Sabtu, 31 Januari 2026

Film Na Willa Karya Kreator JUMBO Resmi Merilis Teaser Poster, Hadirkan Kekaguman Terhadap Banyak Hal dari Sudut Pandang Anak

 

Film Na Willa tayang Lebaran tahun ini di bioskop


Jakarta, 28 Januari 2026 - Visinema Studios resmi merilis teaser poster terbaru film Na Willa, yang akan tayang di bioskop Indonesia pada Lebaran 2026. Poster ini mengajak penonton melangkah lebih dekat ke dunia Na Willa dunia yang dilihat dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun, di mana hal-hal sederhana terasa besar, ajaib, dan penuh imajinasi.

Berbeda dari poster sebelumnya, teaser poster terbaru Na Willa menangkap bagaimana seorang anak memandang dunia di sekitarnya. Tubuh Na Willa terasa kecil, sementara benda-benda yang akrab dalam keseharian seperti kaleng kerupuk, radio, hingga buah pisang hadir dalam skala yang terasa raksasa, magis, dan sinematik. Inilah petunjuk awal tentang perasaan yang akan dibawa film ini saat ditonton di bioskop: keajaiban-keajaiban kecil yang lahir dari cara anak memaknai dunia.

Karakter utama Na Willa yang diperankan Luisa Adreena, sangat menyukai pisang dan mendengarkan radio. Kedua benda itu pun dimunculkan dalam teaser poster yang menggemaskan dan terasa magical dalam dunia realis. Sementara itu, tangan Na Willa menggapai tutup kaleng kerupuk yang dilihatnya begitu besar.

"Lewat sudut pandang Na Willa, kami ingin mengajak penonton kembali merasakan bagaimana melihat dunia dengan rasa kagum seperti anak-anak di dalam diri kita yang penuh imajinasi, rasa ingin tahu, dan kehangatan yang kerap terlupakan seiring bertambahnya usia," ujar Anggia Kharisma, produser Na Willa, Jumbo yang juga Chief Content Officer Visinema Studios. "Hal Ini sejalan dengan misi Visinema Studios untuk menghadirkan film keluarga yang bukan hanya ditonton, tetapi juga dirasakan bersama."

Na Willa digarap oleh tim kreator Jumbo, film mega blockbuster Indonesia yang meraih lebih dari 10 juta penonton. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Ryan Adriandhy, dengan Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai produser. Film ini dibintangi oleh pendatang baru Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama Irma Rihi (nominasi Aktris Pendukung Terbaik Film Pilihan Tempo 2024) sebagai Mak, serta Junior Liem sebagai Pak. Selain itu, turut bermain Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, dan Putri Ayudya.

Na Willa merupakan film live-action pertama yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy, yang juga merupakan penulis naskah. "Lewat Na Willa, saya ingin mengajak penonton menyusuri Indonesia di era 1960-an dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun ketika dunia kecil terasa luas dan penuh kemungkinan," ujar Ryan. "Dari kacamata anak, hal-hal sederhana seperti rumah, gang, radio, atau kaleng kerupuk bisa terasa hidup dan magis. Perspektif inilah yang ingin kami hadirkan: cara melihat dunia dengan rasa ingin tahu, imajinasi, dan kepekaan yang jujur."

Penulis buku Na Willa, Reda Gaudiamo, menyambut dengan antusias perilisan teaser poster film ini. "Ada perasaan yang sangat hangat saat melihat cerita Na Willa hadir di layar lebar. Ryan Adriandhy dan Visinema Studios mampu menghidupkan imajinasi Willa kecil menjadi sebuah karya baru yang terasa begitu hangat dan memeluk - baik untuk anak-anak maupun orang dewasa," ujar Reda

Diceritakan dari sudut pandang anak kecil, Na Willa adalah film keluarga Lebaran yang hangat dan magis, menghadirkan pengalaman menonton yang mengajak anak-anak dan orang dewasa melihat kembali dunia dengan rasa kagum dan imajinasi.

Tonton petualangan yang penuh keajaiban dan kehangatan bersama film Na Willa pada Lebaran 2026 di bioskop Indonesia!


Sinopsis

Na Willa mengisahkan Willa, gadis kecil enam tahun yang percaya dunia kecilnya di sebuah gang di Surabaya adalah tempat paling sempurna dan magis. Tempat di mana lagu dari radio terasa hidup, kios langganan yang selalu penuh kejutan, dan setiap hari adalah hari untuk bertualang bersama teman-temannya.

Namun ketika sahabatnya mengalami kecelakaan dan satu per satu teman bermainnya mulai masuk sekolah, dunia Willa perlahan berubah dan terasa semakin sepi, membuat Willa bertekad mengikuti teman-temannya ke bangku TK, dengan harapan semua bisa kembali seperti semula.

Masuk sekolah justru membuka dunia baru yang terasa asing: penuh aturan, batasan, dan rasa tidak dimengerti. Di sanalah Willa perlahan belajar bahwa tumbuh berarti berdamai dengan perubahan. Bahwa keajaiban tidak selalu hilang hanya berpindah tempat.

Diceritakan dari sudut pandang anak kecil, Na Willa adalah film keluarga Lebaran yang hangat dan magis, menghadirkan pengalaman menonton yang mengajak anak-anak dan orang dewasa melihat kembali dunia dengan rasa kagum dan imajinasi.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama, Keluarga

Sutradara : Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya.

Jumat, 30 Januari 2026

Film Sadali Siap Tayang di Bioskop 5 Februari 2026 Ketika Cinta Tak Pernah Benar-Benar Selesai




Jakarta, 30 Januari 2026 - Film drama romantis terbaru "Sadali" siap menyapa penonton Indonesia. Menjelang penayangan nasionalnya, film ini menggelar Pemutaran Perdana di Cinema XXI Epicentrum sebagai penanda peluncuran resmi, sebelum tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.

Sadali melanjutkan kisah yang telah menyentuh banyak penonton melalui film sebelumnya, Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu. Film ini kembali membawa penonton menyelami konflik perasaan yang belum usai dalam hubungan cinta segitiga antara Sadali, Meira, dan Arnaza. Sadali masih mengejar dan menyimpan harapan untuk kembali bersama Meira, sementara Arnaza pun belum mampu melepaskan cintanya kepada Sadali. Di tengah tarik-ulur perasaan tersebut, ketiganya dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah mereka akan menemukan cinta masing-masing, atau justru terjebak dalam kisah yang tak pernah selesai?

Film ini dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris lintas generasi, antara lain Adinia Wirasti, Ajil Ditto, Hanggini, Ciara Nadine, Faiz Fishal, dan Deasy Natalia. Masing-masing menghadirkan performa yang emosional dan autentik, memperkuat dinamika karakter serta konflik batin yang menjadi jantung cerita film ini.

Disutradarai oleh Kuntz Agus, Sadali dikemas dengan pendekatan penceritaan yang intim dan sinematografi yang puitis. Film ini menyoroti sisi rapuh seorang pria ketika kehilangan sosok perempuan yang dicintainya, sekaligus menggambarkan bagaimana cinta dapat menjadi sumber harapan sekaligus luka. Kekuatan cerita juga diperkuat oleh gaya khas penulis Pidie Baiq, yang kembali menghadirkan dialog-dialog penuh rasa dan "gombalan" sederhana namun membekas di hati penonton.


"Sadali adalah film tentang perasaan yang sering kita pendam-tentang cinta yang tidak selesai, pilihan yang tertunda, dan keberanian untuk menerima kenyataan," ujar Kuntz Agus, sutradara Sadali. "Saya ingin menghadirkan cerita yang terasa dekat dengan penonton, personal, dan jujur secara emosi."

Sementara itu, Raam Punjabi selaku produser menyampaikan bahwa Sadali hadir sebagai kelanjutan yang matang dari kisah sebelumnya. "Melalui Sadali, kami ingin melanjutkan cerita yang sudah memiliki tempat di hati penonton dengan pendekatan yang lebih emosional dan relevan. Film ini kami harapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan makna cinta, kehilangan, dan keikhlasan," ungkapnya.

Pemutaran perdana film Sadali ini menjadi momen spesial bagi para pemain, kru, sineas, serta rekan media untuk menyaksikan film ini untuk pertama kalinya di layar lebar. Acara ini juga menjadi selebrasi atas proses kreatif panjang dan kolaborasi di balik layar yang melahirkan kisah penuh emosi ini.

"Akhirnya film Sadali tayang juga. Aku sudah lama menunggu film ini. Walaupun aku tahu garis besar ceritanya, aku tetap penasaran dengan hasil akhirnya-terutama bagaimana editing dan ending-nya," ujar Ajil Ditto, pemeran utama dalam film ini.

Melalui Sadali, para pembuat film berharap dapat menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman emosional yang membekas dan membuka ruang refleksi bagi penonton tentang cinta, pilihan, dan keberanian untuk merelakan.

Film "Sadali" dapat disaksikan mulai 5 Februari 2026 di bioskop seluruh Indonesia.

Trailer Film Sadali



Kamis, 29 Januari 2026

Film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) Jadi Obat Pusing Nasional! Suguhkan Cerita yang Relevan Sekaligus Menyegarkan

Film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) tayang mulai 5 Februari 2026 di bioskop

Jakarta, 29 Januari 2026 - Amanda Manopo dan Fajar Sadboy kembali mencuri perhatian dalam peran mereka sebagai kakak-adik Tina dan Umski di film drama komedi persembahan Scovi Films & Rapi Films, Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER). Film yang mengangkat cerita tentang dinamika orang-orang yang terjerat pinjol dan mereka yang berada di balik gurita pinjol ilegal ini memberikan kesegaran komedi, dengan cerita yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat.

Awalnya, hidup Tina tampak baik-baik saja. Dia adalah pemenang kontes kecantikan di sebuah mall. Tapi, karena Tina boros dan gila belanja, ia pun sampai melakukan pinjaman online (pinjol).

Karena utangnya yang menumpuk, ditambah ia harus membiayai adiknya, Umksi, Tina akhirnya kalap! Ia pun menjadi 'buronan' para penagih utang. Karena tak sanggup bayar, Tina akhirnya membuat kesepakatan untuk bisa bekerja di kantor pinjol yang ia utangi.

Di tengah perjalanan, Tina justru bertemu dengan Mail (Devano), seorang DJ yang adiknya juga terlilit pinjol. Bersama Mail, Tina justru mengarungi perjalanan yang tak terduga. Mereka mengungkap bisnis pinjol ilegal yang telah memakan banyak korban.

Cerita di film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER) dibangun dengan lensa yang dekat dengan penonton. Sutradara Surya Ardy Octaviand menampilkan realitas masyarakat kelas bawah secara real dengan permasalahan yang dihadapi. Film ini semakin menghibur dengan penampilan para karakternya yang tak terduga, dan seperti cerminan yang juga mengajak kita untuk menertawakan nasib.

"Karakter-karakter yang ada di film CAPER ini menjadi perwakilan dari masyarakat kelas bawah urban. Kami ingin film CAPER menjadi Obat Pusing Nasional," ungkap produser, penulis, dan sutradara film CAPER Surya Ardy Octaviand.

Film CAPER diproduseri oleh Surya Ardy Octaviand bersama Sunar S Samtani. Selain memproduseri dan menyutradarai, Ardy juga turut menulis naskahnya bersama penulis naskah pemenang Piala Citra FFI 2025 Widya Arifianti.

Selain Amanda Manopo, Fajar Sadboy, dan Devano, film ini juga dibintangi oleh Wavi Zihan, Kaneishia Yusuf, Shanice Margaretha, Merry Sanger, Martin Carter, Sastra Silalahi, Jovial Da Lopez, Richard Derrick, dan Arnold Kobogau.

Produser Sunar S Samtani mengungkapkan film CAPER ingin menghadirkan hiburan dengan nilai yang bisa menjadi pelajaran bagi penonton dan masyarakat Indonesia.

"Mungkin banyak dari kita yang pernah berada di titik nol, sama seperti karakter-karakter yang ada di film CAPER. Film ini ingin mengajak kita semua memiliki resiliensi terhadap masalah yang sedang dihadapi dalam hidup, lewat komedi," ujar produser Sunar S Samtani.

Bagi Amanda Manopo, karakter Tina bisa menjadi ruang untuk berefleksi terutama untuk para perempuan dalam memilih jalan hidup saat ini, terlebih di era serba flexing di media sosial. Menurut Amanda, Tina jadi contoh yang sangat relevan jika kita tak mampu mengontrol hasrat kesenangan duniawi.

"Jangan jadi Tina yang kalap dan boros. Kalau kita enggak pandai-pandai mengatur finansial kita, bisa-bisa jadi seperti Tina yang cari jalan instan dengan pakai pinjol demi kesenangan sesaat. Film CAPER itu bisa mengingatkan kita pada hal yang penting banget untuk dilakukan saat ini, dan ngasih tahunya dengan cara yang fun lewat komedi yang bikin kita ngakak saat nonton," kata Amanda Manopo.

Fajar Sadboy, yang mendapat kesempatan memiliki peran besar untuk pertama kalinya di layar lebar mengungkapkan dirinya merasa beruntung bisa belajar akting dari sesama rekan pemain, termasuk dari mereka yang telah memulai lebih dulu di dunia seni peran.

"Dari film ini, aku bisa belajar lebih banyak lagi tentang akting. Senang bisa ketemu sama teman-teman pemain lainnya, jadi aku bisa nambah ilmu. Belum lagi film ini juga ngajarin kita buat bisa lebih bijak mengatur keuangan," kata Fajar Sadboy.

Penampilan berbeda sekaligus tantangan dihadapi oleh Devano. Ia yang sebelumnya memerankan karakter yang serius, kini harus berubah 180 derajat. Devano menjelma menjadi seorang jamet tulen, dengan musik DJ funkot-nya.

Tak hanya memerankan sebagai seorang DJ bernama DJ Smile atau Mail, Devano juga ditugaskan untuk mengisi OST film yang terdengar syahdu dan mengajak kita untuk bergoyang.

"Pak Ardy memberikanku karakter yang berbeda dari pengalaman aktingku sebelum-sebelumnya. Sebagai yang baru memulai akting, aku merasa penting sekali untuk bisa mencapai berbagai peran dan karakter. Dan karakter DJ Smile di film ini membantu aku untuk semakin mematangkan aktingku ke depan," ungkap Devano.

Jadilah saksi dari aksi kocak yang bikin rahang capek tertawa bersama Amanda Manopo dan Fajar Sadboy, serta penampilan paling berbeda dari Devano di film Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER). Tonton mulai 5 Februari 2026 di bioskop Indonesia.


Sinopsis

Demi melunasi utang pinjaman online, Tina (Amanda Manopo) perempuan pemenang kontes kecantikan murahan yang boros dan gila belanja, terpaksa bekerja di kantor pinjaman online tersebut, demi membiayai adik semata wayangnya Umski (Fajar Sadboy) dan untuk melunasi utang-utangnya.

Selama perjalanan mengungkap bisnis pinjol illegal, ia juga bertemu dengan korban pinjol ilegal yang lain, Mail (Devano). Tanpa sadar, mereka mengungkap sosok di balik gurita bisnis pinjol ilegal yang melibatkan orang-orang penting di dalamnya.


Catatan Produksi:

Judul Film : Check Out Sekarang, Pay Later (CAPER)

Produksi : Scovi Films & RAPI Films

Sutradara : Surya Ardy Octaviand

Penulis : Widya Arifianti & Surya Ardy Octaviand

Produser : Sunar Samtani & Surya Ardy Octaviand

Genre : Drama komedi

Pemain : Amanda Manopo, Fajar Sadboy, Devano, Jovial Da Lopez, Sastra Silalahi, Wavi Zihan, Kaneishia Yusuf, Shanice Margaretha, Merry Sanger, Richard Derrick, Arnold Kobogau, dan Martin Carter.

Komedi Romantis Anak Medan yang Menyindir Realita Kehidupan Kota

 


Film ini digarap sineas Etiene Caesar berbekal naskah buatan Ridho Brado. Macam Betool Ajaa mengisahkan Alung (Lolox), Igor (Andri Mashadi) dan Ujay (Oki Rengga), tiga sahabat yang bekerja sebagai tim event organizer atau EO cabutan (freelance).

Macam Betool Ajaa mungkin dibungkus sebagai komedi romantis, tetapi di balik tawa yang disuguhkan, film ini menyimpan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan anak muda hari ini. Khususnya mereka yang hidup dari kerja lepas, proyek ke proyek, dan janji pembayaran yang sering datang terlambat.

Macam Betool Aja dibintangi oleh Michelle Ziudith, Oki Rengga, Adi Sudirja, Lolox, dan Andri Mashadi

Macam Betool Ajaa adalah komedi romantis yang membuat penonton tertawa, lalu pulang dengan dada terasa sedikit lebih berat seperti hidup itu. Produser Eksekutif Cing Kyatt menyatakan, pihaknya memang ingin menghadirkan film yang dekat dengan realita anak muda Indonesia saat ini. Ungkap cing kyatt

“Kami ingin menghadirkan film yang dekat dengan realita anak yang sedang berjuang membangun mimpi dari nol sebagai freelancer, namun tetap memiliki ruang untuk cinta dan persahabatan. Macam Betool Aja persembahan kami bagi para pejuang kreatif di Indonesia,” ujar nya

“Kami ingin penonton merasa seperti sedang duduk di kedai kopi di Jalan Kesawan, mendengar obrolan orang-orang sekitar yang spontan dan jujur. Itulah nyawa dari film AIU-EO ini,” ujar sutradara 

Michelle Ziudith dipercaya memerankan karakter Sofia, sosok perempuan dengan konflik batin antara perasaan dan realitas hidup. Perannya menjadi pusat emosi cerita yang menggerakkan alur film sejak awal hingga akhir.

Hal lain yang membuat Michelle Ziudith antusias adalah banyaknya sineas asal Medan yang terlibat dalam produksi ini. “Happy banget karena film ini tidak hanya mengusung tema dan lokasi di Medan, tapi kami juga melibatkan banyak sineas dari Kota Medan,” ungkap Michelle Ziudith

Sementara itu, Oki Rengga tampil sebagai Ujay, karakter pria yang membawa warna komedi sekaligus konflik romantis. Akting Oki memberi keseimbangan antara humor spontan dan dinamika hubungan yang kompleks.

Karakter Alung diperankan oleh Lolox, komedian yang dikenal dengan gaya ceplas-ceplosnya. Kehadirannya menambah lapisan komedi segar sekaligus menjadi penyeimbang konflik utama antar tokoh.

Dari sisi karakter yang lebih serius, Andri Mashadi berperan sebagai Igor. Sosok ini menjadi representasi godaan ambisi dan pilihan hidup yang kerap berseberangan dengan nilai persahabatan..

“Aku sebagai seseorang kelahiran Medan merasa bangga. Biasanya banyak sekali film yang 'Medan banget' tapi talenta yang terlibat tidak sepenuhnya orang Medan. Nah, di film Macam Betool Aja, yang bukan orang Medan cuma Igor ” ujar Andri Mashadi

Adapun Adi Sudirja memerankan Udin, karakter pendukung yang justru memberi banyak momen reflektif di balik kelucuan cerita. Perannya memperkaya dinamika hubungan antar tokoh dalam film.

Film ini akan membawa penonton menyelami dinamika dunia EO yang penuh tantangan, dibalut sabotase pernikahan, dan kisah cinta lama yang belum usai.


Film komedi romantis Indonesia “Macam Betool Aja” menghadirkan jajaran pemain utama yang memadukan aktor drama populer dengan komedian berkarakter kuat.

 Kombinasi ini menjadi salah satu kekuatan utama film yang akan tayang di bioskop mulai 12 Februari 2026.

Selasa, 27 Januari 2026

PAMERAN "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar" Siap Dikunjungi di Galeri Lokananta, Surakarta Mulai 27 Januari 2026

 


Surakarta, Januari 2026 - Masih dalam rangkaian perayaan tiga dekade perjalanan kreatifnya, Miles Films mempersembahkan pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar", sebuah ekshibisi yang mengajak publik menyelami hubungan erat antara musik dan film dalam karya-karya Miles Films. Pameran yang digarap oleh Miles Films berkolaborasi dengan this/PLAY dan Lokananta ini akan berlangsung mulai 27 Januari hingga September 2026 di Ruang Pamer Temporer Galeri Lokananta, Surakarta.

Musik dan film menjadi benang merah yang menautkan perjalanan Miles Films sejak berdiri pada 1995. Melalui pameran ini, pengunjung diajak menelusuri jejak bunyi, nada, dan gambar yang membentuk identitas estetika Miles Films, dari era analog hingga digital, dari layar lebar hingga ingatan kolektif penonton Indonesia.

Tiga Dekade Sinema dan Musik

Sejak Petualangan Sherina (2000) hingga Rangga & Cinta (2025), rumah produksi Miles Films pimpinan Mira Lesmana dan Riri Riza dikenal konsisten menghadirkan film dengan kekuatan artistik sekaligus kualitas produksi yang tinggi.

Creative Director Miles Films, Riri Riza, menyampaikan, "Musik dalam film memegang peran penting sebagai elemen yang menyatu dengan dialog dan desain suara, membangun emosi dan ritme serta mendukung adegan. Nada-nada dalam film-film Miles bukan sekadar pelengkap, melainkan unsur penting yang membentuk pengalaman emosional penonton dan menandai zamannya."

Deretan penata musik seperti Elfa Secioria, Thoersi Argeswara, Djaduk Ferianto, Melly Goeslaw & Anto Hoed, Indra Lesmana, Andy Ayunir, Aksan Sjuman, Basri S. Sila, Erwin Gutawa, Juang Manyala, Lie Indra Perkasa, hingga Aria Prayogi dan Sherina Munaf menjadi bagian dari perjalanan kreatif Miles Films. Begitu pula para musisi dan band yang melahirkan lagu-lagu ikonis untuk film, di antaranya Eross Candra, Garasi, Mocca, Float, Nidji, Gigi, Bubugiri, Anggun C. Sasmi, Endah N Rhesa, RAN, dan Iwa K yang melekat kuat dalam budaya populer Indonesia.

Eksplorasi Miles Films terhadap musik juga tercermin dalam genre film musikal. Petualangan Sherina membuka kembali ruang musikal anak di layar lebar, disusul Untuk Rena (2005), hingga Rangga & Cinta yang menghadirkan musikal percintaan remaja dalam bahasa generasi baru. Melalui aktor-aktor yang bernyanyi dan menari, film musikal menunjukkan bagaimana musik dan lagu, dengan dukungan gerak tubuh dan ekspresi, berperan besar dalam penceritaan.

Melalui pengalaman mendengar dan melihat secara lebih dekat, pameran ini menampilkan proses kerja kreatif di balik produksi musik dan film, mulai dari beragam arsip rilisan musik, artefak kreatif dari lirik hingga notasi musik yang digunakan Miles Films dan instalasi tentang musik dan film serta hubungan erat di antara keduanya. Pengunjung juga diajak "masuk" ke instalasi studio rekaman untuk merasakan magisnya gema suara dan musik yang berpadu dalam gambar.

this/PLAY Studio, studio desain multidisiplin yang dikenal lewat pendekatan eksperimental dan interaktif dalam merancang ruang dan instalasi, merancang pameran ini sebagai ekshibisi yang terus berkembang. Seiring perjalanannya, materi pameran akan diperkaya dengan penambahan konten dan pendekatan presentasi baru, membuka kemungkinan pembacaan yang semakin luas. Dengan demikian, setiap kunjungan, baik di awal maupun di tahap selanjutnya, menawarkan pengalaman yang utuh sekaligus berlapis, memperlihatkan dinamika riset, arsip, dan narasi yang terus hidup.

Sigit D. Pratama, Founder & Lead Spatial Designer .this/PLAY, menambahkan, "Pameran ini secara personal memberikan gambaran bagaimana musik menjadi bagian dari perjalanan visual dalam tubuh film yang utuh. Pameran ini hadir dengan pendekatan tematik dan ruang eksperimental dalam linimasa 30 tahun Miles Films, menjadi perayaan atas relasi dua arah bagaimana Musik/Suara dan Film melalui metode gambar bergerak menjadi satu, utuh dan melengkapi untuk bercerita. Ruang yang menjadi ringkasan perjalanan selama 30 tahun terus hadir mendekatkan gambar dan suara dengan berbagai medium kepada kita para penikmat melalui karya-karyanya."

Lokananta dan Sejarah Musik Indonesia

Pemilihan Lokananta di Surakarta sebagai lokasi pameran memiliki makna tersendiri. Sebagai destinasi cagar budaya musik Indonesia, Lokananta menjadi ruang yang relevan untuk membaca perjalanan musik film dalam konteks yang lebih luas. Pameran ini sekaligus menempatkan karya Miles Films dalam lintasan sejarah sinema dan musik Indonesia, dari era awal film nasional hingga generasi kontemporer.

Wendi Putranto, CEO Lokananta, mengundang semua kalangan, baik penikmat film, pecinta musik, termasuk generasi muda di seluruh nusantara untuk datang berkunjung, "Sungguh kehormatan dan kebanggaan besar bagi Lokananta, dalam perayaan menuju 70 tahun, dapat berkolaborasi dengan Miles Films melalui pameran ini. Selama tiga dekade, Miles Films telah menjadi zeitgeist perfilman Indonesia, melahirkan terobosan-terobosan yang menghidupkan kembali sinema nasional, membuka ruang bagi narasi-narasi baru, serta menegaskan kuatnya relasi antara film, musik, dan gagasan budaya. Kami mengundang publik untuk mendengar kembali, memahami ulang, dan merayakan jejak kreatif Miles Films sebagai bagian tak terpisahkan dari petualangan budaya populer Indonesia."

Produser Mira Lesmana turut menyampaikan harapannya, "Pencarian musik untuk film adalah sebuah proses panjang, yang dilakukan sejak awal menggagas film dengan berkolaborasi bersama musisi. Bersama-sama kami melalui proses belajar dan melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan bentuk musik yang dapat memperkuat film sekaligus bermakna sebagai karya musik itu sendiri. Semoga lewat jejak bunyi, nada dan gambar yang kami tampilkan dalam pameran ini, publik yang berkunjung bisa merasakan semangat kami dalam berkarya, bagaimana perjalanan kreatif ini proses yang menantang sekaligus menyenangkan!"

Pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar" akan diresmikan pada tanggal 26 Januari di Galeri Lokananta, Surakarta, dan terbuka untuk pengunjung umum mulai tanggal 27 Januari hingga September 2026.

Rajah itu adalah sebuah karya sastra, sebuah karya lukis dekoratif. Rajah biasanya berisi tentang doa, doa itu adalah harapan baik.

 

Menggali Kedalaman Filosofi Nusantara: Eight Senses Film Persembahkan Horor Psikologis "RAJAH"


JAKARTA, Senayan City XXI 26 Januari 2026 – Industri sinema tanah air kembali bersiap menyambut sebuah terobosan genre horor thriller yang tidak hanya mengandalkan ketakutan visual, namun juga kedalaman filosofis budaya. *Eight Senses Film* secara resmi memperkenalkan karya terbaru mereka, *"RAJAH"* , sebuah film yang meramu teror psikologis mencekam dengan balutan ajaran adiluhur Nusantara.

Setelah sukses menggelar Gala Premiere yang menggemparkan pada 26 Januari 2026, film ini dijadwalkan akan meneror layar lebar secara serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 26 Februari 2026.

*Lebih dari Sekadar Horor: Manifestasi Doa dan Tradisi*

Berbeda dengan film horor konvensional yang mengandalkan jumpscare repetitif, "RAJAH" hadir sebagai sebuah karya seni yang mengangkat esensi rajah sebagai warisan budaya. Dalam narasi film ini, Rajah dipahami bukan sekadar simbol mistis, melainkan sebuah karya sastra dan lukis dekoratif yang memuat doa serta harapan baik.

"Rajah adalah representasi ketulusan hati. Ia berfungsi sebagai tolak bala dan pelindung, namun kekuatan sejatinya hanya akan muncul dari hati yang murni," ungkap sang sutradara, *R Jiwo Kusumo* . Film ini juga menyoroti karakteristik unik pemegang Rajah—sosok yang cenderung pendiam dan berhati-hati dalam berucap, karena setiap kata yang keluar diyakini memiliki keampuhan yang mujarab.

*Kolaborasi Lintas Generasi dan Vibes Jawa yang Autentik*

Di bawah tangan dingin produser *Ditha Samantha* , "RAJAH" menampilkan jajaran aktor papan atas yang memberikan performa akting intens, di antaranya:

Samuel Rizal

Ditha Samantha

Aditya Zoni

Panji Zoni

Angel Lisandi Putri

Latar belakang sejarah dan sentuhan budaya Jawa yang kental menjadi nyawa dalam film ini. Penggunaan unsur tradisi bukan sekadar tempelan estetika, melainkan pemantik bagi generasi muda untuk lebih mencintai dan mengingat sejarah serta seni budaya bangsa Indonesia.

*Visi Sinematik*

"RAJAH" menjadi salah satu film yang paling dinantikan tahun ini karena keberaniannya mengeksplorasi sisi gelap psikologis manusia yang berbenturan dengan ajaran luhur leluhur. Ketegangan yang dibangun secara perlahan namun konstan diharapkan mampu memberikan pengalaman sinematik yang membekas bagi penonton.

"Kami ingin menyuguhkan tontonan yang reflektif. Apakah kita memiliki ketulusan hati yang sama dengan filosofi Rajah itu sendiri?" tambah Ditha Samantha.

Pastikan Anda menjadi saksi bangkitnya kekuatan adiluhur di layar lebar. *"RAJAH" tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.*

*Tentang Eight Senses Film:* 

Eight Senses Film adalah rumah produksi yang berkomitmen menghadirkan karya-karya sinematik berkualitas dengan mengangkat *nilai-nilai lokal, sejarah, dan budaya Indonesia* ke dalam narasi modern yang relevan bagi penonton global.

FILM HOROR "CERITA LILA" RESMI MEMULAI PRODUKSI Kolaborasi MVP Pictures dan DiaryMisteriSara (DMS)

 


Jakarta, 26 Januari 2026 - PT Tripar Multivision Plus Tbk (MVP Pictures) bersama DiaryMisteri Sara, platform konten horor yang digagas oleh Sara Wijayanto, secara resmi mengumumkan dimulainya produksi film horor terbaru berjudul "Cerita Lila". Film ini akan memasuki tahap syuting pada akhir Januari 2026, dengan Yogyakarta sebagai lokasi utama pengambilan gambar.

Film "Cerita Lila" merupakan film pertama DiaryMisteriSara yang diangkat dari kisah Lili & Lila, salah satu sosok dari penelusuran paling ikonik dari DiaryMisteriSara, yang pertama kali melalui kanal YouTube milik Sara Wijayanto diperkenalkan (https://www.youtube.com/watch?v=kwsSbMLThFg). Kisah ini telah ditonton lebih dari 10 juta kali dan mendapatkan sambutan luar biasa dari penonton, serta menjadi salah satu cerita yang paling sering dibicarakan dan diminta untuk diangkat ke layar lebar oleh para Saraaddicts, sebutan bagi penggemar setia DiaryMisteriSara.

Antusiasme yang terus terjaga selama bertahun-tahun menjadikan "Cerita Lila" sebagai proyek yang telah lama dinantikan. Sejak awal, DiaryMisteriSara memang memposisikan kisah ini sebagai cerita spesial yang tidak akan diproduksi secara terburu-buru.

Setelah melalui proses pengembangan dan pertimbangan yang matang, Sara Wijayanto bersama tim DiaryMisteri Sara secara khusus memilih MVP Pictures sebagai mitra produksi untuk membawa kisah Lili & Lila ke layar lebar. Kolaborasi ini mempertemukan kekuatan cerita horor berbasis pengalaman dan riset khas DiaryMisteriSara dengan rumah produksi berpengalaman yang memiliki rekam jejak panjang dalam menghadirkan film-film horor Box Office Indonesia.

"Cerita Lila adalah proyek yang sudah lama kami simpan dan kami tunggu waktu yang tepat untuk diproduksi. Bagi DiaryMisteriSara, cerita ini memiliki nilai emosional yang sangat kuat, sehingga kami sangat selektif dalam memilih partner. MVP Pictures kami pilih karena memiliki visi, pengalaman, dan sensitivitas yang sejalan dengan cara kami bercerita," ujar Sara Wijayanto, kreator DiaryMisteriSara.

Sementara itu, Amrit Punjabi, Produser dari MVP Pictures, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan hasil dari proses yang panjang dan penuh pertimbangan.

"Kami memahami bahwa 'Cerita Lila' adalah cerita yang sangat berarti bagi DiaryMisteriSara dan para penggemarnya. Karena itu, sejak awal kami sepakat bahwa proyek ini tidak bisa dikerjakan secara tergesa-gesa. Ini adalah cerita yang sudah lama ditunggu, sehingga harus diproduksi dengan pendekatan yang tepat dan penuh kehati-hatian," jelasnya.



Tentang Film "Cerita Lila"

Sosok Lili & Lila telah lama menjadi figur yang sangat melekat di benak penikmat DiaryMisteriSara. Keduanya bukan sekadar karakter dalam sebuah cerita horor, melainkan representasi dari kisah yang menyentuh, membekas, dan meninggalkan kesan emosional mendalam bagi para penonton. Sejak pertama kali diperkenalkan melalui kanal Youtube DiaryMisteriSara, kisah Lili & Lila langsung menarik perhatian publik karena menghadirkan horor dari sudut pandang yang berbeda-lebih sunyi, personal, dan penuh emosi. Cerita ini berkembang menjadi salah satu kisah paling sering diperbincangkan, direkomendasikan, dan dikenang oleh para Saraddicts.

Lili & Lila dikenal sebagai sosok yang menghadirkan ketegangan bukan melalui kejutan semata, melainkan melalui rasa kehilangan, keterikatan, dan misteri yang perlahan terungkap. Kedekatan emosional antara kedua sosok ini menjadi daya tarik utama yang membedakan kisah mereka dari cerita horor pada umumnya.

Popularitas Lili & Lila yang terus bertahan selama bertahun-tahun menjadikan cerita ini sebagai salah satu IP paling kuat dalam semesta DiaryMisteriSara. Banyak penonton yang secara konsisten menantikan kelanjutan kisah mereka, serta berharap dapat melihat cerita ini dihadirkan dalam medium yang lebih luas dan sinematik. Keputusan untuk mengangkat. kisah Lili & Lila ke layar lebar merupakan jawaban atas penantian panjang tersebut, sekaligus menjadi langkah penting dalam memperluas dunia cerita DiaryMisteriSara ke ranah film layar lebar.

Deretan Pemeran

Film "Cerita Lila" dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris ternama Indonesia, antara lain: Lutesha, Shareefa Daanish, Myesha Lin, Firzanah Alya, Sara Wijayanto, Wisnu Hardana, Whani Darmawan, Jovial da Lopez, Aci Resti, Eduwart Manalu, Enrico Winaldy, Kiara Virly, dan Annisa Hertami.

Official Trailer Film LIFT Dirilis, Ismi Melinda dan Shareefa Daanish Tampil Intens dalam Drama Psikologis

 


Jakarta, 27 Januari 2026 — Setelah memperkenalkan atmosfer ceritanya melalui teaser, rumah produksi Trois Films resmi meluncurkan official trailer Film LIFT, sebuah drama psikologis bermuatan misteri yang mengangkat tekanan emosional, rasa bersalah, dan pilihan hidup dalam situasi paling sempit. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.

Film LIFT mempertemukan dua aktris dengan karakter kuat, Ismi Melinda dan Shareefa Daanish, dalam cerita yang berfokus pada konflik batin dan emosi manusia saat berada di titik terendah. Official trailer yang baru dirilis ini menampilkan sisi emosional para karakter dengan lebih dalam, memperlihatkan bagaimana rasa bersalah, ketakutan, dan naluri bertahan hidup saling berbenturan.

Disutradarai oleh Randy Chans dan diproduseri oleh Ario Sagantoro—produser di balik Merantau dan The Raid 1 & 2—Film LIFT mengajak penonton menyelami konflik batin para karakternya, ketika konsekuensi yang terjadi di masa lalu yang terkubur perlahan kembali menuntut pertanggungjawaban.

Official trailer Film LIFT memperlihatkan lapisan cerita yang lebih utuh dan emosional. Ketegangan tidak hanya hadir dari situasi berbahaya, tetapi juga dari hubungan antar karakter yang dipenuhi rahasia. Ekspresi dan dinamika karakter yang diperankan Ismi Melinda dan Shareefa Daanish menjadi poros utama cerita,menegaskan Film LIFT sebagai drama psikologis yang bertumpu pada emosi, dan tekanan situasi.

Cerita Film LIFT bercerita tentangi Enam tahun pasca kecelakaan maut yang menewaskan Gabriel, Direktur Utama PT Jamsa Land, perusahaan konstruksi itu kembali diteror.

Hansen (Verdi Solaiman), sang direktur pengganti, menghilang secara misterius. Linda (Ismi Melinda), staf humas terjebak di dalam lift yang berhenti mendadak. Bersamanya ada Anton (Max Metino), mantan jurnalis rekanan yang kini menjadi podcaster vokal. Melalui interkom, sebuah suara misterius mendikte pergerakan mereka, mengancam membongkar keterlibatan Linda dan Anton dalam menutupi insiden lift enam tahun lalu.

Situasi kian pelik saat Linda menyadari bahwa anaknya, Jonathan (Luthi Saputra), juga telah disandera oleh si pengancam. Pada saat yang sama, Doris (Shareefa Daanish), istri Hansen, ikut terseret ke dalam teror setelah menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor malam itu juga. Terkurung dalam ruang sempit dan waktu kian menipis, Linda menghadapi pilihan mustahil: terus menjaga nama baik perusahaan, atau mengkhianatinya demi keselamatan anaknya.

Siapa dalang di balik semua ini, dan apa yang sebenarnya terjadi saat insiden lift enam tahun silam?

Sekitar 60 persen cerita Film LIFT berlangsung di dalam lift, menjadikannya bukan sekadar latar, melainkan ruang psikologis tempat karakter-karakter terdesak oleh waktu, tekanan, dan pilihan yang semakin sempit.

“Saya tidak membuat Lift untuk menjawab pertanyaan penonton, tetapi untuk menempatkan mereka di dalam situasi di mana pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan sendirinya.” ujar sutradara Randy Chans. “Jika penonton beruntung, film ini akan pulang bersama mereka sebagai rasa, atau sebagai pertanyaan yang bertahan lebih lama dari durasinya.”

Ismi Melinda pemeran Linda juga sekaligus produser menyampaikan tantangan harus berakting lebih banyak adegan di dalam sebuah set lift “tantangannya adalah bagaimana menjaga ragam emosi tetap hidup dan membuat penonton terus terhubung, meski ruang dan geraknya sangat terbatas.

Ismi juga menambahkan “Ini juga tantangan tersendiri buat tim produksi, Sutradara, dan DOP bermain dalam pemilihan dan pengambilan shot melalui banyak pendekatan kreatif” Sebelum dirilis di bioskop, Film LIFT telah lebih dulu mendapatkan perhatian di kancah internasional dengan terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025, serta meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasy Fest 2025, termasuk kategori Best Feature Film.

Official trailer Film LIFT kini telah dapat disaksikan melalui kanal resmi dan media sosial terkait. Pantau terus akun media sosial resmi kami @lift.movie dan @trois.films untuk mendapatkan kabar terbaru mengenai Lift!

Berikut Trailer Film Lift



Gala Premier “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua” Hadir Meriah di Jakarta

 


Jakarta menjadi saksi kemeriahan gala premier film anak karya Anggi Frisca, Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua. Acara yang digelar secara eksklusif di bioskop ini dihadiri sederet pejabat negara, artis papan atas dan tokoh masyarakat, membawa malam penuh bintang di red carpet yang memukau.

Film ini melanjutkan kisah Tegar dari film sebelumnya, yang bertemu Maira, gadis 12 tahun asal Papua, dalam perjalanan menakjubkan mengangkat persahabatan, keberanian anak-anak, dan perjuangan masyarakat adat menjaga hutan sebagai sumber kehidupan.

“Film ini bukan hanya tentang menyelamatkan hutan, tapi juga tentang menyelamatkan cara kita memandang hidup,” ujar Anggi Frisca, sutradara Teman Tegar: Maira. “Kami ingin menyederhanakan isu besar seperti krisis iklim menjadi cerita anak-anak yang hangat, jujur, dan membumi.”

Gala premier ini juga menampilkan pendekatan musikal unik, kolaborasi dengan masyarakat Papua, serta kehadiran pemeran utama M Aldifi Tegarajasa dan Elisabet Sisauta, yang membawa karakter Tegar dan Maira hidup di layar.

Acara malam ini menegaskan bahwa Teman Tegar: Maira bukan sekadar film, tetapi gerakan edukatif dan sosial yang lahir dari Bandung, tumbuh hingga Papua, dan kini siap menyapa penonton Indonesia.


Velix Wanggai, Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, menegaskan pentingnya optimisme dalam pembangunan Papua.

"Bicara Papua bukan bicara ketertinggalan, tapi tentang peradaban Indonesia ke depan. Malam ini kami hadir untuk memberikan semangat baru bagi agenda pembangunan yang berkelanjutan, menghormati alam dan masyarakat adat."

Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta mengingatkan pentingnya pembangunan yang selaras dengan alam dan manusia. 

"Papua harus menjadi masa depan kita. Kita membangun Indonesia tanpa merusak alam, memastikan masyarakat Papua tetap terkoneksi secara mendalam dengan bangsa."

Sementara itu, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menyoroti hubungan manusia dengan hutan dan budaya di Papua.

"Kisah Tegar, Maira, dan masyarakat adat sejalan dengan komitmen kementerian untuk percepatan pengakuan hutan adat. Target kami hingga 2029 adalah 1,4 juta hektar hutan adat yang diakui secara resmi. Film ini mengingatkan kita bahwa hutan bukan sekadar kayu atau bentang alam, tapi ekosistem yang menopang kehidupan dan generasi mendatang."

Gala premier Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua menegaskan bahwa film ini lebih dari sekadar hiburan. Ia merupakan gerakan edukatif dan sosial, mengangkat cerita lokal, pelestarian lingkungan, dan inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk peduli terhadap alam dan budaya.

Dari Inklusi ke Krisis Iklim

Jika film pertama yang diproduksi Aksa Bumi Langit berjudul Tegar berbicara tentang inklusi dan hak anak penyandang disabilitas, maka Maira memperluas semangat tersebut ke isu global yakni climate crisis dan ketahanan masyarakat adat. Film ini tidak memposisikan anak-anak sebagai korban, melainkan sebagai subjek yang punya suara, keberanian dan kemampuan untuk bertindak.

Produser film, dr. Chandra Sembiring, seorang dokter kemanusiaan yang telah bertugas dari satu bencana ke bencana lain, termasuk misi internasional di Afghanistan, menyebut film sebagai alat kampanye yang paling efektif dan berdaya ingat panjang.

“Di lapangan kemanusiaan, kita selalu bicara soal kampanye dan sosialisasi, tapi film punya keunggulan: ia masuk ke ingatan orang,” kata Chandra.


“Lewat satu film, kita bisa menjangkau jutaan orang dan menggerakkan empati dengan cara yang lebih manusiawi.”

Berangkat dari pengalaman panjangnya di wilayah konflik, bencana, hutan dan gunung-gunung, Chandra melihat bahwa masyarakat adat justru memiliki konsep resiliensi yang kuat, sesuatu yang sering terabaikan dalam narasi pembangunan modern.

“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ucap Chandra.



Diproduksi Bersama Papua

Maira – Whisper from Papua tidak hanya mengambil lokasi di Papua, tetapi juga diciptakan bersama Papua. Sebanyak 70 persen kru adalah anak muda Papua, dan mayoritas pemeran merupakan masyarakat lokal yang menjalani pelatihan intensif selama empat bulan.

Film ini mengambil gambar langsung di kawasan pedalaman Papua, tempat hutan hujan tropis masih berdiri megah, dengan kehadiran burung cendrawasih, rangkong dan lanskap alam yang nyaris tak tersentuh. Seluruh proses produksi dilakukan dengan pendekatan kolaboratif bersama masyarakat adat, kepala suku, dan seniman lokal.

“Kami tidak ingin Papua hanya jadi latar. Kami ingin ini menjadi karya bersama, dari Papua untuk hutan Indonesia,” tegas Anggi.

Musik sebagai Suara Alam

Keunikan Maira juga terletak pada pendekatan musikalnya. Film ini memadukan dongeng, musik, dan lanskap alam sebagai satu kesatuan narasi.

Penyanyi dan aktris asal Papua Joanita Chatarine memerankan karakter utama Maira, sekaligus memimpin pengembangan musik film. Bersama musisi lokal dan nasional, ia menciptakan komposisi orisinal yang menggabungkan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik.

“Banyak anak di Papua yang mungkin tidak bisa membaca, tapi mereka tidak buta nada,” ujar Anggi.


“Musik menjadi bahasa universal yang menjembatani cerita, alam dan emosi.”

Jejak Prestasi Film Tegar di Panggung Internasional

Kesuksesan Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua tidak lahir dari ruang hampa. Film ini merupakan kelanjutan dari Tegar (2022), film anak karya Anggi Frisca yang telah menjelma menjadi fenomena sosial dan meraih pengakuan luas di tingkat nasional maupun internasional.


Sejak dirilis di Indonesia pada 24 November 2022, Tegar telah ditonton oleh lebih dari 1,7 juta pelajar dari jenjang SD hingga SMA di lebih dari 4.000 sekolah di seluruh Indonesia, serta menjadi bagian dari program edukasi karakter dan inklusi di berbagai daerah.

Di panggung internasional, Tegar membuktikan bahwa kisah lokal dengan nilai kemanusiaan universal mampu menembus batas geografis dan budaya. Film ini meraih berbagai penghargaan bergengsi di lebih dari 22 negara, antara lain:

* Golden Taiga Award, Rusia (2024) – Film Terbaik (Kategori Keluarga)

* Universal Kids Film Festival, Turki (2024) – Film Terbaik

* Golden Butterfly Awards, Iran (2023) – Film Internasional Terbaik & Aktor Terbaik (Pilihan Juri Anak)

* Bulbul Children Film Festival, India (2023) – Film Terbaik

* Children Care International Film Festival, Paris (2023) – Film Terbaik

* Chinese International Children’s Film Festival (2024) – Pemeran Anak Terbaik

* Hungarian Special Film Festival (2024) – Sutradara Terbaik & Aktor Terbaik

* Children’s Film Festival of Wales, Inggris (2024) – Nominasi Sutradara Terbaik & Aktor Terbaik

Pemeran utama Tegar, M Aldifi Tegarajasa, juga mencatat prestasi internasional dengan meraih penghargaan Aktor Terbaik di berbagai festival film anak di Iran, Rusia, Hungaria, dan negara lainnya, menjadikannya salah satu aktor anak Indonesia paling diakui di kancah global.

“Kesuksesan Tegar memberi kami keberanian untuk melangkah lebih jauh,” ujar Anggi Frisca.


“Lewat Maira, kami ingin memperluas percakapan, dari inklusi disabilitas ke isu krisis iklim dan hak masyarakat adat, tanpa kehilangan kejujuran dan keberpihakan pada anak-anak,” jelasnya.

Anggi menambahkan, “Saya menyebut diri saya petani film. Film ini adalah bibit yang kami tanam dengan puluhan tahun pengalaman, kegelisahan, dan cinta pada Indonesia,” ungkapnya.

Melanjutkan Semangat Tegar

Aktor muda M Aldifi Tegarajasa kembali memerankan karakter Tegar, tokoh yang sebelumnya meraih berbagai penghargaan internasional. Ia hadir sebagai sahabat setia Maira, membawa kehangatan, rasa ingin tahu dan perspektif baru tentang dunia di luar kota.

Seperti film pertamanya, Maira tetap mengusung prinsip “Nothing About Us Without Us”, dengan pendekatan produksi yang inklusif, beretika, dan berpihak pada komunitas.

Dengan biaya produksi mencapai Rp9,5 miliar, Teman Tegar: Maira menjadi langkah strategis Aksa Bumi Langit sebagai rumah produksi, bersama KUN Humanity sebagai mitra gerakan sosial.


Tentang Film

Judul: Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua

Genre: Film Anak, Petualangan, Musikal
Tema: Persahabatan, Hutan Adat, Krisis Iklim, Ketahanan Masyarakat Adat

Produksi: Aksa Bumi Langit

Mitra: KUN Humanity

Di tengah hutan Papua, dua anak dari latar belakang berbeda memulai perjalanan yang mengubah hidup mereka, berawal dari rasa ingin tahu terhadap burung cendrawasih, hingga keberanian untuk memperjuangkan hak hutan sebagai masa depan bersama.

Ceria, Ngakak, Baper dan Bikin Misuh-Misuh! Balas Budi Jadi Tontonan Wajib Bagi Kamu yang Pernah Dikecewakan Cinta

 


Misi Balas Budi Siap Dijalankan Mulai 5 Februari 2026


Selasa, 27 Januari 2026 - Bersiaplah untuk tertawa sekaligus misuh-misuh serta bisa bikin baper. Rumah produksi Im-a-gin-e, Anami, dan Ten Cuts segera merilis film terbaru mereka karya sutradara Reka Wijaya, Balas Budi, sebuah drama komedi romantis yang ringan namun menggigit. Film ini mengangkat fenomena love scamming (penipuan cinta) yang akan tayang serentak mulai 5 Februari 2026 di seluruh bioskop di Indonesia. Film ini dibintangi oleh Yoshi Sudarso, Michelle Ziudith, Gisella Anastasia, Niken Anjani, Givina hingga aktor senior Asri Welas dan Ferry Salim.

Balas Budi membawa penonton mengikuti perjalanan Alma, seorang wanita yang terjebak tipu daya Budi, pria dengan seribu identitas, mulai dari koki palsu hingga pengusaha gadungan. Alih-alih terpuruk dalam kesedihan, Alma memilih jalan yang lebih seru yakni mengumpulkan sesama korban, Ayu, Uli, dan Thalita, untuk membentuk sebuah tim "detektif amatir" demi membongkar kedok sang penipu.

Komedi romantis yang relate dengan kehidupan perempuan, film ini sengaja dikemas dengan mood yang ringan dan cocok dijadikan tontonan pelepas penat. Penonton tidak akan disuguhi drama yang berat, melainkan aksi-aksi kocak dan dialog spontan khas persahabatan perempuan saat menyusun strategi "balas dendam" yang cerdik. Dinamika antara Alma, Ayu, Uli dan Thalita menunjukkan bahwa di balik setiap musibah, selalu ada ruang untuk tawa jika dihadapi bersama sahabat.

"Film ini sebenarnya punya nilai kuat untuk perempuan di Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa saat perempuan bersatu, tidak ada yang tidak mungkin bahkan menangkap penipu ulung sekalipun. 'Balas Budi bukan tentang kesedihan, tapi tentang bagaimana kita menertawakan masa lalu atau kebodohan yang pernah kita lakukan dan bangkit dengan cara yang seru. Premis film ini tentu memberikan sesuatu yang fresh di bulan Februari ini" ujar produser Im-a-gin-e, Chetan Samtani.


Selain menawarkan hiburan, Balas Budi juga menyelipkan pesan reflektif tentang maraknya penipuan berbasis relasi emosional yang kerap menyasar perempuan. Film ini tidak menggurui atau menghakimi para korbannya, melainkan menempatkan mereka sebagai subjek yang cerdas, dan mampu mengambil kembali kendali atas hidup mereka. Dengan pendekatan yang hangat dan penuh empati, kisah Alma, Ayu, Uli, dan Thalita menjadi representasi bahwa pengalaman pahit bisa diubah menjadi kekuatan ketika dihadapi bersama.

Kami ingin menghadirkan tontonan yang menjadi 'feel good movie' bagi penonton. Isu penipuan memang menyebalkan, tapi lewat pendekatan komedi dan fokus pada persahabatan perempuan, kami ingin memberikan energi positif. Ini adalah film tentang perempuan yang dibalut dengan kumpulan tawa yang bikin penonton games, baper, bahkan sampai. misuh-misuh." jelas sutradara Balas Budi, Reka Wijaya.

Didukung oleh jajaran pemain dengan chemistry yang kuat, Balas Budi berhasil menangkap keintiman persahabatan perempuan yang khas, mulai dari obrolan receh, saling menguatkan, hingga keberanian untuk tertawa atas keputusan bodoh dalam hidup.

Kehadiran karakter-karakter yang dekat dengan keseharian penonton membuat film ini terasa relevan, sekaligus menjadi pengingat bahwa solidaritas dan humor seringkali menjadi senjata paling ampuh untuk melewati masa sulit dan patah hati.

"Syuting 'Balas Budi' terasa seperti nongkrong bareng sahabat sendiri. Energi 'girl power'-nya sangat terasa. Saya rasa penonton perempuan akan banyak melihat diri mereka atau sahabat mereka di dalam karakter-karakter film ini. Lucu, gemas, tapi tetap punya pesan yang kuat papar Gisella Anastasia yang memerankan karakter Thalita.

Dengan pendekatan visual yang penuh warna seperti kisah hidup para korban Budi, bersiaplah untuk tertawa, ikut misuh-misuh, sekaligus terbawa perasaan. Balas Budi menjanjikan pengalaman menonton yang menyegarkan bagi siapa pun yang pernah dikecewakan oleh cinta, namun beruntung memiliki sahabat yang selalu hadir memberi dukungan.

Pastikan Anda menjadi bagian dari Misi Balas Budi yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.


Official Trailer Film Balas Budi



Minggu, 25 Januari 2026

Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa Merilis Official Trailer Saat Kekuasaan Menindas, Saatnya Santet Dimulai, Luna Maya Bangkit dengan Kekuatan Gelap!

 

Tayang Lebaran 2026, jadi satu-satunya film Luna Maya tahun ini

Jakarta, 26 Januari 2026 - Akhirnya waktu yang dinanti tiba juga! Official trailer film horor terbaru persembahan Soraya Intercine Films, SUZZANNA SANTET Dosa di Atas Dosa rilis. Dalam waralaba terbaru SUZZANNA, Luna Maya kembali dan bangkit dengan kekuatan gelap.

Official trailer film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa memperlihatkan sebuah perjalanan baru dari Luna Maya yang menjadi Suzzanna. Kali ini, ia tak lagi menjadi sundel bolong, melainkan menjadi sosok yang memiliki kekuatan gelap dan bersiap untuk balas dendam.

Dendam yang dimiliki Suzzanna lantaran ayahnya disantet oleh Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam dan haus kekuasaan. Kematian ayahnya mendorong Suzzanna mempelajari ilmu santet untuk membalas dendam pada Bisman. Tapi, Suzzanna juga jatuh cinta pada Pramuja (Reza Rahadian), laki-laki yang taat agama. Apa yang akan dilakukan Suzzanna di tengah pilihan tersebut, apakah ia akan meneruskan dendamnya, atau mempertaruhkan semuanya demi cintanya?

Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, dari produser Sunil Soraya dan naskah yang ditulis oleh Ferry Lesmana, Jujur Prananto, dan Sunil Soraya, film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa menjadi sebuah babak baru dalam IP SUZZANNA yang akan menjadi sejarah baru dalam sinema Indonesia.

Menampilkan genre horor-aksi, film ini akan menjadi sajian yang memberikan hiburan sekaligus momen reflektif tentang nilai-nilai kemanusiaan saat tayang di bioskop pada momen Lebaran tahun ini.

"Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa menampilkan sebuah cerita tentang penindasan dari orang yang berkuasa, bagaimana manusia yang berdosa dan tidak berdosa di tengah kekuasaan yang ada. Itu sangat relevan dengan situasi sekarang. dan penonton akan tetap terhibur dengan cinematic experience yang kami naikan levelnya dari film-film SUZZANNA sebelumnya," ujar produser Sunil Soraya.

Di film ini, Soraya Intercine Films juga menerapkan teknologi baru yang diterapkan ke Luna Maya. Tak hanya mengandalkan make up prostetik, tetapi dalam menghadirkan visual yang menghidupkan kembali sosok Suzzanna, dilakukan riset dari arsip-arsip materi film film Suzzanna yang asli dan membuat CG base mesh wajah Suzzanna asli dan mengaplikasikannya ke hasil prostetik di pasca-produksi secara frame by frame. Pendekatan ini dipilih agar bisa menerjemahkan seluruh ekspresi dan emosi Luna Maya dalam 'wajah baru' Suzzana.

Selain Luna Maya, Reza Rahadian, dan Clift Sangra, film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa juga dibintangi oleh Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, Nunung, Andi/Rif, Budi Bima, Aziz Gagap, Ence Bagus, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.

Bagi Luna Maya, memerankan Suzzanna selalu menjadi tantangan baru. Film SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa sekaligus menjadi satu-satunya film yang dibintangi Luna Maya tahun ini.

Ini adalah ketiga kalinya Luna memerankan sosok Suzzanna. Di film ini, ia tak lagi menjadi sosok hantu, tetapi menjadi manusia yang melewati perjalanan spiritual untuk memiliki ilmu hitam.

"Di film ini, saya seperti bangkit kembali dari sebuah kekuatan gelap. Suzzanna di film ini mengalami penindasan dan kekejaman dari seorang penguasa desa. Dengan dendamnya, ia mempelajari ilmu santet. Tentu ini sangat berbeda dari peran saya sebagai Suzzanna di dua film sebelumnya, dan ini akan menjadi sejarah baru," kata Luna Maya.

"Ini adalah universe yang baru lagi dari IP SUZZANNA dan sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya. Cerita dan karakterisasinya menarik, komposisi ceritanya membuat saya menarik untuk terlibat memerankan karakter Pramuja, laki-laki yang taat agama dan bersinggungan dengan Suzzanna, yang mempelajari ilmu santet, itu adalah dua sisi yang sangat menarik untuk diikuti," ujar Reza Rahadian.

Sebelumnya, universe Suzzanna dari Soraya Intercine Films telah meraih kesuksesan. Di antaranya, film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) meraih sukses blockbuster dengan raihan 3 juta lebih penonton. Selanjutnya, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023) juga meraih sukses blockbuster dengan raihan 2 juta lebih penonton.

Tonton film SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa pada Lebaran 2026 di bioskop Indonesia! 

Sinopsis

Suzanna (Lama Maya) dicintai oleh Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang kejam. Namun, karena haus kekuasaan, Bisman malah menyantet ayah Suzzanna hingga tewas. Dendam atas kematian sang ayah pun mendorong Suzzanna mempelajari ilmu Santet. Ketika balas dendam, Suzzanna menyadari kekuatan Bisman jauh lebih besar dari yang ia duga. Di tengah perjalanan, ia jatuh cinta pada Pramoja (Reza Rahadian), pria taat agama yang tak mengetahui rahasianya. Hingga akhirnya, Suzzanna dihadapkan pada pilihan: meneruskan dendam, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta!

Berikut Trailer SUZZANNA : Santet Dosa di atas Dosa



Catatan Produksi:

Judul Film: SUZZANNA: SANTET Dosa di Atas Dosa

Produksi: Soraya Intercine Films

Sutradara: Azhar Kinoi Lubis

Penulis: Ferry Lesmana, Jujur Prananto & Sunil Soraya

Produser: Sunil Soraya

Genre: Horor-Aksi

Pemain: Luna Maya, Reza Rahadian, Clift Sangra, Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slarnet, El Manik, Yatti Surachman, Iwa K, Nunung, Andi/Rif, Budi Bima, Aziz Gagap, Ence Bagus, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.

Jumat, 23 Januari 2026

Film KAFIR, Gerbang Sukma Tayang 29 Januari 2026 Membawa Teror Balas Dendam & Dosa Kelam Masa Lalu Menyajikan sekuel horor yang lebih gore sekaligus drama yang mencekam

 


Jakarta, 22 Januari 2026 - Berselang delapan tahun dari film pertamanya, Starvision mempersembahkan horor terbarunya pada awal tahun 2026, KAFIR, Gerbang Sukma yang kembali disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis. Di film keduanya ini, KAFIR menyajikan horor dengan teror dari balas dendam yang belum tuntas serta mengungkap dosa kelam masa lalu.

Delapan tahun sejak kematian tragis Herman (Teddy Syach) karena santet, Sri (Putri Ayudya) menata kembali hidupnya bersama anaknya Dina (Nadya Arina), dan Andi (Rangga Azof) yang sudah menikahi Rani (Asha Assuncao).

Sri dikabari bapak jika ibunya sakit keras. Mereka datang menjenguk, dan itu menjadi awal malapetaka. Karena ada dosa masa lalu yang disembunyikan Sri, dan kini mengancam keluarganya!

Kemunculan Indah Permatasari di film KAFIR, Gerbang Sukma sekaligus mengejutkan setelah berakhir tragis di film pertamanya, KAFIR, Bersekutu dengan Setan (2018). Kekuatan dari ilmu hitam kembali mengintai keluarga Sri. Namun, dengan kehadiran orang baru di keluarga Sri, yakni istri dari Andi, ancaman itu semakin nyata.

Meski Sri telah membentengi rumah dan keluarganya dengan sebuah perlindungan yang tak bisa ditembus oleh kekuatan gelap, tetapi Sri jatuh dalam perangkap iblis. Teror kini berada di rumah orangtuanya, nenek dari Andi dan Dina.

Di film keduanya, Kinoi menyajikan horor yang lebih eksploratif. Dengan menghadirkan elemen gore yang membuat adrenalin meningkat, serta ritual yang membuat penonton merinding! Sementara itu, dari sisi drama Kinoi juga mempertebalnya dengan pendekatan yang lebih empatik.

"Film KAFIR, Gerbang Sukma membuka perjalanan Starvision di bioskop untuk tahun 2026. Sama seperti tahun lalu, kami juga membuka perjalanan kami di layar lebar dengan film horor yang sukses dari sutradara Kinoi dan naskah yang ditulis Upi. Kami berharap film KAFIR, Gerbang Sukma bisa memberikan sebuah tontonan yang menghibur dengan horor yang mencekam, namun juga memiliki pesan mendalam tentang kemanusiaan, bagaimana hati yang kotor, dendam, dan kedengkian bisa menghancurkan sebuah keluarga bahkan secara turun-temurun," ujar produser Chand Parwez Servia.

Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis, naskah film KAFIR, Gerbang Sukma ditulis oleh Upi dan Dea April, dengan produser Chand Parwez Servia. Jajaran pemeran di film KAFIR, Bersekutu dengan Setan (2018) juga kembali reuni di film keduanya, dengan tambahan jajaran pemeran baru yang memberikan warna dan dinamika cerita yang lebih kompleks.

Film KAFIR, Gerbang Sukma dibintangi oleh Putri Ayudya, Rangga Azof, Nadya Arina, Indah Permatasari, Asha Assuncao, Arswendi Bening Swara, Muthia Datau, Sujiwo Tejo, Nova Eliza, Teddy Syach, Fuad Idris, Totos Rasiti, dan lain-lain.

"Di film KAFIR, Gerbang Sukma saya mencoba menaikkan level horornya, ketika di film pertamanya saat itu juga bisa dibilang membuat sejarah dan fresh untuk genre horor Indonesia. Di film keduanya, saya mengajak penonton untuk masuk ke dalam cerita keluarga Sri, saat ada yang masih ingin membalas dendam dengan cara yang tidak biasa, membuka gerbang sukma!," ujar sutradara Azhar Kinoi Lubis.

Di film ini, Upi kembali dipercaya oleh Chand Parwez Servia dan Starvision untuk menulis naskahnya. Upi juga kembali menggandeng nama baru di perfilman sebagai ko-penulis, Dea April, yang pertama kali menulis untuk film layar lebar.

"Saya dan Dea April mencoba menggali apa yang ada di dalam karakter Sri yang menurut saya itu 'bedebah'. Semua konflik dan teror horor yang terjadi di film ini gara-gara dosa Sri di masa lalu. Dan di film ini, Sri belum tuntas menebus janjinya dengan iblis, yang pada akhirnya mencelakakan keluarganya. Kami juga mencoba menguatkan karakter lain lewat Kakek-Nenek yang bakal bikin merinding sepanjang filmnya," kata Upi.

Pada film pertamanya, KAFIR mendapat banyak pujian termasuk secara kritis. Dengan di antaranya meraih 4 nominasi Piala Citra FFI 2018 untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik (Putri Ayudya), Penata Musik Terbaik (Aghi Narottama dan tim), Pengarah Artistik Terbaik, dan Penata Efek Visual Terbaik. Di film keduanya, Starvision juga kembali menghadirkan kualitas horor Indonesia yang semakin naik lewat twist gore dan ritual yang tersaji di tengah drama kelam keluarga Sri, tetap menghadirkan lokasi eksotik dengan scoring yang meningkatkan intensitas teror dari Aghi Narottama dan tim.

Kini, setelah berselang delapan tahun dari film pertamanya, Putri Ayudya mencoba untuk menggali kembali karakter Sri yang mencoba menebus dosa masa lalunya.

"Karakter Sri masih sama, bikin masalah. Di sini kita bisa melihat Sri mencoba bertanggung jawab atas konsekuensi yang dia lakukan di masa lalu. Sri sekarang lebih merasa ingin menjaga anak-anak dan keluarganya. Secara range akting dan emosinya lebih lebar, bagaimana dia menempatkan diri dalam keadaan tenang dan panik. Ada banyak ruang untuk berefleksi dari perjalanan karakter Sri di film ini," kata Putri Ayudya.

Sementara itu, Indah Permatasari menuturkan di film ini bisa jadi penonton bakal kaget melihat kehadirannya. Tak hanya menambah konflik dan mengungkap misteri yang terjadi di keluarga Sri, tetapi juga secara penampilan.

"Di film ini aku tampil berbeda dan aku sangat menyukainya, meskipun cukup repot dalam persiapannya. Karakter Hanum yang aku perankan ini sangat manusiawi sekali, dia dan Ibunya yang sakit hati karena keluarga Sri, ingin balas dendam. Ada masalah yang belum tuntas, dan dia ingin keluarga Sri mendapat balasan yang setimpal," ujar Indah Permatasari.

Bagi Asha Assuncao, yang memerankan karakter Rani dan menjadi sosok baru di semesta KAFIR, ia mengungkap ada banyak kejutan yang menyenangkan sekaligus menantang.

"Rani adalah karakter yang lemah lembut dan bertolak belakang dari aku. Ini pengalaman pertamaku bermain di genre horor, ditambah karakterku ini adalah orang baru di keluarga Ibu Sri, dan tidak tahu masa lalu kelam apa yang pernah terjadi. Penonton bakal sangat bersimpati dengan Rani di film ini, apalagi menjelang babak akhir," kata Asha Assuncao.

Tonton film KAFIR, Gerbang Sukma mulai 29 Januari 2026 di bioskop Indonesia, yang akan membuka mata kalian untuk melihat sisi kelam manusia dan bagaimana akibat sebuah dosa yang dilakukan akan ditebus! Ikuti perkembangan terbaru film KAFIR, Gerbang Sukma melalui media sosial Instagram @kafirfilmgerbangsukma, @Starvisionplus dan Tiktok @Starvision Movie.

Sinopsis

Delapan tahun sejak kematian tragis Herman (Teddy Syach) karena santet, Sri (Putri Ayudya) menata kembali hidupnya bersama anaknya Dina (Nadya Arina), dan Andi (Rangga Azof) yang sudah menikahi Rani (Asha Assuncao).

Sri dikabari bapak jika ibunya sakit keras. Mereka datang menjenguk, dan itu menjadi awal malapetaka. Karena ada dosa masa lalu yang disembunyikan Sri, dan kini mengancam keluarganya!

Pemain dan Tim Produksi

Putri Ayudya : Sri

Rannga Azof : Andi

Nadya Arina : Dina

Indah Permatasari : Hanum

Asha Assuncao : Rani

Arswendy Bening Swara : Kakek

Muthia Datau : Nenek

Sujiwo Tejo : Jarwo

Nova Eliza : Laila

Teddy Syach : Herman

Fuad Idris : Ki Rojo

Totos Rasiti : Seno


Produsi : Starvision

Produser : Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar

Sutradara : Azhar Kinoi Lubis

Produser Eksekutif : Reza Servia, Amrit Dido Servia, Raza Servia

Produser Lini : Erland Tanjung

Penulis Skenario : Upi, Dea April

Desain Produksi : Iqbal Marjono

Penata Kamera : Muhammad Firdaus, I.C.S.

Penyunting Gambar : Teguh Raharjo

Penata Suara : Aditya Trisnawan

Perekam Suara : Sutrisno

Penata Musik : Aghi Narottama

Penata Warna : Chressandy Rorimpandey

Penata Grafis & VFX : The Organism & Dreamcatcher

Penata Rias & Efek : Ernaka Puspita Dewi

Penata Busana : Aldie Harra

Penata Peran : Arief Hafidz, Erik Arfin

Perancang Poster : Alvin Hariz

OST : 

Aaas - Mawar Berdui

Noh Salleh - Sang Penikam

Prequel dari Saranjana Universe, dibintangi jajaran pemain nasional, dengan CGI Kuyang premium garapan LMN Studio.

 

GALA PREMIERE FILM KUYANK DIGELAR 23 JANUARI 2026 DI XXI EPICENTRUM JAKARTA


JAKARTA, 23 Januari 2026 - Film KUYANK menggelar Gala Premiere Nasional pada Jumat, 23 Januari 2026 di XXI Epicentrum, Jakarta. Acara ini menjadi momen penting menjelang penayangan serentak di bioskop seluruh Indonesia, sekaligus menandai hadirnya KUYANK sebagai prequel dari Saranjana Universe yang memperluas semesta cerita dengan skala yang lebih emosional, gelap, dan sinematik.

Mengusung positioning sebagai horor nasional berbasis folklore Indonesia dengan cerita emosional dan visual/CGI premium, KUYANK membawa satu key message yang menjadi napas film: "Bukan cinta yang salah. Tekananlah yang menjadikannya kutukan."

DI KUYANK, teror tidak hadir sebagai hiasan, melainkan sebagai akibat dari konflik manusia. Ketika cinta ditekan oleh keluarga, adat, dan norma, pilihan menyempit, rasa takut tumbuh, lalu kutukan menemukan jalannya.

"Kami ingin penonton masuk lewat emosi, lalu terseret ke teror. KUYANK adalah horor yang membekas karena penonton peduli dulu, baru takut," ujar Produser film KUYANK, Victor G. Pramusinto.

Bagian dari Saranjana Universe

Sebagai prequel Saranjana Universe, KUYANK menghadirkan bab baru yang berdiri kuat sebagai cerita sendiri, namun tetap memberi "akar" yang memperkaya pengalaman penonton yang sudah mengikuti semestanya. Gala premiere ini menjadi panggung pertama bagi publik untuk merasakan level intensitas dan atmosfer yang ditawarkan film.

CGI Kuyank Premium oleh LMN Studio

Salah satu daya tarik utama KUYANK adalah kualitas visual yang dirancang untuk pengalaman layar lebar. Sosok Kuyang dihadirkan dengan pendekatan CGI premium yang dikerjakan oleh LMN Studio, memperkuat kesan realistis dan mencekam, sekaligus menjaga standar produksi horor nasional yang serius.

Dibintangi Jajaran Pemain Nasional

KUYANK juga didukung oleh jajaran pemain nasional yang membawa konflik emosional terasa dekat dan nyata. Perpaduan drama keluarga dan horor folklore menciptakan pengalaman yang bukan hanya "seram", tapi juga menekan, menyesakkan, dan sulit dilupakan.

SINOPSIS PANJANG

Tujuh tahun sebelum gerbang kota gaib Saranjana terbuka, "Kuyank" mengisahkan cinta terlarang yang perlahan berubah menjadi kengerian.

Rusmiati, gadis kampung sederhana, dan Badri, lelaki terpandang, nekat menikah meski ramalan menyebut pernikahan mereka akan membawa kesialan. Rumah tangga yang awalnya bahagia mulai goyah ketika mereka tak kunjung dikaruniai anak. Tekanan semakin memuncak ketika ibu mertua yang sejak awal menolak Rusmiati mendesak Badri untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan agar dapat mematahkan ramalan buruk itu.

Terhimpit rasa takut kehilangan suami dan martabatnya, Rusmiati mengambil jalan gelap: mempelajari ajian Kuyang ilmu hitam kuno yang diyakini memberi kecantikan dan keabadian. Namun keputusan itu justru memicu rangkaian teror, bayi dan perempuan hamil menjadi korban misterius.

Saat jati diri Rusmiati terbongkar, kemarahan warga tak terbendung. Di tengah ancaman amuk massa dan lenyapnya batas antara cinta dan kutukan, Badri dihadapkan pada pilihan paling pahit: melindungi perempuan yang ia cintai, atau menyerah pada tekanan masyarakat.

Mampukah cinta mereka bertahan ketika kegelapan mulai merenggut segalanya?


SINOPSIS PENDEK

Tujuh tahun sebelum gerbang Saranjana terbuka, cinta Rusmiati dan Badri runtuh ketika tekanan adat dan ramalan buruk memaksa Rusmiati mencari jalan gelap: ajian Kuyang.

Keputusannya memicu teror yang menghantui bayi dan perempuan hamil, sementara identitasnya perlahan terkuak.

Saat amuk massa siap menelan segalanya, Badri harus memilih antara cinta yang ia pertahankan... atau masyarakat yang menuntut darah.

KUYANK adalah film horor nasional berbasis folklore Indonesia dengan cerita emosional dan visual premium. Film ini mengajak penonton melewati kurva emosi: cinta tekanan putus asa → ketakutan kutukan, menegaskan bahwa teror paling mengerikan sering lahir ketika tekanan dibiarkan menang.

Judul Film: Kuyank

Durasi Film: 98 Menit

Rating Film (LSF):13 Tahun ke Atas

Tanggal Rilis: 29 Januari 2026

Bahasa Dialog: Indonesia, Banjar

Bahasa Tulisan: Indonesia, English

Genre: Horror

Produksi: DHF Entertainment

Produser: Johansyah Jumberan, Victor G. Pramusinto

Sutradara: Johansyah Jumberan

Penulis: Asaf Antariksa; Johansyah Jumberan

Soundtrack: Jeff Banjar

Editor: Teguh Raharjo

Visual Effect: LMN Studio

Soundpost: Alunan Audio Post

Pemain Film: 

Rio Dewanto (Badri)

Putri Intan Kasela (Rusmiati)

Ochi Rosdiana (Fauziah)

Jolene Marie (Husnah)

Barry Prima (Utuh Ampong)

Dayu Wljanto (Hj. Saidah)

Ananda George (Kakek Hendra)

Betari Ayu (Fitri)

Hazman Al Idrus (Rustam)

Ellizabeth Christine (Latifah)

Rabu, 21 Januari 2026

Film Horor Romance "TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO)" Produksi Heart Pictures Segera Menjumpai Penonton Bioskop Mulai 29 Januari 2026

 


Dibintangi bintang muda berbakat Saskia Chadwick dan Cinta Brian serta menampilkan debut kreator digital asal Korea Selatan, Bung Korea, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) akan menyajikan horor yang menegangkan dan emosional

Jakarta, 21 Januari 2026 - Setelah merilis poster dan trailer resminya, film layar lebar perdana dari rumah produksi Heart Pictures, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) siap menjumpai penontonnya di bioskop mulai 29 Januari 2026. Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik & Sjahfasyat Bianca, film ini menawarkan pengalaman horor yang berbeda dengan menggabungkan mitos urban Indonesia dan Korea Selatan, dibalut drama romantis cinta segitiga yang intens dan emosional.

TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) dibintangi oleh Saskia Chadwick, Cinta Brian, Aruma Khadijah, Dito Darmawan, William Roberts, serta aktor Korea Selatan, Kim Geba dan Kim Seoyoung. Kisahnya mengikuti TANIA (Saskia Chadwick), seorang mahasiswi Indonesia di Korea Selatan yang kehidupannya berubah ketika ia terjerat dalam dunia arwah penasaran bernama MIN YONG (Kim Seoyoung). Dalam upayanya mengungkap kebenaran kelam di balik tragedi Min Yong, Tania dibantu oleh DR. PARK MIN JAE (Kim Geba), seorang dokter yang jatuh cinta padanya. Namun, kehadiran DION (Cinta Brian), pria misterius dengan masa lalu kelam, membuat situasi semakin rumit, sementara Tania terus mengalami gangguan misterius yang membuatnya sering berhalusinasi dan berujung pada teror yang tak berkesudahan.

TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) tidak hanya mengandalkan ketegangan horor, tetapi juga membangun misteri yang intens sejak awal hingga akhir film. Elemen horor khas Korea yang mencekam berpadu dengan kepercayaan mitos tentang dunia gaib, menciptakan atmosfer yang dingin, misterius, dan penuh ancaman. Di saat yang sama, drama romantis cinta segitiga di dalamnya memberi lapisan emosi yang kuat, mengajak penonton untuk ikut larut dalam perjalanan batin para karakternya. Melalui kisah Tania, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) bercerita tentang perjuangan mencari kebenaran, keadilan, dan makna keberanian.

Diproduksi dengan proses syuting di Korea Selatan, film ini menampilkan visual yang memukau melalui berbagai lokasi ikonik negeri tersebut, memperlihatkan sisi indah sekaligus nuansa misterius. Penampilan aktor-aktor Korea Selatan dengan pemeranan yang kuat turut menghadirkan rasa autentik, memperkaya pengalaman sinematik yang ditawarkan film ini.

"Bekerja bersama talenta-talenta muda berbakat ini adalah sebuah pengalaman yang membanggakan. Tidak hanya bakat yang luar biasa, tapi mereka juga memiliki komitmen yang besar, disiplin, dan pekerja keras. Hasilnya terlihat di layar, betapa mereka telah memberikan yang terbaik. Semoga penonton terhibur dan semoga film ini memberikan warna baru bagi film horor Indonesia," ujar Herty Purba, Produser Eksekutif Heart Pictures.

Bagi Saskia Chadwick, perannya sebagai Tania menjadi pengalaman penting dalam perjalanan kariernya. "Berperan sebagai Tania dalam film ini adalah pengalaman penting dalam perjalanan karirku dalam dunia pemeranan. Selama persiapan, reading, dan syuting, banyak sekali hal baru yang aku pelajari, dan semua itu terjadi berkat dukungan kru serta teman-teman aktor yang luar biasa. Semoga penonton menerima film ini dengan baik," tuturnya.

Sementara itu, Kim Geba mengungkapkan rasa syukurnya dapat terlibat dalam proyek ini. "Aku bersyukur sekali pengalaman pertamaku berperan di layar lebar adalah untuk film TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO). Tidak pernah aku berhenti berterima kasih atas kesempatan yang sangat berharga ini, malahan sepertinya aku ketagihan dengan dunia peran," ujarnya.

Dengan kisah yang dekat dengan emosi penonton, ketegangan yang intens, serta visual dan atmosfer yang kuat, TOLONG SAYA! (DOWAJUSEYO) siap mengajak publik merasakan pengalaman horor romance yang berbeda. Tonton di bioskop mulai 29 Januari 2026.


INFORMASI FILM

Sutradara : Nur Muhammad Taufik & Sjahfasyat Bianca

Penulis Naskah : Nucke Rachma

Produser Eksekutif : Herty Paulina Purba

Associate Producer : Arnold Sihombing

Produser : Erick Mulyono

Sinematografer : Awank JJ

Art Director : Ferry Anggriawan

Sound Designer : Andre Munadi

Editor : Gita Miaji

Action Direction : Jeffry Dara

Casting Director : Faisal Vicy

Wardrobe : Aldi Hara

Makeup : Laela Z


PEMAIN

Saskia Chadwick sebagai Tania

Kim Geba sebagai Dr. Park Min Jae

Cinta Brian sebagai Dion

Kim Seoyoung sebagai Min Yong

Aruma Khadijah sebagai Sherly

Dito Darmawan sebagai Farel

Yati Surachman sebagai Paranormal

Debby Sahertian sebagai Inang Purba

Husein Alatas sebagai Ustad Azam

William Roberts sebagai Aldo

Selasa, 20 Januari 2026

Starvision Rilis Official Trailer & Poster Film "Senin Harga Naik, Tayang di Bioskop Lebaran 2026

 



Jakarta, 20 Januari 2026 - Film terbaru dari Starvision akan tayang di Bioskop untuk menyambut Lebaran 2026, SENIN HARGA NAIK, karya Sutradara Dinna Jasanti, yang sebelumnya menghadirkan drama kehangatan keluarga melalui Film DUA HATI BIRU (2024). Kolaborasi terbaru dengan Produser Chand Parwez Servia menjadi persembahan merayakan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, setelah tahun lalu Film KOMANG yang meraih box office.

Film SENIN HARGA NAIK menceritakan tentang Mutia (Nadya Arina) yang karirnya terlalu dikontrol oleh ibunya, Retno (Meriam Bellina), hingga pergi dari rumah untuk membuktikan bisa sukses secara mandiri. Tiga tahun berlalu, promosi karir Mutia di perusahaan properti tersandung proyek penggusuran Mercusuar, toko roti legendaris milik Retno. Tidak ada pilihan lain, Mutia harus kembali ke rumah, dan berusaha melunakkan hati ibunya agar mau menjual Mercusuar.

Melalui Official Trailer Film SENIN HARGA NAIK, ditampilkan perjuangan Mutia dalam meraih kesuksesannya, sekaligus memperlihatkan kesedihan Ibu yang harus menerima kenyataan, bahwa tiga anaknya sudah tumbuh dewasa, dan kontrol yang berangkat dari kasih sayangnya justru membuat anak-anaknya semakin jauh. Disampaikan penuh kehangatan, dalam balutan komedi yang menghibur, untuk kemudian hadirkan keharuan ketika lagu-lagu, "Saat Kau Telah Mengerti" dari Virgoun, "Selaras" dari Kunto Aji & Nadin Amizah, dan "Jika Nanti" dari Raissa Anggiani mengiringi kisah keluarga Retno.

Film SENIN HARGA NAIK didukung para pemain yang tampil piawai memerankan karakternya di Film dalam sentuhan apik Dinna Jasanti, di antaranya: Nadya Arina, Meriam Bellina, Andri Mashadi, Nayla Purnama, Givina, Adam Xavier, Brandon Salim, Nungki Kusumastuti, Hamish Daud, Aci Resti, Arif Alfiansyah, Razan Zu, Rianti Cartwright, Restu Sinaga, Annisa Hertami, Dayu Wijanto, Reynavenzka, Hifdzi Khoir, Devy Anastasia, Lolox, Inyonk, Violeta Ekanjani,, Chika Waode, Maryam Lin, Jordan Omar, Mikhaila Zeline, Ashraf Dirgham, dan lain-lain.

Chand Parwez Servia selaku produser menyampaikan, "Hari Lebaran adalah perayaan kumpul keluarga, dan Film SENIN HARGA NAIK adalah tontonan yang hangat menyampaikan kasih sayang beda sudut pandang antara ibu dan anak-anaknya. Eksekusi cerdas Dinna Jasanti, berhasil menghanyutkan emosi karena cerita yang dekat dengan keseharian. Ada kehangatan, keharuan, dan nilai reflektif kekeluargaan seputar makna bertumbuh untuk pembuktian diri."

"Hubungan Ibu dan anak adalah pokok dari cerita Film SENIN HARGA NAIK di mana ego dan cara pandang yang berbeda membuat hubungan keduanya berjarak. Tapi di belakang semua usaha seorang Ibu yang keras kepala dalam menlindungi dan kegigihan anak yang berupaya untuk membuktikan kesuksesannya, ada rasa cinta yang sangat mendalam dan saling merindu. Kasih sayang ini akan selalu membawa kita cari jalan pulang.", Dinna Jasanti selaku Sutradara menambahkan.

Nadya Arina menyampaikan "Film SENIN HARGA NAIK ini sangat berarti bagi kami, saya jatuh cinta dengan karakter Mutia, tentang pembuktiannya, cinta, dan pengkhianatannya yang dipadukan menjadi satu cerita. Semua pemain di karya ini memberikan energi yang luar biasa, mencurahkan perasaan sayangnya untuk Film istimewa ini, hingga proses syutingnya berjalan sangat menyenangkan."

"Film SENIN HARGA NAIK mengajak kita untuk melihat bagaimana setiap karakter mempunyai cara masing-masing dalam menunjukkan kasih sayang untuk keluarganya. Perbedaan tersebut menjadi seru untuk kita simak, sekaligus menjadi refleksi romantika komunikasi dalam keluarga, dan disajikan dengan hangat, seru, menghibur, dan haru selayaknya kehidupan kita sehari-hari." Ungkap Meriam Bellina.

Nantikan Film SENIN HARGA NAIK akan tayang di Bioskop mulai 18 Maret 2026 untuk merayakan Lebaran di Bioskop!


Sinopsis

Pertengkaran Mutia dengan Ibunya, Retno, membuatnya pergi dari rumah untuk membuktikan dirinya bisa sukses secara mandiri. Tiga tahun berlalu, promosi karir Mutia di perusahaan properti tersandung proyek penggusuran Mercusuar, toko roti legendaris milik Retno.

Tidak ada pilihan lain, Mutia kembali ke rumah, dan bekerja sama dengan kakak dan adiknya untuk melunakkan hati ibunya agar mau menjual Mercusuar.


Pemain & Tim Produksi

Nadya Arina : Mutia Soejono

Meriam Bellina : Retno Wulandari

Andri Mashadi : Amal Soejono

Nayla Purnama : Tasya Soejono

Givina : Taris

Adam Xavier : Alviero 6th

Brandon Salim : Nando Hidayat

Nungki Kusumastuti : Ida Ariati

Hamish Daud : Maruli Zubizarreta

Aci Resti : Rani

Arif Alfiansyah : Karmanto

Razan Zu : Patria Perkasa

Rianti Cartwright : Retno Muda

Restu Sinaga : Bimo

Annisa Hertami : Ida Muda

Dayu Wijanto : Irene Candrawati

Reynavenzka : Sabrina Hapsari

Hifdzi Khoir : Legal 1

Devy Anastasia : Vlogger

Lolox : Sales Cluster 1

Inyonk : Legal 2

Violeta Ekanjani : Legal 3

Chika Waode : Sales Cluster 2

Maryam Lin : Mutia Kecil

Jordan Omar : Amal Kecil

Mikhaila Zeline : Tasya Kecil

Ashraf Dirgham : Alviero 3th

Produksi : Starvision, Legacy Pictures

Produser : Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar

Sutradara : Dinna Jasanti

Produser Eksekutif : Reza Servia, Amrit Dido Servia , Raza Servia, Lisbeth Simarmata

Produser Lini : Sara Kessing

Penulis Skenario : Rino Sarjono

Pengarah Artistik : Okie Yoga Pratama

Penata Kamera : Amalia Ts, ICS

Penyunting Gambar : Hendra Adhi Susanto

Penata Suara : Aditya Trisnawan

Perekam Suara : Yusuf Patawari

Penata Musik : Hariopati Rinanto

Penata Warna : Chressandy Rorimpandey

Penata VFX & Grafis : In My Room

Nathasa Agnes

Penata Rias : Nathasa Agnes

Penata Busana : Angela Suri Nasution

Penata Peran : Arief Havidz, Erik Arifin

Perancang Poster : Alvin Hariz


OST : 

Saat Kau Telah Mengerti - Virgoun

Selaras - Kunto Aji & Nadin Amizah

Jika Nanti - Raissa Anggiani


Berikut Trailer Senin Harga Naik



Film 'Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?"Menghadirkan Kekuatan Doa Perempuan, Pelukan Hangat bagi Single Mother dan Anak dari Keluarga Broken Home

 

Tayang mulai 29 Januari 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 20 Januari 2026 Setelah mendapat sambutan hangat dan penuh haru melalui rangkaian nobar dan early screening di berbagai kota di Indonesia, film drama religi persembahan Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment, Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?, siap tayang serentak di bioskop mulai 29 Januari 2026.

Disutradarai oleh Jay Sukmo dan ditulis oleh Utiuts, film ini menghadirkan kisah yang emosional dan membumi, memotret spiritualitas perempuan di tengah badai ujian hidup, sekaligus menjadi pelukan hangat bagi para single mother dan anak-anak yang tumbuh dalam dinamika keluarga broken home.

Film ini dibintangi oleh Revalina S. Temat, Gunawan Sudrajat, Megan Domani, Annisa Kaila, Roy Sungkono, Risma Nilawati, Dhawiya Zaida, Daniella Sya, Alex Abbad, Sheila Kusnadi, Venly Arauna, serta Ustadzah Shofwatunnida. #filmTBKM diproduseri oleh Robert Ronny dan Prima Taufik, dengan Andi Boediman sebagai produser eksekutif.

Melalui sudut pandang perempuan, #FilmTBKM mengeksplorasi kerapuhan sekaligus ketangguhan seorang ibu tunggal. Karakter Sarah (Revalina S. Temat) digambarkan sebagai perempuan yang harus belajar memaafkan, bertahan, dan berserah melalui doa, di saat hidup tidak memberi pilihan yang mudah.

Bagi Revalina S. Temat, memerankan Sarah adalah perjalanan emosional yang sangat personal. Sarah digambarkan sebagai istri dan ibu yang perfeksionis, mandiri, dan terlihat kuat, namun dunianya runtuh ketika sang suami, Satrio (Gunawan Sudrajat), menikah lagi. Keputusan untuk bercerai menjadikannya seorang single mother yang harus menghadapi stigma, kehilangan, dan luka batin yang dalam.

"Sarah adalah perempuan yang tampak kuat di luar, namun ketika ia tak lagi menemukan jalan keluar, doa menjadi satu-satunya pegangan. Hanya kepada Allah ia berserah sepenuhnya. Setiap ujian selalu punya jalan keluar, dan lewat ujian itulah kita disadarkan bahwa Allah sedang menyayangi kita," ujar Revalina.

Produser Robert Ronny menegaskan bahwa film ini tidak hanya berbicara tentang konflik rumah tangga, melainkan tentang perjalanan batin seorang perempuan.

"Kami ingin menghadirkan film yang bukan sekadar tentang konflik kehidupan, tetapi tentang doa yang akhirnya menemukan jawabannya, melalui ketenangan hati dan keberanian untuk memaafkan," ujarnya.

Selain sudut pandang ibu, #FilmTBKM juga menyoroti dampak perceraian dari perspektif anak melalui karakter Laila, yang diperankan oleh Annisa Kaila. Laila merepresentasikan banyak anak dari keluarga broken home yang dipaksa tumbuh dewasa lebih cepat, menahan emosi di tengah konflik orang tua.

"Laila sangat menyayangi ayahnya. Perubahan besar dalam keluarganya membuat dia kaget dan terluka, sehingga ia harus belajar mengendalikan emosinya sendiri," ujar Annisa.

Sementara itu, Megan Domani, yang memerankan Annisa, sosok perempuan yang hadir di antara keretakan rumah tangga Sarah, menggambarkan karakternya sebagai pribadi yang dilematis.

"Annisa adalah karakter yang kompleks. la datang dari masa lalu yang sulit, tapi punya keinginan tulus untuk mencari jalan yang benar, dan kesadaran itu tumbuh ketika ia melihat keteguhan Sarah," ungkap Megan.

Film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? merupakan kolaborasi Indonesia-Malaysia bersama Astro Shaw, dan turut didukung oleh Netzme, KMIF, WOW Multinet Pictures, serta Virtuelines Entertainment.

Tonton film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? mulai 29 Januari 2026 di seluruh bioskop Indonesia.

Film Pelangi di Mars "Keliling Langit Indonesia" Lewat Balon Raksasa Jelang Rilis Lebaran 2026

  Jakarta, 19 Februari 2026 - Sebagai bagian dari rangkaian promosi menuju penayangan pada Lebaran 2026, film Pelangi di Mars menghadirkan i...