![]() |
| Ajak publik bersama-sama memecahkan kesunyian dan menyuarakan stop KDRT melalui kampanye gerakan #memecahkankesunyian |
Jakarta, 20 Mei 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop seluruh Indonesia mulai 27 Mei 2026, film terbaru produksi SinemArt, SUAMIKU LUKAKU, menegaskan posisinya bukan hanya sekadar sebuah film drama, tetapi juga sebuah gerakan sosial yang mengajak publik untuk lebih peka terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan dalam relasi, baik yang terlihat secara fisik maupun non-fisik, yang meninggalkan luka yang terlihat maupun luka emosional mendalam yang jarang sekali terlihat.
Selama rangkaian menuju penayangan film, SUAMIKU LUKAKU telah menghadirkan berbagai kegiatan sebagai bentuk aksi nyata untuk membuka ruang percakapan mengenai isu yang selama ini kerap dianggap tabu. Mulai dari Psychology Talkshow & Public Discussion, program Goes to Campus, rangkaian “Nonton Duluan” di berbagai kota, hingga kampanye turun ke jalan melalui gerakan #memecahkankesunyian di Car Free Day secara serentak di 5 kota besar Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat utama film ini, yaitu mengajak masyarakat untuk lebih berani melihat, mendengar, dan tidak lagi berpaling dari kekerasan yang sering tersembunyi di balik citra keluarga harmonis.
“Film ini kami hadirkan bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membangkitkan kesadaran. Banyak korban kekerasan hidup dalam ketakutan dan merasa sendirian karena lingkungan di sekitarnya memilih diam. Melalui SUAMIKU LUKAKU, kami ingin menyampaikan bahwa diam bukan lagi jawaban. Ada cara untuk membantu, ada ruang untuk bersuara, dan ada harapan untuk bangkit.
Semoga film ini bisa membuka lebih banyak hati dan pikiran masyarakat agar semakin peduli terhadap isu kekerasan dalam relasi,” ujar Executive Producer David Suwarto.
Disutradarai oleh Ssharad Sharaan dan Viva Westi, serta ditulis oleh Titien Wattimena dan Beta Ingrid Ayu, SUAMIKU LUKAKU mengangkat kisah AMINA (Acha Septriasa), seorang ibu yang hidup dalam ketakutan bersama IRFAN (Baim Wong), sosok motivator publik yang terlihat baik di mata masyarakat namun penuh kekerasan di dalam rumah. Saat kondisi putri mereka, NADIA (Azkya Mahira), memburuk, Amina mulai menghadapi pilihan terbesar dalam hidupnya: tetap diam atau melawan demi masa depan dirinya dan anaknya.
Produser sekaligus sutradara Ssharad Sharaan mengatakan bahwa film ini dibangun dari kenyataan yang selama ini sering disembunyikan oleh banyak orang. “Kami ingin memperlihatkan
bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk luka fisik. Ada kata-kata, tekanan, rasa takut, dan kontrol yang perlahan menghancurkan seseorang dari dalam. Yang paling menyakitkan sering kali justru terjadi ketika tidak ada seorang pun yang mau percaya atau mau mendengar.
Karena itu, film ini bukan hanya tentang penderitaan Amina, tetapi tentang bagaimana keberanian untuk bersuara bisa menjadi awal perubahan,” ujar Ssharad Sharaan.
Bagi Acha Septriasa, memerankan karakter Amina menjadi pengalaman yang membuka pemahaman baru tentang kompleksitas korban kekerasan dalam relasi. “Amina membuat saya memahami bahwa banyak korban sebenarnya sadar mereka terluka, tetapi mereka terjebak dalam rasa takut, tekanan sosial, dan harapan bahwa semuanya akan berubah. Yang paling penting dari karakter ini adalah bagaimana ia akhirnya memilih dirinya sendiri dan anaknya untuk keluar dari lingkaran tersebut. Saya berharap penonton bisa ikut merasakan bahwa keberanian sekecil apa pun tetap berarti,” ungkap Acha Septriasa.
Sementara itu, Baim Wong mengungkapkan bahwa karakter Irfan menjadi pengingat bahwa pelaku kekerasan tidak selalu tampak buruk di depan publik. “Yang membuat karakter Irfan terasa mengerikan justru karena dia terlihat normal, dihormati, bahkan dipercaya banyak orang. Itu yang sering terjadi di dunia nyata. Kekerasan bisa tersembunyi di balik citra baik seseorang. Saya berharap karakter ini bisa membuat penonton lebih sadar untuk tidak mudah menutup mata terhadap apa yang mungkin terjadi di sekitar mereka,” ujar Baim Wong.
Terinspirasi dari realitas yang dialami oleh 1 dari 4 perempuan di Indonesia, SUAMIKU LUKAKU hadir sebagai cerita tentang luka yang tidak selalu terlihat, tentang keberanian untuk bersuara, dan tentang pentingnya dukungan lingkungan bagi korban kekerasan dalam relasi.
Original soundtrack “Aku Bangkit” yang dibawakan oleh Kris Dayanti dan ballad version-nya yang dibawakan oleh Chae Yeon, penyanyi asal Korea Selatan, turut menjadi penguat emosi perjalanan Amina tentang luka, keberanian, dan proses untuk bangkit.
Tonton film SUAMIKU LUKAKU di bioskop seluruh Indonesia mulai 27 Mei 2026.
SINOPSIS
Suamiku Lukaku bercerita tentang Amina (Acha Septriasa), seorang ibu yang menjalani kehidupan yang sulit, menikah dengan Irfan (Baim Wong), sosok yang terlihat baik di depan orang lain, tapi menakutkan di dalam rumah. Saat kondisi anak mereka, Nadia (Azkya Mahira), semakin memburuk dan nyawanya terancam, Amina harus bertahan dalam kekerasan dan ketakutan setiap hari, tanpa ada yang benar-benar melihat penderitaannya. Ketika ia bertemu Zahra (Raline Shah), seorang pengacara yang berani memperjuangkan hak perempuan, muncul harapan untuk
bebas. Tapi kebebasan selalu ada harganya. Di dunia di mana kebenaran harus dibayar mahal, seberapa jauh seorang ibu akan berjuang demi anaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar