Jumat, 27 Februari 2026

Walid Kembali! Season 2 Hadirkan Sosok Lebih Manipulatif dan Lebih Berbahaya Olla Ramlan bak-blakan soal syuting berat Walid

 



Jakarta 27 Februari 2026. Viu Original Walid: Heaven's Reign, yang merupakan kelanjutan dari serial Bidaah yang viral tahun lalu, resmi tayang perdana mulai kemarin (26/2/2026) di Viu. Episode perdana langsung dibuka dengan situasi genting, yaitu Walid berada dalam pelarian dari aparat kepolisian!

Ia tidak sendirian. Ada pihak yang membantu Walid keluar dari penangkapan sebelum akhirnya dibawa menuju wilayah pedalaman. Tempat tersebut diyakini para pengikutnya sebagai lokasi aman yang sulit dijangkau aparat dan dianggap sebagai perlindungan terakhir bagi sang pemimpin.

Ketidakhadiran Walid di tengah Jemaah Jihad Ummah segera memunculkan pertanyaan besar. Sosok yang selama ini menjadi pusat keputusan tidak lagi berada di garis depan. Siapa yang akan mengendalikan kelompok ketika pemimpinnya berada dalam pelarian?



Olla Ramlan Bangga

Dalam acara Premiere Screening di Jakarta kemarin (26/2/2026), Connie Agustin, Deputy Manager Content Acquisition, Viu, mengungkapkan, “Di season pertama, fokus cerita memang banyak berada pada Walid dan kelompoknya. Namun melihat respons luar biasa dari penonton, tim Viu Malaysia merasa ada ruang untuk memperluas perspektif dan membawa konflik ke tingkat yang lebih dalam. Di season kedua, tim menghadirkan sosok baru yang bahkan lebih manipulatif dan lebih berbahaya, sehingga dinamika kekuasaan berkembang ke arah yang tak terduga.”

Connie berharap karya fiksi ini menghibur dan menjadi refleksi tentang bagaimana kekuasaan tanpa kendali dapat membawa konsekuensi yang serius dan berbahaya. Ia menambahkan, 

“Series ini juga mengajak penonton untuk berpikir kritis dan tidak mudah terbuai oleh klaim atau figur otoritas apa pun. Kami berharap kehadirannya dapat menjadi medium diskusi yang sehat, sekaligus pengingat pentingnya melindungi masyarakat dari segala bentuk eksploitasi yang berkedok spiritualitas.”

Viu Original Walid: Heaven's Reign pun semakin spesial karena penampilan Olla Ramlan yang dipercaya memerankan karakter sangat penting. Olla mengaku sangat antusias saat menerima tawaran dari Viu. "Aku baru saja selesai dengan drama dari Viu, Secret High School, lalu aku ditawari series ini. Tapi waktu itu tidak langsung diberi tahu, apakah aku akan jadi istrinya Walid yang ke berapa atau sebagai karakter lain, aku pun masih bertanya-tanya. Tapi aku antusias karena tahu respon masyarakat yang luar biasa terhadap Bidaah," ujar Olla dalam acara yang sama.



Berperan sebagai Raras Kartika, Olla menjalani proses syuting selama 20 hari dengan perasaan campur aduk. “Ada lokasi syuting di kawasan Perak, Malaysia, yang berada di tengah hutan, dan aku harus menempuh jalan kaki sekitar 70 meter untuk ke kamar mandi yang dipakai bersama kru lain. Tidak ada VIP, jadi semua antre. Kami syuting selalu pagi hari dan di sana dingin banget. Tanpa air panas di kamar mandi. Bahkan aku ada adegan mandi di air terjun dalam waktu cukup lama dan harus tetap berdialog sekaligus memastikan kualitas audio dengan kru,” tambahnya.

Kondisi pondok tempat ia menginap pun berdinding kayu dengan sela-sela yang bisa dimasuki serangga sekitar. “Nyamuk luar biasa dan serangga di sana juga membuat aku takut dan tidak bisa tidur. Jadi aku sempat tertekan dan menangis,” pungkas Olla.

Namun ia mengakui bangga dapat terlibat dalam proyek ini. “Terima kasih untuk Viu Indonesia, Viu Malaysia untuk kesempatan yang luar biasa banget," ujarnya. 


Perebutan Kekuasaan Dimulai

Pekan pertama penayangan Walid: Heaven's Reign juga menunjukkan Walid di bawah bayang-bayang figur yang lebih besar dan lebih berpengaruh. Ketegangan pun semakin terasa ketika lingkaran terdekatnya mulai retak, sementara para pengikutnya sendiri menunjukkan tanda-tanda perpecahan. Season ini dipastikan akan membongkar sisi rapuh di balik sosok yang selama ini terlihat tak tergoyahkan.

Seperti apa nasib Walid, istri-istri dan pengikutnya? Saksikan drama Walid Heaven's Reign yang tayang setiap Kamis dan Jumat di Viu. 






Rabu, 25 Februari 2026

Marcell Siahaan Merilis “Menuju Cahaya” , Sebuah Perjalanan Batin Manusia Dan Belajar Untuk Jujur Pada Diri Sendiri

 



Menuju Cahaya, merupakan single reliji kedua dari Marcell yang dirilis pada tanggal 26 Februari 2026, setelah sebelumnya pada tahun 2024 mengeluarkan single berjudul "Tawakal", yang lagi- lagi lirik, komposisi serta aransemennya ditulis sendiri oleh Marcell. Melalui label rekaman dan penerbit musik miliknya sendiri yaitu Ruang Menyusui Records dan MKH Publishing, single "Menuju Cahaya" ini diproduksi oleh Marcell sendiri sebagai pengarah musik utama. Vokal direkam oleh Yusuf Effendi Hadiyanto di studio Ruang Menyusui, dibantu oleh musisi-musisi belakang layar legendaris seperti Gatot Alindo pada gitar akustik dan elektrik, Ivan Alidiyan pada keyboard dan synthesizer, Stefanus Adi Wibowo sebagai pengarah vokal, serta Lawrence 'Random' Widarto sebagai juru adun atau mixing and mastering engineer. Tak ketinggalan, istri tercintanya Rima Melati Adams juga turut serta membacakan penggalan lirik puitis berbahasa Inggris dalam lagu tersebut. "Jelas, cuman Rima yang paling fasih dan paling bagus pelafalan bahasa Inggris-nya di rumah ini," kata Marcell jujur.

Melalui liriknya, lagu "Menuju Cahaya" merupakan lagu tentang perjalanan batin manusia, di saat dimana ia berhenti merasa menjadi pusat, dan mulai melangkah menuju sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Lagu ini tidak berbicara tentang pencapaian, melainkan tentang pelepasan; bukan tentang menjadi benar, tetapi tentang belajar untuk tunduk dan jujur pada diri sendiri. Inspirasi utama lagu ini berangkat dari konsep Tazkiyatun Nafs, yaitu proses pemurnian jiwa. Gagasan ini selaras dengan pesan Al-Qur’an dalam Surat Asy-Syams (91) ayat 9-10 dan Surat Al- A‘la (87) ayat 14, yang sama-sama menegaskan bahwa keberuntungan sejati bukan datang dari pengakuan luar, melainkan dari keberanian membersihkan batin. Pengertian “Cahaya” dalam lagu ini tidak dimaknai sebagai simbol kesuksesan personal atau pencerahan instan. Cahaya adalah tujuan, sebagai sesuatu yang didekati, bukan dimiliki. Pemaknaan ini terinspirasi dari gambaran Cahaya Ilahi dalam Surat An-Nur ayat 35, sehingga liriknya tidak menonjolkan ego, melainkan menekankan proses melakukan suatu perjalanan: melangkah tanpa nama, tanpa beban untuk dipuja.

 


Secara musikal dan lirik, "Menuju Cahaya" disusun dengan pendekatan minimalis dan repetitif. Pengulangan lirik berfungsi seperti doa, yang diucapkan perlahan dan reflektif, menggambarkan bahwa pemurnian diri bukan peristiwa yang instan sekali selesai, melainkan proses yang harus dijalani terus-menerus. Pada akhirnya, "Menuju Cahaya" bukan lagu dakwah dan bukan pernyataan religius yang demonstratif. Lagu ini merupakan ruang perenungan: tentang manusia yang menyadari keterbatasannya, melepaskan pembenaran diri, dan tetap memilih untuk berjalan perlahan namun jujur menuju Cahaya.

Namun ada yang berbeda dari lagu reliji "Menuju Cahaya" yang ditulis oleh Marcell kali ini, yaitu balutan aransemen yang sangat kental bernuansa elektronik. "Saya sengaja melahirkan lagu ini dengan aransemen yang sedikit berbeda, tentunya tanpa kehilangan ruh-nya, harapannya agar lagu ini bisa menjaring lebih banyak pendengar dari berbagai segmen yang lebih luas dan beragam, dan siapapun mereka bisa memaknai musik dan lirik dari lagu ini tanpa harus menunggu momen- momen tertentu. Pemurnian diri adalah proses yang layak dirayakan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun." tutupnya.


Composed and arranged by : Marcell

Lyrics written by : Marcell

Executive Producer : Marcell and Ruang Menyusui Records

Published by : MKH Publishing

Vocal recorded at : Studio Ruang Menyusui, Bintaro

Vocal recorded by : Yusuf Effendi Hadiyanto

Vocal directed by : Stefanus Adi Wibowo

Accoustic, Electric Guitar : Gatot Alindo

Keyboard, Synthesizer : Ivan Alidiyan

Mixed and mastered by : Lawrence 'Random' Widarto

Female voiceover : Rima Melati Adams

Menemani Bulan Ramadan, Ungu Persembahkan Single Religi “Pulang Pada-Mu”, Kerinduan Hamba Kepada Tuhan-Nya Di Tengah Hidup Yang Semakin Sibuk

 


Jakarta, 13 Februari 2026 — Menyambut bulan suci Ramadan, Ungu kembali merilis single religi terbaru berjudul “Pulang Pada-Mu”, sebuah lagu reflektif yang merekam perjalanan batin seorang hamba dalam menemukan jalan pulang kepada Allah SWT.

Diciptakan oleh Enda Ungu, “Pulang Pada-Mu” menggambarkan sebuah titik balik spiritual saat ego dikesampingkan dan hati berbicara dengan jujur memohon ampunan dan penerimaan dari Allah SWT. Lirik “Kini ku pulang pada-Mu” merupakan simbol bahwa jalan untuk kembali kepada-Nya akan selalu terbuka. Sejalan dengan kisah yang dialami Enda, lagu ini bukan sekadar doa, melainkan kesaksian personal tentang perjalanan taubat, harapan akan rahmat, dan kerinduan untuk kembali hidup dalam bimbingan-Nya. Dalam musik videonya, Enda pun turut hadir sebagai model di bagian cerita, memperkuat sisi personal dan emosional yang ingin disampaikan melalui lagu ini.

Enda menuturkan, “Lagu ini saya tulis berdasarkan apa yang saya rasakan. Ketika keseharian saya hanya disibukkan dengan bekerja dan mengejar ambisi, saya justru merasakan kekosongan. Dari situ muncul pencarian terhadap Allah SWT, disertai rasa penyesalan dan keinginan untuk kembali kepada-Nya.”


Lebih dari sekadar karya musik, “Pulang Pada-Mu” mengangkat pesan tentang kepulangan seorang hamba kepada Allah SWT sebuah pilihan untuk kembali setelah perjalanan hidup yang penuh distraksi dan kesalahan. Kata “pulang” dihadirkan sebagai simbol kembalinya hati, bukan sekadar perjalanan fisik. Dirilis satu minggu sebelum Ramadan, lagu ini diharapkan dapat menemani pendengarnya sepanjang bulan suci sebagai pengingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali pada-Nya. Hal ini sejalan dengan nilai utama Ramadan sebagai bulan pengampunan dan perenungan diri.

Pasha, selaku vokalis Ungu mengatakan, “Kami berharap Pulang Pada-Mu bisa menjadi teman perjalanan spiritual selama bulan Ramadan. Lagu ini kami hadirkan sejalan dengan identitas Ungu yang sejak awal selalu menghadirkan karya-karya religi sebagai ruang refleksi dan pengingat bagi pendengarnya.”

Melalui lagu ini, Ungu kembali menegaskan identitas mereka sebagai band yang konsisten menghadirkan karya-karya religi yang dekat dengan kehidupan pendengarnya di lintas generasi.

Single “Pulang Pada-Mu” telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital 

streaming mulai 13 Februari 2026. Lagu yang akan menjadi pengiring spiritual di bulan Ramadan. Musik video “Pulang Pada-Mu” juga akan segera dirilis. Pantau terus media sosial Trinity Optima Production dan Ungu @ungu_band


Pulang Pada-Mu 

Executive Producer Yonathan Nugroho For Trinity Optima Production

A&R : Dwi Santoso / Simhala Avadana

Composed by Enda ‘UNGU’ 

Published by Massive Music Entertainment 

Produced by UNGU 

All instruments recorded @Musica Std, JKT 

Mixed & Mastered by Bambang Hari Permana @harper_studio, JKT 

©Trinity Optima Production 2026


Lirik

Pernah ku tenggelam 

Mengejar dunia 

Melupakan surga

Kini ku pulang kembali ya Allah

Membawa sesal untuk semuanya

Hingga lidah tak sanggup lagi mengungkapnya


Kini ku pulang pada-Mu

Inilah hamba-Mu yang lemah 

Bersihkanlah jiwa yang ternoda 

Peluklah aku


Bawa aku kembali pada-Mu

Aku datang membawa luka

Berharap bisa terobati 

Berharap Engkau mengampuni

Membuka jalanku pulang pada-Mu

Kini ku pulang pada-Mu 

Inilah hamba-Mu yang lemah

Bersihkanlah jiwa yang ternoda 

Peluklah aku


Kini ku pulang pada-Mu 

Inilah hamba-Mu yang lemah

Bersihkanlah jiwa yang ternoda 

Peluklah aku


Ya Robb 

Terimalah taubat ku

Ampuni semua dosa di hidupku 

Izinkanlah sekali lagi

Biarlah nafas ini berhembus

Untuk memuja-Mu 

Bersujud kepada-Mu 

Ya Allah

Selasa, 24 Februari 2026

RUMAH PRODUKSI PAL8 PICTURES MENGUMUMKAN PARA PEMAIN FILM “LAUT BERCERITA”

 


***

Jakarta, 24 Februari 2026 – Rumah produksi Pal8 Pictures mengumumkan pemeran Film Laut Bercerita yang lebih lengkap. Setelah mengungkap para pemeran utama, yakni

° Reza Rahadian sebagai Biru Laut, 

° Yunita Siregar sebagai Asmara Jati, 

° Christine Hakim sebagai ibu, 

° Arswendi Bening Swara sebagai ayah,

° Dian Sastrowardoyo (Kasih Kinanti) dan 

° Eva Celia sebagai Ratih Anjani 

Di ajang JAFF Market tahun lalu, Pal8 Pictures mengumumkan pemain lain diumumkan di Jakarta pada 24 Februari 2026. Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, berdasarkan novel bestseller karya Leila S.Chudori, para pemain lainnya adalah

° Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan,

° Ben Nugroho (Alex Perazon), 

° Dewa Dayana (Sunu Dyantoro), 

° Yoga Pratama (Arifin Bramantyo), 

° Nagra Kautsar (Naratama),

° Natalius Chendana (Julius), dan

° Afrian Arisandy (Gala Pranaya). 

Nama-nama ini memerankan bagian penting dari kehidupan Biru Laut, yakni kelompok diskusi mahasiswa Winatra. 

Skenario film ini ditulis oleh Leila S.Chudori dan Yosep Anggi Noen dan diproduksi oleh Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S.Chudori. Pal8 Pictures juga bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films dan Brandlink.

Di dalam film Laut Bercerita, Biru Laut tak bergerak sendiri. Pada 1991, mahasiswa jurusan sastra Inggris ini bertemu salah satu pimpinan Winatra: Kasih Kinanti. 

Sejak itulah Laut bersama Daniel, Alex dan Sunu bergabung ke dalamnya. Mereka memahami bahwa membaca dan menulis adalah bentuk perlawanan. Namun, bergerak adalah langkah selanjutnya untuk melawan kelaliman. Dan ceritapun bergulir.

Reza Rahadian yang mengaku memerankan Biru Laut di dalam film panjang ini cukup sulit secara emosional, tetapi dia mengungkapkan harapannya film ini bisa menumbuhkan kepekaan bagi penontonnya. “Semoga film ini bisa membuka ruang berefleksi terhadap permasalahan sosial saat ini.” Reza mengaku yang menyenangkan adalah Reza dan ketiga pemain lain dalam Winatra berakhir menjadi kawan dekat dalam kehidupan nyata.

Ben Nugraha menilai Alex Perazon memiliki karakter kuat dan kompleks. “Saya sangat tertantang memerankan dia.” Sedangkan Kevin Julio mengungkap bahwa bekerja sama dengan sutradara Yosep Anggi Noen adalah cita-citanya. “Ketika saya diterima untuk menjadi Daniel Tumbuan, saya terharu sampai berkaca-kaca,” kata dia. Sambil bergurau Kevin mengatakan, pengalaman paling seru ketika syuting film ini adalah adegan Blangguan, karena “kapan lagi melihat Dian Sastro dan Reza kehujanan dan penuh lumpur.”


Dian Sastrowardoyo dan Eva Celia yang membaca novel “Laut Bercerita”

beberapa tahun silam mempunyai tokoh favorit masing-masing. “Waktu pertama kali membacanya, saya membayangkan kalau ada film panjangnya, saya ingin menjadi Anjani. Impian saya menjadi kenyataan,” kata Eva.

Adapun Dian mengaku dia mengidolakan tokoh Kinan. “Saya merasa bahagia ketika ditawari peran ini,” katanya.

Yunita Siregar menyampaikan dia belajar dari tokoh Asmara Jati, adik Laut. “Bagaimana menyelami rasa kehilangan dengan lembut, tanpa pernah kehilangan kekuatannya,” katanya. 

Asmara Jati adalah tiang keluarga. Ayah dan ibunya tak kunjung percaya bahwa putra mereka, Biru Laut, hilang tanpa jejak. Tahun-tahun berlalu , mereka meyakini Biru Laut masih hidup. Sementara Asmara Jati yakin kakaknya sudah tiada.

Sutradara Yosep Anggi Noen mengarahkan para pemain selama 37 hari syuting diSemarang, Salatiga, Jakarta, dan Sukabumi. Anggi mengungkapkan proses penggarapan Laut Bercerita cukup sulit dan penuh tantangan. “Selain menyajikan cerita yang sudah dipahami oleh pembaca novelnya, di film ini saya harus menghadirkan penceritaan yang bisa diikuti oleh penonton secara umum,” kata Anggi.

“Kami bersyukur film panjang perdana kami ini didukung oleh para pemain berbakat,” ujar Direktur Pal8 Pictures, Budi Setyarso. “Kami berharap film Laut Bercerita bisa memberikan inspirasi untuk banyak orang,” Budi menambahkan. “Semangat persahabatan dan persaudaraan anggota Winatra itulah yang kami ingin tularkan kepada penonton film ini.”

Gita Fara yang juga menjadi produser film pendek dengan judul sama pada 2017 mengungkapkan, pada film panjang, penonton akan dapat menikmati cerita yang lebih utuh tentang perjalanan Biru Laut. “Kami merasa cerita ini semakin relevan untuk saat ini. Kami ingin menekankan aspek keluarga, kehilangan, dan harapan,” ujar Gita Fara.

Film ini terpilih dalam program Work-in-Progress (WIP) di Hong Kong - Asia Film Financing Forum (HAF) 2026, dan akan berjejaring dengan calon mitra kolaborator di Hong Kong Filmart pada 17–19 Maret 2026. 

Film “Laut Bercerita” akan tayang dibioskop di seluruh Indonesia tahun 2026 ini.

Senin, 23 Februari 2026

Ghost in the Cell Merilis Official Trailer! Film ke-12 Joko Anwar yang Paling Menghibur, Menyatukan Horor dan Komedi Satir Tentang Situasi Indonesia

 


Tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026


Jakarta, 23 Februari 2026 — Setelah mendapat sambutan dan antusiasme tinggi dari penonton internasional di ketika world premiere di Berlin International Film Festival 2026, film terbaru persembahan Come and See Pictures, Ghost in the Cell merilis official trailer yang menjanjikan tontonan yang sangat menghibur dan berisi!

Menampilkan kengerian yang ada di penjara, saat para napi dalam ruang terbatas dihantui oleh kekacauan yang meneror.

Menampilkan deretan aktor terbaik Indonesia, film ke-12 penulis dan sutradara JokonAnwar ini menggabungkan aspek horor supranatural, satir tentang politik dan situasi sosial yang terjadi di Indonesia, dikemas dengan cara yang memanjakan penonton secara visual dan audio.

Ghost in the Cell dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey,Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.


Penulis dan sutradara Joko Anwar mengungkapkan cerita di film Ghost in the Cella dalah miniatur kehidupan rakyat, yang saat ini seperti sedang hidup di dalam penjara.

“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar penulis dan sutradara Joko Anwar.

“Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena ngeliat kehidupan kita sendiri,” tambah Joko.

Produser Tia Hasibuan menambahkan, desain produksi film Ghost in the Cellm enerapkan pendekatan yang efektif dan efisien. Proses produksi yang hanya membutuhkan waktu 22 hari, yang hanya menggunakan setengah hari di setiap harinya, membuat seluruh jajaran kru dan pemeran pun merasa nyaman.

“Kami mengambil gambar dari pagi dan berakhir saat jam makan siang. Jadi meskipun waktu produksi kami 22 hari, itu bisa dibilang terasa seperti 11 hari waktu produksi. Di film ini, kami juga menggunakan pendekatan yang hampir seluruhnya menggunakan one shot take. Jadi sejak pra-produksi juga sudah dipersiapkan secara matang,” ujar produser Tia Hasibuan.


Di film ini, Joko juga menggunakan pendekatan yang berbeda. Dalam pengambilan gambar, Ghost in the Cell pun didesain layaknya pertunjukan teater, dengan total hanya 43 scene (film biasanya berisi sekitar 120 scene), dengan setiap adegan bisa berdurasi panjang. Sebab itu, jajaran ansambel di film ini adalah para aktor terbaik Indonesia, untuk mewujudkan hasil yang maksimal.

Abimana, yang memerankan karakter Anggoro dan menjadi pemeran utama di film ini menuturkan, Joko memberinya kebebasan artistik dalam menerjemahkan karakternya saat berakting. Baginya, film ini akan membuka mata dan pikiran banyak orang Indonesia untuk berefleksi terhadap apa yang terjadi saat ini.

“Meski latarnya adalah penjara dan para karakternya adalah para napi, bagi saya ini seperti gambaran yang jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang. Justru, dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme untuk melakukan sebuah tindakan, saat kita tidak bisa bergantung dan mengandalkan institusi resmi,” ujar Abimana.

Film Ghost in The Cell diproduksi oleh Come and See Pictures, bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures. Barunson E&A juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.

Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026! 



Kamis, 19 Februari 2026

Film Pelangi di Mars "Keliling Langit Indonesia" Lewat Balon Raksasa Jelang Rilis Lebaran 2026

 


Jakarta, 19 Februari 2026 - Sebagai bagian dari rangkaian promosi menuju penayangan pada Lebaran 2026, film Pelangi di Mars menghadirkan instalasi balon raksasa yang akan menghiasi langit Indonesia sepanjang bulan ini.

Balon berukuran besar tersebut resmi diluncurkan dalam sebuah press conference yang dilaksanakan di SCBD Tunnel BEJ. Balon ini akan mulai tampil di kawasan SCBD mulai 19 Februari 2026 sebelum melanjutkan perjalanannya ke beberapa titik lainnya di Indonesia. Dalam perjalannya Pelangi Di Mars akan terus dikembangkan untuk bisa menjadi sebuah Intellectual Property(IP) kebanggan Indonesia yang bisa bersaing di kancah global.

Turut hadir meramaikan peluncuran tersebut adalah produser Dendi Reynando, sutradara Upie Guava, pemeran utama Messi Gusti, pengisi suara Bimoky dan Kristo Immanuel, serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar yang turut memberikan dukungan terhadap film ini.



Simbol Bahwa Cerita ini Milik Semua Orang

Produser Dendi Reynando menyampaikan bahwa kehadiran balon raksasa ini merupakan simbol dari semangat film Pelangi di Mars yang ingin menjangkau semua kalangan. "Balon ini kami hadirkan sebagai simbol bahwa Pelangi di Mars adalah cerita untuk semua orang. Kami ingin film ini terasa dekat, bisa dilihat, dan dirasakan bersama, bahkan sebelum penonton masuk ke bioskop. Harapannya Pelangi di Mars dapat menjadi IP asli Indonesia yang memiliki hidup panjang, lebih dari hanya satu film, dan terus menjadi kebanggaan keluarga Indonesia," ujar Dendi Reynando.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan apresiasi atas skala dan ambisi proyek ini. "Kami bangga dapat mendukung Pelangi di Mars sebagai salah satu film Indonesia yang menunjukkan pencapaian besar dari sisi skala produksi dan kualitas visual. Film ini adalah bukti bahwa industri kreatif kita mampu menghadirkan karya ramah anak yang berkualitas dan relevan," ungkap Irene Umar.

Mahakarya Pictures selaku rumah produksi percaya bahwa spirit baik yang ada di dalam filmnya bisa membawa dampak besar dan memberikan banyak manfaat untuk penonton. Hal ini akan semakin besar jika didukung oleh berbagai pihak yang memiliki value yang sama. Peluncuran Giant Balloon ini, tidak akan berhasil jika tidak mendapat dukungan yang besar dari kawasan SCBD sebagai salah satu ikon kota Jakarta.

"Melalui dukungan terhadap film Pelangi di Mars, Artha Graha Peduli bersama SCBD, SCBD Park, dan Creative Event Entertainment (CEE) sebagai bagian dari Artha Graha Group meyakini bahwa talenta lokal memiliki ruang yang luas untuk terus tumbuh dan bersinar. Kami percaya, kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam mendorong kreativitas anak bangsa sekaligus mempercepat pertumbuhan industri kreatif Indonesia agar semakin berdaya saing di tingkat nasional maupun global.", ungkap perwakilan Artha Graha Group.

Peluncuran balon raksasa ini melanjutkan momentum setelah perilisan official trailer resmi pada pekan lalu. Film ini mengisahkan perjalanan Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars dan bersama teman-teman robotnya meneruskan misi ibunya untuk menemukan mineral yang dapat membantu mengatasi krisis air di Bumi.

Pelangi di Mars dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata, serta menampilkan penampilan suara dari Kristo Immanuel, Bimoky, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya.


Siap Menjelajahi Mars: Lebaran 2026!

Kehadiran balon raksasa di berbagai titik kota ini diharapkan dapat menjadi pengalaman visual yang mengajak publik semakin dekat dengan dunia Pelangi di Mars. Ingin bertemu Pelangi dan teman-teman robotnya duluan? Lihat ke langit, dan mungkin kalian juga dapat berkesempatan menyaksikannya!

Pelangi di Mars dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada momen Lebaran, 18 Maret 2026. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun media sosial resmi @pelangidimars dan @mahakaryapictures.

Pertama Kali Dipasangkan, Rizky Nazar dan Laura Moane Bangun Chemistry Manis di Vidio Original Series 'A dan Z: InsyaAllah Cinta'

 

Siap Temani Ramadan Kamu, Tayang Mulai 19  Februari 2026


Jakarta, 19 Februari 2026 - Menyambut bulan Ramadan, Vidio kembali menghadirkan tontonan baru yang fresh, manis, dan bikin senyum-senyum sendiri. Vidio Original Series A dan Z: InsyaAllah Cinta hadir sebagai kisah romantis yang dibintangi oleh Rizky Nazar, Laura Moane, Zoe Jackson, Anya Taroreh, Yusuf Kartiko dan masih banyak lainnya. Series ini merupakan adaptasi dari cerita Wattpad karya Erlis Kurniyanti berjudul A dan Z, yang telah dibaca lebih dari 29 juta kall. Lewat kisah cinta yang sederhana tapi bermakna, series ini siap menjadi teman di bulan Ramadan dengan cerita yang hangat, manis, dan relatable

A dan Z: InsyaAllah Cinta mengisahkan tentang Zara (Laura Moane), searang mahasiswi kedokteran yang menerima amanah terakhir dari kakaknya, Fara (Zoe Jackson), sebelum meninggal dunia untuk menikahi laki-laki yang telah dijodohkan dengannya. Amanah tersebut membawa Zara ke dalam pernikahan yang tak pernah la bayangkan sebelumnya. Meski sudah menyandang status sebagai istri, Zara tetap menjalani hari-harinya seperti anak muda pada umumnya: berkumpul bersama teman-teman, bermain padel, hingga sesekali pergi ke pantai untuk melepas penat. Sisi inilah yang membuat ceritanya terasa dekat dan relevan dengan generasi sekarang, sekaligus menghadirkan kontras saat disandingkan dengan sosok Abyan yang lebih dewasa dan tenang.

Di sisi lain, ada Abyan (Rizky Nazar) στοu yang akrab disapa Gus Abyan, putra pemilik pesantren yang sejak awal terikat dalam perjodohan tersebut sebagai bentuk balas budi karena pendidikan 52 nya dibiayai oleh ayah Zara. Sosok Abyan digambarkan sebagai pria yang matang, tenang, dan bertanggung jawab, serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Pertemuan dua karakter dengan latar belakang dan cara pandang berbeda inilah yang membuat perjalanan rumah tangga mereka penuh dinamika dan proses pendewasaan.



4 Alasan A dan Z: InsyaAllah Cinta Wajib Masuk Watchlist Ramadan Kamu!


1. Adaptasi dari Wattpad dengan 29 Juta Pembaca

Cerita ini diadaptasi dari wattpad populer karya Erlis Kurniyanti yang telah dibaca lebih dari 29 juta kali. Antusiasme pembaca yang besar membuktikan bahwa kisah A dan Z sudah memiliki bosis penggemar yang kuat sebelum diangkat menjadi series. Laura Moane mengaku sempat merasa excited sekaligus deg-degan scat mengetahui kisah ini akan diadaptasi.

"Karena ini diadaptasi dari Wattpad, Jujur pertama kali tahu aku langsung excited tapi juga deg-degan. Cerita yang sudah punya pembaca setia pasti punya ekspektasi tinggi. Tapi karena kami banyak diskusi soal karakter bareng penulisnya, rasanya jadi lebih tenang dan terarah," ujar Laura.

Penulis Erlis Kurniyanti, juga menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya melihat karyanya berkembang hingga ke layar

"Sejak pertama kali A dan Z ditulis di Wattpad pada Agustus 2021, lalu sampai akhirnya diadaptasi menjadi serial di 2026, Ini perjalanan yang panjang dan penuh proses. Aku senang sekail karena para pemainnya sesuai dengan visual yang selama ini aku bayangkan," ungkap Erlis.

Antusiasme pembaca pun turut mewarnal proses produksi. Fanbase A dan 2 yang menginisiasi project bertajuk Gift of Light sebagai bentuk dukungan terhadap adaptasi serial ini.


2. Romansa yang Tidak Instan, Dimulai dari Kehilangan dan Amanah

Berbeda dari romansa kebanyakan yang diawali pertemuan manis atau cinta pada pancangan pertama, A dan Z: InsyaAllah Cinta justru bertolak dari kehilangan dan amanah yang tok terduga. Fondasi cerita ini dibangun dari dinamika emosional yang lebih dalam, ketika dua orang dipersatukan oleh keadaan, bukan oleh rasa yang sudah tumbuh.

Sutradara Key Mangunsong menjelaskan bahwa pendekatan tersebut sengaja dipilih untuk menghadirkan perjalanan cinta yang lebih realistis

"Romansa biasanya dimulai dari ketertarikan. Tapi di series ini, cinta justru dimulai dari kehilangan dan kesalahpahaman. Cinta mereka adalah keputusan untuk bertahan, belajar memahami, dan memaafkan kekurangan," ungkap Key.

Hal senada disampaikan Rizky Nazar, yang melihat kisah ini sebagal refleksi tentong penerimaan.

"Series ini bukan cuma soal pernikahan, tapi soal ikhlas dan menerima takdir yang nggak pernah kita rencanakan. Dua orang yang awalnya terpaksa bersama, belajar bertahan, percaya, dan melihat bahwa rencana Allah sering kali jauh lebih indah dari yang kita susun sendiri. Penonton harus siapin hati, karena ceritanya hangat, tapi juga ngeria banget," ujar Rizky.



3. Chemistry Baru yang Fresh di Layar

Mempertemukan Rizky Nazar dan Laura Moane sebagai pasangan utama, series ini menghadirkan dinamika karakter yang kontros namun saling melengkapi. Sosok Gus Abyan yang matang, tenang, dan penuh pertimbangan dipertemukan dengan Zara yang ceria, spontan, dan emosional. Perbedaan inilah yang membuat interaksi keduanya terasa hidup.

Rizky mengaku proyek ini menjadi pengalaman boru baginya karena untuk pertama kalinya dipasangkan dengan Laura.

"Ini pertama kalinya aku satu project dengan Laura. Ternyata orangnya sangat menyenangkan dan enak banget diajak kerja sama. Kita jadi sering ngobrol, diskusiin adegan, bohkan bercanda juga di set supaya nggak terlalu tegang. Menurut aku itu penting banget supaya chemistry-nya kebangun secara natural. Jadi waktu di depan kamera, hubungan Abyan dan Zara terasa lebih mengalir karena kita sudah nyaman satu sama lain," ujar Rizky.


4. Romance Religi yang Ringan dan Relatable

Tak hanya menyuguhkan dinamika rumah tangga dan romansa yang tumbuh perlahan, A dan Z: InsyaAllah Cinta juga menghadirkan pesan religius yang disampaikan secara hangat. Nilai tentang keikhlasan, komitmen, serta percaya pada rencana Allah menjadi benang merah cerita yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan terasa semakin dekat dengan suasana Ramadan.

Sutradara Key Mangunsong menegaskan bahwa pendekatan religi dalam series ini tidak dibuat menggurui, melainkan mengalir melalui tindakan para karakter.

"A dan Z memang tidak berceramah, Nuansa religi hadir lewat cara karakter mengambil keputusan yang didasari kesabaran, keikhlasan, dan kepasrahan yang relevan dengan problematika hidup sehari-hari," kata Key.

Religi bukan ditampilkan lewat dialog panjang, melainkar lewat sikap dan proses pendewasaan. Dengan pendekatan tersebut, A dan Z: InsyaAllah Cinta menghadirkan romance religi yang tidak terasa kaku.

Hal serupa juga disampaikan oleh Laura Moane, yang melihat kekuatan cerita ini ada pada penyampaian pesannya yang ringan namun tetap bermakna.

"Banyak pesan-pesan yang disampaikan melalui series ini, tapi dibalut derigan ringan sehingga bisa lebih kena ke generasi muda. Jadi nggak terasa berat atau menggurui, justru terasa dekat dan relate sama kehidupan sekarang," ujar Laura.


A dan Z: InsyaAllah Cinta Tayang Mulai 19 Februari 2026 di Vidio!

Dengan kisah yang hangat, emosional, dan penuh makna tentang keikhlasan serta kepercayaan pada rencana Tuhan, A dan Z: InsyaAllah Cinta siap menjadi tontonan yang tak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh hati. Perjalanan cinta yang tumbuh dari kehilangan dan amanah ini menghadirkan romansa religi yang ringan, relatable, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jangan lewatkan Vidio Original Series A dan Z: InsyaAllah Cinta yang tayang mulai 19 Februari 2026, eksklusif hanya di Vidio.


A dan Z: InsyaAllah Cinta - Informasi

Title : A dan Z: InsyaAllah Cinta

Production : Screenplay Films

Genre : Drama, Comedy

Director : Key Mangunsong

Producer : Wicky V Olinda

Executive Producers : 

• Sutanto Hartono

• Mark Francis

• Kristo Damar

• Aaron Levitz

• David Madden

• Renas Makki

• Anthony Buncio


Co-Executive Producer : Christina Tan

Co-Producer : Agus Wijaya Aidi

Creative Producer : Muhammad Taufik

Based on the : A dan Z by Erlis Kurniyanti

Hit Wattpad Story Written By : 

• Erwin Falah

• Keke Mayang

• Candra Aditya


Cast: 

• Rizky Nazar sebagai Abyan

• Laura Moane sebagai Zara 

• Zoe Abbas Jackson sebagai Fara 

• Anya Taroreh sebagai Syafa 

• Yusuf Kartiko sebagai Hans 

• Agni Pratistha sebagai Umi  

• Imran Ismail sebagai Farid  

• Ratu Aulia sebagai Citra 

• Santana sebagai Abi

• Ferdi Ali sebagai Ahmad

• Adam Farrel sebagai Gamal

• Suhell Bisyir sebagai Rio

Senin, 16 Februari 2026

Film Terbaru Rachel Amanda dan Iqbaal Ramadhan dari Sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut World Premiere di Hadapan Hampir 2000 Penonton dan Mendapatkan Respons Positif di Berlinale 2026

 

Berlin, 15 Februari 2026 — Film terbaru rumah produksi Palari Films yang
disutradarai Edwin, Monster Pabrik Rambut baru saja melakukan world premiere
(penayangan perdana) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Tayang
di program Berlinale Special Midnight, world premiere Monster Pabrik Rambut
berlangsung pada Sabtu, 14 Februari 2026 di Uber Eats Music Hall, Berlin, Jerman.
World premiere juga turut dihadiri oleh sutradara Edwin, duo produser Meiske
Taurisia dan Muhammad Zaidy, serta jajaran pemeran Rachel Amanda, Iqbaal
Ramadhan, Sal Priadi, Luqman Hakim (Kak Kev) dan Aryani Willems.

Film Monster Pabrik Rambut pun mendapat sambutan yang meriah di hadapan
hampir 2000 penonton! Sekaligus menggugah dan mengguncang penonton
Berlinale, saat film ini menghadirkan visual yang menyeramkan mulai dari teror
‘hantu’ hingga matinya satu per satu para buruh di pabrik rambut.

“Di film Monster Pabrik Rambut saya mencoba mengeksplorasi berbagai gabungan
genre mulai dari horor, body-horror, dark comedy, hingga fantasi. Melalui
pendekatan film genre, saya ingin mengajak penonton untuk berefleksi terhadap
situasi yang terjadi saat ini, ketika hal seperti workaholic menjadi sebuah pujian,
alih-alih menjadi hal yang perlu kita kritisi,” ujar penulis dan sutradara Edwin.
Cineuropa dalam ulasannya menyebutkan, unsur kekerasan yang kocak sekaligus
sadis yang ada di film ini saja sudah cukup menjamin film ini mendapat tempat di
berbagai festival film genre internasional bergengsi. Namun, ada hal lain yang juga
ditawarkan film ini, selain unsur sadis dan horornya.

“Sisi yang lebih tenang dan sedih mengangkat film ini lebih dari sekadar hiburan
belaka. Ini seperti gaya Ken Loach namun dengan kesurupan iblis dan mata yang
dicungkil. Film genre terbaik selalu menyembunyikan sesuatu yang lebih dari
sekadar hantu masa lalu dan menyajikan lebih dari sekadar adegan jumpscares,”
tulis Cineuropa.


“Senang sekali Monster Pabrik Rambut mendapat respons positif dari audiens
internasional di Berlinale. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan film
ini dan mendapat respons positif juga saat tayang di Indonesia,” tambah pemeran
Iqbaal Ramadhan.

Sebelumnya, para kru dan pemeran Monster Pabrik Rambut juga menghadiri
Opening Gala Berlinale ke-76 yang berlangsung pada Kamis, 12 Februari 2026.
Sementara itu, film Monster Pabrik Rambut masih akan tayang di Berlinale
sebanyak lima kali hingga 22 Februari 2026 di berbagai lokasi berlangsungnya
festival.

Program Berlinale Special Midnight merupakan program khusus di Berlinale yang
mengkurasi karya-karya inovatif dan beragam dari berbagai dunia, termasuk
film-film genre.

Film ini ditulis Edwin bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga. Diproduseri
oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut menjadi
ko-produksi internasional antara Indonesia (Palari Films dan Beacon Film),
Singapura (Giraffe Pictures), Jepang (Hassaku Lab), Jerman (In Good Company),
dan Prancis (Apsara Films).

Sebelumnya, film panjang kedua Edwin, Kebun Binatang (Postcards from the Zoo,
2012) berkompetisi di program utama (Main Competition) Berlinale ke-62. Film
Aruna & Lidahnya (2018) juga pernah ditayangkan di Berlinale dalam program
Culinary Cinema. Film pendeknya, Trip to the Wound (2007) juga turut ditayangkan
di Berlinale 2009.

Film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) segera tayang di bioskop Indonesia
tahun 2026! 
***

Tiket World Premiere Ghost in the Cell Sold Out! Film Terbaru Joko Anwar Dapat Sambutan Meriah dari Penonton Berlinale Ghost in the Cell akan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026

 



Berlin, 14 Februari 2026 — Film horor komedi satir terbaru dari penulis dan

sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah saat

penayangan perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival

(Berlinale) 2026! Antusiasme untuk film ini sudah terasa sejak penjualan tiket untuk

seluruh pemutaran film ini terjual habis (sold out), hingga saat world premiere film

ini mendapat tepuk tangan gemuruh dan respons positif dari para penonton.

Di Berlinale 2026, film Ghost in the Cell diputar dalam program Forum, yang dikenal

sebagai program yang menampilkan kurasi film-film dengan visi sinematik yang

kuat, berani secara bentuk, serta tajam dalam membaca realitas sosial dan politik. Di

Berlinale, Ghost in the Cell diputar selama empat kali pada 13–22 Februari 2026,

atau selama festival film tersebut berlangsung.


“Kami ingin bikin film yang benar-benar menghibur. Tapi ketika film selesai, akan

ada pemikiran yang nempel di kepala mereka tentang situasi hidup di Indonesia,”

kata penulis dan sutradara Joko Anwar. Sambutan penonton ketika film

diputar di Berlinale merefleksikan ini. Penonton tertawa lepas dan berteriak-teriak

tepuk tangan sepanjang film. Di sesi tanya jawab, penonton mengklaim Ghost in the

Cell sebagai “masterpiece”, “luar biasa lucu”, “menakutkan”, dan “sarat tonjokan

politik dan sosial”.



Di film ini, Joko mengeksplorasi elemen horor supernatural—yang dalam dekade

terakhir ia selalu memberikan penyegaran genre tersebut—terasa menjadi sesuatu

yang tak terelakkan, alih-alih sekadar sebagai tontonan yang hanya menghibur. Joko

menyebutkan, di film Ghost in the Cell ia ingin lebih berfokus pada karakter secara

mendalam, tak hanya sekadar mengandalkan bangunan set yang ada di filmnya.

“ini adalah film kami yang paling menghibur saat ini tapi juga reflektif,” tambah

Joko.


Produser Tia Hasibuan mengungkapkan perasaan leganya setelah Ghost in the

Cell mendapat sambutan yang meriah dan antusias dari audiens internasional.

“Cerita di film ini sangat merefleksikan apa yang terjadi dengan dinamika yang ada

di Indonesia. Namun, saat melihat respons penonton dari luar Indonesia di

Berlinale, ternyata horor komedi satir ini juga bisa relate dengan mereka. Semoga

sambutan positif ini berlanjut saat filmnya tayang di Indonesia pada 16 April 2026.”


Ghost in the Cell akan menjadi persembahan karya sinematik terbaru dari maestro

Joko Anwar, yang pada akhir tahun lalu ia dianugerahi gelar tanda kehormatan

sekaligus penghargaan tertinggi kebudayaan oleh Pemerintah Prancis, Chevalier de

l'Ordre des Arts et des Lettres. Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengakuan

pencapaian artistik Joko dalam dua dekade perjalanannya di perfilman Indonesia.

Karya terakhir yang disutradarainya, Pengepungan di Bukit Duri, juga

memenangkan Piala Citra FFI 2025 terbanyak, (5 Piala Citra), dan meraih 3

penghargaan di Festival Film Pilihan Tempo.


Tonton, rasakan, dan renungkan karya terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell mulai

16 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia! Ikuti terus informasi terbaru dan

perkembangan film Ghost in The Cell di Instagram @comeandseepictures.

***

Film Antara Cinta, Mama, dan Surga: Drama Restu, Cinta, dan Pergulatan AnakOrang Tua dalam Balutan Budaya Batak

 

Film karya PIM Pictures yang bekerja sama dengan HKBP dan BPODT ini mengisahkan konflik emosional antara keluarga, cinta, dan pilihan hidup yang tidak mudah, dibalut dalam bahasa cinta Nommensen yang penuh makna.

Jakarta, 16 Februari 2026 – PIM Pictures memperkenalkan film terbaru mereka Antara Mama Cinta dan Surga kepada publik dan media dalam rangkaian Press Screening & Press Conference di Epicentrum XXI. Film ini menghadirkan drama keluarga yang mengangkat konflik klasik namun relevan lintas generasi: pilihan antara cinta, restu orang tua, dan masa depan. Film ini akan tayang di bioskop mulai 19 Februari 2026,

Disutradarai oleh Agustinus Sitorus, film ini tidak hanya menyuguhkan kisah personal seorang anak yang terhimpit ekspektasi keluarga, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang komunikasi, pengorbanan, dan makna restu dalam keluarga Batak.

Film ini bercerita tentang Bernard (Aldy Maldini), anak bungsu Batak yang diinginkan menjadi seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) sesuai tradisi keluarga. Namun, bertemu dengan Nommensen dalam beberapa mimpi spiritual membuatnya merasa terpanggil menjadi pendeta. Keputusannya memicu konflik dengan sang Mamak (Dharty Manullang) dan mengguncang hubungannya dengan Anindita (Anneth Delliecia), di tengah benturan iman, cinta, dan nilai keluarga.

Saya memilih konflik ini karena keluarga, cinta, dan keyakinan adalah tiga hal yang paling sering bertentangan dalam kehidupan nyata, namun jarang dibicarakan secara jujur. ujar Agustinus.

Konflik antara tradisi keluarga Batak, panggilan iman, dan pilihan hidup generasi muda digambarkan melalui konflik batin anak bungsu yang terhimpit antara keyakinan, cinta, dan harapan keluarga. Tekanan yang silih berganti, mulai dari dalam dirinya maupun dari lingkungan terdekat. Di tengah cinta yang tulus dan nilai-nilai keluarga yang dijunjung tinggi, perlahan menyadari bahwa setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi.

Drama Keluarga yang Relatable dan Reflektif

Dalam film ini, Bernard harus menghadapi tekanan besar dari sang ibu yang menginginkan ia menjadi Pegawai Negeri Sipil dan menikahi perempuan dengan pilihan keluarga. Di sisi lain, ia memiliki cinta dan impian yang berbeda di perantauan.

Aldy Maldini, yang memerankan Bernard, mengaku karakter ini menjadi salah satu tantangan terbesarnya sepanjang karier.

Ini pertama kali aku memerankan karakter yang benar-benar terhimpit. Biasanya karakterku dekat dengan diriku sendiri, yang seru dan suka bercanda. tapi Bernard ada di fase yang sulitdia harus memilih antara keinginannya sendiri dan harapan orang tuanya. Itu yang bikin peran ini jadi yang paling susah buat aku.

Ia juga menambahkan bahwa proses pendalaman karakter dilakukan melalui diskusi intens bersama sutradara dan lawan main Anneth Delliecia untuk memahami konflik batin Bernard yang tidak selalu meledak secara verbal, tetapi lebih banyak dipendam.

Dengan latar budaya yang kuat, film ini menyoroti tekanan sosial, makna pengorbanan orang tua, serta keberanian menentukan masa depan sendiri sebagai refleksi tentang identitas dan kehidupan.

Bagi Anneth Delliecia, film ini menjadi pengalaman layar lebar pertamanya. Ia memerankan Anindita, sosok perempuan yang berada di tengah pusaran konflik Bernard.

Anneth mengaku proses syuting menjadi pengalaman berharga, terutama karena film ini juga mengambil lokasi di Sumatera Utara.

Ini film layar lebar pertama aku, dan rasanya spesial banget. Syuting di Toba itu pengalaman yang nggak terlupakan. Selain ceritanya kuat, suasananya juga terasa sangat emosional dan dekat.

Ia juga mengungkapkan bahwa bekerja kembali bersama Agustinus Sitorus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membantunya lebih percaya diri dalam mengeksplorasi karakter.

Sosok Ibu yang Tegas, Tapi Penuh Cinta

Salah satu karakter paling kuat dalam film ini adalah sosok Mamak yang diperankan oleh Dharty Manullang. Di permukaan, karakter ini tampak dominan dan memaksakan kehendak. Namun di balik itu, tersimpan ketakutan dan kasih sayang yang besar terhadap anaknya.

Dalam sesi press conference, Dharty menyampaikan refleksi personalnya sebagai seorang ibu.

Kadang kita sebagai ibu merasa paling benar. Kita pikir pilihan kita pasti yang terbaik. Padahal anaklah yang menjalani hidupnya. Dari film ini saya belajar, jangan sampai karena kita terlalu dominan, komunikasi dengan anak justru hilang.

Ia juga menekankan bahwa karakter Mamak tidak dimaksudkan sebagai antagonis, melainkan representasi banyak orang tua yang ingin anaknya sukses dengan cara yang mereka pahami.

Salah satu kekuatan film ini adalah absennya antagonis mutlak. Setiap karakter bertindak atas dasar cinta dan keyakinan masing-masing. Konflik tidak dibangun dari kebencian, melainkan dari perbedaan cara memaknai masa depan dan kebahagiaan.

Novia Tumeang yang memerankan karakter pilihan kedua dalam hubungan cinta Bernard mengaku tertantang karena harus menghidupkan emosi yang belum pernah ia alami secara pribadi. Sementara Jenda Munthe menekankan pentingnya totalitas dalam setiap peran, besar maupun kecil.

Interaksi hangat antar pemain selama press conference juga menunjukkan kekompakan tim produksi yang solid dan suportif, mencerminkan energi positif yang turut terasa dalam filmnya.

Dibintangi juga oleh Kang Joe, Cok Simbara, Dorman Manik, Dominique Sanda, Tabitha Napitupulu, Novia Situmeang, Rany Simbolon, Fadlan Holao, Jenda Munthe, Mark Natama, dan akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 19 Februari 2026, sebagai film drama yang mengangkat realitas budaya dan konflik batin.

Minggu, 15 Februari 2026

Erma Fatima Comeback? Lukman Sardi, Bara Valentino hingga Elina Joerg Muncul di Unggahan Misterius

 

Industri hiburan kembali dibuat penasaran setelah sutradara dan produser nomor satu Malaysia, Erma Fatima, mengunggah carousel foto misterius di akun Instagram pribadinya, @ermafatima.


Tanpa keterangan detail proyek, tanpa judul resmi, dan tanpa penjelasan format, unggahan tersebut justru menampilkan momen behind the scenes yang memperlihatkan sejumlah nama besar Indonesia berada di bawah arahan Erma Fatima.



Dalam foto-foto tersebut, terlihat Lukman Sardi, Elina Joerg, Bara Valentino, serta aktris Malaysia Puteri Sarah dan Anna Jobling yang sebelumnya dikenal lewat sejumlah proyek lintas negara. Kehadiran deretan pemain ini langsung memicu spekulasi luas di kalangan media dan warganet.

Apakah ini film baru? Serial? Atau proyek kolaborasi Malaysia–Indonesia yang lebih besar dari yang dibayangkan?


Setelah hampir satu dekade tidak menyutradarai proyek besar, unggahan ini disebut-sebut sebagai sinyal kuat kembalinya Erma Fatima ke dunia penyutradaraan. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai judul, format, maupun tanggal tayang proyek tersebut.



Sikap diam Erma Fatima justru memperkuat rasa penasaran publik. Satu hal yang pasti, kombinasi nama besar seperti Lukman Sardi dan Anna Jobling di bawah arahan Erma Fatima bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan.

Publik kini hanya bisa menunggu: kejutan apa yang tengah disiapkan?

Sabtu, 14 Februari 2026

Diangkat dari Kisah Nyata Asrama Kampus, Dea Annisa Tampil Berbeda sebagai Gwen

 

Dea Annisa memerankan tokoh Gwen, seorang mahasiswi pemberani yang berusaha menguak misteri di balik kejadian aneh di asrama putri

Jakarta, 13 Februari 2026 - Industri film horor Indonesia kembali diramaikan oleh judul baru berjudul Asrama Putri, produksi Puras Production, telah menggelar Press Screening dan Press Conference film "Asrama Putri" Hari ini, di XXI Epicentrum Jakarta. Film ini digarap oleh sutradara Wishnu Kuncoro dan terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di sebuah asrama putri kampus ternama di Bogor, Jawa Barat.

Berbeda dari horor pada umumnya, Asrama Putri tidak semata mengandalkan efek kejut. Film ini lebih menonjolkan kekuatan cerita, atmosfer yang mencekam, serta konflik psikologis yang berpadu dengan isu sosial yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Diproduseri oleh Adipati Karna, Serta di Sutradarai oleh Wishnu Kuncoro film “Asrama Putri” mengangkat kisah teror hantu Sally di sebuah asrama kampus yang berkaitan dengan dendam masa lalu, bisnis prostitusi ilegal, dan kesurupan massal. Dibintangi Dea Annisa (Gwen) dan Samuel Rizal (Lazuardi), film ini mengungkap misteri buku harian kelam. 

Film “Asrama Putri” diperkuat oleh jajaran pemain Dea Annisa (sebagai Gwen), Samuel Rizal (sebagai Dosen Lazuardi), Mawar Butterfly (sebagai Mia), Monique Henry (sebagai Rektor Liza), Nasywa Auliya (sebagai hantu Sally), Nadya Ulya (sebagai Loly), Bima Prawira (sebagai Miko), Surya Rangga/Kusumah (sebagai Beny), Luz Viktoria Yamawaki, Kinara, Albrilio Imanuel, Raisya Laily, Sherly. 

Menggabungkan kisah nyata, horor psikologis, dan isu sosial, film ini berpotensi menjadi tontonan horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam.


SINOPSIS "ASRAMA PUTRI"

Kehadiran MIA sebagai Dosen baru di kampus itu secara tidak sengaja bersamaan dengan sebuah peristiwa kesurupan masal yang di alami para mahasiswa, meskipun dapat dengan mudah teratasi oleh LIZA sang Rektor, namun tidak semata menghilangkan efek pada beberapa mahasiswa, salah satunya LOLY. Mahasiswi yang tinggal sekamar dengan GWEN di ASRAMA PUTRI itu menjadi lebih sensitive dan mudah sekali kerasukan. 

Namun kerasukan bukanlah satu-satu nya masalah di kampus itu, bisnis prostitusi yang di jalankan MIKO dan BENNY juga cukup meresahkan para mahasiswa/i disitu. Semua masalah itu semakin tak terkendali Ketika hadirnya SALLY, sosok hantu Wanita berbadan sebelah manusia yang di setiap penampakannya membawa korban hingga menyebabkan kematian yang mengenaskan. 

GWEN dan MIA mencoba memecahkan semua problematika yang ada di kampus itu dan khususnya di ASRAMA PUTRI, menelusuri keterkaitan SALLY dengan semua orang yang ada di kampus tersebut. Sampai saat ditemukan nya sebuah kisah dari buku harian yang di duga milik SALLY bahwa SALLY semasa hidupnya pernah mencintai seorang Dosen Bernama Lazuardi yang pada akhirnya SALLY sangat membencinya.

Saksikan kisahnya dalam Film "Asrama Putri" yang akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 19 Februari 2026.

Jumat, 13 Februari 2026

Viu & MaxStream Mempersembahkan Tiba Tiba Brondong, Sebuah Komedi Romantis Tentang Cinta Tanpa Batas Usia

 

Dibintangi Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, dan Cinta Brian, serial 9 episode ini tayang perdana pada 13 Februari 2026 dan mengeksplorasi kekacauan romansa beda usia yang tak terduga.


PCCW (SEHK:0008) – INDONESIA, 13 Februari 2026. Viu Indonesia bersama MaxStream secara resmi mengumumkan serial original kolaborasi ketiga mereka berjudul *Tiba Tiba Brondong*, sebuah komedi romantis yang berani menantang norma sosial dan merayakan cinta tanpa batas. Serial ini akan tayang perdana secara eksklusif pada 13 Februari, tepat menjelang Hari Valentine.

Seiring meningkatnya diskusi tentang hubungan beda usia, kemandirian perempuan, dan ekspektasi sosial di berbagai platform digital, penonton kini semakin mempertanyakan norma lama tentang cinta dan pasangan hidup. Dengan konten romansa beda usia yang telah mengumpulkan lebih dari 737 juta penayangan di TikTok, topik ini menjadi perbincangan budaya yang menonjol di kalangan Gen Z dan milenial.

Dibintangi Tatjana Saphira, Fady Alaydrus, dan Cinta Brian, serial sembilan episode ini menyajikan kisah romantis yang dipadukan dengan humor dan ketegangan emosional.

*Tiba Tiba Brondong* mengikuti kisah Isabella “Bella” Rahardja (Tatjana Saphira), seorang perempuan cerdas dan sukses berusia 36 tahun yang status lajangnya tak pernah luput dari sorotan. Untuk menghindari tekanan yang terus-menerus, Bella mencoba peruntungan lewat kencan online—hingga ia menyadari bahwa pria menawan yang selama ini mengobrol dengannya, Langit (Fady Alaydrus), ternyata adalah seorang fresh graduate berusia 18 tahun.

Terkejut, Bella memutus semua komunikasi. Namun, kejutan yang lebih besar menantinya ketika Langit ternyata menjadi mahasiswa barunya di kampus.

Apa yang awalnya menjadi pertemuan canggung perlahan berkembang menjadi chemistry yang tak terbantahkan, menempatkan mereka di pusat skandal, penilaian, dan konflik emosional. Hubungan mereka diuji oleh dekan kampus yang manipulatif, ibu Langit yang gemar menjodohkan, serta kembalinya mantan Bella yang “sempurna”, Raka (Cinta Brian).

Memadukan romansa, komedi, dan cerita emosional, serial ini menghadirkan tawa, kekacauan, dan momen-momen menyentuh yang mencerminkan perjuangan cinta modern—terutama bagi perempuan yang harus menghadapi ekspektasi, penilaian, dan keinginan.

*Tiba Tiba Brondong* adalah kisah hangat dan berani yang membuktikan bahwa cinta tidak mengikuti aturan—melainkan mengikuti hati.

Penonton dapat menyaksikan *Tiba Tiba Brondong* di Viu dan MAXStream. Untuk pengalaman terbaik, penonton dapat berlangganan paket bundling MAXStream dan Viu melalui MyTelkomsel dan menikmati pengalaman menonton yang mulus di berbagai perangkat.

Viu dan MAXStream tersedia untuk diunduh gratis di App Store, Google Play, serta di smart TV tertentu, atau dengan mengunjungi [www.viu.com](http://www.viu.com) dan [www.MAXStream.tv](http://www.MAXStream.tv).

Trailer resmi dan gambar *Tiba Tiba Brondong* kini sudah tersedia.



Wujudkan Mimpi Anak Indonesia, Mahakarya Pictures Rilis Trailer Resmi Film Petualangan 'Pelangi di Mars'

 


Jakarta, 13 Februari 2026 - Mahakarya Pictures merilis trailer resmi film anak bertema petualangan dan fiksi ilmiah, Pelangi di Mars, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat 13 Februari 2026. Film ini mengangkat kisah perjalanan seorang anak Indonesia di Planet Mars yang mengemban misi penting demi mengatasi krisis air di Bumi. Dikembangkan selama lima tahun, produksi ini menggunakan teknologi Extended Reality (XR) untuk mendukung kedalaman penyampaian ceritanya.


Menghadirkan Alternatif Cerita untuk Anak Indonesia

Produser Dendi Reynando mengungkapkan bahwa kehadiran Pelangi di Mars berangkat dari kepeduliannya terhadap keterbatasan pilihan tontonan bagi keluarga di tanah air. "Pelangi di Mars lahir karena menurut saya film untuk anak dan keluarga masih sangat terbatas (under supply). Saya ingin memberikan satu alternatif untuk anak Indonesia, agar anak-anak kita memiliki cerita mereka sendiri," ujar Dendi Reynando.

Baginya, film ini adalah upaya untuk memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia agar tetap memiliki keterikatan dengan identitas dan imajinasi mereka melalui media sinema.


Cerita Pelangi Sebagai Seorang Anak, Sebagai Pusat Cerita

Berbeda dengan narasi film anak pada umumnya, Pelangi di Mars menempatkan anak Indonesia sebagai penggerak utama cerita. Tokoh utama, Pelangi (diperankan oleh Messi Gusti), digambarkan sebagai sosok yang aktif, memimpin, dan mampu membawa solusi bagi persoalan besar.

Sutradara Upie Guava menyebutkan bahwa pendekatannya dalam menggarap film ini banyak dipengaruhi oleh kegemarannya pada film fiksi ilmiah sejak kecil. Melalui film ini, ia ingin mengembalikan hak anak-anak untuk memiliki imajinasi tanpa batas.

Bagi Upie Guava, Pelangi di Mars adalah jawaban atas kegelisahannya terhadap ruang imajinasi generasi muda. "Saya ingin anak-anak percaya bahwa tidak ada batas yang tidak bisa ditembus. Di sini, anak-anak adalah pahlawannya," tegas Upie.


Kisah yang Diperkuat dengan Teknologi yang Mumpuni

Meskipun diproduksi di Studio DossGuavaXR dengan melibatkan animasi 3D dan robot interaktif, seluruh kecanggihan tersebut diposisikan semata-mata sebagai alat untuk memperkuat pesan dan emosi dalam film. Narasi "Pahlawan lahir dari keberanian" menjadi napas utama dari setiap adegan yang dihasilkan melalui proses panjang selama bertahun-tahun.

Nilai kepahlawanan yang lahir dari keberanian itu sudah bisa dirasakan dari Official trailer-nya. Penonton diajak mengikuti kisah Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, karena ia terdampar bersama ibunya, Pratiwi.

Bersama teman-teman robotnya melanjutkan misi ibu Pratiwi untuk menemukan mineral bernama Zeolith Omega yang dapat menjadi solusi untuk krisis air bersih di Bumi dan bertemu dengan ayah Pelangi.

Suasana pemutaran ini semakin semarak dengan kehadiran Messi Gusti (pemeran Pelangi) dan para pengisi suara robot ikonik: Bimoky, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya. Kejutan besar terjadi ketika lima robot dari film tersebut muncul secara nyata di lokasi acara, menyapa awak media dan memberikan pengalaman yang tak biasa saat memasuki dunia Pelangi di Mars.

Kristo Immanuel menyatakan kekagumannya terhadap kualitas yang tidak main-main dari proyek ini. "Anak-anak dan orang-orang dewasa Indonesia layak mendapatkan konten berkualitas tinggi, dan Pelangi di Mars hadir untuk itu," ungkap Kristo.


Tayang Serentak di Momen Lebaran 2026

Siapkan diri untuk petualangan keluarga paling spektakuler tahun ini. Pelangi di Mars dijadwalkan akan mengguncang layar lebar di seluruh Indonesia tepat pada momen perayaan Lebaran, 18 Maret 2026.

Trailer nya 



Kamis, 12 Februari 2026

Ruang Sempit dan Kekuasaan yang Menekan: Lift Hadir sebagai Drama Psikologis yang Relevan dengan Zaman

 


Film Terbaru Produksi Trois Films Gunakan Lift sebagai Metafora Kekuasaan dan Ketidakberdayaan


Jakarta, 13 Februari 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop pada 26 Februari 2026, kisah dalam film drama psikologis Lift semakin terasa relevan dengan masa kini. Film debut penyutradaraan Randy Chans yang diproduseri oleh Ario Sagantoro dan Adha Riantono ini menyampaikan kritik sosial dengan cara yang kreatif: tentang relasi kuasa, kontrol, dan posisi individu ketika berhadapan dengan sistem yang menekan.

Tanpa mengumbar pesan secara eksplisit, Lift merancang terornya sebagai pengalaman yang terasa dekat dengan keseharian. Sebuah lift, ruang transisi yang biasa kita masuki tanpa berpikir panjang, digunakan sebagai simbol situasi tanpa jalan keluar. Pintu tertutup, kendali berpindah tangan, dan suara dari interkom menjadi satu-satunya otoritas yang harus ditaati. Dalam kondisi tersebut, pilihan bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal bertahan hidup.

Randy Chans menyebut bahwa pendekatan ini diambil karena sangat mencerminkan sistem masyarakat kita.

“Lift itu ruang yang sangat demokratis sekaligus sangat hierarkis,” ujarnya. “Semua orang bisa masuk, tapi begitu pintu tertutup, ada sistem yang bekerja di luar kendali kita. Kami tertarik pada ketegangan itu; tentang bagaimana manusia bereaksi saat dihadapkan pada kekuasaan yang tak terlihat, tapi sangat menentukan nasib.”

Relevansi tersebut menjadi semakin kuat ketika sebagian besar cerita Lift berlangsung di satu lokasi. Sekitar 60 persen film terjadi di dalam lift, menjadikannya sebagai perangkat dramatik utama. Ruang yang sempit memaksa karakter untuk terus berhadapan dengan tekanan, tanpa kemungkinan untuk pergi, menghindar, atau “kabur” dari situasi yang ada.

Official Poster film Lift


“Di dunia nyata, sering kali kita merasa punya banyak pilihan, padahal sebenarnya sebaliknya,” ungkap Randy. “Lift bekerja dengan cara yang sama. Kamu bisa menekan tombol, tapi kamu tidak pernah benar-benar mengendalikan ke mana kamu dibawa.”

Kisah Lift berpusat pada Linda (Ismi Melinda), staf humas PT Jamsa Land, yang terjebak di dalam lift kantor enam tahun setelah kecelakaan tragis yang menewaskan banyak orang. Melalui suara misterius di interkom, Linda dipaksa mengikuti serangkaian permainan berbahaya demi menyelamatkan anaknya. Seiring permainan berlangsung, lapisan-lapisan kebenaran tentang tragedi masa lalu mulai terkuak, memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan di level atas berdampak langsung pada mereka yang berada di bawah.

Shareefa Daanish menyebut proses syuting Lift sebagai pengalaman yang intens tapi juga menarik. “Film ini seru karena ketegangannya pelan-pelan, bukan yang langsung meledak,” ujarnya. “Kita diajak masuk ke situasi yang kelihatannya sederhana, tapi makin lama makin terasa menekan. Buat aku, itu yang bikin Lift juga terasa relevan untuk hari ini. Karena kadang dalam hidup, kita juga ada di posisi yang kayak gitu.”

Terpilih sebagai Official Selection Dubai City Film Festival 2025, Official Selection AME International Film Festival 2026, Official Selection The North Film Festival Barcelona 2026, dan meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasia Fest 2025, Lift menunjukkan bahwa teror yang paling efektif sering kali lahir dari kedekatannya dengan realitas. Bukan monster, bukan dunia distopia, melainkan ruang sehari-hari yang tiba-tiba berubah menjadi ruang penuh teror.

Selain Ismi Melinda dan Shareefa Daanish, Lift turut dibintangi oleh Verdi Solaiman, Alfie Alfandy, Max Metino, Tegar Satrya, Luthfi Saputra, Annete Yules, dan Berliana Lovell. Film Lift akan tayang serentak di bioskop mulai 26 Februari 2026

Ikuti perkembangan terbaru film ini melalui akun resmi @lift.movie dan @trois.films, dan bersiaplah memasuki ruang sempit yang memaksa kita bertanya: siapa sebenarnya yang memegang kendali?




FACT SHEET

Judul : LIFT

Genre : Drama Psikologis

Durasi : 107 Menit

Tanggal tayang : 26 Februari 2025 (Bioskop)

Sutradara : Randy Chans

Produser Eksekutif : Lok S. Iman

Penulis : Aria Gardhadipura

Produser : Adha Riantono

Koproduser : Ario Sagantoro

Production House : Trois Films, Maxima Pictures


Pemain

Ismi Melinda berperan sebagai Linda

Shareefa Daanish berperan sebagai Doris

Verdi Solaiman berperan sebagai Hansen

Alfie Alfandy berperan Sebagai Mr. X

Max Metino berperan Sebagai Anton

Tegar Satrya berperan sebagai Joko

Luthi Saputra berperan sebagai Jonathan (Anak Linda)

T. Rifnu Wikana berperan sebagai Deddy

Annete Yules berperan sebagai Leoni (Asisten Doris)

Berliana Lovell berperan sebagai Dita (Sekretaris Hansen)

⁠Amelia Alfiani berperan sebagai Amel (Sekretaris Deddy)


"Masih Sempatkah Mengucap Maaf?" Momen Isak Tangis Warnai Gala Premiere Titip Bunda di Surga-Mu

 


Jakarta, 12 Februari 2026 - RRK Pictures bersama Spectrum Film dan Festival Pictures telah menggelar Gala Premiere dan Press Conference film Titip Bunda di Surga-Mu pada 12 Februari 2025 di CGV Grand Indonesia. Acara ini menjadi momen perdana film drama keluarga tersebut dipertontonkan kepada publik, sekaligus menandai sambutan hangat yang penuh emosi dari para penonton.

Gala premiere ini dihadiri oleh produser Dono Indarto, sutradara Hanny R. Saputra, serta jajaran pemain film Titip Bunda di Surga-Mu, antara lain Kevin Julio, Abun Sungkar, Meriam Bellina, Ikang Fawzi, Natalie Zenn, Arfan Afif, Chiki Fawzi, Asri Welas, dan Zora Vidyanata, yang juga bertindak sebagai penulis skenario.

Seusai pemutaran film, suasana haru menyelimuti studio. Banyak penonton tampak menitikkan air mata, terlarut dalam kisah keluarga yang disajikan dengan jujur dan dekat dengan realitas kehidupan. Cerita tentang hubungan orang tua dan anak, penyesalan, serta cinta yang kerap terlambat diungkapkan, berhasil menyentuh emosi penonton. Akting Meriam Bellina sebagai Ibu Mozza pun menuai apresiasi besar karena dinilai mampu menghadirkan sosok ibu yang hangat, kuat, dan mengharukan.

Berbicara tentang perannya, Meriam Bellina mengungkapkan makna mendalam dari karakter yang ia perankan. "Peran Ibu Mozza ini sangat penting bagi saya. Dari film ini kita belajar banyak, bukan cuma bagi anak untuk lebih menghargai rasa sayang orang tua, namun juga bagi orang tua untuk semakin berusaha mengerti anak-anaknya, tak hanya mengerti juga saling memaafkan dan menerima," ujar Meriam.

Kehangatan juga terasa dari kebersamaan para pemain yang terbangun selama proses syuting. Kevin Julio membagikan pengalamannya tentang dinamika di balik layar. "Walaupun di film ini keluarga kita banyak berantem, justru itu yang bikin kita di set terasa seperti keluarga beneran. Sampai sekarang kalau ketemu masih sering bercanda, saling usil, dan rasanya sudah dekat banget," ungkap Kevin.

Antusiasme dan respons emosional penonton di gala premiere ini menegaskan Titip Bunda di Surga-Mu sebagai film keluarga yang relevan dan menyentuh, khususnya untuk ditonton bersama orang-orang terdekat menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Turut meramaikan gala premiere, pengisi OST Nabila Maharani juga membawakan lagu "Titip Bunda di Surga-Mu" untuk para penonton yang menghadiri malam penuh emosi ini. Tak hanya itu, beberapa ibu terpilih yang menghadiri gala premiere juga diberikan mawar putih sebagai bentuk apresiasi dan simbol rasa cinta kepada sosok ibu.

Titip Bunda di Surga-Mu mengisahkan tentang Ibu Mozza (Meriam Bellina), seorang ibu yang menjadi pilar kekuatan bagi anak-anaknya di tengah badai konflik yang menguji keutuhan keluarga. Di balik senyum hangat dan ketegarannya, tersimpan luka yang tak pernah ia keluhkan, sementara anak-anaknya terjebak dalam ego dan kesibukan masing-masing.

Ketika sebuah rahasia besar terungkap dan waktu perlahan mulai habis, penyesalan mulai merayap. Akankah cinta dan maaf sempat terucap sebelum jarak abadi memisahkan mereka? Ini adalah sebuah kisah tentang bagaimana kita sering kali lupa bahwa orang tua tidak selamanya ada, dan betapa berharganya setiap detik yang masih tersisa.


Membawa Kehangatan Keluarga ke Sekolah

Dalam rangkaian kegiatan promotional, film Titip Bunda di Surga-Mu juga telah mengunjungi SMA Negeri 75 Jakarta pada 11 Februari 2026 dalam program "Up Close & Personal". Acara ini membawa Natalie Zen, Chiki Fawzi, dan Abun Sungkar untuk bertemu langsung dengan para murid dalam sesi talkshow dan meet & greet.

Tak hanya itu, hadir juga games seru serta kompetisi bernyanyi lagu OST "Titip Bunda di Surga-Mu" dengan banyak hadiah menarik yang diberikan kepada siswa-siswi beruntung.


Nonton dan Saksikan "Impact"nya Duluan di Special Screening!

Bagi penonton yang penasaran, Titip Bunda di Surga-Mu akan mengadakan special screening di tujuh kota besar di Indonesia sebelum penayangan resminya di bioskop Indonesia pada 26 Februari 2026.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan aktivitas film Titip Bunda di Surga-Mu dapat diikuti melalui akun media sosial resmi @titipbundadisurgamu dan @rrk.picture.

Selamat Datang di Dunia Na Willa", Visinema Studios Luncurkan Official Trailer & Poster, Hadirkan Perayaan Terbesar untuk Keluarga di Lebaran 2026

 

Kisah ajaib terbaru dari kreator film JUMBO yang mengajak semua orang kembali melihat dunia dengan penuh keajaiban


Jakarta, 12 Februari 2026 - Menyambut Lebaran 2026, Visinema Studios resmi merilis official trailer dan poster film Na Willa, sebuah film live action keluarga yang mengajak penonton kembali melihat dunia dari sudut pandang anak-anak dengan rasa ingin tahu yang jujur, imajinasi yang hidup, dan keajaiban yang lahir dari hal-hal sederhana.

Lebaran menjadi momen pulang, berkumpul, dan merayakan keluarga. Tahun ini, Visinema Studios menghadirkan Na Willa sebagai sebuah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran. Sebuah ajakan untuk #JadiAnakAnak kembali, melepaskan sejenak peran orang dewasa, dan mengingat bagaimana dunia pernah terasa begitu besar, penuh warna, dan penuh keajaiban.

Lahir dari kreator film JUMBO yang sukses menyentuh hati jutaan penonton Indonesia, Na Willa menjadi debut film live action dari Ryan Adriandhy, sekaligus kolaborasi kreatif dengan penulis Reda Gaudiamo, yang novelnya menjadi dasar cerita film ini. Dengan pendekatan storytelling yang khas dan penuh empati, Na Willa menghadirkan perspektif anak yang jarang diangkat dalam sinema keluarga Indonesia.

Official poster Na Willa memperlihatkan dunia imajinasi yang lahir dari mata seorang anak perempuan yang hidup di Indonesia era 1960-an. Sementara itu, official trailer mengajak penonton masuk ke pengalaman menjadi anak-anak kembali, saat ketidaktahuan bukan kelemahan, melainkan pintu menuju petualangan.

Diproduseri oleh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, serta diproduseri eksekutif oleh Herry B. Salim, Na Willa menegaskan komitmen Visinema Studios dalam menghadirkan produksi film keluarga bernilai tinggi, baik dari sisi cerita, visual, maupun pengalaman menonton lintas generasi.

"Na Willa merupakan bentuk komitmen Visinema Studios yang mengajak kita mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Ajakan untuk masuk dan merasakan sebuah dunia yang dibangun dengan imajinasi, kejujuran, dan keberanian anak-anak," ujar Anggia Kharisma, Produser Na Willa sekaligus Chief Content Officer Visinema Studios.

Official Poster Film Na Willa


"Untuk penonton dewasa, film ini seperti perjalanan menelusuri memori masa kecil, tentang keluarga, tentang rumah, dan tentang hal-hal sederhana yang dulu terasa begitu berarti. Sementara untuk anak-anak, ini adalah ruang untuk bermain, berimajinasi, bernyanyi, dan merayakan rasa ingin tahu mereka."

Lebih lanjut, Anggia menegaskan bahwa Na Willa dirancang sebagai tontonan yang aman dan hangat untuk semua kalangan.

"Na Willa adalah film yang paling aman untuk semua orang, untuk anak-anak, untuk keluarga, dan juga untuk siapa pun yang ingin kembali merasakan hangatnya keluarga dan masa kanak-kanak," tambah Anggia.

Disutradarai sekaligus ditulis oleh Ryan Adriandhy, film ini menghadirkan dunia anak tanpa menggurui."Sebagai orang dewasa, kita sering lupa bagaimana dulu kita memandang dunia," ujar Ryan

"Lewat Na Willa, saya ingin mengajak penonton melihat dunia dari mata anak-anak, mata yang jujur, penuh rasa penasaran, dan selalu menemukan keajaiban dari apa pun yang dihadirkan dunia."

Kolaborasi dengan penulis Reda Gaudiamo menjadi fondasi penting dalam membangun semesta cerita Na Willa yang hangat dan reflektif.

"Sejak awal, Na Willa selalu berbicara tentang keluarga dan proses saling belajar. Bukan hanya anak yang belajar memahami dunia, tapi juga orang tua yang belajar memahami cara berpikir anak-anak. Film ini menghadirkan nilai tentang tanggung jawab, rasa hormat, dan menerima perbedaan dengan cara yang lembut dan membumi," ungkap Reda.

Official Trailer Na Willa menghadirkan potongan masa kecil yang begitu dekat dengan keseharian: memanggil teman dari balik pagar, berlari di lapangan sambil menerbangkan layangan, hingga meneguk minuman orange cruz yang "nyekrusss" di siang hari. Warna-warna yang ceria, tawa lepas, serta kebebasan berimajinasi menjadi napas utama film ini, mengingatkan bahwa kebahagiaan lahir dari hal-hal yang sederhana.

Seperti karya Visinema Studios lainnya, musik kembali menjadi bagian penting dari film. Original soundtrack berjudul "Sikilku Iso Muni" yang diciptakan Laleilmanino hadir sebagai lagu yang tidak hanya nyaman didengar, tetapi juga dinyanyikan dan dirasakan bersama.

Film ini memperkenalkan Luisa Adreena sebagai Na Willa, bersama jajaran pemeran anak berbakat lainnya: Freya Mikhayla (Farida), Azamy Syauqi (Dul), dan Arsenio Rafisqy (Bud). Deretan pemeran dewasa seperti Junior Liem, Irma Rihi, Melissa Karim, Ira Wibowo, Putri Ayudya, Nayla Purnama, Agla Artalidia, hingga Ratna Riantiarno turut memperkaya cerita.

Bagi Luisa Adreena, Na Willa adalah pengalaman yang penuh kehangatan. "Di film ini aku banyak bermain dan berimajinasi. Mak sama Pak selalu ngajarin dengan sabar. Rasanya kayak main, tapi juga belajar." cerita Luisa Adreena.

Dalam kesempatan yang sama, Visinema Studios juga mengumumkan bahwa film Na Willa akan menjadi pembuka dari Na Willa Universe, sebuah semesta cerita yang akan tumbuh dan menemani keluarga dan masyarakat Indonesia.

Na Willa akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada Lebaran 2026, sebagai sebuah perayaan hangat untuk semua orang, sebuah ajakan untuk pulang, berkumpul, dan kembali #JadiAnakAnak.


***

Trailer Na Willa



Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama, Keluarga

Sutradara : Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya, dan Ratna Riantiarno.

MAGMA Entertainment Rilis Poster Resmi Film 'Badut Gendong': Memperkenalkan Wajah Baru dari Universe Qodrat

  Jakarta, 18 Maret 2026 - Rumah produksi MAGMA Entertainment resmi menyingkap tabir misteri dari proyek horor-aksi terbarunya, Badut Gendon...