Rabu, 06 Mei 2026

Film The Bell: Panggilan untuk Mati telah sukses melakukan special screening di beberapa bioskop di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Bogor, Tangerang, Depok, serta di Belitung sebagai lokasi yang menjadi asal folklor cerita film ini.

 

Ketika Lonceng Berbunyi, Semuanya Akan Berubah. ​Film The Bell: Panggilan untuk Mati Tayang di Bioskop!

​Jakarta, 7 Mei 2026 – Film horor The Bell: Panggilan untuk Mati resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai hari ini. Menghadirkan sosok Penebok sebagai ikon horor baru yang berakar dari folklore lokal, film ini menawarkan pengalaman berbeda yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga meninggalkan rasa penasaran yang sulit diabaikan.

​Film The Bell: Panggilan untuk Mati telah melaksanakan special screening di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Bandung, Bogor, Belitung, Depok, Tangerang, dan Jakarta. Penayangan ini menjadi awal dari sambutan penonton terhadap atmosfer horor yang dihadirkan film ini, khususnya di Belitung sebagai lokasi yang menjadi akar folklor cerita. Selanjutnya, film ini juga akan melanjutkan rangkaian roadshow di berbagai bioskop di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang, untuk memperluas jangkauan penonton serta menghadirkan pengalaman horor yang lebih dekat dengan pecinta horor.

​Di tengah tren film horor yang terus diminati, The Bell: Panggilan untuk Mati, menghadirkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan ketegangan, tetapi juga memiliki cerita dengan latar budaya yang kuat. Penebok diperkenalkan sebagai sosok yang lahir dari mitos lokal, membawa atmosfer yang tidak hanya mencekam, tetapi juga memiliki kedalaman cerita yang jarang diangkat ke layar lebar.

​Lebih dari sekadar menghadirkan rasa takut, film ini juga mengangkat isu yang relate dengan kehidupan saat ini, termasuk fenomena obsesi terhadap viralitas di era digital. Melalui cerita yang dihadirkan, penonton diajak melihat bagaimana batas antara hiburan dan konsekuensi sering kali menjadi semakin sulit dibedakan.

​Sutradara Jay Sukmo menghadirkan pendekatan visual yang berbeda dengan menggunakan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan periode waktu dalam cerita. “Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya,” ujarnya.

​Sementara itu, aktor senior Mathias Muchus menilai film ini memiliki kekuatan pada pengangkatan mitos lokal. “Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi juga memiliki makna,” ungkapnya.

​Dengan kombinasi antara teror, pendekatan sinematik yang berbeda, serta cerita yang berakar pada budaya lokal, The Bell: Panggilan untuk Mati menjadi salah satu film horor yang layak disaksikan di bioskop saat ini.

​Film ini juga dibintangi oleh Mathias Muchus, Shaloom Razade, Givina, Zidan Zhu, Septian Dwi Cahyo, Sita Permatasari, Nabil Lunggana, serta Felsen yang turut memperkuat jajaran pemeran dalam film ini.

​Tak hanya tayang di dalam negeri, The Bell: Panggilan untuk Mati juga melangkah ke kancah internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12–20 Mei 2026, sebagai upaya memperkenalkan film ini kepada para sineas industri perfilman global.

​Tonton The Bell: Panggilan untuk Mati di bioskop Indonesia mulai hari ini, 7 Mei 2026, dan rasakan langsung pengalaman teror yang berbeda di layar lebar! Ikuti informasi terbaru mengenai film ini melalui Instagram @thebell.film.

SINOPSIS

Sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian—Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.


Cast dan Filmmaker

​Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli

​Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan

​Sutradara : Jay Sukmo

​Penulis : Priesnanda

​Co-Produser : Agus Suhardi

​Lini Produser : Ipunk Purwono

DoP : Indra Suryadi

Cast : Bhisma Mulia (Danto), Ratu Sofya (Airin), Mathias Muchus (Tuk Baharun), Shaloom Razade (Isabel), Septian Dwi Cahyo (dr. Usman), Givina Lukita Dewi (Saidah), Maulidan Zuhri (Hanafi).

​Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO / 2026


Tentang Sinemata Buana Kresindo

​Sinemata Buana Kresindo merupakan kolaborasi dari dua perusahaan kreatif, yaitu Multi Buana Kreasindo (MBK Productions) dan Sinemata Productions, yang menyatukan kekuatan di bidang pengembangan konten, produksi, hingga distribusi film. Berangkat dari pengalaman MBK dalam storytelling dan strategi komunikasi berbasis konten, serta perjalanan Sinemata sebagai agensi marketing film yang berkembang menjadi produser dan distributor, kolaborasi ini hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam industri perfilman. Melalui Sinemata Buana Kresindo, keduanya berkomitmen menghadirkan karya yang relevan, kuat secara cerita, serta mampu menjangkau audiens yang lebih luas melalui kolaborasi strategis di industri kreatif Indonesia.


Tentang OST Film

​“Penuh Kenangan” merupakan original soundtrack (OST) dari film The Bell: Panggilan untuk Mati yang dibawakan oleh Egha De Latoya. Lagu ini menghadirkan nuansa emosional yang kuat, mengangkat tema kesetiaan, harapan, dan keyakinan dalam cinta di tengah ketidakpastian. Tidak hanya sebagai pelengkap film, “Penuh Kenangan” juga berperan memperkuat narasi dan pengalaman emosional penonton melalui lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, aransemen yang menyentuh, serta karakter vokal yang penuh penghayatan. Didistribusikan melalui berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Langit Musik, lagu ini menyasar penikmat film dan musik digital, khususnya generasi muda. Promosinya didukung oleh strategi digital yang terintegrasi, mulai dari kolaborasi dengan kampanye film, aktivasi media sosial, hingga kerja sama dengan influencer.

​Diproduksi bersama RPM Music sebagai label yang berpengalaman di industri musik digital, “Penuh Kenangan” juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand dan partner melalui bentuk sponsorship, campaign, serta aktivasi kreatif lainnya. Kehadiran lagu ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara musik, film, dan audiens secara luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Film The Bell: Panggilan untuk Mati telah sukses melakukan special screening di beberapa bioskop di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Bogor, Tangerang, Depok, serta di Belitung sebagai lokasi yang menjadi asal folklor cerita film ini.

  Ketika Lonceng Berbunyi, Semuanya Akan Berubah. ​Film The Bell: Panggilan untuk Mati Tayang di Bioskop! ​Jakarta, 7 Mei 2026 – Film horor ...