Rabu, 29 April 2026

MVP Pictures Bersama Manara Film Meluncurkan Gala Premiere Film AIN, Tandai Penayangan Perdana untuk Publik dan Media

 

Jakarta, 29 April 2026 — Suasana mencekam dan penuh antisipasi menyelimuti gelaran Gala Premiere film 'Ain, karya terbaru dari MVP Pictures dan Manara Films. Film yang telah dinanti ini siap oleh Archie Hekagery, Ain secara tegas hadir sebagai film body horror pertama di Indonesia-bukan horor murni, melainkan perpaduan antara teror psikologis dan transformasi fisik yang intens dan mengganggu. Pendekatan ini menghadirkan pengalaman visual yang lebih visceral, dekat, dan tidak nyaman-membawa penonton masuk ke dalam teror yang tidak hanya dirasakan, tetapi juga "terlihat".

Dibintangi oleh Brittany Fergie, Putri Ayudya, Bara Valentino, Clara Kaizer, Cindy Purba, hingga Bea Random, film ini menyuguhkan performa yang intens dan emosional, memperkuat atmosfer teror yang semakin mencekam dari awal hingga akhir. Mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan modern, Ain mengisahkan seorang beauty influencer yang hidupnya terlihat sempurna di media sosial. Namun di balik popularitas dan validasi yang ia terima, tersembunyi ancaman tak kasat mata-'ain atau evil eye, sebuah energi negatif dari tatapan penuh iri yang dipercaya mampu membawa malapetaka.

Apa yang dimulai dari perhatian dan kekaguman, perlahan berubah menjadi teror yang nyata. Tubuhnya mulai mengalami perubahan mengerikan, hidupnya runtuh, dan dunia yang ia bangun di media sosial berubah menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Sebagai produser, Raam Punjabi mengungkapkan, ""Ain adalah sebuah langkah berani bagi kami untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda di genre horor Indonesia. Film ini bukan sekadar menakutkan, tapi juga menawarkan pendekatan baru yang lebih berani dan relevan dengan kehidupan saat ini."

Sementara itu, Yudha Wirafianto menambahkan, "Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak biasa. Ain tidak hanya bermain di rasa takut, tetapi juga menghadirkan ketidaknyamanan visual yang menjadi kekuatan utama body horror." Sang sutradara, Archie Hekagery, juga menyoroti pendekatan unik film ini, "Kami ingin membuat horor yang terasa nyata secara fisik. Body horror memungkinkan kami menunjukkan bagaimana tekanan, energi negatif, dan rasa takut bisa 'mengubah seseorang secara visual dan emosional."

Dengan visual yang disturbing, atmosfer yang intens, serta pendekatan yang berbeda dari horor konvensional, film ini siap menjadi tonggak baru dalam eksplorasi genre horor Indonesia. Saksikan 'Ain di seluruh bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Karena tidak semua tatapan membawa kebaikan beberapa di antaranya... membawa kehancuran.

Ikhlas Paling Serius Tayang di Viu, Omar Daniel dan Kimberly Ryder Bawa Kisah Cinta tentang Luka Keluarga dan Melepaskan.

 


Jakarta, 30 Mei 2026 — Viu Indonesia bersama MAXStream TV menghadirkan original series kolaborasi keempat, Ikhlas Paling Serius, drama romantis yang menempatkan cinta, luka keluarga, dan pengorbanan sebagai pusat cerita, tayang mulai 1 Mei 2026.

​Dijumpai dalam Premiere Screening Ikhlas Paling Serius, kemarin (29/4/2026) di Jakarta, Omar Daniel mengungkapkan, "Cerita tentang ikhlas akan selalu relate dengan banyak orang di setiap masa, baik urusan pekerjaan, hubungan dengan orang lain dengan berbagai problematika. Karena pada akhirnya, hampir semua orang pernah berada di titik harus memperjuangkan atau belajar melepaskan," ujarnya.

​Bagi Kimberly Ryder, tantangannya dalam drama ini adalah tentang emosi dari sosok wanita yang tampak kuat namun sebenarnya tertekan. "Saya sangat happy dan menikmati saat harus tampil menjadi sosok yang menekan dan galak. Namun tantangan terbesarnya justru saat harus meluapkan emosi saat merasakan kesedihan yang sangat dalam," ujarnya dalam kesempatan yang sama.


​Kisah Fajar dan Farah

​Diadaptasi dari mega best seller book karya Fajar Sulaiman, series ini mempertemukan Omar Daniel sebagai Fajar dan Kimberly Ryder sebagai Farah, dua karakter dengan cara mencintai yang bertolak belakang. Fajar adalah sosok yang terbiasa mengutamakan orang lain hingga sering mengabaikan dirinya sendiri, sementara Farah tumbuh sebagai perempuan ambisius yang keras di luar, namun menyimpan kerapuhan akibat tekanan keluarga.

​Lewat karakter Fajar, Omar Daniel menyoroti persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang: kecenderungan menjadi people pleaser dan kesulitan mengatakan tidak.

​"Fajar itu sedikit plin-plan. Karena dia people pleaser, tipikal orang yang nggak enakan, bingung cara menolak. Tapi justru dari situ aku melihat ikhlas itu seperti level tertinggi dari mencintai—rela melepaskan dan menerima tanpa mengharapkan imbalan," kata Omar Daniel.

​Dimensi inilah yang membuat Ikhlas Paling Serius hadir lebih dari sekadar drama cinta. Series ini menangkap bagaimana kebiasaan menyenangkan semua orang justru bisa membuat seseorang kehilangan arah atas pilihan hidupnya sendiri.

​Kimberly Ryder, yang memerankan Farah, menghadirkan lapisan emosi berbeda lewat karakter perempuan yang terlihat dominan, namun sesungguhnya dibentuk oleh relasi keluarga yang rumit.

​"Farah itu hard worker dan terlihat tegas, tapi sebenarnya hatinya lembut. Ada tuntutan dari ibunya yang membentuk siapa dia. Itu yang membuat dia juga sulit untuk ikhlas," ujar Kimberly Ryder.

​Pertemuan Fajar dan Farah bermula ketika Fajar bekerja di kantor Farah, seorang bos muda perfeksionis yang tanpa diduga justru mengguncang keyakinannya sendiri. Situasi berkembang semakin rumit saat Fajar diam-diam diminta memata-matai Farah, sementara benih cinta justru tumbuh di antara keduanya.

​Konflik yang dihadirkan tidak semata soal cinta terlarang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bernegosiasi dengan trauma, kewajiban keluarga, dan keberanian memilih dirinya sendiri.

​Menurut Viu, kekuatan Ikhlas Paling Serius terletak pada relevansinya dengan pengalaman emosional banyak penonton hari ini.


​Selain Omar Daniel dan Kimberly Ryder, series ini juga dibintangi Fahad Haydra, Amara Sophie, Kiara Mckenna, dan Caroline Zachrie, memperkuat dinamika cerita dengan karakter-karakter yang turut mendorong dilema para tokohnya.

​Dengan perpaduan drama relasi, konflik batin, dan narasi tentang penerimaan, Ikhlas Paling Serius menghadirkan pertanyaan yang jarang diangkat secara jujur dalam drama romantis: sampai kapan seseorang terus mengalah demi orang lain, dan kapan saatnya memilih dirinya sendiri?

​Ikhlas Paling Serius tayang mulai 1 Mei 2026 eksklusif di Viu dan MAXStream TV.

Relatable dengan Kaum Budak Korporat, Official Trailer, Poster & OST Film Monster Pabrik Rambut Rilis Menyambut Hari Buruh

 

​Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 29 April 2026 — Palari Films merilis official trailer, poster, dan original soundtrack (OST) film Monster Pabrik Rambut yang disutradarai Edwin, serta dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev. Official trailer menampilkan horor tentang dunia kerja yang dekat dengan situasi sekarang, ketika tempat kerja berubah serupa monster, yang memaksa para pekerja bekerja sampai mati.

​Nuansa pabrik rambut yang menjadi tempat bekerja Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha) ditampilkan dengan suasana mencekam di trailer. Putri dan Ida adalah kakak-adik yang terpaksa masuk ke pabrik rambut tersebut untuk mengungkap misteri kematian ibunya. Namun, saat mereka bekerja di pabrik tersebut, kejanggalan-kejanggalan justru semakin terasa, dan menambah keyakinan Ida yang percaya ibunya mati secara tak wajar ketika bekerja di pabrik tersebut.

​Sementara itu, Iqbaal, yang memerankan karakter Bona, menjadi adik bungsu dari Putri dan Ida. Ia memiliki kemampuan untuk meregenerasi seluruh anggota tubuhnya sendiri, layaknya Axolotl—amfibi asal Meksiko yang memiliki kemampuan unik meregenerasi seluruh anggota tubuhnya. Sebuah simbol yang menyiratkan pertanyaan, apakah para pekerja juga diharapkan bekerja terus menerus dengan regenerasi bagian tubuhnya sendiri?

​Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, film Monster Pabrik Rambut menjadi ko-produksi internasional antara Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis, yang membuktikan kredibilitas kualitas film ini. Film ini ditulis oleh Edwin bersama Eka Kurniawan, yang menjadi kolaborasi kedua mereka setelah sukses internasional Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021). Selain bermain, Iqbaal Ramadhan juga turut menjadi produser eksekutif, bersama Ernest Prakasa, Dian Sastrowardoyo dan Maudy Ayunda.

​"Di film Monster Pabrik Rambut, kami ingin menyampaikan bahwa kondisi kerja seringkali membuat kita menjadi seperti mesin, kerja terus menerus, atas nama produktivitas. Malah diharapkan bisa ganti 'spare parts' sendiri (seperti Axolotl). Seperti buruh di industri lainnya, buruh film juga seringkali kurang tidur. Dan tidak salah, karena kita mau menyenangkan keluarga kita, pacar kita, atau diri kita sendiri. Namun, kalau sampai mencelakakan diri sendiri, malah jadi menyedihkan," ujar penulis dan sutradara Edwin.

​Monster Pabrik Rambut sendiri akan memberikan pengalaman sinematik yang baru dan berbeda untuk perfilman Indonesia. "Palari Films selalu berkomitmen untuk melahirkan karya yang mampu memantik percakapan dengan isu yang relevan dan penting untuk kita bicarakan bersama. Melalui film Monster Pabrik Rambut, kami ingin menghadirkan hiburan yang juga menyentil dengan visual yang fantastis dan sedikit ajaib," ujar produser Meiske Taurisia.

​Official poster film Monster Pabrik Rambut menampilkan ketiga saudara, Rachel Amanda, Lutesha, dan Iqbaal Ramadhan, serta Sal Priadi dan Kev dengan tatapan kosong seperti kurang tidur. Tak hanya kehadiran kelimanya, sosok kepala Didik Nini Thowok terlihat di antara manekin kepala di lemari belakang, terlihat seperti mengintai mereka.

​Sementara itu, original soundtrack (OST) film yang berjudul Kepala, Pundak, Kerja Lagi dinyanyikan dan diciptakan oleh Sal Priadi, yang akan menjadi anthem bagi para pekerja yang masih harus berjuang dengan lembur sampai babak belur.

​Terciptanya OST ini berawal dari sebuah adegan yang mengharuskan Rudi, karakter yang diperankan Sal, bermain gitar dan bernyanyi. Hingga kemudian muncul diskusi antara Edwin dan Sal untuk mengembangkan lagu dalam adegan tersebut menjadi OST film.

​Bagi Rachel Amanda, Monster Pabrik Rambut terasa sangat dekat dengan situasi saat ini. Ketika generasi milenial dan Z kerap kali harus menormalisasi hustle culture demi mengejar duniawi dan pada akhirnya kurang tidur, hingga risiko kematian akibat kelelahan bekerja.

​"Overwork itu sesuatu yang nyata. Ini terjadi di semua industri kerja, termasuk di perfilman sendiri. Aku harap Monster Pabrik Rambut semakin menyadarkan kita tentang pentingnya istirahat, dan bahwa film ini juga akan menyadarkan orang tentang tidur adalah hak asasi manusia. Horornya dunia kerja itu nyata, kita sering banget mendengar cerita orang yang harus lembur sampai babak belur, dan Monster Pabrik Rambut ingin menyuarakan keresahan itu," kata Rachel Amanda.

​Monster Pabrik Rambut juga menghadirkan ansambel pemeran yang unik dan kuat. Film ini juga menjadi horor perdana Iqbaal, serta film debut bagi kreator konten Kev, yang membuktikan kualitas aktingnya di layar lebar dan memberi bukti regenerasi industri perfilman Indonesia.

​Sal Priadi, yang pertama kali bekerja sama dengan Palari Films melalui Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas akan kembali bekerja sama di film Monster Pabrik Rambut. Tak hanya bermain, namun Sal juga dipercaya untuk menciptakan OST. film yang akan menjadi mars para pekerja di tengah gempuran lembur.

Film Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Monster Pabrik Rambut persembahan Palari Films melalui akun Instagram resmi @palarifilms.


Sinopsis

PUTRI (Rachel Amanda) kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?

Selasa, 28 April 2026

MAGMA Entertainment Rilis Official Trailer dan Poster ‘Badut Gendong’: Lahirnya Lawan Tangguh Baru Ustaz Qodrat

 


Jakarta, 29 April 2026 — Bersiaplah, karena Indonesia akan segera kedatangan wajah teror baru yang melampaui imajinasi. MAGMA Entertainment secara resmi merilis Official Trailer dan Poster dari film horor-aksi terbarunya, Badut Gendong.

​Diperkenalkan secara megah dalam acara konferensi pers di Metropole XXI, film ini dikonfirmasi sebagai ekspansi krusial dari semesta Qodrat yang akan memperkenalkan sosok antagonis paling mencekam bagi sang Ustadz.


Tragedi Berdarah di Balik Sosok Pengamen

​Melalui Official Trailer dan Poster yang diluncurkan, penonton diajak menyelami kisah kelam Darso (Marthino Lio), seorang pengamen tari Badut Gendong yang dikhianati oleh takdir. Kehilangan tragis sang istri, Darsi, beserta bayi dalam kandungannya, menjadi pemantik bangkitnya sebuah entitas penuh amarah di tengah konflik tanah yang melanda desanya.

​Roh Darsi kembali dalam sosok Badut Gendong yang mengerikan, mengendalikan tubuh Darso untuk menebarkan teror balas dendam yang sistematis bagi mereka yang telah melukainya.

​Melanjutkan rasa yang hadir di film pendahulunya, Badut Gendong menjanjikan kedalaman emosi yang kuat di balik setiap aksi horornya. Penonton tidak hanya akan disuguhi ketakutan fisik, tetapi juga kehancuran psikologis dari karakter yang hancur karena cinta dan kehilangan.

Persilangan Semesta (Cross-Universe) yang Dinamis

​Linda Gozali, Produser MAGMA Entertainment, menyatakan bahwa film ini merupakan langkah strategis dalam memperluas universe yang mereka bangun.

​“Proyek ini sangat menarik bagi kami. Sebuah cross-universe dari Qodrat yang tetap berdiri kokoh sebagai film mandiri yang bisa dinikmati siapa saja. Bagi penggemar Qodrat, Badut Gendong akan memberikan perspektif baru yang segar di semesta ini. Sementara bagi penonton baru, film ini adalah pintu masuk sempurna untuk mengenal dunia kami,” ujar Linda.

​Sutradara Charles Gozali menambahkan bahwa jika Qodrat berfokus pada sisi kepahlawanan, maka Badut Gendong akan mengeksplorasi sisi gelap yang lebih abu-abu.

​“Di Qodrat, kami bermain dengan konsep horor-aksi dan heroik. Namun, Badut Gendong menawarkan rasa yang berbeda. Ini bukan tentang pahlawan, melainkan sebuah origin story dari calon musuh Ustaz Qodrat yang sangat emosional dan manusiawi. Kami ingin penonton memahami alasan di balik kegelapan itu,” jelas Charles.


Eksplorasi Karakter dan Jajaran Pemain

​Pemeran utama, Marthino Lio, mengungkapkan tantangan dalam memerankan karakter Darso yang memiliki banyak lapisan emosi. “Memerankan Darso adalah pengalaman unik. Karakternya sangat kompleks; penonton mungkin akan merasa bimbang antara memberikan empati atas kepedihannya atau merasa ngeri melihat kesadisan teror yang ia sebarkan,” ungkap Lio.

​Film ini juga diperkuat oleh talenta berbakat seperti Derby Romero, Clara Bernadeth, Dayinta Melira, Iskak Khivano, dan Vonny Anggraeni. Tak hanya itu, Badut Gendong juga menghadirkan penampilan spesial dari dua aktor legenda Indonesia, Barry Prima dan Jose Rizal Manua, yang semakin memperkuat kualitas akting dalam produksi ini.

​Badut Gendong dijadwalkan akan meneror seluruh layar bioskop di Indonesia mulai 27 Mei 2026. Pantau terus detail kengerian lainnya melalui kanal media sosial resmi di @magmaent dan @badutgendong.

Terinspirasi Perjalanan ONIC Kairi, Film ‘Nobody Loves Kay’ Rilis Teaser Trailer: Sebuah Pembuktian Dari Sosok yang Kerap Diremehkan



Jakarta, 28 April 2026 – ONIC, Migunani Cinema Cult, Folago Pictures dan Qun Films, bekerja sama dengan Visinema Pictures, secara resmi merilis teaser trailer perdana film Nobody Loves Kay. Mengambil inspirasi dari perjalanan hidup atlet e-sport Mobile Legends legendaris, ONIC Kairi, film ini memotret realitas pahit dan manis di balik layar dunia kompetisi profesional.

​Gimana rasanya ketika sesuatu yang kamu perjuangkan justru dianggap nggak serius? Pertanyaan besar ini menjadi jiwa dari film Nobody Loves Kay, dan yang terlihat dari teaser trailer yang telah dirilis. Film ini bukan sekadar urusan menang atau kalah di arena pertandingan. Ada cerita yang jauh lebih dekat dari itu; tentang sebuah generasi yang sering diremehkan, tentang pilihan hidup yang dipandang sebelah mata oleh orang tua dan lingkungan, hingga usaha keras untuk tetap dipercaya atas jalan yang telah dipilih.


Sebuah Pembuktian

Dari ribuan mimpi yang bisa dipilih, Kay (Bima Azriel) memilih untuk menjadi seorang Jungler (salah satu role di Mobile Legends: Bang Bang) fenomenal di dunia. Namun, apakah ambisi ini benar-benar jalan yang Kay inginkan, atau sekadar pelarian dari ekspektasi yang menghimpitnya?

​Di tengah harapan orang tua yang ingin dirinya menjadi murid teladan dan ancaman harus pindah ke Arab Saudi oleh ibunya, Kay harus memilih antara ambisi pribadi atau keutuhan hubungan dengan dua sahabatnya, Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico).


ONIC sebagai Ekosistem untuk Bertumbuh

Sebagai organisasi esports, ONIC tidak hanya berfokus pada prestasi di dalam game, tetapi juga berkomitmen menjadi wadah bagi generasi muda untuk tumbuh dan mewujudkan mimpi mereka. ONIC percaya setiap perjalanan memiliki potensi untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, didukung oleh ekosistem yang solid dan berkelanjutan. Melalui perilisan film ini, ONIC turut mendorong esports melangkah ke ranah hiburan yang lebih luas, yakni layar lebar, sebuah langkah yang menegaskan bahwa esports kini telah berkembang melampaui kompetisi dan hadir sebagai medium storytelling yang relevan bagi audiens yang lebih luas.


Debut Layar Lebar

Menandai debut film panjangnya setelah sukses menggarap musik video untuk musisi papan atas seperti Hindia dan Sal Priadi, Bernardus Raka menekankan bahwa film ini memiliki napas yang luas di luar arena gaming.

​“Topik mengenai persahabatan, keluarga, percintaan, dan pengorbanan akan menjadi landasan utama kami dalam membentuk cerita dan keseluruhan karakter, agar dapat diterima oleh banyak penonton,” ujar Bernardus Raka.


Sinopsis dan Daftar Pemain

​Di puncak kompetisi Mobile Legends dunia, Kay, pro-player andalan tim ONIC, mengenang masa ketika mimpinya hanya dianggap angan-angan kosong. Bersama dua sahabatnya, Ido dan Aurelio, ia pernah berjanji akan mengguncang dunia, namun tekanan dan ambisi buta justru menghancurkan persahabatan mereka. Kay didepak dari timnya sendiri, kehilangan arah, dan dianggap gagal oleh lingkungan yang sejak awal meragukannya.

​Berada di titik nadir dan hampir dipaksa meninggalkan dunianya, Kay menolak menyerah. Ini bukan sekadar soal memenangkan pertandingan, melainkan pembuktian bahwa mimpi yang diremehkan, jika diperjuangkan dengan segenap hati, akan menemukan jalannya sendiri menuju panggung tertinggi.

​Film Nobody Loves Kay menghadirkan kolaborasi solid antara aktor muda berbakat dan deretan nama senior yang sudah tidak asing lagi di industri perfilman Indonesia. Karakter utama Kay diperankan oleh Bima Azriel, yang akan beradu akting dengan Rey Bong sebagai Ido dan Joshia Frederico sebagai Orel, membentuk trio persahabatan yang menjadi sentral cerita.

​Aktris Aurora Ribero turut bergabung memerankan sosok Amanda, murid pintar yang menjadi kunci perjalanan Kay. Tak hanya itu, kekuatan departemen akting film ini semakin lengkap dengan kehadiran Ariyo Wahab, Mian Tiara, hingga Melati Sesilia yang memberikan kedalaman pada dinamika keluarga dan konflik dalam cerita.

​Film ini akan segera tayang di seluruh bioskop Indonesia. Teaser trailer yang memperlihatkan sekilas perjuangan emosional Kay kini sudah dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi @nobodyloveskay.

​Nantikan juga teaser poster dari film Nobody Loves Kay yang akan hadir 30 April 2026 nanti. 

Crocodile Tears: Film Indonesia yang Mendunia Kini Hadir di Bioskop Tanah Air Mulai 7 Mei 2026

 


Jakarta, 28 April 2026 – Crocodile Tears, film panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon, siap menyapa penonton Indonesia di layar lebar mulai 7 Mei 2026. Diproduseri oleh Mandy Marahimin, film ini hadir membawa energi segar: sebuah drama keluarga yang mencekam, dibangun secara kolaboratif oleh para sineas dari empat negara, dan kini tiba dengan pengakuan internasional dari 33 festival film dunia bergengsi.

​Perjalanan Crocodile Tears di panggung internasional dimulai dari pemutaran perdananya di Toronto International Film Festival 2024, salah satu festival film paling bergengsi di dunia. Dari sana, film ini terus melangkah ke festival film prestisius di dunia lainnya seperti Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, Tallinn Black Nights Film Festival dan Goteborg International Film Festival. Kemudian dilanjutkan ke Adelaide Film Festival, Torino Film Festival, Red Sea International Film Festival dan banyak lainnya. Apresiasi yang datang dari berbagai penjuru dunia menjadi bukti nyata bahwa cerita yang lahir dari tanah Indonesia mampu berbicara kepada penonton global.

​Di balik layar, Crocodile Tears adalah karya yang sepenuhnya bersifat kolaboratif. Tumpal Tampubolon dikenal sebagai sutradara dengan pendekatan terbuka yang memberikan ruang luas bagi para Heads of Department dan aktor untuk menginterpretasikan naskahnya secara bebas dan personal. "Film ini kami kembangkan selama tujuh tahun, dengan 17 draft skenario sampai akhirnya menemukan bentuk yang kami yakin," ujar Tumpal. "Tapi justru momen yang paling kami tunggu adalah ketika akhirnya film ini bisa pulang dan bertemu dengan penonton Indonesia."

​Proses kreatif yang kolaboratif ini tercermin dalam penampilan para aktornya. Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani yang tidak sekadar memerankan karakter tetapi mereka turut membentuknya bersama sang sutradara. "Tumpal memberi kami ruang yang sangat besar untuk masuk ke dalam karakter masing-masing. Ada banyak lapisan emosi yang kami bangun bersama dari awal proses persiapan sampai syuting," ungkap Marissa Anita yang memerankan karakter Mama. "Pengalaman itu yang membuat karakter Mama terasa begitu nyata bagi saya."

​Tumpal Tampubolon sendiri bukan nama baru dalam dunia sinema Indonesia. Ia telah menempa diri lewat serangkaian film pendek yang diakui di festival nasional maupun internasional. Dari "The Last Believer" yang meraih penghargaan di JIFFest (Jakarta International Film Festival), "Mamalia" yang masuk seleksi Rotterdam dan Hong Kong International Film Festival, hingga "Laut Memanggilku" yang meraih Sonje Award di Busan International Film Festival 2021 sekaligus nominasi Film Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2021. Melalui berbagai karya film pendeknya, Tumpal dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama di mana emosi para karakter terbangun perlahan namun konsisten. Dalam setiap karyanya Tumpal juga dikenal selalu menghadirkan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama ini hadir dalam Festival Film Indonesia 2021. Melalui berbagai karya film pendeknya, Tumpal dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama di mana emosi para karakter terbangun perlahan namun konsisten. Dalam setiap karyanya Tumpal juga dikenal selalu menghadirkan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama ini hadir dalam Crocodile Tears.

​Produser Mandy Marahimin menambahkan, "Perjalanan Crocodile Tears tidak singkat, dari pengembangan hingga produksi yang melibatkan kru dari empat negara. Kami membutuhkan waktu 6 tahun sebelum akhirnya film ini bisa kami produksi, dan total delapan tahun sebelum film ini akhirnya bisa dinikmati penonton di Indonesia. Persiapan yang kami lalui pun cukup detail. Proses casting selama hampir dua tahun, persiapan yang serius dan rinci selama berbulan-bulan, termasuk sampai membangun sebuah rumah di dalam taman buaya yang berdampingan dengan ratusan buaya hidup. Ini sebuah film yang melalui proses yang sangat kolaboratif, dan kami persiapkan dengan hati. Harapannya, film ini bisa diterima dengan hangat oleh penontonnya."

​Crocodile Tears bercerita tentang MAMA (Marissa Anita), ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang tenang dan monoton di sebuah taman buaya. Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus segera dilakukan.

​Menggabungkan realisme magis dan teror psikologis, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang intim, dengan relasi yang terasa dekat namun menyimpan lapisan konflik yang semakin terasa seiring berjalannya cerita.

​Film ini diproduksi oleh Talamedia bekerja sama dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan E-Motion Entertainment.

​Setelah perjalanan panjang, kini Crocodile Tears siap bertemu dengan penonton Indonesia di layar lebar. Saksikan Crocodile Tears mulai 7 Mei 2026 di bioskop.


SINOPSIS

​MAMA (Marissa Anita), ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang tenang dan monoton.

​Kehidupan berubah menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka, hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus dilakukan segera.

​Hashtag : #crocodiletears

Instagram : @talamedia_co

Twitter/X : @talamedia_co

TikTok : @talamedia_co

YouTube : @talamedia_co

Website : talamedia.co


CROCODILE TEARS

​° Production: Talamedia & E-Motion Entertainment

​° Co-Production:

​Acrobates Films

​Poetik Films

​Giraffe Pictures

​2Pilots Filmproduction

​° International Sales & Festivals: Cercamon


​° Casts:

​Yusuf Mahardika (Johan)

​Marissa Anita (Mama)

​Zulfa Maharani (Arumi)


​° Director: Tumpal Tampubolon

​° Writer: Tumpal Tampubolon

​° Producer: Mandy Marahimin

​° Co-Producers:

​Claire Lajoumard

​Anthony Chen

​Christophe Lafont

​Harry Flöter

​Jörg Siepmann

​Teoh Yi Peng


​° Executive Producers:

​Arnold J. Limasnax

​Lianto Winata Vachon

​Tjen Foeng Fa

​Kevin Danudoro


​° Cinematographer: Teck Siang Lim

​° Production Designer: Jafar

​° Art Director: Guntur Mupak

​° Costume: Hagai Pakan

​° Make-up:

​Cherry Wirawan

​Agustin Puji

° ​Sound:

​Roman Dymny

​Bruno Ehlinger

​Romain Ozanne

​° Music: Kin Leonn

° ​Editor:

​Jasmine Ng Kin Kia

​Kelvin Nugroho

° Poster & Logo: Evan Wijaya

​° Photo Poster: Robin Budidharma

Senin, 27 April 2026

Film Keluarga Suami Adalah Hama Merilis Official Trailer & Poster, Ungkap Masalah Menantu dan Mertua yang Sangat Dekat! Jadi Film Paling Relate yang Pernah Dibuat Anggy Umbara

 

Film Keluarga Suami Adalah Hama tayang mulai 21 Mei 2026 di bioskop Indonesia

​Jakarta, 28 April 2026 — Umbara Brothers Film dan VMS Studio, bekerja sama dengan Adsfort merilis official trailer & poster film drama keluarga terbaru berjudul Keluarga Suami Adalah Hama, yang akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Official trailer film yang dibintangi Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans ini mengungkap permasalahan yang sering dialami oleh menantu dan keluarga suami, saat pasangan suami istri tinggal serumah dengan mertua.

​Dalam trailernya, diperlihatkan pasangan suami istri Damar (Omar Daniel) dan Intan (Raihaanun), yang harus menghadapi permasalahan ekonomi di tahun-tahun awal menikah mereka. Keduanya terpaksa tinggal terlebih dulu di rumah keluarga suami. Namun, dengan tinggalnya pasangan keluarga muda tersebut bersama mertua, justru menghadirkan konflik yang tak berujung. Intan justru dianggap sebagai pekerja rumah tangga, belum lagi perlakuan kedua adik iparnya yang bertindak seenaknya. Sementara Damar berada di posisi dan kondisi yang membingungkan di antara membela sang istri atau kewajiban menghormati ibunya, membuatnya tampak ragu dalam bersikap.

​Film yang diproduseri oleh Shalu T.M., Indah Destriana dan Anggy Umbara ini akan menghadirkan sebuah permasalahan yang sangat dekat dan dialami banyak orang. Film ini sekaligus menjadi film drama keluarga pertama Anggy Umbara, yang sebelumnya telah sukses blockbuster dengan berbagai genre mulai dari film aksi, komedi hingga horor.

​"Bagi saya, Keluarga Suami Adalah Hama adalah film yang paling relate dan dekat dengan saya sebagai salah satu bagian dari 'Sandwich Generation', yang dibesarkan tanpa kehadiran seorang ayah, namun juga terhimpit dalam berbagai kesulitan dan kondisi keluarga yang kadang perih dan menyesakkan. Isu ini sangat penting untuk diangkat, untuk kita tahu, bahwa kondisi ini memang ada di sekitar kita. Dan kita bisa merasakannya tapi banyak yang tidak bisa mengungkapkan. Harapannya, setelah menonton film ini menjadi refleksi agar lingkungan sesama keluarga bisa menjadi lebih baik, dan bisa berempati," kata sutradara Anggy Umbara.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama menjadi kolaborasi terbaru VMS Studio dan Umbara Brothers Film. Sebelumnya, kolaborasi terjalin melalui film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel (2025), yang juga disutradarai Anggy Umbara.

​Di kolaborasi terbaru, Anggy juga kembali dipercaya untuk mengaduk emosi penonton melalui kisah suami-istri di Keluarga Suami Adalah Hama, selain sebagai partner Producer bersama Indah Destriana, Anggy juga sebagai Penulis dan duduk langsung di kursi Sutradara. Bagi produser Shalu T.M., Anggy Umbara adalah sosok sutradara yang sangat tepat karena ia merupakan salah satu sineas Indonesia yang sangat kuat dan memiliki karakter unik. Shalu menekankan, pesan yang ingin disampaikan di film ini adalah tentang pentingnya kerjasama suami istri sebagai pasangan.

​"Pesan yang ingin kami sampaikan, di tengah berbagai dinamika permasalahan di kehidupan sehari-hari kita, terutama yang sudah berkeluarga, sebagai suami istri itu sangat penting untuk berkolaborasi dan bekerja sama, saling back up. Karena pada dasarnya, husband and wife against the world. Bukan suami melawan istri tapi suami dan istri melawan dunia, berjuang bersama," ujar produser VMS Studio Shalu T.M.

​Selain Omar Daniel, Raihaanun, Meriam Bellina, Sitha Marino, dan Jeremie Moeremans, film ini juga akan dibintangi oleh Fairuz A. Rafiq, dan penampilan spesial dari Tio Pakusadewo. Bagi Omar, ini adalah pengalaman berharga karena ia bisa beradu peran dengan Raihaanun.

​"Raihaanun itu idola saya. Saya sangat mengikuti dan menonton karya-karyanya. Ketika dipasangkan bersama, ini sebuah kehormatan dan kebanggaan, dan menjadi pacuan semangat untuk bisa terus belajar," ujar Omar Daniel.

​"Di film ini penonton akan melihat bagaimana dinamika karakter saya sebagai kepala keluarga yang berada di tengah-tengah, antara harus memihak istri dan juga ibunya. Itu poin terberatnya," tambah Omar.

​"Beradu peran dengan Omar terasa sangat menyenangkan. Anggy mampu memberi kami ruang yang nyaman untuk menaruh lapisan emosi di sini yang akan terefleksikan dengan penonton akan sangat terlibat dengan cerita filmnya," ungkap Raihaanun.

​Film Keluarga Suami Adalah Hama akan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026. Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial resmi VMS Studio dan Umbara Brothers Film.

Mirisnya Nasib Zee Asadel: Taaruf karena Niat Ibadah, Malah Jadi Ujian Batin Gara-gara "Dianggurin"

 


Bagi kita yang pernah mengecap indahnya dunia pesantren atau tumbuh dengan nilai-nilai religi, konsep pernikahan itu sakral banget. Istilahnya: Ibadah Terpanjang. Apalagi buat santriwati seperti Amira (Zee Asadel), melayani suami bukan cuma soal kewajiban, tapi "jalur cepat" menuju rida Allah.

​Ekspektasinya? Begitu akad diucap, dunia serasa milik berdua, pahala mengalir deras lewat sentuhan dan perhatian. Tapi, gimana kalau "ibadah terpanjang" itu justru terasa seperti "ujian tersulit" karena suami nggak kunjung kasih akses alias nggak ada nafkah batin?


​Niatnya Melayani, Realitanya Malah "Dianggurin"

​Sebagai istri yang taat, Amira sudah siap all-out. Dia sudah dandan cantik, belajar masak makanan favorit suami dari sang mertua (Putri Ayudya), sampai menyiapkan hati buat melayani sang imam, Furqon (Emir Mahira). Tapi apa daya, Furqon justru sedingin es di kutub utara.

​Statusnya sih sudah suami-istri sah, tapi ranjang mereka terasa seperti dua pulau yang terpisah samudera. Furqon menolak memberikan nafkah batin, bahkan menyentuh Amira pun enggan. Buat para istri muda, situasi ini pasti bikin insecure parah. Muncul pertanyaan: "Apa aku kurang cantik? Apa aku ada salah?"


​Ternyata, Ada "Hantu" di Antara Mereka

​Yang bikin lebih nyesek dan miris, alasan di balik dinginnya Furqon bukan karena Amira kurang sempurna. Masalahnya klasik tapi mematikan: Belum Move On.

​Furqon ternyata masih menyimpan "unfinished business" dengan masa lalunya, Dara (Ratu Rafa). Bayangkan, Amira yang sudah sah secara agama dan negara, harus kalah saing dengan bayang-bayang masa lalu yang bahkan nggak ada di rumah itu. Benar-benar definisi menang di atas kertas, tapi kalah di dalam ingatan.


​Obat Kuat vs Jalur Langit

​Di film ini, kita bakal lihat betapa "polos" dan desperate-nya Amira menghadapi masalah ranjang ini. Dari mulai curhat ke sahabat yang sarannya malah asbun (asal bunyi), sampai mencoba cara-cara manusiawi lainnya, termasuk kepikiran soal obat kuat! Ia berpikir obat tersebut bisa mengubah sikap sang suami soal urusan nafkah batin.

​Tapi pada akhirnya, Amira mengingatkan kita semua: kalau jalur bumi sudah mentok dan komunikasi sudah macet, satu-satunya cara adalah mengetuk pintu Sang Pemilik Hati. Apakah ini cara yang benar-benar bisa mengakhiri segala masalah rumah tangga Amira?

​Buat kamu yang lagi merasa "berjuang sendirian" dalam pernikahan, atau yang cuma pengen liat gimana gemas sekaligus nyeseknya hubungan Zee dan Emir, film ini adalah self-healing yang pas.

​Saksikan "Kupilih Jalur Langit", drama pernikahan yang bakal bikin kamu gemas, marah, sekaligus banjir air mata. Sudah tayang di seluruh bioskop Indonesia!

​Ikuti terus update terbarunya melalui akun resmi @kupilihjalurlangitmovie dan @mdpictures_official.

​Film dari kolaborasi rumah produksi MBK Productions dan Sinemata Productions yang menghadirkan Penebok sebagai ikon horor baru yang lahir dari folklore lokal.

 

​Film The Bell: Panggilan untuk Mati Hadirkan Penebok, Ikon Horor Baru yang Siap Menghantui Tahun Ini

​Jakarta, 27 April 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop pada 7 Mei 2026, film horor The Bell: Panggilan untuk Mati menghadirkan teror baru yang mengangkat kekuatan folklore lokal. Hasil kolaborasi Multi Buana Kreasindo dan Sinemata Productions ini menawarkan pendekatan berbeda dengan menghidupkan sosok Penebok sebagai ikon horor yang mencekam dan siap menghantui tahun ini.

​Di tengah tren film horor Indonesia yang terus mendominasi industri perfilman, The Bell: Panggilan untuk Mati hadir dengan menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan instan. Film ini mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi, menghadirkan pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan secara visual, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Melalui sosok Penebok, film ini membangun atmosfer yang berangkat dari mitos dan kepercayaan masyarakat, sekaligus memperkuat identitas cerita lokal di tengah arus globalisasi konten.

​Film ini bercerita tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat, namun menjadi awal teror ketika dicuri oleh sekelompok anak muda demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi, membawa ancaman yang perlahan semakin nyata. Di tengah situasi yang kian mencekam, Danto (Bhisma Mulia) dan Airin (Ratu Sofya) ikut terseret dalam rangkaian peristiwa tersebut.

​Lebih dari sekadar menghadirkan ketakutan, The Bell: Panggilan untuk Mati menawarkan relevansi dengan realitas masa kini. Fenomena generasi digital yang haus akan viralitas menjadi salah satu lapisan cerita yang membuat film ini terasa dekat dengan penonton. Keputusan para karakter yang menjadikan hal mistis sebagai konten hiburan menjadi refleksi atas batas yang semakin kabur antara dunia nyata dan sensasi digital, sekaligus menghadirkan konsekuensi yang tidak terduga.

​Sutradara The Bell, Jay Sukmo membawa pendekatan yang cukup berbeda dalam The Bell: Panggilan untuk Mati dengan menghadirkan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita. Cara ini membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus memberi pengalaman visual yang tidak biasa bagi penonton. Lewat pendekatan tersebut, Jay ​Sukmo juga ingin menghadirkan teror yang lebih halus dan terasa, bukan sekadar mengandalkan kejutan sesaat. "Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya," ujarnya. Pendekatan ini membuat filmnya terasa lebih imersif.

​Melalui film ini, sosok Penebok diperkenalkan sebagai ikon horor baru yang berakar dari folklore Indonesia. Tidak sekadar menjadi elemen teror, Penebok merepresentasikan kekuatan mitos lokal yang jarang diangkat ke layar lebar. Dengan visual yang khas dan latar cerita yang kuat, Penebok dihadirkan sebagai simbol ketakutan yang berbeda, bukan hanya menyeramkan, tetapi juga memiliki kedalaman budaya.

​Sebagai aktor senior Indonesia, Mathias Muchus menilai bahwa kehadirannya dalam The Bell: Panggilan untuk Mati juga berkaitan dengan upaya film ini dalam mengangkat kekuatan budaya lokal melalui sosok Penebok. "Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat, sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya merasa takut, tetapi juga memahami," ujarnya.

​Keunikan inilah yang menjadikan The Bell: Panggilan untuk Mati sebagai tontonan yang layak dinantikan. Di tengah banyaknya film horor dengan pola yang serupa, film ini menghadirkan pendekatan yang lebih segar dengan menggabungkan unsur budaya, teror, dan isu kontemporer. Penonton tidak hanya diajak untuk merasakan ketegangan, tetapi juga menyelami cerita yang memiliki makna dan relevansi.

​Film The Bell: Panggilan untuk Mati tidak hanya mengandalkan elemen teror, tetapi juga mengangkat sejumlah isu yang dekat dengan realitas masyarakat saat ini. Salah satu isu utama yang diangkat adalah fenomena obsesi terhadap konten dan viralitas di era digital, di mana generasi muda kerap menjadikan apa pun sebagai bahan hiburan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Tindakan mencuri benda keramat demi konten dalam film ini menjadi refleksi dari kecenderungan tersebut, sekaligus kritik terhadap budaya sensasi yang semakin ekstrem.

​Selain penayangannya di dalam negeri, The Bell: Panggilan untuk Mati juga akan memperluas jangkauan internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12–20 Mei 2026, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan film The Bell: Panggilan untuk Mati ke sineas global.

​Tonton The Bell: Panggilan untuk Mati di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026, dan jadilah penonton yang tidak hanya menikmati keseruannya, tetapi juga memahami kisahnya! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film ini di Instagram @thebell.film


SINOPSIS

​Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian—Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.


Cast dan Filmmaker

​Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli

​Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan

​Sutradara : Jay Sukmo

​Penulis : Priesnanda

​Co-Produser : Agus Suhardi

​Lini Produser : Ipunk Purwono

​DoP : Indra Suryadi

​Cast : Bhisma Mulia (Danto), Ratu Sofya (Airin), Mathias Muchus (Tuk Baharun), Shaloom Razade (Isabel), Septian Dwi Cahyo (dr. Usman), Givina Lukita Dewi (Saidah), Maulidan Zuhri (Hanafi).

​Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 20260


Tentang Sinemata Buana Kresindo

​​Sinemata Buana Kresindo merupakan kolaborasi dari dua perusahaan kreatif, yaitu Multi Buana Kreasindo (MBK Productions) dan Sinemata Productions, yang menyatukan kekuatan di bidang pengembangan konten, produksi, hingga distribusi film. Berangkat dari pengalaman MBK dalam storytelling dan strategi komunikasi berbasis konten, serta perjalanan Sinemata sebagai agensi marketing film yang berkembang menjadi produser dan distributor, kolaborasi ini hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam industri perfilman. Melalui Sinemata Buana Kresindo, keduanya berkomitmen menghadirkan karya yang relevan, kuat secara cerita, serta mampu menjangkau audiens yang lebih luas melalui kolaborasi strategis di industri kreatif Indonesia.


Tentang OST Film

​"Penuh Kenangan" merupakan original soundtrack (OST) dari film The Bell: Panggilan untuk Mati yang dibawakan oleh Egha De Latoya. Lagu ini menghadirkan nuansa emosional yang kuat, mengangkat tema kesetiaan, harapan, dan keyakinan dalam cinta di tengah ketidakpastian. Tidak hanya sebagai pelengkap film, "Penuh Kenangan" juga berperan memperkuat narasi dan pengalaman emosional penonton melalui lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, aransemen yang menyentuh, serta karakter vokal yang penuh penghayatan. Didistribusikan melalui berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Langit Musik, lagu ini menyasar penikmat film dan musik digital, khususnya generasi muda. Promosinya didukung oleh strategi digital yang terintegrasi, mulai dari kolaborasi dengan kampanye film, aktivasi media sosial, hingga kerja sama dengan influencer.

​Diproduksi bersama RPM Music sebagai label yang berpengalaman di industri musik digital, "Penuh Kenangan" juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand dan partner melalui bentuk sponsorship, campaign, serta aktivasi kreatif lainnya. Kehadiran lagu ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara musik, film, dan audiens secara lebih luas.

Sabtu, 25 April 2026

Vidio Original Series “Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral”Hadirkan Drama Komedi Seru dan Absurd Dibintangi Antonio Blanco Jr. dan Zsa Zsa Utari

 

Jakarta, 23 April 2026 — Apa yang terlintas di kepala saat mendengar kata “ganteng” dan “genteng” dalam satu judul? Mungkin terdengar nyeleneh, mungkin juga bikin senyum-senyum sendiri. Tapi justru di situlah letak keunikannya.

​Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral hadir bukan sekadar judul yang catchy, tetapi membawa kisah yang absurd, hangat, dan penuh kejutan tentang seorang bos muda dari kota yang hidupnya jungkir balik saat terpaksa turun ke desa demi menyelamatkan pabrik genteng keluarganya. Di tengah usahanya beradaptasi dengan para mandor dan kerasnya dinamika lapangan, ia mendapatkan ide tak terduga dari kebiasaan para kuli genteng: sebuah kontes otot. Tak dinyana ini menjadi hal yang heboh dan perlahan berubah menjadi harapan baru bagi masa depan pabrik tersebut.

Vidio Original Series Ganteng-Ganteng Genteng mulai tayang 24 April 2026 eksklusif di Vidio dengan total 7 episode. Series produksi BASE Entertainment dan Studio Antelope ini membawa penonton ke sebuah dunia yang terasa sangat dekat, sangat lokal, namun justru di situlah letak kesegarannya.

​Di tengah gempuran cerita cinta yang berat dan drama perkotaan yang glamor, Ganteng-Ganteng Genteng hadir seperti angin segar, fun, ringan, penuh kekacauan yang menghibur, tapi tetap mengena di hati.

​Joni Wirata (Antonio Blanco Jr.) adalah pewaris PT Wirata Konstruksi Bahari yang hidupnya tak pernah jauh dari privilege, pesta, dan ambisi besar untuk merebut kursi direktur dari sang kakak, Claudia. Namun semuanya runtuh dalam semalam ketika emosinya meledak dan video dirinya memukul seorang investor viral di media sosial. Reputasinya hancur, jabatannya dicopot, dan satu-satunya peluang untuk membuktikan diri tersisa pada sebuah aset bermasalah: pabrik genteng tua milik keluarga di desa Ciwani yang selama ini gagal dijual.

​Berbekal sisa uang tunai dan ego yang masih menyala, Joni pergi ke Ciwani dengan satu tujuan, menjual pabrik itu dan kembali ke Jakarta sebagai pemenang. Namun kenyataan jauh dari bayangannya. Yang ia temukan justru desa yang gersang, pabrik yang nyaris runtuh, serta para pekerja dengan karakter nyentrik yang sama sekali tidak percaya padanya.

​Di tengah segala kekacauan itu, Joni bertemu Kang Odoy (Joe Project P), mandor keras kepala yang melihat pabrik sebagai sumber hidup warga, Ayas (Zsa Zsa Utari), yang tangguh dan mandiri, serta para pekerja lain seperti Kipli (Dian Sidik), Taulib (Apos Hutagaol), Ujang (Rafly Altama) yang perlahan memperlihatkan dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

​Saat semua rencananya menemui jalan buntu, sebuah kejadian absurd justru membuka peluang baru: kontes adu kekuatan otot para pekerja pabrik yang heboh, dan tak terduga viral. Dari sanalah Joni mulai melihat kemungkinan lain, bukan sekadar menjual pabrik, tetapi mengubah keunikan Ciwani menjadi sesuatu yang bernilai.

​Di tengah ambisinya, Joni pun mulai dihadapkan pada pilihan yang jauh lebih besar: mengejar kekuasaan, atau menjaga tempat yang telah menjadi rumah bagi banyak orang.

Berangkat dari konsep orisinal karya Ratih Kumala, yang terinspirasi dari fenomena Binaraga Jebor Jatiwangi Cup garapan Jatiwangi Art Factory

​Ganteng-Ganteng Genteng berawal dari ide Ratih Kumala, novelis ternama, setelah membaca artikel tentang pekerja pabrik genteng di Jatiwangi yang berlatih untuk mengikuti kompetisi binaraga lokal, Jatiwangi Bodybuilding Cup di Majalengka, Jawa Barat.

​Ide yang terdengar out of the box ini justru menyimpan potensi visual dan emosional yang kuat. Berangkat dari sana, tim penulis yang dipimpin Rifki Ardisha bersama tim produksi melakukan riset langsung ke Jatiwangi Art Factory, sebagai penggagas acara, sekaligus menyaksikan langsung Jatiwangi Jebor Cup 2025.

​Dari situ lahirlah sebuah dunia yang penuh dengan karakter-karakter unik, ada humor, drama, absurditas, tapi juga ada kemanusiaan yang kuat. Itu yang menjadi benang merah pengembangan cerita.

​Jay Sukmo sebagai sutradara mengolah latar pabrik genteng di Jatiwangi menjadi dunia yang terasa autentik sekaligus menarik secara sinematik. Syuting dilakukan langsung di Jatiwangi, yang secara alami memiliki karakter lanskap yang kuat, panas, gersang, dan penuh tekstur visual. Ini menjadi seting yang sulit di replika di Jabodetabek. Jay kemudian memperkaya setiap frame dengan sentuhan artistik yang tetap natural agar selaras dengan tone komedi drama series ini.

​Selain visual, Jay juga memberi perhatian pada detail keseharian karakter, mulai dari pemain utama hingga extras, agar kehidupan di pabrik terasa nyata. Untuk mendukung hal ini, para pemain menjalani workshop langsung sebagai pekerja pabrik sebelum syuting dimulai.

​Menariknya, selama proses syuting di Jatiwangi, antusiasme warga sekitar juga sangat terasa. Banyak warga datang untuk menonton langsung jalannya produksi. Bahkan, kehadiran mereka memicu munculnya para penjaja kaki lima yang ikut berjualan di sekitar lokasi. Suasananya pun terasa seperti karnaval kecil setiap hari. Ramai, hangat, dan penuh interaksi antara warga dan kru. Tentu saja, demi kelancaran produksi, semua aktivitas tetap diatur agar berlangsung di area yang aman dan tidak mengganggu proses syuting.

​"Jatiwangi sudah punya karakter visual yang sangat kuat. Tugas saya adalah menjaga semuanya tetap natural, hidup, dan estetik, sehingga penonton bisa percaya dengan dunia yang kami hadirkan," ujar Jay Sukmo.


​Totalitas Antonio Blanco Jr.: Dari Belajar Bikin Genteng hingga Intermittent Fasting Demi Joni

​Antonio Blanco Jr. merasa excited melakoni peran sebagai Joni, apalagi karakter ini terasa sangat dekat karena memiliki sisi yang relatable dengan dirinya, mulai dari sosok anak kota yang terbiasa hidup nyaman hingga sifat impulsif yang apa adanya. Tetapi justru yang paling menarik baginya adalah perjalanan transformasi Joni, dari seorang spoiled kid yang hanya mengejar ambisi menjadi sosok yang perlahan menemukan empati, kepedulian, dan arti keluarga di tempat yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Demi mendalami peran ini, Antonio menjalani workshop di lokasi, belajar membuat genteng, puasa intermittent hingga mempersiapkan fisik untuk adegan-adegan kontes otot yang menjadi salah satu highlight series ini.

​"Workshop di Jatiwangi itu salah satu pengalaman paling berkesan buat gue. Kita literally turun langsung jadi ‘kuli genteng’. Mulai dari ngumpulin tanah liat, ngebentuk, motong, sampai pressing dan bakar genteng. Di situ baru kerasa banget ternyata prosesnya nggak gampang. Kita juga banyak ngobrol sama warga dan para pekerja, jadi makin paham keseharian mereka. Itu sih yang bikin gue lebih relate dan bisa ngebawa karakter Joni jadi lebih hidup," jelas Antonio Blanco Jr.

​​Antonio juga menambahkan kalau salah satu adegan yang memorable adalah saat scene panggung kontes otot final, karena semua pemain berkumpul dan treatment secara kolosal. Di situ menurutnya emosinya lengkap banget, ada sisi komedi, adegan yang intens, sampai momen yang menyentuh. Secara teknis juga cukup menantang karena shot-nya banyak dan mereka harus berpacu dengan waktu.


​Zsa Zsa Utari hadirkan Ayas yang tangguh, hangat, dan bikin jatuh hati

​Di tengah kekacauan Joni, hadir Ayas (Zsa Zsa Utari), perempuan desa yang tangguh, mandiri, dan punya hati besar. Ia bukan tipe karakter perempuan yang hanya hadir sebagai love interest. Ayas punya dunianya sendiri, punya beban sendiri, dan justru menjadi salah satu pusat emosional cerita.

​"Ayas itu perempuan yang kalau ada masalah ya jalan dulu, gas dulu, nanti dipikirin sambil jalan," ujar Zsa Zsa sambil tertawa.

​Menurutnya, karakter ini sangat membekas secara personal. "Yang aku suka dari Ayas adalah dia selalu mengupayakan yang terbaik untuk keluarga. Dia kuat, tapi tetap hangat. Ada banyak sisi yang aku relate banget."


​Zsa Zsa juga menyoroti chemistry yang terbangun natural bersama Antonio.

​"Lucunya, dari awal reading kita tuh langsung click. Ngobrol, bercanda, curhat, dan chemistry-nya ngalir aja. Jadi pas di layar, semuanya terasa natural. He's such a great partner to work with!"

​Ganteng-Ganteng Genteng juga semakin semarak dengan kehadiran para pemain lain seperti Dian Sidik, Joe Project P, Apos Hutagaol, Nugie, Rafly Altama, Jasmine Nadya, Adinda Thomas, serta deretan pemeran pendukung lainnya yang menghadirkan warna tersendiri di setiap episode. Masing-masing karakter tampil dengan keunikan yang kuat, menghadirkan humor yang terasa natural.


​Lebih dari Tawa: Cerita Tentang Perubahan dan Tantangan Kehidupan

​Lebih dari sekadar komedi, Ganteng-Ganteng Genteng menghadirkan cerita segar tentang kehidupan desa yang keras namun hangat. Lewat perjalanan Joni, penonton diajak melihat transformasi dari sosok penuh ambisi menjadi pribadi yang lebih tulus, sekaligus menyentuh isu sosial seperti kesenjangan urban-rural dalam balutan komedi yang ringan dan membumi.

Jangan lewatkan keseruan, kehangatan, dan kekacauan paling absurd dari Vidio Original Series Ganteng-Ganteng Genteng, mulai 24 April 2026, dengan episode terbaru setiap Jumat, hanya di Vidio.

Naura Ayu Rilis ‘Terima Kasih’, Lagu yang Lahir dari Kenangan yang Tak Sempat Dirayakan

 

Jakarta, 23 April 2026 – Melalui lagu terbaru berjudul “Terima Kasih” yang dirilis hari ini, Naura Ayu merajut kenangan masa sekolah dan perasaan kehilangan momen perpisahan yang utuh menjadi sebuah persembahan emosional yang ia dedikasikan khusus untuk para sahabatnya.

​“Lagu ini aku buat untuk sahabat-sahabat aku. Kami punya banyak banget kenangan, tapi tidak sempat merasakan momen kelulusan bersama karena pandemi. Itu yang bikin semuanya terasa sangat emosional,” ungkap Naura.

​Dalam proses kreatifnya, lagu ini ditulis bersama Ivan Tangkulung dan Tarapti Ikhtiar Rinrin (Tarrarin). Berangkat dari catatan personal Naura yang menyerupai diary, setiap potongan cerita kemudian dikembangkan menjadi lirik yang jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang. “Banyak hal yang diceritakan Naura itu sebenarnya sederhana, tapi justru di situ letak emosinya. Dari catatan-catatan kecil itu, kita kembangkan jadi lagu yang terasa sangat personal, tapi juga relate,” ujar Tarrarin.

Secara musikal, “Terima Kasih” hadir dengan nuansa yang lebih sinematik dan terinspirasi dari pendekatan musikal teater. Naura sejak awal telah memiliki gambaran jelas tentang warna lagu yang diinginkan, menggabungkan sisi familiar yang sudah dikenal pendengarnya dengan eksplorasi yang lebih matang. “Aku ingin lagunya punya nuansa musikal, dengan storytelling yang kuat. Tapi tetap terasa seperti Naura yang dulu, hanya saja dengan pendekatan yang lebih dewasa,” jelasnya.

​Lapisan vokal dan elemen paduan suara menjadi bagian penting dalam membangun emosi lagu ini. Dalam prosesnya, penyusunan vocal layer dikerjakan bersama oleh seluruh tim, termasuk Nola B3, ibunda dari Naura, yang juga turut berkontribusi dalam sesi rekaman. Keterlibatan orang-orang terdekat ini semakin memberi warna dan kedekatan emosional dalam keseluruhan karya.

​Seiring dengan perilisan lagunya, video musik “Terima Kasih” juga dirilis pada hari yang sama. Video ini menampilkan momen kebersamaan Naura bersama teman-temannya di sekolah, dengan suasana hangat dan penuh keceriaan. Dalam salah satu adegan, Naura dan teman-temannya terlihat menikmati 5 Days Croissant yang turut melengkapi momen kenangan manis mereka.

​“Terima Kasih” menjadi salah satu langkah baru dalam perjalanan musikal Naura, sekaligus pengantar menuju album berikutnya yang tengah ia siapkan.

​Melalui lagu ini, Naura berharap pendengar bisa kembali terhubung dengan kenangan masa sekolah mereka. Bagi yang masih berada di bangku sekolah, lagu ini menjadi pengingat untuk menikmati setiap momen yang ada, sementara bagi yang telah melewati fase tersebut, “Terima Kasih” menjadi ruang untuk kembali merasakan hangatnya kenangan yang pernah dimiliki.

​Single terbaru Naura Ayu, “Terima Kasih”, resmi dirilis dan dapat didengarkan di seluruh platform digital streaming mulai 23 April 2026. Lagu ini menghadirkan kisah tentang kenangan masa sekolah dan pertemanan, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus kerinduan atas momen yang tak sempat terucap dengan utuh.


​Trinity Optima Production (TOP)

​Trinity Optima Production (TOP) atau @trinityoptima adalah pionir label musik yang mencakup manajemen artis di Indonesia di bawah naungan Trinity Entertainment Group (TEG). Mengusung misi “Nurturing STARS to Inspire Happiness”, TOP telah berhasil mengorbitkan berbagai talenta berbakat di Indonesia di bidang musik dan hiburan seperti Afgan, Ungu, Maudy Ayunda, Armand Maulana, Mawar De Jongh dan Naura Ayu. TOP berfokus kepada A&R (Artist & Repertoire) yakni menggali bakat dan brand positioning talent, perencanaan peluang dan penampilan, pemasaran, sampai pengelolaan komersial brand untuk klien internal maupun eksternal TOP.

Ikhlas Paling Serius Tayang 1 Mei 2026 di Viu, Ini Sinopsis dan Daftar Pemainnya

 


Jakarta, 24 April 2026 – Series drama romantis Ikhlas Paling Serius akan tayang di platform streaming Viu dan MAXStream TV mulai 1 Mei 2026. Drama ini dibintangi Omar Daniel dan Kimberly Ryder sebagai pemeran utama, serta diadaptasi dari novel mega best seller dengan judul yang sama karya Fajar Sulaiman.

Selain Omar Daniel dan Kimberly Ryder, series ini juga menghadirkan sejumlah aktor lain seperti Fahad Haydra, Amara Sophie, Kiara Mckenna, dan Caroline Zachrie.

Dalam series ini, Omar Daniel memerankan Fajar, pria yang dekat dengan keluarga dan berusaha mengutamakan orang lain. Sementara itu, Kimberly Ryder berperan sebagai Farah, perempuan ambisius yang dikenal tegas di lingkungan kerja, tetapi menghadapi tekanan dari ibunya.

Omar Daniel menjelaskan bahwa karakter yang ia perankan memiliki sifat people pleaser yang membuatnya sulit mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

“Ikhlas itu kayak level tertinggi dari mencintai. Bagaimana seseorang itu rela melepaskan, menerima sebuah keadaan dengan lapang dada, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Itu yang dilakukan oleh Fajar, dan bisa jadikan contoh untuk semuanya,” kata Omar Daniel.

Ia juga menyebut karakter Fajar sebagai sosok yang sering mengalah demi orang lain. “Fajar itu sedikit plin-plan. Karena dia people pleaser, tipikal orang yang nggak enakan, bingung cara menolak,” ujar Omar Daniel.

Sementara itu, Kimberly Ryder menggambarkan karakter Farah sebagai sosok pekerja keras yang terlihat tegas, tetapi menyimpan tekanan dari keluarganya.

“Farah adalah hard worker. Orang-orang bilang dia bos yang killer dan tegas. Pokoknya semua orang takut sama dia. Tapi sebenarnya hatinya lembut. Dia seperti itu karena ada tuntutan dari ibunya,” kata Kimberly Ryder.

Kimberly juga menilai karakter yang ia perankan menghadapi dilema dalam hubungan dan kehidupan pribadinya.

Series Ikhlas Paling Serius mengisahkan pertemuan Fajar dan Farah yang berawal dari hubungan kerja. Fajar mendapatkan kesempatan bekerja di kantor Farah, seorang bos muda yang dikenal perfeksionis.

Situasi berubah ketika Fajar ternyata diminta oleh Willie, teman Farah, untuk memata-matai perempuan tersebut. Namun seiring waktu, Fajar justru jatuh cinta pada Farah.

Hubungan keduanya berkembang secara diam-diam karena mereka harus menyembunyikan perasaan dari keluarga dan lingkungan kerja. Konflik muncul ketika rahasia tersebut terbongkar, dan di sisi lain, Farah menghadapi tekanan dari ibunya.

Series Ikhlas Paling Serius akan tayang mulai 1 Mei 2026 di Viu serta MAXStream TV, dan menghadirkan kisah tentang pilihan antara cinta, keluarga, dan masa depan.

Badan Perfilman Indonesia Umumkan Susunan Pengurus 2026-2030, Siap Perkuat Ekosistem Film Nasional

 


​Jakarta, April 2026 – Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, resmi mengumumkan susunan pengurus BPI periode 2026-2030. Pengumuman ini menjadi tonggak penting di tengah momentum kebangkitan industri perfilman Indonesia pascapandemi.

​"Agenda utama yang disiapkan adalah peningkatan SDM perfilman melalui sinkronisasi kurikulum, program magang-hub, dan pengiriman talenta muda ke sekolah film terbaik di luar negeri serta berbagai film lab internasional. Selain itu, BPI akan menyusun revisi UU Perfilman bersama Kementerian Kebudayaan untuk penguatan kelembagaan BPI, penguatan profesi perfilman, penguatan dukungan pemerintah terhadap perfilman, kepastian hukum dan kemudahan investasi, serta perlindungan kebebasan berekspresi," ujar Fauzan.

​Fauzan menambahkan bahwa BPI juga memiliki agenda lain, seperti gerakan anti-pembajakan film secara menyeluruh, penyelenggaraan Festival Film Indonesia, dan pelaksanaan fungsi-fungsi BPI seperti tertuang di UU Perfilman.

​Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut menyampaikan harapannya kepada kepengurusan baru. "BPI memiliki posisi yang sangat penting sebagai jembatan antara pemerintah dan insan perfilman. Kami berharap BPI dapat semakin menguatkan ekosistem perfilman Indonesia, mendorong tata kelola yang transparan, serta membuka ruang yang lebih luas bagi talenta kreatif di seluruh Indonesia," ujarnya.

Berikut adalah struktur kepengurusan Badan Perfilman Indonesia (BPI) 2026-2030:

‎Dewan Pengawas : Judith Jubilina Dipodiputro (ketua), Fajar Nugros, Danu Murti, Agustina Kusuma Dewi, dan Nasaruddin Saridz

‎Dewan Penasehat : Reza Rahadian (ketua), Christine Hakim, Joko Anwar, dan Dede Yusuf

‎Dewan Pakar : Dara Bunga Rembulan, Gusti Randa, Immanuel Prasetya Gintings, Adisurya Abdy, Daniel Rudi Haryanto, Muspita Leni Lolang, dan Rully Sofyan

‎Ketua Umum : Fauzan Zidni

‎Sekretaris Jenderal : Nazira C. Noer

‎Bendahara Umum : Sindy Dewiana

‎Wakil Sekjen Bidang Ekosistem Perfilman : Aline Jusria

‎Kepala Komunikasi : Vivi Coster

‎Kepala Sekretariat : Rizky Yudo Atmaja

‎Ketua Bidang Organisasi : Anggi Frisca

‎Ketua Bidang Kebijakan Publik : Suprayitno dan Rommy Fibri Hardiyanto

‎Ketua Bidang Pengembangan SDMN : Aswan Iskandar

‎Ketua Bidang Hubungan Internasional : Yulia Evina Bhara

‎Ketua Bidang Festival : Wulan Guritno

‎Ketua Bidang Literasi Film : Putri Ayudya

‎Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan : Dyna Herlina Suwarto

‎Ketua Bidang Pengembangan Film Daerah : Tonny Trimarsanto

‎Ketua Bidang Kerjasama : Luna Maya

‎Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan : Tesadesrada Ryza

‎Ketua Bidang Pelestarian Film : Farry Hanief dan Julita Pratiwi

‎Pokja Kajian & Advokasi Rencana Induk Perfilman Nasional : Aria Agni, Panji Wibowo, Andi S. Boediman, dan Kus Sudarsono

‎Pokja Kajian Akselerasi Pengembangan SDM : Arif Sulistiyono, Celerina Judisari, Rina Harahap, dan Agung Sentausa

‎Pokja Kajian Pelestarian Film : Riri Riza, Lisabona Rahman Satgas Anti Pembajakan Hermawan Sutanto, Axel Hadiningrat

‎Komite Festival Film Indonesia 2026 : Ario Bayu (ketua), Budi Irawanto, Prilly Latuconsina, Rahajeng Paramesrani, Sofia Setyorini, Andi F. Yahya, dan Rangga Djoned

Dengan susunan kepengurusan dan Pokja yang telah terbentuk, Badan Perfilman Indonesia (BPI) berkomitmen untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi kinerja dengan seluruh insan perfilman. Momen ini adalah kesempatan untuk bergerak bersama, memastikan setiap program kerja dilaksanakan dengan unggul demi memperkuat ekosistem perfilman nasional dan memajukan perfilman Indonesia.


​*****


​Tentang Badan Perfilman Indonesia (BPI):

Berdiri pada 17 Januari 2014 berdasarkan UU No. 33 Tahun 2009, Badan Perfilman Indonesia adalah lembaga swasta mandiri yang dibentuk masyarakat sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen perfilman Indonesia: dikukuhkan Presiden, difasilitasi Pemerintah. BPI memiliki tugas: memberikan masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah dalam mendorong kebijakan perfilman dan mempercepat PP Rencana Induk Perfilman Nasional dan PP Sanksi. Menyelenggarakan dan mengikuti festival film di dalam dan luar negeri. Mempromosikan Indonesia sebagai lokasi pembuatan film asing. Melakukan penelitian dan pengembangan perfilman. Memberikan penghargaan kepada insan perfilman. Memfasilitasi pendanaan pembuatan film bermutu tinggi.

Yasmin Napper dan Lulu Tobing Bagikan Memori Keluarga yang Paling Berharga Refleksi Mendalam dari Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" Siap Tayang 13 Mei 2026!

 

​Di era digital saat ini, memori sering kali dianggap abadi karena tersimpan di cloud. Namun, bagaimana jika satu-satunya "penyimpanan" yang kita miliki, yakni ingatan orang tercinta, perlahan memudar? Pertanyaan eksistensial inilah yang dijawab oleh Rapi Films melalui karya terbaru yang berjudul, "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan".

​Setelah sukses besar dengan Tunggu Aku Sukses Nanti (TASN) dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi Films kembali berkolaborasi dengan sutradara Kuntz Agus dan penulis skenario Alim Sudio. Film ini mengeksplorasi narasi caregiving dan ketahanan keluarga yang sangat relevan dengan dinamika sosial modern.


​Dinamika Keluarga di Tengah Krisis Memori

​Film ini mengikuti perjalanan Yuke Yolanda (Lulu Tobing), seorang ibu dan guru yang didiagnosis menderita Alzheimer. Fokus cerita bukan hanya pada kondisi medisnya, melainkan pada bagaimana keluarga tersebut, Aldo (Ibnu Jamil) dan ketiga anaknya, mengubah seluruh gaya hidup mereka demi menjaga sang "jantung" keluarga.

​Bagi generasi muda, perspektif Kesha (Yasmin Napper) memberikan gambaran nyata tentang Coming of Age di tengah tekanan keluarga. Sebagai mahasiswi film, Kesha harus memilih antara mengejar ambisi pribadinya atau pulang untuk mengabdikan memori sang ibu sebelum ia benar-benar terlupakan.


​Kutipan dari Cast tentang Pentingnya Memori Keluarga

​Dalam press conference resmi di Plaza Senayan, para pemeran membagikan perspektif personal yang memperkuat pesan moral film ini, bahwa memori adalah bagian hidup yang krusial untuk dijaga.

​Yasmin Napper mengenang kepingan masa lalunya dengan penuh kerinduan, "Aku selalu akan inget berangkat ke sekolah bareng kakak-kakak aku, di mobil ngobrol-ngobrol. Kangen juga berantem-berantem kecil yang sebenernya ga harus berantem tapi diberantemin".

​Bagi Lulu Tobing, meski memori memudar secara biologis, dampak cinta tetap hidup dan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Ia pun berbagi momen intim yang ia jaga hingga kini, "Saya itu suka banget disuapin ibu saya kalau makan. Ini masih saya rasakan di saat saya udah seumur ini. Gimanapun juga, sampai kapanpun, yang kita mau rasain yaitu kasih sayang ibu. Jadi, gak mau itu dihilangkan".

​Refleksi ini diperdalam oleh Ibnu Jamil yang memandang bahwa peran orang tua di masa tua pada akhirnya adalah tentang mendapatkan tempat di hati anak-anaknya. Shofia Shireen turut menambahkan betapa berharganya kesederhanaan, "momen-momen simple ketika tengah malam aku bercanda-canda dengan kakak, adik, kadang juga mamah ikutan ngobrol ketawa-tawa. Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya aku akan kangen momen-momen ini di hari tua nanti".

​Menutup rangkaian perspektif tersebut, Jordan Omar mengingatkan kita pada kefanaan waktu, "aku suka banget momen-momen simple, seperti ketika keluarga kumpul bareng, makan bareng, bercanda-bercanda. Ini berharga banget karena kita hidup di dunia ini sementara, dan kita gatau kapan kita ga bisa ngalamin ini lagi".


​Sebuah Perayaan Atas Kenangan yang Terus Dirawat

​Film ini merupakan ajakan terbuka bagi penonton untuk merenungkan kembali arti sebuah kenangan. Di tengah ancaman hilangnya memori, solidaritas anggota keluarga menjadi kunci utama pertahanan mereka.

​Sebab pada akhirnya, hidup mengajarkan bahwa ada hal-hal yang boleh hilang seperti kesempatan atau nilai akademik, namun jangan sampai kita kehilangan eksistensi di dalam hati orang tua kita.

​Saksikan "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" serentak di seluruh bioskop mulai 13 Mei 2026.

Kamis, 23 April 2026

Film Kupeluk Kamu Selamanya Memotret Cerita Perjuangan Ibu Untuk Berdamai dengan Kehidupan, Cinta Tanpa Syarat hingga Titik Akhir

 

Tonton film Kupeluk Kamu Selamanya mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia, rasakan makna #CintaTanpaSyarat

​Jakarta, 23 April 2026 — Kuy! Studios mempersembahkan film debut layar lebar mereka yang bekerja sama dengan Aktina Film, Kupeluk Kamu Selamanya. Sebuah drama keluarga yang tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Menampilkan cerita perjuangan seorang ibu untuk berdamai dengan kehidupannya.

​Film Kupeluk Kamu Selamanya mengikuti kisah seorang ibu tunggal bernama Naya yang diperankan oleh Hana Malasan. Ia harus merelakan kariernya demi merawat sang anak, Aksa (Jared Ali), yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir. Ketika Naya berpisah dengan sang suami (Ibnu Jamil), kehidupan Naya semakin menantang. Saat sakit bawaan Aksa semakin parah dan membuatnya harus menjalani perawatan, Naya diuji kekuatannya baik sebagai ibu dan seorang manusia.

​Disutradarai oleh Pritagita Arianegara, yang dalam setiap filmnya selalu berbicara tentang relasi ibu dan anak, ia memberikan sebuah perjalanan emosional yang menyentuh dari kisah Naya dan Aksa. Penonton diajak untuk merasakan dan memaknai arti cinta tanpa syarat, dari sudut pandang seorang ibu.

​Film ini dibintangi oleh Hana Malasan, Jared Ali, Ibnu Jamil, Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Vonny Anggraini, Yurike Prastika, Mario Irwinsyah, dan Leroy Osmani. Film ini juga menjadi debut aktris Dinda Hauw sebagai produser, bersama Dara Dwitanti. Kupeluk Kamu Selamanya juga menjadi debut Sean Gelael di industri perfilman Indonesia, dengan menjadi produser eksekutif film ini, bersama Angga Dwimas Sasongko.

​"Saya ingin penonton pulang dan menyadari, bahwa kita memiliki cinta yang tidak akan pernah selesai, yakni cinta seorang ibu kepada anaknya. Namun, ketika cinta itu selesai, itu menjadi sebuah kenangan yang juga tidak akan pernah akan hilang," ujar sutradara Pritagita Arianegara.

​Sementara itu, bagi Hana Malasan, ia memaknai sebuah cinta tanpa syarat adalah saat memberikan sesuatu tanpa berharap imbal balik. Namun, lewat karakter Naya, Hana juga melihat sebuah refleksi bahwa perempuan, terutama ibu, kerap kali dianggap selalu kuat, sehingga merasa tidak butuh pertolongan dari orang di sekitarnya.

​"Naya mengajarkan kita untuk jangan lupa meminta tolong. Tidak apa-apa jika kita terlihat rapuh, karena itu sangat manusiawi. Rapuh itu juga bagian dari emosi manusia yang harus kita terima," ujar Hana Malasan.

​"Film ini sebenarnya juga cerita tentang perjuangan seorang ibu untuk bisa berdamai dengan kehidupan. Karena sebenarnya seorang ibu yang sudah berdamai dengan hidupnya sendiri, akan terefleksi ke orang-orang sekitar. Terkadang itu yang dilupakan, karena terlalu fokus untuk menjadi ibu yang kuat dan sempurna, padahal sebenarnya ibu juga manusia, dan manusia tidak sempurna," tambah Hana.

​Bagi Ibnu Jamil, film Kupeluk Kamu Selamanya juga terasa sangat manusiawi, saat Pritagita memotret para karakternya tidak benar-benar hitam putih antara protagonis-antagonis.

​Kupeluk Kamu Selamanya yang juga menceritakan tentang perjalanan orangtua tunggal dalam memperjuangkan anaknya, juga menjadi bentuk refleksi untuk para orangtua yang sering merasa paling tahu apa yang dibutuhkan sang anak.

​"Film ini adalah perjuangan orangtua tunggal dengan segala macam bentuk cara dan keterbatasannya untuk merawat anaknya. Hebatnya, tidak ada yang antagonis, karena di dunia nyata pun tidak ada yang hitam-putih, tergantung melihatnya bagaimana, setiap orang punya sudut pandang masing-masing," ungkap Ibnu Jamil.

​Kupeluk Kamu Selamanya tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Saksikan dan resapi makna #CintaTanpaSyarat di film ini. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @kupelukkamuselamanya dan @kuy.studios.

Rabu, 22 April 2026

Trailer Film Tumbal Proyek Rilis, Bongkar Kisah Kelam di Balik Proyek Besar

 


Jakarta, 23 April 2026 - Trailer film Tumbal Proyek resmi dirilis dan langsung memperlihatkan nuansa horor yang pekat sejak awal. Film ini mengangkat cerita yang beredar di masyarakat tentang sisi gelap di balik proyek-proyek besar, termasuk pembangunan Jembatan Surabaya–Madura atau Suramadu, yang sejak lama kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mistis dan tumbal manusia.

​Lewat trailer perdananya, Tumbal Proyek tidak hanya menawarkan teror visual, tetapi juga membawa lapisan cerita yang emosional. Film ini menyoroti kisah keluarga yang terus menunggu kabar orang terdekat yang hilang, tanpa pernah mendapat kepastian dan tanpa pernah bisa menguburkan mereka dengan layak.

​Tema kehilangan menjadi salah satu kekuatan utama dalam film ini. Di tengah suasana mencekam dan misteri yang perlahan terbuka, Tumbal Proyek menghadirkan rasa duka yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Penantian, luka batin, dan ketidakpastian menjadi bagian penting yang membangun emosi cerita.

​Film ini juga memadukan unsur horor, misteri, dan drama emosional dalam satu alur yang saling menguatkan. Teror yang muncul tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh dari cerita manusia yang penuh trauma dan kehilangan. Karena itu, Tumbal Proyek hadir bukan sekadar sebagai film horor, tetapi juga sebagai kisah tentang keluarga, harapan yang tertahan, dan luka yang belum selesai.

​Dengan premis yang dekat dengan cerita tutur di tengah masyarakat, Tumbal Proyek mencoba membawa mitos yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut ke layar lebar dalam bentuk yang lebih dramatis dan sinematis. Trailer film ini pun menjadi pintu awal bagi penonton untuk masuk ke dalam misteri besar yang menyelimuti hilangnya nyawa di balik sebuah proyek pembangunan.

​Melalui trailer yang telah dirilis, Tumbal Proyek menjanjikan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus menyentuh sisi emosional penonton. Film ini memperlihatkan bagaimana ketakutan bisa lahir bukan hanya dari sosok tak kasat mata, tetapi juga dari kehilangan yang terus menghantui orang-orang yang ditinggalkan. Saksikan Film Tumbal Proyek yang akan tayang mulai 13 Mei 2026 di Bioskop.

Film Ikatan Darah Menyajikan Roller Coaster Ride Action! Duel Laga Karakter Utama Perempuan yang Fresh Sekaligus Emosional dalam Misi Selamatkan Keluarga dari Jeratan Lintah Darat

 

Film Ikatan Darah tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia

Jakarta, 22 April 2026- Uwais Pictures bersama produser eksekutif Iko Uwais dan sutradara Sidharta Tata menghadirkan kesegaran baru di perfilman Indonesia melalui film Ikatan Darah yang akan tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Menampilkan duel dari karakter utama perempuan yang diperankan Livi Ciananta sebagai Mega saat berhadapan dengan geng mafia paling mematikan di Jakarta demi menyelamatkan keluarganya.

Di setiap adegan aksinya, Sidharta Tata memberikan keunikan masing-masing dengan lapisan emosional yang berbeda. Ikatan Darah membawa angin segar dengan menampilkan film aksi laga Indonesia yang kualitasnya setara film internasional, dengan pendekatan isu sosial yang dekat dengan Indonesia melalui permasalahan judi online (judol) dan jeratan pinjaman online (pinjol).

Sementara itu, sajian action di film Ikatan Darah seperti tak memberikan waktu penonton untuk bernapas, dan menjadi pengalaman sinematik yang sangat roller coaster ride.

Diproduseri oleh Ryan Santoso, dengan produser eksekutif Iko Uwais bersama Yentonius Jerriel Ho, dan Yocke Kaseger, film yang diproduksi Uwais Pictures yang turut didukung oleh KG Pictures, Legacy Pictures, dan Raid Rapid Active memberikan pengalaman baru bagi penonton Indonesia lewat genre aksi yang berkualitas

"Film Ikatan Darah membuktikan bahwa regenerasi action di Indonesia terjadi dan terus berkembang. Di film ini, pemeran utamanya perempuan, yang biasanya bahkan di dunia sekalipun, film oction didominasi oleh karakter utama laki-laki. Ini menjadi komitmen Uwais Pictures yang terus mendorong lahirnya bakat-bakat baru di genre action," kata produser eksekutif Iko Uwais.

Tak hanya menyajikan aksi yang bikin tahan napas, sutradara Sidharta Tata juga menyajikan elemen drama yang emosional dan menyentuh. Tentang hubungan keluarga dan persaudaraan dan sikap rela berkorban.

Ceritanya juga diambil dari keseharian yang sangat dekat dengan banyak orang Tentang perjuangan kelas ekonomi bawah yang bertaruh demi mendapat hidup yang layak.

"Ikatan Darah menunjukkan soal bagaimana persaudaraan dan pertemanan menjadi harga mati yang saling terikat. Bagaimana kita merajut hubungan persaudaraan yang rela berkorban, rela untuk melakukan apapun demi kelangsungan hidup saudaranya," ujar sutradara Sidharta Tata.

"Secara action, saya menjanjikan akan menjadi pengalaman sinematik di bioskop yang juga roller coaster ride. Kami didukung oleh tim yang sangat berpengalaman, bersama Uwais Team yang telah mengerjakan berbagai proyek laga internasional dan akan menjadi hiburan yang begitu menegangkan hingga akhir di bioskop." tambah Sidharta Tata.

Ikatan Darah dibintangi oleh Livi Ciananta, Derby Romero, Dimas Anggara, Teuku Rifnu Wikana, Abdurrahman Arif, Ramadhan Ruswadi, Agra Piliang, Ismi Melinda, dan aktris senior Lydia Kandou.

Livi dan Derby akan menghadapi para musuh mereka dengan gaya bertarung yang berbeda-beda. Perbedaaan gaya duel inilah yang akan semakin membuat menarik Ratan Darah sehingga film ini terasa begitu kaya dengan teknik action yang berkualitas.

"Butuh waktu sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan adegan fighting. Selama tiga bulan itu, kami hampir setiap hari mengulang koreografi yang sudah diciptakan oleh Uwais Team. Sehingga saat syuting pun minim cedera," kata Livi Ciananta, yang memerankan karakter utama bernama Mega di Ikatan Darah.

"Tentunya di film ini bagian adegan fighting-ku sangat banyak. Setiap ada adegan fight, itu ada aku, dan setiap fight, punya rasa yang berbeda-beda. Dalam perjalanan menyelamatkan kakaknya, Mega selalu bertemu dengan penjahat yang karakter membunuhnya itu bermacam-macam," tambah Livi.

Bagi Derby, ini adalah pengalaman pertamanya membintangi film aksi. Derby sendiri sebenarnya memiliki latar belakang atlet dan berbagai bidang beladiri, termasuk muay thai hingga jiu jitsu. Namun, di film ini, Derby justru harus beradegan aksi menggunakan instingnya.

"Sebenarnya latar belakang beladiriku sangat bermanfaat di Ikatan Darah, yang menjadi film action pertamaku. Karena filmnya sangat physical, aku harus sprint, jatuh dan segala macam, yang sebagian besar itu aku lakukan sendiri tanpa stunt. Aku juga banyak belajar tentang koreografi fighting di film ini yang seperti dance, ada ritme, beat, serta chemistry," kata Derby Romero yang memerankan Bilal

"Di film ini, aku fighting mengandalkan instingku, dan dipaksa untuk terus berlari," tambah Derby.

Ikatan Darah akan membawa penonton pada pengalaman sinematik dari sajian aksi laga dengan kualitas internasional, dengan bumbu cerita drama dan sentuhan lokal yang sangat Indonesia. Film ini adalah tentang pertaruhan hidup dan mati, yang juga berbicara tentang permasalahan yang banyak dihadapi orang di Indonesia.

Ikuti informasi dan perkembangan terbaru Uwais Pictures dan film Ikatan Darah melalui akun Instagram @uwaispictures.


SINOPSIS

Mega (Livi Ciananta), seorang mantan atlet pencak silat yang kini bekerja sebagai pramusaji, harus menyelamatkan kakaknya, Bilal (Derby Romero), yang menjadi buruan para gangster terkejam akibat hutang dan pembunuhan yang tak sengaja ia lakukan.

Aksi perburuan membuat kakak beradik itu terjebak di sebuah kampung yang seluruh pintu keluarnya telah ditutup oleh para preman anak buah dari bos gangster, yaitu Primbon (Teuku Rifnu). Kini, Mega dan Bilal harus bekerja sama untuk dapat meloloskan diri dari kejaran para gangster itu meski nyawa menjadi taruhannya.


TENTANG UWAIS PICTURES

UWAIS PICTURES adalah rumah produksi film yang diluncurkan pada tahun 2023 oleh aktor sekaligus atlet bela diri Iko Uwais. Perjalanan Uwais Pictures berawal dari "Uwais Team" sebuah tim koreografi aksi yang telah dikenal luas lewat kontribusi di berbagai film nasional dan internasional. Uwais Pictures hadir dengan visi untuk menghadirkan film laga yang mengakar pada seni bela diri Indonesia, namun tetap mampu bersaing di pasar global.

Rumah produksi ini digerakkan oleh tim inti yang solid, termasuk Iko Uwais sebagai Chairman dan Ryan Santoso sebagai CEO. Setiap film yang diproduksi dihadirkan dengan filosofi bahwa aksi bukan sekadar hiburan visual, melainkan medium untuk bercerita dan menginspirasi generasi yang baru.

Proyek perdana Uwais Pictures, Ikatan Darah garapan Sidharta Tata dan Timur yang disutradarai langsung oleh Iko Uwais, menjadi penanda langkah pertama untuk memperkenalkan wajah baru film laga Indonesia. Melalui karya-karya tersebut, Uwais Pictures ingin mengedukasi penonton muda agar semakin menghargai film laga lokal, sekaligus memperkenalkan pencak silat sebagai bagian dari identitas bangsa. Dengan semangat kolaborasi dan orientasi pasar internasional, Uwais Pictures berkomitmen untuk menjangkau penonton yang lebih luas dan bisa menduniakan film laga Indonesia di kancah perfilman dunia.


AKUN MEDIA SOSIAL UWAIS PICTURES

​Instagram : @uwaispictures

​X : @uwaispictures

​YouTube : Uwais Entertainment

Melalui musik yang megah dan emosional, Isyana Sarasvati mengiringi perjalanan Putra mengejar mimpinya di film animasi keluarga Garuda di Dadaku

 Isyana Sarasvati Hidupkan Perjuangan Putra di MV Garuda di Dadaku Jakarta, 15 Mei 2026 — Setelah lebih dulu mencuri perhatian publik lewat ...