorang influencer sekaligus ibu rumah tangga.

Hong Kong diwakili oleh Stanley Yau, anggota boy group fenomenal MIRROR, yang berperan sebagai pengacara korporasi multinasional bernama Andy.

Sementara itu, Singapura menghadirkan Carrie Wong sebagai Janice, seorang pramugari. Dari Filipina, aktor senior Joel Torre memerankan Miguel, seorang sopir taksi, dan Thailand menghadirkan Praew Narupornkamol Chaisang, yang dikenal lewat Master of the House, sebagai Ayun.

Secara premis, kiDnap GAME menawarkan konsep thriller yang intens.

Cerita dimulai ketika tujuh kasus penculikan mengejutkan terjadi secara bersamaan di tujuh kota berbeda di Asia. Saat perhatian media dunia tertuju pada kasus-kasus tersebut, keluarga para korban menerima email misterius dengan pesan mengerikan:

“Sejauh apa Anda bersedia melangkah untuk menyelamatkan orang yang Anda cintai? Hanya satu yang bisa selamat.”

Tujuh orang asing dari latar belakang, negara, dan keyakinan berbeda pun mendadak terhubung dalam permainan brutal yang memaksa mereka menjalankan misi masing-masing demi bertahan hidup.

Siapa dalang di balik semuanya? Dan mengapa hanya satu orang yang ditakdirkan selamat?

Dengan skala produksi lintas negara, ensemble cast papan atas Asia, serta premis thriller yang penuh misteri, kiDnap GAME diproyeksikan menjadi salah satu original title Asia yang paling banyak diperbincangkan saat tayang nanti.

Senin, 25 Mei 2026

The Beauty, Fashion, and Fragrance Festival (BFF Festival) Tahun Kedua: Kembalinya Kolaborasi Dunia Kecantikan & Fashion Indonesia

 

Setelah sukses di selenggarakan perdana Agustus 2025 lalu, The BFF Festival kembali menyapa dengan keterlibatan deretan brand favorit lintas kategori

Jakarta, 21 Mei 2026 – Kesuksesan The BFF Festival dalam menghadirkan pengalaman lintas industri yang mempertemukan pelaku kecantikan, fashion, fragrance, dan lifestyle di tahun perdananya, menjadikan festival ini kembali diselenggarakan pada tahun 2026.

Didirikan oleh Hanifa Ambadar dan Novita Imelda, dua sosok yang telah berkecimpung selama hampir dua dekade di industri kecantikan Indonesia, The BFF Festival lahir dari kebutuhan akan sebuah platform yang mampu mempertemukan berbagai brand berkualitas dengan audiens yang lebih luas dan apresiatif. Di tengah pesatnya pertumbuhan industri beauty dan fashion, tantangan yang dihadapi para pelaku industri masih terus berkembang, mulai dari persaingan harga, dominasi produk fast fashion, hingga kebutuhan membangun koneksi yang lebih bermakna dengan konsumen.

Melihat antusiasme besar pada penyelenggaraan sebelumnya di tahun 2025, The BFF Festival 2026 hadir dengan pengalaman yang lebih kaya. Festival ini kembali menjadi ruang dinamis bagi brand kecantikan, fashion, dan lifestyle untuk berkolaborasi, memperluas pasar, sekaligus menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih personal dan inspiratif bagi pengunjung.

Pendekatan Lebih Relevan, Suasana yang Tetap Nyaman Meski sama-sama menjadi bagian erat dari gaya hidup modern, industri kecantikan dan fashion di Indonesia hingga kini masih kerap bergerak dalam ekosistem yang berjalan sendiri-sendiri. Tidak sedikit konsumen brand kecantikan lokal yang belum akrab dengan jenama fashion dalam negeri, begitu pula sebaliknya. Padahal, keduanya memiliki keterhubungan yang kuat dalam membentuk identitas dan ekspresi personal.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang menjadikan online shopping sebagai bagian dari keseharian, pengalaman berbelanja secara offline nyatanya tetap memiliki nilai yang tak tergantikan. Ada pengalaman sensori dan emosional yang hanya dapat dirasakan ketika konsumen hadir secara langsung, mulai dari menyentuh material pakaian, mengamati detail craftsmanship pada tas dan sepatu, hingga menemukan aroma wewangian yang benar-benar merepresentasikan karakter dan preferensi diri.

Lebih dari sekadar transaksi, pengalaman tersebut mendorong proses konsumsi yang lebih personal, sadar, dan tepat sasaran. Konsumen tidak hanya membeli produk karena tren sesaat, melainkan memilih sesuatu yang benar-benar memiliki relevansi dan nilai dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan saat ini, banyak brand lokal tengah menghadapi tekanan besar, mulai dari penurunan pendapatan, melemahnya daya beli masyarakat, hingga lonjakan harga bahan baku yang kian membebani. Berangkat dari situasi tersebut, BFF Festival hadir sebagai ruang kolaborasi yang ingin merangkul para brand lokal dan mempertemukan mereka lebih dekat dengan konsumen, demi menciptakan ekosistem yang saling mendukung sekaligus memperkuat roda perekonomian bersama.

Hanifa Ambadar selaku co-founder mengungkapkan, “Saat banyak brand sedang menghadapi masa yang challenging, BFF Festival ingin menjadi ruang yang membawa optimisme, tempat di mana brand, komunitas, media dan tentunya konsumen bisa kembali terhubung dan saling menguatkan. Kami percaya industri kreatif lokal akan selalu punya masa depan yang cerah selama kita terus bergerak bersama.”

Kembali hadir di Jakarta International Convention Center (JICC), venue yang iconic untuk berbagai acara berskala internasional, BFF Festival menghadirkan pengalaman festival yang nyaman, terkurasi, dan menyenangkan. Lokasi ini dipilih untuk menciptakan atmosfer yang megah namun tetap hangat dan dinamis sebagai ruang bertemunya kreativitas, inspirasi, dan komunitas.


Apa Saja yang Dihadirkan oleh The BFF 2026?

● Pameran kurasi yang menampilkan 200 merek kecantikan, fashion, dan wewangian berkualitas di Indonesia. Nama-nama besar di industri kecantikan seperti Make Over,Avoskin, BLP Beauty, Buttonscarves Beauty, Luxcrime, Wet Brush, Guele, Skin Dewi, Dew It, Tulus Skin, ESQA, Glowell, hingga Sozo Skincare akan hadir di acara ini.

Dari ranah wewangian, pengunjung bisa menemukan Etre, Personal Chemistry, Citizens of The World, Scents of Pluto, Astree, Scent of Jarte, hingga Maison Garnet. Untuk kategori fashion, deretan label ternama seperti IKYK, Ria Miranda, Ella & Glo, Alex[a]lexa, BLZR ID, HSF Eyewear, Calla The Label, Dama Kara, Shaddy, Buttonscarves, NASL, White Noise, Khanaan, hingga TS The Label by Tities Sapoetra turut meramaikan acara.

●Pertunjukan trunk show yang menggabungkan narasi fashion dan kecantikan.

● Deretan workshop interaktif, edukatif, dan diskusi panel dengan para ahli di industri.

● Kesempatan networking untuk memicu kolaborasi antara merek, kreator, dan konsumen.

● Pertunjukan musik dan entertainment yang menarik dari HIVI!, Sivia Azizah, hingga Rapot (Reza Chandika, Radhini, Ankatama, dan Natasha Abigail).

Acara ini tidak akan mungkin terwujud tanpa kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak yang memiliki semangat dan visi yang sejalan dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif Indonesia. Kami meyakini bahwa sebuah festival tidak hanya dibangun oleh ide, tetapi juga oleh sinergi yang kuat antar mitra yang percaya pada kekuatan kreativitas, komunitas, dan pengalaman yang bermakna. Dalam perjalanan ini, kami merasa sangat bangga dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Bank Mandiri sebagai sponsor utama yang menjadi salah satu pilar penting dalam penyelenggaraan BFF Festival.

Dukungan dari Bank Mandiri diwujudkan melalui penyediaan layanan keuangan yang komprehensif untuk menghadirkan pengalaman spesial yang selaras dengan semangat melayani sepenuh hati. Tidak hanya menghadirkan layanan transaksi yang menyeluruh, Bank Mandiri juga menawarkan berbagai program menarik bagi pengunjung, mulai dari cashback transaksi, bonus Livin’ Poin, penukaran struk belanja dengan merchandise dan Livin’ Poin, program raffle berhadiah, hingga pengalaman interaktif di Mandiri Looping for Life.

Bagi pengunjung yang belum menjadi nasabah, Bank Mandiri turut menyediakan program akuisisi berupa cashback hingga Rp200 ribu untuk pembukaan Tabungan NOW dan aktivasi

Livin’, serta welcome bonus hingga Rp1,5 juta dan bebas biaya membership hingga 1 tahun untuk pembukaan Mandiri Kartu Kredit. Seluruh inisiatif ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman transaksi yang lebih seamless, relevan, dan terintegrasi.

Senior Vice President Digital Marketing Group Bank Mandiri, Diah Eka Purwanti mengatakan, kolaborasi perdana dengan The BFF Festival 2026 merupakan langkah strategis Bank Mandiri dalam memperluas engagement dengan ekosistem lifestyle dan creative commerce yang terus bertumbuh di Indonesia. Melalui BFF Festival, Bank Mandiri melihat hadirnya ekosistem yang kuat dan saling terhubung antara brand, pelaku usaha kreatif, komunitas, hingga konsumen dalam satu pengalaman yang lebih interaktif dan dekat dengan gaya hidup masyarakat saat in

“Sebagai bagian dari ekosistem penggerak negeri, Bank Mandiri berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi finansial yang tidak hanya mendukung transaksi, tetapi juga memperkuat pertumbuhan industri kreatif secara menyeluruh. Melalui peran sebagai strategic banking partner, kami menghadirkan layanan dan ekosistem pembayaran digital yang seamless, aman, dan mudah diakses, sehingga mendorong terciptanya keunggulan yang berkelanjutan bagi seluruh pelaku industri,” ujarnya.

Melalui keterlibatan ini, Bank Mandiri memperkuat perannya sebagai ekosistem penggerak negeri yang tidak hanya menyediakan layanan finansial, tetapi juga membuka lebih banyak peluang bagi brand untuk meningkatkan engagement, memperluas pasar, dan bertumbuh bersama dalam ekosistem ekonomi kreatif yang semakin kompetitif. Seluruh inisiatif ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang semakin relevan, modern, dan seamless bagi masyarakat.


Detail Acara

Tanggal: 28-31 Mei 2026, Pukul 10.00 - 21.00 WIB

Lokasi: Jakarta International Convention Center Hall B

Jl. Gatot Subroto, RT.1/RW.3, Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270, Tiket dan informasi pembelian tersedia di thebfffestival.com dan Sukha - Livin’ by Mandiri.

Ikuti BFF di Instagram @thebfffestival untuk update, bocoran eksklusif, dan konten menarik lainnya

Minggu, 24 Mei 2026

Lomba Sihir Hadirkan ‘Melompat Lebih Tinggi’, Lagu Ikonik Sheila On 7 yang Tetap Relevan Lintas Generasi

 

Lomba Sihir kembali menghadirkan kejutan lewat interpretasi baru dari lagu legendaris ‘Melompat Lebih Tinggi’, karya ikonik milik Sheila On 7. Lagu ini menjadi rilisan pembuka dari proyek “Reka Ulang: Karya dan Komposisi Lagu Terbaik”, sebuah inisiatif dari Sony Music Entertainment Indonesia yang bertujuan menghidupkan kembali karya-karya legendaris Indonesia melalui sentuhan musisi generasi baru.

Bagi Lomba Sihir, membawakan ulang lagu ciptaan Eross Candra bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga tantangan yang menyenangkan. Sebagai band yang tumbuh bersama lagu-lagu Sheila On 7, ‘Melompat Lebih Tinggi’ telah menjadi bagian dari memori kolektif mereka sejak lama. Karena itu, menghadirkan versi baru dari lagu tersebut terasa seperti sebuah perjalanan emosional yaitu antara rasa hormat terhadap karya aslinya dan keinginan untuk memberikan identitas musikal mereka sendiri. “Terhormat dan merupakan tantangan besar sekaligus menarik untuk Lomba Sihir untuk memberikan karakter baru untuk lagu yang ikonik,” ujar Lomba Sihir mengenai keterlibatan mereka dalam proyek ini.

Alih-alih mengubah lagu secara drastis, Lomba Sihir memilih untuk membawa warna musikal mereka sendiri ke dalam ‘Melompat Lebih Tinggi’. Eksplorasi aransemen dilakukan dengan pendekatan yang lebih khas Lomba Sihir, namun tetap mempertahankan ruh utama lagu tersebut. Bagi mereka, proses pengerjaan lagu ini justru membuktikan satu hal penting: lagu yang benar-benar kuat akan tetap terasa istimewa dalam balutan aransemen apa pun.

“Serunya mengerjakan lagu ini adalah kita jadi bisa tahu bahwa lagu bagus mau diaransemen seperti apa pun akan tetap bagus. Jadi kita memilih untuk mencoba memberikan rasa Lomba Sihir di lagu yang sudah terlampau bagus ini,” lanjut mereka. Salah satu elemen yang tetap dipertahankan dalam versi terbaru ini adalah riff gitar ikonik di bagian tengah lagu. Menurut Lomba Sihir, bagian tersebut sudah menjadi identitas yang tak terpisahkan dari ‘Melompat Lebih Tinggi’. “Solonya Mas Eross memang padanannya di lagu ini. Harus dimainkan persis seperti aslinya, kalau nggak, bukan ‘Melompat Lebih Tinggi’ namanya.”

Lewat interpretasi baru ini, Lomba Sihir tidak hanya menghadirkan nostalgia bagi para pendengar lama, tetapi juga membuka jalan bagi generasi baru untuk kembali mengenal salah satu lagu paling berpengaruh dalam perjalanan musik pop Indonesia. Dengan karakter musikal mereka yang eksploratif dan relevan dengan lanskap musik saat ini, ‘Melompat Lebih Tinggi’ versi Lomba Sihir hadir sebagai bentuk penghormatan yang tetap terasa personal, hangat, dan dekat dengan identitas mereka sendiri.

Pada akhirnya, perilisan ‘Melompat Lebih Tinggi’ menjadi pengingat bahwa lagu-lagu yang tumbuh bersama sebuah generasi akan selalu menemukan cara untuk hidup kembali. Melintasi batas waktu, usia, dan pendengarnya. Dan lewat tangan Lomba Sihir, lagu ini kembali melompat lebih tinggi menuju generasi yang baru. ‘Melompat Lebih Tinggi’ versi Lomba Sihir sudah tersedia di seluruh digital streaming platform mulai 22 Mei 2026.

Sabtu, 23 Mei 2026

All Women Project! Palari Films Memperkenalkan Pemeran & Sineas Film Desember Jani yang Seluruhnya Perempuan dari Lintas Generasi

 

Film Desember Jani tayang jelang Hari Ibu pada Desember 2026 di bioskop Indonesia


Jakarta, 22 Mei 2026 — Setelah merayakan 1 Dekade perjalanan Palari Films, rumah produksi yang telah banyak memenangkan penghargaan dan judul-judul yang banyak diminati penonton Indonesia, kini Palari Films memperkenalkan judul film terbarunya, Desember Jani (Jani Be Good). Film ini semakin menarik karena menjadi All Women Project yang ditulis, diproduseri,disutradarai, dan diperankan oleh semuanya perempuan.

Film Desember Jani disutradarai oleh sutradara dan seniman visual Ariani Darmawan, sekaligus menjadikan film ini sebagai debut feature nya. Naskah film ini ditulis oleh Cyntha Hariadi, novelis dan penyair pemenang penghargaan yang juga untuk pertama kalinya menulis naskah film.

Sementara itu, Meiske Taurisia, menjadi produser di film ini, yang semakin memperkuat jajaran suara perempuan dalam ceritanya. Meiske memproduseri film ini bersama Muhammad Zaidy.

Film Desember Jani juga menggabungkan jajaran ansambel aktris yang unik dan kuat, berasal dari pemeran perempuan lintas generasi. Film ini dibintangi oleh Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, dan debut layar lebar Hyori Mika.

“Ini adalah film pertama Palari Films yang sangat perempuan. Seluruh pembuatnya hingga pemerannya adalah perempuan, dengan cerita yang juga sangat dekat dengan perempuan, terutama untuk seorang ibu dan anak perempuan,” ujar produser Meiske Taurisia.

Film Desember Jani berkisah tentang tiga generasi perempuan dalam satu rumah yang hampir kehilangan cara untuk saling bicara, hingga yang paling muda, Jani (13 tahun), memilih menjadi jembatan yang menyambungkan kembali. Film ini mengangkat tema yang dekat dengan keseharian keluarga Indonesia: jarak emosional antargenerasi, cinta yang hadir dalam diam, dan keberanian untuk memulai kembali.

“Ini adalah proyek yang luar biasa, bersama Palari Films, saya mengeksplorasi gagasan kreatif dengan lebih leluasa. Memanfaatkan Bandung sebagai sepenuhnya latar di film ini, yang juga punya nilai sentimental tersendiri untuk saya. Bersama jajaran pemeran perempuan di film ini kami meramu kisah yang akan menghangatkan menjelang akhir tahun nanti,” ujar sutradara Ariani Darmawan.

Empat pemeran perempuan di film ini masing-masing membawa lapisan emosi yang berbeda. Tutie Kirana memerankan Oma, perempuan berusia 75 tahun yang mengungkapkan cinta lewat tindakan, bukan kata-kata. Sigi Wimala memerankan Winnie, seorang ibu yang menyimpan rasa bersalah yang tak pernah terucapkan. Hyori Mika memerankan Julia, anak yang pergi dan belum tahu cara pulang.

Chempa Puteri memerankan Jani, anak 13 tahun yang melihat retaknya keluarga lebih jelas dari siapapun, dan memilih untuk menjadi yang pertama bergerak.

Bagi aktris Sigi Wimala, yang cukup lama menepi dari layar lebar, bergabung dengan film Desember Jani seperti menemukan keluarga baru. “Kami diberi waktu untuk berkumpul bersama sebagai keluarga itu cukup lama. Jadi semuanya dibangun secara organik. Tanpa diburu-buru dan dipaksakan. Jadi pas kami syuting sudah sangat nyaman,” ujar Sigi Wimala.

Desember Jani adalah film kesekian bagi Chempa Puteri, namun untuk pertama kalinya Chempa dipercaya sebagai pemeran utama. “Untuk persiapannya, aku latihan chemistry dengan Mama Sigi, Oma Tutie, Ibu Rani sebagai sutradara, dan Bu Dede sebagai produser. Aku belajar banyak dari orang-orang hebat di film ini dan mendapatkan ilmu yang berharga,” ujar Chempa Puteri.

Sementara itu, ada kisah menarik di balik pemilihan Hyori Mika. Mulanya, sang sutradara melihat akting Hyori dalam sebuah iklan di kereta api. Saat itu, ia pun meminta tim casting untuk mencari Hyori Mika dan akhirnya ia memerankan Julia di film panjang debutnya.

“Senang rasanya dipercaya untuk memerankan karakter Julia di film ini. Anak sulung yang memutuskan pergi dari rumah karena tidak didengar. Film ini jadi perjalanan awalku di dunia film, dan semoga karakterku juga bisa mewakili penonton yang merasakan keresahan sama tentang boundaries dan mereka yang lagi mencari jati diri,” ujar Hyori Mika.

Tutie Kirana, legenda perfilman Indonesia yang telah mewarnai perfilman sejak era ‘70-an dan telah meraih 5 nominasi Piala Citra FFI, bergabung menjadi karakter yang menguatkan dinamika keluarga di film ini. Bagi Tutie, film ini adalah gambaran tentang perempuan-perempuan yang berdaya.

“Saya memerankan Oma Peggy, sosok yang sudah lanjut usia tapi masih bikin usaha lumpia. Sebagai perempuan memang harus berdaya, bahkan di saat sudah lanjut usia. Di film ini, bersama perempuan-perempuan yang sangat berdaya, menjadikan semuanya satu kesatuan di dalam ceritanya,” ujar Tutie Kirana.

Desember, Jani akan hadir di bioskop tepat menjelang Hari Ibu, 22 Desember 2026, sebuah momen yang terasa pas untuk sebuah film tentang perempuan, keluarga, dan cinta yang butuh waktu untuk menemukan suaranya.

***


Tentang Palari Films

Palari Films adalah perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.

Beberapa film yang pernah diproduksi Palari Films adalah “Kabut Berduri” (Netflix Original Indonesia, 2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat 2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan tayang. Sebelumnya “Dear David” (2023), omnibus “Piknik Pesona” (2022), “Ali & Ratu-Ratu Queens” (2021), “Aruna & Lidahnya” (2018), “Posesif” (2017). 

Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas.

Jumat, 22 Mei 2026

Badut Gendong ‘Hidup’ di Epicentrum! Intip Kengerian Gala Premiere Monster Baru di Universe Qodrat


Jakarta, 22 Mei 2026 – Mendekati hari penayangannya yang sudah sangat dinantikan, MAGMA Entertainment secara resmi menggelar acara Press Screening dan Gala Premiere untuk film horor-aksi terbarunya, Badut Gendong. Film yang lahir dari perluasan semesta Cross-Universe Qodrat ini sukses menggelar karpet merahnya di Epicentrum XXI, Jakarta, pada hari ini, Jumat, 22 Mei 2026.

Acara pemutaran perdana ini berlangsung meriah dan dihadiri langsung oleh produser Linda Gozali, sutradara Charles Gozali, serta seluruh jajaran pemain, di antaranya Marthino Lio, Clara Bernadeth, Dayinta Melira, Iskak Khivano, Totos Rasiti, Akbar Kobar, Vonny Anggraini, hingga aktor senior Jose Rizal Manua.

Badut Gendong Sebagai Kreasi yang Menantang

Dalam acara ini, sutradara Charles Gozali mengungkapkan bahwa sosok antagonis baru ini merupakan salah satu kreasi paling menantang sepanjang kariernya.

“Badut Gendong adalah salah satu karakter paling kompleks yang pernah saya ciptakan. Berangkat dari dualitas rasa cinta dan kebencian yang mendalam, karakter ini akan menjadi pemain yang sangat menarik sekaligus berbahaya di dalam semesta Qodrat,” jelas Charles.

Komitmen total untuk menghadirkan kualitas visual dan narasi yang premium juga ditegaskan oleh sang produser. Linda Gozali membeberkan bahwa film ini menuntut dedikasi yang luar biasa dari sisi produksi.

“Ini adalah proyek pertama MAGMA yang overbudget, namun keputusan tersebut harus kami ambil karena kami sepenuhnya percaya pada kekuatan cerita serta masa depan jangka panjang dari karakter Badut Gendong ini,” ungkap Linda.

Epicentrum Jadi Saksi Dimulainya Teror Badut Gendong

Kengerian film tidak hanya tersaji di dalam studio bioskop, tetapi sengaja dihidupkan di area lobby Epicentrum XXI. MAGMA Entertainment menyulap lokasi Gala Premiere dengan dekorasi yang mencekam untuk menyambut para tamu undangan.

Mulai dari deretan toples kaca berisi replika wajah manusia yang dikuliti secara sadis, hingga pameran properti prostetik asli yang digunakan selama proses syuting, semuanya dihadirkan demi memberikan pengalaman teror yang nyata sejak pertama kali melangkah masuk.

Aktor utama semesta Qodrat, Vino G. Bastian, yang turut hadir dan menyaksikan kegilaan film ini memberikan apresiasinya. "MAGMA tidak main-main dalam memperluas Semesta Qodrat. Badut Gendong ini bukan sekadar horor yang menjual kaget, tapi aksi dan intensitas terornya sangat terasa. Marthino Lio luar biasa membawakan karakter yang kompleks ini. Sebagai 'kakak' dari semesta ini, saya bangga dan sekaligus ngeri melihat ancaman baru yang diciptakan Charles Gozali ini," puji Vino.

Film Badut Gendong siap menghantui dan menguji nyali seluruh pencinta film horor di bioskop tanah air mulai 27 Mei 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran Idul Adha. Segera amankan tiket Anda dan ikuti perkembangan informasi terbarunya melalui akun media sosial resmi di @magmaent dan @badutgendong

20 Tahun Kemudian, RAN Kembali ke “Pandangan Pertama” Lewat Super Remake Music Video


 

Jakarta, 22 Mei 2026 — Tahun 2026 menjadi perjalanan yang penuh makna bagi RAN. Setelah sukses menggelar musikal “Pandangan Pertama” bersama Jakarta Movin dan Seraya Live pada April lalu, perjalanan menuju 20 tahun berkarya yang akan dirayakan November nanti kini kembali diperkuat lewat sebuah langkah yang terasa sangat personal, merilis super remake music video “Pandangan Pertama” yang dibuat hampir identik dengan versi aslinya pada tahun 2006.

Jika musikal “Pandangan Pertama” menjadi cara RAN merayakan perjalanan mereka lewat panggung teater, maka remake music video ini adalah cara mereka kembali menatap titik awal yang memulai semuanya. Bagi RAN, “Pandangan Pertama” bukan hanya lagu pertama. Lagu itu adalah fondasi.

Sebuah titik nol yang tanpa mereka sadari perlahan mengubah hidup tiga anak SMA menjadi salah satu grup musik dengan perjalanan paling panjang diIndonesia.

Dan dua puluh tahun kemudian, mereka memutuskan untuk kembali ke sana.

“Kita nggak pernah benar-benar meninggalkan lagu ini,” kata Nino. “Semakin dewasa, kita justru makin sadar kalau hidup kita berubah karena satu lagu ini. Yang dulu terasa sederhana, sekarang rasanya sakral banget.

Namun menariknya, music video “Pandangan Pertama” yang selama ini dikenal banyak orang ternyata bukan diunggah dari akun YouTube resmi RAN sendiri.

Di era awal 2000-an, ketika YouTube bahkan belum menjadi platform utama seperti sekarang, music video dibuat sebagai syarat agar lagu bisa tayang di televisi musik nasional. RAN pun membuat video klip “Pandangan Pertama” untuk kebutuhan promosi saat itu. Tapi ketika era digital mulai berubah dan YouTube menjadi rumah baru bagi video musik, mereka justru lupa mengunggah video tersebut ke akun resmi mereka sendiri.

Lucunya, video itu kemudian hidup sendiri di internet setelah diunggah oleh seseorang yang bahkan sampai hari ini tidak pernah mereka kenal.

“Jadi selama bertahun-tahun orang nonton MV ‘Pandangan Pertama’ dari upload-an orang random yang bahkan kita nggak tahu siapa,” cerita Nino sambil tertawa. “Dan anehnya, itu justru jadi bagian dari sejarah lagu ini.”

Karena itulah ketika memutuskan membuat ulang music video tersebut, RAN tidak ingin membuat versi modern yang terlalu berbeda. Mereka justru ingin menghadirkan ulang rasa yang sama. Hampir semua detail dibuat semirip mungkin dengan video klip aslinya mulai dari wardrobe, styling, angle kamera, gestur, hingga tone visualnya.

“Kita benar-benar sampai nonton frame per frame video lama buat memastikan semuanya terasa familiar,” ujar Rayi. “Ini bukan tentang memperbaiki masa lalu, tapi menghormati awal yang membentuk kita.”

Asta mengaku proses remake ini justru terasa lebih emosional dibanding yang mereka perkirakan sebelumnya.

“Ada momen waktu syuting di mana kita tiba-tiba diem sendiri karena kayak ketemu versi muda diri kita. Semua memori itu balik lagi,” kata Asta. “Dan ternyata setelah 20 tahun, chemistry itu masih ada.”

Di balik proses yang penuh detail tersebut, ada satu cerita kecil yang paling membuat mereka tertawa selama syuting berlangsung.

Pada music video original tahun 2006, Nino ternyata memakai sepatu “Nike KW” karena saat itu mereka belum punya banyak uang untuk kebutuhan styling video klip.

Dan ketika tim produksi mencoba mencari sepatu yang sama untuk kebutuhan remake versi 2026, mereka akhirnya menemukan bahwa versi original sepatu tersebut memang ada, hanya saja sangat langka dan sulit ditemukan hari ini.

“Pas kita cari lagi, ternyata ada versi originalnya, cuma susah banget dicari karena emang udah langka,” kata Nino sambil tertawa. “Tapi lucunya, karena dulu gue pakainya yang KW, akhirnya demi akurasi sejarah… gue beli yang KW lagi.”

Meski dipenuhi cerita-cerita hangat dan nostalgia personal, remake “Pandangan Pertama” tetap menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar mengulang masa lalu berhenti.

Setelah musikal yang sukses membawa “Pandangan Pertama” ke panggung teater, remake music video ini menjadi langkah berikutnya menuju perayaan 20 tahun RAN pada akhir tahun nanti.

“Kami nggak melihat ini sebagai comeback,” tambah Nino. “Karena buat kami, perjalanan itu nggak pernah berhenti. Ini cuma kelanjutan dari langkah yang sudah dimulai sejak ‘Pandangan Pertama’.”

Dan seperti lagu yang terus menemukan pendengarnya selama dua dekade terakhir, RAN pun percaya bahwa perjalanan mereka masih akan terus berlari.

“Dua puluh tahun bukan garis akhir,” tutup Nino. “Ini cuma pengingat kalau semuanya dimulai dari satu pandangan pertama, dan sejak saat itu kita nggak pernah berhenti jalan bareng.”


Tentang RAN

RAN adalah grup musik asal Jakarta yang telah berkarya sejak 2006. Terdiri dari Rayi, Asta, dan Nino, mereka dikenal lewat musik pop, R&B, soul, dan funk yang ringan di telinga tapi dalam di rasa. Dengan formasi yang tidak pernah berubah sejak hari pertama, RAN telah menemani dua generasi pendengar Indonesia melewati momen-momen paling personal dalam hidup mereka dan di tahun 2026 ini, perjalanan itu memasuki babak yang kedua puluh.


Info Media Sosial resmi RAN:

YouTube RAN

: https://www.youtube.com/@RANforyourlife

Instagram RAN

: https://www.instagram.com/ranforyourlife/

Instagram Rayi

: https://www.instagram.com/rayiputra26/

Instagram Asta

: https://www.instagram.com/astaandoko/

Instagram Nino

: https://www.instagram.com/ninokayam/


Melisa Darusman Hidupkan Kembali Lagu “Lady Sky” , Persembahkan Untuk Sang Idola Charly Van Houten, dan Babak Baru Perjalanan Penemuan Diri

  Penyanyi Melisa Darusman secara resmi merilis single terbarunya, “Lady Sky”, sebuah karya yang lebih dari sekadar lagu. “Lady Sky” adalah ...