Selasa, 31 Maret 2026

Sebelum Rilis di Indonesia, Film Ghost In The Cell karya Joko Anwar Sudah Dibeli oleh 86 Negara!

 

Film Ghost in the Cell tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026

Jakarta, 31 Maret 2026 — Sukses di Berlinale 2026, film terbaru karya penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell kini akan tayang di 86 negara di dunia! Hak penayangan termasuk penayangan bioskop film Ghost in the Cell kini sudah dibeli oleh 86 negara, bahkan sebelum filmnya tayang di Indonesia 16 April nanti.

Film Ghost in the Cell merupakan persembahan terbaru rumah produksi Come and See Pictures, yang bekerja sama dengan RAPI Films, Legacy Pictures dan Barunson E&A yang juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.

"Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia. Walaupun ini adalah film yang gampang dinikmati karena bergenre komedi horor, ini adalah film tentang kekuasaan. Tentang sistem yang korup. Tentang orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya. Tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan apa yang terjadi ketika ia akhirnya muncul ke permukaan," kata penulis dan sutradara Joko Anwar.

"Awalnya kita tidak berpikir penonton negara lain bisa relate, ternyata ini bukan hanya cerita Indonesia. Tapi ternyata ini juga cerita Amerika. Cerita Brasil. Cerita India. Cerita Prancis. Karena korupsi itu tidak punya kewarganegaraan. Karena ketidakadilan itu bahasa universal. Karena perjuangan untuk kebenaran itu dimengerti oleh semua manusia, di mana pun mereka hidup. Itulah kenapa 86 negara mau membeli hak penayangan film ini. Bukan karena ini "film Indonesia yang bagus untuk ukuran Indonesia", tapi karena bagi mereka film ini yang memenuhi standar mereka dan juga relevan," tambah Joko Anwar.

Sebelumnya, menjelang world premiere di Berlinale 2026, Ghost in the Cell juga telah lebih dulu diakuisisi oleh distributor yang berbasis di Jerman, Plaion Pictures. Kerja sama tersebut membuat film Ghost in the Cell juga akan ditayangkan di bioskop di negara-negara berbahasa Jerman.

Plaion Pictures di antaranya telah mendistribusikan film-film pemenang penghargaan Palme d'Or Cannes seperti Anatomy of a Fall, pemenang Oscar The Whale, pemenang Palme d'Or Titane Parasite, hingga pemenang Oscar tahun ini, Sentimental Value.

"Tayangnya film Ghost in the Cell di 86 negara di dunia membuktikan secara kualitas produksinya juga terbukti diakui secara luas sehingga membuat banyak negara berminat untuk menayangkan film Ghost in the Cell di negara mereka," ujar produser Tia Hasibuan.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Berikut adalah daftar negara yang akan menayangkan film Ghost in the Cell:

Asia dan Asia Tenggara

1. Singapura

2. Malaysia

3. Thailand

4. Brunei Darussalam

5. Kamboja

6. Laos

7. Timor Leste

8. Vietnam

9. Filipina

10. Myanmar

11. Indonesia

12. Mongolia

13. Taiwan


Amerika Utara

14. Amerika Serikat

15. Kanada


Jerman, Swis, dan Negara Berbahasa Jerman

16. Jerman

17. Austria

18. Tirol Selatan (Alto Adige)

19. Liktenstin

20.Swis


Rusia (CIS)

21. Armenia

22. Abkhazia

23. Azerbaijan

24. Belarusia

25. Georgia

26. Kazakhstan

27. Kirgistan

28. Moldova

29. Rusia

30. Ossetia Selatan

31. Tajikistan

32. Turkmenistan


Benelux

33. Belgia

34. Luksemburg

35. Belanda


Spanyol dan Andorra

36. Spanyol

37. Andorra


Polandia

38. Polandia


Britania Raya, Australia

39. Britania Raya

40. Irlandia

41. Australia

42. Selandia Baru


Prancis, Portugal, dan Afrika

43. Prancis

44. Portugal

45. Angola

46. Ginea dan Bisau

47. Tanjung Verde (Cape Verde Islands)

48. Mozambik

49. Sao Tome dan Principe


Amerika Latin

50. Belize

51. Kosta Rika

52. El Salvador

53. Guatemala

54. Honduras

55. Nikaragua

56. Panama

57. Meksiko

58. Argentina

59. Bolivia

60. Brasil

61. Chili

62. Kolombia

63. Ekuador

64. Paraguai

65. Peru

66. Suriname

67. Uruguai

68. Venezuela


Hungaria, Ceko, Slowakia, dan Rumania

69. Hungaria

70. Ceko

71. Slowakia

72. Rumania


India dan Subbenua India

73. India

74. Sri Lanka

75. Pakistan

76. Banglades

77. Bhutan

78. Maladewa

79. Nepal

80.Afghanistan


Italia dan Negara Berbahasa Italia

81. Italia

82. Vatikan

83. San Marino

84. Capodistria

85. Malta

86. Monako


Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.


SINOPSIS

Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan penindas, bahkan hantu sekalipun!

Senin, 30 Maret 2026

Film Para Perasuk Merilis OST Aku yang Engkau Cari dan Di Tepi Lamunan Itu yang Dinyanyikan Maudy Ayunda

 

Film Para Perasuk akan melanjutkan perjalanan di berbagai festival film internasional sebelum tayang di Indonesia 23 April 2026

Jakarta, 30 Maret 2026 - Setelah merilis lagu Aku yang Engkau Cari dari Maudy Ayunda pada awal tahun 2026 dan memperkenalkannya sebagai OST film Para Perasuk, kini Rekata Studio bersama Trinity Optima Production merilis lirik video-nya. Tak hanya lirik video Aku yang Engkau Cari, Rekata Studio juga memperkenalkan single terbaru Maudy Ayunda Di Tepi Lamunan Itu yang turut menjadi OST Para Perasuk.

Aku yang Engkau Cari dan Di Tepi Lamunan Itu menampilkan vokal Maudy Ayunda yang berbeda dari caranya bernyanyi dari sebelumnya. Dengan lirik yang merepresentasikan perjalanan karakter utama film Para Perasuk, Bayu, yang diperankan Angga Yunanda.

Penciptaan lagu Aku yang Engkau Cari sendiri terinspirasi saat Maudy, yang turut membintangi Para Perasuk berada di lokasi syuting. Menurut Maudy, yang menulis lagu ini bersama Lafa Pratomo, lagu yang dihadirkan memiliki lapisan emosi yang terasa seperti bisikan, tenang, menghanyutkan, namun menyimpan kegelisahan yang dalam.

Begitu pula dengan visual video musik yang dihadirkan. Video musik Di Tepi Lamunan Itu disutradarai oleh Wregas Bhanuteja.

"Prosesnya sangat intuitif. Tidak pakai logika naratif biasa, namun menggunakan rasa. Ini proyek pertama baik secara film dan penggarapan lagu yang prosesnya sangat membebaskan aku," kata Maudy Ayunda.

Sementara itu, sutradara Para Perasuk Wregas Bhanuteja mengungkapkan melalui film ini ia ingin menyampaikan sebuah pesan tentang sebuah perubahan perjalanan karakter utamanya, Bayu, yang diperankan Angga Yunanda menuju sebuah penerimaan.

"Saya merasa dunia kita saat ini sudah terlalu penuh dengan cerita balas dendam dan amarah. Saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni berdamai, saling berpelukan, menerima masa lalu, dan move on. Itulah esensi penerimaan yang ingin saya sampaikan," ujar Wregas Bhanuteja.

Bayu adalah karakter utama di Para Perasuk, yang merupakan seorang perasuk-sosok yang membantu para 'pelamun' ke dalam sebuah alam kerasukan dalam sebuah pesta sambetan. Pelamun sendiri adalah orang-orang yang ingin mencari kesenangan melalui proses kerasukan.

Bayu memiliki alat utama yang membantu menciptakan alam fantasi untuk para pelamun dengan slompret. Bayu sendiri kemudian bertemu dengan salah satu pelamun yang membantu prosesnya, Laksmi (Maudy Ayunda).

"Di film Para Perasuk, aku berusaha menghadapi tantangan baru yang cukup berat. Salah satunya adalah proses teknis bertapa dengan digantung secara terbalik, dan itu bikin kepalaku berat," ujar Angga Yunanda tentang perannya sebagai Bayu.

Sementara itu, Laksmi adalah orang yang datang dari Jakarta dan datang ke tempat tinggal Bayu di Desa Latas untuk mengikuti Pesta Sambetan. Pesta Sambetan dijadikan Laksmi sebagai cara untuk healing dan melupakan trauma masa lalunya.

"Kalau biasanya orang healing ke Bali atau Jepang, ini healing-nya ke Desa Latas untuk menghilangkan trauma dengan cara kerasukan. Laksmi dimintai tolong oleh Bayu untuk menemani latihan, supaya Bayu bisa menjadi pimpinan dari Perasuk," ungkap Maudy Ayunda.

Untuk film Para Perasuk, yang juga menandai dua dekade berkaryanya, ia harus melakukan adegan-adegan yang cukup ekstrem seperti makan daun mentah, bunga mentah, hingga rebung mentah.

"Laksmi adalah karakter yang ingin lepas dari trauma masa lalunya. Tentunya banyak dari kita yang memiliki trauma masa lalu dan berusaha untuk melepasnya agar bisa melangkah ke depan," tambah Maudy.

Film Para Perasuk juga menandai perjalanan baru bagi Anggun, yang memerankan. Guru Asri di film ini. Anggun yang telah bernyanyi sejak usia 12 tahun dan kini mengukir namanya di panggung internasional, ia memerlukan kesenangan baru dalam berkarya, termasuk salah satunya melalui medium film.

Guru Asri adalah sosok yang tegas dan berkharisma. Namun, ada salah satu scene di mana aku mewawancarai Bayu yang ingin menjadi pemimpin dari para perasuk, bikin aku nangis. Menjalani syuting di film Para Perasuk juga cukup sulit bagiku, karena prosesnya sangat berbeda dengan menyanyi di atas panggung. Di panggung, kita cukup menyanyi sekali, tapi kalau adegan untuk film, itu harus diulang berkali-kali," cerita Anggun.

Film Para Perasuk akan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Sebelumnya, film ini telah berkompetisi dan world premiere di Sundance Film Festival 2026, dan mendapat sambutan yang meriah.

Terbaru, Para Perasuk juga resmi terpilih dan akan berkompetisi di Miami Film Festival 43 pada program Marimbas Award. Ini merupakan festival film ketiga Para Perasuk, dan selanjutnya akan tayang di berbagai festival film internasional.


Tak hanya Miami, Para Perasuk juga juga resmi terpilih untuk berkompetisi di Fantaspoa Brasil, menjadi official selection di program Artful Visions & Asian Frontier di MSPIFF Amerika Serikat, dan terpilih untuk berkompetisi di MOOOV Belgia.

Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Para Perasuk melalui akun. Instagram resmi @filmparaperasuk dan @rekatastudio. Tonton film Para Perasuk di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026!


Sinopsis

Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan pesta kerasukan, sebuah tradisi turun-temurun yang sudah lama jadi bagian dari kehidupan dan hiburan warganya. Ketika mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur, Bayu (20) bertekad buat jadi Perasuk utama yang akan memimpin pesta besar-besaran demi mengumpulkan dana untuk menebus kembali mata air itu. Tapi di tengah perjalanannya, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.

Mengangkat Fakta dan Sejarah Perompakan Laut, The Hostage's Hero Tampil Autentik sebagai Film Drama Indonesia.

 

Film karya Iswara Films ini menghadirkan kisah nyata penyelamatan sandera kapal MT Pematang dari perompak di Selat Malaka Tahun 2004. Sebuah cerita tentang keberanian, strategi, dan pengorbanan dalam sebuah film drama.


Jakarta 30 Maret 2026 bertepatan dengan Hari Film Nasional - Menjelang penayangannya di bioskop pada 2 April 2026, film The Hostage's Hero hadir mengangkat kisah nyata yang terinspirasi dari peristiwa pembajakan kapal tanker MT Pematang di Selat Malaka pada 2004. Sebuah periode ketika jalur pelayaran selat Malaka dikenal sebagai salah satu kawasan paling rawan perompakan di dunia. Disutradarai oleh Revo S. Rurut serta diproduseri oleh Syahrial Hutasuhut dan Eksekutif Produser Irza Ifdial, film ini menghadirkan perpaduan antara ketegangan aksi dan drama emosional keluarga dalam situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian.

Bertempat di bioskop Epicentrum XXI di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, The Hostage's Hero menggelar penayangan perdana di depan para awak media dilanjutkan dengan press conference bersama para pembuat dan pemain film (30/03/26). Press Screening dan Press Conference mendapatkan cukup hangat dari banyaknya undangan media yang hadir.

Film ini bercerita tentang Taufiq (Donny Alamsyah), seorang Letkol TNI AL yang harus kembali memimpin misi berbahaya sebagai komandan KRI Suits di tengah meningkatnya aksi pembajakan di Selat Malaka, la ditugaskan untuk menjalankan operasi senyap dalam upaya membebaskan para sandera awak kapal MT Pematang milik Pertamina dari tangan perompak yang dipimpin oleh Jalaludin (Rifky Balweel). Di tengah tekanan misi dan ancaman yang semakin dekat, Taufiq juga dihadapkan pada dilema sebagai seorang ayah yang harus meninggalkan keluarganya.

Visi & Nasionalisme: Membawa Kedaulatan Maritim ke Layar Lebar

Iswara Films menandai langkah perdana mereka di industri perfilman dengan mengangkat kisah heroik yang jarang terekspos dari sudut pandang komersial. Fokus utama produksi ini adalah memberikan penghormatan bagi para prajurit TNI Angkatan Laut yang setia menjaga kedaulatan di wilayah perairan Indonesia. 

"Kami melihat perjuangan para prajurit kita di tanah air, khususnya mereka yang menjaga kedaulatan maritim, telah berjuang dengan luar biasa mengorbankan diri sendiri dan keluarga. Perlu diangkat agar diketahui masyarakat umum bahwa TNI Angkatan Laut telah banyak berjasa untuk negara kita." Irza Ifdial (Executive Produser)

Pada pengembanganya Iswara Films banyak banyak berdiskusi dengan TNI Angkatan Laut. Dan mendapat sambutan yang baik, positif dari institusi TNI Angkatan Laut. Pesan yang ingin disampaikann sejalan bahwa peristiwa-peristiwa perjuangan ini bisa kita sampaikan dalam bentuk film komersial akan tayang dalam waktu dekat.


Kesaksian Tokoh Asli: Operasi Pembebasan 22 Tahun Silam

Film ini bukan sekadar fiksi, melainkan rekonstruksi dari operasi maritim nyata tahun 2004 di Selat Malaka yang dilakukan dalam tekanan waktu yang sangat kritis. Tokoh asli di balik misi tersebut Laksamana TNI (Purn) Ahmad Taufiqurrahman Menceritakan bagaimana keputusan besar harus diambil hanya dalam hitungan jam.

"Keputusan itu hanya hitungan jam. Kalau kita tidak bertindak, maka jadi justifikasi Indonesia tidak mampu mengamankan wilayahnya. Keberhasilan ini bukan karena kita hebat, tetapi luruskan niat, InsyaAllah." - Laksamana TNI (Purn) Ahmad Taufiqurrahman

Dengan latar laut lepas yang penuh ancaman, film ini menghadirkan gambaran tentang keberanian, pengorbanan, serta konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil di tengah situasi krisis. Konflik tidak hanya terjadi di medan operasi, tetapi juga dalam dinamika personal yang ikut terpengaruh oleh tekanan peristiwa tersebut. Pasukan harus bertindak cepat dengan personil patroli yang anda tanpa harus menunggu Kopaskha yang saat itu berada dalam luar jangkauan.


Riset dan Workshop

Untuk mencapai tingkat akurasi yang tinggi, tim produksi dan para aktor menjalani proses riset panjang serta pelatihan fisik yang sangat berat di bawah bimbingan langsung pasukan khusus Kopaskha. Para aktor dituntut untuk merasakan langsung kerasnya kehidupan seorang prajurit di medan tugas.

Dalam pengembangan naskah, Tim Iswara Films mendapat supervisi langsung dari Dispenal dan juga bapak Laksamana TNI Ahmad Taufiqurrahman. "Tantangan saya adalah mempelajari pembebasan ini dari sejarah. Saya riset banyak, diskusi, bahkan menginap di tempat Bapak Taufik selama dua bulan untuk menyusun skenario yang menghibur, mendidik, tapi tidak boring." - Rivo S. Rurut (Sutradara)

Salah satu nilai yang dirasakan oleh "Kami ada workshop selama dua minggu, benar -benar dilatih seperti (prajurit) asli. Mungkin nilai keberanian itu yang saya dapat, berani melawan ketakutan dari diri sendiri." - Ghian Grimaldi

"Persiapan kami sangat proper, mulai dari reading hingga workshop fisik bersama Kopaska selama dua minggu. Mentor saya bilang Tentara itu nggak ada yang putih', jadi kami semua wajib hitam (terbakar matahari) karena setiap pagi lari 5 km bawa senjata asli seberat 4 kg di bawah panas yang luar biasa." - Robert Chaniago (Pemeran Reno)

Dibintangi juga oleh Donny Alamsyah, Rifky Balweel, Ritassya Wellgreat, Robert Chaniago, Asri Welas, Anneu Aputri, Brata Santosa, Rendy Meidiyanto, Ghian Grimaldi, Bang Tigor, Inten Navadia, Choky Sitohang dan Aditya Herpavi, film The Hostage's Hero akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 2 April 2026 sebagai film action, drama, dan patriotic yang terinspirasi dari kisah nyata, menghidupkan kembali salah satu periode paling menegangkan dalam sejarah perompakan di kawasan Asia Tenggara.

Pantau terus akun Instagram resmi film ini di @thehostageshero dan @iswarafilms untuk mengikuti perkembangan terbaru The Hostage's Hero, dan bersiaplah menyaksikan pilihan sulit yang harus dihadapi Taufiq: akankah ia kembali untuk menyelamatkan para sandera... atau justru terjebak dalam misi tanpa jalan pulang.

Zee Asadel & Emir Mahira Sah Sebagai Pasutri di Official Trailer Film “Kupilih Jalur Langit”: Saat Akad Sudah Diucap, Namun Hati Suami Masih Milik Wanita Lain

 

Jakarta, 30 Maret 2026 – Katanya, menikah itu ibadah terlama, tapi bagaimana jika ibadahnya dimulai dengan suasana sedingin kutub utara? MD Pictures secara resmi merilis official trailer film “Kupilih Jalur Langit” melalui press conference hari ini, yang cuplikan trailernya bikin bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan jika pernikahan yang dijalani ternyata tak semanis yang diimpikan?

Diangkat dari kisah nyata yang viral di TikTok karya Elizasifaa dan disutradarai Archie Hekagery, film ini menjadi proyek terbaru MD Pictures, yang kali ini bekerja sama dengan Manara Films, setelah kesuksesan fenomena Ipar Adalah Maut dan La Tahzan.

Malam Pertama Pasutri Muda: Spoiler, Tidak Sesuai Ekspektasi

Trailer ini menunjukkan pahitnya realita Amira (Zee Asadel) dan Furqon (Emir Mahira) di hari-hari pertama mereka sebagai pasutri. Alih-alih indahnya "pacaran setelah menikah", Amira justru harus menelan kenyataan bahwa ia tidur di samping pria yang raganya ada bersamanya, namun jiwanya masih tertinggal pada Dara (Ratu Rafa).

Dara adalah sosok masa lalu yang tak kunjung hilang dari hati Furqon. Jadi, buat kamu yang bermimpi pernikahan taaruf selalu berakhir manis, film ini mungkin akan menjadi reality check paling nyesek tahun ini.

Manoj Punjabi, CEO & Founder MD Pictures, mengungkapkan bahwa kisah ini adalah cermin bagi banyak pasangan. "Cerita Kupilih Jalur Langit adalah salah satu yang paling ramai di TikTok Eliza karena MD melihat potensinya sebagai penggambaran autentik permasalahan pasutri yang nyata kita temukan di dunia nyata," ungkapnya.

"Mimpi Buruk Semua Perempuan"

Bagi Zee Asadel, memerankan Amira adalah tentang menyuarakan rasa insecure terdalam seorang wanita. "Di film ini, aku harus memerankan mimpi buruk semua perempuan: pasangannya belum move on. Amira adalah gambaran kekuatan perempuan yang harus tetap berdiri tegak meski hatinya sedang tidak baik-baik saja," tutur Zee.

Sementara itu, Emir Mahira menambahkan sisi yang memicu perdebatan, "Uniknya, film ini nggak menempatkan satu karakter sebagai 'penjahat'. Penonton nanti akan bisa memihak ke Amira, tapi mungkin ada juga yang memahami posisi Furqon," jelas Emir.

Haruskah Memilih Jalur Langit?

Trailer ditutup dengan momen Amira yang bersimbah air mata, mempertanyakan apakah semua ini terjadi karena kesalahan yang berasal dari dirinya, ataukah akad ini memang sebuah kesalahan sejak awal?

Ketika Furqon tak kunjung menyentuh Amira sejak malam pernikahan, muncul sebuah tanya yang menghantui: Apakah Furqon memiliki rahasia besar yang lebih gelap, atau mungkinkah masa lalu itu memang mustahil untuk ia lepaskan?

Saksikan perjuangan hati yang paling sunyi dalam “Kupilih Jalur Langit”, tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Jangan lewatkan rahasia di balik dinginnya sebuah pernikahan di akun resmi @kupilihjalurlangitmovie dan @mdpictures_official.

Saat jalur bumi terasa buntu dan cinta manusia terasa hampa, Amira kini hanya memiliki satu sandaran: Mengetuk pintu langit, memilih jalur langit. Tunggu kisah Furqon dan Amira! ini dijadwalkan akan mengetuk hati penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.

*****



Rapi Films Rilis Teaser Trailer Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan: Kisah "Kehilangan" Paling Menyakitkan dalam Sebuah Keluarga

 


Jakarta, 30 Maret 2026 - Bagaimana bila orang yang paling kamu cintai mulai melupakanmu? Pertanyaan emosional inilah yang menjadi jantung dari film terbaru persembahan Rapi Films dan Screenplay Films, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan", yang hari ini resmi merilis teaser trailer perdananya.

Film ini membawa narasi tentang perjuangan sebuah keluarga ketika sang ibu mulai lupa dengan segalanya akibat penyakit yang menyerangnya. Sebuah judul yang bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah janji setia seorang anak kepada ibunya.


Dilema Sang Sulung di Tengah Ingatan Ibu yang Memudar

Melalui sudut pandang Kesha (Yasmin Napper), kita diajak masuk ke dalam dinamika keluarga yang penuh kasih namun menyimpan beban tersendiri. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Kesha kerap berada di balik bayang-bayang kebutuhan adik-adiknya. Ada Kanya (Sofia Shireen), si anak kedua yang berprestasi dan selalu menjadi kebanggaan serta dukungan utama Ibu, serta Karlo (Jourdan Omar), si bungsu yang kondisi kesehatannya mengharuskan ia rutin mengonsumsi obat-obatan, sehingga menyedot perhatian ekstra dari sang Ibu, Yuke Yolanda (Lulu Tobing).

Di tengah riuhnya tanggung jawab keluarga tersebut, Kesha yang kini duduk di tingkat akhir sekolah film diam-diam memupuk satu keinginan sederhana: ia ingin belajar mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri. Namun, belum sempat langkah kemandirian itu mendapatkan restu dari sang Ibu, sebuah kenyataan pahit menghantam. Yuke mulai kehilangan kepingan ingatannya. Kesha kini harus dihadapkan pada kenyataan bahwa sosok yang selama ini menjadi poros dunianya, bisa saja melupakannya dan menghapus semua memori berharga yang pernah mereka rajut.

Kekuatan emosi dalam film ini didukung oleh penampilan apik para pemerannya. Lulu Tobing berperan sebagai Yuke Yolanda, sosok ibu yang perlahan kehilangan identitasnya, bersanding dengan Ibnu Jamil yang memerankan figur suami, ayah yang baik untuk anak-anaknya, sekaligus pelindung keluarga yang tegar. Bersama Yasmin Napper sebagai Kesha, kehadiran Sofia Shireen dan Jourdan Omar sebagai Kanya dan Karlo melengkapi potret kehancuran sebuah rumah yang dulunya hangat, kini berubah menjadi asing karena memudarnya ingatan Sang Ibu.

Yasmin Napper mengungkapkan kedalaman emosi karakternya. "Memerankan Kesha membuatku sadar bahwa kehilangan yang paling nyata adalah saat kita masih ada secara fisik, tapi sudah tiada di dalam ingatan orang yang kita sayangi. Kesha harus memilih antara masal depan atau waktu yang tersisa bersama Ibunya. Ini adalah pilihan yang mustahil, tapi harus dihadapi."



Kolaborasi Drama yang Menghangatkan

Produser Rapi Films, Sunil Samtani, menjelaskan alasan kuat di balik adaptasi ini. "Kami ingin membawa kedalaman emosi sebuah keluarga yang sedang ditengah menghadapi tantangan terberat. Dengan arahan Kuntz Agus dan naskah dari Alim Sudio, film ini akan menjadi refleksi bagi setiap anak tentang arti kehadiran orang tua."

Sutradara Kuntz Agus menambahkan, "kami ingin penonton tidak hanya menonton, tapi merasakan kekalutan dan cinta yang tumpang tindih dalam keluarga ini. Bagaimana sebuah rumah yang dulunya hangat, perlahan berubah menjadi asing karena memudarnya ingatan."


Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan

Kesha (Yasmin Napper) mahasiswi tingkat akhir sekolah film punya seorang ibu. Ibunya bernama Yuke Yolanda (Lulu Tobing), Guru favorit di Sekolah tempat ia mengajar dan juga Ibu yang sangat dicintai oleh Suami (Ibnu Jamil) dan anak-anaknya. Masalah datang ketika ada sesuatu yang terjadi pada Yuke. Yuke mulai sering lupa, lupa ulang tahun pernikahan, lupa jalan ke sekolah sampai hal-hal penting tentang ketiga anaknya, Kesha, Kenya dan Karlo.

Rumah yang awalnya hangat penuh kebahagiaan, kini berubah semakin parah. Kesha yang sedang fokus dengan tugas akhir kini berada dalam pilihan paling sulit: tetap bertahan mengejar impiannya atau pulang dari kosannya sebelum ia benar-benar hilang dari ingatan Ibunya. Karena ada hal-hal yang boleh hilang dalam hidup, kesempatan, nilai, bahkan mimpi. Tapi jangan sampai kita yang hilang dari hati dan ingatan seorang Ibu.

Mampukah cinta mengalahkan kondisi medis? Dan apa yang akan kau pilih saat duniamu. mulai melupakanmu? Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan.

Minggu, 29 Maret 2026

Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa Tembus 1 Juta Penonton! Bukti Legacy Suzzanna Tetap Hidup dan Dicintai Masyarakat

 

Jakarta, 29 Maret 2026 - Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa persembahan Soraya Intercine Films dari produser Sunil Soraya baru saja berhasil meraih 1 juta penonton! Ini sekaligus menandai ketiga film adaptasi waralaba SUZZANNA meraih predikat blockbuster.

SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa adalah film Lebaran ketiga tahun ini yang sukses. menembus angka 1 juta penonton. Hal ini membuktikan bahwa legacy sang Ratu Horor Indonesia, Suzzanna, masih tetap hidup dan dicintai oleh masyarakat Indonesia.

SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa juga menjadi film Lebaran pertama Luna Maya dan satu-satunya film yang dibintanginya tahun ini. "Raihan 1 juta penonton untuk SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa adalah bukti bahwa sosok Bunda Suzzanna begitu dicintai dan dirindukan oleh para penggemarnya. Terima kasih untuk penonton Indonesia yang telah mendukung film ini, dan rasanya sangat manis karena ini adalah film Lebaran pertamaku," ujar Luna Maya yang memerankan Suzzanna.

"SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa adalah bentuk penghormatan dari Soraya Intercine Films yang telah memiliki hubungan erat dan sejarah panjang bersama Suzzanna. hingga ia menjadi ikon di perfilman Indonesia. Kami merasa terhormat bisa memberikan tribut yang terbaik untuk Suzzanna melalui film ini," tambah produser Sunil Soraya.

"Terima kasih penonton yang sudah seru-seruan dan menikmati pengalaman. menonton yang penuh adegan sinematik nan epik," kata sutradara Azhar Kinoi Lubis.

Diproduseri oleh Sunil Soraya, film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa menjadi produksi Soraya Intercine Films yang didukung oleh Legacy Pictures dan Navvaros Entertainment, menghidupkan kembali IP horor paling legendaris Indonesia untuk menghibur penonton di libur Lebaran!

Tonton horor kolosal mewah dalam film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa mulai 18 Maret 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti informasi terbaru melalui Instagram resmi @sorayaintercinefilms dan @filmsuzzanna.official.


Sinopsis

Suzzanna (Luna Maya) dicintai oleh Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam. Namun, karena haus kekuasaan, Bisman malah menyantet ayah Suzzanna hingga tewas. Dendam atas kematian sang ayah pun mendorong Suzzanna mempelajari ilmu Santet. Ketika balas dendam, Suzzanna menyadari kekuatan Bisman jauh lebih besar dari yang ia duga. Di tengah perjalanan, ia jatuh cinta pada Pramuja (Reza Rahadian), pria taat agama yang tak mengetahui rahasianya. Hingga akhirnya, Suzzanna dihadapkan pada pilihan: meneruskan dendam, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta!


Catatan Produksi:

Judul Film: SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa

Produksi: Soraya Intercine Films

Sutradara: Azhar Kinoi Lubis

Penulis: Ferry Lesmana, Jujur Prananto & Sunil Soraya

Produser: Sunil Soraya

Genre: Horor-Aksi

Pemain: Luna Maya, Reza Rahadian, Clift Sangra, Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slarnet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, Nunung, Andi/Rif, Budi Bima, Aziz Gagap, Ence Bagus, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.

Jumat, 27 Maret 2026

Film Na Willa Tembus 520 Ribu Lebih Penonton! Ramai-Ramai Aktor Dukung Na Willa, Sebut Film Keluarga Indonesia Terbaik! El Putra Sarira, Eva Celia, hingga Devano Puji Berikan Berbagai Pujian

 


Ada kisah nyata penulis Reda Gaudiamo dan Geng Krembangan yang menyentuh

Jakarta, 27 Maret 2026 - Lebih dari sekadar film, Na Willa menjadi pengingat bahwa Na Willa adalah kita, bagian dari diri yang pernah sederhana, penuh rasa ingin tahu, dan tahu cara merasa bahagia dari hal-hal kecil. Keajaiban sinema Visinema Studios dan sutradara Ryan Adriandhy belum terhenti! Terbaru, melalui film Na Willa, yang berhasil meraih 520 ribu lebih penonton di bioskop Indonesia.

Respons emosional datang dari berbagai kalangan, termasuk para aktor dan figur publik yang ikut merasakan kedekatan personal dengan cerita Na Willa. El Putra Sarira mengaku tersentuh hingga menangis saat menyaksikan film ini.

"Nonton dua kali, hati saya selalu tersentuh. Penggambaran ulat menjadi kupu-kupu kena sekali di hati saya sebagai anak yang bertumbuh. Heartwarming sekali, hati saya sangat happy sekali menontonnya dan satu hal yang paling saya benci kenapa saya harus menangis di film ini. Saya kayak diajak lagi balik ke masa kecilku, baca-baca di pasar dan lihat ayam-ayam kecil. Bahagia bareng Na Willa di bioskop," kata El Putra Sarira tentang film Na Willa.

El Putra Sarira dan 520 ribu lebih penonton telah merasakan kehangatan yang dibawa di Dunia Na Willa. Keempat aktor cilik, Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy menjadi idola baru bagi para penonton dewasa dan anak-anak.

Salah satu yang turut membagikan kesan menggemaskan dari akting pemeran anak di film Na Willa adalah akun X @ppwiyoon, yang menonton film ini bersama Ibunya, yang juga merupakan guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan merupakan kelahiran tahun '60-an, seperti yang menjadi latar waktu di film Na Willa.

"Kemarin nonton Na Willa sama mamah, beliau guru PAUD dan kelahiran 6oan juga. Sepanjang film sering nyengir lihat tingkah LUCU Willa dkk, pas scene di TK Djuwita, mamah langsung nyenggol 'kaya murid mamah tuh tiap pagi minta pelukk," kata akun X @ppwiyoon.

Selain El Putra, aktor yang juga memberikan kesan baik dan turut mendukung film Na Willa adalah Devano, Eva Celia, hingga Baila no na. Eva Celia sendiri sangat terharu dengan film Na Willa hingga ia menangis usai menonton film ini, sama seperti El Putra.

Bagi Devano dan Baila no na, Na Willa adalah film terbaik sepanjang masa. "Ya Ampun! Ini film terbaik sepanjang masa! Bagus banget," kata Devano tentang Na Willa, yang menontonnya bersama Baila no na.

Sutradara Riri Riza, yang telah sukses dengan film anak seperti Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi sendiri memuji sutradara Ryan Adriandhy, karena telah berhasil mewujudkan keistimewaan cerita ini.

"Menurutku, novel Na Willa adalah buku yang khusus, istimewa. Tapi ketika Ryan memfilmkannya, dia menjadi sebuah film yang bukan hanya istimewa dalam artian cara berceritanya, tetapi juga kedekatannya dengan perasaan," kata Riri Riza.


Kisah Nyata Sang Penulis dan Teman-Temannya

Cerita Na Willa terasa sangat dekat dengan masa kecil banyak anak-anak yang kini telah beranjak dewasa. Banyak dari penonton yang bernostalgia dengan adegan saat Na Willa berjalan-jalan di pasar, saat Geng Krembangan memanggil Na Willa untuk bermain, hingga rasa penasaran yang unik khas anak kecil seperti apa yang ada di dalam sebuah radio.

Sebenarnya, kisah Na Willa didasarkan pada kisah nyata sang penulis novelnya, Reda Gaudiamo. Reda pun berbagi cerita tentang suasana Gang Krembangan saat ini, yang menjadi latar utama di film Na Willa.

"Sekarang sangat berbeda. Yang dulu sangat sederhana sebenarnya. Jadi bentuknya dan pagarnya dari kayu. Sekarang sudah dari besi, lalu ada rumah yang pakai tiang-tiang, pakai pilar-pilar. Terus saya bilang, 'Kenapa jadi begitu ya?" Kenang Reda Gaudiamo.

Saat berkunjung kembali ke Gang Krembangan, Reda pun berkunjung ke rumah salah satu sahabatnya, Farida. Reda menceritakan, rumah Farida masih tetap utuh seperti dulu.

"Tetap besar dan bahkan sekarang punya pohon yang lebih banyak. Tanaman yang lebih banyak, karena Farida ternyata sangat suka dengan tanaman," cerita Reda.

Reda pun bertemu dengan sosok Farida asli pada 2023. Saat itu, ia tengah berkegiatan di Surabaya, dan akhirnya menjumpai teman lamanya tersebut. Pertemuan itu pun sangat hangat.

"Saya iseng-iseng tanya apakah ada yang namanya Bu Farida di sini? Ternyata dia langsung muncul. Lalu saya bilang, Eh, kamu masih ingat nggak sama saya? Saya bilang gitu. "Saya dulu tinggal di seberang, terus saya menyebutkan nama kecil saya gitu. Lalu dia berteriak dan bilang, 'Kamu ya! Katanya kamu waktu itu perginya cuma sebentar, ini balik-balik ini kita sudah sama-sama tua! Tiru Reda sambil tertawa.

Namun, di balik pertemuan kembali sosok asli Na Willa dan Farida, juga menyimpan kisah haru saat Reda akhirnya mengetahui salah satu temannya, Dul, telah meninggal Dunia. Sementara Bud, kini telah pindah dari Gang Krembangan.

Penulis dan sutradara Na Willa, Ryan Adriandhy, juga mengucapkan terima kasih ke penonton karena telah menyaksikan perjalanan bertumbuh bersama Na Willa dan ikut mencoba menjadi anak-anak.

"Saya sangat sangat berterima kasih kepada kalian yang pergi ke bioskop dan mau menemui Na Willa dalam dunianya, dan juga dengan baik hati mau berempati padanya dengan menempatkan diri sepenuhnya pada posisinya, di usianya, mencoba melihat dari sudut pandangnya, serta mau memahami bobot "konflik" yang harus ia lalui tanpa memaksakan standar kacamata dewasa mengenai apa yang pantas disebut "masalah". Terima kasih karena telah bersikap lembut kepada anak-anak di dalam cerita, tanpa memaksakan bagaimana mereka "seharusnya bergerak agar kisahnya menghibur kita para dewasa. Terima kasih untuk kasih sayangnya," kata Ryan Adriandhy.

Sejak tayang di bioskop, Na Willa telah memunculkan banyak diskusi para penonton. Mulai dari pola asuh orangtua (parenting) yang diterapkan karakter Mak, hingga memunculkan tren tentang rekomendasi buku anak bagus yang cocok menjadi bacaan. Banyak penonton yang telah tersentuh dengan karakter Na Willa dan Geng Krembangan. Para penonton merasa menjadi bagian dari Dunia Na Willa, dan menjadi bagian dari #NaWillaadalah Kita.

Saatnya Bahagia Bareng Na Willa di bioskop seluruh Indonesia! Tonton film Na Willa di bioskop sekarang!


Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama,Keluarga

Sutradara: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

Sebelum Rilis di Indonesia, Film Ghost In The Cell karya Joko Anwar Sudah Dibeli oleh 86 Negara!

  Film Ghost in the Cell tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026 Jakarta, 31 Maret 2026 — Sukses di Berlinale 2026, film terbaru kar...