Rabu, 01 April 2026

Momen Haru Reda Gaudiamo dan Ibu Farida di Surabaya, Kisah Nyata di Balik Na Willa yang Telah Dirasakan Hampir Satu Juta Penonton

 

Pertemuan dua sahabat masa kecil di Gang Krembangan hidup kembali di layar lebar, persahabatan yang tak lekang waktu.

Jakarta, 1 April 2026 — Momen haru dan hangat tercipta dalam nobar film Na Willa di Tunjungan Plaza 1 XXI, Surabaya pada Selasa, 31 Maret 2026. Untuk pertama kalinya dalam momen yang begitu istimewa, penulis sekaligus inspirasi cerita Na Willa, Reda Gaudiamo, kembali dipertemukan dengan sahabat masa kecilnya, Ibu Farida, sosok nyata yang turut hidup dalam cerita film ini.

Keduanya adalah bagian dari kisah nyata di balik Na Willa, yang diangkat dari pengalaman masa kecil Reda di Krembangan, Surabaya. Setelah lebih dari enam dekade, dua sahabat kecil ini kembali duduk berdampingan di dalam bioskop, menyaksikan potongan-potongan memori masa kecil mereka yang kini hidup di layar lebar.

Suasana menjadi begitu emosional ketika beberapa adegan di film Na Willa membuat Ibu Farida berkaca-kaca. Salah satunya adalah adegan ketika Na Willa ingin ikut mengaji bersama Farida, momen sederhana yang kini terasa begitu dalam dan penuh makna.

Di film ini, Farida diperankan oleh Freya Mikhayla, sementara Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena. Sosok Farida digambarkan sebagai anak yang ceria, tidak bisa mengucap huruf 'R', dan menjadi teman terdekat Willa, yang merupakan sosok dari Reda kecil. Keduanya menghadirkan kembali dinamika persahabatan masa kecil yang jujur, hangat, dan penuh keceriaan, sebuah refleksi dari kisah nyata yang pernah terjadi.

"Terima kasih yang sudah menonton Na Willa. Apa lagi yang sudah menonton berkali-kali. Saya sangat berharap, film ini bisa membawa teman-teman kembali bahagia, kembali ke masa kecil, bisa tetap bertemu dan menyambung hubungan dengan teman lamanya," ujar Reda Gaudiamo.

"Nontonnya ikut terharu. Pas nonton itu, kok Faridanya mirip sekali sama saya pas kecil ya. Apalagi saat adegan mengaji dan salat. Si Linda, nama kecil Reda Gaudiamo, ambil sprei, aduh, terharu sekali nontonnya, tidak bisa berkata-kata," kenang Ibu Farida usai menonton film Na Willa.

Tak hanya menghadiri nobar Film Na Willa bersama Ibu Farida, Reda juga menyempatkan ke Krembangan, tempat masa kecilnya tumbuh. Ia mengunjungi rumah Ibu Farida, dan keduanya kembali berpelukan, seperti dua sahabat lama yang tak lekang oleh waktu tengah melepas rindu.

Meski banyak hal telah berubah di Krembangan, bagi Reda tempat ini tetap menyimpan kenangan yang begitu dalam. Terlebih, masih ada sahabatnya yang menetap di sana, Farida.

"Masa kecil saya di Surabaya, dan itu menjadi setting cerita Na Willa. Tumbuh di Surabaya dengan berbagai macam teman dan tetangga dari berbagai ras, dan itu menjadi bagian penting dari cerita ini," ujar Reda Gaudiamo.

"Apakah ini cerita saya? Latar belakangnya iya, setting-nya iya, tokoh-tokohnya juga ada semua di dalam kehidupan saya. Ada Farida, ada Dul, ada Bud, mereka adalah teman-teman kecil saya," kata Reda.

"Saya dulu berjanji mau pulang cepat, segera pulang. Tapi saya ternyata tidak pernah pulang, namun janjinya sekarang sudah terpenuhi, meskipun di saat kami sudah sama-sama tua," kenang Reda tentang janjinya kepada Farida saat ia pindah dari Krembangan.

"Dulu bilangnya sebentar, eh hampir 66 tahun baru ketemu lagi. Dia bilangnya sebentar. Jangan ditinggalin lagi ya sekarang," kata Ibu Farida.

Sementara itu, film Na Willa telah meninggalkan kesan yang mendalam bagi ratusan ribu penontonnya. Termasuk salah satunya produser, sutradara dan penulis Ernest Prakasa. Menurut Ernest, film Na Willa mampu menyeimbangkan sisi edukasi dan juga hiburannya. Secara terbuka ia menyampaikan apresiasinya terhadap film ini.

"Buat gue, Na Willa adalah film yang yang luar biasa, bagus banget. Nggak bakal nyesel deh nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini," kata Ernest Prakasa.

Ernest memuji hampir semua aspek yang ada di film Na Willa. Mulai dari peran Luisa Adreena yang menurutnya sesuatu yang sangat luar biasa, hingga peran Mak yang dibawakan oleh Irma Rihi. Pujian Ernest juga ditujukan untuk pilihan metode pendekatan yang diambil oleh sang sutradara, Ryan Adriandhy dalam menyajikan visual dan sudut pandang di film.

"Ryan kan pernah bilang di behind the scene, bahwa dia bukan bikin Surabaya tahun '60-an, tapi bikin Surabaya tahun '60-an di mata seorang Na Willa yang usianya 6 tahun. Dan menurut gue, ini sebuah treatment yang jitu untuk film ini karena eye candy banget, production design-nya teliti banget, hal-hal kecil tuh diperhatiin banget," puji Ernest.

"Mata kita dimanjakan sama visual yang cakep banget. Udah gitu, akting. Nah, ini yang menurut gue gila banget. Akting si Na Willa dan Mak, dua-duanya tuh buat gue istimewa sekali. Gue cukup yakin, Mak akan dapat nominasi FFI sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik," ungkap Ernest.

Lebih dari sekadar film, Na Willa telah menjadi pengalaman emosional yang kini sedang dirasakan banyak orang, sebuah perjalanan pulang ke masa kecil, ke keluarga, dan ke rasa hangat yang sederhana karena Na Willa adalah kita.

Ratusan ribu orang telah lebih dulu merasakan hangat dan bahagianya Na Willa dan cerita ini masih terus hadir di bioskop.

Ajak keluarga dan orang-orang terdekat menonton film Na Willa untuk bisa bersama-sama #Bahagia Bareng Na Willa.


Sinopsis

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.


Catatan Produksi:

Judul Film : Na Willa

Genre : Drama,Keluarga

Sutradara: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser : Mia A. Santosa

Produser Lini : Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara : Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi : K. Dwi Prasetya

Sinematografer : Yadi Sugandi

Desainer Produksi : Sri Rini Handayani

Penata Busana : Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias : Notje M. Tatipata

Penata Suara : Siti Asifa Nasution

Penyunting : Teguh Raharjo

Komposer : Ofel Obaja

Pemeran : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.

NEONA KEMBALI DENGAN MUSIK HIP-DUT BERJUDUL LUPA!, SUARAKAN KISAH 'HAMPIR JADI' YANG RELATE DENGAN GEN Z

 

Jakarta, 1 April 2026 — Penyanyi muda berbakat, NEONA, resmi merilis single terbarunya bertajuk LUPA!. Lewat lagu ini, NEONA menghadirkan kembali musik Hip-Dut. Secara musikal, NEONA mengeksplorasi warna hip-dut yang fun dan catchy, memberikan energi yang ringan namun tetap kuat secara pesan. Eksplorasi ini juga menjadi bentuk kembalinya NEONA ke warna musik yang sudah pernah ia jajaki sebelumnya. "Aku tertarik dengan genre hip-dut di lagu ini karena sebelumnya aku juga pernah mengeksplorasi genre ini, jadi terasa seperti kembali ke warna musik yang sudah dekat dengan aku," jelasnya.

LUPA! menggambarkan fase dalam hubungan ketika kedekatan sudah terjalin, namun tanpa kepastian. Sebuah situasi yang kerap membuat seseorang bertanya-tanya akan arah hubungan tersebut. Melalui lagu ini, NEONA ingin menyuarakan perasaan tersebut sekaligus mendorong keberanian untuk meminta kejelasan. "Single aku ini menceritakan tentang minta kepastian sama seseorang sebelum orang itu LUPA!. Lagu ini juga aku dedikasikan buat cowok-cowok supaya lebih berani ngasih kepastian," ujar NEΟΝΑ.

Untuk visual dari single LUPA! ini, Neona menghadirkan arah visual yang fresh di bawah arahan kreatif dari Adi Djohan (funkyhokkaido), visualnya menangkap rasa jenuh dan kegelisahan dalam penantian. la mengambil latar ruang transit MRT Jakarta untuk merefleksikan dinamika remaja urban yang merasa "stuck" dalam situasi tanpa kepastian. Neona juga mempertegas nuansa tersebut melalui styling yang edgy, riasan eksentrik, serta elemen grafis unik seperti teks terbalik dan penggunaan warna oranye yang kontras. Pendekatan ini menandai era baru NEONA yang lebih berani, emosional, dan tampil dengan daya tarik yang kuat.

Sejalan dengan eksplorasi visual tersebut, proses kreatif LUPA! menjadi salah satu kekuatan utama dalam lagu ini. NEONA terlibat langsung dalam pengembangan ide dan penulisan lirik, bekerja sama dengan AntiNRML, yaitu Anangga Surya Dewangga dan Yosua Albert Simanjuntak (yang juga dikenal dengan nama panggung DIA). Kolaborasi ini menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara musikal, tetapi juga merepresentasikan karakter NEONA secara utuh. "NEONA ikut andil dalam pembuatan lagu ini. Banyak ide datang dari NEONA, lalu kami kembangkan bersama secara musikal dan lirik," ujar Anangga.

Sementara itu, DIA menambahkan bahwa lagu ini diharapkan dapat menjadi representasi perasaan banyak perempuan yang berada dalam situasi serupa. "Harapannya, 'LUPA!" bisa mewakili perasaan cewek-cewek yang sedang digantung dan mengharapkan kepastian dalam hubungan," ungkapnya.

Single terbaru NEONA, LUPA!, telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 1 April 2026. Lagu ini mengajak pendengar menyelami fase. hubungan yang menggantung. Ketika rasa nyaman, harapan, dan kebingungan hadir bersamaan, membuat seseorang bertanya-tanya antara bertahan atau meminta kepastian sebelum semuanya perlahan terLUPA!.

Film Warung Pocong Tayang 9 April 2026 di Bioskop, Pengen Untung Malah Buntung, Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil Terjebak Jadi Penjaga Warung!

 

Jakarta, 1 April 2026 — Rumah produksi Entelekey Media Indonesia dan Tiger Pictures menghadirkan film terbaru berjudul Warung Pocong, yang akan tayang di bioskop mulai 9 April 2026. Mengusung genre komedi horor, film ini menawarkan kisah yang dekat dengan realita masyarakat, terutama tentang pilihan-pilihan nekat yang diambil saat berada di kondisi terdesak, yang bukannya membawa jalan keluar, justru berujung pada situasi yang semakin rumit.

Warung Pocong bercerita tentang tiga pemuda, Kartono, Agus, dan Makmur, yang tengah terjebak dalam berbagai masalah keuangan. Di tengah kondisi terdesak, mereka menerima tawaran pekerjaan dari seorang pria tua untuk menjaga sebuah warung. Namun, pekerjaan tersebut justru membawa mereka pada teror mistis yang tak terduga.

Melalui premis tersebut, Warung Pocong menghadirkan cerita tentang pilihan-pilihan nekat yang sering diambil saat berada di titik terdesak. Harapan untuk mendapatkan jalan keluar dengan cepat berubah menjadi masalah yang semakin besar, ketika keputusan yang diambil tanpa pertimbangan justru jadi bumerang bagi mereka sendiri.

Dibungkus dengan pendekatan komedi dan horor, film ini menghadirkan keseimbangan antara ketegangan dan humor yang dekat dengan keseharian. Situasi-situasi yang dialami oleh para karakter terasa akrab, mulai dari tekanan hidup hingga keinginan untuk segera lepas dari masalah.

Sutradara Warung Pocong, Bendolt, mengungkapkan bahwa film ini dibuat untuk bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. "Kami ingin menghadirkan film yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menghibur. Cerita di film ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang masalah ekonomi yang sering dialami anak muda, namun dikemas dengan pendekatan yang fun," ujarnya.

Kekuatan film ini juga terletak pada dinamika tiga karakter utamanya yang terasa dekat dengan kehidupan nyata, sehingga membuat cerita semakin relatable bagi penonton.

Salah satu pemain, Fajar Nugra, yang berperan sebagai Kartono, mengungkapkan antusiasmenya terhadap film ini. "Yang menarik dari Warung Pocong adalah ceritanya yang terasa dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian yang mungkin pernah atau sedang dialami oleh masyarakat sekarang, tapi dikemas dengan cara yang ringan dan menghibur," ujarnya.

Selaras dengan itu, Sadana Agung juga menambahkan bahwa perpaduan komedi dan horor dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri. "Film ini punya keseimbangan antara seram dan lucu. Jadi penonton bisa merasakan tegang, tapi di saat yang sama tetap bisa tertawa," katanya.

Selain Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil, film Warung Pocong dibintangi oleh Shareefa Daanish, Teuku Rifnu Wikana, Arla Ailani, Kiki Narendra, dan Whani Dharmawan.

Warung Pocong akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 April 2026. Film ini siap menjadi pilihan menarik bagi penonton yang menyukai film horor sekaligus menginginkan hiburan penuh tawa.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai film Warung Pocong, ikuti perkembangan terbaru di akun media sosial resmi @filmwarungpocong dan @entelekeymediaid.


SINOPSIS

Tiga pemuda Jakarta: Kartono (Fajar Nugra), Agus (Sadana Agung), dan Makmur (Randhika Djamil), terjebak dalam masalah keuangan masing-masing, mulai dari utang, penipuan, hingga investasi bodong. Ketika seorang pria tua bernama Kusno (Whani Darmawan) menawarkan mereka kerja sebagai penjaga warung dengan gaji fantastis 50 juta per bulan, mereka pun menerimanya dan langsung dibawa ke desa terpencil bernama Lali Jiwo. Namun keanehan mulai terjadi saat mereka mengalami teror gaib dari sosok pocong.

ZONA MERAH NAIK LEVEL JADI FILM LAYAR LEBAR Jajaran Pemain Diumumkan, Luna Maya Jadi Eksekutif Produser

 

Jakarta, 1 April 2026 — Setelah mencuri perhatian lewat versi series, Zona Merah kini resmi melangkah ke layar lebar. Screenplay Films mengumumkan bahwa film Zona Merah akan memulai proses shooting pada April hingga Mei 2026, menghadirkan skala produksi yang lebih besar, pendekatan visual yang lebih sinematik, serta intensitas cerita yang ditingkatkan secara signifikan.

Film ini akan disutradarai oleh Sidharta Tata bersama Fajar Martha Santosa, dua nama dengan rekam jejak kuat di genre action dan horor. Sidharta Tata juga kembali terlibat sebagai penulis skenario, sementara Fajar Martha Santosa memimpin keseluruhan proses development, memastikan transisi dari series ke film berjalan dengan visi yang lebih solid dan terarah.

Dari sisi pemain, Zona Merah menghadirkan kombinasi karakter lama yang telah dikenal penonton dan wajah-wajah baru yang memperluas semesta cerita. Aghniny Haque, Andri Mashadi, Maria Theodore, Devano, dan Lukman Sardi kembali melanjutkan peran mereka. Sementara itu, Luna Maya, Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, dan Derby Romero resmi bergabung sebagai karakter baru yang akan membawa dinamika berbeda dalam cerita.

Menariknya, Luna Maya tidak hanya tampil di depan layar, tetapi juga mengambil peran strategis sebagai Eksekutif Produser, menandai keterlibatan kreatif yang lebih dalam dalam pengembangan film ini.

Versi layar lebar Zona Merah akan membawa penonton masuk ke dunia yang lebih luas, lebih gelap, dan lebih brutal. Konflik berkembang semakin kompleks, karakter digali lebih dalam, dan atmosfer chaos terasa semakin intens saat manusia harus bertahan hidup di tengah ancaman para mayat hidup. Dengan stakes yang jauh lebih tinggi, film ini menjanjikan pengalaman yang lebih imersif dibandingkan versi series.

Sidharta Tata (Sutradara) menyampaikan:

"Zona Merah memiliki fondasi dunia dan cerita yang sangat kuat sejak versi series. Di film ini, kami ingin membawa semuanya ke level berikutnya, baik dari sisi emosi, skala konflik, maupun pengalaman visual. Kami ingin membuat penonton merasa tidak aman di kursi bioskop-lebih tegang, lebih gelap, dan lebih brutal dari yang pernah kami buat sebelumnya."

Luna Maya (Eksekutif Produser) menambahkan:

"Sebagai eksekutif produser, saya melihat Zona Merah memiliki potensi besar, tidak hanya secara kreatif tetapi juga dari sisi positioning di industri. Ini adalah langkah penting untuk membawa IP lokal ke level yang lebih tinggi-baik dari skala produksi maupun jangkauan audiens."

Dengan ambisi produksi yang lebih besar dan pendekatan storytelling yang lebih berani, Zona Merah siap menjadi salah satu film genre paling dinantikan.



Momen Haru Reda Gaudiamo dan Ibu Farida di Surabaya, Kisah Nyata di Balik Na Willa yang Telah Dirasakan Hampir Satu Juta Penonton

  Pertemuan dua sahabat masa kecil di Gang Krembangan hidup kembali di layar lebar, persahabatan yang tak lekang waktu. Jakarta, 1 April 202...